• L3
  • Email :
  • Search :
Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan

1 September 2024

Berharap Maslahat Tambang di Tangan Ormas Agama

Setelah Nahdlatul Ulama, akhirnya Muhammadiyah menerima tawaran pemerintah untuk mengelola tambang. Landasan yuridis formalnya adalah Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) yang termaktub di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 25/2024 yang berkaitan dengan pertambangan mineral dan batubara sebagai pengganti PP No. 96/2021. Dalam sejarah bangsa Indonesia pemberian izin konsesi tambang kepada ormas (keagamaan) baru kali ini terjadi sehingga menuai polemik.

https://news.detik.com/kolom/d-7497961/berharap-maslahat-tambang-di-tangan-ormas-agama

Tanggapan ormas ada dua: ada yang menolak (KWI, PGI, HKBP, NW) dan ada yang menerima, yaitu NU dan Muhammadiyah. Pihak di luar ormas yang menolak antara lain elite partai politik, tokoh agama, insan pers, LSM, hingga akademisi. Dianggap tidak memiliki kompetensi dan keluar dari misi pokok sebagai ormas keagamaan adalah dua argumentasi kalangan yang menolak. Bahkan beberapa organisasi di bawah Muhammadiyah dan NU juga ada yang menolak, taerutama kalangan mahasiswa.

Apabila diretas, ada tiga aspek utama dalam pertambangan, yaitu ekologi, ekonomi, dan etika lingkungan. Ketiganya berkaitan tetapi faktanya selama ini penerima konsesi lebih fokus pada aspek ekonomi dan melupakan ekologi dan etika seperti pencemaran, transisi energi, dan kependudukan.

Hikmah Ekologi

Elite PBNU menerima konsesi tambang sebagai peluang ibadah sosial. Selama ini fikih ibadah ritual lebih diutamakan dalam dakwah. Pilihan ritual ini pasti tepat lantaran tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Namun demikian, ibadah sosial ekonomi juga mampu meningkatkan kualitas ibadah ritual apabila rambu hukum halal haramnya dijalani. Ibadah sosial yang sudah lama menjadi gerakan ormas Islam adalah pendidikan. Kyai dan ulama memiliki ilmu halal haram yang diajarkan di pendidikan formal, nonformal, dan informal. Adapun advokasi masalah tataruang, konflik agraria dan krisis ekologi dilaksanakan oleh lembaga bantuan hukum internal ormas.

Di kalangan NU kajian ekologi yang berasaskan fikih sudah pula dibahas di dalam buku Fiqih Lingkungan Hidup, terbit tahun 2006, oleh KH. Ali Yafie. Ulama yang aktif di ICMI dan PBNU ini memaparkan tanggung jawab kaum muslimin dalam konservasi fungsi lingkungan lokal dan global dan diperinci dengan ayat Qur’an dan hadis. Mantan ketua MUI ini pun memberikan opsi pintu darurat sebagai solusi masalah lingkungan akibat perbuatan manusia (Surat ar Ruum: 41). Dampak buruk perbuatan manusia itu sudah terjadi di darat (tanah), udara, dan air (sungai, danau, rawa, pantai, laut).

Fikih lingkungan senapas dengan spirit ekologi yang menyatakan bahwa semua makhluk adalah mulia (muhtarom) yang harus dijaga eksistensinya. Dilarang membunuh makhluk (hewan) tanpa maksud yang jelas, misalnya untuk latihan memanah atau menembak. Sebab, semua makhluk hidup dan makhluk tak hidup seperti tanah, air, udara, dan barang tambang adalah ciptaan Sang Khaliq. Bahkan dalam penyembelihan hewan disyariatkan menggunakan pisau supertajam agar tidak menyiksa hewan. Ada juga riwayat bahwa seorang pelacur bisa masuk ke surga karena memberikan air minum kepada anjing kehausan.

Hikmah ekologi lainnya adalah redesain kawasan tambang berlandaskan fikih lingkungan dengan dalil dan kajian ulama salaf dan khalaf. Fikih menyatakan bahwa lahan harus ditata untuk permukiman, lahan pertanian-perkebunan (iqta), kawasan lindung (harim), cagar alam dan margasatwa (hima). Kyai dan ulama (NU-Muhammadiyah) tentu lebih paham pada prinsip fikih untuk diterapkan pada tataruang dan ekologi. Inilah yang belum pernah diterapkan oleh penerima konsesi selama ini dan menjadi poin utama bagi Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah.

Hikmah Ekonomi

Puluhan juta orang Indonesia adalah pengikut NU dan diakui oleh PBNU bahwa mereka lemah ekonomi. Dibutuhkan dana untuk meningkatkan kesejahteraan, rehabilitasi madrasah, pesantren, masjid, gaji guru dan asatidz. Diyakini bahwa konsesi tambang dapat menghidupkan ekonomi anggota NU dan non-anggota. Selama ini pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi milik NU dan Muhammadiyah adalah penggerak ekonomi. Mahasiswa, alumni, dan akademisi di kampus NU dan Muhammadiyah adalah aset aktivitas ekonomi bangsa Indonesia. Yang lebih penting lagi, tambang dikelola oleh orang Indonesia, bukan oleh perusahaan asing atau keluarga konglomerat yang berjaya sejak Orde Baru.

Praktik ekonomi tersebut adalah bottom-up, bukan top-down apalagi trickle down effect yang sulit berkeadilan sosial. Akan terjadi redistribusi uang dan giat ekonomi di seluruh cabang ormas. Jaringan ekonomi ormas bahkan sudah terbentuk sejak NU dan Muhammadiyah berdiri. Tentu saja praktik tersebut bisa diawasi oleh kyai dan ulama yang paham hukum ekonomi Islam dan memiliki rasa takut berdosa apabila berbuat jahat. Selain untuk anggota ormas, dampak sosial ekonomi juga merambat ke orang di luar ormas. Maka upaya untuk mendekati keadilan sosial bisa dirasakan atau minimal bisa meratakan giat ekonomi ke banyak orang.

Kemampuan NU dan Muhammadiyah dalam membela ekonomi dan hak masyarakat sudah terbukti pada kasus UU No. 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Gugatan Muhammadiyah dan kelompok masyarakat lainnya dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi sehingga kasus ini menjadi fakta penting bagi pasal sosioekologi (33 UUD 1945). Hal senada tentu bisa diterapkan dalam konsesi tambang.

Etika Lingkungan

Kemaslahatan umum adalah tujuan etika lingkungan. Pemanfaatan sumber daya alam dan pengubahan rona lingkungan diperbolehkan dengan syarat fungsinya lestari. Yang harus dibatasi adalah lokasi dan luasan yang boleh dieksploitasi. Etika lingkungan mewajibkan rehabilitasi kawasan bekas galian. Apabila lokasi yang diberikan adalah tambang bekas maka konsesi ini seperti spirit ihya al mawat, yaitu memanfaatkan lahan telantar untuk kemakmuran rakyat. Umar bin Khattab (sebagai pemerintah atau khalifah) membolehkan ambil alih lahan yang tidak digarap selama tiga tahun.

Etika lingkungan sepatutnya dijadikan parameter utama dalam izin pertambangan. Semua lahan yang tidak produktif lagi wajib direboisasi agar menjadi sumber oksigen. Di poin inilah ormas keagamaan seharusnya mampu memberikan praktik baik etika lingkungan. Peran kyai dan ulama diharapkan dapat memberikan pengawasan melekat di tingkat ranting, cabang, wilayah hingga pusat.

Sepatutnya elite ormas malu kepada semua orang Indonesia dan sangat malu kepada Allah apabila tidak mampu menerapkan praktik baik pertambangan, hanya business as usual, tidak berbeda signifikan dengan praktik hitam perusahaan tambang sekarang. *

Gede H. Cahyana, Pengamat Lingkungan Universitas Kebangsaan RI

ReadMore »

14 Juli 2020

Prabowo Membuat Sawah?

Prabowo Membuat Sawah?

Meskipun tidak beruang (ini bukan sejenis hewan, tetapi maksudnya adalah punya uang), orang Indonesia, terutama ayah dan ibu pasti masih tenang apabila masih punya beras. Tidak usah berton-ton tetapi cukup untuk makan sekeluarga selama sebulan ke depan. Bahkan masih ada beras untuk dimakan hanya sepekan ke depan pun masih bisa tenang plus garam atau ikan asin (teri). Sebab, beras adalah bahan makanan pokok mayoritas orang Indonesia yang diolah menjadi nasi. Bisa menjadi nasi putih. Nasi kuning, Nasi merah. Nasi campur. Nasi kebuli. Nasi soto. Nasi bakar. Nasi rames dan banyak varian lainnya. Intinya adalah nasi. Beras. Padi. Sawah. Air. Energi.

Sejak 2004 Pak Prabowo aktif memberdayakan petani dan nelayan. Pernah menjadi ketua umum HKTI: Himpunan Kerukunan Tani (dan Nelayan) Indonesia. Visi misinya tidak pernah lepas dari FEW: Food, Energy, Water. Tiga sumber daya alam ini harus tersedia dalam jumlah yang cukup dengan indikasi harganya terjangkau oleh mayoritas orang Indonesia.  FEW ini memiliki risiko tinggi terhadap politik. Bisa menentukan jatuh-majunya pemerintah. FEW juga berkaitan dengan masyarakat, dengan warga negara. Tanpa FEW maka pemerintah tidak akan memiliki view pada masa depan pemerintahannya alias bisa saja kolaps di tengah jalan sebelum habis masanya. Bisa didemisioner oleh rakyatnya sendiri.

