Sumber: dokumen pribadi
Di dalam bukunya itu, di halaman 192, alumni Arsitektur ITB ini menulis
sbb: ”Bila air minum di suatu kota didoakan dengan serius untuk kesalehan,
insya Allah semua penduduk yang meminumnya akan menjadi baik dan tidak
beringas. Rasulullah Saw bersabda, “Zamzam lima syuriba lahu: Air zamzam akan
melaksanakan pesan dan niat yang meminumnya.” Barangsiapa minum supaya kenyang,
dia akan kenyang. Barangsiapa minum untuk menyembuhkan sakit, dia akan sembuh.
Subhanallah. Pantaslah air Zamzam begitu berkhasiat karena dia menyimpan pesan
doa jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s”.
Alinea sebelumnya berbunyi, “Tubuh manusia memang 75% terdiri atas air. Otak
74,5%, darah 82%, tulang yang keras pun mengandung 22% air. Air putih gallon di
rumah, bisa setiap hari didoakan dengan khusuk kepada Allah agar anak yang
meminumnya saleh, sehat, cerdas, dan agar suami yang meminum tetap setia. Air
tadi akan berproses di tubuh meneruskan pesan kepada air di otak dan pembuluh
darah. Dengan izin Allah, pesan tadi akan dilaksanakan tubuh tanpa kita sadari”.
Poin yang dapat diambil dari tulisan dosen Unisba tersebut adalah perihal
mendoakan air, secara ikhlas, untuk kemanfaatan bagi peminumnya. Dengan kata lain,
apabila dewan direksi PDAM adalah orang-orang saleh, insan-insan PDAM juga
saleh dan ikhlas, minimal para operator di unit pengolahnya, mendoakan air yang
diolahnya agar bermanfaat untuk kesehatan, kesalehan dan kecerdasan peminumnya
(pelanggannya) maka efeknya akan luar biasa. Boleh jadi, bukan zat airnya an sich yang menyembuhkan atau menyehatkan tetapi barokah yang diberikan Allah SWT atas doanya yang ikhlas.
Allah Mahatahu, dengan mendoakan air di dalam ZAMP maka manfaat dan efeknya
mendekati atau bahkan sama dengan Zamzam. Akankah sifat air di ZAMP berubah
sifatnya menjadi air “Zamzam”? Apabila mengedepankan logika, akal pikiran, dan
rumus-rumus kimia dan stoikiometri, tentu jawabannya "tidak berubah".
Tetapi di luar logika dan akal pikiran manusia, ada yang namanya barokah dari
Allah. Barokah ini di luar nalar manusia. Allah Mahakuasa yang mengatur hukum
alam. Berdoalah sebelum minum air PDAM dan air lainnya. Bukankah tidak sia-sia
berdoa?
Karakteristik fisik sumur Zamzam sekarang sbb: level permukaan air Zamzam normalnya di kedalaman 3,23 meter di bawah muka
tanah. Dangkal. Pemompaan yang masif, muka airnya turun ke level 13,4 m. Total kedalaman sumur 31 meter. Lokasinya sekitar 21 meter di sebelah Timur Ka’bah. Pada zaman Nabi
Ibrahim, yaitu ketika Ismail masih bayi, di dekat kakinya muncul air yang
kemudian disebut Zamzam karena ibunda Ismail, yaitu Hajar berkata zam zam zam.
Dalam analisis hidrogeologi, air yang muncul ini disebut air artesis karena
langsung keluar di permukaan tanah dan harus berada di dalam akifer bertekanan (confined aquifer). Bisa dipastikan, mengacu pada karakteristik tersebut, sumur Zamzam tidak berada di zone akifer bertekanan. Mengapa air bisa muncul di dekat kaki Ismail di tengah gurun panas yang jarang hujan? Ini pun di luar nalar secara hidrogeologi.
Pemerintah Saudi pernah melakukan uji coba dengan memompa air Zamzam jauh
di atas debit imbuhannya (recharge) sehingga muka airnya turun 10 m. Setelah pompa dihentikan (stop), permukaan air Zamzam kembali
pulih seperti sebelumnya dalam waktu sebelas (11) menit saja. Dari mana sumber airnya itu, di tengah gurun panas, yang air lekatan di badan selepas mandi pun bisa langsung kering? Merujuk pada otoritas Saudi, debit air yang bisa dimanfaatkan antara 11 - 18,5 liter per detik. Para ahli berusaha menjelaskan
bahwa lokasi Zamzam itu di dalam Wadi Ibrahim (Abraham Valley) dan kondisi
geologinya mempermudah infiltrasi dan perkolasi air hujan. Ini adalah pendekatan sainstifik dan wajar serta boleh dalam dunia akademis. Namun, sekali lagi, tetap muncul pertanyaan ini.
Dari mana air tersebut datang ketika
musim kemarau panjang di Mekkah? Padahal, secara teoretis,
kedalaman sumur hanya 31 meter dan ini artinya berada di akifer bebas (unconfined
aquifer). Sama seperti sumur-sumur penduduk Indonesia, yang dalamnya
sekitar 31 meter atau bahkan 50 meter akan susut airnya atau bahkan kering pada
musim kemarau yang panjang. Mengapa sumur Zamzam tetap berair meskipun diminum terus setiap hari oleh jamaah umroh dan dua juta orang jamaah haji pada musim haji? Sekali lagi,
inilah barokah Allah. Ini bisa diuji dengan cara membuat sumur lain di Mekkah atau penduduk sekitarnya yang sudah menbuat sumur, apakah berair pada musim kemarau panjang?
Mekkah berada di ketinggian rerata 277 mdpl (meter di atas permukaan laut). Tidak mungkin air laut yang asin itu merembes (intrusi) naik ke bukit setinggi 277 m, jaraknya pun lebih dari 70 km dari pantai di Laut Merah kemudian berubah menjadi air tawar. Kondisi ini bisa dibandingkan dengan daerah (Desa/Kecamatan) Nanggung di Kabupaten Bogor terhadap pantai di Utara Jakarta. Bisakah air laut naik ke Nanggung? Nonsense. Not make sense.
Yang pasti, setelah 4.000 tahun lewat masa Nabi Ibrahim as (dan Ismail) itu, setiap jamaah haji dan
umroh bisa meminum air Zamzam setiap hari. Ada banyak keran air (fountain) dan wadah-wadah
air di dalam dan di luar masjidil Haram. Sekarang air Zamzam dipompa kemudian ditampung dan didistribusikan kepada jamaah, bahkan dikirim menggunakan truk tangki
ke masjid Nabawi di Madinah dengan volume 400.000 liter setiap hari.
Allāhumma innī as'aluka 'ilman nāfi'an, wa rizqan wāsi'an, wa
syifā'an min kulli dā'in.
"Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang
luas, dan kesembuhan dari segala penyakit. *