• L3
  • Email :
  • Search :

31 Maret 2007

Training Menulis

Tibalah masa semai. Semai menulis. Semoga nanti mampu tumbuh dan berbuah, buah yang baik dan bermanfaat bagi penikmatnya. "Sawah" yang kini diairi telah siap ditanami lagi, ditanami varietas dari berbagai kualitas. Apa pun itu, yang pasti semuanya berpeluang tumbuh subur asalkan "sang varietas" berjuang untuk bertahan dan terus tumbuh. Tentu saja "sang varietas", pada awalnya, perlu dipandu agar belajar manapaki jalan terbentang. Setelah itu bebaslah ia tumbuh dan menghujamkan akarnya ke tanah, menjadi kuat dan produktif. Sekali jadi, selamanya berarti; punya arti dan kaya makna.

Kali ini, masa semai diarahkan kepada rekan-rekan yang ingin menyemaikan dirinya dalam komunitas mikro di bidang baca-tulis, reading-writing microsociety, sebuah brand yang diusung Writing Quadrant Institute. Menjadi penulis, itulah kata orang. Menulis apa saja, tentu saja yang positif. Misalnya, ingin menulis artikel ilmiah populer atau opini di media massa, atau membuat tulisan "unek-unek" di internet (blog), atau membuat tulisan wisata, perjalanan, dan bahkan menulis buku.

Jadi..., rekan-rekan yang tinggal di cekungan Bandung alias Bandung Raya diundang untuk mengikuti Training Menulis yang diadakan oleh Writing Quadrant Institute Universitas Kebangsaan Bandung. Training dilaksanakan pada Sabtu, 14 April 2007 pk. 13.00-17.00 wib di kampus UK, di Jl. Ters. Halimun No. 37 Talagabodas Bandung. Biayanya Rp 20.000 untuk mahasiswa dan Rp 30.000 untuk umum. Pendaftaran bisa lewat Hp dan pembayarannya boleh pada hari H di kampus UK.

“Petandur” masa semai ini ialah Gede H. Cahyana, owner "ladang-tulis" http://gedehace.blogspot.com yang juga penulis lepas di koran, tabloid, majalah, jurnal dan buletin. Belajar menulis, terutama puisi, cerpen dan menulis buku harian sejak di SD, dan mulai rutin menulis sejak 1993, segera setelah menjadi dosen di Univ. Kebangsaan Bandung lantaran wajib menulis diktat dan tulisan ilmiah lainnya. Kini, selain membimbing skripsi, juga memanas-manasi mahasiswanya untuk menulis dan menulis.... terus.

Pemateri selanjutnya adalah Asep Syamsul M. Romli, S.Ip., Pemimpin Redaksi Tabloid Alhikmah Bandung, juga pernah menjadi Redaktur Opini dan Luar Negeri Mingguan Hikmah (Grup Pikiran Rakyat, 1993 - 2000), mantan Redaktur Majalah Sabili Jakarta, Guest News Editor Radio Antassalam FM Bandung, dan mengajar di Univ. Al Ghifari Bandung. Karya tulis berupa buku: Isu-Isu Dunia Islam, Jurnalistik Praktis untuk Pemula, dan Demonologi Islam: Upaya Barat Membasmi Kekuatan Islam. Kini memimpin Balai Jurnalistik ICMI Orwil Jawa Barat.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

Mesin Tik dan Laptop

Kali pertama saya mengenal mesin tik ketika kelas tiga SD. Waktu itu saya sering main ke rumah teman dan di sana ada mesin tik. Karena ingin tahu, mulailah saya tak-tik tak-tik. Bapaknya melihat apa yang saya lakukan dan beliau memberikan selembar kertas putih tipis. Setelah dipasangkan di bantalan tik, saya lantas disuruh mengetik. Satu demi satu tuts mesin tik saya tekan dan mulai mengeja huruf per huruf. Yang saya tulis adalah nama lengkap saya.

Ketika SMP saya baru tahu tentang kursus mengetik. Yang ikut kursus dijamin dapat mengetik dengan sepuluh jari dan tanpa melihat papan tik (keyboard). Tetapi waktu itu saya berkesimpulan, orang yang sekolah mengetik adalah yang ingin masuk ke jurusan IPS, bukan IPA. Itulah yang saya lihat pada saudara saya yang sekolah di SMA jurusan IPS dan SMEA. Yang jurusan IPS pasti memperoleh pelajaran mengetik. Sedangkan saya berkeinginan masuk ke jurusan IPA. Oleh sebab itu, saya tak hendak belajar mengetik. Terlebih lagi waktu itu ada kesan, yang perlu mengetik adalah yang ingin menjadi sekretaris dan bekerja di perdagangan.

Betullah adanya. Ketika SMA saya tidak belajar mengetik. Nyaris sepuluh tahun saya tidak mengetik. Puisi dan cerpen yang saya tulis hanyalah ditulis tangan. Kemudian tibalah periode perguruan tinggi. Pada semester satu saya kelabakan. Rupanya pelajaran mengetik sangat dibutuhkan ketika menjadi mahasiswa. Praktikum yang wajib diikuti begitu banyak, belum lagi tugas-tugas dari dosen. Praktikum fisika dan kimia misalnya, selalu saja kami disuruh membuat risalah. Itu semua harus ditik agar nilainya bagus, minimal 70. Kalau ditulis tangan, apalagi bak cakar ayam, jangan berharap nilainya lebih dari 60. Itulah “kekejaman” mentor atau asisten dosen praktikum pada masa itu.

Apa akibatnya? Saya berupaya kasak-kusuk meminjam mesin tik ke teman. Tak banyak yang punya mesin tik. Di Lebak Siliwangi, tempat kos saya, hanya dua orang yang punya mesin tik. Karena banyak yang akan mengetik maka setelah pemiliknya selesai mengetik barulah saya dan yang lainnya mengetik. Itu pun harus bergantian. Tapi ada untungnya, yaitu saling bantu dalam pengetikan kalau yang lain harus kuliah dulu atau ada keperluan lain yang mendesak. Kawan-kawan yang punya cukup uang biasanya pergi ke Jl. Dipati Ukur dekat Universitas Padjadjaran dan minta ditikkan di sana. Bagi yang pas-pasan terpaksa harus begadang menunggu giliran untuk memperoleh kesempatan mengetik.

Adakah komputer pada masa itu? Rental komputer tidak banyak, untuk tidak menyebut tidak ada. Setahu saya, di asrama ITB Bumi Ganesha di Cisitu ada rental komputer. Waktu itu, medio 1980-an adalah era komputer desktop dengan kecepatan rendah kalau dibandingkan dengan desktop sekarang, apalagi jika dibandingkan dengan laptop rilis terakhir. Ketika save pun lama sekali. Kalau tak cepat-cepat di-save khawatir listriknya mati lalu hilanglah semua hasil kerja dan harus ditik ulang. Ini berbeda dengan laptop yang berisi baterei sehingga ketika listrik mati pun data masih bisa diselamatkan. Memakai laptop memang membuat tenang, nyaman dan memudahkan bekerja.

Menggunakan desktop pun sangat menyamankan. Salah satu keuntungannya, jari kita tidak perlu menekan keras-keras tutsnya. Ini berbeda dengan mesin tik yang harus ditekan kuat-kuat dan ujung jari bisa kapalan (menebal dan keras). Tetapi untungnya, orang yang terbiasa mengetik dengan mesin tik akan lebih ringan ketika mengetik dengan komputer. Apalagi kalau terbiasa sepuluh jari ketika mengetik dengan mesin tik, tentu akan kian mudah ketika menggunakan komputer. Hanya saja, saya tak bisa sepuluh jari. Saya terbiasa "14" jari alias jari telunjuk kanan dan kiri saja.