Kata Dr. Rizal Ramli, kondisi ekonomi Indonesia memang sudah lemah. Makin lemah lagi akibat Corona yang menimbulkan wabah Covid-19 dan bisa berdampak ekonomi dan politik dalam setahun dua tahun ke depan. Dampaknya di seluruh dunia. Terutama kalau vaksinnya belum ditemukan. Atau karena vaksinnya tidak mampu melawan keganasan Corona. Atau karena harga vaksinnya mahal bagi mayoritas orang. Akibatnya, orang-orang di seluruh dunia, terutama yang khawatir pada serangan Corona, akan mengurangi kontak langsung dengan orang lain. Urusan bisnis dan pekerjaan, perdagangan dan pendidikan, travelling dan wisata lokal dan mondial, tidak akan berkembang. Mati perlahan. Maskapai penerbangan pun kolaps, suatu saat kelak. Indikasi ini sudah mulai tampak di PT Garuda (GIA).

Oleh sebab itu, untuk mengurangi dampak buruk terhadap ekonomi dan politik tersebut maka FEW harus tersedia cukup . FEW tidak boleh few (sedikit) apalagi kekurangan. FEW harus cukup untuk seluruh rakyat Indonesia. Stoknya kalau bisa sampai tiga bulan ke depan, sampai panen lagi. Ini untuk padi. Begitu pun singkong, harus digiatkan tanamnya. Ubi pun disebarkan. Talas ditanam di banyak lokasi. Semua sumber karbohidrat itu ditanam sedekat mungkin dengan masyarakat agar transportasinya menjadi murah sehingga harganya terjangkau. Perlu dicoba lagi diversifikasi pangan. Meskipun ini sulit dicapai sejak zaman Orde Baru karena orang Indonesia tidak mudah pindah dari nasi ke singkong, ke jagung, ke talas, dan/atau ke ubi.

Kembali ke pokok tulisan. Siapa yang mampu mengerjakan megaprojek tersebut? Dari sekian banyak menteri dan menteri coordinator, ini secara objektif, yang punya pengalaman di bidang pertanian dan sebagai pelaku pertanian adalah Prabowo. Ada track record-nya, jejak langkahnya di dunia pertanian, perkebunan, perdagangan, perhutanan tanaman industri, pabrik kertas, sawit, peternakan sapi, domba, kuda, dll. Secara objektif juga, dari sisi leadership, adakah menteri Pak Jokowi yang mampu mendirikan partai seperti Gerindra? Begitu juga dari sudut pandang strategi perang yang diterapkan di dalam strategi pertanian dan cs-nya, adakah jenderal yang menguasai strategi perang yang sesungguhnya di lapangan, misalnya di Timor Timur? Atau yang mampu menjadi manajer dan mengelola ekspedisi pendaki gunung dan pembebasan sandera di Papua? Atau adakah menteri di kabinet sekarang yang memimpin pasukan khusus yang pada masanya pasukan itu disegani oleh pasukan khusus negara lain?

Objektifnya demikian dan semua itu bisa ditelusuri di google dot com. Bisa juga dikatakan bahwa kapasitas Prabowo tidak hanya menjadi Menteri Pertahanan dan menteri yang memperkuat ketahanan pangan Indonesia, tetapi juga mampu sebagai presiden RI. Hanya saja, jumlah suaranya yang kalah dari Presiden Jokowi. Tetapi secara kapabilitas, leadership, dan pengalaman memimpin tidak bisa dibandingkan dengan Presiden Jokowi. Bisa dicek dari sisi karirnya sejak masa remaja, atau sejak lulus SMA, atau sejak mulai menjadi tentara. Semua datanya lengkap ada di internet. Apalagi kata ahli politik, keterpilihan dan kemampuan leadership itu adalah dua hal yang berbeda.

Dari data riwayat hidupnya, Prabowo bisa menjadi leader dan menjadi manajer leading sector dalam pembukaan lahan, penanaman, pemanenan, dan distribusi pangan pada saatnya nanti. Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa tentara bisa saja diajak dalam penyiapan food estate di Kalimantan Tengah. Pada masa Orde Baru tentara sudah dilibatkan di banyak kegiatan yang positif seperti AMD: ABRI Masuk Desa. Tentara zeni bisa dan terbiasa membangun jembatan, jalan, membuka hutan untuk daerah transmigrasi dan lain-lain. Mengelola tentara oleh mantan tentara dan sekaligus sebagai Menteri Pertahanan yang memimpin TNI AD, AU, AL maka keberhasilan pembukaan food estate akan semakin besar. Kalaupun gagal, tidak akan gagal seperti Lahan Gambut Sejuta Hektar pada masa Orde Baru. Kalau sukses, tentu untuk bangsa Indonesia semua, bisa makan nasi satu dua tahun ke depan andaikata sinyalemen FAO betul bahwa akan terjadi paceklik di dunia. Krisis pangan yang menyebabkan bencana kelaparan di seluruh dunia.

Semoga bangsa Indonesia, semua WNI bisa makan nasi seperti hari-hari sebelum wabah Covid-19. Aamiin. 

ReadMore »

10 Februari 2019

Prof. T. M. Soelaiman, Bapak Perintis Energi Baru Terbarukan Indonesia

Prof. T. M. Soelaiman, Bapak Perintis Energi Baru-Terbarukan Indonesia
Oleh Gede H. Cahyana

Matahari adalah sumber energi. Energi surya ini gratis di seantero Bumi. Surya dan Pak TM, begitu beliau dipanggil, bagai dua-satu. Dua materi yang berbeda tetapi satu: manfaat. Manfaat yang hendak diambil adalah perbedaan panas antara air di permukaan laut dan di bawah laut. Konversi Energi Panas Laut (KEPL) atau Ocean Thermal Energy Conversion, OTEC). Rencana implementasi OTEC ini sudah demikian matang. Negara yang disertakan adalah Belanda. Amerika Serikat, dan Jepang. Lokasinya pun sudah dipilih, yaitu Bondalem, kurang-lebih 30 km di timur Singaraja, Bali.  


Tapi sayang, waktu itu Bappenas menolak pembiayaan karena dianggap memerlukan investasi dari luar negeri. Padahal waktu itu sudah ada PT Bakrie Brothers untuk penyedia pipa, PT Barata sebagai produsen generator dan turbin juga bisa dibuat di dalam negeri. Bahkan waktu itu, Jepang sempat ingin minta data rencana projek OTEC tersebut tetapi di larang oleh Pak B. J. Habibie selaku ketua BPPT. Mantan presiden pasca-Orba ini menegaskan harus ada kontrak resmi yang ditandatangani. Jepang menolak. Jepang hanya ingin teknologinya tetapi tidak mau membiayai. Cilik… eh licik!

Di ITB ada Laboratorium Konversi Energi Elektrik. Tahun 1985, saya sering kuliah di Gedung Kuliah Umum, GKU (Barat, Catatan: waktu itu belum ada gedung kuliah GKU timur). Setiap ke gedung megah di tepi Jln. Tamansari itu, selalu melewati laboratorium tersebut. Ide pengembangan energi di ITB, beberapa materi lainnya, menghadapi halangan. Tapi beliau jalan terus. Jalan ke kampus lain. Jasa lain Pak TM adalah pengembangan jurusan (prodi) bidang energi di berbagai universitas seperti Trisakti dan Sriwijaya. Juga mengajarkannya kepada mahasiswa di Universitas Hasanuddin, Diponegoro, Gadjah Mada, Sebelas Maret Solo, Muhammadiyah Malang, dst.

Pak TM membayangkan bahwa suatu saat kelak, dunia akan memasuki abad hidrogen. Memang sudah. Hidrogen dan oksigen yang bereaksi dan melepaskan energi digunakan sebagai propelling pesawat luar angkasa dan astronotnya meneguk air jernih hangat di kabin-kabin mereka. Berbagai kendaraan percontohan sudah mulai berbahan hidrogen. Kanada, Amerika Serikat, Jerman, dst sudah berkutat dalam pemanfaatan unsur bernomor atom satu ini. Di setiap seminar, Pak TM selalu mengingatkan bahwa hidrogen akan menjadi pengganti minyak. Beliau pun sedih, Indonesia sudah menjadi pengimpor BBM.

Pada waktu kuliah, Pak TM adalah seorang penemu di Amerika Serikat. Ada dua temuannya yang mengubah ilmu dan teknologi. Temuan yang berkaitan dengan lokomotif itu begitu menggemparkan insinyur elektro dan mesin di sana. Orasi ilmiah Pak TM direspons positif oleh anggota American Institute of Electrical and Electronic Engineers Society. Meskipun se-Amerika, anggotanya berasal dari insinyur elektro di seluruh dunia. Beliau adalah orang Asia pertama yang presentasi dan mengumumkan temuannya kepada publik di Amerika Serikat. Ada dua temuan besar yang beliau serahkan kepada General Electric (GE).

Beliau lahir di Jakarta, 5 Mei 1926. Dalam usia empatpuluhan tahun, beliau menjadi satu di antara pendiri Masjid Salman ITB. Bersama almarhum Prof. Achmad Sadali, Pak TM menjadi motor pendirian masjid Salman. Berat perjuangan pendirian masjid ini karena ditolak oleh rektor dan senat ITB. Akhirnya Pak TM ada ide mengajak Pak Achmad Sadali menemui Bung Karno. Bung Karno setuju dan bertanya kepada Menteri Agama, “siapa nama teknokrat pertama dalam Islam”. Dijawab oleh Pak Menteri, “Salman Alfarisi.” Jadilah namanya masjid Salman. Pak TM juga menjadi satu di antara yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Sunda. Banyak kegiatannya di dunia pendidikan dan pendidikan Islam. Jiwa pendidiknya ini muncul sejak usia sepuluh tahun. Di usia itu, Pak TM sudah mengajar. Selain ilmu alam, juga mengajari temannya bahasa Arab gundul atas permintaan ayahnya, seorang tokoh NU.

Di ITB, sebetulnya beliau bisa menjadi rektor, tetapi “sesuatu” terjadi. Akhirnya yang terpilih adalah Prof. Dody Tisnaamidjaja. Beliau sudah pernah menjadi rektor Universitas Kiansantang yang beliau ubah menjadi Universitas Islam Bandung (sebagai rektor pertama Unisba). Juga pernah menjadi rektor pertama Institut Teknologi Adityawarman (ITA) di bawah pengelolaan Yayasan Bumi Pradesa yang sekarang menjadi Universitas Kebangsaan, dibawah Yayasan Pendidikan Kebangsaan sejak 1990-91. Ketua pertama YPK adalah Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Setelah beliau meninggal, diteruskan oleh anaknya, Letnan Jenderal TNI (Purn). Prabowo Subianto.

