Kemarau Tanpa Krisis Air?
Musim
kemarau tahun 2026 ini sedang menuju puncaknya, demikian laporan yang dirilis
oleh BMKG. Kabar baiknya, potensi terjadinya El Nino Godzilla sangat tipis,
bahkan diperkirakan tidak terjadi. Namun demikian, luasan wilayah yang
mengalami kekeringan terus bertambah hingga akhir Agustus 2026. Dari total 699 Zone
Musim di Indonesia, kemarau yang lebih kering terjadi di 451 ZOM (64,5%),
kemarau normal di 245 ZOM (35,1%), dan kemarau basah di 3 ZOM (0,4%). Durasi
kemarau yang lebih lama akan terjadi di 57,2% wilayah Indonesia.
Kemarau
berkepanjangan tersebut mengakibatkan gagal panen, penipisan debit air di badan
air seperti sungai, danau, waduk dan penurunan permukaan air tanah khususnya
air tanah dangkal. Air tanah dalam yang biasa dimanfaatkan oleh BUMD AM sebagai
sumber air juga terimbas sehingga kapasitas produksinya berkurang. Kondisi ini berdampak
pada pasokan air minum ke pelanggan, pengaliran airnya tidak bisa kontinyu atau
dilaksanakan secara bergilir. Sebagai antisipasi krisis air baku dan meniadakan
protes pelanggan maka upaya preventif dan kuratif sepatutnya ditempuh oleh
pemerintah dan BUMD AM.
Preventif
Upaya preventif dilaksanakan oleh pemerintah dan DPRD dengan partisipasi aktif OPD terkait. Mitigasi bersama ini untuk menihilkan konflik kepentingan (conflict of interest). Mitigasi ini sifatnya lintas sektoral karena berkaitan dengan pertanian, perikanan, perkebunan, hutan dan lahan, dan air minum publik yang dikelola BUMD AM.
Upaya
preventif yang alamiah ialah mengoptimalkan fungsi tanah sebagai reservoir air (akifer).
Pegunungan dan pebukitan dijadikan hutan konservasi yang berfungsi sebagai
tangkap - resap air hujan. Rehabilitasi hutan bermanfaat untuk daya tampung air
tanah tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga opsi pembangunan reservoir
buatan (waduk, embung, kolam retensi) menjadi pilihan. Selain itu, BUMD AM
perlu membuat reservoir air minum, yaitu ground reservoir sebagai
tabungan air olahan yang berlokasi di daerah pelayanan. Air ini bisa langsung
dialirkan ke pelanggan pada saat jam puncak atau kemarau panjang. Pola
distribusi yang digunakan sebaiknya zoning system, yaitu memiliki banyak
reservoir distribusi.
BUMD
AM juga perlu mengolah kembali air bekas pencucian media filter (backwash),
air pengurasan endapan bak prasedimentasi, sedimentasi, koagulasi, flokulasi
menggunakan sludge drying bed (SDB). Air filtrat SDB dicampurkan lagi
dengan air baku untuk diolah kembali. Reuse ini dapat mereduksi polusi
air, mengurangi pendangkalan sungai, memperoleh kerak lumpur (cake) untuk
urugan, dan potensi recovery kation aluminum dan besi. Reuse juga
bisa dilakukan pada air efluen IPAL domestik dengan mencontoh Newater di
Singapura. Tetapi perlu kesiapan teknologi membran di setiap IPAM yang mengolah
efluen IPAL.
Tidak
hanya pemerintah dan BUMD AM, tetapi pelanggan juga perlu bertindak preventif,
yaitu memiliki tangki air cadangan. Apabila satu rumah dihuni oleh lima orang,
dengan asumsi kebutuhan air 120 liter per orang per hari maka diperlukan 600
liter air per hari. Untuk cadangan tiga hari diperlukan tangki bervolume 1.800
liter.
Kuratif
Tindakan kuratif lebih banyak diperlukan di sistem transmisi dan distribusi. Investasi kedua sistem ini mencapai 80% dari investasi SPAM. Secara berkala pipa transmisi air baku perlu dibersihkan dengan cara membuka katup pengurasan (washout). Maksimalkan juga efisiensi bak prasedimentasi agar mengurangi frekuensi pengurasan pipa transmisi. Lakukan inspeksi kebocoran di bak-bak pelepas tekanan dan katup-katup udara (air release valve).
Di
sistem distribusi, semua valve harus dicek. Giatkan inspeksi pipa
distribusi untuk mendeteksi kebocoran pipa. Perlu respons cepat apabila ada laporan
masyarakat tentang genangan air di atas pipa distribusi dan pengecekan rutin district
metered area (DMA). Pada musim kemarau biasanya ada pelanggan yang menggunakan
pompa untuk menyedot air dari pipa distribusi. Namun ada risikonya, yaitu air
di luar pipa (misalnya air selokan) bisa ikut tersedot ke dalam pipa sehingga airnya
tercemari bakteri dan zat kimia berbahaya dan beracun.
Masyarakat
juga perlu mengecek pipa-pipa dan bak airnya di rumah untuk memastikan masih kedap
dan tidak rembes. Mandi menggunakan shower atau pancuran lebih hemat daripada
bathtub. Baju bisa dicuci secara manual, tidak menggunakan mesin cuci
kecuali berbisnis laundry. Apabila mungkin tampunglah air bekas mandi
dan cuci untuk menyiram halaman rumah dan tanaman. Mencuci motor atau mobil bisa
dengan cara dilap basah bukan disemprot kecuali berbisnis car-wash. Masyarakat
bisa menampung air bekas wudhu untuk mencuci lantai garasi atau menyiram
tanaman. Cara ini juga bisa diterapkan di masjid, hotel, villa, apartemen.
Upaya
preventif-kuratif tersebut membantu BUMD AM tetap mampu melayani pelanggan
selama kemarau sehingga meniadakan protes pelanggan dan memperoleh pendapatan
rutin bulanan. Pelanggan juga memiliki air untuk kebutuhan sehari-harinya.*
Upaya preventif dilaksanakan oleh pemerintah dan DPRD dengan partisipasi aktif OPD terkait. Mitigasi bersama ini untuk menihilkan konflik kepentingan (conflict of interest). Mitigasi ini sifatnya lintas sektoral karena berkaitan dengan pertanian, perikanan, perkebunan, hutan dan lahan, dan air minum publik yang dikelola BUMD AM.
Tindakan kuratif lebih banyak diperlukan di sistem transmisi dan distribusi. Investasi kedua sistem ini mencapai 80% dari investasi SPAM. Secara berkala pipa transmisi air baku perlu dibersihkan dengan cara membuka katup pengurasan (washout). Maksimalkan juga efisiensi bak prasedimentasi agar mengurangi frekuensi pengurasan pipa transmisi. Lakukan inspeksi kebocoran di bak-bak pelepas tekanan dan katup-katup udara (air release valve).



Tidak ada komentar:
Posting Komentar