Empat kali sudah KH. Hasan Abdullah Sahal bertemu presiden Prabowo. Pertemuan keempat ini terjadi pada Sabtu, 19 September 2026, bertepatan dengan acara peringatan 100 tahun PMDG di Gontor Ponorogo. Dalam sambutannya, Kyai Hasan berterima kasih kepada Presiden Prabowo karena berkenan meluangkan waktu untuk hadir di Gontor. Kyai Hasan juga menyampaikan informasi bahwa pada saat diwakafkan, luas pondok kurang lebih 1,2 hektar. Pada usia yang ke-100 tahun ini luasnya menjadi 1.200-an hektar. (Merujuk pada catatan lainnya, luasnya 1.700 hektar).
19 September 2026
Prabowo dan Kyai Hasan serta Palestina
Empat kali sudah KH. Hasan Abdullah Sahal bertemu presiden Prabowo. Pertemuan keempat ini terjadi pada Sabtu, 19 September 2026, bertepatan dengan acara peringatan 100 tahun PMDG di Gontor Ponorogo. Dalam sambutannya, Kyai Hasan berterima kasih kepada Presiden Prabowo karena berkenan meluangkan waktu untuk hadir di Gontor. Kyai Hasan juga menyampaikan informasi bahwa pada saat diwakafkan, luas pondok kurang lebih 1,2 hektar. Pada usia yang ke-100 tahun ini luasnya menjadi 1.200-an hektar. (Merujuk pada catatan lainnya, luasnya 1.700 hektar).
1 September 2026
Air Zamzam dan ZAMP
Alinea sebelumnya berbunyi, “Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak 74,5%, darah 82%, tulang yang keras pun mengandung 22% air. Air putih gallon di rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusuk kepada Allah agar anak yang meminumnya saleh, sehat, cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh darah. Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari”.
Poin yang dapat diambil dari tulisan dosen Unisba tersebut adalah perihal mendoakan air, secara ikhlas, untuk kemanfaatan bagi peminumnya. Dengan kata lain, apabila dewan direksi PDAM adalah orang-orang saleh, insan-insan PDAM juga saleh dan ikhlas, minimal para operator di unit pengolahnya, mendoakan air yang diolahnya agar bermanfaat untuk kesehatan, kesalehan dan kecerdasan peminumnya (pelanggannya) maka efeknya akan luar biasa. Boleh jadi, bukan zat airnya an sich yang menyembuhkan atau menyehatkan tetapi barokah yang diberikan Allah SWT atas doanya yang ikhlas.
Allah Mahatahu, dengan mendoakan air di dalam ZAMP maka manfaat dan efeknya mendekati atau bahkan sama dengan Zamzam. Akankah sifat air di ZAMP berubah sifatnya menjadi air “Zamzam”? Apabila mengedepankan logika, akal pikiran, dan rumus-rumus kimia dan stoikiometri, tentu jawabannya "tidak berubah". Tetapi di luar logika dan akal pikiran manusia, ada yang namanya barokah dari Allah. Barokah ini di luar nalar manusia. Allah Mahakuasa yang mengatur hukum alam. Berdoalah sebelum minum air PDAM dan air lainnya. Bukankah tidak sia-sia berdoa?
Karakteristik fisik sumur Zamzam sekarang sbb: level permukaan air Zamzam normalnya di kedalaman 3,23 meter di bawah muka tanah. Dangkal. Pemompaan yang masif, muka airnya turun ke level 13,4 m. Total kedalaman sumur 31 meter. Lokasinya sekitar 21 meter di sebelah Timur Ka’bah. Pada zaman Nabi Ibrahim, yaitu ketika Ismail masih bayi, di dekat kakinya muncul air yang kemudian disebut Zamzam karena ibunda Ismail, yaitu Hajar berkata zam zam zam. Dalam analisis hidrogeologi, air yang muncul ini disebut air artesis karena langsung keluar di permukaan tanah dan harus berada di dalam akifer bertekanan (confined aquifer). Bisa dipastikan, mengacu pada karakteristik tersebut, sumur Zamzam tidak berada di zone akifer bertekanan. Mengapa air bisa muncul di dekat kaki Ismail di tengah gurun panas yang jarang hujan? Ini pun di luar nalar secara hidrogeologi.
Yang pasti, setelah 4.000 tahun lewat masa Nabi Ibrahim as (dan Ismail) itu, setiap jamaah haji dan umroh bisa meminum air Zamzam setiap hari. Ada banyak keran air (fountain) dan wadah-wadah air di dalam dan di luar masjidil Haram. Sekarang air Zamzam dipompa kemudian ditampung dan didistribusikan kepada jamaah, bahkan dikirim menggunakan truk tangki ke masjid Nabawi di Madinah dengan volume 400.000 liter setiap hari.
Allāhumma innī as'aluka 'ilman nāfi'an, wa rizqan wāsi'an, wa syifā'an min kulli dā'in.
"Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan kesembuhan dari segala penyakit. *
Sumber foto dan gambar: https://www.aljazeera.com/news/2025/6/4/the-water-of-hajj-a-simple-illustrated-guide-to-zamzam
23 Agustus 2026
Maulid dan Shalawat di Masjid Nabi
Maulid dan Shalawat di Masjid Nabi
25 Agustus 2026 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal adalah Maulid Nabi Muhammad SAW atau tanggal lahir beliau. Betapa tingginya kemuliaan beliau sehingga Allah dan malaikat senantiasa bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Sepatutnya kita bershalawat untuk beliau. Merujuk pada tafsirnya, bershalawat untuk beliau bukan berarti beliau membutuhkan shalawat dari kita. Tetapi justru kita yang membutuhkan syafaat dan pertolongan Nabi Muhammad SAW.
Kelahiran beliau disambut bahagia oleh kakek dan paman-paman beliau. Kakeknya, Abdul Muthalib menamai bayi tersebut: Muhammad yang artinya orang yang berakhlak, bermoral, beretika, berperilaku, bertatakrama, bersopan-santun sebaik-baiknya orang. Attitude-nya demikian baik dan berlimpah sehingga disebut oleh orang-orang Arab pada masa sebelum diangkat menjadi nabi sebagai al amin: orang yang terpercaya.
Allahuma shalli ala (sayyidina) Muhammad wa ala ali (sayyidina) Muhammad. Di manapun dan kapanpun bershalawat, kemuliaan (rahmat) itu akan diperoleh oleh orang yang bershalawat dan memperoleh pahala (kembalian) sepuluh kali lipat. Insya Allah.
Video terlampir adalah kaum muslimin yang bershalawat di dekat makam Nabi Muhammad SAW. Di sebelah makam beliau dimakamkan pula khalifah Abu Bakar ash Shidiq dan khalifah Umar bin Khathab r.a.*
22 Agustus 2026
Mudik Muludan Penjual Sate Madura
Mudik Muludan Penjual Sate Madura
Sate hampir identik dengan orang Madura. Di Tabanan Bali, pemilik toko atau warung sate, gule kambing dan soto ayam adalah orang Madura. Di Kediri, sebuah kecamatan di Kabupaten Tabanan - Bali, ada tiga ruko besar berjejer yang menjual sate-gule kambing dan sate ayam. Pemiliknya adalah orang Madura. Di halaman ruko tadi, yaitu lahan terminal Kediri, mulai pukul 18.00 hingga tengah malam, biasa disebut pasar Sengol (atau Senggol) banyak yang menjual sate dan gule kambing dan sate ayam.
Di dekat gedung Mariya (atau Mario) di Kota Tabanan ada juga warung sate Madura. Ada dua warung atau toko di sana. Di Pasar Sengol (atau Senggol), di Jln. Gajah Mada (sebentar lagi akan dipindahkan ke terminal Pesiapan), ada beberapa penjual sate Madura. Di jalan Diponegoro, mulai dari sebelah barat RSUD Tabanan hingga ke prapatan dekat SMPN 1 Tabanan ada tiga penjual sate Madura menggunakan gerobak. Di jalan Kamboja, arah ke Masjid Besar Tabanan di Kampung Jawa ada satu warung sate. Tentu ada lagi yang lainnya. Belum lagi di kecamatan lain seperti Penebel, Baturiti, Bajra. Di Bajra, kalau orang ke Denpasar lewat Gilimanuk maka akan melewati beberapa warung sate Madura di Sengol Bajra.