Hari Ahad, 10 Februari 2019, siang hari, beliau meninggal dalam usia 93 tahun. Semoga almarhum Bapak Prof. T. M. Soelaiman diampuni dosanya, dimaafkan kesalahannya oleh Allah Swt dan mendapatkan tempat yang mulia di sisi-Nya. *** 

ReadMore »

28 Januari 2019

Debat Kedua Pilpres 2019: Pangan Energi Air, dll

Debat Kedua Pilpres 2019: Pangan, Energi, Air, dll
Oleh Gede H. Cahyana

(Tulisan berikut adalah tema debat calon presiden pada 17 Februari 2019, yaitu pangan, energi, air (SDA), lingkungan hidup, dan infrastruktur).

*** 
Pasal 33 UUD 1945 adalah modal konstitusional bangsa Indonesia dalam ekonomi dan ekologi. Inilah pasal yang peduli pada kelestarian fungsi sumber daya alam (SDA): air, tanah, dan udara. Secara politis, pasal sosioekologis ini mendahului pidato terkenal senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, di Seattle tahun 1969. Pidato bertema advokasi lingkungan ini disambut antusias rakyat Amerika Serikat sehingga ditetapkan menjadi Earth Day pada tanggal 22 April 1970.

Di Indonesia, wanti-wanti agar kita peduli lingkungan sudah dirilis oleh Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Begawan ekonomi penulis Science, Resources, and Development ini pada tahun 1977 sudah mengingatkan pemerintah Orde Baru bahwa akan terjadi booming dan blooming teknologi yang dapat menjadi bumerang bagi manusia kalau tidak arif dalam menyikapinya. Harus ada teknologi protektif (protective technology) atas lingkungan. Idenya itu dipublikasikan setahun sebelum Orde Baru membentuk Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Menneg KLH) pada tahun 1978.

Mengacu pada pasal 33 UUD 1945 tersebut, ada tiga poin penting dalam visi misi Prabowo–Sandi, yaitu: (1) Swasembada pangan, (2) Swasembada energi, (3) Swasembada air bersih, (selain (4) Lembaga pemerintahan yang kuat, (5) Angkatan perang/tentara yang kuat). Tiga hal pertama, yaitu pangan, energi, dan air, biasa disebut FEW: Food, Energy, Water selalu terkait dengan SDA, hutan, iklim global, industrialisasi, dan kebencanaan (gempa, tsunami, letusan gunung, topan, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, dst).

Air Minum
Bumi adalah planet yang kaya air. Biasa disebut Planet Air. Tak kurang dari 70% diliputi air. Mayoritas berupa air laut (97,3%). Sisanya adalah air tawar di sungai, danau, waduk, kolam, air tanah, es, salju, gletser, dst. Air tawar menjadi sumber air baku untuk air minum, industri, dan kebutuhan perkotaan. Tetapi potensi air tawar ini terus berkurang. Terjadi krisis air minum pada musim kemarau di banyak kabupaten di Indonesia. Sungai, danau, waduk, embung menyusut airnya, bahkan ada yang kering.

Itu sebabnya, pemerintah harus menggiatkan pembuatan embung, waduk, dan sistem storasi lainnya. Pada saat yang sama, melaksanakan konservasi daerah tangsap (tangkap dan resap) air hujan, dan menghutankan kembali bukit dan gunung yang gundul. Daerah bekas hutan ini jangan diganggu sehingga secara alamiah bisa menjadi hutan kembali dalam jangka waktu 25 tahun. Cara ini untuk memulihkan daya dukung lingkungan yang terus berkurang akibat pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan dan ledakan jumlah penduduk dan kurangnya lapangan kerja di desa dan kota.

Di bidang teknologi pengolahan air minum, bisa dikatakan bahwa PDAM sudah mampu mengolah air dengan cara yang baik dan benar. Air sungai yang keruh sudah bisa diubah menjadi air minum. Air lautpun sudah bisa dijadikan air tawar yang layak diminum. Hanya saja, investasi dan biaya operasi-rawatnya masih mahal. Perlu terus diperluas riset dan terapan teknologi yang murah tetapi tepat guna untuk masyarakat desa, petani, nelayan, dan penduduk permukiman kumuh (slum area) di kota-kota besar.

Air Limbah
Mayoritas air minum atau air bersih akan berubah menjadi air limbah. Tak kurang dari 85% air minum berubah menjadi air limbah. Apabila satu orang menggunakan 100 liter air perhari untuk minum, mandi, cuci, kakus, maka yang dibuang adalah 85 liter perhari. Volume air limbah ini bervariasi menurut lokasi geografis (tropis, subtropis), topografis (gunung, pantai), budaya, agama, pendidikan, dan status ekonomi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah mengangkat isu air limbah dalam peringatan Hari Air Dunia (World Water Day) tanggal 22 Maret 2017. Isu ini untuk melindungi kesehatan masyarakat, mencegah perusakan sumber daya lingkungan dan degradasi perairan akibat kontaminasi air limbah. Hingga saat ini mayoritas air limbah domestik dibuang langsung ke badan air atau diresapkan ke dalam tanah. Begitu juga air limbah industri, menyebar dan mencemari tanah dan air, sekaligus kehilangan sumber nutrien dan zat kimia yang masih bisa dimanfaatkan lagi. Paradigma “olah-buang” ini hendaklah diubah, bahwa air limbah bernilai tambah, baik air limbah tinja (black water, septic water) maupun air limbah cucian (grey water). Keduanya bisa digunakan untuk produksi pupuk, siram tanaman, halaman ruang terbuka hijau, air pendingin dan irigasi.

PBB sudah mendeklarasikan bahwa akses terhadap air minum dan sanitasi (air limbah) adalah Hak Asasi Manusia (HAM) dan didukung oleh 122 negara pada September 2010. Banyak negara di Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Selatan yang berkutat dengan kesulitan air minum dan keburukan sistem sanitasi air limbah. Di Indonesia, menurut Kementerian PUPR, tingkat layanan total pengelolaan air limbah kurang lebih 56%. Ini pun dalam mutu pengelolaan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang belum optimal, baik secara biaya ekonomi maupun efisiensi unit operasi dan prosesnya. IPAL sistem setempat (on-site) di wilayah perkotaan Indonesia sekira 72% sedangkan sistem terpusat (off-site) 2,33% di 11 kota di Indonesia. Adapun di perdesaan, dengan menggunakan jamban pribadi dan fasilitas umum mencapai 33%.

Untuk peningkatan kualitas layanan dan kualitas infrastruktur dan suprastrukturnya, maka integrasi perencanaan (planning), perancangan (designing), pembangunan (constructing), supervisi (supervising), operasi dan perawatan (operation – maintenance) perlu dikoordinasikan sejak awal sebuah projek dengan melibatkan berbagai kementerian dan dinas terkait. Tujuannya ialah ekoefisiensi, yaitu kombinasi efisiensi ekologi dan efisiensi ekonomi. Kita juga harus meniru perilaku alam yang tidak pernah menghasilkan limbah. Limbah adalah sisa produksi yang harus bisa dijadikan bahan baku oleh proses produksi lain dengan cara daur ulang dan daur guna. Waste for one is added value for another.

Reboisasi Hutan
Ada ungkapan yang menarik minat ahli lingkungan dan kehutanan, “Banyak orang yang tahu tentang bulan tetapi tidak tahu luas hutan di Bumi,” Ini adalah komentar Persson pada tahun 1974. Begitu juga ungkapan mantan Sekretaris Jenderal PBB, U Thant, "Hari Bumi adalah momentum penting untuk mengingatkan kita bahwa planet ini sangat kecil dan rapuh."

Hutan tumbuh di permukaan Bumi. Sebuah planet air yang rapuh. Dengan luas darat yang hanya 30%, dan di antara luasan itulah tumbuh hutan-hutan yang terus berkurang. Padahal fungsi hutan adalah menaikkan resapan air hujan, mengisi reservoir air tanah atau akifer untuk cadangan air pada musim kemarau. Juga mengurangi limpasan air, mengurangi risiko banjir bandang. Menjaga kesetimbangan debit air pada musim hujan dan musim kemarau. Hutan juga bisa sebagai pengatur iklim. Tetapi ini rusak karena kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.  

Kebakaran hutan kerapkali terjadi di dua pulau besar tersebut. Satelit NOAA sering memantau ratusan titik panas (hot spot) di pulau tersebut. Yang dikatakan titik itu hakikatnya bukan noktah tetapi bentang api yang luas. Temperatur udara luar mencapai 38⁰C dengan rentang jarak 200 -500 m saja! Visibilitas berkurang dan membahayakan tranportasi darat, laut dan udara. Kecelakaaan dapat saja terjadi sewaktu-waktu. Polusi asap bahkan bisa sampai ke Malaysia dan Singapura. Kebakaran hutan adalah cause célèbre, kejadian besar yang melawan konsep ecodevelopment, merugikan ekonomi dan kesehatan rakyat. Juga mempercepat pemanasan global. 

Survivalitas hutan bergantung pada kontrol dan regulasi. Berbagai kebijakan yang tertuang di dalam perundang-undangan harus dijamah dan ditegakkan (enforcement) untuk mewujudkan penaatan hukum. Diperlukan penaatan hukum yang kreadibilitasnya tinggi dengan peraturan yang jelas dan tegas. Ada konsistensi sanksi, adil dan ada kemauan penguasa dan pengusaha. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan aspek ekonomi dan sosioekologi karena masyarakat selalu terpojok menderita social cost yang besar berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, kenyamanan hidup.