Saya kali pertama memakai komputer desktop pada awal kuliah di ITB lantaran ada praktikum komputer. Waktu itu yang diajarkan adalah cara mengetik dengan komputer dan berbagai fasilitas yang membuat tampilan tulisan menjadi lebih indah daripada hasil mesin tik. Yang dipelajari ialah Wordstar. Inilah program pengolah kata yang wajib diikuti mahasiswa tahun pertama di ITB ketika itu. Waktu itu terasa komputer begitu luar biasa. Program pengolah data seperti Lotus dan dBase pun diberikan. Tetapi saya hanya sebatas membaca dan praktik di lab saja. Di kos-kosan tidak ada satu teman pun yang punya komputer. Sesekali kami datang ke rental dan itu pun kalau uang masih ada dan diperkirakan tidak mengganggu uang makan sebagai anggaran rutin harian.

Satu catatan, komputer itu saya gunakan hanya untuk menulis dan itu pun hanya dengan "14" jari. Tentu saja kebiasaan ini akhirnya berubah seiring dengan latihan menulis setiap hari. Sekarang saya sudah menggunakan enam jari, kanan dan kiri dan kadang-kadang tujuh jari. Lumayanlah daripada “14” jari seperti masa lalu. Hanya saja, saya tidak bisa mengetik tanpa melihat keyboard. Saya selalu mengetik dengan melihat papan tuts. Yang dihafal posisinya hanyalah huruf A, S, D, F, spacebar, enter, koma, dan titik. Lain dari itu sering salah kalau tidak memandang papan tuts.

Bagaimana dengan laptop. Seorang teman yang menjadi penulis dan public speaker sering berkata bahwa dia sangat bergantung pada laptop. Tetapi jujur dikatakannya, laptopnya itu hanya digunakan untuk mengetik artikel dan rencana presentasi saja. Jadi yang digunakannya hanya pengolah kata (MS Word) dan PowerPoint. Dia tak butuh spesifikasi laptop yang canggih dan mahal. Asal bisa mengetik saja dia sudah senang. Ada juga kawan lainnya yang bergerak di bidang penulisan fiksi. Komputernya pun masih desktop, bukan laptop. Jadi, kalau ingin mengarang dia harus ke rumah. Ketika idenya menjalar-jalar itulah dia menulis. Kalau sedang di luar rumah dia menuliskan idenya di buku yang dibawanya.

Bagimana dengan anggota DPR? Tak semua angota DPR terbiasa menulis. Kebanyakan mereka tak bisa menulis. Mereka hanya bisa bicara, bahkan asal bicara. Segelintir saja yang terbiasa menulis di koran-koran dan majalah. Fasilitas yang digunakannya pun hanya pengolah kata, semacam MS Word. Mereka tak butuh program lainnya. Artinya, tanpa laptop yang canggih pun mereka tetap bisa menulis. Lalu yang tak bisa menulis dan hanya berslogan datang, duduk, dengar, diam dan duit, untuk apa memiliki laptop mahal? Dirinya saja tak pernah menulis dan tak pernah memunculkan ide-idenya di koran agar dapat dibaca oleh pemilihnya. Berapa banyak anggota dewan yang mampu menulis? Padahal laptop itu digunakan untuk menulis, bukan?

Untuk apa laptop itu? Untuk anaknya? Mudah-mudahan tidak demikian. Sebab, anggaran itu seharusnya bisa untuk keperluan sekolah anak yang belum sekolah. Anak-anak seumur anak SD banyak yang ngamen karena tak punya uang untuk biaya sekolah. Membantu mereka tentu lebih aspiratif ketimbang memberikan laptop itu kepada anaknya. Dengan gajinya saja anggota DPR pasti bisa membeli tiga laptop tiap bulan. Lalu untuk apa laptop itu? Untuk gayakah? Demi disebut intelekkah? Lifestyle-kah? Cobalah rasa intelektualitas itu ditunjukkan lewat hasil kerja optimal, minimal mampu menulis sesuatu di bidangnya dan dibaca oleh konstituennya. Bukankah ini lebih baik?

Yang pasti, heboh hibah laptop tak hanya di DPR, tetapi sudah banyak terjadi di berbagai DPRD, tingkat satu dan dua. Yang pasti juga, laptop itu akan kadaluwarsa setelah jabatan mereka sebagai anggota dewan selesai. Anggota dewan berikutnya pasti ingin dibelikan laptop yang baru lagi, tak mau yang bekas. Lantas, apakah esensi pemberian laptop itu?*

Gede H. Cahyana
ReadMore »

23 Maret 2007

Coping with Water Scarcity

Menanggulangi Kelangkaan Air. Inilah tema peringatan Hari Air Sedunia pada 22 Maret 2007. Apakah Bumi sedang kesulitan air? Bumi memang sedang krisis air dan disinyalir akan memantik Perang Dunia III. Hilangkah uap air yang lepas ke angkasa? Tidak! Dalam daur air (siklus hidrologi), jumlah airnya tetap tetapi wujudnya berubah: ada yang cair, padat (es) dan gas (uap). Planet ini malah disebut “planet air” karena 70% luasnya diliputi air. Sayangnya, hanya 0,6191% berupa air tawar yang tersebar di sungai, danau, waduk, rawa, dan air tanah. Yang berwujud es, salju, gletser 2,14% dan sisanya 97,308% berupa laut. Oleh sebab itu, planet biru ini bisa juga disebut Waterworld, seperti judul film yang dilakoni Kevin Kostner.

Film yang berkisah tantang “perang air” itu sebetulnya sudah terjadi dalam skala lokal-regional. Lihatlah konflik yang terjadi di DAS Mekong, sebuah sungai yang berhulu di Cina dan melewati sejumlah negara di Asia Tenggara. Sungai Nil di Afrika dan Sungai Jordan juga memicu konflik serupa. Konflik Israel dan Palestina pun berkaitan dengan air selain problem “tanah yang dijanjikan”. Singapura pun berang atas Malaysia lantaran pasokan air bakunya yang dari Johor diubah menjadi air bersih dengan harga lebih mahal. Rio Grande di Mexico pun nyaris serupa itu. Akar masalahnya bersumber pada fenomena hulu-hilir yang berkaitan dengan persepsi, kebijakan, dan manajemen air. Masyarakat hulu merasa tak dipedulikan oleh hilir dan yang di hilir merasa dikotori oleh penghuni hulu.

Dalam skala regional Jawa, DAS (Bengawan) Solo yang dimanfaatkan oleh 14 kabupaten di Jawa Tengah dan Timur juga kritis, mulai dari waduk Gajah Mungkur di Wonogiri. Malah waduk yang awalnya dijadikan daerah tujuan wisata ini terus mendangkal dan tak lama lagi bakal “mati” lantaran tinggi erosinya, balak liar, dan buruknya koordinasi antarinstansi. Manfaatnya memang masih dirasakan terutama oleh orang yang tinggal di bawah Gunung Gandul, dekat pasar kota Wonogiri. Daerah ini menjadi lebih sejuk karena uap airnya mengalir dari waduk itu. Waduk lainnya seperti Sempor, Wadas Lintang, dan Mrica juga berkurang volumenya. Hal serupa juga terjadi di DAS Citarum yang sebetulnya merupakan tanggung jawab pemkab/pemkot Sumedang, Bandung, Cimahi, Cianjur, Karawang, Purwakarta, dan bahkan Jakarta. Cobalah semua pemkab-kota itu berdiskusi agar ketegangan di antara mereka bisa diminimalkan.