Ini uniknya: mungkin tidak semua. Ada penjual sate yang selalu mudik pada bulan Rabi’ul Awwal. Biasanya disebut bulan Mulud. “Saya mudik kalau Mulud”, begitu ujarnya. Di Madura mereka merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Mulai perayaan di keluarga hingga oleh masyarakat dalam bentuk ceramah di panggung. Orang Madura yang tidak mudik, ada yang merayakan dengan membuat makanan dan berbagi kepada orang lain. Seperti perayaan Agustusan: berebut bingkisan di pohon pinang. Tetapi ini tidak menggunakan pohon pinang. Isinya snacks dan hadiah lainnya. Silaturahminya hidup dan semarak.
Selamat merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (12 Rabi'ul Awwal, 50 hari setelah serbuan Abrahah dan tentara bergajah). Lisankan shalawat kepada beliau yang mulia, kepada keluarga dan keturunannya. Sesungguhnya Allah dan malaikat sedang bershalawat untuk beliau. Ujarkanlah shalawat sebanyak-banyaknya. Allahumma shalli ala (Sayyidina) Muhammad wa ala ali (Sayyidina) Muhammad.
Peringatan Maulid Nabi yang bisa berlangsung selama sebulan diisi dengan beragam kegiatan yang berkaitan dengan sejarah nabi dan sedekah (ngejot) kepada muslim dan kepada orang lain meskipun beda agama. Tujuannya adalah meniru kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW.
Dari sisi teologi, kelahiran Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan serbuan tentara yang menunggang gajah pimpinan Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah. Tetapi yang terjadi sebaliknya, tentara bergajahlah yang kalah. Tahun ini disebut Tahun Gajah (the Year of the Elephant), tahun 571 Masehi. Kejadiannya 1.455 tahun yang lalu (2026 – 571).*
12 Agustus 2026
1/2M Cafe Legenda Baru di Saudi
Unik. Namanya yang singkat dan mudah diingat menjadi daya tarik seperti magnet. Nama kafe dan merek kopi ini mulai masuk ke pasar lokal di Riyadh, Saudia Arabia pada tahun 2018. Modalnya “hanya” (dalam tanda kutip) 500.000 SAR (Riyal Saudi). Satu SAR sekarang antara 4.750 – 4.850 rupiah. Agar mudah konversinya, dibulatkan menjadi 5.000 rupiah. Hasilnya: 500.000 x 5.000 = 2.500.000.000 (dua miliar lima ratus juta rupiah) atau 2,5 miliar rupiah. Inilah modal awal pendirian kafe ini, kata pemiliknya.
Kalau…., ini kalau saja, hanya andaikata. Andaikata modalnya dalam rupiah, maka namanya mungkin menjadi 2,5M (rupiah). Tetapi huruf M di sini adalah singkatan dari million yang dalam bahasa Indonesia adalah juta, bukan miliar (billion). Adakah yang tertarik memulai bisnis kafe ini? Bisa dicoba dengan nama 2,5M. Artinya 2,5 juta rupiah saja. Alat apa saja (coffe maker – brewer) yang bisa diperoleh? Juga biji kopi apa dan berapa kilogram yang bisa dibeli? Semangat dan bersungguh-sungguh, pasti bisa. Ini kata pendiri 1/2M, yaitu Meshal Khalid H Alshehri.
Konsumen atau pembeli awal kopi 1/2M adalah teman-teman, kolega sejawat dan tetangganya. Kini cabangnya sudah mencapai 90 unit di Saudi Arabia. Juga sudah dibuka di London. Akankah ada di Indonesia? Apakah booming juga? Ada bedanya. Di Indonesia, orang membeli kopi di kafe sambil ngobrol dan mengerjakan sesuatu (buka laptop, ponsel, kertas kerja, dll). Mereka bisa berlama-lama di ruang kafe yang ber-AC. Tetapi di Mekkah, ruangannya sempit dan disesaki pembeli sehingga tidak nyaman berlama-lama. Semua pesanan dibawa keluar, diminum sambil jongkok atau duduk di pelataran mall atau dibawa ke hotel.
Lantas, apa saja yang dijual di 1/2M ini? Sebagai toko kopi umumnya, ada menu khasnya, yaitu 1/2M Signature (panas/dingin). Ada juga Spanish Latte. Yang ini banyak dibeli oleh jamaah haji/umroh Indonesia. Tersedia juga Cappuccino dan coklat panas dan sejumlah istilah lainnya sebagai varian yang ditawarkan kepada konsumen.
Adapun makanan yang disediakan adalah roti dan kue beragam rasa. Tak ketinggalan adalah es krim rasa mawar Thaif (link). Terakhir, kedai kopi ini juga menjual tumbler khas 1/2M. Banyak yang menjadikan wadah air (atau cairan) ini sebagai oleh-oleh. *
11 Agustus 2026
Napak Tilas Kerasnya Batu Thaif
Napak Tilas Kerasnya Batu Thaif
Disebut napak tilas tentu tidak seratus persen tepat. Sebab, bukan menapak jejak seperti halnya kegiatan Pramuka: Mencari Tanda Jejak atau Wide Game. Aktivitas ini hanya melihat bukit batu runcing dari gondola atau cable car. Perbukitan batu ini pun sudah dilewati beragam kendaran di atas jalan kelas satu. Kualitas jalan tol di Indonesia pun kalah jauh dengan kualitas jalan di Thaif, khususnya yang membentang di permukaan bebatuan tajam. Tidak mudah membayangkan perjalanan darat Nabi Muhammad SAW bersama Zaid bin Haritsah (mantan budak yang kemudian dijadikan anak angkat oleh Nabi) di atas formasi geologi batuan metamorfosis.
Batu dan serpihan runcing tampak dari kereta gantung (cable car) yang panjangnya sekitar 4,3 km. Sekali jalan memerlukan waktu kurang lebih 20 menit, berawal di puncak Gunung Al Hada dan berakhir di Al Kar Tourist Village, sebuah lokasi yang dilengkapi kolam renang, seluncur, kafe, dan area bermain di halaman. Pergi-pulang ditempuh dalam 40 menit. Relatif lama berada di udara apabila ada rasa takut atau khawatir terhadap ketinggian. Tetapi terasa singkat apabila menikmati desir angin, panorama bebatuan, jalan dan lalu-lintasnya yang lengang.
Sebaris
reungan, bebatuan runcing di lereng terjal itu, sumber batu yang melukai kaki
Nabi Muhammad SAW pada saat diusir oleh penduduk Thaif, menjadi “lembut” dalam
barokah kebun mawar yang melegenda dan menghasilkan pendapatan (income) penduduknya
dan devisa bagi Kerajaan Saudi Arabia sekarang. Ongkos naik cable car bervariasi
antara 75 – 85 SAR, bergantung pada waktu dan jumlah pengunjung. Satu USD sekitar
3,74 – 3,76 SAR dan satu SAR (riyal Saudi) dalam kisaran 4.750 – 4.800 rupiah. *
9 Agustus 2026
Kerasnya Hati Orang Thaif Hingga Lembutnya Mawar Thaif
Kerasnya
Hati Orang Thaif Hingga Lembutnya Mawar Thaif
Tubuh (kaki) Nabi Muhammad SAW berdarah terkena batu. Namun beliau tetap sabar tanpa membalas ejekan dan lemparan batu penduduk Thaif. Beliau bergerak menuju sebuah kebun, pemiliknya adalah ‘Utbah dan Syaibah. Di bawah pohon anggur beliau duduk seraya berdoa. Di tengah hembusan angin, darah menetes, tubuh nan letih, hati bersedih, beliau panjatkan rintihan harapan kepada Allah Swt.
Di
dalam doa itu, Nabi Muhammad SAW memohon agar Allah Swt membuka hati dan
pikiran orang-orang Thaif, khususnya keturunan mereka pada masa yang akan
datang agar mau menerima ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW begitu sayang kepada
penduduk Thaif sehingga tidak setuju apabila mereka ditimpa bencana akibat hempasan
bebatuan gunung yang hendak dilaksanakan oleh malaikat. Beliau tidak memiliki
dendam sedikitpun atas perilaku penduduk Thaif.
Peristiwa
di Thaif tersebut adalah kejadian terberat kedua yang dialami Nabi Muhammad SAW
setelah perang Uhud. Selama limabelas hari di Thaif, setelah menempuh jarak
sekitar 60 mil, tokoh-tokoh setempat, di antaranya Ibnu ‘Abdil Yalil menolak
ajakan Nabi Muhammad SAW. Setelah terkena lemparan batu, beliau pergi dan
sampailah di daerah Qarnuats-Tsa‘alib, sekitar 48 mil atau 90 km dari Mekkah
(sekarang disebut Qarnul-Manazil, lokasi penduduk Najed berihram untuk haji dan
umrah.
Benarlah,
keturunan tokoh-tokoh Thaif kemudian beralih menjadi muslim (muslimah) dan kini
kebun-kebun mereka diberkahi dengan mawar (rose) mewangi. Kondisi sekarang,
jarak tempuh ke Thaif dari Mekkah sekitar dua jam naik bis. Di lokasi tertentu
banyak dijual parfum kemasan kecil hingga besar. Beragam bentuk wadahnya dan
wanginya juga berbeda-beda. Thaif kini dikenal sebagai surga parfum terbaik di
dunia. Dengan rentang ketinggian antara 1.600 – 1.900 mdpl, Thaif dikaruniai daerah
pegunungan yang sejuk. Tidak panas seperti Mekkah atau Madinah.
Produk parfum dari mawar lembut di pegunungan Thaif inilah yang menjadi suvenir bagi kalangan yang berkunjung ke Arab Saudi, khususnya jamaah haji dan/atau umroh. Semerbak mewangi nan harum minyak atsiri mawar Thaif menjadi legenda yang menghiasi rak-rak hampir di semua toko yang menjual beragam kebutuhan harian. Terlebih lagi toko-toko yang spesial menjual parfum sulingan mawar Thaif. Tak terkecuali es krim pun dijual dan dipajang bernuansa mawar Thaif. Satu di antara toko yang menjualnya adalah kafe 1/2M. *
14 Maret 2026
Puasa Ekologi Untuk Mengamalkan Ekoteologi
Puasa Ekologi Untuk Mengamalkan Ekoteologi
Oleh
Ir. Gede H. Cahyana, M.T
Longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, banjir di Bandung Selatan, banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan banjir-banjir di banyak daerah sejak November 2025 hingga Februari 2026 ini (Ramadhan 1447H) mengakibatkan ribuan orang meninggal, puluhan ribu kehilangan rumah, dan ratusan ribu orang menderita sakit akibat buruknya kualitas air minum dan sanitasi (sampah berserakan dan air limbah dari septic tank dan pabrik tersebar ke semua pelosok bersama air banjir).
Apakah banjir tersebut semata-mata disebabkan oleh hujan dengan intensitas yang jauh melebihi normal? Ternyata tidak. Banjir atau air bah tersebut disebabkan juga oleh kondisi lahan yang getas. Hutan yang ringkih. Vegetasi yang rapuh. Alih fungsi lahan atau penebangan pohon-pohon kayu yang diganti dengan sawit atau sayur-mayur atau ladang berpindah-pindah atau kawasan perumahan baru menjadi deretan sebab yang nyata. Tidak terbantahkan. Ribuan kubik kayu gelondongan hanyut sambil menghantam rumah, jembatan, sekolah, masjid, dan fasilitas umum yang dilewatinya. Mayoritas bangunan rata dengan tanah. Sawah ladang terbengkalai. Ternak binasa.
Jelas sudah, longsor dan banjir bandang di Sumatera tersebut adalah akibat hujan deras khususnya Cyclone Senyar dan kerusakan vegetasi, hutan, dan alih fungsi lahan. Dampaknya lebih banyak ke masyarakat awam yang “tidak bersalah” atau “tidak ada kaitannya dengan bisnis kayu, pabrik minyak sawit, atau pembukaan kawasan perumahan baru”. Justru para pemilik konsesi hutan dan konglomerat itu aman-aman saja, tidak kena banjir karena tinggal di kawasan elite yang bebas banjir atau karena banjirnya dialihkan ke permukiman di sekitarnya. Masyarakat biasa kena getahnya saja tanpa bisa protes atau tidak tahu harus kepada siapa protesnya itu ditujukan.
Kejadian lain yang termasuk bencana besar atau katastrofik di Jawa Barat adalah longsor TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005. Ulang tanggal peringatannya baru empat hari yang lalu. Terjadi 21 tahun yang lalu. Minimal 157 orang meninggal tertimbun sampah. TPA yang menampung sampah orang Bandung dan Cimahi ini menjadi salah satu longsor terbesar di dunia. Artikel yang merespon longsor tersebut berjudul “Leuwigajah, Sebuah Catatan” diterbitkan di koran Pikiran Rakyat pada 3 Maret 2005. Artikel tersebut tersedia di link ini: https://gedehace.blogspot.com/2010/05/leuwigajah-sebuah-catatan.html
Ternyata ada hikmah di balik longsor bukit sampah itu. Lantaran kasus “bencana bukit sampah Leuwigajah” itu Indonesia kemudian memiliki Undang-Undang Pengelolaan Sampah: UU No. 18 tahun 2008. A blessing in disguise: ada hal baik yang muncul setelah hal buruk berlalu. Namun sayangnya, masalah sampah di Bandung raya belum tuntas juga. Sehari sebelum peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), yaitu 20 Februari 2026, Pemkot Bandung memasang iklan setengah halaman koran di HU Pikiran Rakyat dengan tag satu tahun pemerintahan: #1ThBandungUtama berjudul Sampah Jadi Prioritas di 2026. Ditulis di dalam iklan tersebut bahwa timbulan sampah di Kota Bandung adalah 1.496 ton/hari atau 262 rit per hari. Sampah yang mampu diangkut ke TPS adalah 799,69 ton per hari (Catatan: mungkin yang dimaksud adalah ke TPA bukan TPS). Biayanya ditulis 348 miliar pada tahun 2026 ini. Akankah ada solusi tuntas masalah sampah di Bandung raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kab. Bandung Barat)?
Setelah bencana yang berkaitan dengan tanah (longsor dan sampah) dan air bah, ada satu lagi yang mungkin terjadi, yaitu polusi udara yang pekat. Semoga bencana Great Smog (smoke and fog: asap dan kabut) di London, Inggris pada 1952 tidak terjadi di Indonesia. Polusi udara ini lebih banyak terjadi karena emisi partikulat dan gas dari pembakaran bahan bakar di mesin-mesin mobil, truk, motor dan pabrik terutama yang menggunakan batubara. Termasuk polutan dari 15 unit insinerator sampah yang digunakan di Kota Bandung tetapi pada medio Januari 2026 dikritik keras oleh Menteri Lingkungan Hidup dan diminta dihentikan. Terima kasih kepada Walikota Bandung dan DLH yang sudah menyetop operasional insinerator tersebut.
Apabila insinerator tersebut tidak di-stop maka pemerintah Kota Bandung akan menjadi subjek yang disindir di dalam ayat 41, surat Ar Ruum.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
Telah
tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.
(Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat)
perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Merujuk pada ayat 41 tersebut maka kerusakan lingkungan alam atau ekologi adalah akibat perbuatan manusia. Kalau demikian, apakah manusia bisa bersahabat dengan alam? Jawabannya adalah bisa, dengan cara puasa ekologi, yaitu menahan diri dari merusak lingkungan tempat dia (manusia) hidup. Per definisi, ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme-organisme hidup dengan lingkungannya. Kata ekologi berasal dari kata Yunani oikos: rumah, rumah tangga, habitat dan logos: ilmu. Habitat dari bahasa Latin habitare yang berarti menempati, menghuni: adalah tempat sebuah spesies atau beberapa spesies atau komunitas hidup dan berkembang biak.
Cara berpuasa ekologi adalah dengan menahan diri dari merusak atau mencemari lingkungan hidup. Inilah amal baik yang menjadi landasan untuk mengamalkan ekoteologi. Patutlah program ekoteologi yang dirilis oleh Kementerian Agama dijadikan langkah perbaikan kondisi lingkungan di Indonesia. Program tersebut selaras dengan restorasi ekosistem (ecosystem restoration), yaitu menghidupkan kembali sistem ekologi: hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan makhluk tak hidup (abiotik). Restorasi memiliki makna pemulihan, perbaikan, menjadikan seperti sedia kala.