Iklim Global
Pesat sekali pertumbuhan penduduk Bumi. Tahun 1950-an hanya 2,5 miliar orang. Dalam tempo 55 tahun menjadi 6,2 miliar orang. Pada akhir 2007 6,5 miliar orang dan 1,5 miliar berada di bawah garis kemiskinan. Satu miliar di antaranya hidup di negara berkembang. Dekade lalu, dengan populasi hanya 20% dari populasi total, negara maju mengonsumsi 80% kayu hutan. Konsumsi satu bayinya setara dengan 15 bayi di negara miskin. Negara kaya pun membuang limbah terbanyak, mencapai 90%, termasuk limbah B3 dan melepas 90% CFC (chlorofluorocarbon), senyawa pelubang lapisan ozon. Kondisi terkini tentu jauh lebih parah. 

Parahnya lagi, karbondioksida (CO2) terus bertambah akibat penggunaan BBM, zat kimia dan penebangan hutan. Pertahun saja, 1% hutan tropis di Bumi ini lenyap sehingga mereduksi fotosintesis yang berdampak pada kenaikan temperatur Bumi. Tibet yang biasanya dingin misalnya, temperatur udaranya pernah mencapai 25 derajat Celcius selama 23 hari. Permukaan air laut pun naik di Kep. Bermuda, Hawaii, Fiji dan pencairan gunung es Gangotri, India dan es di Peg. Andes di Peru. Bukti lainnya, dekade terpanas terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an dan tahun terpanasnya ialah tahun 1998, 2001, dan 2005.

Kalau pemanasan itu terus berlanjut, pada tahun 2100 diduga muka air laut naik antara 15 – 95 cm sehingga pulau-pulau kecil tenggelam, pantai menyempit, intrusi makin jauh ke darat. Di Jakarta, intrusi bahkan sudah mencapai Monas. Selanjutnya terjadi reduksi luas pulau sehingga timbul masalah demografi dan gangguan kesehatan seperti malaria, demam berdarah, filariasis, flu burung, SARS (pernapasan akut). Juga memicu gelombang panas yang jauh lebih ganas dan makin luas paparannya, seperti kejadian di kawasan Amerika- Eropa. Badai Noel, topan Katrina, puting beliung terjadi di mana-mana di Indonesia.

Pola hujan dan salju pun berubah, mengubah pola siklus hidrologi, mengganggu suplai air bersih. Intrusi mengasinkan sumur, memperluas krisis air. Karena terjadi ledakan jumlah penduduk, muncullah ancaman krisis pangan sehingga makin luaslah eksploitasi lahan baru di gunung, bukit, hutan, dan dataran banjir. Semuanya terpaksa dieksploitasi demi penyediaan kebutuhan pangan. Di satu daerah terjadi banjir pantai, di daerah lain justru kekeringan. Hadirlah paradoks iklim dan cuaca di seluruh dunia. Keragaman hayati berkurang, spesiesnya punah, gagal panen dan kelaparan meluas. Yang paling menderita tentu saja masyarakat miskin.

Siapa yang bertanggung jawab atas Global Warming? Tentu saja semua negara! Namun, jika dikaitkan dengan CO2, maka yang paling bertanggung jawab ialah negara industri karena merekalah yang terbanyak mengemisi CO2. Sekadar contoh, emisi orang Amerika Serikat (AS) lima kali lebih besar daripada orang Meksiko, bahkan 19 kali lebih besar daripada orang India. Walaupun hanya 20% orang tinggal di negara maju tetapi kontribusinya 63% dari total emisi. Memang betul, kalau dihitung berdasarkan negara, maka Cinalah emitor terbesar lantaran jumlah penduduknya terbanyak. Namun secara individu emisi tujuh orang Cina setara dengan satu orang AS.

Selain Global Warming, efek yang juga riskan ialah hujan asam (hujas) atau acid rain, acid deposition. Menurut Gorham, dengan kadar 0,03% CO2 dari seluruh gas atmosfer maka derajat keasaman air hujan sekitar 5,7. pH-nya turun karena ada tambahan asam dari asam nitrat dan asam sulfat dengan sumber SO2 dan NOx. Sebetulnya, potensi Global Warming oleh CO2 tidaklah besar. Metana 21 kali lebih besar daripada CO2. CFC malah 7.300 kali lebih besar daripada CO2. Hanya saja, karena kadar CO2 sangat banyak maka gas inilah yang paling besar kontribusinya pada Global Warming, yaitu 50%. Sumber gas rumah kaca itu ialah BBM (57%), CFC 17%, pertanian 14%, dan penebangan hutan 9%.  

Opsi Solusi
Ada sejumlah upaya tindak yang dapat dilakukan. Yang pertama, mengurangi emisi CO2, mengurangi penebangan hutan (legal dan illegal). Menghentikan produksi CFC lalu menggantinya dengan zat kimia ramah lingkungan. Mereduksi emisi metana dari sawah dengan mengurangi rendaman jerami, kurangi pembakaran biomassa, hindari pembakaran sampah (insinerasi, PLTSa: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah dengan cara pembakaran sampah, bisa dimodifikasi dengan gasifikasi yang relatif lebih bersahabat dengan lingkungan, tetapi tetap dengan kalkulasi yang tepat dan taat asas dalam operasinya), termasuk kurangi pemakaian pupuk kaya nitrogen.

Sebaliknya, giatkan proses fotosintesis, tarutama padi. Absorbsi CO2 oleh padi akan meningkatkan produksi beras sekaligus mereduksi Global Warming. Ada riset di Jepang yang menyatakan pemberian CO2 sebanyak 700 ppmv (sekitar 200% kadar CO2 di udara) dapat menaikkan produksi 20 – 30%. Ini dicoba oleh periset di Shizukuishi, Iwate Prefecture Jepang dan dinamai The Rice Face. FACE (Free-Air CO2 Enrichment) adalah pembubuhan CO2 ke sawah tanpa mengubah ekosistemnya. Yang dapat ditempuh juga ialah perluasan penggunaan sumber energi angin (bayu, PLTB) seperti di Nusa Penida, energi surya (PLTS), dan energi air (PLTA) dan mikrohidro, serta energi hayati (nabati, bioenergy). Intinya adalah energi baru yang terbarukan (renewable energy). Inilah potensi sumber energi masa depan dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi.

Mitigasi Bencana
Tsunami sunyi akibat runtuhan lereng Gunung Anak Krakatau yang menerjang pantai barat Banten adalah bencana yang patut disesalkan. Bukan lantaran kejadiannya tetapi karena pemerintah (BMKG) seolah-olah kehilangan jati diri. Gamang dalam bertindak, plin-plan orang bilang. Begitu pula di Palu, di Lombok, dan beberapa bencana banjir dan tanah longsor di berbagai daerah. Bantuan pemerintah belum optimal dan banyak warga kecewa. Adapun tsunami yang diakibatkan oleh gempa sudah bisa diduga dan diprediksi, bahkan bisa diketahui perkiraan waktu tempuh gelombang smong tersebut ketika menghempas pantai. Gunung meletus juga bisa diduga dengan alat seismograf dan alat lainnya. Begitu juga banjir bandang dan kemungkinan angin topan yang menghantam suatu daerah.

Perihal gempa, walaupun sulit dideteksi, ada sejumlah indikasi yang dianggap mengawali gempa. Misalnya, emisi gas radon dari sumur-sumur, kenaikan abnormal muka tanah, hewan air dan darat berperilaku aneh dan panik. Tingkah hewan ini menyiratkan gempa akan terjadi beberapa saat lagi. Khusus untuk anomali kenaikan muka tanah, mari dilihat kasus di Niigata, Jepang. Proses gempa sudah dimulai sepuluh tahun sebelum hari H. Muka tanah di daerah pantai Nezugasaki di Timur Laut Niigata naik setinggi 12 cm lalu turun lagi menjadi 8 cm sebelum terjadi gempa. Begitu pun di sepanjang pantai Selatan dari Nezugasaki menuju Niigata. Sedangkan di Selatan Niigata, muka tanahnya justru turun antara 4 sampai 12 cm. Akhirnya, pada 1964 terjadilah gempa yang episenternya di Laut Jepang, di dekat Pulau Awashima sekuat 7,5 skala Richter.

Untuk upaya peringatan dini, pengembangan ilmu dan teknologi dengan meningkatkan riset kompetitif di bidang mitigasi kebencanaan menjadi opsi utama. Pemerintah harus memberikan prioritas pada temuan baru, baik novelty maupun invention, dan memberikan penghargaan yang tinggi kepada dosen dan peneliti yang terus berkutat dengan tema penelitian kebencanaan. Tepat apabila pemerintah baru nanti, seperti spirit yang disampaikan oleh Pak Prabowo Subianto bahwa beliau akan membentuk dan memapankan Kementerian Mitigasi dan Kebencanaan atau apapun nanti nomenklaturnya, akan fokus pada penyiapan masyarakat dan pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi bencana dan upaya tindak cepat dalam penanggulangannya.

Semoga sukses Bapak Prabowo dan Bang Sandiaga sebagai presiden dan wakil presiden harapan rakyat Indonesia demi perubahan ke arah yang lebih baik, menuju Indonesia adil dan makmur. ***

ReadMore »

30 Juni 2016

Menyoal PLTSa

Menyoal PLTSa

(Dimuat di koran Pikiran Rakyat, 27 Juni 2016)

Oleh Gede H. Cahyana

Lektor Kepala Teknik Lingkungan, Universitas Kebangsaan

Batal sudah hasil tender projek PLTSa yang dimenangi PT BRIL. Hasil ini disampaikan dalam sidang KPPU (Komisi Pengawasan Persaingan Usaha) pada Jumat, 24 Juni 2016. Anulir tersebut disebabkan oleh indikasi persekongkolan dalam tender yang melibatkan pemerintah kota, panitia lelang, PT BRIL dan PD Kebersihan. Sejumlah tokoh pegiat lingkungan menyambut gembira hasil tersebut yang disertai dengan rasa waswas. Sebab, pembatalan projek bakar-sampah itu tidak sertamerta meniadakan rencana pembangunan PLTSa. Peluangnya masih berkembang, bahkan bertumbuh, tidak mati otomatis. Ada asumsi, skenario yang dibuat adalah batal demi hukum untuk tindak lanjut berupa tender ulang. Boleh jadi pemenangnya adalah perusahaan yang sama tetapi “bajunya” berbeda, apabila diamati fenomena selama kurun waktu persidangan.