Bagaimana di tatar Bandung? Titik polemiknya berada di kawasan Bandung Utara. Sudah terbukti, sebagai penangkap-resap (tangsap) air hujan, 70% kawasannya rusak padahal potensi airnya 60% dari sumber pasokan air tanah Kota Bandung. Pada musim kemarau, potensi airnya yang bisa dimanfaatkan hanya 10% per tahun padahal kebutuhannya 182,5 juta m3. Menurut prediksi National Geographic, tahun 2015 Bandung akan berpenduduk 5,3 juta jiwa dengan kebutuhan air 386,9 juta m3/tahun (Mubiar, orasi ilmiah di Univ. Kebangsaan). Itu semua disebabkan oleh pembangunan rumah dan villa yang dimiliki oleh orang-orang berduit. Kekerasan atas lingkungan sudah terbukti pada kepunahan Situ Garunggang, Cibitung, Aksan, Saeur, Gunting, dan Aras. Yang terakhir, yang bakal musnah ialah Situ Lembang.

Simpulnya, Bandung bukan lagi di ambang krisis air, tetapi sudah krisis air. Padahal air adalah zat esensial bagi perkembangan sosial, ekonomi, dan keberlangsungan ekosistem. Terlebih lagi populasi Bandung terus meningkat sehingga meningkat pula kebutuhan airnya lantas menekan kemampuan sumber daya airnya. Aneka konflik akhirnya muncul di antara dua orang atau kelompok, baik vertikal maupun horisontal. Dua kecamatan bisa bentrok gara-gara mata air. Dua kabupaten-kota, juga dua provinsi yang berdampingan potensial memanas gara-gara sumber air, baik air tanah (groundwater) maupun sungai dan waduk (surface water). Jebol-menjebol saluran air lumrah terjadi. Bahkan pipa PDAM pun dijebol oleh warga yang ingin memperoleh air.

Kelangkaan (scarcity) tak hanya secara kuantitas, tetapi juga kualitas lantaran polutan domestik dan pabrik. Air limbah domestik (tinja) di Jakarta malah menyebabkan 68% air tanahnya tercemari bakteri E. coli. Begitu pun banyak pabrik tidak memiliki IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah). Yang ber-IPAL pun tidak semuanya mengoperasikan IPAL-nya secara optimal karena persoalan biaya. Tak murah memang mengoperasikan dan merawat IPAL, apalagi airnya dibuang. “Tampak” di benak pemilik pabrik bahwa IPAL hanyalah pemborosan. Konsep the end of pipe dianggap merugikan dan menambah mahal harga barang sehingga tidak kompetitif. Padahal hakikatnya tidak demikian. IPAL menguntungkan dalam jangka panjang, terkait dengan image dan sertifikasinya apalagi ditambah dengan aplikasi clean technology.

Tetapi itulah, jarak antara das sein dan das sollen terlalu jauh. Air terus tercemar dari hari ke hari. Selain akibat ulah manusia, juga akibat kondisi iklim global. Namun perubahan iklim ini pun sebetulnya berhulu pada perilaku dan aktivitas manusia. Aktivitas yang paling besar adalah industri dan transportasi. Secara langsung dan tak langsung kedua kegiatan itu mengotori sumber air dan mereduksi potensinya. Akibatnya, kata WHO minimal 2,5 juta orang meninggal per tahun akibat krisis air bersih. Di Indonesia, 283 orang meninggal akibat diare per 100.000 orang per tahun. Kalau penduduk Indonesia 234 juta orang, berapa yang meninggal dalam setahun?

Data lain pun memiriskan hati. Menurut Bank Dunia, 2 miliar orang tak punya akses air bersih dan 3,1 miliar orang tak punya fasilitas sanitasi sehat serta 900 juta orang di 100 negara menghadapi masalah desertifikasi (penggurunan hutan). Ini berdampak pada air bersih dan sanitasi untuk mencapai MDGs, Millenium Development Goals 2015. Menurut rilis terakhir dari UN-Water, bakal ada 1,8 milyar manusia pada 2025 yang sangat sulit air dan dua pertiga penduduk dunia mengalami tekanan kekurangan air. Padahal kebutuhan tubuh akan air tak terlalu banyak. Setiap orang maksimum minum hanya 2,5 liter per hari. Kebutuhan domestik tidaklah besar. Yang banyak adalah kebutuhan pertanian, mencapai 70% dan bahkan di sejumlah negara berkembang mencapai 95%. Nyatalah betapa langkanya air justru di planet air ini.

Vietnam-Kamboja
Air bersih terus menguras perhatian pemerintah di berbagai negara. Upaya banyak dilakukan untuk menyediakan air layak minum. Dasawarsa air bersih tahap dua, yaitu periode 2005 – 2015, telah dirilis dan setiap negara diminta mengurangi sampai 50% penduduk miskinnya yang sulit air. Tetapi kekhawatiran tetap muncul karena diduga 500 juta orang di Afrika dan Asia akan kesulitan dalam sanitasi, termasuk di Indonesia.

Lantas bagaimana caranya agar tema HAS kali ini membumi di Indonesia? Satu hal yang menguntungkan kita (kalau bisa disebut menguntungkan dalam ranah berpikir positif) adalah “company” PDAM. Betapa tidak, PDAM tetap saja “diakui” sebagai perusahaan yang melayani air minum di kota-kota besar. Kondisinya beragam, ada yang sehat, ada yang sakit, ada juga yang mati suri. Dari 318 PDAM yang menjadi anggota Perpamsi, sekitar 10% saja yang sehat dalam arti sudah memperoleh laba dan mampu memberikan gaji ke-13 kepada karyawannya.
Namun demikian, tak semua PDAM mampu meluaskan layanannya. Jika demikian, mampukah pemerintah melawan water scarcity ini? Kalau hanya bertumpu pada PDAM, sampai setengah abad ke depan pun belum tentu mampu. Sebab, populasi tumbuh secara eksponensial sedangkan jaringan distribusi tumbuhnya linier aritmetika. Opsi solusinya ialah pelibatan masyarakat dengan bimbingan dari Dinas Kesehatan, Lingkungan, atau Pekerjaan Umum dengan syarat personalnya profesional. Perlu diingatkan, pemerintah tak perlu terlalu berorientasi pada layanan konvensional dalam mendistribusikan airnya. Cara-cara tradisional pun masih layak ditempuh. Yang penting air olahannya memenuhi syarat baku mutu air minum.

Pemerintah dapat melibatkan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi tepat guna. Dengan teknologi inilah emdijis (MDGs) memperoleh dukungan komunitas. Berbagai-bagai teknologi air minum telah banyak dibuat, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Hal seperti ini ditempuh oleh negara-negara di Asia Tenggara. Misalnya, cakupan air PAM pada medio 1990-an di ibukota Kamboja, Phnom Penh hanya 15%. Hal demikian terjadi karena hancur akibat perang sehingga tak sempat membangun. Sisanya 85% memperoleh air dari pedagang air keliling dengan harga sangat mahal, mencapai 30 kali harga air ledeng di Phnom Penh. Akhirnya, setelah dievaluasi dan diadakan perluasan dengan tarif relatif murah, maka yang terjadi sebaliknya, yaitu 85% disuplai air bersih dari ledeng dan teknologi lainnya terus dikembangkan.