Ekoteologi hakikatnya adalah melestarikan fungsi ekosistem dengan melandaskannya kepada Allah Swt (Tuhan Yang Mahaesa) sebagai pemilik, pencipta, pemelihara lingkungan biotik dan abiotik di bumi dan langit yang diamanahkan kepada manusia sebagai khalifah di bumi. Ekoteologi juga melakukan restorasi lingkungan yang dimulai dari tataruang dengan dua pendekatan, yaitu kultur dan struktur. Kultur mengacu pada tataruang berbasis agama, budaya, adat istiadat. Struktur mengacu pada tataruang yang disahkan oleh pemerintah dan DPR(D) di dalam undang-undang atau peraturan daerah.
Kultur
Terapan ekoteologi dengan tetap memelihara budaya yang baik dalam makna tidak mendekati kemusyrikan. Sebab, kemusyrikan justru berdampak buruk kepada kehidupan manusia di dunia dan juga nanti di akhirat. Menurut Murtiyoso (1994) yang dikutip oleh Johan Iskandar di dalam buku Manusia dan Lingkungan (2014), masyarakat Sunda mengenal tataruang yang dilarang dijadikan permukiman, yaitu lahan sarongge (lahan angker), lemah sahar (tanah sangar), sema (kuburan), catang ronggeng (lahan curam), garenggengan (lahan kering berlumpur), dangdang wariyan (lahan cekung), lemah laki (lahan tandus), kebakan badak (kubangan), hunyur (bukit kecil), pitunahan celeng (habitat babi), kalomberan (comberan), jarian (tempat sampah).
Begitu pula kearifan lokal seperti gunung kaian, yaitu biarkan gunung ditumbuhi oleh pepohonan agar oksigen semakin banyak dan air hujan diresapkan ke dalam tanah untuk cadangan air pada musim kemarau dan mencegah banjir-erosi pada musim hujan. Gawir awian bermakna tanami tebing dengan bambu, bagai aur dengan tebing, agar tidak longsor. Daratan imahan, manfaatkan lahan datar untuk permukiman. Susukan caian, parit dan selokan sebagai penyalur air hujan. Sungai pun dirawat, walungan rawateun, seperti upaya restorasi Citarum sekarang. Legok balongan, lahan cekung (rendah) sebagai kolam retensi atau wetland, bukan permukiman. Jika tidak demikian maka penduduk yang tinggal di daerah cekung akan rutin kena banjir setiap musim hujan.
Selain tataruang menurut kultur, masyarakat Sunda juga mengenal istilah tabu atau pamali. Pamali adalah pantangan bagi setiap orang untuk berbuat buruk kepada lingkungan. Contoh, pamali makan burung yang ngagaludra, yaitu burung yang dua jari kakinya ke depan dan dua ke belakang pada waktu bertengger di ranting pohon, seperti elang dan alap-alap. Burung ini menjaga kesetimbangan ekosistem karena sebagai predator tertinggi di dalam rantai makanan. Apabila burung ini punah maka hama tikus dan bajing semakin banyak di lahan pertanian. Ada hadis juga yang melarang memakan makanan dari hewan yang bertaring atau hewan buas.
Ada juga pamali menebang pohon beringin, kiara, dan teureup. Pamali ini terbukti mampu melindungi berjenis burung, serangga, dan mamalia kecil sehingga berkembang biak. Pohon tersebut pun dapat meresapkan air hujan dan mengeluarkan air sedikit demi sedikit sepanjang tahun yang disebut mata air (cai nyusu). Ekoteologi menuntun dan mendampingi pamali agar tetap di dalam akidah yang lurus, menjadi manusia yang bertakwa seperti kerapkali disitir di dalam UUD 1945 dan peraturan di bawahnya. Takwa juga dijadikan tujuan akhir ibadah puasa Ramadhan.
Selain di tatar Sunda, ada juga kearifan lokal di nusantara yang bersahabat dengan lingkungan. Tradisi ujung ladang masyarakat Melayu di Sumetera Utara misalnya, selalu berwawasan lingkungan kalau akan membuka hutan. Meskipun menebang pohon dan membabatnya, selalu saja ada vegetasi pelindung yang tersisa. Pola seperti ini membantu menahan tanah agar tidak erosi atau merusak tanaman. Suku Dayak di Kalimantan punya tradisi Nyaang. Mereka terbiasa membuat lajur isolasi pada ladang atau ketika membabat hutan untuk melokalisir kebakaran. Begitu pun awig-awig orang Bali yang melarang menebang pohon (misalnya pohon bunut atau beringin). Ada juga tradisi sasi di Saparua Maluku yang berlaku di darat atau di laut atas komoditi yang haram dieksploitasi untuk waktu terbatas.
Tentu saja tafsir atas pamali tersebut tidak bisa dipahami secara harfiah. Perlu dikaitkan dengan adat istiadat, budaya, dan kepercayaan pada masanya. Yang diambil dari pamali adalah spiritnya dalam melestarikan fungsi lingkungan sebagai tempat hidup, sumber makanan, minuman, pekerjaan, dan hubungan sosial kemanusiaan. Ditegaskan lagi bahwa lingkungan atau ekologi itu tidak bisa dilestarikan karena selalu dinamis berubah. Yang bisa dilestarikan adalah fungsi. Fungsi lingkungan wajib dilestarikan.
Namun demikian, pada zaman 4.0 ini masyarakat tidak mudah percaya pada pamali, terutama Gen Milenial dan Gen Z. Oleh sebab itu, perlu disandingkan dengan kajian ilmiah dari para ulul albab (scholar, akademisi) dan peraturan pemerintah. Juga dikaitkan dengan ayat-ayat di dalam kitab suci agama perihal kerusakan lingkungan semisal Surat Ar Ruum ayat 41 dan ayat-ayat lainnya (ditulis lengkap di buku Merintis Fiqh Lingkungan Hidup oleh KH. Ali Yafie). Atau sumber-sumber kearifan lokal dari beragam kitab suci atau karya tulis atau gubahan kontemplatif para empu, cendekia pada masa kerajaan Hindhu, Budha di nusantara.
Struktur
Ekoteologi lebih bersifat preventif daripada kuratif. Mencegah lebih utama ketimbang mengobati (restorasi). Perbaikan atau restorasi tidak akan optimal tanpa peran pemerintah dalam hal pelaksanaan, pengawasan dan pendanaan. Memang restorasi bisa saja dilaksanakan oleh ormas, parpol, kampus, bahkan oleh individu seperti Mak Eroh dan para penerima hadiah Kalpataru. Tetapi hasilnya tidak sinambung. Biaya, ilmu dan teknologi, serta keamanan menjadi kendala.
Hanya gerakan resmi pemerintah saja seperti ekoteologi Kemenag yang berpeluang besar pada keberhasilan restorasi dengan syarat diamalkan dengan benar, tidak berhenti dalam slogan dan ajakan saja. Ada peraturan dan harus ada penegakan hukum. Sudah banyak ada undang-undang dan peraturan daerah yang dibuat. Sudah banyak kasus hukum disidangkan di pengadilan. Tetapi penegakan hukum lingkungan belum sepenuhnya terwujud. Belum muncul efek jera. Pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan terus terjadi. Banjir Sumatera dan longsor Cisarua Jawa Barat menjadi hantaman upper-cut yang menimbulkan knock-out (KO).
Pendekatan stuktur berbasis peraturan pemerintah tersebut akan optimal apabila harmonis dengan kultur kearifan lokal seperti slogan mipit kudu amit jeung ngala kudu menta: memungut, meramu, mengubah, memanfaatkan alam harus meminta izin kepada pemerintah berdasarkan hukum positif. Aspek legal yang jujur. Bukan aspek legal yang ugal-ugalan. Selama ini pembangunan (baca: penebangan pepohonan di hutan) kurang menghargai kultur kearifan lokal. Hutan pamali justru oleh pemerintah diberi izin penebangan. Lahan pamali justru dibangun untuk komersial. Akibatnya terjadi rebutan membangun permukiman dan kawasan komersial di lahan kritis. Bahkan sampai ke lahan curam (catang ronggeng), sempadan sungai, empang, dan situ habis dijadikan daratan.
Agar program ekoteologi Kementerian Agama dan Pesantren Ekologi Ramadhan di Jawa Barat berhasil maka harus ada senyawa antara pendekatan kultur dan struktur sehingga ekosistem bisa diperbaiki sedikit demi sedikit sampai akhirnya pulih atau mencapai batas maksimal yang mampu diperbaiki. Semua ekosistem bisa dipulihkan asalkan optimal dalam memanfaatkan kearifan lokal agamis yang disertai kajian ilmiah dan bersanding harmonis dengan pendekatan struktural yang sesuai dengan prinsip konservasi dan restorasi ekosistem.
