• L3
  • Email :
  • Search :

30 Agustus 2026

Kemarau Tanpa Krisis Air?

Kemarau Tanpa Krisis Air?

Musim kemarau tahun 2026 ini sedang menuju puncaknya, demikian laporan yang dirilis oleh BMKG. Kabar baiknya, potensi terjadinya El Nino Godzilla sangat tipis, bahkan diperkirakan tidak terjadi. Namun demikian, luasan wilayah yang mengalami kekeringan terus bertambah hingga akhir Agustus 2026. Dari total 699 Zone Musim di Indonesia, kemarau yang lebih kering terjadi di 451 ZOM (64,5%), kemarau normal di 245 ZOM (35,1%), dan kemarau basah di 3 ZOM (0,4%). Durasi kemarau yang lebih lama akan terjadi di 57,2% wilayah Indonesia.


Kemarau berkepanjangan tersebut mengakibatkan gagal panen, penipisan debit air di badan air seperti sungai, danau, waduk dan penurunan permukaan air tanah khususnya air tanah dangkal. Air tanah dalam yang biasa dimanfaatkan oleh BUMD AM sebagai sumber air juga terimbas sehingga kapasitas produksinya berkurang. Kondisi ini berdampak pada pasokan air minum ke pelanggan, pengaliran airnya tidak bisa kontinyu atau dilaksanakan secara bergilir. Sebagai antisipasi krisis air baku dan meniadakan protes pelanggan maka upaya preventif dan kuratif sepatutnya ditempuh oleh pemerintah dan BUMD AM.
 
Preventif
Upaya preventif dilaksanakan oleh pemerintah dan DPRD dengan partisipasi aktif OPD terkait. Mitigasi bersama ini untuk menihilkan konflik kepentingan (conflict of interest). Mitigasi ini sifatnya lintas sektoral karena berkaitan dengan pertanian, perikanan, perkebunan, hutan dan lahan, dan air minum publik yang dikelola BUMD AM.
 
Upaya preventif yang alamiah ialah mengoptimalkan fungsi tanah sebagai reservoir air (akifer). Pegunungan dan pebukitan dijadikan hutan konservasi yang berfungsi sebagai tangkap - resap air hujan. Rehabilitasi hutan bermanfaat untuk daya tampung air tanah tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga opsi pembangunan reservoir buatan (waduk, embung, kolam retensi) menjadi pilihan. Selain itu, BUMD AM perlu membuat reservoir air minum, yaitu ground reservoir sebagai tabungan air olahan yang berlokasi di daerah pelayanan. Air ini bisa langsung dialirkan ke pelanggan pada saat jam puncak atau kemarau panjang. Pola distribusi yang digunakan sebaiknya zoning system, yaitu memiliki banyak reservoir distribusi.
 
BUMD AM juga perlu mengolah kembali air bekas pencucian media filter (backwash), air pengurasan endapan bak prasedimentasi, sedimentasi, koagulasi, flokulasi menggunakan sludge drying bed (SDB). Air filtrat SDB dicampurkan lagi dengan air baku untuk diolah kembali. Reuse ini dapat mereduksi polusi air, mengurangi pendangkalan sungai, memperoleh kerak lumpur (cake) untuk urugan, dan potensi recovery kation aluminum dan besi. Reuse juga bisa dilakukan pada air efluen IPAL domestik dengan mencontoh Newater di Singapura. Tetapi perlu kesiapan teknologi membran di setiap IPAM yang mengolah efluen IPAL.
 
Tidak hanya pemerintah dan BUMD AM, tetapi pelanggan juga perlu bertindak preventif, yaitu memiliki tangki air cadangan. Apabila satu rumah dihuni oleh lima orang, dengan asumsi kebutuhan air 120 liter per orang per hari maka diperlukan 600 liter air per hari. Untuk cadangan tiga hari diperlukan tangki bervolume 1.800 liter.
 
Kuratif
Tindakan kuratif lebih banyak diperlukan di sistem transmisi dan distribusi. Investasi kedua sistem ini mencapai 80% dari investasi SPAM. Secara berkala pipa transmisi air baku perlu dibersihkan dengan cara membuka katup pengurasan (washout). Maksimalkan juga efisiensi bak prasedimentasi agar mengurangi frekuensi pengurasan pipa transmisi. Lakukan inspeksi kebocoran di bak-bak pelepas tekanan dan katup-katup udara (air release valve).
 
Di sistem distribusi, semua valve harus dicek. Giatkan inspeksi pipa distribusi untuk mendeteksi kebocoran pipa. Perlu respons cepat apabila ada laporan masyarakat tentang genangan air di atas pipa distribusi dan pengecekan rutin district metered area (DMA). Pada musim kemarau biasanya ada pelanggan yang menggunakan pompa untuk menyedot air dari pipa distribusi. Namun ada risikonya, yaitu air di luar pipa (misalnya air selokan) bisa ikut tersedot ke dalam pipa sehingga airnya tercemari bakteri dan zat kimia berbahaya dan beracun.
 
Masyarakat juga perlu mengecek pipa-pipa dan bak airnya di rumah untuk memastikan masih kedap dan tidak rembes. Mandi menggunakan shower atau pancuran lebih hemat daripada bathtub. Baju bisa dicuci secara manual, tidak menggunakan mesin cuci kecuali berbisnis laundry. Apabila mungkin tampunglah air bekas mandi dan cuci untuk menyiram halaman rumah dan tanaman. Mencuci motor atau mobil bisa dengan cara dilap basah bukan disemprot kecuali berbisnis car-wash. Masyarakat bisa menampung air bekas wudhu untuk mencuci lantai garasi atau menyiram tanaman. Cara ini juga bisa diterapkan di masjid, hotel, villa, apartemen.
 
Upaya preventif-kuratif tersebut membantu BUMD AM tetap mampu melayani pelanggan selama kemarau sehingga meniadakan protes pelanggan dan memperoleh pendapatan rutin bulanan. Pelanggan juga memiliki air untuk kebutuhan sehari-harinya.*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar