• L3
  • Email :
  • Search :

25 Mei 2007

Trilogi & Kuadran PLTSa

Bandung sedang ramai. Tak hanya orang luar Bandung yang meramaikannya ketika libur panjang, tapi juga kalangan pemerintah. Betul-betul “ramai”. Riuh rendah dalam keheningan, tak ada “debat” terbuka secara langsung. Tetapi itulah “etika” (mungkin) sebagai sesama “orang Timur”.
Pikiran Rakyat, dua pekan terakhir ini, memuat “debat senyap” itu. Dilatari itulah lantas muncul tulisan ini, dimuat di PR pada Selasa, 22 Mei 2007. Semoga bermanfaat.
***
Di tengah “perdebatan hening” antara Pemkot Bandung dan Pemprov. Jawa Barat tentang penanganan sampah Bandung, tampaklah selisih persepsi dalam menyikapi soal sampah. Yang satu ingin menerapkan idenya berupa Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS, atau sekarang ditambah subscript a, menjadi PLTSa, mungkin sebagai pembeda dengan PLT Surya yang lebih dulu hadir di Indonesia) sedangkan pihak satunya lagi ingin segera menuntaskan masalah sampah yang terus berlarut-larut itu. Pihak kedua memilih metode konvensional yang relatif ramah lingkungan, yaitu Sanitary Landfill (sanfil) dengan cara revitalisasi Leuwigajah dan hendaklah didukung oleh jejaring atau sistem dekonsentrasi composting (spread composting system).
Telisikan menegaskan, kedua pihak memiliki tujuan yang sama, yaitu menyelesaikan masalah sampah Bandung. Hanya saja, ada beda pandangan dan juga (barangkali) beda kepentingan terhadap sampah jika dilihat dari sudut investasi, putaran uang, dan projek serta upaya pemberdayaan masyarakat, dalam hal ini warga yang terkait dengan sampah seperti pemulung, kolektor, dan petugas kebersihan. Di satu sisi juga muncul dugaan sebagai projek mercusuar demi harapan politis yang dijadikan posisi tawar pada pesta demokrasi kelak. Tak bisa dimungkiri, dugaan seperti itu memang diperbincangkan di kalangan aktivis lingkungan dan juga di dunia akademis.
Berapa pun jumlah pihak yang “bertikai” dalam cara pandang atas masalah sampah di Bandung Raya, sebetulnya akan menjadi sepaham dan setujuan jika berpijak di lantai yang sama, yaitu Trilogi dan Kuadran PLTSa. Dua kompartemen ini tak bisa dinafikan begitu saja kalau membicarakan masalah sampah. Yang pertama ialah Trilogi Pendidikan yang terdiri atas sains (science), teknologi (technology), dan lingkungan (environment). Apalagi sudah sangat jelas Pemkot Bandung merilis program Mulok Pendidikan Lingkungan Hidup. Jangan sampai terjadi kontradiksi dan kontradidaktik pada kedua program tersebut. Jika tidak, anggapan munafik akan lantang ditiupkan oleh berbagai pihak di tatar Bandung ini.
Trilogi tersebut serupa dengan segitiga sama sisi. Sisi pertama adalah sains yang menjadi “sumber air” imajinasi. Imajinasi harus dilatari oleh riset yang independen dan ini biasa dilaksanakan di kalangan kampus (tapi faktanya, tidak semua riset akhirnya independen karena ada “sesuatu” yang menyebabkan periset “manaati” alur pemberi dana hibah). Dengan acuan ini, kebijakan persampahan pun wajiblah mengikuti pola dan hasil riset dari kampus atau lembaga riset lainnya. Sisi kedua ialah teknologi. Teknologi tanpa sains seperti pohon tanpa akar. Ia tumbang, umurnya tak lama karena lemah pondasinya. Menangani sampah pun hendaklah didasarkan pada aspek teknologi yang berbasiskan kekuatan sains. Tak hanya itu, aspek ketiga yaitu lingkungan justru menjadi mata rantai penyambung apakah suatu teknologi yang dilatari sains itu layak direalisasikan ataukah berhenti di tataran teoretis saja.
