• L3
  • Email :
  • Search :

Nav

RSS FEED Facebook GHNjiEUsTz8/TtO-HmldTeI/AAAAAAAALlE/Wds7tfNhgc4/s400/tw.png" border="0" />

June 8, 2018

Cara Menulis ABSTRAK

Cara Menulis Abstrak
Oleh Gede H. Cahyana

Tugas Akhir (TA), seperti tersirat dan tersurat pada namanya, adalah tugas kuliah yang dikerjakan oleh mahasiswa pada bagian akhir dari kuliahnya dengan beban minimal 6 SKS dalam bentuk skripsi (naskah) atau karya lainnya (lukisan, patung, model, dll) yang diujikan di depan dewan penguji pada sidang sarjana. Dengan demikian, semua syarat dan karakteristik karya ilmiah harus ada di dalam TA tersebut. Satu di antaranya adalah Abstrak. Lantas, apa maknanya dan bagaimana cara menuliskannya?

What is an abstract?
An abstract is one-paragraph summary of a reseaach project. Abstracts precede papers in research journals and appear in programs of scholarly conferences. In journals, the abstract allows readers to quickly grasp the purpose and major ideas of a paper and lets other researchers know whether reading the entire paper will be worthwhile. In conferences, the abstract is the advertisement that the paper deserves the audience's attention. (dikutip dari ucdavis.edu). 


Abstrak adalah ringkasan makalah atau ringkasan TA dalam satu paragraf. Karena berupa ringkasan, maka isinya mencakup semua isi makalah atau ringkasan TA, baik TA penelitian maupun TA perancangan (desain). Saripati Bab Pendahuluan, Studi Kepustakaan, Metodologi, Hasil – Pembahasan, dan Kesimpulan dihadirkan di dalam Abstrak. Intisari atau bagian terpenting dari setiap bab tersebut dimasukkan ke dalam Abstrak. Upayakan satu atau dua kalimat dengan maksimum 15  kata per kalimat. Menurut Abdullah, M (2018), Abstrak terdiri atas empat bagian, yaitu 1) Pendahuluan, 2) Apa yang dikerjakan, 3) Apa yang dihasilkan, 4) Penutup atau dampak. Tampak bahwa struktur Abstrak serupa dengan struktur makalah atau TA (khususnya penelitian). Yang TA desain juga mengikuti pola tersebut dengan tambahan bab Gambaran Umum Daerah Studi, Kriteria Desain, dan RAB.

Berkaitan dengan Pendahuluan dan Penutup pada naskah Abstrak, banyak penulis makalah (artikel ilmiah) yang meniadakannya. Artinya, boleh tidak ditulis. Namun sebaiknya ditulis minimal dengan satu kalimat yang mewakili bab tersebut. Adapun bagian “apa yang dikerjakan, dilakukan, dilaksanakan” adalah ringkasan dari Metodologi (Materials & Methods). Tulislah dengan satu atau dua kalimat yang meringkas metode atau cara pelaksanaan percobaan (eksperimen). Bagian “ apa yang dihasilkan” adalah ringkasan dari Hasil dan Pembahasan. Tulislah hasil yang utama (intisari) dalam makalah atau laporan TA. Hasil utama ini menjadi kekuatan dalam penelitian yang sudah dilaksanakan.

Apabila hasil penelitiannya banyak, bagaimana cara menuliskannya? Caranya adalah dengan mengubah susunan kalimat sehingga lebih ringkas dan tetap berisi materi yang banyak tersebut. Tahap ini perlu diulang-ulang sampai diperoleh kalimat yang tepat dan lengkap, menjadi representasi uraian yang panjang. Substansi hasil penelitiannya terbaca jelas dengan kalimat yang lain. Cara penulisan seperti ini dapat menghindarkan diri dari plagiasi atau persentase kemiripannya bisa sekecil-kecilnya, di bawah 15% apabila dicek dengan software pengecek plagiat. 

Yang terakhir adalah bagian Penutup. Bagian ini adalah ringkasan Kesimpulan. Isinya bisa satu atau dua kalimat yang menyatakan dampak penting dari penelitian. Dampak ini bisa di bidang ekonomi, sosiologi, politik, teori baru, materi ilmu dan teknologi terkait, pendidikan, dll. Bisa juga dilengkapi dengan kelebihan (keunggulan) dan kekurangan (keburukan) metode penelitian. Termasuk kemungkinan pengembangan ilmu dan teknologi di masa depan pada bidang penelitian yang sudah dilaksanakan.

Tampak bahwa Abstrak memiliki peran sangat penting dalam karya ilmiah, baik berupa makalah maupun laporan Tugas Akhir. Formatnya memang pendek atau ringkas tetapi isinya harus bernas. Agar bernas maka “isi” yang akan disampaikan harus dipikirkan serius dan “tulis dengan kalimat yang tepat dan lengkap”. Kalau diibaratkan dengan rumah, maka Abstrak adalah pintu gerbang masuk ke dalam rumah (makalah atau laporan TA). Sedangkan judul adalah plank nama dan nomor rumah tersebut. Judul adalah eye catcher, seperti orang melihat nama dan nomor rumah. Apabila judulnya menarik, maka peminat akan langsung masuk ke pintu atau Abstrak. Jika isinya sesuai dengan yang dibutuhkannya, maka mereka akan membaca seluruh isi naskah makalah atau laporan TA. 

Catatan akhir, meskipun diletakkan di bagian depan, setelah judul, tetapi penulisan Abstrak bisa dilaksanakan dengan baik dan benar apabila seluruh komponen naskah di dalam makalah atau laporan TA sudah tuntas ditulis. 

Let's try to write an Abstract, try again, and try again every time you can build your spirits and imaginations to have the best reason for your graduation day as soon as possible. You can be success like the others... 


Daftar Pustaka
1. Abdullah, Mikrajuddin, Tuntunan Penulisan Makalah Untuk Jurnal, Penerbit FMIPA ITB, 2018.
ReadMore »

June 1, 2018

Restorasi Citarum, dari Sungai Menuju Gelas

Restorasi Citarum, dari Sungai Menuju Gelas
Oleh Gede H. Cahyana
Lektor Kepala Prodi Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan

Masa berganti, musim berlalu, kini Citarum makin harum. Tidak hanya media massa lokal yang mengupas, tetapi juga media cetak ibukota dan daerah, termasuk media online. Luasnya sebaran kata Citarum harum ini tentu bukan makna harfiahnya. Sebab, hingga tahun 2018 ini sengatan bau amoniak, bau asam sulfida (seperti bau di Gunung Tangkubanparahu), bau selokan saat kemarau dan airnya yang keruh selama musim hujan sudah menjadi rahasia umum. Warga yang tinggal di sepanjang bantarannya tahu perihal “harumnya” itu. Lantas, mungkinkah makna leksikal harum bisa disematkan kepada Citarum?

Dokumen Historis
Bersinonim dengan kata rekonstruksi, rehabilitasi, reparasi, dan lain-lain, kata restorasi dipilih karena dikaitkan dengan storasi (storage) yang bermakna penyimpanan air untuk kebutuhan mendatang. Air harus disimpan, distorasi, diawetkan untuk kebutuhan masa depan. Adapun makna luasnya ialah pengembalian ke masa lalu ketika kesetimbangan ekologis Citarum masih terjaga. Parapihak harus merujuk ke masa lalu dengan membuka kembali dokumen historis Citarum, khususnya yang berkaitan dengan pertanian, perhutanan, perkebunan, pengairan, perairminuman, perairlimbahan, persampahan, perikanan, perlistrikan, dan ,,, kalau ada … pelayaran (menggunakan rakit bambu pada masa dulu).

Membedah dokumen historis akan memberikan akurasi jejak kualitas, kuantitas dan peruntukan air Citarum kepada semua orang yang mempelajarinya. Evaluasi catatan masa lalu ini bisa digunakan dalam perencanaan dan proyeksi kualitas, kuantitas, dan peruntukan pada masa yang akan datang. Upaya membaca kembali data dan peta Citarum masa lalu akan memberikan gambaran yang lebih jelas sehingga diharapkan menimbulkan perencanaan dan perancangan yang juga lengkap, lugas, dan tegas. Adakah contoh dokumen historis yang menjadi jejak dalam rekonstruksi daerah aliran sungai dengan hasil yang dinyatakan baik atau good practice?

Pemerintah dan parapihak bisa mempelajari contoh pengelolaan sungai dan lembah bantaran sungai di negara lain, misalnya Tennessee Valley Authority (TVA) (Wikipedia, 2018). Kehadiran otoritas ini ditandatangani oleh Presiden Franklin D. Roosevelt pada tahun 1933 untuk meluaskan pemanfaatan sungai di bidang pertanian, industri, dan niaga. Meskipun awalnya bergolak secara sosial politik, namun kebijakan ini berdampak positif karena mampu memahami kejadian masa lalu dalam rangkaian jejak historis dan memahami kebutuhan masa yang akan datang dalam visi yang kongkrit berupa perencanaan (planning) dan perancangan (designing) dengan mengutamakan manfaat terbesar diterima oleh warga sekitar sungai.

Citarum pun memiliki jejak sejarah. Satu di antaranya adalah slogan rehabilitasi kualitas air akibat limbah kegiatan manusia. Tidak hanya limbah domestik, industri, dan pertanian yang mencemari Citarum tapi juga dari cemaran vulkanik seperti Gunung Tangkubanparahu dan Kawah Putih. Inilah sumber riil polutan di Citarum. Merujuk ke jejak historisnya, perang melawan polusi sudah diprakarsai oleh Masyarakat Cinta Citarum (MCC) dan Program Kali Bersih (Prokasih) yang menjadi saksi sulitnya membersihkan Citarum. Hadir pula Gerakan Cikapundung Bersih (GCB) sebagai sungai yang “muaranya” di Citarum. Berikutnya Gerakan Citarum Bergeutar [bersih, geulis (Sunda: cantik), lestari]. (Cahyana, G. H, 2004). Lantas muncul program Cita Citarum (2010). Jejak historis terakhir adalah Gerakan Citarum Bestari yang menumbuhkan tidak kurang dari 120 Ecovillage. Sampah mulai berkurang, namun kualitas airnya masih buruk meskipun masih bisa diolah menjadi air yang lebih jernih dengan Gutertap. Kekeruhan Citarum yang mencapai 1.200 NTU (Nephelometric Turbidity Unit) bisa diturunkan hingga 25 NTU, dengan efisiensi 98%. Sebagai pembanding, kekeruhan air minum kurang dari 5 NTU (Cahyana, G. H, 2016).

Jejak selanjutnya adalah kuantitas. Kuantitas pohon di hulu Citarum menyusut sehingga lahan kritis mencapai 80 ribu hektar. Jumlah awal mata air 300 unit tetapi yang tersisa sekarang 144 unit. Ada ungkapan, leuweng ruksak, cai beak, manusa balangsak: hutan gundul, air habis, manusia menderita. Kuantitas airnya juga susut. Mengutip data Puslitbang SDA, debit normal air Citarum adalah 41 meter kubik/detik. Debit saat hujan 578 meter kubik/detik, dan pada musim kemarau 2,7 meter kubik/detik. Akibatnya, kebanjiran pada musim hujan dan pada musim kemarau terjadi gagal panen padi, reduksi daya PLTA Saguling, sampah mencapai 20.000 ton/ hari, air limbah 340.000 ton/hari dari 1.900-an industri, termasuk limbah berbahaya dan beracun pabrik tekstil. Padahal Citarum digunakan untuk perikanan, irigasi 240.000 hektar sawah, dan 80% warga DKI Jakarta memanfaatkan air Citarum sebagai sumber air harian, juga dijadikan air baku oleh PDAM. Sebuah foto Citarum ditampilkan pada Gambar 1.


Gambar 1. Air Citarum menjadi sangat keruh selama musim hujan (Dok. Amalia Rosalina, Teknik Lingkungan Univ. Kebangsaan, 2016)

Meretas Masalah Citarum
Berlandaskan pada kuantitas air Sungai Citarum yang terus menyusut dan kualitasnya yang memburuk maka dibuat retasan potensi masalahnya. Retasan ini adalah upaya mengubah air Citarum menjadi air di dalam gelas yang siap diminum dan ditampilkan dalam pertanyaan di bawah ini.
1. Adakah teknologi yang bisa diterapkan oleh masyarakat untuk membersihkan air Sungai Citarum?
2. Pengolahan manakah yang efektif dalam mengolah air Sungai Citarum, apakah pengolahan secara fisika, kimia, biologi, atau gabungan dua atau tiga jenis tersebut?
3. Berapakah efisiensi pengolahan modifikasi Vertical Roughing Filter dalam mengolah air Sungai Citarum?
4. Berapakah efisiensi pengolahan air Sungai Citarum menggunakan proses biologi di dalam lapisan biologi (biological slime atau schmutzdecke) Slow Sand Filter?
5. Berapakah efisiensi pengolahan air Sungai Citarum menggunakan variasi reagen dalam Advanced Oxidation Processes (AOPs)?

Agar tercapai tujuan merestorasi Citarum maka beberapa poin tujuan yang wajib dipertimbangkan, bahkan diupayakan agar terwujud seperti berikut ini.
1. Mengajak masyarakat peduli pada Sungai Citarum, dimulai dari lokasi tempat tinggalnya yang dekat dengan Citarum.
2. Memberikan alternatif unit pengolahan air Sungai Citarum secara fisika, kimia, dan biologi.
3. Menerapkan pengolah fisika dengan modifikasi Vertical Roughing Filter.
4. Menerapkan Slow Sand Filter untuk mengurangi bakteri di dalam air dengan optimasi pertumbuhan microbiological slime atau lapisan schmutzdecke.
5. Mengolah air Sungai Citarum dan efluen Multistage Filtration dengan proses kimia yaitu Advanced Oxidation Processes (AOPs).

Indikator Operasional
Mewujudkan slogan Citarum Harum menjadi nyata memerlukan pelibatan warga di sekitar Citarum.
1. Tiga aspek perubahan yang diharapkan ialah aspek kognitif, yaitu masyarakat bertambah ilmu dan pengetahuannya tentang kualitas air minum dan potensi bahaya air yang tercemar limbah. Penambahan ilmu ini bisa diketahui dengan memberikan pertanyaan atau wawancara tentang pentingnya kualitas air bersih. Adapun sikap /kesadaran adalah ranah afektif yang tampak dari perubahan kebiasaan dalam memanfaatkan air untuk masak, mencuci sayur, ikan untuk dijual di warung, pembuatan kue, dll. Perubahan sikap atau afeksi ini diukur dengan penggunaan air bersih, bukan lagi air kotor atau terinfeksi bakteri. Yang ketiga adalah penambahan keterampilan masyarakat dalam membuat filter air minum dengan sumber air dari sungai yang keruh. Indikatornya berupa kemampuan membuat filter air di lokasi lain dengan sumber air dari Sungai Citarum. Masyarakat bisa meniru pola dan material filter yang dijadikan tema dalam program ini.
2. Sejumlah perubahan fisik bisa terjadi setelah program ini selesai. Selain filter, akan ada masyarakat yang membuat filter sejenis di lain lokasi di tepi Citarum. Masyarakat menggunakan air yang lebih bersih daripada sebelumnya dan dengan kualitas yang lebih baik, sesuai dengan baku mutu Permenkes No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Warung dan UMKM yang ada di desa akan makin banyak menggunakan air bersih. Untuk mengukurnya adalah dengan cara menghitung jumlah filter dan jumlah warung atau UMKM yang menggunakan air bersih dalam usaha dagangnya. Perubahan juga terjadi dalam kegiatan gotong royong pada saat membangun Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) di beberapa lokasi lain di bantaran Citarum.
3. Terwujud kerja sama dengan mitra seperti PDAM dalam memberikan pemahaman tentang air minum dan kesehatan kepada masyarakat. PDAM adalah BUMD yang ahli dalam pengolahan air baku menjadi air minum. Berbagai masalah yang pernah dihadapi oleh PDAM akan menjadi masukan untuk program ini. Pascaprogram ini, PDAM juga ikut berperan, seperti memberikan bimbingan praktik dalam mengelola instalasi dan terjalin kerjasama apabila material filter akan diganti atau memperoleh hibah dari PDAM, apabila ada material filter yang tidak digunakan lagi di PDAM.
4. Pemberian tanggung-jawab kepada masyarakat desa untuk merawat dan mengelola IPAM. Bentuknya adalah pengelola lokal yang dimotori oleh aparat desa, terutama berkaitan dengan keamanan peralatan instalasi dan operasi filter.
5. Kelembagaan baru adalah berupa organisasi yang mengoperasikan, merawat, dan menjaga keamanan instalasi. Strukturnya sederhana, yaitu koordinator dan pelaksana lapangan. Organisasi ini di bawah struktur desa atau bisa juga di luar organisasi desa tetapi masih dipantau oleh aparatur desa.

