• L3
  • Email :
  • Search :

30 April 2019

Tips Menulis Bab HASIL & PEMBAHASAN

Tips Menulis Bab Hasil dan Pembahasan
Oleh Gede H. Cahyana
Di dalam buku laporan Tugas Akhir biasanya bagian ini ditulis di dalam satu bab, yaitu bab Hasil dan Pembahasan. Bagaimana tips-nya?

Mahasiswa harus melihat dan membaca lagi subbab yang ada di Bab 1. Tulislah beberapa subbab dengan dua atau tiga kata yang sesuai dengan tujuan Tugas Akhir. Aculah pada subbab tentang rumusan masalah, ruang lingkup, dan tujuan penelitian atau perancangan. Pikirkan subbab yang merujuk pada poin-poin tersebut, frase apa yang cocok, yang mampu mewakili idenya. Inilah yang dijadikan judul subbab di bab Hasil dan Pembahasan.
Tulislah hasil penelitian atau perancangan yang diperoleh. Hasil ini biasanya berupa data (angka). Usahakan data yang sudah diolah, bukan data mentah. Tampilkan data tersebut dalam bentuk tabel atau gambar (grafik), atau desain yang menjadi ide utama apabila TA berupa perancangan. Informasi yang ditulis di dalam tabel atau gambar atau desain tersebut harus mampu menjelaskan tema utama yang menjadi bahasannya. Tulislah bahasan hasil tersebut dengan menggunakan kalimat sederhana atau simpel. Memang boleh saja dengan kalimat majemuk atau campuran tetapi jangan terlalu panjang. Yang bagus, kalimat sederhana, kalimat majemuk tersebut divariasikan dan dengan kosa kata yang variatif, sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. 

Prinsip utamanya adalah jelas atau terang. Lantas tulislah argumentasi yang bisa menguatkan hasil penelitian atau perancangan tersebut. Bisa dengan mengutip dari makalah atau artikel sejenis yang menguatkan. Bisa juga dari teori di buku teks. Usahakan berasal dari sumber pustaka terbaru agar tulisan menjadi up to date. Penjelasan hendaklah runtut, runut, mengalir dan logis yang dikuatkan oleh penelitian orang lain, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Kutipan-kutipan ini akan menambah kekuatan argumentasi dalam pembahasan. Artinya, usahakan memperoleh artikel di jurnal-jurnal nasional dan internasional dengan tema yang hampir sama dengan TA atau skripsi yang ditulis. 

Begitu seterusnya sampai semua tujuan yang ditulis di Bab 1 tuntas dibahas. 

Tips menulis TA

Tips Menulis Abstrak

ReadMore »

28 April 2019

Burung-Burung UKRI

Burung-Burung UKRI
Oleh Gede H. Cahyana

Hanya satu dua atau tiga empat ekor seliweran burung di udara UKRI. Itu pun burung emprit dan sejenisnya. Ada beberapa sarang yang pernah jatuh berisi telur-telur tetasan. Ini terjadi karena sedikit sumber makanan di dalam kampus, terutama sumber biji-bijian dari jenis-jenis pohon berbuah yang warna, harumnya mampu menarik burung untuk hinggap dan bersarang. Sisa makanan seperti nasi, beras, atau bebijian lainnya relatif sedikit, terkumpul di tong sampah yang sulit diendus burung. Selain itu, mungkin burung takut dan terbang lagi karena ada banyak mahasiswa lewat.
Makanan berlimpah, sarang yang aman dan nyaman menjadi faktor penting dalam habitat burung. Ragam tanaman (tumbuhan) dan sebarannya di area kampus adalah penentu jumlah burung yang tertarik tinggal dan beranak-pinak. Misal, taman di balai kota Bandung, meskipun di tengah kota yang bising, tetapi karena rindang dan banyak makanan, maka burung pun betah terbang, hinggap dan bersarang di sana. Begitu juga di taman Ganesha, banyak pohon beragam jenis, banyak makanan sehingga burung pun banyak di sana. Puluhan taman lainnya juga sama, riuh oleh suara cicit cuit.  