Mulut Buaya?

Lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya? Kejadian ini bisa menimpa sampah dan warga di Kota Bandung lantaran pembatalan PLTSa bukan karena jenis teknologinya melainkan alasan persekongkolan. Pilihan kata ini digunakan tentu bukan tanpa alasan. Dalam makna negatif, kata ini menjelaskan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah kota dan perusahaan penyedia jasa masuk ke dalam ranah cacat hukum. Berbeda dengan kata persyarikatan yang konotasinya positif. Jelas sudah, potensi kebangkitan PLTSa dalam “jubah” baru masih ada dan bahkan bisa menguat daripada sebelumnya. Akankah peribahasa “lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya” terjadi dalam kasus PLTSa?

Sejak awal pemerhati dan pegiat lingkungan serta warga di sekitar calon lokasi PLTSa menolak rencana pembangunan pabrik sampah. Alasannya adalah prinsip kehati-hatian (precautionary principle) terhadap teknologi yang terbukti banyak gagal di berbagai negara. Tchobanoglous, pakar persampahan di Universitas California, Amerika Serikat menyatakan, “unfortunately, few of the full-scale plants that have been built have proved to be successful. Although economic has been the major reason for their demise, some energy-conversion plants have failed because of technical difficulties.

Tak hanya masalah finansial dan biaya operasi – perawatan, tetapi juga karena alasan teknis teknologis. Belum lagi kajian komposisi dan karakteristik sampah Bandung yang mayotitas berbahan organik dan sangat basah dalam makna harfiah. Dengan landasan komposisi dan karakteristik ini maka penanganan yang cocok ialah konversi sampah menjadi pupuk berbasis kegiatan di sumber sampah, yaitu rumah tangga, TPS (TPS3R), TPST. Dipahami bahwa jauh lebih banyak warga yang tidak memilah sampah, tidak mengomposkan sampah tetapi langsung membuangnya di bak sampah. Perilaku ini masih bisa ditoleransi bahkan sudah bagus karena mau membuang sampah di bak sampah, baik di bak depan rumah maupun di TPS.

Bersamaan dengan itu pemerintah hendaklah menghidup-hidupkan sentra composting dan 3R (reuse, reduce, recycle) lantaran perubahan sikap dan perilaku membutuhkan waktu. Pendidikan tentang bahaya dan manfaat sampah wajib dilaksanakan, seberat apapun tantangannya. Hasilnya akan tampak pada masa depan, satu atau dua generasi ke depan, tidak instan. Sebaliknya, insinerator justru membuat malas warga dan tidak berupaya berbuat positif terhadap sampah masing-masing. Tiada tanggung jawab dan cenderung menggampangkan dengan menyerahkan urusan sampah kepada pemerintah. Padahal spirit UU no. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah justru ingin memberdayakan masyarakat penimbul sampah dengan pola berbasis masyarakat dan institusi. Warga diberikan ilmu dan tatakelola sampah sedangkan pemerintah lewat institusinya memberikan dukungan operasional di sumber, TPS, TPS3R, TPST, transportasi dan TPA (sanitary landfill atau controlled fill).

Ada pertanyaan, apa kabar Mulok Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) di sekolah-sekolah kita? Mati surikah? Kapan Walikota Bandung membuat festival mulok? Di banyak daerah sudah muncul hasil positif pengelolaan sampah. Mengacu pada data Kementerian PUPR hingga medio 2016 ini, ada 508 unit TPS3R, 4 unit TPST, dan 591 hektar TPA sampah di 247 kabupaten - kota yang dinilai positif. Limapuluh TPA di antaranya sudah bisa panen gas metana sebagai sumber energi. Fasilitas ini melayani tak kurang dari 35 juta orang di Indonesia. Bagaimana di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, dan kabupaten-kota lainnya di Provinsi Jawa Barat?

Back to Basic?

Kembalikan sampah ke asalnya, yaitu tanah. Yang organik tentu lebih cepat diurai dibandingkan dengan sampah anorganik. Bentuk, ukuran, dan jenis zat kimia penyusun material anorganik tentu mempengaruhi kemampuan bakteri dalam “memakan” sampah. Craddle to grave, istilah ini bisa dipinjam sebagai metode “membumikan sampah” di sanitary landfill. Pengomposan juga adalah upaya untuk mengembalikan sampah ke asalnya. Adapun PLTSa lebih mengarah pada pembakaran sampah, mengubah massanya menjadi residu (inert material) yang nirguna dan timbul polusi udara akibat partikulat dan dioksin. Kelayakan ekonominya juga dipertanyakan, seperti sindiran  Tchobanoglous di atas, selain kegagalan teknis – teknologis.

Dampak PLTSa adalah pada manusia, hewan dan tumbuhan. P (People) adalah manusia yang terdampak, merusak kesehatan akibat karbon dan gas hasil pembakarannya. L adalah landfill, sebagai sarana pengubur sampah, baik anerobik maupun aerobik. Ini serupa dengan proses pembusukan alamiah hewan dan vegetasi yang mati. T adalah treatment, yaitu mengolah sampah menjadi produk baru yang bermanfaat, menjadikannya benda baru yang memiliki nilai ekonomi setara atau lebih tinggi daripada benda aslinya. Sa adalah safety, yaitu keamanan dalam penerapan teknologi, ramah terhadap air, udara dan tanah. Keramahan inilah yang ujungnya akan ramah pada manusia, tidak menimbulkan bencana lingkungan.

Sayonara PLTSa

Sungguh elok apabila pemerintah Kota Bandung melupakan pabrik pembakaran sampah ini dan menggantinya dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Manfaatkan TPS3R yang sudah ada, memberdayakan pengomposan, dan menambah biodigester skala medium plus operator andal dan terlatih. Sebagai kota besar dengan warga terdidik, Bandung seharusnya mampu mengubah sikap dan perilaku masyarakat dalam membuang sampah. Mulok PLH sudah ada, lantas kenapa tidak diupayakan menjadi lebih baik? Adakan program pelatihan, penyuluhan di sekolah termasuk memanfaatkan media sosial. Gerakan massal ini akan berdampak positif kalau terus menerus disosialisasikan, langsung maupun lewat media sosial seperti Facebook, WA, Instagram dan Youtube.

Generasi muda sebagai sasaran didik untuk masa depan lebih mudah dijangkau dan diberikan pemahaman tentang sampah, baik bahaya maupun manfaatnya. Jadi, tak ada lagi alasan untuk berkutat dalam PLTSa. Katakan saja: sayonara PLTSa.*


ReadMore »

16 November 2010

Ketika Gunung Antri Erupsi?

TRIBUN JABAR

ADA apa dengan Merapi? Setelah letusan (erupsi) Merapi pada 26 Oktober 2010, delapan gunung dinyatakan dalam taraf waspada, termasuk Papandayan dan Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau pun mulai aktivitas vulkaniknya sehingga dilarang didekati dalam radius tiga kilometer (Tribun, 30/10).

Antri Erupsi
Mayoritas gunung berapi kita terpasak pada satu sabuk, mulai dari Aceh menuju Selat Sunda, menyusuri Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Sulawesi Utara. Jumlahnya 13 persen dari semua gunung berapi di Bumi. Kalau satu saja menggeliat panas, yang lain pun ikut-ikutan sehingga semua gunung di ladang gunung berapi itu bisa meletus bersamaan atau berurutan.

Merapi, Kelud, Semeru, Guntur, Krakatau dan "anaknya" termasuk grup agresif dari 35 gunung berapi aktif yang menjadi pasak Pulau Jawa. Jumlah itu setara dengan 27 persen dari 129 gunung berapi aktif di Indonesia. Yang tidur (dormant) sekitar 50-an buah.

Sebagai negara gunung, Indonesia disabuki gunung berapi sepanjang 7.000 kilometer, melintang di pulau-pulau seperti disebut di atas. Hanya saja, kaya gunung tak berarti akrab dengannya. Masih banyak aspek kegunungapian yang asing di telinga kita, kecuali bagi kalangan di Vulkanologi atau Geologi saja. Mendengar kata gunung berapi, yang terbayang ialah lahar, lava, debu, dan awan panas saat erupsinya. Sebagai contoh, erupsi Galunggung (1982-1983) telah merusak aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan, tak hanya di daerah setempat tapi juga di daerah lainnya.

Berikutnya ialah letusan Gunung Agung di Bali (1963) dengan korban tewas 300-an orang. Sisa-sisanya dapat dilihat sekarang, di sela-sela kebun salak di sekujur Kabupaten Karangasem, terutama ke arah pura utama di Bali, yaitu Besakih. Konon pada waktu itu ada bintang Kukus (Kemukus) di Timur Pulau Bali dan warga lantas mengaitkannya dengan kasus besar yang bakal terjadi, yaitu G30S/PKI. Adapun korban erupsi Kelud tahun 1935 tak kurang dari 5.000-an orang. Yang paling menyejarah ialah letusan Gunung Krakatau (1883).

Selain letusan, bahayanya yang lain ialah gas beracun. Kawah Sinila tahun 1979 di Pegunungan Dieng menjadi contoh klasik. Minimal 150 orang meninggal tercekat pada bencana pagi itu akibat gas CO (karbon monoksida). Potensi bencananya juga terjadi karena akumulasi gas di atmosfer yang menyebabkan hujan asam dengan pH kurang dari 5,5 akibat larutnya gas belerang oksida (SOx), asam sulfida (H2S), karbon dioksida (CO2), dan nitrogen oksida (NOx) lalu menghasilkan asam sulfat (H2SO4), asam nitrat (HNO3), dan asam karbonat (H2CO3). Dampaknya, pH tanah menjadi rendah, gangguan ekosistem, kerusakan bangunan & monumen serta iritasi kulit.

The Silent Killer lainnya ialah polusi air tanah dan air permukaan oleh logam-logam berat erupsian dan aktivitas kawahnya. Polutan jenis ini sering terjadi di Sungai Ciwidey dan Waduk Saguling di Jawa Barat yang airnya berasal dari Gunung Patuha dengan Kawah Putihnya dan Gunung Tangkuban Parahu di Bandung. Maka, yang patut diwaspadai ialah efeknya pada manusia kalau meminum airnya, memakan ikannya dan sayurmayur yang ditanam di dekat bencana itu karena kaya dioksin dan logam berat.

Peluang Ekonomi
Gunung berapi serupa dengan pedang bermata dua. Satu matanya dapat menebas eksistensi manusia dan satunya lagi justru bisa menambah tingkat ekonominya. Ancaman diubah menjadi peluang ekonomi, disublimasi menjadi keuntungan. Dari sisi pendidikan, erupsi juga peluang untuk evaluasi teori dan hipotesis sains mutakhir, menjadi bahan studi saintis kegunungapian, pertanian, kesehatan, lingkungan dan antropologi.

Dari sisi ekonomi, magmanya (liquid magma) berpeluang dijadikan opsi sumber energi. Pada temperatur 1.150 Derajat Celcius, estimasi energinya 9 x 1014 kcal/km3. Sebagai pembanding, potensi energi Gunung Mauna Loa di Hawaii dan Avachinsky di Kamchatka Peninsula masing-masing 4 x 1018 kcal dan 2 x 1017 kcal. Bandingkan dengan cadangan minyak mentah dunia yang "hanya" 1018 kcal. Contoh di Indonesia, energi yang dirilis erupsi Tambora di Sumbawa (1815) sekitar 3,5 x 1016 kcal sedangkan energi erupsi Krakatau (1883), menurut Hedervari dalam Bulletin Volcanologique, mencapai 4,3 x 1015 kcal. Getarannya mendunia dan energinya yang luar biasa besar mampu melontarkan setengah massanya ke angkasa sehingga debunya menutupi area seluas 827.000 km2. Dengan periode erupsi 101 hari, yang tewas tak kurang dari 36.000-an orang.

Manfaat lainnya ialah bidang kesehatan seperti efeknya terhadap penyakit kelenjar gondok, gigi dan pernapasan, termasuk sakit jantung, fibrosis, dan fluorosis. Semuanya bisa diriset yang dikaitkan dengan karakteristik zat-zat erupsian mineralnya. Sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan juga diuntungkan oleh debu vulkaniknya yang subur walaupun ketika erupsinya menjadi material sangat berbahaya. Instalasi pengolah air minum (IPAM) pun mesti dimodifikasi untuk menangani unsur yang berbahaya di dalam air dan emisi gas beracunnya sekaligus memanfaatkan mineralnya dalam konsentrasi tertentu sesuai dengan baku mutu air minum untuk kesehatan kita.

Peluang pencetak uang lainnya ialah pasir-batu (sirtu). Sirtu erupsian terbukti menaikkan ekonomi masyarakat setempat seperti pasir Galunggung. Manfaat berikutnya ialah wisata gunung berapi (volctourism), tetapi belum banyak dikelola. Hanya di gunungapi-gunungapi tertentu saja yang sudah dieksploitasi seperti Bromo, Tangkubanparahu dan Batur di Bali.

Khusus di Gunung Batur, selain Danau Baturnya yang eksotis juga karena ada komunitas khas, yaitu orang Trunyan. Aspek geologinya juga menarik minat peneliti dari luar negeri, termasuk wisata flora, fauna dan mata air panas (hot spring) yang merupakan komponen tak terpisahkan dari gunungapi.

Tampaklah, selain letusannya, gunungapi pun bisa bermanfaat. Bisa dikatakan, bencana (baca: musibah) adalah jarum akupuntur bagi ruhani. Berat sesaat, manfaat setelahnya. (*)
ReadMore »

14 Desember 2009

KTT Perubahan Iklim, Denmark

Di tengah gempuran kasus Bank Century, Presiden SBY muhibah ke Eropa, melawat sepekan, 13 - 20 Desember 2009, dan ikut dalam KTT Perubahan Iklim. Jika buntu, RI berharap menjadi bagian solusi.

Apa yang terjadi di sekitar gedung parlemen Denmark? Panas…, sepanas temperatur politik di Indonesia. Seratusan ribu orang, termasuk aktivis lingkungan, menggelar aksi "Global Day of Climate Action" dengan tujuan mendesak para pemimpin KTT ke-15 Perubahan Iklim agar segera membuat keputusan dalam menangani perubahan iklim. Ini terjadi dua hari lalu di Kopenhagen. Mereka berduyun-duyun dari semua penjuru dunia untuk menyelamatkan Bumi, kalau masih ada waktu, demi tujuh milyar manusia.

Dahsyat. Inilah kata yang pas untuk menilai pertambahan jumlah manusia. Betapa pesatnya perkembangan penduduk Bumi ini bisa dilihat pada jumlah penduduk tahun 1950 yang berjumlah 2,5 miliar. Dalam tempo 55 tahun, yaitu tahun 2005 jumlahnya sudah 6,2 miliar. Dan sekarang, akhir 2009 ini, mendekati kira-kira 7 milyar orang. Kemudian, pada saat yang sama, greenhouse gases seperti karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya terus meningkat lantaran peningkatan penggunaan BBM, zat kimia dan penebangan hutan. Dampaknya adalah kenaikan temperatur rerata Bumi. Ini terbukti. Dekade terpanas di Bumi terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an. Dan tahun terpanas satu dekade terakhir ini adalah tahun 1998, 2001, dan 2005. Kondisi panas ini akan ajek naik jika tren sekarang terus bertahan atau malah kian parah. Inilah yang akan menimbulkan Global Warming, pemanasan global.

Apa dampak Global Warming itu? Yang sudah diyakini adalah kenaikan muka laut sehingga pulau-pulau kecil terendam bahkan tenggelam, pantai menyempit, intrusi air laut sehingga mengurangi suplai air bersih. Terjadi reduksi luas pulau yang dapat memunculkan masalah kependudukan dan gangguan kesehatan masyarakat karena memicu gelombang panas yang kian parah dan lama paparannya. Pola hujan dan salju pun ikut berubah yang otomatis mengganggu pola suplai air bersih, terutama di daerah yang krisis air. Global Warming dan ledakan jumlah penduduk juga mengancam kekurangan pangan sehingga terjadi eksploitasi lahan baru di gunung, bukit, dan hutan, di dataran banjir, dan di lahan basah. Semuanya terpaksa dieksploitasi demi penyediaan kebutuhan pangan.

Siapa yang bertanggung jawab? Semua orang di Bumilah yang bertanggung jawab. Sebab, setiap orang pasti mengeluarkan CO2 selama hidupnya. Tetapi secara khusus, orang-orang yang hidup di negara-negara industrilah yang sangat banyak menggunakan bahan bakar fosil. Sebetulnya emisi CO2 dari manusia relatif konstan selama 30 tahun terakhir ini. Namun demikian, ada data bahwa emisi orang Amerika Serikat lima kali lebih besar daripada orang Meksiko dan bahkan 19 kali lebih besar daripada orang India. Malah ada data lain yang mengatakan bahwa 20% manusia Bumi yang berada di negara maju justru kontribusinya mencapai 63% dari total emisi. Jika dihitung berdasarkan negara maka Cina memang pengemisi terbesar lantaran jumlah penduduknya terbanyak, walaupun faktanya emisi tujuh orang Cina itu setara dengan satu orang Amerika Serikat. Tujuh orang setara dengan satu orang!

Itulah faktanya sekarang. Barangkali kita tak pernah peduli akan hal itu. Kita acuh tak acuh dan bersikap bahwa itu bukan urusanku. Urusanku sudah banyak dan sudah memumetkan kepalaku. Boleh-boleh saja dan mungkin sangat-sangat banyak yang berpikir demikian. Bumi tenggelam atau tidak, itu bukan urusanku! Urusanku cuma satu, yaitu hidup senang dan gembira selamanya. Andai Bumi ini tenggelam, aku mungkin sudah lama mati dan mungkin cucu-cicitku pun sudah lama pula mati. Buat apa aku stres sekarang? Itu kan masih lama. Demikianlah ungkapan orang-orang yang pernah berdiskusi perihal Global Warming yang saya dengar.

Water World
Bumi tenggelam? Kapan Bumi ini tenggelam? Mari kita kilas balik sebentar ke sinema layar lebar masa lalu, yaitu Water World. Pemeran utamanya adalah Kevin Kostner. Dalam film itu dia dan teman-temannya kehilangan rumah, tanah dan air. Mereka hidup di atas kapal seperti Nabi Nuh. Mereka bertarung melawan kelompok lain untuk mendapatkan sejengkal tanah dan air tawar. Ini terjadi lantaran es di kutub mencair akibat pemanasan global dan air lautnya meluap. Hanya air asin yang ada di mana-mana sehingga sang “Dances With Wolves” itu harus mendaur ulang air kencingnya untuk sekadar minum. Dulu, film buatan tahun 1995 ini mencatat box office, termasuk di Indonesia.

Dari data ilmiah didapat bahwa telah terjadi peningkatan temperatur troposfer (atmosfer lapisan terbawah) sejak awal abad lalu. Lantas hadir sejumlah teori tentang kenaikan muka air laut seperti Teori Lebur (Melting Theory), yakni pencairan “pulau” es di kutub. Data pasang surut di sejumlah negara memberikan gambaran bahwa fenomena itu betul-betul terjadi. Tapi data tersebut hanya memberikan gambaran kondisi setempat yang cenderung bersifat lokal. Ini perlu dicermati karena ada dua perubahan penting yang mungkin terjadi, yaitu perubahan ketinggian muka air laut karena daratan bergerak relatif terhadap lautan (perubahan isostatik) dan perubahan karena penambahan volume air laut dari pencairan es dan salju (perubahan eustatik) yang ada di daratan atau kontinental (benua).

