• L3
  • Email :
  • Search :

25 Agustus 2026

"PDAM"-nya Arab Saudi

"PDAM"-nya Arab Saudi

SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) di Arab Saudi (Kingdom of Saudi Arabia, KSA) dan di Republik Indonesia berbeda signifikan. Sumber air, pengelola sistem transmisi berbeda dengan pengelola sistem distribusi. Di Indonesia, PDAM (sekarang BUMD AM) mengelola (mengolah) air sumbernya, mentransmisikannya (air baku dan/atau air minum), dan mendistribusikannya ke pelanggan. Semua tahap itu dilaksanakan oleh satu perusahaan di setiap kabupaten/kota di Indonesia.

Mayoritas sumber air di Arab Saudi berasal dari laut, yaitu air asin. Ada sumber air tawar dari sungai yang dibendung tetapi sedikit. IPAM untuk air laut ini menerapkan teknologi membran dan menjadi instalasi terbesar di seluruh dunia, mencapai 22% dari total desalination plant di dunia. Biaya konstruksinya sangat mahal, begitu juga biaya operasi dan perawatan (pemeliharaannya), lebih mahal lagi. Akankah Saudi bertahan apabila minyak buminya habis? Mungkin saja mampu sebab income besar diperoleh dari layanan jamah haji dan umroh yang tiada sepi dari hari ke hari. Visi 2030 Saudi Arabia sudah menatap kondisi ini. 

Uniknya, penduduk Arab Saudi kurang lebih 36 juta orang. Tetapi yang asli atau yang kewarganegaraannya Saudi hanya 55,55% atau sekitar 20 juta orang. Sisanya adalah expat dari berbagai negara dengan jumlah 16 juta orang (44,45%). Hampir setengahnya. Beberapa tahun ke depan mungkin akan berbalik, justru expat yang lebih banyak. Expat ini bekerja di sektor konstruksi, konsultan, industri, dan rumah tangga. Negara asalnya adalah Pakistan, Bangladesh, Myanmar, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Dari Benua Eropa, Amerika, Australia juga ada. Minyak dan gas adalah sektor utamanya. 

Sungguh, pemerintah Arab Saudi serius menyediakan air untuk masyarakatnya: rumah tangga, kantor, komersial, dan industri. Bahkan memiliki tabungan air minum untuk tujuh hari apabila semua IPAM-nya berhenti beroperasi. Saudi memproduksi 16 juta meter kubik air minum per hari. Sekitar 7,2 juta m3/hari digunakan untuk domestik (rumah tangga) yang berada di daerah gurun dan ibukota Riyadh (400 km dari pantai). Debit tersebut setara dengan 83.333.33 liter per detik. Satu liter/detik di Indonesia bisa untuk 700 orang. Maka debit tersebut bisa untuk 58 juta orang. Jauh melebihi jumlah penduduknya. Sisa debitnya untuk kebutuhan industri dan domestik di kota-kota yang dekat dengan IPAM seperti Jeddah, Mekkah, Madinah di pantai barat (di Laut Merah) dan Khobar dan Jubail di pantai timur (di Teluk Persia).

Bagaimana dengan sistem transmisinya? Saudi memiliki pipa transmisi sepanjang 10.100 km dan terus bertambah. Diameter pipa induknya: 60 - 84 inch atau 1.500 - 2.130 mm (lebih tinggi daripada manusia). Pipa sekundernya : 40 - 56 inch (1.000 mm - 1.420 mm). Pipa tersiernya: 20 - 36 inch (500 mm - 900 mm). Pipa tahan panas ini berbahan high-strength carbon steel yang dilapisi oleh tiga lapis polimer agar air tidak menguap akibat panasnya pasir gurun yang bisa mencapai 45 derajat Celcius. Perusahaan yang mengelola sistem transmisi ini adalah WTTCO (Water Transmission and Technologies Company).

Dari pipa transmisi tersebut air lantas ditampung di reservoir-reservoir besar di batas kota. Dari tangki reservoir ini air dialirkan ke rumah, kantor, hotel, dll secara pemompaan. Panjang total pipa distribusi berbahan HDPE adalah 127.500 km. Selain lewat pipa, ada juga pengiriman air dengan truk-truk tangki setiap hari terutama di lokasi yang belum ada jaringan pipa. Hotel-hotel di Mekkah dan Madinah banyak yang memperoleh air dengan cara dipasok oleh truk tangki (non-potable water). Perusahaan yang mengelola sistem distribusi adalah NWC (National Water Company).

Untuk air baku dan air minum, secara umum, Indonesia tidak perlu mengolah air laut menjadi air tawar berbiaya sangat mahal untuk kebutuhan sehari-hari. Orang Indonesia patut bersyukur.*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar