• L3
  • Email :
  • Search :

22 November 2006

Signifikansi Pendidikan Lingkungan Hidup

Signifikansi Pendidikan Lingkungan Hidup

Yang di Pikiran Rakyat, 23 November 2006.

Pemerintah Kota Bandung, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kota Bandung, telah berketetapan untuk menjadikan Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) sebagai muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah di Kota Bandung. Berbagai pendapat pun lantas merebak, seperti biasa, yaitu ada yang pro dan kontra. Terlepas dari pro-kontra itu, seberapa pentingkah PLH bagi murid khususnya yang tinggal di Kota Bandung?

Interaksi alami
Sejatinya, semua murid atau dengan tandas dikatakan bahwa semua manusia, pasti perlu ilmu tentang lingkungan. Sebab, bicara lingkungan sebetulnya bicara tentang kehidupan manusia. Manusia hidup di dalam lingkungan dan berinteraksi dengan lingkungan. Manusia perlu air, perlu udara, perlu ruang hidup yang semuanya adalah komponen lingkungan. Manusia juga mengeluarkan limbah, baik padat, cair, maupun gas dan limbah ini pun masuk lagi ke lingkungannya. Artinya, langsung tak langsung, manusia mempengaruhi lingkungan dan dipengaruhi juga oleh lingkungannya.

Oleh sebab itu, kepedulian manusia pada lingkungan menjadi konsekuensi logis interaksi manusia dan lingkungan. Mau tak mau manusia harus akrab dengan lingkungannya. Sebelum mencapai taraf akrab itu, manusia harus tahu dan paham dulu tugasnya terhadap lingkungan. Jangan sampai manusia tidak tahu apa yang mesti dilakukannya atas lingkungan dan peran apa yang diembannya sebagai makhluk berakal yang mampu mempengaruhi kualitas lingkungan. Sebab, manusialah yang mampu merusak dan juga memperbaiki mutu lingkungan.

Hanya saja, tidak semua orang memahami lingkungannya. Jangankan paham, tahu saja pun tidak. Makin besar lagi keburukannya ketika kaum terdidik atau kalangan sekolah tidak tahu dan tidak paham tentang tugasnya sebagai pelestari fungsi lingkungan. Bahkan apa itu lingkungan pun masih banyak yang tidak tahu. Setiap bicara lingkungan selalu saja pikirannya mengarah kepada pohon, udara, dan air. Tidak salah memang. Tetapi masalah lingkungan jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan pohon, air, dan udara saja.

Adakah alat yang dapat digunakan untuk meluaskan peran dan paham masyarakat terhadap pelestarian fungsi lingkungan? Secara kelembagaan, pemerintah memang memiliki lembaga dan/atau badan yang mengurusi bidang lingkungan. Tak perlu disebut di sini apa saja lembaga dan/atau badan itu. Tetapi faktanya, lembaga dan/atau badan ini belum mampu berfungsi optimal untuk meluaskan pemahaman masyarakat atas lingkungan. Malah cenderung lembaga dan/atau badan ini bertugas sendiri-sendiri dan terlepas dari perannya sebagai agen pemberdaya masyarakat dalam hal lingkungan.

Maka, ketika Dinas Pendidikan Kota Bandung mencanangkan program PLH di sekolah-sekolah, hal ini seakan-akan menjadi mata air segar bagi pencinta lingkungan. Seakan-akan program ini menjadi jalan tol untuk meluaskan ilmu, wawasan, dan pemahaman masyarakat atas masalah lingkungan. Apalagi program ini dibasiskan di sekolah sehingga besar sekali pengaruh dan kesempatannya untuk berkembang dan membentuk kebiasaan baik yang berkaitan dengan lingkungan.

Praktis, bukan teoretis
Taraf signifikansi PLH adalah pada porsi praktis-teoretisnya. Pelaksanaan PLH ini hendaklah tidak berkutat di ranah teoretis. Jika hanya teoretis maka hasilnya takkan terasa dan seolah-olah murid-murid berbilang ilmu lingkungan tetapi perilakunya tak berubah. Jangan sampai PLH ini sekadar penambah beban belajar siswa. Apalagi ada banyak pendapat kontra bahwa tak perlulah PLH lantaran murid sudah dianggap memperolehnya dari pelajaran yang lain. Tak dapat dimungkiri bahwa ada pelajaran yang membahas secara implisit soal lingkungan. Tetapi patut pula diakui bahwa kupasannya tidak menyentuh unsur utama lingkungan, yaitu pelestarian fungsi atau sustainability dan cederung menjadi lekatan dan tempelan belaka. Efeknya tidak tampak pada perubahan perilaku guru-gurunya apalagi murid-muridnya.

Oleh sebab itu, PLH harus dititikberatkan pada sisi afektif - psikomotorik sehingga siswa tak hanya memiliki ilmu tetapi juga mampu mengubah perilakunya. Mampu "melebur" dengan lingkungannya. Misalnya, siswa melihat bagaimana proses polusi air dan apa dampaknya bagi kesehatan, lalu tahu cara mencegah dan mengolah polusi itu menjadi air yang tak tercemar. Ketika melihat sampah, yang ada di dalam benaknya ialah sumber daya baru yang bahkan mampu menghasilkan uang. Air limbah pun dijadikan potensi pupuk buatan atau didaur ulang menjadi air minum lagi. Pendeknya, PLH harus mendekatkan guru dan muridnya kepada lingkungan dan menjadi bagian dari solusi, bukan sang penimbul masalah.

Materi PLH itu pun hendaklah dibatasi agar tak terlalu meluas sehingga menjadi persoalan biologi dan mengaburkan masalah lingkungan yang erat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab, telah dipahami bersama bahwa lingkungan itu sangat luas dan semua orang bisa bicara soal lingkungan sesuai dengan persepsi dan latar belakang ilmunya. Kalau tidak dibatasi atau tidak didefinisikan sejak awal, maka wacana ini akan meluas dan di luar kendali sehingga tujuan PLH menjadi tidak fokus atau bahkan difus (menyimpang jauh) sehingga tidak praktis dan tidak aplikatif.

Makanya definisi atau "pagar-pagar"-nya harus sudah dibuat terlebih dulu agar PLH berhasil menjadi pendidikan lingkungan yang erat dengan kehidupan praktis keseharian guru dan murid. Misalnya berkaitan dengan air minum, air limbah, sampah, polusi udara, kesehatan, penyakit menular lewat air, udara, makanan, tanah, dll. Juga upaya sanitasi dan kesehatan lingkungan yang wajib diketahui pada tingkat dasar dan tindakan preventif-kuratif apa saja yang mesti diambil dalam suatu kasus penyakit tertentu misalnya. Inilah PLH yang implementatif dan berpeluang membentuk perilaku guru dan murid yang berkarib dengan lingkungan, environmentaly friendly, sehingga tak sekadar berwawasan lingkungan.

PLH ini hendaklah dilaksanakan secara bergradasi, mulai dari kelas satu SD sampai kelas tiga SMA. Tentu saja harus ada perluasan materi yang diberikan meskipun pokoknya tetap sama. Misalnya, bahasan tentang air. Di kelas satu dan dua yang perlu diberikan hanya sebatas beda air jernih, air bersih, dan air limbah atau air kotor. Di kelas yang lebih tinggi, mulai dikenalkan pada parameter kualitasnya secara sambil lalu. Di kelas yang lebih tinggi lagi bisa dikenalkan pada teknologi tradisional-konvensional, selanjutnya masuk ke teknologi madya hingga ke teknologi lanjut. Begitu pun yang berkaitan dengan sampah, udara, kesehatan lingkungan, dll.

Yang juga penting adalah rasio waktu belajarnya. Belajar tak hanya di kelas, tetapi juga di lapangan. Misalnya, pergi ke sungai, ke kolam, ke waduk, atau ke tanah lapang sambil melihat-lihat selokan. Siswa langsung melaksanakan pengamatan lapangan. Mereka pasti senang bereksperimen dan mengeksplorasi kemampuan dirinya di alam bebas. Itu sebabnya, pembagian 30% teori dan 70% praktik menjadi jalan tengah. Guru dan murid akan lebih banyak belajar di luar kelas dan berdiskusi. Guru harus betul-betul siap pada semua kemungkinan pertanyaan yang muncul dan jangan marah apabila belum bisa memberikan penjelasan yang logis dan berterima. Artinya, guru harus terus belajar dan belajar terus.