Poin terakhir, kegiatan Pesantren Ekologi Ramadhan ini bisa dimodifikasi menjadi Praktik Ekologi, misalnya sekali dalam sebulan. Teori di kelas 25%, praktik di halaman kelas, di lapangan, di kelurahan, atau lokasi lainnya 75%. Praktiknya meliputi reduce, reuse, recycle sampah, composting, sanitasi sehat sekolah, rumah, kelurahan dalam pengelolaan air limbah domestik, kebun sayur, ternak atau kolam ikan. Melombakan teknologi inovatif dalam pengelolaan dan pengolahan sampah, penyediaan air minum daerah bencana, pengolahan air limbah dan pencemaran udara. Materinya bisa disesuaikan dengan fokus keterampilan siswa di sekolah kejuruan masing-masing (SMK) atau ekstra kurikuler di SMA. *
Daftar Pustaka
1. Iskandar,
J, Manusia dan Lingkungan, Graha Ilmu, 2014.
2, Mangunjaya, Konservasi Alam Dalam
Islam, Yayasan Obor Indonesia, 2005.
3. Soeriatmadja, Ilmu Lingkungan,
Penerbit ITB, 1982.
4. Yafie, A, Merintis Fiqh Lingkungan
Hidup, Ufuk Press, 2006.
18 Februari 2026
Awal Ramadhan Berbeda Lagi
Awal Ramadhan Berbeda Lagi
Awal Ramadhan berbeda (lagi). Ada kata lagi karena sudah sering terjadi perbedaan ini. Bahkan ada beberapa kelompok masyarakat, sengaja disebut kelompok masyarakat bukan organisasi, yang malah lebih awal daripada ormas Muhammadiyah. Bagaimana metode mereka (yang lebih awal sehari daripada Muhammadiyah) dalam menetapkan awal Ramadhan, tidak sesuai dengan yang umumnya dilaksanakan oleh Muhammadiyah dan NU serta pemerintah.
Ormas Muhammadiyah sudah mengganti wujudul hilal dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang dianyatakan lebih terpadu, berjangka panjang, progresif. Mudah-mudahan in harmonia progressio, selaras dalam berkemajuan. Dengan cara perhitungan global tersebut, ormas Muhammadiyah mencatat bahwa sudah terjadi konjungsi (ijtimak) pada Selasa, 17 Februari 2026 di Alaska, Amerika Serikat dengan ketinggian hilal 05 derajat 23 menit 01 detik. Oleh sebab itu, esoknya, Rabu, 18 Februari 2026 dinyatakan sebagai tanggal satu Ramadhan.
Namun kondisi berbeda terjadi di Indonesia. Posisi hilal masih di bawah ufuk atau hilal negatif sehingga kriteria yang digunakan oleh pemerintah tidak terpenuhi, yaitu tiga derajat dan elongasi 6,4 derajat. Artinya, Rabu, 18 Februari 2026 adalah tanggal terakhir Sya’ban 1447. Tanggal satu Ramadhan bertepatan dengan tanggal 19 Februari 2026.
Bagaimana kaum muslimin menyikapi perbedaan ini? Yang pasti, tidak boleh berantem. Mungkin ada keluarga yang marah-marah karena suaminya ikut pemerintah sedangkan istrinya ikut ormas Muhammadiyah. Mungkin anak-anaknya juga berbeda dalam melaksanakan awal puasa Ramadhan. Atau berbeda juga dengan kakek-neneknya sehingga kalau mudik ke daerah kelahiran akan berbeda-beda juga hari rayanya.
Selamat melaksanakan ibadah shiyam Ramadhan 1447 untuk semua kaum muslimin di seluruh dunia. Lebih khusus lagi adalah kaum muslimin Indonesia. Penuh harapan, Allah menerima ibadah ini meskipun berbeda awal dan akhir puasanya.
Selamat menunaikan ibadah
shiyam Ramadhan 1447.
11 Desember 2025
Ekoteologi Banjir Sumatera
Ekoteologi Banjir Sumatera
Ekoteologi
Patutlah program ekoteologi yang dirilis oleh Kementerian Agama dijadikan langkah perbaikan kondisi lingkungan di Indonesia. Program tersebut selaras dengan Restorasi Ekosistem (Ecosystem Restoration), yaitu menghidupkan kembali sistem ekologi: hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan makhluk tak hidup (abiotik). Restorasi memiliki makna pemulihan, perbaikan, menjadikan seperti sedia kala. Restorasi ekosistem adalah upaya memulihkan kerusakan tempat hidup tumbuhan, hewan, manusia dan saling kebergantungannya menjadi lebih baik (seperti semula).
Ekoteologi melestarikan fungsi vegetasi dan hewan di dalam rantai makanan dan jejaring kehidupan bersama manusia sebagai khalifah. Ekoteologi juga melakukan restorasi lingkungan yang dimulai dari tataruang dengan dua pendekatan, yaitu kultur dan struktur. Kultur mengacu pada tataruang berbasis agama, budaya, adat istiadat. Struktur mengacu pada tataruang yang dikemas oleh pemerintah dan DPR(D) di dalam undang-undang atau peraturan daerah.
Kultur
Terapan ekoteologi dengan tetap memelihara budaya yang baik dalam makna tidak mendekati kemusyrikan. Sebab, kemusyrikan justru berdampak buruk kepada kehidupan manusia di dunia dan juga nanti di akhirat. Menurut Murtiyoso (1994) yang dikutip oleh Johan Iskandar di dalam buku Manusia dan Lingkungan (2014), masyarakat Sunda mengenal tataruang yang dilarang dijadikan permukiman, yaitu lahan sarongge (lahan angker), lemah sahar (tanah sangar), sema (kuburan), catang ronggeng (lahan curam), garenggengan (lahan kering berlumpur), dangdang wariyan (lahan cekung), lemah laki (lahan tandus), kebakan badak (kubangan), hunyur (bukit kecil), pitunahan celeng (habitat babi), kalomberan (comberan), jarian (tempat sampah).
Begitu pula kearifan lokal seperti gunung kaian, yaitu biarkan gunung ditumbuhi oleh pepohonan agar oksigen semakin banyak dan air hujan diresapkan ke dalam tanah untuk cadangan air pada musim kemarau dan mencegah banjir-erosi pada musim hujan. Gawir awian bermakna tanami tebing dengan bambu, bagai aur dengan tebing, agar tidak longsor. Daratan imahan, manfaatkan lahan datar untuk permukiman. Susukan caian, parit dan selokan sebagai penyalur air hujan. Sungai pun dirawat, walungan rawateun, seperti upaya restorasi Citarum sekarang. Legok balongan, lahan cekung (rendah) sebagai kolam retensi atau wetland, bukan permukiman. Jika tidak demikian maka penduduk yang tinggal di daerah cekung akan rutin kena banjir setiap musim hujan.
Selain tataruang menurut kultur, masyarakat Sunda juga mengenal istilah tabu atau pamali. Pamali adalah pantangan bagi setiap orang untuk berbuat buruk kepada lingkungan. Contoh, pamali makan burung yang ngagaludra, yaitu burung yang dua jari kakinya ke depan dan dua ke belakang pada waktu bertengger di ranting pohon, seperti elang dan alap-alap. Burung ini menjaga kesetimbangan ekosistem karena sebagai predator tertinggi di dalam rantai makanan. Apabila burung ini punah maka hama tikus dan bajing semakin banyak di lahan pertanian. Ada hadis juga yang melarang memakan makanan dari hewan yang bertaring atau hewan buas.
Ada juga pamali menebang pohon beringin, kiara, dan teureup. Pamali ini terbukti mampu melindungi berjenis burung, serangga, dan mamalia kecil sehingga berkembang biak. Pohon tersebut pun dapat meresapkan air hujan dan mengeluarkan air sedikit demi sedikit sepanjang tahun yang disebut mata air (cai nyusu). Ekoteologi menuntun dan mendampingi pamali agar tetap di dalam akidah yang lurus.
Tentu saja tafsir atas pamali tersebut tidak bisa dipahami secara harfiah. Perlu dikaitkan dengan adat istiadat, budaya, dan kepercayaan pada masanya. Yang diambil dari pamali adalah spiritnya dalam melestarikan fungsi lingkungan sebagai tempat hidup, sumber makanan, minuman, pekerjaan, dan hubungan sosial kemanusiaan.
Namun demikian, pada zaman 4.0 ini masyarakat tidak mudah percaya pada pamali. Oleh sebab itu, perlu disandingkan dengan kajian ilmiah dan peraturan pemerintah. Juga dikaitkan dengan ayat-ayat di dalam kitab suci agama perihal kerusakan lingkungan semisal Surat Ar Ruum ayat 41.
Struktur
Ekoteologi lebih bersifat preventif daripada kuratif. Mencegah ketimbang mengobati (restorasi). Perbaikan atau restorasi tidak akan optimal tanpa peran pemerintah dalam hal pelaksanaan, pengawasan dan pendanaan. Memang restorasi bisa saja dilaksanakan oleh ormas, parpol, kampus, bahkan oleh individu seperti Mak Eroh dan para penerima hadiah Kalpataru. Tetapi hasilnya tidak sinambung. Biaya, ilmu dan teknologi, serta keamanan menjadi kendala.
Hanya gerakan resmi pemerintah saja seperti ekoteologi Kemenag yang berpeluang besar pada keberhasilan restorasi. Ada peraturan dan ada penegakan hukum. Sudah banyak ada undang-undang dan peraturan daerah. Sudah banyak kasus hukum disidangkan di pengadilan. Tetapi penegakan hukum lingkungan belum sepenuhnya terwujud. Belum muncul efek jera. Pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan terus terjadi. Banjir Sumatera menjadi hantaman upper-cut yang menimbulkan knock-out (KO).
Pendekatan stuktur berbasis peraturan pemerintah tersebut akan optimal apabila harmonis dengan kultur kearifan lokal seperti slogan mipit kudu amit jeung ngala kudu menta: memungut, meramu, mengubah, memanfaatkan alam harus meminta izin kepada pemerintah berdasarkan hukum positif. Aspek legal yang jujur. Bukan aspek legal yang ugal-ugalan. Selama ini pembangunan (baca: penebangan pepohonan di hutan) kurang menghargai kultur kearifan lokal. Hutan pamali justru oleh pemerintah diberi izin penebangan. Lahan pamali justru dibangun untuk komersial. Akibatnya terjadi rebutan membangun permukiman dan kawasan komersial di lahan kritis. Bahkan sampai ke lahan curam (catang ronggeng), sempadan sungai, empang, dan situ habis dijadikan daratan.
Agar program ekoteologi Kementerian Agama berhasil maka harus ada senyawa antara pendekatan kultur dan struktur sehingga ekosistem bisa diperbaiki sedikit demi sedikit sampai akhirnya pulih atau mencapai batas maksimal yang mampu diperbaiki. Semua ekosistem bisa dipulihkan asalkan optimal dalam memanfaatkan kearifan lokal agamis yang disertai kajian ilmiah dan bersanding harmonis dengan pendekatan struktural yang sesuai dengan prinsip konservasi dan restorasi ekosistem.
Apabila kalangan pemerhati lingkungan, penyelamat fungsi lingkungan, pembela kelestarian fungsi lingkungan disebut Wahabi Lingkungan, maka berkatalah dengan bangga bahwa kami adalah Wahabi Lingkungan! (Gede H. Cahyana, Teknik Lingkungan UKRI)*
30 Maret 2025
Kabayan Menjadi Ustadz
Kabayan Menjadi Ustadz
Kyai, mubaligh, atau ustadz adalah profesi terhormat, apalagi di Indonesia. Usai ceramah, dakwah, tausiah senantiasa diberi “berkat”. Itu sebabnya, Kabayan ingin menjadi ustadz demi “berkat” yang dibagikan oleh jamaah. Setelah kursus singkat kepada Kyai Yusuf, lantas Kabayan berceramah atas undangan sejumlah kalangan. Menarik caranya bertutur karena diselipi humor-humor yang “masih di dalam rel normatif Islam”.
“Shaum atau shiyam adalah ibadah untuk Allah. Tapi bukan seperti orang saum yang ketika sahur menghabiskan bergentong-gentong nasi, lauk, sayur, susu, kurma, madu, dll. Juga tidak “balas dendam setelah Magrib..., “ kata Kabayan yang disambut senyum hadirin.
Karena disukai oleh jamaahnya, banyaklah undangan ceramah pada Ramadhan itu. Usai kuliah Shubuh, disambung ceramah Dhuha. Lantas “kultum” di masjid bakda Dhuhur. Bakda Asar mengisi pengajian ibu-ibu dan ceramah Tarawih pada malam hari. Jamaah pun menaruh hormat kepada Kabayan sehingga banyak yang mengirimkan “berkat” berupa nasi, lauk, sayur, beras, ubi, kelapa, cengkaleng, singkong, dll. Ada yang berupa bahan mentah, banyak juga yang sudah dimasak, siap disantap.
Keganjilan kemudian terjadi. Memasuki pekan ketiga Ramadhan, jamaah bertanya-tanya, kenapa Kabayan jarang shalat berjamaah di masjid. Beberapa warga menanyakan hal tersebut kepada Kyai Yusuf. Setelah menenangkan jamaahnya dan meminta mereka mendoakan Kabayan agar diberi kesehatan dan keberkahan, kyai lantas pergi. Kyai khawatir terjadi sesuatu yang “mencelakakan” Kabayan akibat aktivitas dakwahnya.
Benar saja. Kabayan sedang tidur di dipan dengan napas tersengal-sengal. Perutnya buncit. “Duh aduuh kyai, banyak sekali makanan yang dikirim ke sini. Saya takut makanan ini basi dan mubadzir. Jadi semuanya saya makan.”
“Inilah salah satu godaan menjadi ustadz, Kabayan! Melanggar apa yang diceramahkan kepada jamaah. Mereka tidak tahu ustadznya malah kekenyangan karena kalah melawan godaan makanan-minuman lezat. Apalagi dulu merasa sangat susah mendapatkan makanan-minuman selezat itu. Sekarang balas dendam.”
Kabayan terisak-isak, badannya bergetar, perutnya terguncang.
“Sekarang istirahat saja, tapi besok harus ke masjid untuk shalat Isya dan Tarawih.”
“Tidak kyai, saya tidak mau menjadi ustadz lagi. Saya tidak sanggup. Lebih baik jadi orang biasa saja.
“Ya Kabayan.., tapi ingat..., orang biasa juga harus ke masjid.”
“Iya kyai, tapi tidak sebagai ustadz!”
“Jangan sedih Kabayan, pengalaman ini pun dialami banyak ustadz. Termasuk saya waktu nyantri dulu, sebelum kamu lahir.“
Isak Kabayan berhenti. Tatapannya lurus ke siluet kyai yang hilang di tikungan jalan. Krikan jangkrik mengisi tobatan Kabayan yang berwudhu di pancuran sebelah rumahnya. Dingin pun jatuh.
Esok lusa adalah hari-hari baru baginya.
Kembali berbuka (ifthar) dan kembali fitrah, suci (fithrah).
Selamat ‘Idul Fitri, 1 Syawal 1446.*
(Diadaptasi dari Si Kabayan Jadi Sufi, karya Yus R. Ismail).
29 Maret 2025
Nyepi, Puasa Ramadhan, Idul Fitri
Nyepi dan Puasa Ramadhan
Tahun 2025 ini umat Islam dan umat Hindhu di Bali melaksanakan ibadah puasa dalam waktu yang sama. Khususnya pada masa akhir bulan Ramadhan, yaitu hari ke-29 Ramadhan 1446 H. Waktu yang hampir bersamaan antara Nyepi dan Idul Fitri tersebut berulang antara 31, 32, 33 tahun. Artinya, kejadian seperti tahun 2025 ini akan terjadi lagi 31 – 33 tahun yang akan datang. Begitu juga, ada masanya Idul Fitri berdekatan dengan Galungan, Kuningan, Natal, Imlek dan lain-lain.
Hal tersebut terjadi karena kalender Hijriah biasanya bergeser ke awal sekitar 11 hari. Maksudnya, apabila tahun 2025 ini hari Idulfitri jatuh pada 31 Maret 2025 maka diperkirakan tahun 2026 akan jatuh pada 20 atau 21 Maret 2026. Begitu juga Idul Adha selalu maju sekitar 11 hari sehingga bisa terjadi pada bulan Januari atau bulan-bulan lainnya. Sedangkan kalender Saka umurnya 30 hari dalam satu bulan (Wikipedia). Tentu ada lagi perhitungan kalender yang berbeda-beda yang belum saya ketahui.
