• L3
  • Email :
  • Search :

30 Juni 2006

Fotokopi Buku

Seorang rekan bercerita. Ketika memfotokopi sesuatu, dia kaget melihat seseorang memfotokopi bukunya. Bukan apa-apa. Dia kaget bukan karena tak rela bukunya difotokopi, melainkan karena isi bukunya itu sudah diubahnya. Ada sejumlah pendapat baru yang dianutnya kini yang berarti sejumlah pendapatnya di buku lamanya itu sudah dibuangnya. Buku lamanya itu terbit pada awal 1990-an. Ia khawatir pembaca buku lamanya itu akan salah paham atas pandangannya yang lalu padahal dia sudah memiliki pandangan baru yang menurutnya lebih tepat dan benar.

Jadi, kawan ini terkejut melihat bukunya difotokopi bukan lantaran alasan ekonomi melainkan alasan potensi kesesatan yang bakal diperoleh pembacanya. Dia, secara pribadi, rela-rela saja bukunya difotokopi atau dibajak. Tentu tak demikian dengan penerbitnya karena berbasiskan bisnis. Sebagai penulis, dia tak peduli pada bajak-membajak, kopi-mengkopi. Tolok pikirnya adalah sebaran ilmu. Makin banyak bukunya dibajak berarti makin banyak pula orang yang mengetahui ilmu yang ditulis di dalam buku tersebut. Apalagi dia sangat-sangat yakin bahwa Allah swt pasti akan membayarnya dengan harga yang tak bisa diduganya dan pasti jauh lebih baik daripada sekadar royalti. Yakin dia bahwa Allah takkan mengecewakannya.

Bagaimana dengan mahasiswa? Sudah jamak diketahui, dari dulu sampai sekarang, buku fotokopian banyak beredar di kalangan mahasiswa, terutama buku ajar (textbook) terbitan luar negeri. Minimal ada dua alasannya: (1) harganya mahal; (2) bukunya sulit diperoleh di dalam negeri dan harus pesan yang memakan waktu lama sedangkan materinya harus segera dipelajari demi skripsi, tesis, atau disertasi. Cara memperolehnya pun ada dua macam, yaitu (1) memfotokopi sendiri di tukang fotokopi; (2) membelinya di toko yang memang jelas-jelas menjual textbook ...


Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

27 Juni 2006

Hakim

Profesi hakim disorot lagi. Setelah beragam mafia peradilan dan calo kasus, kini muncul Pedoman Perilaku Hakim yang menuai kontroversi. Semua poin dalam pedoman itu bersifat idealis. Hanya saja, penjelasannyalah yang menyulut masalah, dan ini berkaitan dengan kemandirian dan harga diri. Minimal ada satu hal yang diperdebatkan, yaitu pemberian hadiah atau upeti. Berkaitan dengan ini, seorang rektor sebuah PTS di Bandung bercerita begini. Suatu hari ia didatangi seseorang yang akan membuatkannya jas. Sebelum mengukur, rektor ini bertanya, apakah kalau dia tidak menjadi rektor orang itu akan datang juga untuk membuatkannya jas? Ternyata orang itu datang ke rektor karena ada sesuatu yang diharapkannya, berkaitan dengan kelancaran bisnisnya.

Kasus demikian pun kerapkali terjadi di lingkungan petugas hukum yang seharusnya menjadi penegak hukum. Bahkan ada yang sengaja memanfaatkan jabatannya demi raihan harta berupa uang dan barang. Sudah pula jadi rahasia umum, aparat hukum ...


Selanjutnya di sini
.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

26 Juni 2006

K.H. Rusyad Nurdin

Sosoknya tinggi besar, kira-kira sama dengan Pak SBY, presiden kita sekarang. Peci hitam dan setelan baju-celana hitam atau gelap selalu dikenakannya. Tasnya pun hitam, mungkin berbahan kulit tapi tak pasti berapa harganya. Berkulit gelap umumnya orang Indonesia, alisnya memutih, begitu pun kumisnya. Jenggotnya lebih sering dicukurnya. Kakinya rematik sehingga jalannya tertatih-tatih. Setiap memberikan kuliah agama dan etika, beliau selalu menuruni undak-undak di belakang, dekat gedung Oktagon ITB. Dari jauh pun bisa dilihat sosoknya yang khas itu.

Siapa yang tak kenal K.H. Rusyad Nurdin? Saya yakin banyak juga yang tak tahu sosok kyai pejuang dan pejuang kyai ini, khususnya di kalangan nonmuslim. Namun, saya yakin tak seorang mahasiswa muslim ITB pun yang tak tahu siapa beliau, terutama yang mulai kuliah di ITB sebelum tahun 2002.

Beliau adalah pejuang dalam segala segi, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, dan agama. Sebagai politisi, beliau ikut dalam Konstituante yang dibubarkan oleh Bung Karno. Dalam bidang dakwah, beliau aktif membina umat lewat berbagai cara seperti mendirikan pesantren, menjadi penasihat, dan mengajar. Ada satu hal yang selalu beliau dengung-dengungkan dalam dakwahnya dan ini menjadi keprihatinannya yang mendalam. Beliau prihatin atas perilaku dan perbuatan tercela yang meruyak sejak masa beliau muda, tua, bahkan sampai hari-hari akhir hidup beliau.

Ada catatan buruk perilaku manusia yang dikompilasi oleh almarhum, yaitu:

(1). Mengagungkan harta di atas segalanya yang berarti menghambakan...

Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

23 Juni 2006

Aceh, Kiamat Mikro?

Tulisan ini pernah dimuat di buletin Jumat Masjid Al Ittihad Universitas Kebangsaan Bandung, pada Januari 2005. Sebagai refleksi atas gempa Yogya dan erupsi Merapi dan untuk menuai spiritnya, tulisan ini dirilis kembali.

Sampai hari ini sudah 170 ribuan orang tewas di sebelas negara yang kena tsunami. Sekitar 98 ribu di antaranya di Aceh. Jumlah ini adalah korban terbesar kedua setelah gempa di Cina tahun 1976 dengan korban 250 ribu orang. Karena datanya sementara, jangan-jangan nanti berubah menjadi yang pertama terbesar jumlah korbannya.

Gempa berkekuatan 8,9 skala richter itu mampu mengubah kota yang pernah jaya dengan kerajaan Samudra Pasai menjadi puing-puing. Ketika matahari baru sepenggalahan naik, Serambi Mekkah dilibas gelombang yang tingginya duakali pohon kelapa, lebih tinggi daripada atap rumah berlantai dua. Jangankan manusia, yang namanya kayu, batu, truk, bahkan beton rumah dan jembatan pun tersapu ludes oleh tsunami, tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang).

Hanya dalam tempo 15 menit pascagempa, punahlah daerah juang Teuku Umar dan Cut Nyak Dien itu. Dampaknya pun terasa hingga pantai timur Afrika seperti Somalia, Tanzania dan Kenya. Kiamatkah ini? Betul, ini memang kiamat. Namun, ini cuma kiamat kecil. Mikro. Kematian, apa pun caranya, hanyalah kiamat kecil. Separah apa pun kehancuran dunia akibat energi alam semisal gempa itu, tetaplah kiamat kecil.

Selanjutnya di sini.
Gede H. Cahyana
ReadMore »

Pak Dudu Cikapundung

Pukul delapan pagi saya sudah sampai di jembatan Siliwangi. Sepintas saya menengok ke bawah. Air Sungai Cikapundung bergolak hebat dan tampak coklat. Keruh sekali. Beberapa onggok ranting, kayu dan dedaunan tersangkut di pinggir bangunan sadap milik PDAM Kota Bandung. Mendung menggayut. Sisa-sisa awan hujan semalam tampak kelam. Di utara kota, Gunung Tangkubanparahu seperti lenyap. Dingin mendesir-desir kulit. Sambil mengibas-ngibaskan tangan, saya menuju saung di tepi utara jalan Siliwangi. Di sana Pak Dudu sudah menanti.

"Sudah datang, Den?" sapanya ramah, bangkit dari kursi kayunya.

"Baru saja, Pak." Saya dipersilakan duduk di kursi satunya lagi. Sekejap kemudian, Bu Maman, istri Pak Dudu, datang membawa gorengan. Saya ditawari minum tapi dengan halus saya tolak. Bukan apa-apa, saya hanya ingin cepat-cepat ke sungai dan cepat selesai.

Selanjutnya di sini.


Gede H. Cahyana.
ReadMore »

22 Juni 2006

Belia, Nge-Blog Yuk! (edisi revisi)

Kamu anak SMA, SMP? Kalau ya berarti kamu belia. Kamu ingin menulis? Ingin ketagihan menulis atau mengarang? Salah satu caranya adalah punya blog. Blog bakal ‘mewajibkan” kamu terus menulis sehingga lama-lama kamu terbiasa menulis atau mengarang. Nanti, ketika harus membuat skripsi atau tugas-tugas sekolah dan kuliah, kamu akan lancar-lancar saja.

Blogger.com
Blog mirip dengan buku harian kamu. Buku harianmu berupa kertas, blog berupa ‘kertas’ kaca di monitor komputer. Sama-sama lembaran yang bisa ditulisi apa saja. Bedanya, di blog kamu bisa memajang fotomu tanpa lem dan bisa diedit sesukamu. Bedanya lagi, blog adalah diary kamu yang rela kamu bagikan ke semua orang di Bumi ini. Siapa saja bisa membaca catatan harianmu dan bisa pula mengomentarinya jika kamu izinkan ada perangkat ‘comment’. Jika tak suka ada komentar, bisa kamu setting ‘no comment’, gunakan saja opsi Hide, sembunyikan.

Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

19 Juni 2006

Cari Mata Air Dikira Cari Dukun

Waktu itu saya "diplonco" oleh konsultan tempat saya bekerja. Dunia teoretis di kampus harus segera dicoba di dunia terapan. Saya ditugasi survei sekaligus merancang transmisi dan distribusi air bersih untuk proyek PPSAB. Single fighter, begitulah istilahnya. Tak tanggung-tanggung, lokasi survei tersebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah. Setelah urusan melelahkan di Semarang, lalu ke pemda kabupaten, kecamatan dan desa. Di desa, di lokasi survei, justru yang terberat. Semua desa yang dikunjungi adalah daerah baru bagi saya. Malah ada daerah yang "tak bertuan" seperti cerita dalam film-film western, wild-wild west. Tak bertuan artinya sulit berhubungan dengan dunia luar karena buruknya prasarana dan sarana transportasi dan komunikasi.

Suatu hari, setelah berkunjung ke desa-desa lainnya sampailah saya di Bumiayu.

Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

Menulis "Dari Kawah Sinila"

Tragedi gas beracun. Puluhan sampai ratusan orang tewas bergelimpangan di sekitar Dieng. Di jalan-jalan, di ladang, di rumah ada saja geletakan mayat. Gas pembunuh mengepul dari kawah Sinila dan sekitarnya lalu menuruni lereng bukit, merayap ke jalan setapak dan pemukiman penduduk. Hanya dalam hitungan menit saja, pada pagi-pagi buta ketika hendak ke kebun dan ke pasar, mereka dihembus gas beracun dan langsung tercekat. Jatuh, tewas seketika. Ada yang tak sempat terjaga karena kena desiran gas beracun ketika masih tidur.

Selain berita, muncullah puisi dan cerpen perihal Sinila dan Dieng di koran-koran.


Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

14 Juni 2006

Insinerasi Bukan Solusi

Metropolis terkotor. Inilah predikat baru Kota Bandung menyusul penganugerahan Adipura 2006. Julukan yang menohok itu langsung menghapus jejak Bandung sebagai der bloem der indes bergsteiden. Sirna semuanya lantaran sampah. Salah siapa? Tentu saja salah DPRD, pemkot, aparat dan masyarakat! Semuanya punya porsi salah masing-masing. Namun demikian, yang paling salah adalah aparatur pengelola daerah karena perangkat institusinya sebagai eksekutif tak mampu menuntaskan masalah sampah sejak kasus Leuwigajah. Selain terlihat lamban dan gamang, semua solusinya bersifat instan-reaktif.

Predikat resmi tersebut pun kontan menutup julukan klasiknya, Parijs van Java, dan menjadi raport merah pemerintah di bidang lingkungan. Penyematnya bukan lagi LSM seperti awal tahun 2006 lalu melainkan (wakil) presiden. Bersama Kota Bekasi, Kota Bandung telah memerahkan telinga aparatur Provinsi Jawa Barat sehingga badan, balai, dan lembaga ikut-ikutan kebakaran jenggot. Sebab, baru kali inilah dalam sejarahnya, Bandung resmi disebut kota sampah. Ada satu lagi yang wajib diwaspadai, yaitu potensinya sebagai metropolis terparah polusi udaranya yang disebabkan oleh sampah.

Insinerasi, Layakkah?
Setelah sampah, jangan pula air dan udara yang jadi masalah. Apa pasal? Insinerasi! Inilah bahaya laten kedua setelah sampah. Tak tampak sekarang tapi bisa muncul segera setelah insinerasi beroperasi. Kerjanya memang cepat memusnahkan sampah. Dalam tempo singkat sampah yang combustible (bisa terbakar) akan lenyap, berubah menjadi masa lain dan energi, mengikuti hukum kekekalan masa dan energi. Akibat panasnya yang mencapai 900 - 1.000 derajat Celcius, sisanya berupa abu dan sampah noncombustible. Berat abunya antara 25% - 40% dari berat awal sampah atau 10% - 15% dari volume awalnya. Kisaran reduksi volumenya 85% - 90% sehingga mudah diangkut ke disposal point, seperti TPA. Hanya saja, abu ini berpotensi mencemari air karena mengandung gegaram inorganik terlarut.

Reduksi volume memang menggoda, terlebih lagi ada iming-iming energi listrik. Tak salah memang, insinerasi menghasilkan uap (steam) pemutar turbin (steam turbin) dan generator (pembangkit) listrik. Tapi jangan lupa, insinerasi tidak siginifikan sebagai sumber energi jika sampahnya mayoritas sampah basah (sabah), tinggi kadar airnya, rendah kalorinya. Andaikanlah semua sampah Bandung (7.000 m3) diinsinerasi, berapa persenkah potensi listriknya terhadap konsumsi listrik orang Bandung sekarang? Signifikankah? Jika ditambah dengan sampah dari luar Bandung, betulkah mudah dilaksanakan dan lebih menguntungkan? Koran "PR" pernah menulis begini: Dengan dilakukannya pengolahan sampah menjadi energi listrik, selain akan menghilangkan sampah, masyarakat juga akan dapat memanfaatkan energi yang dihasilkannya. Selain sampah dari Kota Bandung, bukan tidak mungkin kita juga akan memerlukan sampah dari kabupaten lain untuk diolah, kata Wali Kota Bandung, Dada Rosada, usai menghadiri penandatanganan nota kesepahaman itu di Hotel Hyatt, Rabu (21/9) malam.