Bagaimana hasilnya? Tentu saja tak bisa instan. Hasilnya baru akan tampak setelah sekian tahun kemudian dan ini membutuhkan proses, butuh waktu untuk pembentukan perilakunya, yaitu perilaku manusia cinta lingkungan, manusia yang peduli pada pembangunan berkawan lingkungan. Istilah umumnya adalah pembangunan berwawasan lingkungan yang berkelanjutan (sustainable development).

Semoga PLH yang dicanangkan itu betul-betul berjalan di atas rel idealismenya dan menjadi the avant-garde pembangunan lingkungan di Indonesia. Dan itu dimulai dari Kota Bandung, der bloem der indische bergsteiden.

Bagaimana kabupaten dan kota lainnya?

Selanjutnya:
EDUCATION for Sus. Dev

EKOSISTEM AKUATIK.
ReadMore »

14 November 2006

Aku, Amal, Anggowo

Demi masa....
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian
Kecuali, orang-orang yang beriman dan beramal saleh dan saling menasihati agar menaati kebenaran dan kesabaran.
(QS. 103, al-'Ashr: 1 - 3).

--------------------------------------------------------

Waktu terus berlalu. Semuanya tak terasa, tahu-tahu sudah berubah lagi dan esoknya berubah lagi. Tak ada yang mampu mencegah sang waktu. Ia perkasa dan rodanya terus berputar, melindas apa dan siapa saja yang terlena.

Aku menerawang. Waktu itu tahun 1988, tapi aku sudah lupa tanggal dan bulan apa. Di bagian depan rumah tempat kosku akan ada dua orang yang tinggal di sana. Pemilik rumah, yaitu Bu Tanu, menyebut ada dua orang mahasiswa baru ITB. Sekian hari kemudian akhirnya aku bertemu muka dengan kedua orang itu. Yang pertama tinggi sosoknya dan yang satunya lebih pendek. Mereka, katanya, dari Jember, Jawa Timur.

"Saya Amal!"
"Saya Anggowo!"

Aku pun memperkenalkan diri. "Saya Gede."

Setelah pertemuan itu kami tenggelam lagi oleh tugas kampus. Rutinitas kuliah membuat kami sibuk. Apalagi praktikum yang mendera-dera dan laporan yang harus diserahkan sebelum praktikum berikutnya. Aku pun memaklumi kesibukan kedua rekan baruku itu sebagai anak TPB. Pasti sibuk dan dikejar-kejar tugas. Dulu aku pernah mengalaminya.

Amal adalah mahasiswa Teknik Informatika. Anggowo mahasiswa Teknik Geologi. Dalam beberapa pertemuan, Anggowo beberapa kali bertanya kepadaku soal Teknik Lingkungan. Aku, yang juga masih bau kencur di bidang TL, hanya mampu menjawab seadanya. Tapi yang membuatku kaget, Anggowo ternyata pindah ke jurusan TL. Dia terdaftar sebagai mahasiswa TL 1989. Aku lantas mengucapkan selamat kepadanya.

Ketika kutanya alasannya pindah, dia hanya tertawa-tawa. Frekuensi pertemuanku dengannya menjadi lebih tinggi. Dalam beberapa kuliah aku sering berpapasan dengannya. Saat itu dia sudah tidak lagi tinggal di kos Bu Tanu. Satu yang paling aku ingat adalah senyum dan tertawanya. Dia ceria dan periang. Di mana pun aku bertemu, di Salman, di Perpus, di jalan, selalu saja dia teriak, "Haiii... Mas, ke manaaa?" Atau, "dari mana Mas?"

Tapi....... tadi pagi, Kamis, 9 November 2006, aku di-SMS oleh Mas Amal. Isinya....... Anggowo meninggal dunia di Bontang pada Senin sore, 6 November 2006 ketika melaksanakan proyeknya. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uunn. Anggowo sesak napas, lalu di bawa ke dokter, terus ke hotel dan pingsan di sana. Ketika dibawa ke rumah sakit, dia sudah tak tertolong...

Anggowo.... selamat jalan. Semoga Allah swt mengampuni semua kesalahanmu dan menempatkanmu di tempat yang terpuji. Aamiinn.

