Sampah di Bali Dikomentari Presiden Prabowo
Presiden
Prabowo berkomentar tentang sampah di pantai di Bali. Waktu kunjungan ke Korea,
kata Presiden, ada pejabatnya yang berkata bahwa Bali tidak baik-baik saja
karena banyak sampah. Hal tersebut diungkapkan oleh Presiden di dalam rapat
yang dihadiri oleh para kepala daerah, TNI, polisi, menteri, kepala lembaga dan
badan. Presiden pun langsung memerintahkan agar TNI dan polisi melakukan korve
atau kerja bakti, bergotong royong membersihkan sampah tersebut.
Keesokan
harinya pantai di Bali khususnya di Legian Kuta sudah dibersihkan. Patut kita
hargai kesigapan aparatur negara untuk membersihkan pantai dari serakan sampah.
Namun sampah bukanlah benda yang timbulnya lama, berbilang hari atau pekan atau
bulan. Sampah adalah benda yang ditimbulkan oleh manusia dan alam setiap saat,
setiap detik. Dalam hitungan jam saja volume atau berat sampah sudah demikian
besar dalam skala kota. Oleh sebab itu, dibutuhkan pengelolaan sampah yang
memenuhi kriteri desain, yang Baku: Baik dan Kuat. Baik bermakna terapan
teknologi sesuai dengan kondisi dan jenis sampahnya dan kuat merujuk pada
keandalan unit operasi dan unit proses dalam pengolahan sampah dan produknya
optimal dengan byproduct yang minimal.
Upaya
umum yang biasa diterapkan dalam pengelolaan sampah adalah TPS3R, bank sampah,
komposting, sanitary landfill, insinerasi, pirolisis, gasifikasi, dan
gasifikasi plasma. Tentu ada lagi teknologi lainnya. Namun demikian, perdebatan
dampak buruk teknologi tersebut juga sudah banyak diteliti dan dipublikasikan.
Terjadi perbedaan pendapat antara pihak pro dan pihak kontra. Ada jalan tengah
yang bisa ditempuh, yaitu teknologi diterapkan di pantai. Misalnya, usulan
pembangunan waste to energy bisa dilakukan dan akan mengurangi dampak polusinya
apabila dibangun di pantai. Berikut adalah tulisan atau artikel di koran HU
Pikiran Rakyat yang terbit di Kota Bandung pada 5 September 2014.
PLTSa
Lebih Cocok di Pantai
Oleh Gede H. Cahyana
HU Pikiran Rakyat, 5 September
2014
Ekonomi bukanlah alasan tepat untuk menetapkan apakah
PLTSa layak diterapkan di suatu daerah atau tidak. Yang lebih penting adalah
alasan kesehatan lingkungan karena alasan ini akan berdampak juga pada kondisi
ekonomi, sosial, dan kapasitas pikir anak-anak di sekitar PLTSa. Teknologi
tidak cukup hanya ditopang (back up) oleh ilmu (sains) tetapi juga
mempertimbangkan dampak buruknya pada lingkungan. Kualitas lingkungan ini pun
akan kembali pada kualitas kesehatan jasmani, ruhani, dan taraf kecerdasan (intelligent quotient). Teknologi yang
berhasil atau suksespun bisa berdampak buruk pada manusia, baik jasmani maupun
ruhaninya, apalagi teknologi yang gagal
Dalam implementasi teknologi, pelibatan sains dan
lingkungan perlu diutamakan agar tidak tersesat, tidak sesal kemudian tak
berguna. Memandang sebuah teknologi haruslah dilihat sebagai bagian dari
lingkungan. Lingkungan menjadi titik tolak dalam memilah dan memilih teknologi.
Teknologi di suatu daerah belum tentu cocok dengan kondisi daerah lain karena
lingkungannya memang berbeda. Sederhana analoginya. Baju di daerah kutub tidak
selalu tepat dikenakan di daerah tropis. Sebaliknya, baju tipis di tropis tidak
cocok dikenakan di kutub. Keduanya akan menimbulkan masalah bagi manusia.
Pakaian adalah produk budaya, sama dengan teknologi. Bedanya, teknologi
memiliki latar riset dan trial-error berkali-kali, bahkan ratusan tahun dan
dapat dicoba oleh orang lain karena berlaku universal.
Begitu pun PLTSa. Sebagai produk teknologi yang
dilatari oleh sains dan bahkan dari berbagai sains, ia pun memiliki kecocokan
atau ketakcocokan dengan lingkungan tempat manusia. Aspek geografi dan
geomorfologi mempengaruhinya. Dalam hal PLTSa, aspek hidrogeologi dan
meteorologi justru menjadi aspek terpenting. Dua aspek yang disebut terakhir
langsung berkaitan dengan hajat hidup orang banyak, yaitu air dan udara. Air
meliputi air tanah dangkal - dalam dan air permukaan seperti sungai, danau,
waduk. Karena lokasinya di dataran tinggi, dikelilingi oleh pegunungan, Bandung
menjadi lokasi yang buruk dan membahayakan manusia dan relasi ekologis lainnya
apabila dibangun PLTSa.