Juga bisa belajar dari negara bekas perang lainnya, yaitu Vietnam. Untuk memenuhi kebutuhan air skala kecil di pedesaan justru digunakan teknologi tepat guna. Mereka tidak silau menerapkan teknologi canggih yang sarat modal dan sulit dalam operasi rawatnya. Secara individual, masyarakat di sana memanfaatkan air sungai yang keruh lalu ditampung di gentong tembikar yang sudah diberi media filter. Filtratnya lantas dibubuhi kaporit sehingga siap digunakan untuk mencuci beras, sayur, dan diminum.

Bagaimana di Bandung? Sudah banyak filter yang mampu mengolah air seperti di Vietnam. Salah satunya adalah Filter ala H. Ali Dinar (FAHAD). Filter temuan H. Ali Dinar ini, seorang warga Cipamokolan Bandung, dapat menanggulangi kelangkaan air bersih di berbagai daerah, dalam berbagai kondisi. Air gambut di Kalimantan dan Sumatera pun bisa diolahnya. Air banjir Jakarta pun sudah pula diolah menjadi air bersih. Tak hanya ketika banjir atau bencana alam lainnya, ketika normal pun FAHAD bisa dimanfaatkan di permukiman kumuh untuk keperluan MCK. Juga bisa diterapkan di sepanjang bantaran sungai yang justru sering krisis air.

Menilik banyak sekali orang Indonesia yang kesulitan air bersih, maka untuk memenuhi tema HAS tahun ini yaitu, Menanggulangi Kelangkaan Air, selayaknyalah pemerintah, dalam hal ini PDAM, Dinas Kesehatan, Lingkungan, dan Pekerjaan Umum membantu perluasan distribusi air bersih, baik dengan sistem pemipaan maupun tradisional seperti filter air berbagai jenis itu. Piculah masyarakat untuk memanfaatkan aneka ragam filter yang murah dan mudah dalam perawatannya.

Selamat Hari Air Sedunia. Mari tanggulangi kelangkaan air bersama-sama. Jika demikian, perlukah waduk Jatigede, perlukah waduk Jadebotabek? Bagaimana dengan Hari Antidam pada 14 Maret lalu? Cobalah bertanya pada gemericik air di selokan. ***

Gede H. Cahyana
ReadMore »

Seminar Hari Air Dunia

Hari Air Dunia

Dalam rangkaian menyambut Hari Air Dunia (World Water Day) 22 Maret 2007, jurusan Teknik Lingkungan mengadakan Seminar Kupas Tuntas Masalah Air. “Hajatan” itu digelar pada Senin, 12 Maret 2007 di Aula Universitas Kebangsaan dari pk. 09.00 – 12.00 wib.


Tampil dalam acara tersebut Gede H. Cahyana, selaku ketua Jurusan Teknik Lingkungan Univ. Kebangsaan  dan penemu filter air, H. Ali Dinar, yang dinamai Filter ala H. Ali Dinar (FAHAD).

Acara itu pun sudah ditayangkan di TVRI Bandung dalam acara Berita Regional segmen Dialektika selama 10 menit pada Kamis, 15 Maret 2007.

Selamat Hari Air Sedunia, Coping with Water Scarcity.
ReadMore »

Sungai Gangga.....

Giri mandala gamini,

mengalir di gunung...

Sindhu gamini,

mengalir ke laut.

Savitri,

beragam stimulasi

Bhagyavati,

bahagia nan abadi.

(diadaptasi dari 108 nama indah Gangga)

Gede H. Cahyana
ReadMore »

Piramid PDAM

Patut diakui, PDAM-lah satu-satunya perusahaan air yang menyediakan air minum komunal di Indonesia, terlepas dari adanya privatisasi di sejumlah PDAM. PDAM memonopoli air di Indonesia. Inilah kenyataannya. Logikanya, pemonopoli pasti untung besar. Namun sayang, faktanya ternyata tidak demikian.

Kinerja PDAM banyak yang belum optimal. Tak sampai 10% yang sehat. Di antara sekian banyak sebabnya, satu di antaranya adalah tunggakan pelanggan. Di PDAM Kota Bandung saja tunggakan itu mencapai Rp 40 milyar. Penunggak rekening dan sambungan gelap itu sudah diputus sehingga dari 143.000-an pelanggannya, tahun 2007 ini menjadi 139.000-an unit. Ada 4.000-an yang diputus. PDAM pun sudah memecat pegawainya yang terlibat sambungan gelap, salah satu komponen dari kehilangan air itu.

Kehilangan air (unaccounted for water) tak hanya terjadi di PDAM Kota Bandung tapi juga di semua PDAM. Kisaran angkanya antara 20% dan 70%, dengan rerata 45%. Angka ini setara dengan 82% air yang terjual, tetapi tidak selalu sama dengan jumlah pendapatan yang diterima PDAM akibat berbagai manipulasi yang terjadi. Ujud kehilangan air itu, yaitu beda antara volume air di meter induk dan volume total di meter pelanggan, bisa karena bocor fisik seperti pipa pecah, rembesan di reservoir, dan kerusakan peralatan di jaringan distribusi, bisa juga karena bocor nonfisik seperti ketidakakuratan meter airnya atau karena salah baca dan salah administrasi.

Demi mengendalikan kehilangan air tersebut, termasuk mempertahankan kualitas air olahannya, sejumlah tindakan bisa dilakukan PDAM. Di antaranya ialah mengelola daerah distribusinya dengan cara menyeimbangkan tekanan di sekujur sistemnya, baik yang terdekat dengan instalasi maupun yang terjauh, lewat zoning system. Tanggap darurat dalam perbaikan pipa dan responsif atas laporan masyarakat, juga menjadwalkan secara rutin perawatan dan kendali pipa.

Begitulah idealnya. Antara fakta dan kondisi ideal ternyata berbeda. Lalu bagaimana cara menilai kinerjanya? Kenapa kita perlu menilainya? Sebab, jika tak ada yang menilainya berarti tak ada yang peduli pada nasib pelanggan. Bagaimana kalau kita bukan pelanggan? Tetap saja terancam bahaya. Waktu makan atau minum di warung, restoran, hotel, kantor boleh jadi airnya berasal dari PDAM yang buruk kualitasnya. Meskipun air di rumah sudah bersih tetap saja kita makan dan minum air PDAM di warung bakso misalnya. Ini berisiko, bukan?

Oleh karena itu, mari belajar menilai PDAM. Berikut ini ada tolokukurnya. Agar mudah diingat, ada resep ringkas berupa Piramid PDAM. PDAM adalah singkatan dari Pegawai (P), Desain (D), Area servis (A), dan Manajemen (M).

Piramid PDAM

The man behind the gun. The right people on the right place. Ungkapan ini sering kita dengar ketika berbicara soal sumber daya manusia. Ini berkaitan dengan P (Pegawai, Pekerja), khususnya keterampilan, keterlatihan, dan keterdidikannya. Pelanggan bisa menilai P yang dihubungkan dengan sarjana teknik lingkungan. Adakah sarjana ini di sana? Bagaimana kualitasnya? Mampukah menangani sisi teknis sumber air, transmisi, instalasi, distribusi, evaluasi, rehabilitasi, perluasan jaringan, supervisor dan evaluator jasa konsultan?

