• L3
  • Email :
  • Search :
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

18 Februari 2026

Awal Ramadhan Berbeda Lagi

Awal Ramadhan Berbeda Lagi

Awal Ramadhan berbeda (lagi). Ada kata lagi karena sudah sering terjadi perbedaan ini. Bahkan ada beberapa kelompok masyarakat, sengaja disebut kelompok masyarakat bukan organisasi, yang malah lebih awal daripada ormas Muhammadiyah. Bagaimana metode mereka (yang lebih awal sehari daripada Muhammadiyah) dalam menetapkan awal Ramadhan, tidak sesuai dengan yang umumnya dilaksanakan oleh Muhammadiyah dan NU serta pemerintah.

Ormas Muhammadiyah sudah mengganti wujudul hilal dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dianyatakan lebih terpadu, berjangka panjang, progresif. Mudah-mudahan in harmonia progressio, selaras dalam berkemajuan. Dengan cara perhitungan global tersebut, ormas Muhammadiyah mencatat bahwa sudah terjadi konjungsi (ijtimak) pada Selasa, 17 Februari 2026 di Alaska, Amerika Serikat dengan ketinggian hilal 05 derajat 23 menit 01 detik. Oleh sebab itu, esoknya, Rabu, 18 Februari 2026 dinyatakan sebagai tanggal satu Ramadhan.

Namun kondisi berbeda terjadi di Indonesia. Posisi hilal masih di bawah ufuk atau hilal negatif sehingga kriteria yang digunakan oleh pemerintah tidak terpenuhi, yaitu tiga derajat dan elongasi 6,4 derajat. Artinya, Rabu, 18 Februari 2026 adalah tanggal terakhir Sya’ban 1447. Tanggal satu Ramadhan bertepatan dengan tanggal 19 Februari 2026.

Bagaimana kaum muslimin menyikapi perbedaan ini? Yang pasti, tidak boleh berantem. Mungkin ada keluarga yang marah-marah karena suaminya ikut pemerintah sedangkan istrinya ikut ormas Muhammadiyah. Mungkin anak-anaknya juga berbeda dalam melaksanakan awal puasa Ramadhan. Atau berbeda juga dengan kakek-neneknya sehingga kalau mudik ke daerah kelahiran akan berbeda-beda juga hari rayanya.

Selamat melaksanakan ibadah shiyam Ramadhan 1447 untuk semua kaum muslimin di seluruh dunia. Lebih khusus lagi adalah kaum muslimin Indonesia. Penuh harapan, Allah menerima ibadah ini meskipun berbeda awal dan akhir puasanya.

Selamat menunaikan ibadah 

shiyam Ramadhan 1447.

ReadMore »

22 Juli 2025

Study Tour Dilarang Kami Di Bali Didukung

Study Tour Dilarang, Kami Di Bali Didukung

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melarang study tour. Sedangkan Walikota Bandung, M. Farhan mengizinkan. Ada pro dan kontra tentu saja. Protes ramai di media sosial. Ramai juga di jalan, di depan gedung atau kantor gubernur. Tulisan ini tidak masuk ke pro-kontra. Tetapi sebuah kisah nyata saja.

Saya dan teman-teman di Tabanan Bali sangat jarang bepergian ke Pulau Jawa. Mendengar kata Jawa saja kami sudah demikian kagum. Dalam benak orang Bali, pada dekade sebelum 1980-an, yang ada adalah Nak Bali dan Nak Jawe (Jawa). Waktu itu tahun 1980-1985 adalah periode belum ada televisi swasta. Hanya TVRI. Acaranya kurang banyak. Tapi memuaskan. Informasi tentang objek wisata di Pulau Jawa tidak banyak yang ditayangkan. Kami dahaga hiburan.

Saya atau kami, yaitu murid-murid seangkatan di SMPN 1 Tabanan Bali, dan kakak serta adik-adik kelas sudah tahu bahwa pada masa kenaikan kelas (kesamen), yaitu naik kelas dari kelas dua ke kelas tiga, akan dilaksanakan karya wisata ke Jawa. Istilahnya Karya Wisata, yang sekarang mungkin bisa disamakan dengan study tour. Bepergian ke objek wisata yang sering dibaca di buku pelajaran atau diberitahu oleh guru. Ingin melihat wujud aslinya di Jawa.

Semua murid, sejak awal di kelas satu SMPN 1 Tabanan Bali, menabung setiap bulan. Saya lupa nilai rupiahnya. Tetapi kami rutin menabung yang dibayarkan ke TU bersamaan dengan uang SPP. Mungkin kurang lebih menabung selama 2 tahun kali 12 bulan, sama dengan 24 bulan kali sekian rupiah. Dari uang yang terkumpul itu kami bisa Karya Wisata ke Pulau Jawa tanpa perlu tambahan biaya lagi. Kami naik bis pergi pulang. Hanya perlu uang bekal yang diminta kepada orang tua masing-masing tentu saja.

Tujuan daerah wisata berbeda-beda dari tahun ke tahun. Pada waktu angkatan kami, tujuannya adalah Malang dan Surabaya. Tentu dalam perjalanan, kami berhenti di Pantai Pasir Putih Indah, Situbondo. Kondisi jalan pada tahun 1981/1982 belum sebaik sekarang. Tetapi kendaraan sedikit. Tidak macet. Singkat cerita, sampailah kami di Surabaya. Wow, kota yang ada di buku pelajaran Sejarah. Kota Pahlawan. Ada kawan yang komentar, dalam bahasa Bali tentu saja, “he… itu DK-nya kok L.” Begitulah, ada di antara kami yang belum tahu bahwa pelat mobil dan motor di Surabaya adalah L sedangkan di Bali adalah DK.

Surabaya kota impian, pada waktu itu, dalam benak kami. Objek wisata yang dituju antara lain adalah Kebun Binatang Wonokromo. Kemudian ke Malang. Objek wisata yang dituju adalah Selecta. Juga pasar modern seperti Sarinah. Bendungan Karangkates. Ada juga candi, tetapi saya lupa namanya. Juga memetik buah apel langsung di kebun dan bayar sebelum ke luar kebun. Saya lupa lagi objek yang lainnya. Kami berfoto bersama. Kamera waktu itu ada yang kecil. Filmnya berukuran setengah dari kamera standar waktu itu. Harganya Rp11.000 sebuah. Waktu itu harga satu kilogram telur ayam Rp400/kg. Saya hapal karena sering membeli telur ayam di tetangga yang juga masih saudara.

Yang ingin saya sampaikan, bahwa biaya untuk karya Wisata dicicil setiap bulan. Mungkin ada orang tua yang tidak punya uang setiap bulan. Kami paham itu. Tetapi pembayaran itu bisa dicicil kapan saja, nanti pada waktu tertentu petugas TU akan menanyakan kepada murid. Kami juga waktu di SMPN 1 Tabanan membayar uang bangunan dengan cara dicicil setiap bulan selama dua tahun. Memang berat bagi orang tua. Makanya kepala sekolah (waktu itu Bapak Drs. I Gusti Ngurah Sukerta) selalu mengundang orang tua/wali ke sekolah setiap masa libur. Pasti ada orang tua yang berat membayar setiap bulan karena itu juga cerita yang saya dengar dari teman-teman. Termasuk orang tua saya, pasti berat juga, dengan lima orang anak yang semuanya murid.