Bagaimana dengan Nyepi? Sejak tengah malam tadi, umat Hindhu melaksanakan Catur Brata penyepian, yaitu empat kegiatan yang dilarang: (1) Amati geni, yaitu tidak menyalakan api, (2) Amati karya, yaitu tidak bekerja, (3) Amati lelungan, yaitu tidak bepergian atau diam di rumah masing-masing, (4) Amati lelanguan, yaitu tidak bersenang-senang.
Hari Nyepi diperingati pada hari pertama sasih kedasa (bulan kesepuluh) kalender Saka yang biasanya terjadi pada bulan Maret atau awal April. Sehari sebelumnya disebut hari Pengerupukan, yaitu kegiatan untuk mengusir dan menghancurkan butha kala. Pada tahun 1970-1980-an, remaja, orang tua dan anak-anak terutama laki-laki berkeliling asrama, banjar, atau desa sambil memukul kentongan, kulkul, atau semua benda yang bisa bersuara sambil membawa obor.
Namun kini diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh. Setiap banjar membuat satu buah ogoh-ogoh yang diarak pada sore hingga malam hari. Pemerintah daerah biasanya mengoordinasikan pawai ogoh-ogoh pada sore hingga awal malam Pukul 22.00 WITA tersebut. Sebelumnya lagi ada upacara Melasti, dilaksanakan di pantai, misalnya pantai selatan Pulau Bali, dari Melaya di Jembrana hingga ke Karangasem. Bahkan ada pantai di Kabupaten Badung yang namanya Melasti. Masyarakat berduyun-duyun ke pantai dalam rombongan banjar.
Bagaimana dengan Idul Fitri? Apabila ada satu orang dari kaum muslimin yang memenuhi persyaratan sebagai orang yang melihat hilal maka besok 30 Maret 2025 adalah tanggal 1 Syawal 1446 H atau Hari Raya Idul Fitri. Apabila hilal tidak terlihat maka puasa digenapkan menjadi 30 hari sehingga tanggal 1 Syawal terjadi pada 31 Maret 2025.Perbedaan geografis sangat mungkin mengakibatkan perbedaan perayaan Idul Fitri.
Hanya saja apabila dalam satu kota atau provinsi ada perbedaan 1 Syawal maka hal ini menjadi pertanyaan BESAR. 'Alim 'ulama dan umara adalah kalangan yang paling bertanggung jawab atas perbedaan tersebut. Bertanyalah kepada ahli astronomi di ITB milsanya, dengarkan dan jernihkan hati untuk menerima ilmu pakar-pakar tersebut. Janganlah mengutamakan kelompok, golongan, ormas. Utamakanlah ilmu dan realitas astronominya.*
27 Maret 2025
Mudik: Menuju ke Udik
Mudik: Menuju ke Udik
Lebaran atau ‘Idul Fithri 1 Syawal 1446 ini, merujuk pada hasil hisab PP Muhammadiyah akan terjadi pada 31 Maret 2025. Seperti sejak dulu, entah kapan mulainya, kaum muslimin berbondong-bondong menuju tanah kelahirannya, desa semasa kecilnya untuk bertemu keluarga, terutama orang tuanya, bapak dan/atau ibunya. Tentu bertemu juga dengan saudara-saudaranya, adik kakaknya, keponakan, paman dan bibi dan teman-teman sekolahnya. Yang surprised, bertemu bapak dan ibu guru waktu TK, SD, SMP, SMA.
Sungguh mudik ini adalah tradisi bagus. Memuliakan
orang tua, mendatangi rumah orang tua sambil membawa oleh-oleh seperti baju,
makanan, minuman, atau obat-obatan herbal. Termasuk mendoakan orang tua dari
dekat karena terlihat mata dan meminta doa orang tua, agar orang tua berdoa
kepada Allah Swt. Doa orang tua ini sangat maqbul.
Apalagi doa ibu, tidak hanya ibu yang melahirkan
tetapi juga ibu yang lain, bisa saja istri kedua, ketiga, keempat bapakmu atau
mungkin lebih. Bisa lebih dari empat karena istri-istrinya ada yang meninggal
misalnya. Tetapi semuanya adalah ibu. Insya Allah doanya maqbul juga meskipun
bukan ibu yang melahirkanmu. Hormati dan sayangilah ibu atau ibu-ibumu karena
beliau sudah dinikahi oleh bapakmu.
Mudik juga mendistribusikan aktivitas ekonomi sampai
ke desa dan dusun, ke pojok nagari, ke udik atau ke hulu. Uang di kota besar dibelanjakan
di desa atau pasar dan toko di kecamatan terpencil. Geliat ekonomi hidup. Mudik
adalah bukti cinta tanah kelahiran, tertaut daerah asal, rindu ranah turunan.
Meskipun sudah tahu pasti karena sudah mengalami berkali-kali, yaitu antri
dalam kemacetan lalu-lintas, tetap saja perindu tanah leluhur berduyun-duyun
menapak jejak dengan motor, mobil, bis, kereta api, pesawat, atau kapal. Bahkan
ada yang naik becak dan kuda. Tentu jaraknya tidaklah ratusan atau ribuan
kilometer.
Bagaimanapun kondisi negara atau pemerintahan, tradisi
mudik patutlah dipertahankan karena ia penuh rasa persaudaraan. Setelah tiga
pekan puasa, memasuki pekan keempat, mereka berbarengan menuju kampung, menahan
marah akibat motor atau mobilnya disenggol pemudik lainnya, dan bahkan ridha
pada apapun yang terjadi di jalan. Sabar dan ridha dalam kemacetan, dalam
kepanasan, dalam antrian panjang menjadi latihan langsung setelah tiga pekan
puasa. Latihan sabar dan menahan marah, emosi yang meletup dan egoisme pribadi.
Pada mudik tahun 2025 ini, sejak 24 Maret hingga 8
April nanti, ada kemudahan yang diberikan oleh pemerintahan Presiden Prabowo. Misalnya,
diskon tiket pesawat dan kereta api. Diskon tarif jalan tol. Tetaplah ini patut
disyukuri karena lumayan bisa berhemat dan bisa dialihkan untuk membeli makanan,
minuman, oleh-oleh, dan lain-lain. Adapun pengamanan, seperti tahun-tahun
sebelumnya, dilaksanakan oleh polisi, dibantu petugas dari Kementerian dan Dinas
Perhubungan, dibantu oleh anggota TNI, dan satuan pengaman (security).
Selamat mudik, iringilah dengan doa, doa apa saja, doakan bapak-ibu, doakan adik, kakak, doakan istri dan anak-anak serta cucu-buyut-cicit, doakan keponakan, doakan guru dan dosen, doakan pemerintah, doakan, sepupu, paman dan bibi, doakan teman-teman. Doa selama safar pasti dikabulkan oleh Allah Swt.
Semoga selamat sampai tujuan. Demikian juga nanti pada saat balik ke lokasi domisili untuk bekerja sehari-hari, semoga aman, lancar, sehat wal'afiat. Aamiin ya Allah ya Kariim. *
24 Maret 2025
Cahaya di Atas Cahaya: Apakah Mutlak?
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahiim...
Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah,
Subhanallah wabihamdihi, subhanallah wabihamdihi, subhanallah wabihamdihi,
Ya Hayyu, Ya Qayyum, birahmatika astaghits.
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. 24:35).
Cahaya adalah zat pertama yang
dilihat manusia, sesaat ia lahir ke dunia. Berkas cahaya melewati lensa matanya
dan menimbulkan bayangan. Hanya saja, bayi belum merespon dengan gerak, aksi,
atau ucapan yang dipahami ibunya. Bayi lantas mulai mengenal alam dengan
bantuan cahaya. Begitu seterusnya sampai masa balita, anak-anak, remaja,
dewasa, tua dan akhirnya menutup mata tanpa cahaya yang mampu diidentifikasi
oleh retinanya.
Cahaya, dalam hal ini adalah
cahaya matahari, sudah ada sejak matahari diciptakan, atau beberapa waktu
setelah Big Bang, dentuman dahsyat
terjadi. Sekian juta tahun kemudian, setelah melewati zaman es pertama dan
kedua, masa hidup dinosaurus, dan memasuki tahun Masehi hingga pada masa
kenabian Muhammad SAW, hadirlah keterangan dari Allah tentang cahaya. Ada
sekitar 20 surat dan 40 ayat di dalam Al
Qur’an yang menyitir tentang cahaya.