Kalau demikian, akan mencairkah es di Kutub Utara dan Kutub Selatan? Sementara kalangan meyakini bahwa es di kedua kutub itu akan mencair jika temperatur global atmosfer terus naik. Es yang berubah menjadi air lalu masuk ke laut sehingga permukaannya naik dan membanjiri daratan, bahkan menelan pulau-pulau kecil seperti disebut di atas. Tapi ada pendapat lain, yaitu ada beda karakter antara Kutub Utara (Artik) dan Kutub Selatan (Antartika). Kutub Selatan adalah daratan yang dilapisi es. Jadi berupa landas kontinen/benua yang tertutup es. Sebaliknya Kutub Utara adalah air laut yang membeku membentuk “pulau” dan gunung-gunung es. Dengan demikian disimpulkan bahwa Kutub Utara, selain Greenland, adalah bongkahan es yang terapung-apung di laut.

Jika temperatur global betul-betul naik ekstrim, apa yang akan dialami oleh lempeng atau bukit-bukit es di kedua kutub tersebut? Jika “pulau-pulau terapung” di Artik mencair maka tak akan banyak mempengaruhi ketinggian muka air laut! Kenapa? Analoginya adalah gelas yang penuh air berisi sepotong es yang menyembul di permukaannya. Walaupun es itu habis mencair tetapi air di gelas tidak akan tumpah. Ini mengikuti prinsip hukum Archimedes. Pencairan es di Artik hanya mengubah wujudnya saja menjadi cair tetapi tidak punya efek yang cukup untuk menaikkan permukaan air laut! Jadi... kita bisa sedikit lega.

Namun hal sebaliknya bisa terjadi di Antartika. Gunung es dapat mempengaruhi ketinggian muka air laut. Volume total esnya cukup besar untuk menambah volume air laut. Tapi perlu dicatat bahwa karakter sistem lingkungan Antartika sangat, sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga esnya tidak akan mencair! Jadi pemanasan global takkan mampu mencairkan es di Antartika karena temperaturnya akan tetap berada di bawah nol. Jika panas global mengakibatkan temperatur di kutub dapat mendekati nol sehingga es mulai mencair maka dipastikan semua manusia di Bumi sudah mati akibat heat stroke sebelum berdampak pada kenaikan muka air laut. Dan ini tak kalah mengerikan jika dibandingkan dengan banjir sejagat itu.

Akan tetapi, kontradiksi saja dapat terjadi. Kenaikan temperatur di Kutub Selatan menyebabkan air laut di sekitarnya menguap. Hembusan angin membawa uap itu ke Kutub Selatan yang akhirnya jatuh dan membeku di daratan Antartika. Jika proses ini berlangsung terus maka sejumlah air pindah dari laut ke darat yang berarti justru terjadi penurunan muka air laut! Sekali lagi saya tulis, justru terjadi penurunan muka air laut! Artinya, pantai kita meluas sehingga meluas pula tempat untuk rekreasi dan membangun Water Front City. Namun, mungkinkah hal ini terjadi?

Salju abadi
Bagaimana dengan salju abadi? Jika pemanasan global mempunyai efek pada pencairan es di Artik dan penguapan air laut di sekitar Antartika sehingga permukaannya turun, apakah secara global air laut akan tetap naik? Sulit sekali menjawabnya dengan pasti, karena bergantung pada jumlah volume es yang mencair di Artik dan jumlah volume air laut yang menguap dan membeku di daratan Antartika. Terlihat bahwa kasus ini tidak sesederhana yang diduga sebagian kalangan bahwa jika Bumi memanas maka terjadi pencairan es yang akibatnya muka air laut ikut naik!

Di Bumi ini banyak ada es dan salju abadi seperti di Pegunungan Jaya Wijaya Papua, di Pegunungan Himalaya India dan beberapa pegunungan tinggi di Eropa. Pada akhir abad 20 lalu ada indikasi salju/es tersebut mencair. Jika pemanasan global berlanjut, boleh jadi semuanya akan cair. Bongkahan es di Greenland pun dapat menaikkan muka air laut jika mencair. Meier, peneliti gletser, menduga terjadi kenaikan 2,8 cm muka air laut selama periode 1900-1961. IPCC (Inter-governmental Panel for Climate Change) memperkirakan akan terjadi kenaikan muka air laut sampai 29 cm pada tahun 2030 dan pada tahun 2070 menjadi 71 cm atau hampir 1 meter pada akhir abad 21.

Betulkah demikian?
Pemanasan global, secara teori dan ada sejumlah fakta, dapat mencairkan salju dan es yang mengakibatkan muka air laut naik. Tetapi mungkinkah temperatur atmosfer bawah Bumi naik sekian puluh derajat sehingga semua es di Bumi mencair?

Mungkinkah pada saat itu manusia masih hidup dan hidupnya pun di atas kapal seperti Kevin Kostner dalam film Water World-nya atau seperti Nabi Nuh a.s?***
ReadMore »

13 Juli 2007

IPAL RUMAH SAKIT

Contoh Desain IPAL Zontech (Amazon Technology)

Peningkatan jenis pelayanan rumah sakit yang makin kompleks bisa menjadikan rumah sakit sebagai sumber distribusi penyakit apabila limbah yang dihasilkannya tidak dikelola dengan baik dan tepat. Limbah yang dihasilkan rumah sakit dapat berupa limbah padat, cair, dan gas yang sebagian merupakan limbah klinis dan non-klinis sehingga berpotensi dalam penyebaran penyakit.

Untuk menangani air limbahnya, rumah sakit diwajibkan oleh pemerintah menyediakan fasilitas IPAL sebelum air limbahnya dibuang ke badan air penerima. Oleh sebab itu, perlu dirancang Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mampu mereduksi, menurunkan kadar pencemar ke taraf baku mutunya sehingga menjamin kelestarian fungsi ekosistem. IPAL ialah sistem pengolah yang mampu menurunkan kandungan pencemar air limbah yang berpotensi mencemari lingkungan sampai batas yang disyaratkan pemerintah. Tujuannya, mengurangi dampak buruk polutan di dalam air limbah dan mengendalikan pencemaran lingkungan.

Sumber Air Limbah
Air limbah rumah sakit adalah semua air limbah yang dihasilkan di dalam area rumah sakit, baik dari unit pelayanan medis, penunjang medis maupun dari unit nonmedis atau bagian umum. Berdasarkan sumbernya itu maka air limbah rumah sakit dapatlah dikelompokkan menjadi empat bagian.

i. Air limbah bersifat domestik. Air limbah ini berasal dari kamar mandi, dapur, air limbah cuci pakaian. Air limbah ini banyak mengandung zat organik.

ii. Air limbah medis. Air limbah ini berasal dari kegiatan medis rumah sakit seperti pembersihan luka, sisa-sisa darah, dll. Ini pun kaya zat organik. 
iii. Air limbah laboratorium. Air limbah ini berasal dari laboratorium sehingga banyak berisi logam berat. Air limbah ini sebaiknya diolah terpisah dengan air limbah domestik dan medis. Air limbah laboratorium ini dapat ditampung untuk selanjutnya diproses secara khusus. Setelah itu barulah efluennya dialirkan bersama-sama dengan efluen air limbah lainnya. 
iv. Air limbah kedokteran nuklir. Jenis limbah ini termasuk Buangan Berbahaya dan Beracun (B3) sehingga perlu ditangani secara khusus.

Sumber Air Limbah Rumah Sakit
Perawatan: Kamar mandi, WC, wastafel
Bedah: Wastafel dan air limbah cuci alat, cuci tangan, zat kimia, obat.
Laboratorium: Wastafel, air limbah cuci alat & tangan, cairan kimia, obat.
Poliklinik: Wastafel, air limbah cuci alat, cuci tangan, cairan kimia, obat.
Farmasi : Wastafel, air limbah cuci alat, cuci tangan, cairan kimia, obat
Radiologi: Wastafel dan air limbah cuci film, zat kimia.
IGD: Wastafel dan air limbah cuci alat, cuci tangan, cairan kimia, obat.
Dapur: Wastafel dan air limbah masak-memasak di dapur
Laundry: Wastafel dan mesin cuci-laundry.
Kantor: Kamar mandi, WC, wastafel
Kantin: Wastafel dan air limbah masak-memasak, cuci-mencuci di kantin
KM/WC UmumL Kamar mandi, WC, wastafel

Opsi IPAL Rumah Sakit
Tersedia banyak variasi dari sejumlah unit operasi dan unit proses yang bisa diterapkan untuk IPAL rumah sakit. Perbedaan jenis, jumlah, dan volume unit pengolah air limbah akan berpengaruh pada efisiensinya. Dalam hal produk Zontech, jenis unit, jumlah, dan volumenya diberitahukan kepada klien atau pengguna pada tahap awal perencanaan.

Amazon Technology (Zontech) ialah teknologi pengolahan air limbah hibrid (hybrid) yang memadukan unit operasi fisika dan unit proses biologi (bio-fisika) dan proses kimia (bergantung pada kebutuhan lembaga, badan, perusahaan). Unit yang dibuat didasarkan pada kondisi air limbah masing-masing yang dipengaruhi oleh jenis kegiatan lembaga atau perusahaan (pabrik makanan, minuman, domestic wastewater, rumah sakit, hotel, atau perkantoran).

Sebagai teknologi hibrid, Amazon Technology memadukan beberapa unit operasi-proses. Secara ringkas di bawah ini diberikan garis besar unit yang diterapkan. Pilihan dari alternatif yang tersedia, seperti diungkap di atas, bergantung pada karakteristik air limbah masing-masing.