Apakah kami mendapatkan ilmu dan pengetahuan dari karya wisaya itu? Jawaban saya, dapat. Ilmu dapat, pengalaman sudah pasti dapat. Puas. Senang. Banyak yang bisa diceritakan kepada adik, adik kelas, saudara yang lain dan kepada orang tua. Cerita ini menjadi keseharian dan menggembirakan karena faktanya, jarang kami bepergian ke Pulau Jawa. Kami orang Tabanan, khususnya murid atau teman saya mayoritas tinggal di Bali pada umur SMP itu. Waktu SMA juga tidak banyak dan memang tidak ada keperluan untuk pergi ke Jawa. Pada waktu itu kami kagum kepada para orang tua yang sering berkata, “Pan Momon luwas ke Jawe (Pak Momon pergi ke Jawa).”

Kembali ke study tour. Bagi kami, karya wisata sungguh bermanfaat. Tiada terkira yang diperoleh, baik yang dilihat dan dialami, sepanjang perjalanan. Betapa kami surprised menyaksikan kapal Ferry di Gilimanuk – Ketapang, lalu berdiri di dek kapal dengan tiupan angin kencang. Kami berdiri dan saling bicara, saling berkomentar. Ramai. Kami juga menyaksikan truk gandeng yang tidak ada di Bali. Betapa kami takjub melihat jejeran pohon asam di sepanjang jalan antara Banyuwangi - Surabaya. Asam semua dan sudah ranum. Sudah coklat tua kulitnya. Ingin memetik dan mengemilnya tetapi tidak kesampaian. Titik saja liur ini jadinya.

Demikianlah perihal karya wisata yang kami lakukan. Pada kali lain, tahun berikutnya, seingat saya, tujuan karya wisata adalah Borobudur dan sekitarnya. Jumlah bus mungkin lima atau enam. Waktu itu kami kelas dua ada enam kelas, kelas A, B, C, D, E, F. Rata-rata 40 murid per kelas.

Terima kasih kepada para guru yang sudah mewujudkan keingintahuan kami sebagai murid kelas dua SMP perihal objek wisata di Pulau Jawa.*

ReadMore »

9 April 2025

Nuanu, Creative City di Tabanan Bali

Nuanu, Creative City di Tabanan Bali

Saya baru tahu lokasi wisata ini pada libur lebaran pekan pertama April 2025. Itu pun karena anak-anak yang ingin ke sana. Dalam perjalanan ke sana belum terbayang apa saja materi wisata yang akan dilihat di Nuanu. Nama ini pun terdengar aneh atau asing bagi saya. Anak-anak juga tidak bisa menjelaskan apa sesungguhnya Nuanu itu. Mereka hanya tahu lewat medsos atau Youtube. Sedangkan saya baru hari itu tahu nama Nuanu.


Arahnya ke Tanah Lot tetapi di jalan cagak tertentu, belok kanan ke arah Tanah Lot sedangkan lurus ke arah Pantai Nyanyi dan Nuanu. Tahun 2024 saya sempat ke Pantai Nyanyi, Kedungu, dan Cemagi, objek yang baru berkembang. Tetapi belum tahu objek Nuanu. Anak-anak juga belum tahu waktu itu. Baru libur tahun ini saja tahu perihal Nuanu. Saudara di Tabanan juga belum ada yang bercerita tentang Nuanu, objek wisata baru di Kecamatan Kediri Kabupaten Tabanan itu.

Makna Nuanu sempat saya baca di baliho di dekat gedung di sana, artinya in the process, masih dalam proses; Nu Anu. Di Nuanu ada panggung untuk tari kecak. Sore itu tema pertunjukannya adalah Rama dan Sinta. Dijelaskan dalam bahasa Indonesia. Ada Rahwana, raksasa yang menculik Sinta. Lalu Hanoman menolong Rama merebut kembali Dewi Sinta.



Objek lainnya adalah dua patung abstrak yang mirip kepala manusia dan disinari cahaya dari mesin yang ditaruh di telapak tangan patung tersebut. Seluruh bagian wajahnya bisa berubah-ubah warnanya dan pola garis-garisnya juga dinamis. Iringan musik pada malam hari menambah kesan kuat suasana hati penonton. Di lokasi ini banyak pengunjung yang membuat video trend velocity.


Ada juga Aurora yang dihiasi beragam anyaman bambu dan rotan. Dipasang juga beberapa kejutan berupa cahaya dan efek suara. Saya sempat kaget. Tidak tahu situasinya. Baru melangkah langsung dikejutkan oleh suara dan efek cahaya bergerak-gerak. Ada kolam dan genangan air, dihiasi bebatuan sehingga suasana malam menjadi menegangkan. Kalau sendiri, tanpa ditemani anak-anak dan istri mungkin merinding dan tidak berani melanjutkan petualangan malam di Aurora.



Ada juga objek Labirin, Luna Beach Club dan banyak lagi yang lain. Ada ruangan semacam acara seminar, pesertanya mayoritas bule. Bahasa yang terdengar juga bahasa Inggris. Tetapi saya belum sempat masuk ke semua objek. Belum semua objek selesai dibangun. Tampak alat-alat berat, crane dan peralatan konstruksi di lokasi. Beberapa objek masih dalam konstruksi.

Berikut dilampirkan peta lokasi yang sempat difoto. Peta lokasi objek dipajang di tepi jalan setapak tempat pengunjung mengantri. Pengunjung membayar Rp20 ribu per orang kemudian diantar dengan mobil listrik terbuka bersama dengan penumpang lainnya menuju titik turun (drop off) di dalam lokasi Nuanu. Pengunjung lantas bebas beraktivitas, mau masuk ke objek yang manapun yang diinginkannya.


Di spanduk dan keterangan yang dipajang diketahui bahwa objek ini disebut Creative City tepi pantai. Saya lantas mencari informasi di Google. Ternyata projek Nuanu ini mulai dibangun pada Oktober 2020, yaitu pada masa pandemi Covid-19. Mungkin sempat terhenti hingga pandemi Covid-19 dinyatakan menjadi endemi. Pada 31 Desember 2021 saya sempat pulang ke Tabanan. Lalu pada tanggal 1 atau 2 Januari 2022 sempat ke pantai Kuta. Kondisi lengang di sepanjang jalan. Sepi. Hanya ada beberapa orang perempuan paruh baya yang menawarkan jualannya.

