• L3
  • Email :
  • Search :

21 September 2007

Temu Penulis di KOMPAS

Kamis sore, 20 September 2007, pk. 16.00 - 17.45 WIB, Kompas Jawa Barat mengundang segenap penulis lepas di koran tersebut untuk buka puasa/saum bersama (Ifthor Jama’i) di Grha Kompas Jln. Riau No. 46 Bandung. Di gedung megah inilah, tepatnya di lantai II, diadakan temu penulis dari berbagai kalangan, beragam tema, baik fiksi maupun fakta (nonfiksi). Ada kurang lebih 70-an orang yang hadir, mulai dari usia di atas 60 tahun, usia paruh baya, sampai usia likuran (mahasiswa S1).
Dalam sambutan pembukaannya, Dedi Muhtadi, Kabiro Kompas Jawa Barat memaparkan tentang “Menulis Artikel di Kompas”. Ada 10 poin yang menjadi sebab sebuah artikel di kompas tidak dimuat. Berikut ini ringkasannya.
  1. Temanya tidak aktual, tak terkait dengan kekinian.
  2. Lebih dari 1.000 kata dengan MS Word.
  3. Bahasannya terlalu mikro atau lokal.
  4. Konteksnya tidak jelas.
  5. Bahasa, pilihan kata, terlampau ilmiah, akademis, kurang populer.
  6. Paparannya sumir.
  7. Penyajiannya seperti pidato, makalah, diktat kuliah.
  8. Sumber kutipan tidak jelas.
  9. Terlalu banyak kutipan, tanpa pendapat sendiri.
  10. Tidak runtut, idenya meloncat-loncat.
Yang juga penting adalah jumlah penulis. Penulisnya harus HANYA satu. TIDAK boleh dua apalagi lebih. Tak boleh ada “lokomotif” penulis bagi penulis lainnya. Mau tak mau, para (calon) penulis hendaklah mengikuti “tata-krama” itu. Sebab, ya... itulah kebijakan khas dapur redaksi Kompas sebagai koran “kuat” beroplah “sarat” dan bagai gula yang dikerubuti “semut-semut” penulis dari seluruh Indonesia, bahkan mukimin di luar negeri, luar negara. Ia bagai gadis ayu yang hendak disunting semua penulis.
Berkaitan dengan kiriman artikel, Kompas Jawa Barat rata-rata menerima sepuluh artikel per hari. Demikian kata Pak Dedi Muhtadi. Dan yang dimuat sebanyak................. atau sesedikit................... satu artikel saja per hari. Bayangkan....... hanya SATU tulisan per hari. Artinya, di antara penulis yang hadir dalam acara itu pun bersaing ketat. SANGAT ketat. Namun, mereka toh... tetap bisa ngobrol dan makan bersama.....! Asmat..... : asyik nan nikmat!
Bagi Kompas, menulis di kolom Opini, Forum, atau apapun namanya bukanlah untuk mencari nama (‘kan sudah bernama sejak lahir, tho...? he he he, pun bukan untuk mendapatkan uang, melainkan untuk intellectual excercise. Begitulah kata Pak Dedi. Satu poin yang melegakan hadirin, kalau bisa disebut demikian, ialah pengembalian artikel dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya (kaya’ Proklamartikel ya). Artinya, redaksi dituntut untuk segera menilik semua artikel yang masuk lalu memberikan keputusan atas artikel yang akan dimuat dan yang dikembalikan. Dari lontaran yang muncul di forum itu, para penulis menghargai balasan surat, e-mail, sutel redaksi meskipun artikelnya tak dimuat.
Setelah sesi tanya jawab, acara lantas beralih ke buka bersama tepat pk. 17.48 WIB. Dengan beragam menu yang ditata prasmanan, satu per satu hadirin, sambil antri dan ngobrol, menjumput kue, kolak, irisan buah-buahan, puding, nasi plus lauk-pauk dan sayurnya. Setelah shalat Maghrib, beberapa penulis berbincang-bincang dan akhirnya bubar menjelang adzan Isya’.
Itulah poin bagus buat Kompas Jawa Barat yang berupaya peduli kepada penulis-penulisnya. *
ReadMore »

12 September 2007

Saum Ramadhan



Ini malam, ba'da Magrib 12 September 2007, kita memasuki bulan Ramadhan
dan menjadi
kali pertama shalat Tarawih tahun ini.



Esok hari menjadi hari pertama Saum Ramadhan 1428 H.

Saya dan keluarga mengucapkan

"Selamat Melaksanakan
Ibadah Saum Ramadhan
"

kepada segenap pembaca blog ini.








ReadMore »

2 September 2007

Stakeholders, Zebralis

Alhamdulillah, beberapa kata bentukan yang saya rilis sudah berterima dan lumrah ditulis serta diungkapkan di media massa cetak dan elektronik.

Di luar ilmu ke-TL-an (Teknik Lingkungan), khususnya di luar bidang air minum dan air limbah, ada sejumlah kata yang kian populer. Yang pertama ialah kata stakeholders yang saya padankan dengan kata pemangku. Riwayatnya, kata pemangku ini saya pilih karena ingat kata pangku. Bayi atau anak-anak biasanya dipangku orang tuanya sebagai tanda sayang, melindunginya agar tidak jatuh, dll. Ini semacam kepedulian orang tua terhadap anaknya. Oleh sebab itu, kata tersebut lantas saya angkat dan dirilis di beberapa artikel saya, baik di koran maupun di Majalah Air Minum (MAM) terbitan Perpamsi (Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia) dan juga di buku saya. 