Luas kampus UKRI hampir satu hektar. Pohon dan tanaman bunga lainnya tumbuh di halaman parkir, di bagian tengah dan belakang kampus. Berjenis anggrek juga dipajang di koridor dan pedestrian kampus. Pot-pot bunga merata ada di setiap prodi. Bahkan ada pohon yang masih terus tumbuh, menjulang melebihi gedung tiga lantai, ditanam sejak awal pambangunan kampus (pada masa Uninus). Merujuk pada peraturan yang ada, yaitu UU No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, luasan untuk RTH (Ruang Terbuka Hijau) adalah 30%. Tetapi ini adalah tugas pemerintah daerah. Masyarakat dan institusi tidak kena kewajiban ini, tetapi dihimbau agar di rumah atau kantor-kantornya disediakan ruang terbuka hijau. Hijau asli maksudnya, bukan pohon-pohon imitasi yang tidak bisa menghasilkan oksigen, tidak mampu menyerap pencemar karbondioksida. Juga bukan cat temboknya yang hijau.. J.
Untuk menambah suasana ekologis maka UKRI terus menanam dan memelihara taman bunga dan pohon. Beberapa pohon adalah sumbangan dari Dinas Pertamanan Kota Bandung yang diserahkan kepada HMTL Wasser beberapa tahun yang lalu. Saking banyaknya pohon yang dihibahkan kepada UKRI, sampai-sampai tidak ada tempat lagi sehingga dibagikan kepada dosen, karyawan dan masyarakat sekitar. Beberapa pohon ditanam di sisi jalan di sekitar kampus. Ada pohon yang ditanam oleh Prof. Dr. Ir. Benny Chatib, M.Sc, dosen Teknik Lingkungan ITB. Juga ada pohon yang ditanam oleh Dr. Ir. Setiawan Wangsaatmaja, M.Eng, waktu itu sebagai Kepala BLH Provinsi Jawa Barat. Sebetulnya ada juga pohon yang ditanam oleh kalangan narasumber dari PSLH ITB, tetapi mati atau ditebang.

Saat ini UKRI terus berbenah. Di semua bidang. Akademik dan non-akademik. UKRI menuju kampus “ijo royo-royo”, yang indah, yang bersih, yang nyaman, yang aman, yang beriman. Itu sebabnya, pada Rabu, 24 April 2019, mahasiswa peserta MK Pengetahuan (Pendidikan) Lingkungan bebersih kampus, praktik lapangan bidang persampahan. Sekilas memang. Tapi pembiasaan harus dicoba terus, di rumah, di asrama, dan di mana saja, agar menaruh sampah di tempatnya. Aspek kognitif sudah bagus, tinggal peningkatan aspek afektif dan psikomotorik.
Tentu tak hanya mahasiswa, juga dosen dan karyawan lainnya. Bersih adalah bagian dari iman. Juga agar tidak kalah oleh Rachel Carson, seorang ibu yang menulis buku The Silent Spring, Musim Bunga Yang Sunyi. Buku ini menginspirasi senator dari Seattle: Gaylord Nelson dan berakhir pada Earth Day. Setiap tanggal 22 April, pemerintah, ormas, LSM, dan kampus yang peduli selalu memperingati Hari Bumi.

Bumi hanya satu. Harus dirawat. Mulai dari yang kecil, yaitu UKRI. Mulai dari diri sendiri, yaitu persona masing-masing. Mulai sekarang juga, tidak besok. Satu cara dari banyak cara yang bisa ditempuh adalah melepaskan burung di kampus. Pada Sabtu, 27 April 2019, Pak Dr. Boyke Setiawan, M.M., rektor UKRI melepaskan burung di kampus. Burung-burung UKRI ini adalah ide beliau. Burung “Love Birds” pun adalah milik beliau, dipelihara di pojok kanan - depan kampus. Awal yang baik ini harus diikuti dengan menyediakan habitat yang nyaman dan aman bagi burung tersebut. Mulai dengan pepohonan rindang dan sumber makanan. Lingkungan sekitar kampus sudah mendukung, ada pepohonan tinggi rindang di jalan-jalan di sekeliling kampus.

Mahasiswa yang suntuk karena materi kuliah, bisa refreshing di dekat kandang burung sambil menghirup udara segar dan wangi bunga. Calon mahasiswa dan orang tuanya juga bisa lihat-lihat kampus sambil cuci-mata oleh warna-warni burung. Welcome to Eco-UKRI.*

ReadMore »

25 April 2019

Prabowo Sandiaga 62,20% LAPITEK UKRI

Pada hari Selasa tanggal 23 April 2019, LAPITEK, LPPM, BPM, UPT-TIK dan Rektorat telah melaksanakan rapat untuk membahas hasil penelitian LAPITEK UKRI yang berkaitan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden Republik Indonesia tahun 2019-2024. Jumlah sampel adalah 8.000 TPS yang diambil secara acak di 34 provinsi di seluruh Indonesia.


Merujuk pada hasil rapat tersebut diperoleh persentase suara seperti di bawah ini :
Nomor Urut
Nama Capres dan Cawapres
Hasil (%)
01
Joko Widodo – Ma’ruf Amin
35,92
02
Prabowo Subianto – Sandiaga Uno
62,20

Suara tidak sah
1,88
Total
100

Berdasarkan pada hasil tersebut diperoleh kesimpulan bahwa Prabowo Subianto – Sandiaga Uno memimpin raihan suara sebesar 62,20%. Perbedaan suara dengan Joko Widodo – Ma’ruf Amin sebesar 26,28%. Raihan suara Prabowo - Sandiaga tersebut berubah dinamis antara 61% - 63%. 

Demikianlah hasil penelitian ini kami sampaikan kepada khalayak dan kami mengucapkan terima kasih atas atensi semua pihak.

Bandung, 25 April 2019
Hormat kami,

LAPITEK UKRI




ReadMore »

6 April 2019

Siapa Penama Gatot Koco untuk Prabowo?

Siapa Penama Gatot Koco untuk Prabowo?

Pada saat debat capres Pak Prabowo menirukan gerak tokoh wayang, yaitu Gatot Koco. Tokoh ini memang dikaguminya sejak masa kanak-kanak. Karena tokoh ini tegar dan tegap, gestur Gatot Koco tentu sesuai dengan pakem dalam pewayangan. Tidak mungkin Prabowo menari dengan lenggang-lenggok a la penari Jawa yang sedang melakoni Dewi Subadra. Makanya menjadi aneh ketika netizen mengomentari dan mengejek bahwa Pak Prabowo kaku geraknya, tidak bisa menari. Gatot Koco ya begitulah.


Siapa yang mengenalkan tokoh Gatot Koco itu? Ternyata kakeknya, Margono Djojohadikusumo. Kakeknya ingin Prabowo memiliki jiwa ksatria seperti karakter Gatot Koco. Menjadi ksatria itu ada falsafahnya, yaitu sabdo pandito ratu. Artinya, ucapan seorang pemimpin itu seperti undang-undang. Makanya harus berhati-hati dalam berucap. Pemimpin harus memenuhi ucapannya, menunaikan janji-janjinya. Kepercayaan adalah modal utama seorang pemimpin. Agar dipercaya, maka seorang pemimpin tidak boleh berbohong. Yang diucapkan harus sesuai dengan yang dilaksanakan. Setiap janji harus ditepati.

Ucapan seorang pemimpin harus bisa dipegang. Jangan jam dua bilang tahu, tapi jam empat sudah jadi tempe. Jangan beri janji yang tidak bisa dipenuhi. Jangan bilang iya kalau cenderung bermaksud tidak. Ini yang disebut integritas. Jujur adalah syarat integritas. Kemudian harus punya kapasitas dan kapabilitas. Capacity dan capability. Kemampuan. Minimal dua hal tersebut yang harus dimiliki dan dilaksanakan oleh pemimpin. Integritas dan kapabilitas. Inilah tafsir atas sabdo pandito ratu. 

ReadMore »