Saya berkeliling ke objek wisata dengan naik bus TMD yang gratis pada waktu itu. Berjalan dari Sentral Parkir Kuta ke pantai Kuta sungguh lengang. Toko-toko tutup. Hotel sepi. Namun sejak dua tahun berselang sudah pulih lagi. Wisatawan asing dan domestik sudah banyak. Kemarin pas libur Nyepi dan lebaran, operasional bus TMD sempat dihentikan. Tetapi sepekan terakhir ini ada informasi baru bahwa akan diaktifkan lagi atas permintaan masyarakat. * 

ReadMore »

20 Maret 2025

Itu Bukan Saya Lho...

Itu Bukan Saya Lho...

Ini sekadar informasi saja untuk khalayak ramai. Kata kerennya, klarifikasi. Penjernihan. Agar clear. klir. kelaar. 

(Di Prodi Teknik Lingkungan, istilah klarifikasi itu sinonim dengan sedimentasi... hm hm).

Iseng-iseng saya lihat di Google, ternyata ada akun yang berisi nama saya di independent dot academia dot edu. Sungguh saya belum pernah membuat akun-akun tersebut. Ini bulan suci Ramadhan, saya bicara benar adanya.  

Saya skrinsot seperti terlampir di bagian bawah ini. 

Ada akun yang menulis bahwa saya pengagum Ibnu Taymiyah, Syiah. Waduh jangankan menjadi pengagumnya, membaca karya-karya beliau saja saya belum pernah. Bagaimana saya bisa menjadi pengagum Ibnu Taymiyah kalau saya belum tahu apa saja karya tulis magnum opus-nya? Sekali jua belum pernah saya memegang kitabnya. Lewat Google saya sekarang punya sangat sedikit pengetahuan tentang beliau. 

Ada juga keterangan dalam bahasa Inggris, ini lucu sangaaat, saya di akun itu dinyatakan menulis a small unique island. Waduh..., ini sih lucu bingitzz. Tidak pernah saya menulis frase seperti itu. Sedangkan kalimat lainnya mungkin dia (oknum itu) copas atau tiru dari akun blog saya ini atau dari akun Orcid saya. 

Parahnya lagi, ditulis di akun itu bahwa saya adalah pengagum atau interested in Shi'ism atau Syiah. Walah-walah.... ini fitnah luar biasa. Atau biasaa luuaar fuuittnaah ini mah. Bagaimana mungkin saya menjadi pengagum Syi'ah..., apa itu Syi'ah saja saya tidak paham. Setahu saya, Syi'ah ini bukan arus utama (main stream) dalam Islam di Indonesia. Sebab, pengajar ajaran Islam di Indonesia adalah kaum muslimin dari Yaman dan banyak di antara mereka adalah keturunan Nabi Muhammad SAW, dikenal dengan Habib, Syarif, Sayid. 

Apakah ada akun palsu yang lain lagi, mungkin saja ada, tetapi saya belum sempat lagi menelusuri di Google. Ini pas saja sambil saya ngabuburit .... nunggu buka puasa. Lalu saya tulis saja di Blogger dot com ini, media tulis kecintaan saya sejak kali pertama mengenal Blogger dalam sebuah acara di Student Center Timur ITB, dari teman Jurusan Teknik Informatika yang dulu kost bersebelahan kamar di Cisitu Lama. 

Sebagai info juga, saya tidak punya akun Instagram, tidak punya Twitter, tidak punya Tiktok, mungkin belum pernah membuka Tiktok. Duluu banget saya punya akun Facebook. Tapi sudah non-active. Lupa password-nya. 

Yang saya punya adalah blog ini. Dulu namanya Gede on WWW. Singkatan dari Writing, Water, Waste. Bidang kajian saya sebagai dosen dan penulis. Dulu istilah WWW itu cukup dikenal dan menjadi perhatian para pemula penulis di internet. Sekarang mungkin sudah tidak lagi karena masyarakat sudah diberlimpahi oleh foto selfi, info hoaks, dan video pendek. Saya juga punya WA dan email di gmail dot com. 

Hanya saja, kenapa oknum itu menulis bahwa saya pengagum Ibnu Taymiyah dan pengagum Syi'ah. Apa tujuannya? Wahai dikau orang yang membuat akun-akun itu, gerangan apakah dikau menyatakan bahwa saya pengagum Syi'ah? Atas latar belakang, maksud, dan tujuan apa dikau menulis demikian? He he... kayak Bab I proposal aja... 

Di situ juga tertulis bahwa saya interest pada riset perihal Avicenna. Ya Allah Ya Kariim... Saya belajar di ITB, di Jurusan Teknik Lingkungan. Tidak ada pelajaran atau mata kuliah tentang Ibnu Sina. Saya memang pernah menulis tentang Ibnu Sina di koran Republika, terbit 5 Januari 2001. Duluuu banget. 



Namun sesungguhnya saya bukanlah pendakwah, bukan da'i. Saya mubaligh. Tapi yang saya tabligh-kan adalah ilmu Teknik Penyehatan dan Teknik Lingkungan. Bukan akidah, syariah, fikih. Saya hanya dosen. Dosen biasa. Bukan pejabat publik. Apa sich yang dikau inginkan dari saya, wahai pembuat akun palsu itu? 

Atau gini, pertanyaan positifnya ya, apa manfaat yang dikau peroleh dari perbuatanmu yang seperti ini? 

Demikian, agar maklum adanya.






ReadMore »

30 Maret 2023

Alm. Prof. Dr. Ir. H. Enri Damanhuri

Teknik Lingkungan ITB kehilangan satu orang ahli persampahan. Hari ini, 30 Maret 2023, pk. 06.20 WIB Pak Enri meninggal di RS. Borromeus, Bandung. Sehari sebelumnya Pak Enri dirawat di ICU rumah sakit tersebut. Saya sempat bertemu alm. waktu acara Dies Natalis TL ITB pada Oktober 2022. Waktu itu adalah acara 60 tahun pendidikan Teknik Lingkungan di Indonesia.

Almarhum adalah sarjana Teknik Penyehatan ITB kemudian belajar persampahan di Prancis, meraih doktor dari Diderot University atau Universitas Paris 7. Setelah lulus tahun 1987 alm. membantu pengembangan standar-standar bidang persampahan dan penelitian landfill di Departemen PU. Banyak kalangan yang bekerja di konsultan lingkungan, terutama di projek persampahan mengenal beliau karena sering diminta menjadi narasumber oleh Departemen (Kementerian) PU, PUPR, LH, LHK, dll. Begitu pula banyak alumni TL S1, S2, S3 yang menjadi PNS (ASN) di dinas-dinas di berbagai provinsi dan kota/kabupaten yang mengelola persampahan mengenal alm. Termasuk para dosen di TL ITB yang menjadi penerus alm. di bidang persampahan dan limbah B3.

Sudah banyak karya tulis alm. yang dipublikasikan, baik berbentuk buku maupun artikel ilmiah dan ilmiah populer. Tema tulisannya mulai dari air minum, sistem transmisi-distribusi hingga ke bidang persampahan, bidang yang akhirnya ditekuninya hingga akhir hayatnya. Buku Pengelolaan Sampah digunakan di banyak kampus negeri dan swasta. Pada waktu longsor TPA Leuwigajah, alm. dan tim dari TL ITB dan beberapa kalangan LSM dan akademisi ikut dalam upaya penanggulangan Bandung lautan sampah. 

Secara pribadi saya bertemu alm. dan istri (Bu Dr. Ir. Tri Padmi) biasanya pada hari raya Idulfitri di Jln. PSM 43 Kiaracondong atau kadang-kadang kami yang ke rumah alm. Satu hadiah pernikahan saya dari alm. adalah sebuah jam dinding Seiko yang masih berfungsi sampai saat ini dan dipasang di dinding di rumah. Orang tua Bu Tri Padmi (alm. Kolonel H. Iman Slamet berasal dari Solo/Wonogiri) dan orang tua (Pak Dhe) istri saya, yaitu alm. Letkol H. M. Iman Singgih juga dari Solo/Wonogiri. Keduanya adalah tentara yang bertugas di Pindad. Kedua keluarga tinggal di jalan PSM dekat Pindad, disebut sebagai kompleks perumahan Pindad Utara. 

Semoga alm. Prof. Dr. Ir. Enri Damanhuri diterima iman Islamnya dan mendapatkan maghfirah dari Allah Swt. Semoga keluarga yang ditinggalkan, Bu Dr. Ir. Tri Padmi dan anak cucu diberikan kekuatan kesabaran. Aamiin.



Setelah dishalatkan di Masjid Salman ITB dengan imam Prof. Hermawan K. D, jenazah lantas disemayamkan di Aula Timur ITB. Tampak Rektor ITB sedang memberikan sambutan.*

ReadMore »

17 Desember 2021

Anak Lanang, Menoreh Mimpi Menggapai Langit

Anak Lanang, Menoreh Mimpi Menggapai Langit

Buku ini adalah novel yang ditulis dari perjalanan karir seorang PNS (atau ASN). Penggalan kisah diceritakan mulai dari kelahirannya di Bandung, bersekolah, kuliah, lulus CPNS,  menikah, hingga berpindah-pindah lokasi tugas baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa. Puncak karir Anak Lanang dikisahkan di bagian akhir novel ini, yaitu pada 29 April 2020 sebagai Wakil Kepala Utama. Anak Lanang dipilih oleh Kepala Utama sebagai wakilnya dan mendapatkan persetujuan dari Presiden RI. Sebagai orang nomor dua di institusi hukum tersebut, Anak Lanang bertugas mengelola manajerial institusi di seluruh Indonesia.

Anak Lanang lahir dari orang tua bernama Singgih dan Sugini di Kiaracondong Bandung pada 1 Desember 1961. Pak Singgih adalah seorang tentara berpangkat Letnan Satu pada waktu itu. Nasihat orang tuanya yang kuat menggores hatinya adalah agar dia menjadi orang yang berguna dan “memayungi” semua kakak perempuannya. Setelah tamat SMA, Anak Lanang ingin belajar Ilmu Hukum dan kuliah di Uninus. Setelah mencapai Sarjana Muda atau D3, Anak Lanang ikut tes pegawai negeri dan diterima sebagai CPNS di institusi hukum negara dan ditempatkan di Sumedang.

Berawal dari kota tahu itulah karir Anak Lanang terus berproses. Dia pernah menjadi ajudan Kepala Wilayah Kantor Jawa Barat, termasuk mencuci mobil, menjadi sopir, dan melaksanakan tugas sebagai aparatur hukum, pengantar surat dinas. Setelah periode ajudan inilah dia menjalani banyak pendidikan dan pelatihan di bidang hukum, khususnya intelijen, ilmu yang diminatinya. Dia pernah menjabat sebagai Kasubsi Intelijen di Kabupaten Indramayu. Sebagai intel tentu perlu banyak orang yang bisa memberikan informasi tentang situasi dan kondisi kehidupan masyarakat. Sejumlah teman, wartawan, dan masyarakat diajaknya main, makan, dan tinggal di rumah kontrakannya.

Kota berikutnya adalah Mataram, Nusa Tenggara Barat. Anak Lanang diposisikan sebagai Kasubsi Oharda pada 13 Agustus 1994. Pada periode inilah Anak Lanang ditinggal ibunya yang wafat di tanah suci ketika menunaikan ibadah haji. Lima tahun di Mataram, Anak Lanang lantas pindah tugas ke Kudus, Jawa Tengah. Di kota yang dikenal dengan Menara Kudus inilah Anak Lanang pernah ditugaskan memeriksa stafnya atas pelanggaran tugas. Dilema terjadi karena yang diperiksa adalah staf dari teman dekatnya. Tetapi dia laksanakan tugas pemeriksaan sebagai kewajiban profesional dan integritas institusi dengan tetap bersikap santun sebagai teman.

Periode selanjutnya adalah kantor di Cibadak Kabupaten Sukabumi. Semasa bertugas di Cibadak pernah terjadi amuk massa. Anak Lanang sempat menemui tokoh masyarakat yang sangat ditakuti di Cibadak. Keberhasilannya meredakan amuk massa ini kemudian mengantarkan Anak Lanang pada jabatan barunya, yaitu sebagai Kasi Penerangan Hukum dan Humas di Kantor Wilayah Utama Jawa Barat pada tahun 2001. Artinya, pulang ke rumah dan dekat dengan bapak dan saudaranya di Bandung. Tempat tinggalnya di Jalan Warung Jambu No. 34, Kiaracondong, dekat dengan rumah orang tuanya, Pak Singgih di Jalan PSM No. F43. Tupoksi tugas baru ini mengantarkan Anak Lanang bertemu dengan banyak awak media seperti wartawan koran, radio, dan televisi. Belajar ilmu komunikasi praktis lebih diintesifkan lagi.

Di Kantor Wilayah Jawa Barat ini pulalah jabatan sebagai Pengkaji Intelijen Jawa Barat dipikulnya. Berselang setahun, jabatan sebagai Kabag Anggaran di Biro Keuangan Kantor Pusat Jakarta diamanatkan kepadanya. Uniknya, pada saat yang sama Anak Lanang diberi tugas menjadi Kepala Kantor Sementara untuk kantor di Kabupaten Garut. Pimpinan kantornya di Jakarta sulit mendapatkan pengganti Anak Lanang untuk Bagian Anggaran pada waktu itu. Akhirnya pada September 2005 resmilah ia menjadi Kepala Kantor di Kabupaten Garut. Perpustakaan di kantor ini dibenahinya sehingga meraih predikat Pustaka Adhyaksa Utama.

Dari kabupaten yang terkenal dengan dodol, jeruk dan domba ini, Anak Lanang lantas menerima promosi menjadi Asisten Intelijen di Kalimantan Barat, di Kota Pontianak. Pada masa inilah Anak Lanang dan istrinya melaksanakan ibadah haji. Berbekal uang 400 riyal mereka menuju Mekkah. Sebelum naik pesawat, seorang petugas memberitahu bahwa ada seseorang yang ingin menemuinya. Orang tersebut berasal dari Cibadak Sukabumi dan sebagai kyai di pesantren di sana. “Maaf Pak Lanang, ini surat aspirasi dari masyarakat desa,” ujar kyai. Isinya adalah uang 500 riyal.