Dengan demikian, penerapan kegiatan yang dipaparkan di atas diharapkan bisa mengubah air Sungai Citarum menjadi air siap diminum yang tersedia di dalam gelas. Lokasi binaan bisa dilaksanakan di desa-desa di sepanjang bantaran Citarum, terutama di lokasi atau dekat dengan objek wisata di tepi Citarum.

Citarum Heritage
Kalau ada Bandung Heritage, maka boleh saja melestarikan fungsi lingkungan Citarum dengan Citarum Heritage. Kalau ada Ciletuh Geopark, maka boleh juga mengukuhkan Citarum Ecopark atau Waterpark. Kalau Ciletuh banyak dikunjungi wisatawan dalam dan mancanegara untuk belajar dan mengagumi ciptaan Tuhan, maka Citarum pun bisa dijadikan situs untuk belajar tentang sistem irigasi, sistem pengolahan air minum, sistem pengolahan air limbah, sistem pengelolaan sampah, sistem perikanan, PLTA, olah raga air. Citarum Heritage bisa menjadi embrio otoritas pengelola Citarum yang lebih bergigi, seperti Otoritas Tennessee Valley tersebut. Otoritas Citarum Heritage ini tentu harus kuat di akar rumput dengan melibatkan ecovillage yang terus tumbuh, industri, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kota, dan masyarakat serta ulama.

Ulama, terutama di Jawa Barat, bisa menjadi ujung tombak dalam restorasi Citarum. Sosok kharismatik di pesantren dengan ribuan santri dan ustadz, berpotensi besar dalam menggerakkan warga agar sikap dan perilakunya terhadap sumber daya hutan, air, sampah, air limbah, sawah, dan lain-lain berubah membaik. Ulama menjadi rujukan dalam ilmu dan amal ibadah yang cinta makhluk, termasuk air, tanah, udara, dan sumber daya alam lainnya. Merusak komponen alam termasuk perbuatan buruk yang sudah disitir di dalam Al Qur’an, bahwa,Telah tampak kerusakan (lingkungan) di darat dan laut karena ulah manusia (Ar Ruum: 41). Meminta kesediaan ulama dalam kampanye ekologi bisa menjadi poros utama dalam perbaikan lingkungan. E.F. Schumacher berkata, “Krisis lingkungan terjadi bukan karena pengembangan sains dan teknologi, melainkan hasil dari sikap mental dan moral manusia serta life-style dunia modern”. Ungkapan ini akan efektif dilaksanakan dengan pendekatan agama oleh ulama, ustadz, dan ribuan orang santrinya. 

Akhir kata, meskipun tidak harum secara harfiah, andaikata Citarum berubah wajah menjadi lebih bersih, lebih jernih, lebih bersahabat dengan masyarakat karena tidak banjir lagi, panen padi signifikan, maka inilah awal keberhasilan menjadikan Citarum sebagai heritage Jawa Barat. Bahkan menjadi cermin bagi semua sungai di Indonesia, terutama sungai-sungai yang melewati banyak kota dan kabupaten di Indonesia. 


Daftar Pustaka
1. Cahyana, G. H., PDAM Bangkrut? Awas Perang Air, Sahara Golden Press, 2004.
2. Cahyana, G. H., Pengembangan Bantaran Citarum, Pikiran Rakyat 14 Juni 2016.
3. Rosalina, A., Filtrasi Multitahap, Tugas Akhir Teknik Lingkungan, UK, 2016
4. Puslitbang SDA, HU Pikiran Rakyat, 2018.

ReadMore »

May 30, 2018

Sekilas Cara Menulis Tugas Akhir

Sekilas Cara Menulis Tugas Akhir
Oleh Gede H. Cahyana

BAB 1 Pendahuluan
Sesuai dengan namanya, Pendahuluan ini adalah bagian awal dari badan Tugas Akhir (TA). Isinya fokus pada latar belakang atau yang melatari penelitian ini dilaksanakan. Apa saja yang menyebabkan penelitian ini diadakan? Tulislah sebab-sebabnya dalam satu atau dua alinea. Hal ini biasanya berkaitan dengan “ada hal yang menarik dan bermanfaat” dalam tema penelitian. Bahaslah hal menarik ini di bagian awal Pendahuluan, yaitu hal-hal yang sifatnya umum. Agar mudah menulis bagian awal ini, maka bacalah banyak-banyak jurnal ilmiah yang membahas tema (judul) yang akan diteliti. Sebaiknya jurnal ilmiah yang terbaru atau lima tahun terakhir dalam bidang Teknik Lingkungan. Dapatkanlah “hal-hal yang menarik dan bermanfaat” di dalamnya.


Dari jurnal ilmiah tersebut lantas disarikan tentang “posisi perkembangan ilmu yang akan diteliti dan pemahaman para ahli di bidang tersebut”. Baca dan kaji lagi semua artikel ilmiah dan TA yang berkaitan dengan tema (judul) penelitian, baik tulisan sendiri (kalau sudah pernah menuliskannya) maupun tulisan orang lain. Setelah menelaah artikel dan TA tersebut akan diperoleh beberapa kesimpulan tentang masalah yang belum diperoleh jawaban atau solusinya atau belum optimal hasilnya. Masalah inilah yang harus diidentifikasi dan akan dicari jawabannya dengan cara penelitian. Akan lebih mudah memperoleh “masalah” apabila kita membaca banyak-banyak artikel ilmiah yang tema (judul) hampir sama. Yang sering dinyatakan sebagai “masalah” dalam penelitian adalah “proses yang butuh waktu lama”, “biaya mahal”, “sulit diterapkan/digunakan”, “material/bahan bahaya bagi manusia dan/atau lingkungan”, “material jarang atau sulit diperoleh”, “belum ada kesesuaian dengan teori yang ada”, "belum bisa luas diterapkan", “metodologi berbelit”, “sulit direproduksi”, dan seterusnya.

Dengan rincian masalah tersebut maka dibuatlah usulan untuk mendapatkan solusi atau jawaban atau penyelesaiannya. Tulislah hal-hal yang akan dilaksanakan untuk menjawab masalah yang sudah diidentifikasi tadi. Misalnya, tulislah alat yang akan dibuat, apakah berupa bioreaktor, kemireaktor, filter dan jenis-jenisnya atau yang lainnya (ini berupa narasi saja tapi gambar dan skema dimasukkan di Bab Metodologi). Bisa juga rencana survey ke lapangan apabila penelitian berkaitan dengan kondisi lapangan (udara, air, tanah dll). Semua upaya ini adalah untuk memperoleh jawaban (solusi) terhadap masalah yang sudah diperoleh tadi. (The main questions are: why did you do the work? And what is its purpose?)

Bab 2 Studi Kepustakaan
Sesuai dengan namanya, bab ini berisi teori tentang tema (judul) penelitian dari jurnal ilmiah, buku teks, website, blog, dari media massa, atau media sosial yang semuanya harus bisa dilacak keabsahannya. Ada URL atau permalink-nya dan diberi keterangan kapan diunduh. Mulailah dengan tulisan bersifat umum tentang tema penelitian. Susunlah menjadi subbab-subbab yang logis secara deduktif, yaitu umum ke khusus. Setiap subbab dilengkapi dengan sumber pustaka berupa jurnal ilmiah (usahakan yang terbaru atau lima tahun terakhir di bidang Teknik Lingkungan). Pelajari tata-kutipnya, yaitu (nama belakang penulis, tahun terbit). Tetapi jurnal yang lama juga boleh saja asalkan memang betul dibutuhkan lantaran ada materi yang perlu diambil (dikutip) dari jurnal lama tersebut, apalagi kalau menjelaskan perihal aspek sejarah sebuah teori atau rumus. Penulisan subbab-subbab dalam Studi Kepustakaan ini boleh mengacu pada penulisan yang ada di buku teks tentang materi penelitian tersebut atau bisa juga mengikuti pola yang ditulis di artikel ilmiah (jurnal ilmiah) yang dijadikan rujukan. Pola penulisan fleksibel dan sangat bergantung pada gaya atau style penulis (peneliti).

Setiap alinea yang ditulis dan berisi sumber data atau kutipan, maka wajib ditulis sumbernya, baik berupa buku teks, jurnal ilmiah, atau manuskrip lainnya. Dilarang copy-paste karena bisa terdeteksi sebagai plagiasi. Sekarang setiap dosen, minimal lembaga di kampus sudah memiliki software untuk cek ada tidaknya plagiasi atau kemiripan yang berlebih.  Di bab ini penulis (peneliti) wajib paraphrase, yaitu penulisan ulang dengan kalimat sendiri. Cara parafrase ini bisa mulai dengan menuliskan Peta Pikiran. Caranya ada di sini.