Gede H. Cahyana, mantan penghuni kamar tengah di Jl. Cisitu Lama No. 24 Bandung. Trims buat sahabatku Amal yang menginformasikan “kepulangan” ke alam baqa salah seorang temanku itu. *
ReadMore »

"Ketupat-Opor" Buku

Bagai dihipnotis, kaum muslim bergerak serentak ke kampung kelahirannya. Ada yang dari Jakarta ke daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ada yang dari Yogyakarta ke Garut dan Tasik, ada yang dari Surabaya ke Lampung dan Sumatera lainnya. Tepat pada hari Lebaran, mereka membelah ketupat dan menikmati opor ayam. Tak hanya bapak-ibu dan anak-anak yang menyantapnya, tapi juga tamu, rekan kerja dan tetangganya.

Itulah “ritual” yang terjadi setiap tahun dengan prosesi yang nyaris tak berubah. Dimulai dari sepekan sebelum hari H, para ibu dan anak-anaknya mulai menyiapkan kue dan penganan lainnya. Aktivitas ini terjadi di semua lapisan sosial ekonomi. Jenis kue dan hidangannya relatif sama. Bedanya hanyalah banyak sedikitnya dan kualitas bahannya. Juga mungkin ada racikan baru yang dicoba oleh ibu-ibu. Tapi semuanya bermuara pada satu kata, yaitu ketupat dan opor ayam. Tanpa makanan ini, Lebaran terasa tidak lengkap. Begitulah anggapan sebagian masyarakat kita.

Betapa fenomenalnya ketupat dan opor ayam. Betapa besar cinta orang kepadanya. Adakah pelajaran yang bisa diambil daripadanya? Ada cita-cita begini. Dapatkah momen Lebaran dijadikan titik tolak meluaskan cakrawala ilmu, cinta baca dan cinta buku bagi masyarakat? Bagaimana kalau ketupat dan opor pada setiap Lebaran itu diganti dengan buku? Katakanlah semacam “ketupat-opor” buku. Ini pun hakikatnya makanan, tetapi makanan ruhani. Malah taraf kepentingannya sejatinya jauh di atas makanan jasmani. Apalagi makanan jasmani ini sudah menjadi santapan sehari-hari, sudah sangat lumrah, tak hanya pada masa Lebaran. Tentu masih layak jika kita sematkan satu hari saja, yaitu pada saat Lebaran sebagai hari makan bagi ruhani kita.

Semangatkah kita mewujudkan Lebaran sebagai pesta “ketupat-opor” buku? Ketika gerakan “ketupat-opor” buku ini dilaksanakan, kaum muslim akan berpesta buku dalam ujud diskusi kecil-kecilan di setiap rumah. Buku apa saja boleh tetapi pada tahap awal sebaiknya buku yang berkaitan dengan hikmah Idulfitri. Bukunya yang tipis-tipis saja dulu. Misalnya tentang hal-hal yang harus dikerjakan pasca-Ramadhan agar hidup ini kaya manfaat. Perihal ibadah sosial perlu juga diketengahkan agar kita makin banyak melaksanakan ibadah ini selain ibadah ritual yang rutin minimal lima kali sehari. Kalau shalat saja bisa, kenapa zakat dan yang lainnya tidak bisa? Adakah “mimpi” pesta “ketupat-opor” buku ini bakal terwujud?

Tak mudah, memang, mewujudkan mimpi. Tetapi gerakan ini dimulai saja, minimal dalam skala rumah tangga atau orang per orang. Jika sudah ada yang bergerak meskipun lambat, maka lambat laun akan meluas juga. Apalagi kalau didukung oleh media massa, pasti gerakan ini akan kian dikenal masyarakat. Kalau sudah berjalan walau pelan, maka kemungkinan tercapainya pun kian besar. Rintangannya bukan tidak ada. Nada mencibir bisa muncul dari mana saja, dari siapa saja, dan tuduhan sinis berhamburan secepat kilat. Boleh jadi ada yang menuduh sebagai “aneh-aneh saja”, divonis dan dinyinyiri sebagai orang “gila” dan dianggap kurang kerjaan. Semuanya bisa terjadi. Tapi teruslah bergerak demi meliterasikan bangsa ini, demi perbaikan ranking Indeks Pembangunan SDM kita yang pernah bercokol di angka memalukan, yaitu 112.