Anaerobic Filter
Anaerobic Filter (AF), Fixed Bed atau biofilter ialah reaktor bermedia (batu, plastik, kayu, bambu, dll) untuk perlekatan bakteri. Media dipasang secara random dengan tiga mode operasi: upflow, downflow, fluidized bed. AF banyak diterapkan untuk mengolah air limbah ber-COD tinggi. Reaktor highrate ini telah luas diaplikasikan untuk mengolah air limbah berbagai jenis. Kunci suksesnya, reaktor ini mampu menghasilkan swahenti, yaitu pembatasan gerak bakteri pada suatu ruang dalam bentuk biofilm dan/atau biogranule (biobutir).

Pada reaktor AF ini, swahenti bakteri dapat menghasilkan umur lumpur yang tinggi, prosesnya stabil, mampu menangani perubahan debit dan kualitas air limbah, mampu pulih (recovery) setelah lama tidak beroperasi, misalnya setelah enam bulan reaktor berhenti operasi atau dormancy, ia mampu pulih hanya dalam tempo 1 - 2 pekan. Biomassanya pun mampu bertahan aktif setelah shutdown dengan syarat masih ada sisa airnya (tetap terendam).

UASB(Upflow Anaerobic Sludge Blanket)
Reaktor UASB diperkenalkan oleh Gatze Lettinga, pakar proses anaerob di Universitas Wageningen, Belanda pada 1970-an sebagai inovasi Upflow Anaerobic Filter buatan Young & McCarty (1969). Mulai saat itu proses ini banyak diterapkan untuk mengolah air limbah karena mampu membentuk sludge yang berat dan aktif hingga konsentrasi 100.000 mg/l di zone bawah reaktor dengan mekanisme retensi dan separasi.

Secara konsep, UASB serupa dengan reaktor highrate yang lain, yakni mampu menahan biomassa secara swahenti (self immobilization) dengan cara membentuk agregat atau konglomerat atau aglomerat yang tersusun oleh konsorsium bakteri. Dampak retensi (penahanan) swahenti ini, selain menambah aktivitas metanogeniknya juga menambah kecepatan endapnya sehingga waktu tinggal selnya melebihi waktu tinggal hidrolisnya.

Reaktor Hibrid Anaerob (Rehan)
Hibrid ialah reaktor bastar, yakni satu reaktor dicangkokkan pada reaktor lain. Dengan demikian, variasinya menjadi sangat banyak. Adapun hibrid di sini ialah bastar antara reaktor AF dan UASB. Inilah konfigurasi reaktor yang dikembangkan untuk antisipasi biomassa yang sulit mengendap seperti fluffy & loose flocc. Pada Rehan ini biomassanya terakumulasi di bagian bawah reaktor UASB & AF. Pada saatnya, akumulasi sludge bisa berlebih sehingga perlu dipompa dan dikeringkan di Sludge Drying Bed.

Rehan menawarkan penggabungan kelebihan atau keuntungan UASB dan AF dan berhasil mengolah limbah yang soluble maupun sebagian insoluble daripada reaktor jenis lain. Sejumlah kelebihannya adalah KPO yang lebih besar daripada yang mampu diterima AF, biobutir lebih mudah dikultivasi (ditanam dan dikelola) daripada UASB dan start up-nya lebih singkat daripada fluidized bed. Sedangkan untuk medianya, yang terbaik ialah yang punya kapasitas pelekatan tinggi (high biomass attachment capacity) seperti porus dan rasio luas per volumenya tinggi.

Selain bioproses anaerobik tersebut, Zontech pun menerapkan bioproses aerob yang memerlukan aerator dan unit operasi fisika seperti equalizing dan sedimentation. Unit yang dipilih didasarkan atas kualitas fisika air limbah dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Zontech pun memberikan opsi untuk mengolah air limbah secara kimia dengan menerapkan unit koagulasi, flokulasi, netralisasi, disinfeksi, dll.


Selain rumah sakit, Amazon Technology juga diterapkan untuk mengolah air limbah dari institusi:
1. Domestic wastewater, sewage kota/kecamatan.
2. Rumah tangga, kompleks perumahan, asrama.
3. Rumah sakit, klinik, balai kesehatan.
4. Apartemen, kondominium, cottages.
5. Hotel, motel, villa, bungalow.
6. Pabrik, kawasan industri.
7. Restoran, rumah makan, supermarket, mall.
8. Taman-taman, lapangan golf.
9. Sekolah, kampus, kantor-kantor pemerintah, dll.
--------------------------------------------------------------------------------
ANAEROBIC BIOTECHNOLOGY

In brief, I would like to distribute a topic in anaerobic wastewater treatment. As one of the fundamental system on treatment technology, this kind of bioreactor is offering us an excellent chance to get the best result. Of course, there will be difference on the result of each other. On this research activities, the source of microorganism was rumen which contain a very rich of anaerobic bacteria and obtained from slaughterhouse at Ciroyom, Bandung. Before adaptation or acclimatization on the reactor, the seeding have been done in the tank for a few of weeks with introduced of glucose and nutrient so trace metals to support their growth. 

As we know, effluent from industries, especially food industries all tend to be heavily polluted and contain high concentration of organic matter. Such materials from sugarcane waste like mollasses are generally neither toxic nor even harmful, but they can rapidly exert a substantial oxygen demand when the effluent of the factory is discharged to a watercourse viz. lakes or rivers. As we have known that organic substances in wastewater contain some elements such as CHONSP and usually called as COD (Chemical Oxygen Demand) or BOD (Biochemical Oxygen Demand) and represent the strength of waste so used as indicators for water pollution control.

Biological treatment is one of the famous technology to decrease the pollutant of organic content. Treating municipal or industrial wastewater, one can apply bioreactor which are divided into two general groups depend on their medium of growth viz. suspended growth reactor and attached growth reactor. We also can separate the reactor as aerob and anaerobic reactor due to presence of oxygen. Anaerobic reactor is a bacterial decomposition by which the organic matter is broken down in the absence of dissolved oxygen to produce a mixture of CO2 and CH4 gases. The formation of CH4 gas is the key to the whole process because it is the method by which the COD of the waste is reduced and also because the CH4 content provides a commercial value as fuel for cooking or lighting (electricity).

Historical Aspect
As the oldest method to treat wastewater, anaerobic technology has some merit than aerob treatment. The first installation used to treat settled wastewater solid was known as Mouras automatic scaverager which developed by Louis H. Mouras, a French engineer in about 1860. So Donald Camenon was the first person recognizing that a combustible gas containing CH4 was produced when wastewater solid was liquified. This gas so called as “marsh or swamp gas” because burning on the surface of swamps.

At the beginning of this century, the treatment target changed from solids digestion systems to modern municipal wastewater treatment systems generally for combined industrial and domestic wastewater. Simple anaerobic treatment process such as various type of septic tanks were not suitable to treat large quantities of municipal wastewater. Therefore, in 1893 aerobic treatment were built viz. Trickling Filter and in 1914 the Activated Sludge process. Nowadays, these have been developed very widely with any variations in method of technology.

Just like aerobic treatment, as notice before, there are two kinds of common processes for anaerobic treatment i.e suspended growth and attached growth systems. The most common anaerobic attached growth treatment processes are anaerobic filter and fluidized or expanded bed processes and for suspended growth system the most common process is the UASB (Upflow Anaerobic Sludge Blanket) system used for the treatment of domestic wastewater.

Anaerobic Filter.
This type of anaerobic treatment consists of a reactor vessel filled with some proper type of solid media. The wastewater flows upward through the packed-bed, containing media on which anaerobic bacteria grow and are retained. Because the bacteria are retained and not washed out with the effluent, mean cell residence times can be obtained up to 100 days. High value of this can be achieved at short hydraulic retention times, consequently the anaerobic filter can be used in principle for the treatment of low strength wastewater at ambient temperature.

Fluidized bed and expanded bed reactor.
In both of the reactor, the wastewater is pumped upward through a bed consisting of an approprite medium (sand, coal, bamboo) on which a biological growth has developed. Effluent can be recycled to dilute the incoming wastewater and to provide an adequate flow to maintain the bed in a fluidized or expanded state.

UASB Reactor.
The wastewater is introduced at the bottom of the reactor, which first developed by Lettinga in 1972 at Netherland and it then flows upward through a blanket of active anaerobic sludge. Treatment occurs as a result of a proper contact of wastewater with the active sludge. The UASB presently process is the most widely used high rate anaerobic sewage treatment system. 

Hybrid Anaerobic Reactor.
This is a new hybrid reactor which combined a filter in the upper of the reactor and suspended growth in the bottom. The height and volume of each part is variable depend on the researchers and may be has different efficiency. From a few of researchs that has been done, we can take a general conclusion that this reactor has a better performance than the others.

Principle of Process
Generally, the anaerobic digestion can be divided into three step process accomplished by very large consortia of microorganisms and are distinguished:
a. Hydrolysis, the first step in degradation of organic matter involves reaction of extracellular enzymatic. Many microorganisms produce extracellular enzymes, suited for transformation or hydrolysis of higher molecular mass compounds such as lipid, proteins an carbohydrates into small molecules suitable for use as source of energy and cell carbon.
b. Acidogenesis is the second step, involves the bacterial conversion of the compounds resulting from the first step (hydrolysis) into intermediate compound such as volatile fatty acids, alcohol, hydrogen, CO2 and other low molecular weight compounds. The acid formers have an optimal pH between 5-6 although the normal pH near 7 in which still favorable compared to methanogens (methane formers) for final conversion of organics.
c. The third step is the sequense of aceto- and methanogenesis involves bacterial conversion of the intermediate compounds into methane gas and CO2. CH4 is produced mainly via acetic acid + hydrogen and CO2. Methanogenesis proceeds relatively slowly and generally is the rate limiting in anaerobic degradation. Bacteria that utilize acetate called acetoclastic (acetophilic) bacteria with the overall reaction is CH3COOH àCH4 + CO2.***
 

ReadMore »