Pantai, Opsi
Solusi
Laut adalah open dumping raksasa. Geomorfologinya
telah menjadi takdir bahwa laut harus berada di tempat terendah dan menampung
semua limbah kegiatan manusia. Laut menjadi badan air terbesar di dunia dengan
luasan 97% dari muka Bumi. Selayaknya dimanfaatkan. Salah satunya, tepi laut atau pantai cocok dijadikan lokasi PLTSa. Minimal
ada tiga komponen yang menguntungkan kalau membangun PLTSa di laut (pantai).
Yang pertama, tentu saja sebagai “pemunah” sampah.
Sebetulnya materialnya tidak musnah, melainkan berubah menjadi materi lain dan
energi. Inilah yang terjadi menurut tinjauan termodinamika. Semua sampah di
kota-kota pesisir, kalau diterapkan PLTSa, akan direduksi menjadi seukuran
onggokan abu saja. Abu bawah (bottom ash) dan abu terbang (fly ash) dapat disimpan di sanitary landfill yang betul-betul aman.
Lokasinya juga di pantai, terutama di daerah rendah. Pelan-pelan, sekian puluh
tahun kemudian, akan muncullah daratan pantai yang berasal dari abu. Tentu saja
bisa digunakan sebagai pulau khusus, misalnya produsen oksigen, atau pelindung
dari gelombang tsunami dan badai yang menyebabkan abrasi pantai.
Yang kedua, dengan fasilitas PLTSa, sampah diubah
menjadi energi listrik. Selain digunakan di instalasinya, juga bisa dijual ke
masyarakat pantai, terutama nelayan dengan harga relatif murah. Semua sampah di desa-desa, di
kota-kota di sepanjang pantai bisa diumpankan ke PLTSa. Biaya ditanggung
bersama, baik pemerintah desa, kecamatan, maupun kota – kabupaten yang
memanfaatkan PLTSa sebagai sumber energy listriknya.
Yang ketiga, bisa juga dibuatkan fasilitas penyulingan air
laut, misalnya Multistage
Flash Evaporator (MSF) dan reverse
osmosis (RO). MSF dapat menghasilkan distilat dengan konsentrasi TDS yang
sangat rendah, 50 mg/l. Dapat dilanjutkan dengan RO untuk menghasilkan air
berkualitas tinggi, tak hanya untuk minum tetapi juga untuk keperluan industri farmasi dan elektronika. Dengan fasilitas seperti ini, masyarakat pantai, kawasan wisata pantai, hotel dan resort juga water front city dapat memperoleh air bersih sekaligus listrik dan
daerahnya bebas sampah. Inilah konsep yang cocok dikembangkan. Alih-alih di kota gunung
seperti Bandung, PLTSa lebih cocok di pantai karena sekali mendayung dua-tiga pulau
terlampaui. Sambil mereduksi volume, massa atau berat sampah, diperoleh energi
listrik, air bersih dan bahkan air berkualitas yang bisa langsung diminum. Polusi udaranya bisa direduksi, meskipun tidak 100%,
tetapi jelas lebih baik dibandingkan berada di dataran
tinggi seperti Bandung. Uap air yang menangkap abu dan gas kemudian menjatuhkannya di laut atau
di pantai, dapat mereduksi hembusan kontaminan ke daratan. Kondisi meteorologi pantai ini mendukung reduksi polutan udara. Abunya terperangkap uap air laut dan jatuh ke laut. Udara menjadi relatif
bersih. Selain itu, perilaku dispersi dan disolusi
atmosfer menurunkan konsentrasi polutan udara.
Pantai juga kaya air, baik air laut maupun air tawar
di muaranya atau minimal air payau dengan kadar garam yang lebih rendah
daripada air laut. Sumber air bagi PLTSa adalah syarat utama. Di manapun di
Bumi ini, pantai adalah sumber air. Air inilah yang digunakan untuk membilas
abu bawah dan abu terbang limbah PLTSa. Inilah
yang dimaksud dengan pengembangan teknologi yang berwawasan lingkungan. Sains,
teknologi dan lingkungan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Simpulan, apabila PLTSa
dibangun di pantai, bukan di Bandung, maka diperoleh instalasi pembakar
sampah, instalasi pembangkit listrik, dan instalasi penghasil air siap diminum sebagai pasokan untuk kawasan
industri di sekitarnya. *
Penulis adalah dosen Teknik
Lingkungan Universitas Kebangsaan