Oleh sebab itu, andaikata Pemkot Bandung memandang sampah dari sisi sains, maka semua kajian tentang sampah dari berbagai sudut ilmu harus dibuat komprehensif, tak tergesa-gesa. Pertimbangan kedua, aspek teknologi. Betulkah teknologi yang akan diterapkan itu menjadi pilihan terbaik (tertepat) di antara opsi teknologi yang tersedia? Suatu teknologi yang layak di sebuah daerah belum tentu layak di daerah lain. Yang sukses di negeri manca belum tentu sukses jika diaplikasikan di negara kita. Banyak aspek perbedaan dan studi komparasi yang harus dilaksanakan sebelum sampai pada kesimpulan pilihan teknologi. Makanya, diharamkan sifat egosentris individual maupun kelompok dan sebaliknya mendukung kemaslahatan bersama, kebaikan untuk semua orang, tak hanya orang per orang dalam lingkaran grup dan projek tersebut.
Pertimbangan lingkungan adalah aspek ketiga. Mau tak mau, ketika slogan peduli lingkungan ditiupkan di mana-mana, ketika pejabat Pemkot Bandung meneriakkan semboyan cinta lingkungan, tetapi kalau praktiknya justru sebaliknya, pasti menurunkan kepercayaan masyarakat atas niat baik Pemkot Bandung. Apalagi Bandung, seperti diungkap di atas, menjadi pionir pendidikan lingkungan hidup yang sekarang sudah pula dijadikan muatan lokal oleh Pemprov. Jawa Barat. Tepat pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2007 lalu, gubernurnya meresmikan pemberlakuan Mulok PLH di seluruh sekolah dalam wilayah geopolitiknya.
Lantas, mengapa Pemkot Bandung bergeming, malah berprinsip the show must go on? Kenapa harus demikian? Padahal PLTS (atau PLTSa) betul-betul tidak bersahabat dengan lingkungan. Antilingkungan. Antiekologi. Ada banyak hal negatif dalam jangka panjang, bahwa PLTS (PLTSa) akan membahayakan populasi, baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Tak hanya itu, kerusakan material seperti properti, rumah, kendaraan, dll pun terjadi. Deraan psikologis pun bisa menjalar ke semua orang ketika “pabrik” pengolah sampah itu beroperasi.
Ada pertanyaan besar, mengapa dukungan Bappenas dijadikan alasan untuk mewujudkan PLTS (PLTSa) itu? Apakah mereka kompeten menilai sisi potensi bahayanya ataukah sekadar donatur konstruksinya saja? Yakinkah mereka bahwa PLTS atau PLTSa itu bersahabat dengan lingkungan (enviro-friendly)? Anak SD pun tahu, membakar sampah bukanlah tindakan yang baik. Selain bahaya, juga polusi. Pencemaran udara! Apalagi membakar sampah sekota, satu kota besar, selama 24 jam nonstop selama bertahun-tahun. Bisakah ini disebut peduli lingkungan? Terang bak mentari siang, PLTSa berlawanan dengan tujuan Mulok Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Secara detil hal tersebut sudah dikupas dalam artikel berjudul “PLTS versus PLH” (PR, 10/2/07).
Kuadran PLTSa
Sudah rahasia umum, dalam setiap projek selalu dibuat analisis dan evaluasi atas dampaknya terhadap manusia dan lingkungan. Itu sebabnya, muncullah konsep Amdal. Setuju tak setuju, manusia pasti dipengaruhi oleh lingkungan dan lingkungan pun dipengaruhi oleh manusia. Begitu pula PLTS (PLTSa), ia bisa dikaji dari sudut ini, yang disebut Kuadran PLTSa. Ada empat kuadran yang mesti dievalusi sebelum implementasi sebuah teknologi. Yang pertama ialah kuadran P (People), berkaitan dengan manusia sebagai makhluk utama di planet ini. Berkaitan juga dengan makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan sehingga disebut juga kuadran P (Population). Sudahkah ini dipertimbangkan secara sosial, budaya, habitasi, geologi, geografi, ekonomi dan ekologi?