Dalam kajian sainstifik, menurut Einstein, cahaya adalah materi yang memiliki kecepatan absolut atau mutlak tercepat di ruang hampa (vakum). Tidak ada zat yang melebihi kecepatan anggota spektrum gelombang elektromagnet ini. Adapun menurut Al Qur’an, yaitu pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj, malaikat Jibril yang besarnya meliputi semesta dan kecepatannya 50.000 tahun cahaya menunjukkan bahwa ada cahaya selain cahaya yang dimaksud oleh Einstein dan periset lainnya.
Keduanya atau bahkan semua
jenis cahaya (cahaya bintang, cahaya benda pijar, kunang-kunang, dll) adalah
ciptaan Allah. Cahaya matahari dan berbagai cahaya lainnya di semesta ini, juga
cahaya dalam makna malaikat yang diciptakan dari sejenis cahaya adalah makhluk
Allah yang bisa dipercepat, diperlambat, dihentikan, atau bahkan dihancurkan
oleh Allah.
Praabad ke-20
Jauh sebelum Muhammad SAW
lahir, sebelum beliau dinabikan oleh Allah SWT, di dunia ilmu dan filsafat
berkembang paham bahwa cahaya matahari bisa sampai ke Bumi karena merambat
melalui media eter. Pendapat Aristoteles ini belum pernah diuji, minimal belum
ada catatan atau manuskrip yang bisa ditelusuri oleh ilmuwan muslim pada abad
pertengahan. Pendapat ini lantas diuji oleh Michelson dan Morley pada tahun
1887. Dari serangkaian percobaan di beberapa tempat dan dengan variabel
penelitian yang rumit, mereka sampai pada kesimpulan bahwa eter itu tidak ada.
Artinya, cahaya bisa merambat di ruang hampa dan kecepatannya tidak bergantung
pada arahnya. Namun masih ada pertanyaan tersisa, mengapa cahaya bergerak
begitu cepat?
Galileo adalah salah seorang
yang mempertanyakan tentang kecepatan cahaya. Dalam bukunya yang diterbitkan
pada tahun 1638 yang ditulis dalam bentuk percakapan antara tiga orang bernama
Salviati, Sagredo dan Simplicio menceritakan mengenai apa yang mereka katakan
tentang kecepatan cahaya.
Pada tahun 1675 astronom
Denmark, Ole Roemer, membuat beberapa pengamatan mengenai bulan-bulan Jupiter.
Ia memperoleh nilai kecepatan cahaya sebesar 2 x 108 m/detik. Fisikawan Prancis Louis Fizeu pada tahun 1849
meneliti perbedaan kecepatan cahaya di dalam air yang mengalir. Ia mendapatkan
nilai kecepatan cahaya sebesar 3,13x108 m/detik. Para ilmuwan di
Biro Standar Nasional di Boulder Colorado, di antaranya Evenson, dengan
menggunakan teknik pengukuran hubungan panjang gelombang radiasi dan frekuensi
laser-helium-neon memperoleh nilai kecepatan cahaya sebesar 299.792.4574
km/detik. Maka sejak tahun 1973 disepakati bahwa kecepatan cahaya adalah
berlandaskan pada percobaan Evenson tersebut.
Ketiadaan eter sebagai medium perantara rambatan cahaya dan perolehan nilai
kecepatan cahaya mengantarkan Einstein pada tahun 1905 untuk membuat gagasan
berani. Gagasan bahwa kecepatan cahaya adalah sama dalam semua kerangka
referensi. Ia menyatakan, jika sejumlah pengamat bergerak terhadap satu sama
lain dan terhadap sumber cahaya dan jika setiap pengamat mengukur kecepatan
cahaya yang keluar dari sumber tersebut, maka mereka semua akan mendapatkan
nilai yang sama.
Abad ke-21
Banyak bahan (material) yang
mampu memperlambat laju cahaya. Air mampu memperlambat cahaya menjadi 75% dari
kecepatan aslinya. Intan, zat yang sangat keras, mampu memperlambat cahaya
menjadi 58% dari kecepatan di ruang hampa. Seorang profesor di Universitas
Harvard bernama Lene Hau pada tahun 1998 berhasil memperlambat cahaya dari
300.000 km per detik menjadi 30 km per jam.
Pada tahun 2000, di Rowland
Institute for Science di Cambridge, Massachussetts, para pakar menggunakan awan
atom sodium (natrium) berbentuk batang dengan panjang 0,2 mm dan diameter 0,05
mm. Metode yang digunakan adalah mendinginkan awan atom sodium tersebut hingga
hampir nol derajat Kelvin sehingga atom-atomnya berikatan, bergabung menjadi
satu dan kompak. Berkas cahaya dilewatkan pada gugus atom tersebut dan
diperoleh kecepatan cahaya yang melambat. Pada penelitian selanjutnya diperoleh
laju cahaya sepersepuluhjuta dari kecepatan di ruang vakum bahkan
menghentikannya pada temperatur nyaris nol derajat Kelvin.
Hal serupa diteliti oleh
sekelompok ahli di Universitas Rochester tahun 2003. Dengan menggunakan panjang
gelombang cahaya terbatas, para peneliti ini berhasil memperlambat kecepatan
cahaya dengan media yang relatif mahal, seperti cold gases dan solid
crystalline. Begitu pula peneliti dari Luc Thevenaz dan peneliti dari Ecole
Polytechnique Federale de Lausanne di Swiss yang melaksanakan percobaan di
laboratorium Nanophotonic and Metrology. Bahannya adalah serat optik sederhana
pada temperatur kamar. Tim ini berhasil memperlambat laju cahaya dan juga
mempercepatnya. Cahaya bisa diperlambat dan bisa juga dipercepat, bahkan
dihentikan. Artinya, cahaya adalah makhluk Allah,
Dari sejumlah hasil penelitian
tersebut, disimpulkan bahwa cahaya tidak absolut, artinya bisa direkayasa oleh
manusia dengan alat dan metode tertentu. Adapun dalam tinjauan Islam, menurut
ayat 35 surat An-Nuur, ada cahaya lain yang lebih cepat daripada cahaya tampak
yang bisa didifraksi menjadi cahaya pelangi. Ayat ini ada yang menafsirkan
sebagai makna batin yang mendalam oleh kalangan sufi. Bagi kaum Dhahiri, Allah
itulah cahaya. Yang pasti, cahaya di Bumi ini tidak sama dengan cahaya dalam
makna Jibril dan cahaya yang dinisbatkan kepada Allah.
Kesimpulan
Cahaya diakui sebagai zat yang paling cepat melesat di ruang hampa. Dalam makna malaikat (yaitu Jibril), kecepatan cahaya ini jauh melebihi kecepatan cahaya tampak. Kini cahaya bisa diperlambat, bisa dikurangi kecepatannya, bahkan bisa dihentikan. Hanya saja, peneliti sampai saat ini belum mampu mempercepat cahaya di atas kecepatan yang sampai saat ini dipercaya sebagai kecepatan yang tercepat (mutlak).
Apabila
cahaya bisa diperlambat maka hipotesis yang muncul, cahaya pun bisa dipercepat.
Tidak ada sesuatu yang tidak bisa diubah dan berubah di semesta ini, selama ia
adalah makhluk Allah. Persoalannya adalah pada alat dan metodenya yang boleh
jadi ditemukan pada masa mendatang. Dengan demikian, tidak ada yang mutlak di
semesta ini, termasuk cahaya. Wa Allahu 'alam. *
Daftar Pustaka
1. Al Qur’an,
Surat An Nuur: 35.
2. Asyarie, S., Yusuf, R. 1984. Indeks Al Qur’an. Bandung: Pustaka Salman ITB
3. Halliday, Resnick.
1990. Fisika Jilid 2. Jakarta:
Erlangga
4. Ismunandar. 2007. Kimia
Populer, Dari Kasus-Kasus Merkuri Sampai Energi Matahari. Bandung: Penerbit
ITB
5. Pranggono, B. 2006. Mukjizat Sains dalam Al Qur’an. Bandung: Ide Islami
6. Purwanto, A. 2008. Ayat-Ayat Semesta. Bandung:
Mizan
7. Wospakrik, H. J. 2005. Dari Atomos Hingga Quark. Jakarta: Universitas Atma Jaya – Kepustakaan Populer Gramedia
