Apapun tanggapan dan anggapan orang patutlah diperhatikan tapi janganlah menyurutkan niat yang sudah tertanam di hati. Sekeras apapun tentangan orang, sekuat apapun badai menghantam, gerakan “ketupat-opor” buku selayaknya terus digemakan dan dihidup-hidupkan. Sebagai gerakan budaya yang melawan arus tradisi pasti mendapat resistensi dari pendukung tradisionalnya. Ini biasa. Nabi Muhammad pun dilawan keras oleh kaum penyembah tradisi Arab pada masa itu dan bahkan sangat keras perlawanannya. Kalau saja Muhammad menyerah dan tidak yakin akan kemenangannya, niscaya kejahilan itu tetap merajalela sampai sekarang. Kita pun, mungkin, tak bakal kenal dan tak ber-Islam.

Dengan berbekal kata iqra (bacalah; padahal Muhammad buta huruf) lantas satu per satu orang-orang Mekkah memeluk Islam. Sementara itu, pintu permusuhan kian dibuka lebar oleh kaum Quraisy karena mengancam tradisi terutama eksistensi mereka sebagai kaum priyayi Arab. Tak hendak mereka disetarakan apalagi disamakan dengan orang-orang biasa, dengan rakyat dan budaknya. Mereka tak rela pada Islam karena mengajarkan persamaan hak dan yang paling mulia di depan Allah hanyalah yang paling takwa. Prinsip “benci baca” alias pembodohan ini pun telah diterapkan oleh kolonial Belanda ketika menjajah kita dengan menjauhkan umat Islam dari kitab sucinya.

Begitulah tantangan keras terhadap gerakan baru, gerakan literasi. Kalau tidak dimulai dari sekarang, minimal dari diri sendiri, maka takkan ada gerakan pembaruan pola pikir masyarakat. Mari pinjam 3M yang dipopulerkan Aa Gym dari Pontren Daarut Tauhiid, yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai sekarang juga. Jangan tunggu hari H Lebaran tahun depan. Bergeraklah sejak detik ini.

Selamat menikmati “ketupat-opor” buku sambil berdiskusi dan menyantap ketupat.*
ReadMore »

Usai Lebaran, Lalu Bagaimana?

Idulfitri telah berlalu. Seperti tahun-tahun lalu, Idulfitri atau lebaran selalu saja datang dan pergi. Dalam kronika waktu, yakni rotasi Bumi dan edar Bulan, lebaran seperti tidak peduli. Ia datang dengan penampakan hilal, lalu makin terang dan berbentuk bulat saat purnama, selanjutnya menyabit (menjadi Bulan sabit) dan kembali hilang. Lantas, ia datang lagi. Begitu berkali-kali, seolah-olah tak peduli pada manusia yang kerapkali berbeda pendapat dalam menetapkan satu Syawal.

Lebaran usai sudah. Bagaimana dampaknya pada perilaku kita? Ada empat kelompok karakter orang dalam berlebaran. Yang pertama, kelompok gembira. Gembira karena tuntas puasanya sebulan penuh. Selain ibadah ritual seperti shalat wajib dan sunnah terutama tarawih atau tahajjud, ibadah sosial pun ditunaikan. Tak hanya zakat fitrah senilai Rp 12.500 per orang tetapi juga infak sunnah dan sedekah. Berhari-hari selama sebulan itu mereka giat berbuat saleh. Minimal mengisi kencleng masjid.

Yang kedua adalah kelompok bahagia. Mereka bahagia lantaran mampu mengisi bulan Ramadhan dengan ibadah ritual dan sosial sebanyak-banyaknya. Namun mereka pun merasa sedih dalam bahagia karena Ramadhan berlalu dan merasa takut tidak bisa bertemu bulan suci itu lagi tahun depan. Dalam kebahagiaannya ada kesedihan. Itu sebabnya, mereka berupaya menjadikan hari-hari pasca-Lebaran sebagai hari-hari Lebaran dan hari-hari “puasa”. “Puasa” dari perbuatan nista. Kelompok ini menjadikan 11 bulan berikutnya sebagai Lebaran hakiki. Ramadhan dijadikan bulan latihan dan hasilnya diterapkan pada bulan setelahnya.

Yang ketiga, kelompok netral. Bagi kelompok ini, ada atau tidak ada lebaran disikapi dengan biasa-biasa saja atau malah acuh tak acuh. Ibadahnya berlubang-lubang, kadang-kadang puasa kadang-kadang tidak. Ada juga yang puasa tetapi tidak shalat. Ada yang ikut tarawih keliling tetapi tidak puasa. Kalaupun puasa tetapi mereka tidak shalat. Ada yang malah tidak puasa, tidak shalat wajib tetapi ikut shalat Idulfitri, berbaju baru dan berpenampilan baru pula. Semuanya serba hedonis dan menampakkan minat besar pada simbol-simbol kenikmatan dunia, seperti harta dan tahta (jabatan). Malah tampak jauh lebih ekspersif merayakan Lebaran ketimbang dua kelompok sebelumnya. Tampak berlomba-lomba dalam “pamernya”.

Selain ketiga kelompok di atas, ada satu lagi, yaitu kelompok sedih. Inilah fenomena lain di tengah gembira dan bahagia yang dirasakan oleh orang-orang berpuasa dan mampu ekonominya, punya kekuatan finansial. Kelompok keempat ini diisi oleh kaum marjinal, orang-orang yang terpinggirkan oleh sejarahnya, juga oleh kompetisi ekonomi, sosial-kultural. Jumlahnya signifikan, mencapai 39,5 juta orang. Karena berada di bawah garis kemiskinan, tak mampulah mereka berpuasa secara ritual karena nyaris setiap hari berpuasa lantaran tak punya makanan. Mereka puasa tanpa kepastian berbuka dan “mungkin” tanpa kepastian pahala karena tidak betul-betul puasa dalam arti tidak makan-minum dari Subuh sampai Magrib. Kelompok ini, ketika menemukan remah-remah roti di bak sampah akan langsung menyantapnya dan puasa lagi sampai menemukan makanan bekas di bak sampah lainnya.

Pada hari Lebaran, ketika kaum muslimin membelah ketupat dan menyendok opor ayam, kelompok fakir miskin ini terseok-seok menanti sedekah. Sambil mengiba dengan telapak tangan tertadah ke atas, mereka menanti uluran tangan kaum muslimin yang “lulus” puasa dan merayakan “kelulusannya” dengan ber-Lebaran. Simbol tradisionalnya adalah membelah ketupat. Ketika muslimin berbagi amplop angpao kepada keponakannya, mereka menggamit anak-anaknya di sela-sela desakan rekan sesama pengemis, berebut meminta sekeping dua keping atau selembar dua lembar uang seribuan.

Sejatinya, Lebaran bukanlah akhir puasa. Lebaran justru awal puasa, yaitu puasa dari penistaan diri, puasa dari perilaku KKN atau MKKN (manipulasi, korupsi, kolusi, nepotisme). Lebaran adalah titik tolak hari baru, menjadi orang baru. Bukan sekadar polesan baru yang sifatnya duniawi seperti baju baru, sepatu-sandal baru, tas baru, dll.

Lebaran adalah harinya orang-orang berhati baru, bermental baru yang bermuara pada kebenaran. Lebaran adalah pengikis karakter “tikus” yang bercokol, mengerati, dan menggerogoti hati. Negara ini butuh orang-orang baru, orang-orang bermoral baru. Selamat Lebaran sepanjang waktu.*
ReadMore »

Buku dan Ketupat Lebaran

Artikel ini dimuat di PR, 31 Oktober 2006.

Lebaran atau Idulfitri betul-betul mampu mengerahkan orang-orang Islam untuk bergerak mudik, mengunjungi kampung kelahirannya, bertemu dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Semua modus angkutan, baik pribadi seperti motor dan mobil maupun umum seperti bis, kereta api, pesawat, dan kapal, disesaki penumpang. Tak hanya oleh orang tua, tetapi juga oleh anak-anak dan balita. "Ritual" tahunan itu selalu saja dinanti-nanti dan disambut gembira. Salah satu bentuk kegembiraan itu adalah pembuatan ketupat dan opor ayam.

Dari rumah ke rumah, terutama di kota-kota besar, dan tentu saja bagi kalangan mampu yang memiliki uang, ketupat dan opor, juga masakan lainnya pasti menghiasi meja makan. Bahkan pada malam takbiran pun sudah banyak yang menikmatinya. Esoknya, seusai shalat Idulfitri, setelah maaf-maafan dan sungkem-sungkeman, hidangan khas lebaran itu pun diserbu lagi. Kini dimakan bersama-sama, secara prasmanan dan duduk...

Selanjutnya
ReadMore »