Selama proses ibadah haji, Anak Lanang selalu teringat ibunya, yaitu Ibu Sugini (almarhumah) yang meninggal dalam ibadah haji. Dalam doanya, ia memohon kepada Allah agar ditunjukkan makam ibunya. Tiga puluh menit kemudian dilihatnya sekumpulan burung berputar kemudian bertengger di atas batu di permakaman umum itu. Dia merasa puas karena hatinya berbisik bahwa itu pertanda dari Allah yang menunjukkan makam ibunya. Usai ibadah haji, Anak Lanang langsung bertugas di Pontianak. Dari Pontianak lantas pindah ke kantor di Jakarta Selatan. Begitu seterusnya, Anak Lanang menjalani hari-harinya di kantor pemerintah, berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya, hingga meraih bintang satu sebagai Asisten Khusus Kepala Utama di Kantor Pusat Jakarta pada Agustus 2011.

Amanat selanjutnya adalah sebagai Kepala Pusat Penerangan Hukum di Kantor Pusat Jakarta. Ia menjadi juru bicara Kepala Utama, jabatan serupa sekian tahun sebelumnya di Kantor Wilayah Jawa Barat. Prinsipnya adalah “Kenali Hukum, Jauhi Hukuman” untuk diterapkan di semua daerah di Nusantara. Bergeser lagi dari Jakarta, Anak Lanang menuju Bumi Lancang Kuning sebagai Kepala Wilayah Utama di Provinsi Riau. Setelah 358 hari di Riau, ia kembali ke Jakarta sebagai Kepala Biro Umum. Tak lama berselang ia diberi amanat lagi, yaitu sebagai Kepala Wilayah Utama di Jawa Barat, ke Bandung lagi.

Anak Lanang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan. Pada waktu ada kegiatan bebersih halaman kantor di Badiklat, Anak Lanang melihat ada batu besar yang tertimbun tanah. Dibantu staf lainnya, batu itu diangkat dan terlihat sebuah batu bertulis. Sebuah prasasti. Isi tulisan singkat itu adalah sebuah puisi karya H. Ismail Saleh, S.H. Prasasti itu diresmikan oleh Hari Suharto pada 21 Juli 1984.

Ada burung yang berkicau

Ada daun yang bersemi

Ada bunga yang mekar

Ada angin yang sudi menjamah

Pertanda karunia Tuhan

Yang wajib disyukuri

(H. Ismail Saleh, S.H)

Diresmikan pada tanggal

21 Juli 1984 oleh

Hari Suharto

Oleh Anak Lanang prasasti tersebut lantas ditempatkan di halaman kantor dan ditambah dengan prasasti lain dengan tulisan spirit motivasi oleh H.M. Prasetyo.

Intan dan berlian tidak dapat diciptakan,

Tetapi ditemukan,

Yang nilai dan kemilau keindahannya

Ditentukan oleh

Dirinya sendiri

(H.M. Prasetyo)

Puisi tersebut dapat dibaca di halaman 184-185 dengan judul Menemukan Harta Karun.

Upaya Anak Lanang membangun Badan Diklat Digital mulai menorehkan hasil. Pengembangan sistem digital, renovasi fisik kantor, dan publikasi sudah rampung. Penghargaan mulai diperoleh: Badiklat terbaik se-Indonesia, peringkat terbaik ketujuh sistem keuangan, eselon satu pertama yang meraih Zone Integritas WBK dan WBBM dari Kemenpan RB. Raihan predikat tersebut mendapat respons dan diikuti oleh permintaan studi banding dari kementerian lain. Juga dikunjungi oleh utusan dari tiga negara di Eropa dan dua negara di Asia. Utusan negara tersebut mendatangi Badiklat untuk belajar pola pendidikan dan pelatihan yang diterapkan di Badiklat.

Predikat raihan tersebut ditampilkan di monumen WBK dan WBBM dan diberi untaian kata oleh Anak Lanang.

“Di tempat ini terukir secarik catatan indah tentang kekuatan sebuah harapan untuk perubahan ketika ….

Perbedaan menyatu biru, segenggam tekad bergandeng tangan, menyatukan Langkah seberkas asa, menghilangkan ego-ego tak bertepi, mengandalkan keteladanan, menyandarkan konsistensi  …

Keikhlasan adalah pusakanya, ketulusan adalah jiwanya, disiplin dan tertib itu obat, gerakan hati nurani itu semangat ….

Berbuat, bertindak untuk masa depan penuh impian, untuk institusi maju, untuk Indonesia jaya 

(Setia Untung Arimuladi).

Berbagai tugas dan kejadian menyertainya selama bertugas di institusi hukum pemerintah. Spirit hidupnya dipaparkan di dalam novel berjudul Anak Lanang, Menoreh Mimpi, Menggapai Langit. Novel setebal 210 halaman yang ditulis oleh Gema Dalton ini diterbitkan oleh Beranda, imprint Intrans Publishing, Malang, Jatim memberikan inspirasi tentang perjuangan dalam melaksanakan amanat di setiap posisi dan jabatan. Suka dan duka menjadi bagian hidupnya selama berkarir dari ajudan dan sopir kepala kantor hingga menjadi Wakil Kepala Utama di Jakarta. Novel ini memberikan spirit dan inspirasi dalam bekerja yang penuh tanggung jawab dan menjalin komunikasi yang baik dengan atasan dan staf, juga masyarakat.

Pada bulan Desember 2021 Anak Lanang menyelesaikan tugasnya dalam usia 60 tahun. Usia yang masih potensial dan penuh pengalaman, matang dalam organisasi kenegaraan dan tentu saja ide, spirit, dan tenaganya masih bisa disumbangkan untuk masyarakat. Di ranah pendidikan, usia purnabakti adalah 65 tahun, khususnya Guru Besar atau profesor dan dapat diperpanjang lagi sampai 70 tahun. Ini lantaran ilmunya masih dibutuhkan dan perlu waktu yang lama untuk mencapai jabatan fungsional Guru Besar di universitas.