Kuadran berikutnya ialah L atau Landfill. Poin ini termasuk sebagian dari konsep Cradle to Grave, lahir ke kubur. Merujuk pada istilah ini, semua sampah hendaklah dialihkan ke asalnya lagi, yaitu tanah. Malah semua makhluk hidup berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tentu saja pada beberapa jenis sampah harus didahului oleh proses awal (pretreatment), perlu penanganan spesifik sebelum layak dibenamkan di dalam tanah, seperti sampah berbahaya-beracun (hazardous wastes). Peraturan atau aspek legal jenis sampah ini pun sudah kita miliki dan bisa dinilai secara sainstifik. Singkatnya, kembalikanlah sampah ke asal-muasalnya, yaitu ke landfill dan composting yang juga berujung di tanah (pupuk tanah).
Yang ketiga, kuadran T, yakni Treatment, berkaitan dengan jenis pengolahan yang sebaiknya diakomodasi. Runtutannya menuju sisi sains dan lingkungan dari Trilogi Pendidikan di atas dan harus dikembalikan ke spirit asal pembelajaran (khususnya di kampus atau universitas). Treatment atau kuadran pengolahan ini banyak variasinya, malah tak terhitung jika setiap variasi dan modifikasi teknologinya diperhitungkan sebagai sebuah peluang pengolahan.
Untungnya, ada kuadran terakhir yang justru menjadi acuan dalam memutuskan jenis pengolahan atau teknologi yang diadopsi itu, yaitu kuadran S atau Sa (Safety). Keamanan menjadi poin terpenting dalam hidup manusia. Tak seorang manusia pun ingin ancaman. Seorang pendaki tebing, seorang peterjun payung, seorang penyelam samudra dll pasti ingin aman ketika beraktivitas. Sebahaya apapun suatu aktivitas, maka aspek keamanan menjadi nomor wahid. Jika demikian, sudahkah teknologi yang bakal diterapkan itu tinggi keamanannya? Bersahabatkah dengan lingkungan dan mengedepankan kemaslahatan bersama?
Wajib diingat, tak ada satu teknologi pun yang layak disebut “kecap nomor satu di dunia”. Semuanya punya kelemahan. Tak ada satu pun cara instan yang bisa menyelesaikan sampah Bandung. Semuanya berproses secara alami, perlu waktu. Justru ketika “times series”-nya dilanggar, misalnya dipercepat, maka hasilnya adalah “perkosaan” atas fungsi lingkungan. PLTSa pun menjadi upaya “perkosaan” atas fungsi lingkungan karena aksi membakar sampah kota. Instan, memang. Namun budaya dan teknologi instan itu bakal menyesatkan target solusi, seperti orang yang tersesat ketika mengambil jalan bypass di hutan rimba, tak hendak menuruti jalan setapak yang biasa dilalui orang. Ingin sesuatu yang lain tetapi menjerumuskan. Indah dalam imajinasi tetapi penuh belukar onak duri saat dilewati.
Akhir kata, penerapan teknologi tanpa kajian sains yang mendalam alias instan akan menjadi perusak lingkungan. Dari tiga sisi segitiga dalam trilogi tersebut dan empat Kuadran PLTSa itu, semuanya harus dipedulikan. Terlebih lagi manusia hidup di tengah perkembangan sains, teknologi dan lingkungan. Kita betul-betul bergantung pada sains, pada teknologi, dan pasti... pada lingkungan. Maka, akankah tetap meneruskan rencana PLTS atau PLTSa itu?
Mari jadikan Bandung dan khususnya Pemkot Bandung sebagai kota dan pemerintah daerah yang enviro-friendly. Sekarang juga, sebelum terlambat! *
Gede H. Cahyana
ReadMore »