Bab 3 Metodologi
Di dalam bab ini, isinya adalah “metode” dan “alat dan bahan” yang digunakan dalam penelitian. Flow chart ditulis dengan gambar yang baik dan benar. Baik artinya jelas, garis-garisnya tegas, bagus dilihat. Benar maknanya adalah ukurannya proporsional: yang panjang digambar panjang, yang pendek digambar pendek atau berskala sehingga tampak riil (nyata). Gunakan dua dimensi, lengkap dengan ukuran (dimensi) dalam cm atau mm. Gambar ini mengikuti kaidah dalam MK Menggambar Teknik. Bisa juga dilengkapi dengan gambar tiga dimensi atau isometri dengan syarat proporsional dan indah dipandang (sebagai nilai tambah). Alat ini diberi penjelasannya. Juga alat-alat lain yang digunakan seperti glassware, jar test, mikroskop, dst. Jelaskan juga speks alatnya. Alat mekanikal-elektrikal, neraca analitis, dll dikalibrasi terlebih dulu.

Berikutnya adalah bahan penelitian. Tulislah zat-zat kimia yang digunakan, apa mereknya, kemurniannya, konsentrasi atau dosis yang digunakan, bagaimana cara menggunakannya. Kondisi lingkungan (temperatur, pagi, siang, malam, tekanan udara, kelembaban, hujan, tidak hujan, dll) untuk penelitian di lapangan. Tuliskan juga cara pengambilan data, cara pengolahan data, statistiknya, software-nya apa (misal Epanet, Waternet, dll), rumus-rumusnya apa saja, dll. Bisa dikatakan, penulisan dalam bab ini akan memampukan orang lain untuk mengulang penelitian yang sudah dilaksanakan dan hasilnya sama atau hampir sama dengan raihan penelitian yang kita lakukan sebelumnya. Disebut juga sebagai bagian eksperimen, pertanyaan yang harus dijawab di bab ini adalah: what materials did you use? How did you use them?

[[Namun demikian, penulisan langkah dalam penelitian sebaiknya berbentuk narasi atau cerita yang mengalir. Tidak disusun seperti resep masakan atau urutan praktikum di laboratorium kimia misalnya. Urutan detilnya bisa disajikan di dalam lampiran TA, termasuk speks alat mekanikal-elektrikal dan lain-lain di taruh di sini.]]

Bab 4 Hasil dan Pembahasan
Bab 4 ini berisi hasil yang diperoleh selama penelitian. Hasil ini disebut data, baik data mentah maupun data olahan. Data adalah serial beberapa percobaan atau eksperimen dengan variasi tertentu, Lakukan minimal lima kali percobaan agar diperoleh data yang valid (jangan sekali-kali mengubah data). Data layaknya ditampilkan dalam tabel atau grafik. Lebih baik ditampilkan dalam satu jenis saja. Andaipun harus keduanya, yaitu tabel dan grafik, maka grafiknya harus bisa memberikan tampak visual yang lebih jelas dan tegas (gamblang) daripada tabelnya. Tabel dan gambar ini dinamai dengan nomor urutnya masing-masing. Gunakan angka Arab. Tabel dan grafik diberi penjelasan (legenda) yang mudah dipahami oleh pembaca. Adapun penjelasan rincinya dituliskan di dalam teks laporan. Sebaiknya (jika mungkin) tabel dan gambar memiliki format “portrait”, yaitu tinggi > lebar.

Di bagian Pembahasan, penulis harus menjelaskan data yang diperolehnya. Penulis (peneliti) harus membahas data yang ditampilkan berupa tabel atau grafik dan menjadi bagian penting dalam pencapaian tujuan penelitian. Berilah penjelasan, mengapa data yang diperoleh cenderung naik atau turun atau stagnan, dst. Bandingkan dengan teori dan hasil penelitian sejenis yang terbit di jurnal ilmiah atau di dalam TA sebelumnya. Tulislah argumentasi lengkap agar semua masalah dalam penelitian bisa terjawab sehingga tujuan penelitiannya tercapai. Andaikata hasil yang diperoleh berbeda (jauh) dengan penelitian orang lain maka paneliti harus bisa menjelaskan sebab-musababnya, baik berdasarkan teori yang sudah ada atau menyusun penjelasan (teori) yang baru. Teori yang sudah ada di jurnal ilmiah dan buku teks bisa digunakan untuk lebih menguatkan hasil penelitian. Caranya adalah dengan membaca buku dan artikel ilmiah di berbagai jurnal sebanyak-banyaknya.

Pendeknya, eksaminasi hasil penelitian, terangkan signifikansinya, jawab pertanyaan (perumusan masalah) yang ditulis di Pendahuluan.

Bab 5 Kesimpulan
Simpul bisa diartikan ringkas, lengkap, padat, terpusat. Bagian ini berisi tulisan yang ringkas tetapi padat (lengkap). Isinya adalah bukti atau jawaban atas hipotesis (kalau penelitian punya hipotesis) atau jawaban atas tujuan penelitian yang ditulis di Bab 1. Boleh juga dituliskan berbagai kendala dalam metode penelitian yang sudah dilaksanakan, potensi penelitian lanjutan di dalam road map penelitian, modifikasi alat (reaktor), dll. Hanya saja, jangan mengklaim terlalu banyak dan jangan terlalu khawatir  dalam mengklaim hasil penelitian.

Demikianlah ringkasan isi TA di bidang penelitian untuk Prodi Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan RI di Bandung. Bidang Perancangan agak berbeda sedikit, dengan tambahan Gambaran Umum Daerah Studi dan Kriteria Desain. Semoga semua mahasiswa yang sedang dan akan TA bisa mencoba tips di dalam tulisan ini. I'm sure you can do that! Take action right now. Ok? Of course you can. Isilah libur ini dengan menulis proposal, melengkapi bahasan TA, atau KP, atau persiapan seminar. Semangat dech.... ntar Oktober wisuda ya.. dua rius lho... (Tentu tips sekilas ini bisa juga digunakan oleh mhs yang bukan TL dengan beberapa perubahan).

Daftar Pustaka
1. Abdullah, Mikrajuddin. Tuntunan Penulisan Makalah Untuk Jurnal, FMIPA ITB, 2018.
2. O’Connor, Maeve, Writing Successfully in Science, Chapman & Hall, 1991.

ReadMore »

May 28, 2018

Mimpi Recycle Center di Bandung

Oleh Gede H. Cahyana

Sejak longsor TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 yang menewaskan 147 orang, masalah sampah di Bandung masih berjalin berkelindan. Upaya solusi terus dilaksanakan misalnya dengan beragam bentuk bak sampah praktis dan artistik namun dirusak oleh vandalisme warga. Terapi kejut (shock therapy) terhadap mobil tanpa wadah sampah juga sudah dicoba, termasuk pembuatan biodigester di sejumlah lokasi seperti di pasar Gedebage. Namun, masalah sampah setia bergelayut dan pemerintah kewalahan memindahkan sampah dari Bandung ke TPA Sarimukti. Upaya kuratif ini adalah bagian akhir dari pengelolaan sampah. Perlu tindakan preventif di bagian awal timbulan sampah dengan menggencarkan lagi pendidikan lingkungan hidup (PLH).

Ironisnya, pendidikan lingkungan hidup di sekolah justru meredup ketika penduduk Bandung makin banyak. Selayaknya PLH ini kian dikembangkan, diperluas hingga ke masyarakat dengan menggerakkan pengurus RT/RW yang dimotori oleh sarjana teknik lingkungan di tingkat kecamatan. Pendidikan lingkungan hidup ini menjadi aset untuk perubahan sikap dan perilaku, memandang sampah sebagai berkah, sumber daya yang bernilai ekonomi, waste for one is added value for another.


Komposisi dan Potensi
Data terakhir timbulan sampah di Kota Bandung ialah 2.255 ton/hari (PD Kebersihan, 2015). Apabila dimisalkan dengan sapi seberat satu ton seekor, maka di Kota Bandung bermunculan 2.255 sapi jumbo setiap hari. Kalau satu truk mampu memuat 5 ekor sapi, maka muncul 451 truk pengangkut sapi yang tersebar di wilayah Kota Bandung setiap hari. Merujuk pada data PD Kebersihan, yang mampu dikelola sekira 1.100 ton/hari sehingga  tersisa 1.155 ekor “sapi yang berkeliaran” di Kota Bandung. Dari total berat sampah tersebut, komposisinya adalah: organik 60% atau 271 truk dan anorganik 40% atau 180 truk setiap hari. Dari 271 truk tersebut yang diolah menjadi kompos kurang dari 1 persen atau hanya dua – tiga truk saja. Yang diolah di semua biodigester kurang dari 2 persen atau 4 – 6 truk saja sehingga sisanya 265 truk berisi lima “sapi” setiap truk dibuang ke TPA, sungai, selokan, diurug, dibakar, dan lain-lain.