Tentu, medan tugas baru bisa saja nanti dilakoni oleh Anak Lanang usai purnabakti di pemerintahan. Sebab, pensiun bisa saja diartikan sebagai pindah dari satu tugas ke tugas lainnya atau hijrah tugas. Sekian. ***

------ 

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Untung. Pada waktu saya menikah, Mas Untung menjadi ketua pelaksana, dibantu oleh mbak-mbak di PSM F43. Tentu terima kasih tak terkira kepada almarhum Bapak HMI Singgih dan Ibu Hj. Sugini almarhumah yang memberikan kesempatan kepada saya dan istri untuk menempati rumah Mas Untung di Warung Jambu No. 34. Begitu pula, terima kasih kepada Mas Untung dan Mbak Detty yang merelakan rumah dan isinya digunakan oleh saya dan istri dan tiga anak saya. Hampir lima tahun saya tinggal dan menjadi alumni Warjam 34. Alhamdulillah, semoga Allah memberikan keberkahan yang berlipat ganda kepada Mas Untung dan keluarga. Aamiin. (Gede H. Cahyana).*

ReadMore »

18 Desember 2020

Wisata di Berau, Kalimantan Timur

Wisata di Berau, Kalimantan Timur 

Wisatawan dipersulit untuk menikmati libur akhir tahun 2020 ke Bali. Pemerintah pusat memperketat arus masuk dengan mewajibkan hasil uji PCR H-2 hingga H-7. Tentu ada pro-kontra. Ada yang setuju, ada yang menentang. Ke mana yang mirip objek di Bali? Tentu banyak. Bisa Lombok, bisa Labuan Bajo, atau Losari.

Bisa juga ke Borneo. East Borneo. Wisatawan bisa beralih ke Kalimantan Timur yang tidak harus menunjukkan hasil uji PCR kepada petugas bandara tetapi cukup hasil uji rapid antigen plus mengisi formulir eHAC domestic. Begitu juga masuk ke Berau lewat bandara Kalimarau, hanya perlu memperlihatkan hasil uji rapid antigen dan code eHAC tersebut. Orang yang masih awam dengan internet, seperti orang lanjut usia, atau tidak membawa ponsel, bisa ditolong oleh petugas bandara. Mereka welcome dan well groomed. 

Bandara Kalimarau ini relatif luas untuk ukuran bandara di kota sedang. Hanya butuh waktu tidak sampai 30 menit menuju ibukota Tanjung Redeb, menuju lokasi penginapan. Derajat hotel bervariasi, mulai dari kelas Melati hingga berbintang. Di Kabupaten Berau tercatat ada 107 unit hotel, 10 unit resort atau cottage, dan 172 unit homestay. Tarif per hari/malam antara Rp200.000 hingga Rp800.000. Biasanya ada diskon di hotel besar, seperti Hotel Palmy, Hotel Grand Parama. Harga Rp.700.000 bisa menjadi Rp.550.000 plus sarapan dan kopi-snack. Tidak beda dengan hotel berbintang di Bali.
Seperti daerah Kalimantan lainnya, Berau terkenal dengan tambang batubara. Yang besar adalah perusahaan Berau Coal. Tentu bukan site atau lokasi tambangnya yang dijadikan objek wisata. Kecuali untuk wisata geologi tentu saja. Tetapi iring-iringan kapal pengangkut bongkah batubara yang eksotis di sepanjang sungainya.  Kabupaten Berau memiliki banyak sungai atau ada 28 DAS (Daerah Aliran Sungai). Begitu pula danau. Kabupaten Berau memiliki tujuh buah danau dengan luas total kira-kira 15 Ha. Di antaranya adalah Danau Labuan Cermin di Biduk-Biduk, Danau Tulung Ni Lenggo di Tembudan, Batu Putih, Danau Kakaban di Payung-payung, Maratua.

Yang gencar dipromosikan oleh pemerintah Berau adalah Labuan Cermin berair bening. Di tengah udara dan hembusan angin panas, air danau menjadi pelepas dahaga kaki yang direndam. Pantai Biduk-Biduk, Kakaban Island, Begitu juga objek di Pulau Derawan dan Pulau Maratua. Maratua adalah pulau terluar Indonesia dan menjadi Kawasan Strategis Nasional. Selain jalur laut, bisa juga naik pesawat Susi Air dari Kalimarau ke Maratua. Ongkosnya Rp.500.000-an. Sedangkan P. Derawan relatif dekat dan menjadi tujuan wisata prioritas bagi warga setempat dan Kalimantan Timur umumnya. Kapal kayu dan perahu yang dilengkapi motor listrik menjadi alat transportasi. Kalau bernyali dan berani maka bisa keliling susur sungai dan laut di antara pulau dengan perahu motor. 
Bagaimana dengan makan dan minum? Khusus di Tanjung Redeb dan sekitarnya, sangat beragam dan harganya bervariasi. Penjual banyak warga pendatang, misalnya dari Jawa, dan mereka menjual sate, soto, nasi goreng, mie ayam, bakso, klontong, dan lain-lain. Juga ada warung atau restoran Padang. Harganya, makan siang rerata dengan menu standar makan siang plus minum jus tak kurang dari Rp50.000 per orang. Di Tanjung Redeb juga banyak ada kafe dan pedagang kaki lima di tepi Sungai Segah pada sore hingga malam hari, terutama di Jalan Pulau Derawan.

Memang ada kekurangannya. Kekurangan DTW di Berau dibandingkan dengan ke Bali bagi orang yang tinggal di Pulau Jawa adalah waktu tempuhnya yang lama. Pesawat harus transit dulu di Balikpapan atau di Samarinda. Apabila berangkat pagi dari Jakarta, Bandung, Jogja (Kulonprogo), Surabaya, maka sore barulah terbang ke Berau. Artinya, boros waktu 12 jam yang juga berarti keluar uang akomodasi. Berbeda dengan ke Bali. Berangkat pagi, siang sudah tiba di hotel, sore sudah bisa jalan-jalan sore (JJS) di Legian, Seminyak, Kuta, atau Sanur. Besoknya sudah bisa mendaki Uluwatu dan Garuda Wisnu Kencana, turun ke Pantai Pandawa, lalu Taman Ayun, bahkan bisa ke Ubud dan belanja oleh-oleh di Sukawati. Banyak DTW yang dikunjungi dalam 12 jam.

Tapi maklum saja karena Berau itu luas sekali. Mulai dari daerah hulu yaitu Kecamatan Kelay dan Segah, hingga ke pesisir. Luasnya kurang-lebih 34.000 km2. Hampir sama dengan Provinsi Jawa Barat: 35.400 km2. Berau adalah kabupaten, bukan provinsi. Adapun Provinsi Bali luasnya 5.600 km2. Jumlah penduduk Berau hampir 240.000 orang tahun 2020 ini. Jumlah penduduk Provinsi Bali hampir 4,4 juta orang tahun 2020 ini. Batubara adalah harta karun hitam yang luar biasa tetapi bagai buah simalakama antara uang APBD-APBN dan konservasi lingkungan. Terlepas dari masalah lingkungan ini, Berau memiliki objek wisata yang hampir menyamai Bali. Hampir, artinya masih butuh waktu dan proses pembangunan prasarana- sarana seperti water and sanitation. Juga jalan, jembatan, perdagangan, pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi.

Selamat berwisata dengan protokol kesehatan yang ketat atau di rumah saja, yaitu menonton video, televisi, atau membaca buku, koran, majalah, blog, berita online. Atau dengan cara wisata virtual, virtual tourism. Caranya? Seperti Zoom itu, kurang lebih. Ada perusahaan jasa virtual tourism yang dibayar oleh wisatawan virtual yang duduk santai di rumahnya. Pengusaha jasa virtual tourism itu datang ke objek wisata dan membuat video live yang disaksikan oleh wisatawan virtual tersebut. Detailnya... pastinya saya belum tahu… he he he.. (ghc).