18 Mei 2007

Obituari: Pak Asis Yang “Sisa”

Pukul 14.08.04 WIB, Jumat, 18 Mei 2007, Hp saya berdering. Isinya adalah kalimat “istirjaa”, Innaa lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”. Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. (al Baqarah: 156).

Siapa yang meninggal? Beliau adalah Prof. Dr. Ir. KRT. Asis H. Djajadiningrat, Dipl. S.E, guru besar Teknik Penyehatan - Lingkungan ITB. Beliau meninggal di Menado, Sulawesi Utara pada 11.40 waktu setempat.

***

Waktu itu tahun 1985. Saya dan kawan-kawan angkatan 1985 sedang mengikuti penataran P4. Wajib hadir waktu itu. Sekali saja tidak hadir, dijamin tak bakal lulus. Setelah acara Gugus di GSG ITB, saya masuk ke acara Kelas. Kelas terdiri atas beberapa jurusan. Waktu itu ada anak-anak Teknik Perminyakan, anak-anak FSRD dan semua anak-anak FTSP. Begitulah setiap hari, setiap acara Kelas selalu saja ribut. Anak-anak FSRD ada yang membawa tape recorder dan memutar lagu rock. Sesekali muncul Queen, lalu disambung dengan Rolling Stone, dst-nya. Dangdut juga sempat hadir, ada yang joged segala di depan kelas. Tentu saja ketika penatar tidak ada.

Yang unik ialah acara kelompok. Ini diadakan di ruang kuliah jurusan, di ruang 9008. Inilah ruang peninggalan asli masa Belanda dulu, setara dengan ruang 9009 (merangkap gedung bioskop LFM, Liga Film Mahasiswa) dan Aula Barat – Aula Timur ITB. Seperti yang lainnya, acara penataran memang membosankan. Dari hari ke hari seperti itu-itu saja dan seolah-olah tak menambah wawasan baru. Namun untungnya, pada satu sesi ada seorang dosen yang berpakaian rapi. Setelan jasnya hitam-hitam, rambut agak panjang dan ikal sedikit, berkacamata dan selalu memegang rokok.

“Saya orang buangan!” ujarnya ketika acara kelompok di ruang 9008. “Di ITB ini ada dua yang namanya mirip, yaitu Asis dan satunya lagi Aziz. Pakai z. Dosen Teknik Sipil. Kalau saya pakai s. Asis, bukan Aziz!”

Kami, para mahasiswa baru, hanya diam dan senyum-senyum saja. Santai. Lalu lanjutnya, “Tapi saya orang sisa. Gara-gara kuliah di Teknik Penyehatan (TP), saya menjadi orang sisa. Sampah, itu kan pelajaran orang TP. Air limbah, air buangan itu juga air sisa.”

Kami pun mulai ramai, berbisik-bisik. Saling pandang. Ada juga tampak wajah nyesel. “Waduh... kita orang sampah dong.. kata teman sebelah saya.”

“Ah.. tak apa-apa. Yang penting berguna. Ada manfaatnya”, tegas kawan sebelahnya lagi.

“Tahu nggak kenapa saya menjadi orang sisa?” tanyanya.

Kami diam. Tak tahu, memang. Kenapa ya?

“Kalau dibaca dari belakang, seperti orang Arab, nama saya menjadi Sisa. Asis... Sisa....”

Geerr ..rrrhh... kontan saja teman-teman tertawa. Gaduh sekali. Suasana jadi cair dan santai. Kantuk pun hilang...

Itulah sekelumit masa-masa awal pertemuan saya dengan Pak Asis. Selama kuliah, baik ketika di S1 maupun S2, tak pernah saya melihat beliau marah-marah, sama seperti saya tak pernah melihat beliau tanpa mengenakan setelan jas. Kalau pun tidak dipakai, pasti jasnya ditaruh di ruangannya dan beliau hanya memakai dasi saja. Tetapi ketika hendak pergi, jas itu akan dikenakannya lagi.

“Terasa enak dan pas!” begitu terangnya ketika ditanya kenapa pakai jas terus.

Yang juga menarik adalah cara mengajarnya. Hidrolika 1 dan 2 adalah mata kuliah yang diampunya waktu itu. Lembaran atau handout selalu hadir di setiap kuliahnya. Bagus dan rapi tulisannya. Schaum series menjadi patokannya. Siapa saja yang rajin latihan soal, terutama di Schaum dan sejumlah buku teks lainnya, misalnya yang keluaran McGraw Hill New Delhi, India, pastilah mampu menjawab soal UTS dan UAS-nya. Ini sudah terbukti, baik oleh kawan-kawan saya maupun saya sendiri.