Adapun sampah anorganik yang 40% tersebut (180 truk setiap hari), kira-kira 20%-nya bisa didaur ulang (recycleable) yang saat ini dikelola oleh sektor informal, pedagang barang bekas, dan industri daur ulang swasta, termasuk bank sampah. Hanya saja, mayoritas pengolahan barang recycleable itu dilaksanakan di luar Bandung. Sisanya 80% atau 144 truk material recycleable dibuang ke TPA atau tempat-tempat lainnya. Inilah sesungguhnya potensi ekonomi tersembunyi sampah Bandung. Komposisi dan potensi sampah recycleable ini bervariasi dari hari ke hari, bulan ke bulan. Angka yang disajikan di atas bisa berubah setiap saat.

Bandung Recycle Center
Tahun baru adalah tahun sampah, Natal dan Idulfitri pun kalah. Volume atau berat sampah pada tanggal 1 Januari melebihi hari-hari lainnya. termasuk yang recycleable berbahan plastik. Pemulung dan bandar sampah panen besar. Mereka tidak tidur dan bekerja sampai pagi, ketika “selebritis: orang-orang yang merayakannya (to celebrate)” mulai tidur. Dini hari itu juga insan kebersihan kota bertugas, tak hanya di jalan dan permukiman, tetapi juga puluhan armada truk berseliweran dan keramaian petugas TPA yang menatap kembang api di langit dalam keheningan pinggir hutan pinus Sarimukti.

Sebagai daerah tujuan wisata, apalagi libur panjang tahun baru, Bandung didatangi oleh orang dari luar kota yang membuang sampahnya di Bandung. Kalau diambil positifnya, selain mampu menggerakkan aktivitas ekonomi, wisatawan dan warga Bandung pun ikut memberikan kehidupan kepada sektor “pekerja sampah” khususnya yang recycleable.

Ada empat kategori sampah anorganik recycleable, yaitu kertas, plastik, logam, dan kaca (beling). Komposisi empat jenis sampah ini bervariasi di setiap kota. Kota besar lebih banyak sampah anorganiknya  ketimbang kota kecil. Di dalam satu kota pun, variasi anorganik ini terjadi dan biasanya karakteristik permukiman-perumahan ikut mempengarui jenis dan kuantitasnya. Ini sebabnya, sebagai kota besar, Bandung membutuhkan recycle center, pusat daur ulang.

Fokus sampah yang didaur ulang juga bergantung pada komposisi sampah dan kondisi sektor informal pendaur ulang sampah bernilai ekonomi tinggi. Apabila pemerintah ingin berperan dalam daur ulang ini maka opsinya tidak harus untung secara ekonomi tetapi untuk melayani warga sekaligus membuka peluang baru dalam daur ulang sampah. Sampah yang rendah nilai ekonominya (low value) seperti plastik kresek dan lembaran membutuhkan peran serta dan subsidi pemerintah.

Perlu juga kerjasama dengan perguruan tinggi atau lembaga penelitian agar sampah low value bisa dijadikan barang yang bernilai (valuable). Plastik keras bekas wadah air minum, soft drink yang bernilai ekonomi tinggi sudah banyak dipulung dan diolah oleh swasta. Akibatnya, semua plastik kresek dan lembaran yang tidak diminati oleh pemulung dan bandar dibuang ke TPA sehingga memperpendek usia-guna TPA. Untuk recycle center ini, pemerintah jangan berharap untung dulu dan break event point yang cepat. Keuntungan itu ada tetapi di belakang, sekian tahun kemudian.

Recycle center juga bisa dijadikan lokasi belajar PLH murid dan masyarakat. Tidak hanya sampah yang dipelajari, tetapi juga rain water harvesting sebagai sumber air pencuci sampah, instalasi pengolahan air minum, instalasi pengolahan air limbah dan pengolahan lumpur (sludge). Di dalam gedung recycle center, penulis melihat lalu-lalang truk pembawa sampah dari seluruh kota. Suara mesin penggerak konveyor (conveyor belt) bergema dengan deru truk dan gemericik air cucian sampah.

Di unit IPAL penulis menyaksikan gerak motor pengaduk air limbah dan zat kimianya. Lalu… bruumm, mesin truk memekakkan telinga, di sebelah penulis berdiri. Kaget, penulis terkesiap…, mata terbuka, mengingat-ingat, di atas meja tampak buku Integrated Solid Waste Management, terbuka di halaman yang membahas recycle center, material recovery facilities. Ternyata penulis bukan berdiri di gedung recycle center tetapi sedang duduk di kursi lalu tertidur dan bermimpi. Mimpi tentang Bandung Recycle Center (BRC).

Semoga BRC terwujud suatu saat kelak, beroperasi optimal serta menjadi salah satu sarana yang membantu kebersihan kota selain biodigester, komposter, TPA, dan perilaku warga yang kian bersahabat dengan sampah sambil berkata “sayonara PLTSa”. *

ReadMore »

August 3, 2015

Antara NU - Muhammadiyah, Saya Pilih …

Antara NU - Muhammadiyah, Saya Pilih …
Oleh Gede H. Cahyana


Awal Agustus 2015 ini, dua ormas besar menggelar muktamar. Yang kesatu NU, yang kedua Muhammadiyah. Yang satu di Jombang, yang kedua di Makassar. Kata kabar di koran dan medsos, ada ricuh di NU, tertib di Muhammadiyah. Pelibatan jin (makhluk gaib) terbetik di Jombang, nihil makhluk halus di Makassar. Sejumlah tokoh NU sarat dengan label JIN (Jaringan Islam Nusantara), tokoh Muhammadiyah nihil. Politisi dari partai tertentu disinyalir bermain,  nihil di Muhammadiyah. Uang bicara, di Muhammadiyah tidak. Begitulah sejumlah saripati yang saya baca di media massa dan medsos. Pembaca bisa menambah hal-hal lainnya.

Namun demikian, intisari dari NU pada masa awal dahulu, sama dengan Muhammadiyah. Simpangan di NU berlangsung sedikit demi sedikit, dan tahun 2015 ini tampaknya akan menjadi bukit. Apalagi kalau tokoh JIL, JIN dan lain-lain ikut berkuasa di NU dan PKB. Masyarakat grassroot NU adalah mayoritas kalangan awam dan sangat patuh pada kyai. Mereka terbiasa mencium tangan kyai sebagai simbol penghormatan atas ilmu yang dimiliki dan disebarkan oleh kyai. Namun sekarang, apalagi masalah itu justru muncul dari para tokoh NU maka bisa merunyamkan kalangan grassroot ini. Solusinya, pemimpin NU hendaklah yang sesuai dengan spirit KH. Hasyim Asy’ari, pendirinya. Mempelajari lagi catatan, tulisan, ceramah dan dakwah beliau, apakah deviasinya saat ini sudah jauh ataukah dekat, lantas pemimpin ini dengan ikhlas berupaya mengembalikannya ke spirit awal tersebut.

Ada kejadian yang ingin saya bagikan. Suatu masa, saya naik kereta api, Kereta api terus melaju ke Surabaya. Bising. Tak hanya suara kereta yang terdengar, tangis anak-anak pun bercampur dengan desiran angin lewat celah jendela bagian atas. Tubuh terus bergoyang-goyang. Agak pegal ini badan, tulang terasa kaku. Saya menggeliat. Supaya nyaman saya berdiri, melihat-lihat ke depan ke belakang. Pandangan saya lepaskan juga ke samping kanan dan kiri, menembus jendela kereta. Agak gelap. Lampu rumah tepi rel masih menyala, ada yang terayun-ayun.

Saya teguk air kemasan yang saya beli di stasiun Bandung; masih sisa setengah botol ukuran 1,5 liter. Segar menjalar-jalar di kerongkongan. Nikmat. Tak lama lagi Mutiara Selatan tiba di stasiun Gubeng. Nanti saya mau mandi dulu, sebelum naik Mutiara Timur, pikiran saya membayangkan kesegaran air di kamar mandi stasiun. Sejurus kemudian seorang penumpang di kiri, di sebelah jok saya buka suara berbasa-basi. Saya menimpali. Setelah ngobrol ini-itu dia bertanya.