ReadMore »

23 Agustus 2020

Gedung Kejagung Dilalap Api

Gedung Kejagung Dilalap Api

Api mulai tampak, menurut saksi mata yang disiarkan di TV sekitar pukul 19.10-19.20 WIB, pada Sabtu, 22 Agustus 2020. Sekian waktu kemudian ada wawancara via ponsel antara penyiar berita TVOne dengan Wakil Jaksa Agung, Setia Untung Arimuladi. Rumah dinasnya relatif dekat dengan kantor Kejaksaan Agung itu. 

Beberapa jam sebelum kebakaran itu, pada Sabtu siang ada silaturahmi sebagian anggota keluarga besar PSM Pindad Utara ke rumah dinas Wakil Jaksa Agung di Jln. Dharmawangsa, Jakarta. Biasanya acara rutin dilaksanakan di rumah di PSM, Kiaracondong sebagai rumah utama orangtua almarhum Bapak Letnan Kolonel Purn. H. M. I. Singgih. Silaturahim dilaksanakan pada hari raya Idulfitri dan Iduladha. Selain itu acara juga dilaksanakan di rumah Mas Untung di Cilengkrang.

Foto terlampir adalah foto pada Sabtu, 22 Agustus 2020, siang hari di rumah dinas Wakil Jaksa Agung. Seperti biasa, Mas Untung memberikan pesan-pesan yang disertai dengan canda dan tawa terutama pesan untuk anak-anak dan cucu-cucu. Protokol kesehatan diperhatikan untuk kalangan internal keluarga dan semuanya dalam kondisi sehat.  

Tak dinyana, beberapa jam kemudian terjadi kebakaran di kantor Kejaksaan Agung. Semoga sebab-musabab kebakaran bisa segera diketahui dan bisa diperoleh solusinya, meskipun sedang menghadapi masalah internal kejaksaan dan sedang menangani kasus korupsi superbesar … Aamiin.

ReadMore »

5 Juli 2020

Buku yang Berkisah tentang Gontor

Buku yang Berkisah tentang Gontor

Wali santri yang baru kali pertama menyekolahkan anaknya ke PMDG, baik putra maupun putri, perlu membaca beberapa buku yang berkaitan dengan pesantren. Yang lebih khusus lagi adalah pesantren modern yang bernama PMDG. Apalagi selama wabah Covid-19 akibat dari virus Corona ini para walisantri disarankan tinggal di rumah saja. Putra-putrinya tetap mondok di PMDG yang terus aktif dari jam ke jam sehingga belum sempat menelepon ayah-ibunya. Padat karya, seperti hari ini ada pagelaran Porseni. Lantas bagaimana cara mendapatkan informasi yang berkaitan dengan PMDG?
Ada beberapa buku, fiksi dan nofiksi, yang memberikan informasi tentang PMDG. Yang nonfiksi seperti buku Manajemen Pesantren, Trimurti, dll. Yang buku fiksi seperti trilogi buku Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara, termasuk buku Ayat-Ayat Cinta yang berkisah tentang Mesir, sebuah negara yang menjadi salah-satu tujuan alumni PMDG. Buku-buku tersebut memberikan khazanah ilmu dan pengetahuan tentang pesantren. Adapun buku yang tidak khusus membahas PMDG tetapi membahas tentang pesantren di bawah NU (Nahdhatul  ‘Ulama) adalah Tradisi Pesantren oleh Zamakhsyari Dhofier. Tetapi informasi tentang pesantren (tradisional, salaf) menjadi pembanding yang baik untuk pesantren modern (khalaf) seperti PMDG.

Tentu saja buku tidak bisa menggantikan kunjungan ke pondok, melihat langsung putra-putri, bertatap muka, berpelukan, dan makan bersama. Tidak hanya antara orang tua dan santri, tetapi bersama-sama makan nasi dengan teman-teman dari anak bapak-ibu. Mengajak makan siang atau malam, ditraktir oleh orang tua yang sedang di pondok adalah kegiatan sedekah yang menguatkan silaturahim di antara santri. Informasi tentang anak yang sakit bisa juga diperoleh dari temannya yang sehat yang berbaik hati menelpon orang tuanya, sebagai informasi saja, dan tidak perlu cemas berlebihan.

Perihal buku-buku tersebut, isinya memberikan masukan kepada wali santri tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan di PMDG. Semuanya untuk menguatkan santri, menguatkan pondok, dan menguatkan keikhlasan orang tua dengan akronim TITIP: Tega, Ikhlas, Tawakal, Ikhtiar, Percaya. 

ReadMore »

28 Juni 2020

Istilah “Modern” dan Silsilah Trimurti Gontor

Istilah “Modern” dan Silsilah Trimurti Gontor

Waktu itu Gontor berusia 10 tahun. Tepatnya tanggal 19 Desember 1936. Trimurti, yaitu K.H. Ahmad Sahal (1901-1977), K.H. Zainuddin Fananie (1908-1967), K.H. Imam Zarkasyi (1910-1985) pada acara tersebut memaparkan sejarah Pondok Gontor Lama dan perjuangan Pondok Gontor Baru. Acara dilaksanakan di Balai Pertemuan Kaum Muslimin yang lantas diubah menjadi Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) sampai sekarang.

Tamu undangan yang hadir adalah wakil Gusti Kanjeng Bupati Ponorogo, Bendoro Patih Ponorogo, 800-an undangan, 20 wakil organisasi massa saat itu, peneliti orientalis Belanda dari Malang dan Kediri, wartawan daerah dan luar daerah, dan ribuan orang warga di sekitar pondok. Di tengah dominasi kekuasaan kolonial Belanda yang selalu curiga pada kegiatan pendidikan dan pengajaran yang dilakukan oleh orang Indonesia, kegiatan ikrar berdirinya KMI itu berhasil dan sukses.

Pada tanggal tersebut Trimurti mengubah nama Pondok Gontor Lama menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor. Sejak itulah berlaku kurikulum KMI hingga sekarang. Nama “Modern” pada zaman itu, tahun 1936, membuat nilai plus dalam pandangan masyarakat. Kata "Modern" ini mendahului zamannya. Nama Pondok Modern lantas dikenal hingga ke luar pulau Jawa, yaitu Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

Garis keturunan pendiri Gontor, yaitu Trimurti bisa diketahui sampai Kuncen Caruban (Kyai Ageng Besari) dan Kanjeng Pangeran Hadiraja Adipati Anom dari Kasepuhan Cirebon. Silsilah terlampir pada Gambar 1.

Adapun perjalanan hidup Trimurti dalam masa awal pengembangan PMDG ada di Gambar 2. 

Gambar 1. Silsilah Trimurti

Gambar 2. Perjalanan hidup Trimurti


ReadMore »

23 Juni 2020

Sejarah Suspension of Hajj

BRIEF ACCOUNTS OF SUSPENSION OF HAJJ IN ISLAMIC HISTORY

Around 40 times in history the Hajj was either cancelled or the number of pilgrims was extremely low according to the King AbdulAziz Foundation For Research And Archives, and this idea is not as unprecedented as perceived.