Bagaimana faktanya? Dari 318 PDAM di Indonesia yang menjadi anggota Perpamsi belum semuanya memiliki sarjana yang keahliannya di bidang air. Kalaupun ada, belum memenuhi kualifikasi di atas. Silakan pelanggan menyelidiki apakah PDAM-nya sudah berkualifikasi demikian. Setelah itu ceklah sarjana pendukung lainnya seperti ekonomi, sipil, manajemen dan ahli madya. Selanjutnya lulusan SMA atau SMK di bidangnya. Pegawai di bagian cleaning service (klinser) pun suatu saat nanti mungkin saja lulusan SMA/SMK. Meskipun demikian, pegawai terbawah itu tetap harus diizinkan berkembang apabila mereka sekolah lagi dan lulus. Jadi, kejelasan jenjang karir pegawainya juga menjadi tolokukur kinerja PDAM.

Indikator kedua adalah D, Desain. Baik buruknya layanan bergantung pada desain instalasi, transmisi dan distribusi. Dalam setiap desain baru maupun pengembangan, juga pada evaluasi kepuasan pelanggan lewat kuesioner, peran sarjana teknik lingkungan demikian besar. Bagaimanapun, penilaian atas desain ini langsung menukik pada kualitas air yang mempengaruhi opini pelanggan terhadap PDAM. Mayoritas protes pelanggan berkaitan dengan kesalahan, keteledoran, dan ketidakakuratan desain instalasi, posisi reservoir, dan distribusi. Desain yang tepat akan menurunkan pencemar ke tingkat yang diizinkan oleh peraturan Menteri Kesehatan nomor 907/Menkes/SK/VII/2002.

Tepat tidaknya desain bergantung pada evaluasi kualitas sumber air bakunya. Bisa saja pelanggan mewajibkan PDAM untuk merilis laporan kualitas air bakunya di media massa secara berkala lalu dinilai oleh tim pemantau yang dipilih pelanggan. Ini untuk mengetahui kualitas air bakunya apakah makin buruk lantaran tercemar pestisida, limbah domestik dan pabrik. Yang juga penting dalam desain ialah kapasitas olahnya apakah sesuai dengan dimensi unit pengolahnya. Mampukah unit itu menangani kualitas air terburuk yang mungkin timbul, misalnya ketika banjir besar atau tercemar berat?

Yang tak kalah penting ialah indikator kualitas air olahan di reservoir dan rumah-rumah pelanggan. Idealnya, di kedua tempat ini kualitas airnya sama bersih. Hanya saja, kebanyakan PDAM belum memenuhi kriteria tersebut lantaran kondisi jaringan distribusinya buruk sehingga air tanah dan air selokan masuk ke dalam pipa lalu ke perut pelanggan. Inilah salah satu sumber ancaman tifus, disentri, diare khususnya pada anak-anak yang menyikat gigi menggunakan air tersebut.

Pilar ketiga: A, Area servis. Makin luas area servisnya makin bagus nilainya jika dikaitkan dengan Millenium Development Goals (MDGs). Tak satu pun PDAM mampu melayani 100% area servisnya. Jangankan untuk meluaskannya, melayani dengan baik palanggannya saja belum mampu. Akibatnya terjadilah ketimpangan servis. Ada pelanggan yang 24 jam penuh dipasok airnya dan tekanan airnya sesuai dengan standar, tapi ada juga yang digilir dan hanya mendapatkan air ketika malam hari. Malah ada yang sejak awal berlangganan tak pernah sekalipun air PDAM mengucur dari krannya. Meter airnya sekadar menjadi hiasan di depan rumahnya.

Yang terpenting di area servis dan menjadi tugas besar PDAM ialah desain jaringan distribusinya. Semua pelanggan, baik di daerah tinggi maupun rendah, di dekat instalasi maupun jauh, harus mendapatkan air sesuai dengan kebutuhan standarnya. Di sinilah kemampuan desain sarjana keairan itu diuji. Semasih terjadi masalah klasik di daerah distribusi, belumlah layak mereka diberi label mumpuni. Pelanggan berhak menggugatnya, termasuk menggugat jajaran direksinya apalagi jika dikaitkan dengan tarifnya yang terus naik.

Manajemen adalah indikator keempat. Tak hanya masalah kepegawaian, kejelasan karir, dan proses pengolahan yang dianggap penting tapi juga manajemen krisis. Di mana-mana di Indonesia posisi PDAM berada di ujung tanduk, sewaktu-waktu bisa krisis air. Bahkan banyak yang sumber airnya berasal dari luar wilayahnya, dengan cara membeli. Jika terjadi pengambilalihan oleh pemerintah daerah setempat atas desakan warganya maka PDAM tersebut langsung krisis. Itu sebabnya PDAM ini tidak bisa tenang dan berupaya melakukan manajemen sumber daya air secara optimal. Namun belum banyak yang berhasil.

Manajemen distribusi pun berkategori kritis lantaran tak ada PDAM yang bebas dari kebocoran air, baik dalam arti harfiah maupun konotasi. Banyak penyalahgunaan aset dan keuangan terjadi di PDAM yang melibatkan orang dalam dan konsultan, kontraktor dan suppliernya. Demikian pula dengan manajemen sambungan baru, tes aliran dan kontrol meter airnya. Kalibrasi meter air harus dikelola rutin dan tercatat. Ini penting agar tak ada meter air yang terlewatkan dalam kalibrasi dan sebaliknya ada yang baru saja dikalibrasi tapi dikalibrasi lagi.

Yang terakhir ialah manajemen tanggap, yakni mampu menangani setiap masalah dan laporan pelanggan, kapan pun dan di mana pun. Malam hari oke, lokasinya jauh pun tetap wajib diladeni. Manajemen harus mampu memotivasi pegawainya agar tidak ogah-ogahan bekerja demi melayani pelanggan. Begitu pun soal pencatatan rekening, tanggal berapa petugas datang ke pelanggan agar jelas demi efisiensi kerja. Jangan terjadi petugas datang tapi pelanggannya tidak di rumah atau ketika pelanggan di rumah tapi petugasnya tidak datang. Sebaiknya dicarikan jadwal yang tepat bagi kedua belah pihak.

Apabila mayoritas indikator di atas sudah mampu dilaksanakan oleh PDAM, bisalah pelanggan menilainya sebagai PDAM berkinerja tinggi. Begitu pun sebaliknya. Maka, marilah kita menilai PDAM di tempat tinggal masing-masing. Bagaimana hasilnya?*

Gede H. Cahyana

ReadMore »

Canal Dike Filter

Tulisan ini dimuat di Majalah Air Minum, edisi 137, Februari 2007.

Tidak semua PDAM seberuntung PDAM Kota Bandung dari sisi sumber air bakunya. Walaupun debitnya cenderung turun namun PDAM ini tetap beruntung mengolah air sungai yang relatif jernih. Kekeruhannya rendah apalagi pada musim kemarau sehingga unit prased yang ada di dekat intake-nya di Sungai Cisangkuy bisa dikatakan tak perlu difungsikan. Boleh jadi dulu ketika unit itu didesain diasumsikan kadar partikel kasarnya (coarse solid) begitu tinggi untuk antisipasi duapuluh tahun kemudian. Tapi ternyata sampai sekarang air bakunya relatif jernih.

Lain di Bandung, lain juga kondisi PDAM di sejumlah kabupaten. Ada yang mudah mendapatkan air baku, ada juga yang sulit. Yang mudah memperoleh air baku, apalagi didukung oleh kualitasnya yang bagus, tentu tak banyak bermasalah. Akan menjadi masalah besar bagi PDAM yang sumber airnya sedikit sehingga tidak punya opsi lain. Misalnya, airnya berasal dari kanal yang relatif keruh, mengalir di pinggir atau bahkan di antara permukiman. Sejumlah PDAM mau tak mau harus memanfaatkan air dari kanal irigasi atau dari kanal utamanya.

Andaikata terpaksa memanfaatkan air kanal tersebut, ada cara sederhana yang digolongkan sebagai unit praolah (pretreatment) dan dapat langsung diterapkan di kanal tersebut (on-site treatment). Namanya Canal Dike Filter (CDF). Terdiri atas tiga unit modifikasi, yaitu Roughing Filter, Slow Sand Filter, dan Storage Tank, CDF ini dapat diterapkan untuk memperoleh air jernih yang siap diolah lebih lanjut. Secara sinergis unit tersebut meringankan beban unit pengolah di hilirnya (complete treatment system), terutama yang berkaitan dengan penyisihan kekeruhan.

Apa saja yang diuntungkan? Yang pertama, beban hidrolis (hydraulic loading) dan beban partikel (solid loading) di pipa transmisinya menjadi rendah. Pengurasan pipa tak perlu lagi atau tak terlalu sering. Taruhlah waktu desainnya 20 tahun, maka selama itu pula boleh jadi tidak ada pengurasan pipa transmisi. Andaipun ditransmisikan dengan saluran terbuka, sedimentasinya pun tak terlalu banyak asalkan bisa dikendalikan sumber sedimennya yang berasal dari limpasan air hujan. Oleh sebab itu, sebaiknya jangan menggunakan saluran terbuka tetapi gunakanlah pipa. Pipa jauh lebih mudah diawasi, keamanannya lebih terjamin dan investasinya pun tak jauh beda.

Yang kedua ialah proses-operasinya. Prasedimentasi tak dibutuhkan lagi. Beban unit koagulasi dan flokulasi makin ringan, kebutuhan koagulannya ikut turun sehingga makin murah ongkos produksinya. Beban sedimentasi pun turun. Operasi-rawatnya makin berkurang, terutama yang berkaitan dengan lumpur yang ditimbulkannya. Biaya listrik dan pembuangannya (disposal) otomatis berkurang. Begitu pun filter. Filtratnya bisa dihemat karena tidak perlu terlampau sering dicuci-balik (backwash) sehingga airnya bisa diubah menjadi air terjual yang berujung pada kenaikan pendapatan PDAM. Potensial dan menjanjikan bagi PDAM yang ingin menghemat biaya produksinya.

Kriteria Desain

CDF terdiri atas koral medium di bagian hulu, diikuti oleh yang berukuran lebih kecil, lalu diikuti oleh pasir (sand filter) dan media penyangga. Filtrat yang dihasilkannya lalu dikoleksi di Tangki Tampung (Storage Tank) yang sekaligus berfungsi sebagai sumpwell sebelum dipompa atau dialirkan secara gravitasi lewat pipa transmisi. Demi mencegah sampah, di bagian hulunya dipasang skrin jeruji (barscreen) dan pintu air (sluice gate) sebagai pengatur aliran.

Letak dasar CDF diupayakan minimal 1 m dari dasar kanal untuk menghindari sedimen lumpur. Makin tinggi beda jarak dasar kanal dan dasar filter akan makin baik, tetapi ini bergantung pada kedalaman kanalnya. Pada musim kemarau jangan sampai kekeringan dan ketika hujan jangan sampai air kanal meluap lalu masuk langsung dari atas filter. Untuk mencegahnya bisa dilengkapi dengan tanggul di sekelilingnya. Tutuplah filter dengan pelat agar terhindar dari blooming algae. Di bagian hulu CDF, yaitu di luar skrin jerujinya bisa dipasang tanggul pelindung agar tidak tergerus arus, terutama saat hujan.

Bagaimana medianya? Tebal media koral antara 1,0 - 1,4 m dengan lebar 4 - 6 m dan panjang 8 - 12 m. Berilah ambang bebas 30 cm. Ukuran koral pertama 0,7 - 1,0 cm setebal 1 - 2 m lalu diikuti oleh media 0,4 - 0,7 cm setebal 2 m. Keduanya berfungsi sebagai preliminary filtration (prafilter). Segmen selanjutnya ialah 0,2 - 0,4 cm dan 0,08 - 0,1 cm, masing-masing setebal 2 m. Pasir dipasang dengan ukuran efektif 0,25 - 0,3 mm setebal 1 - 2 m. Kemudian disusul oleh diameter 1 mm. Di ujung media terakhir ini dipasang kawat ram kuat dengan bukaan 1 mm. Agar tidak jatuh dan masuk ke Storage Tank, ujung dasarnya dibengkokkan ke atas setinggi 10 cm dan medianya diturunkan dengan sudut 30 - 45 derajat. Siasat ini untuk mencegah pasir dan kerikil agar tidak hanyut ke Tangki Tampung. Andaipun ada yang hanyut, semuanya akan terkumpul di ruang tadah lumpur (sludge hopper) dan bisa disedot secara hidrolis ataupun mekanis.

Setelah proses tersebut, filtratnya dikumpulkan di Tangki Tampung (Storage Tank). Jika filtrasinya berlangsung dengan baik, maka di dasar tangkinya tiada endapan. Bebas dari endapan. Airnya agak jernih. Andaipun ada endapan, volumenya tidak banyak atau hanya perlu pembersihan setahun dua kali atau setahun sekali. Tentu saja ini bergantung pada kualitas air kanalnya dan kinerja unit CDF-nya. Air jernih di tangki inilah yang lantas dialirkan ke pipa transmisi, baik lewat pompa maupun secara gravitasi. Namun demikian, apapun caranya, upayakan tidak menggunakan saluran terbuka (open channel) agar pengolahan di CDF tidak mubazir.

Adakah kendalanya? Dari sisi operasi, masalah yang biasa muncul ialah biofilm atau lanyau (slime, lendir) penyebab biofouling (sumbatan). Jasad renik ini pertumbuhannya bergantung pada hidrodinamika aliran dan kadar oksigen terlarutnya. Turbulensi aliran dapat menambah reaerasi oksigen terlarut ke dalam air sehingga pertumbuhan mikroba semakin banyak. Namun aliran yang terlalu turbulen justru bisa mematikan sel-selnya dan melepas ikatannya dari permukaan koral. Fenomena tumbuh-luruh ini (growth - sloughing off) bisa terjadi terus-menerus selama operasi filter. Inilah fakta yang bisa diamati dalam saluran (pipa) air, baik air bersih maupun air limbah.

Hanya saja, tidak semua lanyau itu merugikan. Dari sisi positifnya, lanyau justru ikut mengolah polutan organik (organik carbon: BOD, COD) dalam air sehingga airnya justru menjadi lebih bersih. Hanya saja, pertumbuhan mikroba ini tidak boleh terlalu banyak. Apalagi kalau yang tumbuh adalah algae, airnya bisa berasa dan berbau tidak enak. Kalau ingin dicegah, bubuhkanlah kaporit di Tangki Tampungnya. Preklorinasi ini diharapkan dapat membasmi algae, bakteri dan sekaligus bau-rasa air. Juga dapat mengoksidasi besi dan mangan sehingga unit aeratornya ikut terbantu (jika ada aerator) dan presipitasinya menjadi lebih cepat. Klorinasi itu pun dapat melindungi pipa transmisi dari keganasan mikroba penyebab korosi (microbially influenced corrosion, MIC).