“Mas ini aliran apa?”
Saya kaget. Tak bisa langsung menjawabnya. Aliran, kata inilah yang membingungkan saya.
“Mas ini NU apa Muhammadiyah?”
Setelah diam sejenak saya menjawab, “Saya Islam, Pak.” Suara saya datar-datar saja.
Lha, iya. Tapi apa Mas ini NU?”
“Saya tidak NU, Pak,” sambil menggeleng.
Dia mengangguk-anggukan kepalanya. Sulit saya tafsirkan apa yang ada dalam benaknya. Kepalanya disandarkan, matanya agak terpejam. Saya meneguk air lagi, segar menjalar.

“Saya juga tidak Muhammadiyah, Pak.”
Dia kaget dan dengan serius dia bertanya.
“Jadi Mas ini aliran apa?”

Saya agak rikuh menjawabnya. Saya baru kenal bapak ini di sini, di kereta api ini dan sepagi ini sudah ditanya soal aliran dalam agama. Saya sendiri sejujurnya bukanlah NU, bukan Muhammadiyah, bukan Persis.

Petugas restorka mendekat. Tangan kirinya dengan setimbang mengusung nampan minuman. Saya membeli teh panas setelah berbasa-basi dengan teman ngobrol saya. Dia tidak membeli apa-apa. Dikeluarkannya botol plastik yang berisi minuman kuning-coklat dari tasnya.

“Saya Islam saja, Pak.” Teh pun saya seruput, terasa panas di lidah sambil otak terus berpikir-pikir apa pertanyaan bapak ini selanjutnya. Di kejauhan di ufuk timur, di atas bukit itu, sinar kemerahan mulai tampak. Suasana tambah ramai. “Ular baja” yang saya tumpangi berguncang-guncang dan terompetnya sesekali memekik.

“Mas, kita harus punya aliran. Supaya jelas agama kita,” katanya.

“Ooo...,” cuma itu yang keluar dari mulut saya. Tak kuasa saya melanjutkan obrolan itu. Saya memilih mengagumi lembayung di ufuk yang mulai bercahaya. Kami diam. Saya diam, bapak itu membaca korannya. Tapi pikiran saya ramai, jauh lebih ramai ketimbang deru kereta. “Apakah harus saya jawab,” batin saya.

Lantas, pilih yang mana?

Selamat bermuktamar NU dan Muhammadiyah. Dua ormas yang berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia, lewat tokoh-tokohnya. Pada masa itu, ulama juga menjadi politisi. Tetapi, mereka benar dalam berpolitik. Lurus di pentas pengaturan negara. Tidak ada dikotomi dalam seorang manusia yang menjadi ulama (berilmu agama) dan menjadi politisi. Mereka bagai uang bersisi dua. Idealnya, ulama adalah politisi, politisi pun hendaklah berilmu agama. Ulama yang intelek, intelek yang ulama, bukan intelek yang sekadar tahu ilmu agama.

I love you, NU, love you Muhammadiyah. May Allah bless and save you. *


Tampak, betapa kedua tokoh pendiri Muhammadiyah dan NU di atas adalah bersaudara. Keduanya belajar pada Kyai Cholil di Bangkalan, Madura.
ReadMore »

July 31, 2015

Anis Matta di Mata Saya

Anis Matta di Mata Saya
Oleh Gede H. Cahyana


Bukanlah kader PKS, saya ini. Bukan pula anggota. Bukan keluarga dari kader dan anggota PKS. Teman? Ya, betul. Beberapa teman saya adalah kader dan anggota dewan dari PKS. Tapi ada juga teman yang dari parpol lain. Jadi, biasa-biasa saja. Simpatisan saja, saya ini. Bersimpati pada perjuangan “mengajak kebaikan, melarang keburukan”. Mengajak muslim yang malas shalat menjadi rajin ke masjid. Mengajak membayar zakat, infak, sedekah. Mengajak belajar mengelola bisnis, mengelola sekolah, pesantren, mengelola ekonomi dalam lingkup keluarga, RT-RW, kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan negara. Artinya, mengelola hal-hal tersebut adalah bagian dari ibadah, kewajiban sebagai muslim dengan tujuan “negara menjadi baik dan diampuni Sang Khalik”.

Tidak kenal saya pada pria dari Sulawesi Selatan ini. Sekadar tahu saja. Tahu dari artikel yang ditulisnya di majalah-majalah sejak dekade 1990-an hingga sekarang. Tahu dari buku-bukunya. Lantaran gaya tulisannya yang khas, yang lantang tanpa bertele-tele, sukalah saya “mengunyah” paparannya. Gestur dan mimik mukanya saat orasi, kala bicara, ketika berjalan makin menguatkan kekaguman saya padanya. Cerdas dan tangkas, ringan badan dan cekatan, bukan berlebihan apabila banyak khalayak yang berkata demikian. Sosok lincah dengan wajah lumayan tampan bagi ukuran orang Indonesia umumnya, menjadi gaya tarik magnet bagi pendengar ceramahnya. Fasih bahasa Arabnya dan dialeknya tak dapat dipandang sebelah mata. Ia Anis Matta, seorang presiden di partai yang lahir setelah Orde Baru runtuh. Kisah kasih bersama istrinya juga menjadi catatan khusus. Tentu, tidak bisa ditatap dengan mata nanar membelalak apakah keluarganya bahagia. Apa itu bahagia? Hanya Anis Matta yang tahu. Hanya istrinya yang tahu.

Persahabatannya dengan Prabowo, seorang pengukuh kekukuhan Kopassus, pada Pilpres 2014 makin meluaskan langkah dan area politiknya. Tidak sedikit yang iri pada keharmonisan dua orang ketua partai ini dan hendak diceraiberaikan. Namun, kematangan dalam politik, pengalaman di dunia akademik, menjadi pendidik, tentu tak mudah mengusik Anis Matta. Melihat dari jauh, jauh di seberang horison kehidupan,  ia layak lanjut di “tahta” dengan mahkota “presiden” PKS. Tak hanya IQ, tetapi juga EQ, dan SQ-nya yang kuat yang sertamerta mengukuhkan dirinya menjadi personal yang layak di tampuk kursi Presiden PKS. Anis Matta di nomor urut satu. Berikutnya, dalam kaca mata saya, sosok yang mampu menjadi panutan adalah Hidayat Nur Wahid. Yang ketiga…, belum tahu saya. Untuk saat ini, hanya dua orang tersebut yang mampu menjadi nahkoda PKS. Hanya AM. Atau, hanya ada satu opsi selain AM, yaitu HNW. *

ReadMore »

(Jangan) Tutup TPA Sarimukti


(JANGAN) TUTUP TPA SARIMUKTI
Oleh Gede H. Cahyana


NIMBY, not in my back yard adalah sikap yang ingin enak sendiri. Sampahku adalah limbahmu. Timbulkan sampah sebanyak-banyaknya, tetapi ingin rumah tetap bersih. Bau asam menyengat diberikan ke tetangga. Bisakah diamalkan prinsip waste for one is added value for another? Sampah diubah menjadi bernilai tambah dan berkah? Teoretisnya bisa, tetapi praktisnya belum terlaksana. Penyakit NIMBY ini tidak hanya terjadi di keluarga tetapi juga “keluarga” dalam makna pemerintahan daerah. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB), sebelumnya Kabupaten Bandung, merasa dijadikan tong sampah oleh Pemerintah Kota Bandung dan Kota Cimahi.

Kondisi Teknis
TPA Sarimukti bisa disebut sebagai korban “kekerasan dalam rumah tangga” pemerintah daerah. Betapa tidak, lokasi ini muncul sebagai tanggap darurat atas longsor TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 dengan korban meninggal yang tercatat 176 orang. Karena darurat, tentu sifatnya sementara. Tetapi ternyata menjadi satu dekade. Ini tentu pelanggaran terhadap komitmen awal pada waktu itu, bahwa akan dibangun TPA berbasis sanitary landfill di suatu tempat di Bandung atau sekitarnya. Rentang waktu sejak bencana sampah sampai dengan medio tahun 2015 ini 10 tahun. Apalagi tidak ada yang namanya sel-sel sampah lahan urug saniter di Sarimukti. Bentuknya hanya gunungan sampah yang dibuang begitu saja tanpa pelapisan tanah urug atau material lainnya yang layak dan teruji. Open dumping. Sarimukti adalah open dump untuk 5.000 m3 sampah per hari. Kalau berat jenis sampah 0,25 maka rata-rata beratnya menjadi 1.250 ton per hari. Apabila berat seekor gajah adalah 1,25 ton maka di Kota Bandung timbul gajah “sampah” sebanyak 1.000 “ekor” setiap hari.

Jika merujuk pada Undang-Undang no. 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah pasal 44, pemerintah daerah harus berupaya keras melaksanakan amanat undang-undang tersebut, yaitu menutup open dump. Tahun 2013 lalu adalah batas akhir bagi pemerintah untuk meninggalkan open dump seperti di Sarimukti. Ini adalah cara buruk dalam pandangan konservasi fungsi lingkungan. Dengan acuan tersebut, TPA harus hijrah dari tempat pembuangan akhir menjadi tempat pemrosesan akhir. Salah satu opsinya ialah sanitary landfill (sanfil) atau minimal controlled landfill (confil). Tempat Pemrosesan Akhir, yaitu tempat terakhir sampah dalam tahap pengelolaannya sejak di sumber, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan, pengolahan, dan penimbunan (pembuangan). TPA ini selayaknya menjadi lokasi isolasi sampah yang aman sehingga tidak mengganggu lingkungan. Oleh sebab itu, perlu penyediaan fasilitas dan perlakuan yang betul agar keamanan tersebut dapat dicapai.

Mengacu pada definisi di atas, kondisi teknis yang melekat pada TPA Sarimukti sudah di luar marka perundang-undangan. Tampaknya aman-aman saja, seolah-olah tidak bergejolak, tidak bermasalah. Ini lantaran luput dari pemberitaan media massa cetak, media elektronik, dan media sosial FB dan Twitter. Apalagi mayoritas warga Bandung Raya belum pernah melihat langsung kondisi gunung sampah yang rawan longsor itu. Sekadar pembanding, tanah yang diikat akar pepohonan saja bisa longsor seperti terjadi di Desa Jemblung, Kecamatan Karang Kobar, Banjarnegara, Jawa Tengah pada 12 Desember 2014. Tentu tumpukan sampah yang tidak ada material pengikat antar komponennya lebih mudah longsor daripada tanah. Lagi pula, tumpukan sampah itu sudah sangat tinggi, bahkan Monas pun tenggelam jika ditusukkan ke dalam gunung sampah itu. Stadion Senayan pun masih kalah luas dibandingkan dengan Open Dump Sarimukti.

Berbeda dengan warga Bandung, pemimpin daerah tidak hanya wajib blusukan ke lokasi TPA, tetapi juga agar makin yakin bahwa masalah sampah adalah penting & mendesak (crucial). Taman boleh dibangun di mana-mana, festival kuliner bisa digelar rutin setiap malam minggu, lukisan mural, grafiti menghiasi dinding-dinding kota. Ini semua positif. Sampah pun selayaknya lebih diperhatikan karena dampaknya luas. Gerakan Pungut Sampah (GPS) tentu positif, denda terhadap sopir angkot yang mobilnya tidak menyediakan wadah sampah sebagai pemberlakuan Perda K3 di Kota Bandung juga diapresiasi. Pertanyaannya, pernahkah para kepala daerah menatap gunung sampah di Sarimukti? Menghirup hawa khasnya saat kemarau? Seorang pemimpin akan merasa aman-aman saja kalau tidak pernah melihat langsung keruwetan dan risiko kerja operator di lokasi TPA. Empati akan muncul kalau pernah menyaksikannya. Blusukan ke TPA itu penting agar diperoleh gambaran aktual berkaitan dengan operasi, keadaan pemulung, kesehatan pekerja dan operator, serta kondisi alat-alat beratnya sebagai landasan pembuatan kebijakan.  

Selain kondisi urugan sampah, Sarimukti juga gagal dalam mengolah air lindinya. Instalasi Pengolahan Lindi (IPL) tidak mampu menurunkan pencemaran organik ke taraf yang aman bagi badan air penerima. Apatah lagi nitrogen, fosfat, dan logam-logam berat. Polutan ini bebas mengalir ke lingkungan di sekitar TPA dan mencemari air tanah dan air permukaan. Dari amatan di lokasi, ini terjadi lantaran keliru dalam mendesain hidrodinamika aliran lindi sehingga berpengaruh pada intensitas adukan secara hidrolis (Gambar 1).

Desain pengadukan (mixing) secara alamiah, tanpa bantuan mixer atau aerator (sehingga menjadi murah investasi, operasi, dan perawatannya) menjadi penentu keberhasilan proses pengolahan. Juga karena gagal “beternak bakteri” sebagai ciri khas dalam bioproses akibat derajat keasamannya (pH) tidak stabil dalam rentang basa, yaitu di atas tujuh.

Sebagai IPL berjenis bioproses, pengolahan di Sarimukti terdiri atas kolam stabilisasi (anaerobik), kolam fakultatif, dan kolam maturasi. Prinsipnya sama dengan IPAL domestik di Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Bedanya, konstruksi IPL di Sarimukti berbahan beton sedangkan IPAL Bojongsoang berbahan tanah. Varian IPL juga ada, biasanya berupa unit biofilter atau wetland seperti tampak pada Gambar 2. Ada juga yang menyediakan kolam seeding. Namun demikian, unit yang lengkap seperti gambar tersebut ada juga yang gagal dalam operasi dan pemeliharaannya. Apa sebabnya? 

Kata kunci agar IPL optimal operasinya sesungguhnya sama persis dengan IPAL. Prosedur operasi dan pemeliharaan IPL harus dilaksanakan secara tepat, misalnya debit dan kualitas lindinya harus rutin dipantau. Debit lindi yang masuk ke IPL harus terkendali sehingga tidak menyebabkan gangguan pada proses pengolahan, terutama fluktuasi debit lindi. Namun, debit lindi yang lebih kecil daripada debit desainnya, biasanya tidak bermasalah selama kualitas lindinya relatif stabil. Yang bermasalah adalah ketika debitnya di atas debit desain, apalagi kalau jauh melampauinya..  

IPL juga harus dipelihara dengan cara menjaga kebersihan kolam-kolamnya, bebas dari sampah, rumput-rumputan, eceng gondok, tidak berbuih, dan kedalamannya relatif tetap (tidak dangkal akibat lumpur). Untuk mencapai kondisi operasi dan pemeliharaan seperti itu, prosedur operasi IPL harus diikuti yang meliputi: cara start up, pengukuran debit lindi, pemantauan kualitas lindi di setiap unit operasi dan proses, pemeliharaan sarana pendukung IPL.

Start-Up
Kegagalan IPL biasanya diawali pada tahap start up. Ada IPL yang dioperasikan tanpa tahap ini karena mengira bahwa IPL itu seperti mesin yang siap bekerja setelah dibeli tanpa perlu pengondisian awal. Padahal semua unit bioproses, tahap start up diperlukan ketika memulai operasi dan setelah terjadi kegagalan proses pengolahan (restart up). Ada beberapa hal yang harus ditempuh untuk memulai langkah ini.

1. Isilah bak Anerobik dengan air tanah (sungai) sampai penuh. Cek dan catat pH-nya.
2. Alirkan lindi ke dalam bak tersebut, cek dan catat pH-nya. Pantau pH setiap hari.
3. Apabila pH kurang dari tujuh, tambahkan alkali (kapur tohor, NaOH atau sejenis) sampai pH menjadi tujuh atau lebih. Jika digunakan kapur, pembubuhan dilakukan dengan mencampurkan kapur dan air di dalam ember sebelum diituangkan di lokasi inlet.
4. Cek dan catat COD setiap hari. Kondisi tunak tercapai kalau diperoleh perbedaan angka COD efluen sekitar 10%. Dalam kondisi normal proses ini berlangsung dua sampai tiga bulan.
5. Laksanakan cara yang sama di bak fakultatif dan bak maturasi.
6. Selama start up, pantau parameter pH, BOD, COD.
a. pH cairan di bak (kolam) dijaga antara 7 – 9. Apabila kurang dari tujuh, maka tambahkan alkali ke dalam bak sampai pH-nya minimal tujuh.
b. BOD dan COD efluen dicek setiap hari sampai fluktuasi 10% (kondisi tunak).

Pengukuran Debit
Fluktuasi debit berpengaruh pada kualitas pengolahan. Debit yang melebihi desain atau batas atas debit desain dapat menggagalkan pengolahan. Pelapisan dasar pada awal konstruksi TPA sangat menentukan debit lindi, terutama pada musim hujan. Gambar 3 memperlihatkan kekeliruan dalam pelapisan dasar pada awal konstruksi TPA Sarimukti. Jaringan pipa induk dan lateral langsung diletakkan di atas tanah, tidak dialasi geotekstil dan geomembran.