Yang lama berkesan bagi saya ialah ketika Pak Asis membimbing saya menulis Tesis. Saat itu pun saya dan tiga rekan lainnya sempat ditraktir makan di sebuah rumah makan di bilangan Jl. Martadinata (Jl. Riau). Bukan materi tesis yang dibicarakan waktu itu, melainkan pengalamannya ketika kuliah S3. Kisah itu digunakannya untuk menyemangati kami agar kerja keras menulis tesis, meskipun secara tidak langsung. Ketika bimbingan tesis waktu itu, lumayan sulit juga menemuinya karena sedang menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) ITB yang kantornya di Jl. Sangkuriang, dekat Cisitu Lama. Kalau tak ada di kampus, pastilah ada di Sangkuriang. Begitu sebaliknya. Sering juga tak ada di dua tempat itu. Benang merah dari diskusi dengan beliau, tak satu pun pemaksaan kehendak atas ilmu yang dipaparkannya ketika bimbingan. Lebih banyak saya diberi kebebasan dalam menulis dan hanya poin-poin utama saja yang diberikannya. Selebihnya terserah saya.

Beliau pun mendukung saya agar terus menulis (di koran), mengutarakan persoalan lingkungan. Ketika tulisan saya dimuat di Pikiran Rakyat dan menyatakan bahwa sebaiknya kita meluaskan sewerage di kota Bandung, beliau justru berkata bahwa tren di luar negeri lebih mengarah pada on-site system, tanpa sewerage. Jepang misalnya, terus mengampanyekan Johkasou, sebuah sistem IPAL mikrokomunal dan bahkan dalam lingkup satu rumah atau satu gedung (hotel, mall, kantor, dll). Kebetulan sekali sekian bulan berselang saya lantas ikut seminar dan training Johkasou di PDAM Kota Cirebon, bertemu dengan rekan-rekan saya semasa kuliah di S1 dulu.

Sudah dua tahun ini saya tak bertemu langsung dengan Pak Asis. Saya hanya membacanya lewat koran. Sempat pula profilnya dimuat di koran Kompas. Pertemuan yang terakhir adalah ketika saya menghadiri wisuda magister istri saya pada 23 Juli 2005 di Sabuga. Waktu itu Pak Asis sebagai Ketua Majelis Guru Besar (MGB) ITB.

Terima kasih Pak dan selamat jalan. Semoga Allah Swt mengampuni semua kesalahan Bapak dan memudahkan ketika hari hisab kelak. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat lindungan Allah dan tabah menerima takdir-Nya. Aamin. *

Gede H. Cahyana

ReadMore »

10 Mei 2007

Metabolisme Anaerob

Metabolisme Anaerobik
Oleh Gede H. Cahyana

Tulisan ini ditujukan kepada rekan-rekan yang mengirimkan sutel (surat elektronik) dan bertanya soal proses pengolahan air limbah secara anaerob, khususnya tahap degradasi zat organiknya. Secara ringkas hal itu saya tulis di bawah ini. Semoga bermanfaat. 

Sesuai dengan namanya, pada proses anaerob (an = tidak, aerob = udara atau oksigen) tidak ada oksigen yang terlibat atau dikonsumsi oleh mikroba sehingga tidak ada reduksi zat organik. Namun penyisihannya dapat terjadi jika zat organik telah dikonversi menjadi metana, yang lepas ke udara luar. Inilah kunci sukses proses anaerob.

Ada sejumlah pola, alur (pathway) degradasi zat organik, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks, melibatkan banyak grup atau kelompok bakteri. Menurut Hobson dan Wallace (1982) dan Wang K, (1994), ada tiga tahap degradasi anaerob zat organik terlarut maupun tersuspensi, yaitu reaksi enzimatis ekstraseluler, asidogenesis dan aseto-metanogenesis. Namun menurut Gujer dan Zehnder (1982), ada enam alur pembentukan metana seperti diperlihatkan pada gambar terlampir (Wang K, 1994). 

a. Reaksi enzimatis ekstraseluler
Zat organik tersuspensi (insoluble) atau terlarut bermolekul besar, tak dapat langsung dimetabolisme oleh bakteri karena tidak bisa menembus membran sel sehingga harus dilarutkan dulu (solubilisasi, likuifaksi) dan ukurannya (berat molekulnya) diperkecil. Penanggung jawab pelarutan dan reduksi ukuran itu ialah reaksi hidrolisis yang dikatalisis enzim ekstraseluler hasil ekskresi bakteri. Inilah yang membantu transformasi atau hidrolisis partikulat dan senyawa polimer (karbohidrat, protein, lemak) menjadi monomer sehingga dapat ditransportasikan ke dalam sel dan dimetabolisme sebagai sumber energi dan karbon. Namun karena tahap ini tidak dihasilkan metana maka belum ada reduksi COD.