Akhir kata, lanyau, lendir atau biofilm bisa berefek positif, bisa juga negatif. Yang dianggap negatif atau unwanted biofilm biasanya terjadi karena in the wrong place, at the wrong time, with the wrong results. Di CDF ini lanyaunya seperti pisau bermata dua. Tinggal pegawai atau operatornya yang harus mampu mengendalikannya. Patut diingat, no treatment unit is any better than its operator! Unit pengolah hanyalah benda mati, tetapi operator adalah makhluk hidup. Hidup operator. You can do the best operation-maintenance! *

Gede H. Cahyana

ReadMore »

Diffuse Pebble Flocculator

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Air Minum edisi Januari 2007.

Baffled channel flocculator atau flokulator bersekat (Flokat) adalah jenis yang populer di PDAM. Meskipun ada yang aliran vertikal naik-turun (over-under flocculator), tapi yang paling akrab ialah flokulator berkelok (around-the end flocculator). Dua windu terakhir ini, sejak 1990, seringlah PDAM membangun flokulator naik-turun berbentuk bak segienam (heksagonal). Hanya saja, secara hidrolis, jika dikaitkan dengan nilai gradien kecepatan (G) riil yang dihasilkannya, signifikankah efek segienam itu terhadap pertumbuhan flok?

Satu pertanyaan lagi, kenapa yang dibangun kebanyakan bermodus hidrolis dan bukan mekanis? Salah satu alasannya ialah biaya operasi-rawatnya lebih murah sekaligus mudah lantaran tanpa mesin (mechanical device). Tanpa mesin berarti tanpa energi yang harus dibayar, tak perlu mesin cadangan dan tak perlu suku cadang (sparepart). Tak perlu alokasi dana untuk perawatan kecuali pembersihan secara manual oleh karyawan yang pendidikannya SMP pun sudah cukup. Bahkan bisa lebih rendah daripada itu.

Namun demikian, ada kelemahannya. Modus hidrolis itu selalu kalah dari sisi pengaturan G. Seteliti apapun desainnya, semasih melibatkan rumus teoretis-empiris belaka, belumlah mampu menghasilkan G yang sesuai dengan desain. Sebab, urusan G ini tidak semata-mata soal kalkulasi di atas kertas tapi juga soal kondisi airnya, termasuk jar test-nya atas air yang bakal diolah dan/atau studi pilot yang dilaksanakan. Terlebih lagi kalau sering terjadi fluktuasi kualitas air baku, terutama pH dan kekeruhan, otomatis kualitas floknya ikut terganggu. Kerapkali terjadi, nilai G-nya sudah tepat atau sesuai dengan kriteria desain tetapi ketika sudah dibangun dan dioperasikan ternyata G-nya terlalu kecil atau terlampau besar. Akibatnya, floknya kecil terus atau pecah lagi dan pecah lagi.

Diffuse Pebble Flocculator
Demikianlah kinerja alami atau dampak negatif flokulator hidrolis. Terlepas dari kinerja buruknya itu, tetap saja ada sisi positifnya sehingga teknologinya tidak dianggap usang (obsolete). Tak mengherankan di sejumlah negara dunia ketiga, di Indonesia juga, unit Flokat masih terus digunakan. Selain Flokat ada lagi jenis flokulator lain tetapi belum dilirik untuk diterapkan, yaitu flokulator pipa, flokulator helikoidal atau spiral, dan diffuse pebble flocculator. Di bawah ini yang dibahas ialah yang disebut terakhir.

Flokulasi, sebuah unit yang memberikan lebih banyak lagi peluang kontak kepada partikel lewat pengadukan yang terus menurun intensitasnya sehingga terjadi pertumbuhan flok, selalu diterapkan dalam complete treatment. Sebagai unit yang letaknya sebelum sedimentasi, dalam desainnya selalu dipertimbangkan dimensi dan ukuran unit sedimentasi agar murah biaya konstruksinya dan mudah dalam perawatannya serta tinggi kinerjanya. Yang juga penting ialah indah konfigurasinya dan tinggi cita-rasa estetika tata-letaknya (layout).
Diffuse pebble flocculator atau Flokulator Koral (Floral) Difus, seperti halnya Flokat, lebih banyak diterapkan di instalasi kecil, dengan besaran sistem kurang dari 200 l/d. Bagaimana kalau debitnya lebih besar daripada itu? Tentu saja bisa disiasati, misalnya debit 600 l/d diakali dengan membuat tiga deret unit tipikal sehingga masing-masing mengolah 200 l/d. Jika lahannya menjadi kendala, mau tak mau mesti menerapkan flokulator mekanis agar G dan Gtd-nya tercapai. Jika tidak, kualitas floknya akan buruk, sulit mengendap sehingga kerja filter menjadi berat. Cuci-baliknya (backwash) makin sering, air bersih banyak terbuang, ongkos operasi meningkat, perlengkapan dan peralatan cepat aus yang ujung-ujungnya menaikkan ongkos produksinya.

Prinsip dasar Floral Difus ialah penambahan ruang atau kompartemen flokulasi seiring dengan reduksi kecepatannya agar terjadi peningkatan efisiensi dalam waktu detensi tetap. Ukuran koral yang relatif besar akan menyediakan rongga yang lebih besar untuk pengadukan dan mengurangi potensi sumbatan. Seperti umumnya flokulator, parameter Gtd berpengaruh pada probabilitas jumlah tubrukan yang menghasilkan flok. Biasanya ini disiasati dengan mengatur tinggi flokulator koral bervariasi antara 1,5 - 3 m dengan modus aliran ke atas (upflow, upward). Sama dengan flokulator lain, yang berperan di sini ialah G dan besarnya dapat diperkirakan dengan rumus yang sudah familiar diketahui oleh kalangan TL. Adapun head loss pada Floral Difus ini didekati dengan formula Carman-Kozeny.

Selain mudah operasinya, Floral Difus pun tak terlalu sensitif pada variasi debit karena terjadi sebaran debit yang, sudah disebut di atas, kecepatan ke atasnya terus mengecil. Hanya saja kekurangannya terletak pada ancaman sumbatannya, baik karena flok maupun karena biakan mikroba berupa lanyau (slime) yang menempel di permukaan koral. Ini Sebetulnya bisa dihindari jika pasirnya sudah optimal disisihkan di unit praolah [prased, filter kasar (roughing filter), bak tampung] dan kadar zat organiknya juga rendah dengan injeksi klor atau kaporit (praklorinasi) atau dengan oksidator lainnya. Butuh biaya memang, tapi efeknya positif pada operasinya dan lebih murah jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan ketika tersumbat.

Selain faktor G, yang juga penting ialah waktu tinggal atau waktu detensinya (detention time, td) yang didasarkan pada volume rongga media, dengan formula td = V/Q (volume rongga dibagi debit. Volume rongga = porositas kali volume flokulator). Khusus Floral Difus, nilai G-nya bergantung pada diameter koral, kecepatan air, luas permukaan flokulator, dan kehilangan tekanan (head loss) yang terjadi selama melalui media koral.

Bagaimana alirannya? Menurut arah alirannya, Floral Difus bisa dibagi dua, yaitu aliran ke atas dan aliran ke bawah. Yang aliran ke bawah malah bisa dilengkapi ruang tadah (sludge hopper) di bawahnya, sebelum masuk ke unit sedimentasi. Fasilitas kurasnya bisa dipasang secara mekanis menggunakan pompa sedot, bisa juga secara hidrolis seperti yang diterapkan pada returned sludge dari secondary settling tank pada sistem activated sludge pengolah air limbah. Unit mana yang dipilih tentu saja disesuaikan dengan desain dan hidrolika aliran pada unit operasi di hilirnya agar hemat ongkos konstruksinya tetapi tetap memenuhi kaidah hidrolis dan teknis.