Setiap IPL memiliki syarat debit lindi yang mampu diolahnya. Akurasi debit ini berpengaruh pada kualitas air olahan. Tetapi faktanya, nyaris 99% IPL tidak dilengkapi dengan alat ukur debit. Alat ukur ini ada yang sederhana seperti alat ukur Thompson. Apabila alat ukur tersebut tidak dipasang, maka dapat dilakukan dengan cara sederhana, yaitu menggunakan ember dan stopwatch. Prosedur pengukuran debit di alat ukur Thompson sebagai berikut.
1. Bersihkanlah sampah di sekitar alat ukur agar tidak menghalangi skala pada mistar.
2. Catatlah tinggi muka air lindi di bagian hulu alat ukur.
3. Hitung debit dengan pendekatan rumus Q = 1,4.H5/2.

Prosedur dengan menggunakan ember:
1. Siapkan ember yang diketahui volumenya.
2. Tampung lindi di dalam ember sambil diukur waktunya.
3. Debit adalah volume lindi di dalam ember dibagi kebutuhan waktu untuk memenuhi ember.

 

Pantauan Rutin
IPL harus dipantau agar kinerjanya optimal. Pemantauan kinerja ini bisa secara fisika dan biokimia. Parameter fisika yang dipantau adalah bau dan warna sedangkan biokimianya: pH, BOD, COD.

Untuk mendiagnosis kinerja pengolahan, ada tiga kondisi yang dijadikan acuan:
1. Apabila warna lindi tidak berubah, bau tidak berubah, pH tetap, tetapi penyisihan BOD, COD makin rendah maka disimpulkan bahwa waktu tinggal lindi di unit IPL terlalu singkat. Cek kedalaman kolam dan kuraslah sebagian lumpurnya.
2. Apabila warna lindi menjadi kuning (pucat) baunya menyengat, penyisihan BOD, COD rendah, pH kurang dari 5, maka disimpulkan ada zat racun di dalam lindi. Cara penanggulangannya ada dua:
     a). Hentikan aliran lindi ke IPL, alirkan lindi (bypass) ke kolam berikutnya, ganti lindi dengan air sungai atau air tanah. Ulangi langkah start up.
     b). Cara kedua: biarkan lindi yang kuning tersebut (pH kurang lebih 5), kemudian tambahkan alkali ke dalam kolam lindi. Jaga pH-nya agar lebih besar atau sama dengan tujuh. Dalam waktu dua sampai dengan tiga bulan, kondisi akan pulih kembali.
3. Terjadi reduksi volume kolam karena akumulasi endapan. Kejadian ini dapat mempersingkat waktu tinggal lindi sehingga kinerja IPL menurun. Tanggulangi dengan cara mengecek tinggi endapan dengan tongkat (bambu, kayu) di bagian inlet, tengah dan outlet unit IPL. Apabila endapannya tinggi, maka perlu dikuras atau ditiriskan dengan pompa dan lumpurnya dibiarkan mengering. Setelah kering, gunakan alat berat untuk mengeruknya atau dicangkul secara manual.

Tindakan di atas bersifat kuratif, dilaksanakan setelah terjadi penurunan kinerja pengolahan. Upaya preventifnya dengan cara memantau rutin. Prosedurnya: 1. Gunakan pH-meter atau lakmus untuk mengecek pH lindi di setiap unit IPL. 2. Jika pH lindi kurang dari tujuh, maka tambahkan alkali (basa) untuk menaikkan pH hingga minimal tujuh. 3. Pertahankan pH tetap minimal tujuh. 4. Cek BOD dan COD efluen IPL. Kalau terjadi perubahan yang mencolok, ulangi prosedur start up.
  
Berdasarkan bahasan di atas, kinerja IPL ini berubah-ubah dan kerapkali gagal. Atas kondisi ini, pengelola TPA tidak bisa serta merta menyalahkan operator. Siapapun yang menjadi operator di Sarimukti, pasti tidak akan berdaya mengendalikan kualitas lindi yang masuk dan yang keluar dari instalasi. Ini lantaran kondisi TPA bukanlah sanitary landfill dengan rangkaian pipa kolektor lindi, pipa gas, dan pelapisan sel sampah. Debit lindi tidak bisa diduga atau diperkirakan, apalagi pada saat hujan. Debit yang jauh melebihi kapasitas desain IPL otomatis akan merusak komunitas mikroba, andaikata sudah tumbuh dan berkembang sehingga operasi IPL mulai lagi dari awal (start up). Kejadian ini bisa terjadi berkali-kali, bergantung pada kondisi cuaca. Terlebih lagi kalau tidak ada operator khusus IPL, yaitu orang yang bertugas hanya di IPL, tidak rangkap tugas sebagai pengatur lalu-lintas truk dan urusan titik bongkar sampah atau pencatatan masuk-keluar truk di TPA.

(Jangan) Tutup Sarimukti
Menurut perundang-undangan yang berlaku seperti disebut di atas, warga dan LSM di KBB tidak perlu bersusah payah menuntut penutupan TPA Sarimukti. Protes ini sering terjadi, seperti tampak pada Gambar 4. Secara otomatis sebetulnya TPA itu sudah harus ditutup dan sampah Kota Bandung dan Kota Cimahi dialihkan ke lokasi lain yang selayaknya lebih baik daripada kondisi Sarimukti. Peran Pemprov. Jawa Barat tetap dibutuhkan sebagai fasilitator untuk mempertemukan tiga pemerintah daerah yang terkait dengan sampah ini. Prinsip pengelolaan sampah adalah win win solution, bukan NIMBY.

Selain warga dan LSM setempat, DPRD KBB pun pada November 2014 menuntut pembicaraan kembali tentang nota kesepahaman (MoU) TPA Sarimukti. Ini wajar saja lantaran mereka adalah wakil masyarakat tempat minta tolong apabila ada kasus dan kondisi yang merugikan ekonomi dan kesehatan warga. Salah satu tugas utama dewan di KBB adalah menuntaskan TPA ini agar diperoleh solusi yang menguntungkan bagi tiga pihak (KBB, Kota Bandung, Kota Cimahi) dan melapangkan jalan tugas dan fungsi Pemprov. Jawa Barat. Terlebih lagi, warga sudah melek informasi (dari ponsel, Facebook, Twitter, radio, televisi, dan koran) berkaitan dengan audit keuangan dan Kompensasi Dampak Negatif (KDN).

Distribusi dana KDN tersebut juga menjadi pertanyaan warga di sekitar TPA dan warga yang dilewati truk-truk sampah. Setiap truk yang lewat selayaknya diperhitungkan retribusinya terhadap warga terdampak, baik melalui mekanisme di pemerintahan maupun langsung kepada pejabat desa setempat yang diketahui oleh warga. Di Sarimukti juga ada jembatan timbang yang mencatat rutin jumlah truk dan berat sampah yang diangkutnya. Dicatat pula sumber sampahnya dari mana, kelurahan apa, kecamatan, dan kabupaten atau kota. Data di jembatan timbang ini bisa dijadikan acuan tiga pihak yang bersengketa ini asalkan pencatatan dan pelaporannya sesuai dengan SOP (standar operasi – prosedur) yang sudah disepakati. Saling percaya dan dicatat secara komputasi. Bahkan bisa di-sharing online kepada semua SKPD yang terkait di tiga pemerintahan dan provinsi pada detik ketika truk di atas jembatan timbang selesai didata.

Kesimpulan, pertama, peraturan negara ini sudah menegaskan bahwa open dumping seperti TPA Sarimukti harus ditutup secepat-cepatnya, terlepas dari lancar tidaknya atau dibayar-ditunggak dana untuk KDN. Tiada lagi alasan yang bisa memperpanjang lifetime Sarimukti. Kedua, Pemprov. Jawa Barat membantu Kota Bandung dan Cimahi agar memiliki TPA sanitary landfill, baik bekerja sama dengan KBB, Kab. Bandung, maupun kabupaten lainnya. Ketiga, dan ini adalah alasan kemanusiaan untuk warga Kota Bandung dan Cimahi, jangan tutup dulu TPA Sarimukti sebelum sanfil-nya siap digunakan. Berapa lama waktunya? Bergantung pada gerak cepat Pemprov. Jawa Barat dan kabupaten – kota terkait.

Jika demikian, tanda kurung judul tulisan ini bisa dihapus sehingga menjadi “Jangan Tutup TPA Sarimukti” untuk sementara ini dengan alasan humanisme, estetika, dan kesehatan warga. Pada saat yang sama pemerintah Kota Bandung melunasi tunggakan dan memberikan kompensasi kepada warga terdampak di sekitar lokasi. Semoga ini menjadi win win solution bagi semua pihak dan dapat terwujud pada tahun 2015, sepuluh tahun setelah kasus Leuwigajah, bencana terbesar TPA sampah di Asia Tenggara. *

ReadMore »