• L3
  • Email :
  • Search :

28 Juni 2020

Istilah “Modern” dan Silsilah Trimurti Gontor

Istilah “Modern” dan Silsilah Trimurti Gontor

Waktu itu Gontor berusia 10 tahun. Tepatnya tanggal 19 Desember 1936. Trimurti, yaitu K.H. Ahmad Sahal (1901-1977), K.H. Zainuddin Fananie (1908-1967), K.H. Imam Zarkasyi (1910-1985) pada acara tersebut memaparkan sejarah Pondok Gontor Lama dan perjuangan Pondok Gontor Baru. Acara dilaksanakan di Balai Pertemuan Kaum Muslimin yang lantas diubah menjadi Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) sampai sekarang.

Tamu undangan yang hadir adalah wakil Gusti Kanjeng Bupati Ponorogo, Bendoro Patih Ponorogo, 800-an undangan, 20 wakil organisasi massa saat itu, peneliti orientalis Belanda dari Malang dan Kediri, wartawan daerah dan luar daerah, dan ribuan orang warga di sekitar pondok. Di tengah dominasi kekuasaan kolonial Belanda yang selalu curiga pada kegiatan pendidikan dan pengajaran yang dilakukan oleh orang Indonesia, kegiatan ikrar berdirinya KMI itu berhasil dan sukses.

Pada tanggal tersebut Trimurti mengubah nama Pondok Gontor Lama menjadi Pondok Modern Darussalam Gontor. Sejak itulah berlaku kurikulum KMI hingga sekarang. Nama “Modern” pada zaman itu, tahun 1936, membuat nilai plus dalam pandangan masyarakat. Kata "Modern" ini mendahului zamannya. Nama Pondok Modern lantas dikenal hingga ke luar pulau Jawa, yaitu Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Maluku.

Garis keturunan pendiri Gontor, yaitu Trimurti bisa diketahui sampai Kuncen Caruban (Kyai Ageng Besari) dan Kanjeng Pangeran Hadiraja Adipati Anom dari Kasepuhan Cirebon. Silsilah terlampir pada Gambar 1.

Adapun perjalanan hidup Trimurti dalam masa awal pengembangan PMDG ada di Gambar 2. 

Gambar 1. Silsilah Trimurti

Gambar 2. Perjalanan hidup Trimurti


Tidak ada komentar:

Posting Komentar