Dalam perkembangannya, kata pemangku itu lantas ditambah dengan kata bentukan lain, yaitu kepentingan. Jadilah sekarang kata stakeholders (dengan s, bukan stakeholder) yang memang berarti jamak sudah dipadankan dengan kata (frase) pemangku kepentingan dan sudah berterima di kalangan wartawan, penulis, politisi, birokrat, dan akademisi. Hanya saja, saya masih belum setuju pada kata (lebih tepat: frase) itu karena relatif panjang, terdiri atas dua kata bentukan, bukan kata dasar. Saya lebih suka menggunakan kata pemangku saja untuk kata stakeholders itu lantaran lebih ringkas, singkat dan padat artinya, dan sekaligus dapat diartikan sebagai bentuk jamak. 

Selanjutnya adalah kata ecotribalisme? Kata ini memang tak akan dijumpai di kamus kita. Bentukan kata ini disusun oleh kata eco, tribal, dan isme. Eco merujuk pada ecology (ekologi) yang dibentuk oleh kata oikos (rumah, tempat tinggal) dan logos (ilmu). Tribal merujuk pada makna suku, adat kebiasaan suatu masyarakat yang biasanya mengarah ke kaum tradisional atau “orang awam” yang tinggal di desa, gunung, atau tepi hutan. Isme, seperti makna umumnya, ia ditempelkan pada kata tersebut untuk memberikan kesan kuat. Isme sudah menjadi semacam anutan yang sulit dilepaskan, nyaris dipertuhankan. Katakanlah demikian. 

Jadi, ecotribalisme (in English) atau ekotribalisme (in Indonesian) adalah masyarakat (suku) yang memiliki kepedulian pada ruang hidupnya (lingkungan) dan selalu berupaya melestarikan fungsinya. Ini definisi yang panjang. Kalau diperpendek juga boleh-boleh saja. Mudah-mudahan kata ini berterima di hadapan kalangan ahli bahasa Indonesia, suatu saat kelak. 

Yang juga saya usulkan ke khalayak adalah kata zebralis. Bentukan kata ini sebagai padanan kata barcode. Mendengar “barcode”, pastilah orang yang sering berakrab-akrab dengan buku sudah tak asing lagi. Barcode adalah gambar garis hitam putih yang biasa ditaruh di cover (sampul) belakang buku, di bagian bawah (bisa di kiri, bisa juga di kanan). Gradasi warnanya memang mirip kulit hewan zebra atau mirip zebra cross di jalan-jalan besar dan ramai. Diberi kata “lis” karena dikaitkan dengan format garis-garis. Jadi, zebralis merujuk pada gambar belang seperti plang.

Yang lainnya adalah kata sosioekologi sebagai tafsiran atas pasal 33 UUD 1945. Kata ini saya lepas ke media dengan pertimbangan bahwa pasal tersebut, mulai ayat satu sampai dengan ayat tiga, terkait erat dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan ekologi. Kalangan yang peduli lingkungan pun dapat disebut sebagai sosioekologis karena bisa dikaitkan dengan aspek relasi antara makhluk hidup (hewan, tumbuhan) dengan manusia. Dalam hubungan ini, selalu saja unsur lingkungan menjadi bagian tak terpisahkan dari hewan, tumbuhan, dan manusia. 

Bisa juga dikaitkan dengan kecerdasan lingkungan, sebagai turutan dari kata yang sudah populer sebelumnya, seperti Spiritual Intelligence. Lantas saya munculkan frase enviromental intelligence yang disingkat menjadi enviro intelligence. Kata ini saya pilih sebagai wadah dalam pusat studi lingkungan yang dinamai Enviro Intelligence Center. Harapan saya, semoga lembaga ini mampu berkembang dan menjadi pengajak orang untuk terus membela lingkungan, minimal dari rumah dan tingkat RT masing-masing lantas meluas ke SD, MI, SMP, MTs, SMA, SMK, MA, dan PT. 

Oleh sebab itu, saya mendukung pemberlakuan Mulok Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang baru dimulai pengajarannya pada Juli 2007 ini (awal semester ganjil 2007). Di beberapa sekolah sudah pula dirintis sejak Februari 2007 tetapi masih dalam tahap uji coba. Hanya sayangnya, belum semua guru dan sekolah siap melaksanakannya karena sulit dalam penyediaan guru PLH dan berat memasukkan Mulok PLH ke dalam kurikulumnya lantaran mata pelajarannya sudah banyak. Maka, jadilah PLH itu disisipkan di dalam pelajaran Biologi. 

Ada beberapa bentukan kata lagi yang sudah dirilis secara internal lewat kuliah-kuliah saya (umumnya padanan kata untuk sainteks ke-TL-an). Secara bertahap kata-kata tersebut akan dipublisitaskan di media massa, terutama media internet.

Demikian dan trims for your attention. See you later.

(Maaf, dicampur dengan bahasa Inggris. Tak ada maksud untuk merusak bahasa Indonesia, tetapi agar lebih variatif saja. Terlebih lagi bahasa Inggris sudah menjadi bahasa wajib dan diujikan dalam Ujian Nasional SMA di Indonesia. Artinya, semua tulisan dan suratan ini (juga semua isi blog ini) adalah demi pendidikan publik).
***
ReadMore »