Mari berandai-andai, semua sampah dari luar Bandung diolah di insinerator itu. Bukankah cara ini memunculkan masalah baru? Lalu-lintas yang sudah macet akan makin semrawut oleh truk sampah. Warga Bandung makin stres oleh bau sampah yang diangkut truk dan oleh seliweran truk-truknya setiap hari selama 24 jam selama bertahun-tahun, sepanjang operasi insinerator. Pada saat yang sama, pemerintah harus menambah jumlah armada truknya supaya semua sampah di TPS bisa diangkut tepat waktu agar insineratornya kontinu beroperasi. Kalau telat, pasokan listriknya akan fluktuatif dan bisa menimbulkan masalah dengan PLN atau dengan pembeli energinya yang lain seperti industri. Tambahan truk itu pun menyedot uang rakyat. Belum lagi biaya operasi-rawatnya, termasuk gaji sopirnya yang berjumlah ratusan orang (termasuk sopir cadangan) sehingga menjadi masalah tersendiri dalam pengaturan jadwal dan ritnya. Ujung-ujungnya, warga Bandung lagi yang menanggung retribusi dan risikonya.

Ancam Lingkungan
Dari aspek lingkungan, insinerator sungguh merugikan, menjadi petaka baru. Berapa tonkah abu dan gas pencemar CO2, S2O, dll yang diemisikan ke langit Bandung per hari? Berapa per bulan, berapa dalam setahun? Sekarang saja polusi udaranya sudah parah. Misalkanlah efisiensi penyisihan partikulatnya sangat hebat, mencapai 99%; berarti ada 1% yang lolos menjadi pencemar. Jangan-jangan emisinya malah tak terkendali lantas menghasilkan abu-kabut. Parahnya lagi, Kota Bandung dikitari pegunungan sehingga anginnya tak bisa bebas mengalir, malah memerangkap abunya. Sakit saluran pernapasan akan menjadi langganan orang Bandung, terutama yang tinggal di dekat insinerator. Yang jauh pun bisa kena karena abunya ditiup angin, menyebar berputar-putar ke segala arah tapi tetap berada di cekungan Bandung. Pohon, gedung, rumah, kendaraan, kebun pun diselumiti abu, mirip debu akibat letusan Merapi. Debu Merapi hanya terjadi sewaktu-waktu, tapi abu insinerasi berlangsung seumur-umur selama masa operasinya dan menjadi benih bencana terbesar bagi lingkungan. Apabila ini betul terjadi lalu insineratornya ditutup setelah ratusan milyar uang dibenamkan di sana, maka yang rugi lagi-lagi orang Bandung sebagai pembayar pajak dan retribusi yang terus naik.

Disebut di atas, insinerator dapat menimbulkan masalah air. Selain polusi air oleh abunya yang dibuang ke TPA, insinerator pun memerlukan air untuk pendingin gas, scrubber dan pembilas atau pemadam kerak/arangnya, termasuk pencucian di sekitar instalasi. Sekarang saja PDAM Kota Bandung sudah kesulitan air, baru 53% yang dilayaninya. Apatah lagi nanti ketika harus berbagi dengan insinerator. Terjadi rebutan sumber air? Bagaimana sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, komersial dan pariwisata? Apabila ini terjadi, tiga cita-cita walikota untuk menyelesaikan masalah air, lingkungan dan sampah di Bandung takkan tercapai, tapi justru makin parah. Lingkungan air dan udara terus memburuk, sakit kulit dan saluran pernapasan merata diidap warga. Boleh jadi kadar timbal dan logam lainnya makin banyak dalam darah orang Bandung.

Tak hanya itu. Dalam sortasi umpan pun timbul masalah, terutama pada tahap pemilahan sampah noncombustible agar tak masuk ke insinerator yang dapat mengurangi kinerjanya. Berangkal, batu, bata, dan logam, meskipun ada magnetic separator atau ferrous metal recovery tetap saja timbul masalah. Apalagi ongkos investasinya sangat mahal dan biaya operasi-rawatnya melebihi operasi-rawat di negara maju yang sampahnya berkalori tinggi. Di negara itu pun insineratornya banyak yang gagal, baik karena masalah biaya maupun kendala teknis.

Jika demikian, apa solusinya? Selain sanitary landfill (sanfil), yang layak adalah pengomposan (composting) di tingkat personal, komunal, dan regional. Ada kata-kata mutiara: sesal kemudian tak berguna. ***

Gede H. Cahyana
ReadMore »

9 Juni 2006

SAMPAH: Salah Kaprah

SAMPAH: SALAH KAPRAH

Ada koran berbahasa Inggris terbitan Jakarta yang kerapkali menulis kata trash untuk merujuk pada sampah Bandung. Televisi juga demikian, menggunakan istilah yang sama. Meskipun istilah tersebut begitu populer di media massa, sebetulnya istilah itu kurang tepat. Kecuali itu, ada juga penyiar radio dan pendengarnya yang menyebut rubbish, misalnya begini: karena di mana-mana tampak gunungan sampah, Bandung kini dijuluki kota sampah atau rubbish city. Istilah ini pun kurang tepat. Arti leksikal kedua kata tersebut memang sampah, tapi penerapannya tidak demikian.

Hal serupa muncul pula pada acara Diskusi Terbuka memperingati Hari Lingkungan Sedunia 5 Juni 2006 di Universitas Kebangsaan yang dihadiri mahasiswa, ormas, warga, ketua RT dan RW. Ada yang bertanya tentang jenis sampah kering dan sampah berbahaya di rumah. Apa itu sampah kering? Apa itu sampah basah? Bagaimana caranya membuat kompos dan tepatkah dibuat di Bandung yang suhunya dingin? Ada banyak lagi pertanyaan lainnya. Dalam tulisan ini takkan dibahas semua pertanyaan itu. Di sini hanya diuraikan perihal sampah basah dan sampah kering dikaitkan dengan istilahnya dalam bahasa Inggris.

Refuse, Solid Waste?
Mengapa kata trash tidak tepat? Trash adalah istilah untuk sampah kantor berupa kertas, karton, kardus, koran, majalah, dll. Makanya tong sampah di kantor-kantor disebut trash can, sebuah tong khusus untuk sampah kertas. Namun tidak berarti rumah tangga tak menghasilkan sampah kertas, koran, karton, dll. Jenis ini juga banyak di rumah tangga, bahkan bercampur dengan sampah basah dan sampah berbahaya-beracun (B3). Di sinilah bahayanya, yaitu ketika kertas bekas bertinta dijadikan bungkus goreng pisang, comro, dll. Tinta termasuk B3 yang jika masuk ke perut dapat merugikan kesehatan.

Kalau demikian, apa istilah yang tepat untuk sampah? Refuse adalah jawabnya. Kata ini bersinonim dengan solid waste dan dibagi dua menjadi garbage dan rubbish. Hanya saja, menurut Frank Flintoff, penulis buku Management of Solid Wastes in Developing Countries yang diterbitkan oleh WHO, istilah solid waste sudah menjadi istilah resmi internasional. Selain solid waste, jenis limbah lainnya adalah limbah gas (gas waste), dan limbah cair (liquid waste). Jadi, kalau tak hendak menyebut solid waste lantaran terasa panjang, gunakanlah refuse, bukan trash. Jika tidak, istilah trash dapat disalahtafsirkan oleh orang asing yang dalam benaknya sudah terpatri istilah tertentu untuk sampah tertentu. Misalnya, mendengar kata trash maka yang terbersit di pikirannya adalah sampah kertas. Mendengar garbage, maka yang dipikirkannya adalah sampah mudah busuk seperti sisa sayur, buah, daging-ikan, dan biasa disebut sampah basah karena kadar airnya tinggi dibandingkan dengan rubbish.
Rubbish adalah semua sampah di luar kelompok sisa sayur, buah dan daging-ikan tersebut. Jenis ini masih bisa dibagi dua lagi menjadi combustible (mudah terbakar) dan noncombustible (sulit/tak terbakar). Trash adalah porsi combustible-nya rubbish sekaligus menjadi bagian terpenting dalam mengolah sampah secara insinerator. Selain sampahnya habis menjadi abu, panasnya (kalornya) juga tinggi sehingga bisa digunakan untuk memanaskan air atau memutar turbin pembangkit listrik. Itu sebabnya, sampah Bandung tak cocok diolah dengan insinerator karena 80%-nya berupa sampah basah. Jika tetap dipaksakan juga, energi pembakarnya lebih banyak digunakan untuk menguapkan kandungan airnya sehingga boros BBM. Yang paling cocok adalah pengomposan apalagi banyak ada sentra kebun sayur dan bunga di sekitar Bandung atau sebagai pelapis lahan tandus.

Bagian kedua dari rubbish adalah noncombustible. Ada juga yang menamainya rubble, semacam berangkal, puing, dan reruntuhan bangunan. Semua puing rumah akibat gempa di Yogya disebut rubbish atau rubble. Sampah ini tak bisa diapa-apakan lagi kecuali sebagai pengisi lahan cekung, pelapis jalan tanah atau sebagai pengisi campuran "bata" sekunder. Ada juga yang membagi noncombustible itu menjadi demolition, yakni sampah hancuran bangunan berupa puing akibat gempa tersebut dan construction waste, sampah sisa pembangunan seperti pecahan bata, beton, sisa plesteran, pecahan keramik, sisa pipa, sisa besi, dll.

Padanan Kata
Bagaimana istilahnya dalam bahasa Indonesia? Patut diakui, bahasa kita miskin akan istilah jenis-jenis sampah. (Tapi tak berarti bahasa Inggris tak punya kekurangan. Dalam bahasa Inggris pun ada kata rice untuk padi, gabah, beras, dan nasi, bukan?) Sejak dulu kata sampah mengacu pada semua jenis sampah, baik rumah tangga, pasar, toko, kantor, pabrik, klinik maupun rumah sakit. Sampah adalah benda padat yang dianggap tak berguna bagi seseorang tapi bisa berguna bagi orang lain. Koran bekas mungkin dianggap sampah oleh seseorang tapi menjadi sumber penghasilan bagi pemulung atau bahan baku bagi pabrik kertas daur ulang. Selanjutnya sampah dibagi menjadi tiga, yaitu sampah domestik, pabrik, dan B3. Yang tergolong B3 juga bisa berasal dari domestik selain dari pabrik, rumah sakit, klinik, dan reaktor nuklir.

Kelompok berikutnya adalah sampah basah, disingkat sabah, yaitu sampah yang tinggi kadar airnya walaupun tak selalu tampak basah. Daun kering pun akan membusuk setelah sekian hari dan tetap dimasukkan ke dalam kelompok sabah. Sampah kering, disingkat saker, adalah semua sampah yang miskin air atau tak mengandung air seperti kertas, karton, plastik, kain, dll. Saker ini pun dibagi dua lagi menjadi sampah mudah terbakar dan sulit terbakar, serupa dengan pembagian dalam istilah Inggris di atas. Mudah-mudahan pakar bahasa mau mencarikan padanan kata yang tepat untuk sampah kering yang mudah terbakar dan yang tak mudah terbakar tersebut. Serapan dari bahasa daerah pun boleh-boleh saja yang penting berterima.

Mengacu pada dua jenis sampah tersebut, sediakanlah minimal dua tong sampah di tempat-tempat umum. Satu tong ditulisi trash can, satu lagi garbage can. Atau, satu tong ditulisi organik dan yang lainnya nonorganik. Bisa juga ditempeli kata sabah untuk sampah basah, dan saker untuk sampah kering. Idealnya tentu saja tiga tong: satu tong lagi untuk sampah B3 seperti baterei bekas, botol karbol, botol obat, pembasmi nyamuk, disinfektan, deterjen, dll. Setelah kedua atau ketiga tong itu tersedia maka yang paling menentukan keberhasilan manajemen sampah adalah karakter warganya, yaitu kecerdasan emosinya (emotional quotient, EQ), apakah disiplin memasukkan sampah ke tongnya masing-masing. Justru inilah yang terberat, bukan pemahaman akan ilmu tentang jenis-jenis sampah, bukan IQ-nya, bukan kepintarannya, bukan deretan pangkat dan gelarnya. ***

Gede H. Cahyana
ReadMore »

7 Juni 2006

Bandung Tunggu Peniup Suling Hamerun?

Hamerun, sebuah kota di Jerman, adalah kota yang tenang. Hidup bertetangga: saling sapa, saling bantu. Suatu hari, entah dari mana datangnya, muncullah serbuan tikus di sudut-sudut kota. Perempuan ketakutan, anak-anak menjerit, dan lelaki terganggu oleh suara berisiknya. Makanan diobrak-abrik, gudang gandum diserbu dan ludes. Penduduk putus asa begitu pun walikotanya. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu. Sementara itu siang malam tikus berkeliaran dan makin banyak jumlahnya, beranak-pinak.

Dalam kekalutan itu hadirlah seorang berbaju aneh, warna-warni, meniup suling. Penduduk terkesima dan hanya menatapnya saja.
"Saya Ratbun," ujarnya memperkenalkan diri.
"Ada apa dan akan pergi ke mana Tuan?"
"Saya lihat di sini banyak tikus yang membuat Saudara-saudara menderita. Jika Saudara mau, saya dapat membasmi tikus-tikus itu. Tentu saja ada imbalannya."
"Tuan mau imbalan apa?"
"Uang emas seratus keping."

Semua kaget mendengar permintaan Ratbun. Mereka tak punya uang emas sebanyak itu. Mereka beralih memandang Pak Walikota. Walikota menggeleng tanda menolak. Warga langsung marah. Mereka ingin walikota membayar keinginan Ratbun, si Peniup Suling Ajaib. Karena didesak terus akhirnya walikota mengalah dan berjanji membayarnya.

Setelah sepakat, mulailah Ratbun meniup sulingnya. Bunyinya aneh. Belum pernah ada nada seperti itu. Sulit mengatakannya, sulit pula menirunya. Tak ada duanya yang mampu memainkan suling seperti itu. Yang paling aneh, semua tikus, yang besar yang kecil, mengikuti langkahnya. Dia menuju sungai terbesar di kota itu. Tiupan sulingnya makin lama makin keras, terdengar ke segenap sudut kota. Semua tikus tanpa tersisa mengikuti arah suara suling itu.

Sampai di tepi sungai, setelah berdiri sejenak, Si Peniup Suling lalu mengayunkan kaki kanannya, masuk ke sungai. Dia terus ke tengah hingga tubuhnya tenggelam sampai ke leher. Di sana dia berhenti sambil memainkan sulingnya diikuti oleh kecipak air akibat ceburan tikus. Ratusan ribu tikus masuk ke sungai itu lalu.... mati, tak tersisa satu pun. Tapi anehnya, tak ada bangkai tikus yang mengambang. Tenggelam pun tidak. Air sungai tak terkotori, tetap seperti sebelumnya. Bangkai tikus lenyap seperti ditelan dasar sungai. Lagi-lagi ajaib.

Amanlah lagi kota itu. Penduduk senang, walikota gembira.

Kisah ini sengaja ditutup sampai di sini, tak dilanjutkan lagi.

--**--

Membaca kejadian di kota Hamerun itu, perlukah walikota Bandung minta bantuan Ratbun, atau orang semacam Ratbun? Andaikata ada orang seperti Ratbun, dia tentu mampu mengerahkan sampah Bandung ke suatu tempat yang tak menimbulkan masalah bagi warganya. Lenyap tanpa bekas. Semahal apapun bayarannya tentu bisa ditanggung bersama.

Mungkinkah ada Ratbun di Bandung? Perlukah kita memanggil Ratbun agar kita bebas sampah? Di mana dia tinggal?

Ternyata Ratbun tinggal di Bandung. Tak jauh-jauh. Dia tinggal di dalam diri warganya. Ia adalah karakter warga Bandung. Ia bersemayam dalam kecerdasan emosional, EQ, Emotional Quotient orang Bandung. Ia tubuh maya kita. Ratbun adalah perilaku kita. Kita siapa? Kita adalah pribadi di setiap rumah tangga, RT-RW, lurah, camat, dan walikota plus kepala dinas dan jajarannya.

Jadi, ketika Ratbun "meniup sulingnya" di Bandung, lambat-laun sampah Bandung akan selesai dengan sendirinya, tanpa disadari. Selesai diam-diam lantaran Ratbun menjelma dalam EQ warganya.

Tuan Ratbun adalah EQ orang Bandung, siapapun dia, mulai dari Tarjo, Kinem, Tole, Asep, Neneng, Natadiningrat, Joyoprawiro, Mangkukotapraja, dan seterusnya.*

Gede H. Cahyana.
ReadMore »

2 Juni 2006

Bandung: The Garbage God

Bandung, The Garbage God

Sampah Bandung tak mungkin diangkut dalam tempo 21 hari sejak ultimatum dirilis oleh Menneg Lingkungan Hidup pada 23 Mei lalu. Perlu 1.860 armada truk dan harus bekerja siang malam. Selama enam hari, sejak 26 sampai 31 Mei, sampah yang terangkut baru 5.570 m3 atau 557 truk. Padahal jumlah total sampah 307.500 m3. Demikian tulis PR (2/6). Apalagi pada saat yang sama ada penambahan sampah 7.000 m3 per hari sehingga terjadi akumulasi 7.000 (6 hari)- 5.570 = 36.430 m3 per enam hari. Akumulasi se-Bandung ini jauh di atas volume yang diangkut selama enam hari tersebut.

Adakah solusinya? Tanggap jangka pendek dapat dilakukan dengan mengerahkan PNS, TNI-Polri, Satpol PP, dll untuk mengomposkan, membakar atau mengubur sampah di kantor masing-masing dan sekitarnya. Tanggap jangka panjang ditempuh dengan dua konsep. Yang pertama adalah konsep 7R, konsep kelola sampah mulai dari sumber, TPS, dan TPA. Yang kedua adalah konsep olah sampah secara estetis yang ecofriendly seperti yang diterapkan di Odessa, Texas Barat.

Konsep 7R
Masalah sampah sebetulnya bisa diselesaikan dengan ‘tangan bersih’. Ini berkaitan dengan ilmu dan perilaku masyarakat. Patut diakui, tak semua orang paham bahwa sampah sebaiknya sesedikit mungkin dibuang ke tong sampah. Yang organik sebaiknya ditanam, yang anorganik jika tak bisa dimanfaatkan lagi silakan dibakar dan yang masih bernilai guna bisa dijual atau diberikan kepada pemulung.

Konsep tersebut terangkum dalam konsep 7R, yaitu reduce, reuse, recycle, recovery, replace, relocation, responsible. Reduce, mereduksi volume sampah, yaitu memakai barang yang efisien sehingga tak banyak yang terbuang. Sayur misalnya, bisa disiapkan dalam ujud siap olah yang sedikit menimbulkan sampah. Reuse, gunakan lagi sampah, misalnya karton digunakan untuk bahan baku mainan anak-anak TK-SD. Atau, bisa juga digunakan untuk hiasan. Intinya adalah kreativitas, sekecil apapun itu, yang penting tidak masuk ke tong sampah.

Selanjutnya adalah Recycle, daur ulang sampah menjadi barang yang bermanfaat. Sampah organik dijadikan kompos, yang anorganik seperti kertas diolah menjadi bubur kertas lalu dijadikan kertas baru lagi dengan mutu yang lebih rendah, tapi tetap bermanfaat dengan harga murah. Replace, gantilah bahan baku atau barang yang berpotensi terbuang sekali pakai dengan yang bisa digunakan berkali-kali. Misalnya, wadah belanjaan berupa tas sebagai ganti plastik kresek. Recovery, ambil yang masih berguna. Benda-benda berupa potongan besi, kabel, paku, baterei atau accu, bisa dikumpulkan lalu dijual ke tukang rongsok dan akan diolah atau dijual lagi ke pabriknya.