Sebagai gambaran, berikut ini disajikan sketsa Floral Difus berbentuk kerucut-pancung terbalik. Karena keterbatasan halaman artikel, yang disajikan hanyalah potongannya saja. Pada modus aliran ke atas, influennya masuk dari bawah, yaitu dari pipa distributor. Pipa ini terkoneksi dengan unit koagulator tempat pendispersian koagulan, baik secara hidrolis maupun mekanis. Jumlah pipa inletnya bervariasi, boleh lebih dari empat, bergantung pada diameter dasarnya. Air lantas mengalir melewati celah dan saluran semu bentukan porositas koral. Agar tak tersumbat, koral dipasang sedemikian rupa sehingga tidak menutupi lubang inletnya. Bisa juga diterapkan sistem underdrain yang biasa dipasang pada filter pasir cepat (Fipat).

Koral lapis pertamanya berdiameter antara 0,5-1,0 cm setebal 50 cm. Di atasnya diisi koral berdiameter 1 - 2 cm setebal 60 cm dan yang teratas, yaitu kompartemen ketiga diberi koral ukuran 2 - 3 cm setinggi 70 cm. Porositasnya antara 0,4 - 0,5. Bisa juga dilengkapi satu kompartemen tambahan dengan diameter 3,5 - 4 cm dengan tinggi variatif. Tambahan tinggi ini untuk memberikan peluang lebih banyak lagi kontak antarpartikel. Pada saat yang sama kompartemen “semu”-nya itu, yaitu rongga antar-partikelnya berfungsi sebagai ruang pengadukan sehingga nilai G-nya menurun.

Lepas dari lapisan media teratas, air lantas mengalir menuju outlet ke unit sedimentasi. Agar terhindar dari luapan air atau untuk berjaga-jaga, disediakan ambang setinggi 20 cm. Karena bebannya berat, dindingnya hendaklah dari beton bertulang atau pelat tebal berlapis media tahan karat (coating). Diameter dasarnya antara 1 - 1,5 m dan tingginya bervariasi, bisa mencapai 3 m dengan sudut lereng (inklinasi) antara 50 - 60 derajat.

Apa saja keuntungan Floral Difus? Selain sedikit perawatannya, hanya perlu dicuci saja, unit ini tak perlu operator yang tinggi pendidikannya. Sekali saja dilatih (training), operator pasti bisa melaksanakan tugasnya dengan baik asalkan disiplin dan mengikuti standar operasi - prosedurnya. Mau coba? Siapa takut, gitu loch!*

ReadMore »

1 Maret 2007

Tiga Macam Penulis Sukses

SUKSES? PENULIS...? Penulis sukses...? Pengarang sukses...? Kriteria sukses seorang penulis telah banyak dibincangkan. Sederet pendapat pun muncul. Ada yang bersetujuan, ada yang berseberangan atau bertentangan. Masing-masing hadir dengan alasan dan pengalamannya.
Berikut ini dibahas ringkas dari tiga sudut pandang.

1. Secara ekonomi.
Orang umumnya memandang sudut ini sebagai parameter sukses seorang penulis. Karyanya yang laris di pasar membuatnya bergelimang uang dari penghasilan pasif. Apalagi kalau diterjemahkan ke berbagai bahasa, kian teballah pundi-pundinya. Royaltinya tak terhitung lagi, berdatangan setiap tiga atau enam bulan. Bahkan kalau banyak karyanya, royalti itu bisa diterimanya sebulan sekali atau malah dua kali.
Penerbitnya pun senang dan kian rajin mempromosikan tulisannya. Beragam temu-muka dengan penggemar dan resensi bukunya dimuat di banyak media, baik cetak, radio, TV maupun on-line. Kebanyakan pikiran orang akan tertuju pada kata uang dan royalti ketika mendengar sebuah buku atau tulisan seseorang laris atau best seller. Inilah yang paling dinanti-nanti oleh setiap penerbit dan juga penulis.
Hanya saja, buku-buku yang best seller belum tentu mampu mengubah karakter pembacanya menjadi lebih baik. Malah sangat mungkin menjadi lebih buruk, menjadi penakut, dicekam dunia khayal atau bahkan melakukan perbuatan nista yang dilarang agamanya.

2. Secara publikasi.
Jumlah terbitan adalah tolokukurnya. Makin banyak buku yang ditulisnya, makin suskeslah dia. Dari sekian banyak bukunya itu, boleh jadi semuanya best seller (misalnya laku di atas 10.000 eksemplar dalam tempo enam bulan). Boleh jadi juga semuanya tidak menembus julukan beset seller tapi terjual biasa-biasa saja. Atau, ada beberapa yang best seller dan lainnya tidak bahkan ada yang gagal dalam penjualannya. Jika parameter ini yang digunakan maka yang disebut penulis sukses adalah yang banyak menulis, baik buku tebal, di atas 500 halaman kertas A5 atau yang tipis dan sangat tipis, di bawah 150 halaman.

Kelompok ini ada yang tak peduli pada mutu tulisannya, yang penting banyak menulis dan tetap berharap laris di pasar. Ada juga yang demikian peduli atas mutunya sehingga berupaya menulis sebaik mungkin dan tetap berharap laku keras. Baginya, kuantitas dan kualitas adalah saudara kembar yang harus dirujuki, tak bisa disepelekan. Kelompok lain ada juga yang terus menulis hingga puluhan, bahkan ratusan karya tanpa berharap mendapat uang tetapi demi penyebaran ilmu yang dimilikinya. Sejumlah ulama besar menghasilkan karya-karya dalam kategori ini.

Pada masa sekarang, pada awal milenium tiga ini, ada juga penulis buku dan artikel yang tak peduli pada imbalan berupa royalti atau honor. Yang penting baginya, karyanya bisa dibaca banyak orang, baik lewat koran, majalah, jurnal ilmiah, brosur, buletin maupun internet berupa web atau blog.

3. Secara sosiologi.
Jika instrumen ini yang digunakan maka penulis sukses ialah penulis yang bukunya mampu mengubah karakter pembacanya. Tentu saja yang diharapkan adalah perubahan dari karakter buruk menjadi baik, bukan sebaliknya. Jika terjadi sebaliknya, mengubah orang baik menjadi buruk, bisa juga dikatakan sukses tetapi bukan ini yang dimaksud di sini. Sebab, ada sejumlah buku yang memang akhirnya mengubah pandangan pembacanya menjadi demikian buruk, jahat dan bahkan menjadi tak percaya atas ke-Ada-an Tuhan. Menjadi atheis misalnya. Yang dampaknya buruk seperti ini tidak dimasukkan sebagai penulis sukses di sini. (Disebut sukses menyesatkan orang.... boleh-boleh saja....!)

Penghuni kategori ini ada yang hanya menulis satu-dua buku seumur hidupnya tapi berjuta-juta orang mendapatkan manfaatnya, mengubahnya menjadi manusia baik dan benar. Misalnya, Kartini. Kumpulan surat-suratnya dijadikan buku dan dijuduli (oleh penerbitnya) Habis Gelap Terbitlah Terang. Orang menjadi banyak tahu kehidupan masa itu lewat surat-suratnya. Contoh lain adalah Hasan Al Banna, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin. Spirit ajakannya berefek tajam sampai sekarang dan meletupkan hasrat cinta terhadap Tuhan bagi siapa saja yang membacanya. *

ReadMore »