Berdasarkan cara atau jenis aksi exo-enzyme tersebut, bakteri hidrolitis yang diisolasi dari rumen dan sludge digester dikelompokkan menjadi cellylytic, proteolytic dan lipolytic. Khusus untuk digester yang dominan mengandung insoluble substrate seperti kotoran sapi, babi dan limbah selulosa, maka tahap pelarutan atau solubilisasi ini menjadi penentu proses keseluruhan (rate limiting step). Pelarutan zat tersebut bergantung pada komposisi kimia (biodegradabilitas), sifat fisika (ukuran dan porositas partikel) dan faktor lingkungan: temperatur dan pH. 

b. Tahap asidogenesis
Monomer yang dihasilkan pada tahap hidrolisis seperti asam lemak rantai panjang, asam amino, gula dan alkohol, selanjutnya dimetabolisme intraseluler oleh bakteri hidrolitis dan non-hidrolitis yang digunakan sebagai sumber karbon dan energi. Selain hasilnya berupa asam asetat, propionat, butirat dan H2/CO2, juga sejumlah kecil asam format, laktat, valerat, metanol, etanol, butanediol atau aseton. Karena asam lemak volatil adalah hasil utama tahap ini, maka golongan bakterinya disebut acidifying atau acid-producing bacteria atau acidogenic bacteria atau acidogens yang tahan pada pH rendah (pH <5 font="font">

c. Tahap aseto-metanogenesis
Sebagai tahap terpenting pada proses anaerob, metanogen prokaryote bertugas mengonversi substrat atau senyawa antara (intermediate) di atas menjadi CH4 dan CO2. Substrat yang dapat diubah menjadi metana tersebut, menurut Brock T. D (1997), dibagi menjadi tiga kelas. 

Kelas I (pengguna CO2) terdiri atas CO2, format dan CO dengan donor elektron dari H2, alkohol atau piruvat. Kelas ini juga disebut hidrogenotrofik atau hidrogenofilik (pengguna hidrogen). Metanogennya bersifat autotrof (CO2 sebagai sumber karbon dan aseptor elektron). Kelas II ialah pengguna grup metil (CH3) seperti metanol, metilamin, dimetilamin, trimetilamin, metilmerkaptan dan dimetilsulfida. Kelas III (pengguna asetat atau asetotrofik) terdiri atas dua genus archae yaitu Methanosarcina dan Methanosaeta (Methanothrix). Kelas inilah sumber utama (prekursor) metana karena tak kurang dari 70% total metana berasal dari asam asetat sedangkan sisanya dari H2/CO2. Atau secara total, lebih dari 90% zat organik diubah menjadi CH4 dan sisanya untuk sintesis biomassa.

Pada metabolisme anaerob, ada hubungan sinergis antara penghasil hidrogen dengan pengguna hidrogen. Perubahan pada kondisi tekanan parsial hidrogen akan berpengaruh pada produk akhir fase asidogenesis. Jika ada kenaikan tekanan parsial hidrogen maka oksidasi hidrogen menjadi dominan daripada degradasi asetat sehingga konsentrasi asetat meningkat. Degradasi alkohol pun dapat terganggu oleh tekanan hidrogen yang tinggi. 

Jadi, meskipun hidrogen yang dihasilkan sedikit tetapi merupakan senyawa antara (intermediate) yang berperan penting pada metabolime anaerob, sehingga disarankan tekanan parsial H2 di bawah 0,0001 atm agar proses anaerob berjalan stabil dan kinerjanya baik.*


Gede H. Cahyana
ReadMore »