Among the many factors were:
• Epidemics/Diseases 
• Political turmoil
• Economic turmoil
 
• Instability of security
 
• Conflicts
• Activities of bandits and raiders

Some years and events when Hajj was either suspended or interrupted:
1. 251 AH / 865 AD:
Ismail bin Yusuf Al-Alawi known as Al Safak and his forces led a rebellion against the Abbasid Caliphate and massacred thousands of pilgrims who were gathered at the Arafat Mountain near Makkah, forcing the cancellation of the Hajj.

2. 317 AH / 930 AD: 
Arguably the most infamous event was when a sect called Qaramitah who considered the Hajj to be a pagan ritual led by Abu Tahir Qaramitani carried out a vicious attack on Makkah during the Hajj season. According to historic accounts, the Qaramitans massacred 30,000 pilgrims while mockingly chanting verses of the Quran at them burying them in their places without bathing or shrouding or Janazah prayer. They dumped 3,000 bodies into the sacred well of Zamzam and then destroyed it completely. They also stole the Black Stone from the Ka’bah and took it to their base in the east of Saudi called Hajr (modern day Qatif) for 22 years. It is said that sadly for 10 years after this event the Hajj was not carried out.

3. 357 AH / 968 AD:
It is said that this year it was cancelled because of the spread of the so-called “Al-Mashiri disease” in Makkah, and because of it the pilgrims died, and their camels died on the way from thirst and only a few of them arrived in Makkah.

4. 390 AH & 419 AH / 1000 AD & 1028 AD:
Hajj was suspended due to extreme high costs and inflation. For the same reason nobody did Hajj from the East and from Egypt in 419 AH.

5. 492 AH / 1099 AD:
Hajj was not performed because of the turmoil and lack of security that befell the Muslims throughout their large state due to the raging conflict between themselves, and for five years before the fall of Jerusalem to the hands of the Crusaders.

6. 654 AH / 1256 AD:
Apart from Hijaz no other country performed Hajj for four years due to ongoing conflicts.

7. 1213 AH / 1799 AD:
Hajj trips stopped during the French Revolution due to the routes being insecure.

8. 1246 AH / 1831 AD:
In more recent accounts, a plague coming from India spread and caused the deaths of a staggering three quarters of the pilgrims.

9. Years 1252 AH to 1310 AH / 1837 AD to 1892 AD:
The epidemics spread in various years from 1837 AD until 1892 AD with thousands dying daily. In 1871 it struck Madinah. This outbreak known as Cholera spread during the Hajj season, as deaths spiked in Arafat and peaked in Mina.

10.  Year 1441 AH / 2020 AD:
The Coronavirus pandemic (COVID-19) caused suspension of international pilgrims performing Hajj.

(Source: Haramain, FB)




ReadMore »

8 Juni 2020

Pak Dokter, Ini Belum Normal

Pak Dokter, Ini Belum Normal

Video wawancara seorang dokter beredar. Isinya tentang Corona. Bye-bye Corona. Corona tidak semengerikan yang diberitakan. Kurang lebih inilah inti video tersebut. Di tulisan ini saya ingin urun rembug. Ingin urun pendapat dengan dokter di Kota Mataram NTB tersebut dengan pendapat yang berbeda. Demi siapa? Tentu demi kesehatan kita. Kesehatan orang tua, istri/suami, anak-anak, cucu, cicit, adik dan kakak, ipar dan keponakan. Juga kesehatan teman sejawat, sahabat di dunia maya, dan saudara-saudara kita.
Dunia kedokteran memang menyatakan bahwa obat demam, batuk, pilek adalah istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi. Tidak perlu antibiotik. Kalau lebih dari tiga hari, barulah perlu ke dokter. Artinya, penyakit seperti itu memang bisa mudah sembuh dengan istirahat dan makan makanan bergizi. Tetapi virus Corona baru ini berbeda. Bahkan karakteristiknya berubah-ubah. Novel Coronavirus penyebab Covid-19 ini cepat menginfeksi orang. Bahkan ada kejadian, pasien yang dinyatakan sembuh tetapi beberapa hari kemudian meninggal karena sesak napas. Diduga terjadi penggumpalan di pembuluh darah di paru-parunya. Koagulasi ini tentu bisa terjadi di pembuluh darah lainnya dan fatal risikonya.

Sudah ditulis di artikel sebelumnya, yaitu *New Normal, Sudah Waktunya?*, tersedia di link artikel ini, https://bit.ly/2AMIhZ6 bahwa pada awal Juni 2020 Indonesia masih di fase eksponensial. Minimal fase retardasi atau pelambatan laju penularan. Tetapi belum masuk ke fase stationary. Apalagi fase declining. Masih butuh waktu. 

Dengan merujuk pada berita bahwa uji cepat (rapid test) di perbanyak, termasuk PCR, maka paling cepat bisa dicek adalah 14 hari setelah pengambilan sampel. Betulkah dilaksanakan uji hingga 15.000 (atau bahkan 20.000 uji) perhari? Bagaimana distribusi lokasinya? Berapa persen di Jawa Timur, di Kalimantan, di Sulawesi, di DKI, di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, dll? Apabila uji sudah sebanyak itu dan berlangsung sebulan atau dua bulan dan hasil positifnya cenderung menurun, maka baru bisa diperkirakan fase decline-nya dengan relatif akurat. Baru bisa dinyatakan berada di depan gerbang new normal (tetapi belum masuk ke dalam fase new normal).

Kepada masyarakat, hendaklah tetap meyakini bahwa virus baru ini lebih ganas daripada virus lainnya yang sudah dikenal, seperti SARS dan MERS. Di seluruh dunia, per tanggal 8 Juni 2020, hampir tujuh juta orang terinfeksi, dan lebih dari 400 ribu orang meninggal. Karena sudah diumumkan sekarang sebagai fase new normal oleh pemerintah pusat atau PSBB transisi di DKI dan daerah lainnya, maka silakan laksanakan kegiatan sehari-hari, tetapi tetap kenakan masker, tambah lagi dengan tisu di dalamnya. Cuci tangan dengan sabun di air yang mengalir. Jaga jarak semester atau lebih dengan orang lain. Sulit memang, apalagi kalau duduk di angkot, di bis, di halte, di tempat umum. Tetapi lebih baik dilaksanakan daripada berisiko sakit karena novel Coronavirus ini.

Sudah disebut di artikel sebelumnya bahwa dunia akan mulai tatanan baru apabila vaksin virus ini sudah ditemukan, sudah diproduksi massal, dan harganya terjangkau oleh mayoritas masyarakat dunia, terutama masyarakat di negara-negara miskin seperti di Afrika. Asia Selatan, Amerika Selatan. * *Gede H. Cahyana*, Pengamat Sanitasi Lingkungan.
ReadMore »