Relocation, tempat sampah yang tepat desain dan letaknya sehingga mudah diambil petugas. Sortasi sampah oleh pemilik dan pemulung pun bisa dilakukan dengan mudah. Menurut Perda K3 Kota Bandung, tempat sampah harus diletakkan di pekarangan rumah, bukan di luar pagar. Hanya saja, tetap harus mudah diambil petugas. Penampungan di tingkat RW dan kelurahan pun yaitu di TPS juga harus nyaman, estetis, bukan di sembarang lahan kosong.

Responsible, bertanggung jawab, baik rumah tangga, petugas kebersihan, dan pegawai-pejabat pemerintah daerah. Yang paling tinggi tentu saja PD Kebersihan atau Dinas Kebersihan dan walikota atau bupatinya. Lalu disusul oleh semua dinas, badan, dan lembaga pemerintah lainnya. Rasa tanggung jawab inilah yang belum tampak, baik di tingkat rumah tangga maupun pemerintah daerah dan terkesan bekerja serampangan. Bekerja keras tapi tak cerdas sehingga terus berlarut-larut lantaran solusinya bersifat instan reaktif, bukan kreatif.

Agar mampu melaksanakan atau minimal memasyarakatkan konsep 7R tersebut, pemerintah hendaklah mendidik pegawainya dan juga masyarakat umum tentang sampah. Seorang sarjana, magister, atau doktor sekalipun mungkin saja belum paham tentang cara menangani sampah. Yang juga penting atau malah sangat penting adalah mengubah slogan bahwa sampah musuh orang sehat.Gantilah dengan slogan: sampah adalah berkah, seperti kisah di bawah ini.

Odessa, Texas Barat
Adalah Geoffrey Stanford yang punya ide brilian saat itu. Sebagai periset dan dosen di Universitas Texas, Amerika Serikat dia terbiasa berpikir analitis. Melihat tambang minyak di sekujur Odessa yang bisa habis suatu saat kelak, dia menduga daerahnya akan menjadi kota hantu, the ghost town, karena tak berpotensi lain selain minyak. Odessa memang dibangun karena deposit minyaknya yang melimpah. Daerahnya kaya minyak tapi tandus, tak ada industri dan tak bisa dijadikan peternakan besar (ranching) apalagi pertanian, lalu dikotori lagi oleh limbah minyak. The town has no other industry, and the surrounding land is too poor to support large-scale cattle ranching, much less farming. Demikian tulis majalah Time edisi 2 Juli 1973.

Mengalirlah idenya. Odessa, kota kecil berpenduduk 79.000 orang pada waktu itu, menghasilkan banyak sampah dan diyakininya bisa menyuburkan lahan gersang Odessa. Dibantu rekannya, seorang raja minyak Texas, dia berhasil mengerahkan sampah kota untuk dijadikan penutup tanah tandus seluas 320 hektar di luar kota. Selain sampah, dikerahkan juga mobil tangki untuk membawa air limbah yang kemudian disebarkan di lahan itu. Akibatnya terjadilah pengomposan dengan formula bagus. Rasio karbon terhadap nitrogennya (C/N ratio) yang baik berkisar antara 25 sampai 35. Menjadi hijaulah gurun itu oleh tanaman. Inilah yang lantas menggerakkan majalah Time untuk menulis artikel di kolom environment-nya dengan judul "The Garbege God".

Tidakkah Bandung ingin meniru pengalaman Odessa? Apalagi tanggal 5 Juni 2006 ini diperingati sebagai Hari Lingkungan Sedunia (World Environment Day) dengan tema Desert and Desertification. Gurun dan Penggurunan. Lahan kering dan tandus di Bumi ini mencapai 40%, termasuk di Indonesia. Bagaimana di Bandung dan Jawa Barat Umumnya? Prinsip sambil menyelam minum air layak diterapkan. Sambil menyelesaikan masalah sampah, juga menyuburkan lahan. Pemerintah daerah bisa mencari tanah tandus, bekerja sama dengan Dep/Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dll untuk memperoleh data lokasi lahan tandus itu. Lalu kirimlah sampah ke sana dengan maksud bukan asal buang alias open dumping melainkan meniru pola Odessa. Ini jauh lebih baik daripada pusing-bingung mencari TPA berpola open dumping karena warga pasti menolaknya. Sebab, tak ada harapan yang didapat warga selain bau, lalat, nyamuk, tikus, dan penyakit.

Terlebih lagi ada satu hal yang menggembirakan, yaitu sampah Bandung kaya zat organik, rerata mencapai 80%. Agar nilai unsur haranya makin tinggi bisa ditambahi kotoran hewan, misalnya limbah ternak domba, sapi, kambing, dll, atau ditaburi tinja dari sedotan tangki septik milik PDAK (Perusahaan Daerah Air Kotor) Bandung. "Ramuan" tersebut dapat memperkaya unsur penyubur, baik yang tergolong unsur primer, sekunder maupun mikroelemen (tracemineral). Sekian waktu kemudian, tanah menjadi gembur sehingga sirkulasi udaranya terjaga baik, memudahkan akar masuk ke tanah, membantu konservasi air, mencegah erosi, longsor, dan banjir. Tak ada kata telat jika mau mencoba, bukan?***

Gede H. Cahyana
ReadMore »