• L3
  • Email :
  • Search :

30 April 2013

Prosedur Desain Pengolahan Air Minum


Prosedur Desain Pengolahan Air Minum
Oleh Gede H. Cahyana

Air minum sudah dikenal sejak manusia ada di Bumi. Tentu saja, tak hanya untuk minum, tapi juga untuk kebutuhan lain seperti mandi, cuci, kakus. Khusus untuk minum, dikembangkan teknologi yang bervariasi cara dan kinerjanya. Desainnya berkembang dari yang sederhana, yaitu hanya memanfaatkan pasir di tepi sungai, sampai dengan teknologi membran. Yang disebut terakhir ini belum diterapkan oleh PDAM, kecuali di zone khusus seperti Zone Air Minum Prima (ZAMP). Tetapi faktanya, tidak semua ZAMP itu menerapkan teknologi membran. Ia hanya diterapkan oleh perusahaan air minum kemasan (amik) dan sekarang diterapkan juga oleh sebagian depot air minum kemasan ulang atau populer disebut air minum isi ulang.

Dalam tulisan ini, yang dibahas adalah teknologi pengolahan air minum untuk komunitas besar, misalnya permukiman, kawasan industri, dan kota. Dengan demikian, yang dibahas ialah teknologi konvensional yang lumrah diterapkan di PDAM, kawasan industri, dan pabrik. Agar tercapai tujuan pengolahannya, maka tahap awal dalam sistem pengolahan air minum tak lain daripada mendesain secara efektif dan efisien setiap unit operasi dan prosesnya. Begitu pula, desain yang dibuat harus fleksibel, mampu menangani keadaan air baku pada musim kemarau dan musim hujan. Desain juga wajib mampu menangani kondisi perubahan kualitas air jangka panjang, misalnya 20 tahun dan mampu mencapai tahap baku mutu yang dibuat pemerintah pada masa akan datang terutama berkaitan dengan perubahan baku mutu yang menjadi lebih ketat.

Minimal ada lima tahap dalam merencanakan (planning) dan mendesain (designing) IPAM (Instalasi Pengolahan Air Minum).
  1. Karakterisasi sumber air dan kualitas air olahan.
  2. Pradesain, yaitu membuat alternatif proses dan memilih proses yang final.
  3. Detail desain pilihan tahap 3 di atas.
  4. Konstruksi, pembangunan.
  5. Operasi-rawat instalasi.
Untuk mencapai tujuan utama IPAM, yaitu menghasilkan air yang sesuai dengan standar kualitas air minum (drinking water quality standard) dengan harga murah dan mudah, maka perlu dipelajar unit operasi dan unit proses yang mendukungnya. Unit operasi ialah unit yang didominasi oleh fenomena atau gejala fisika (physical forces); unit proses lebih didominasi oleh fenomena kimia dan biologi (chemical, biological reaction). Istilah UO dan UP tersebut dapat dipertukarkan atau interchangeably dan merupakan kombinasi yang tak terpisahkan dalam suatu unit pengolahan. Sebagai contoh, pengurangan kekeruhan (turbidity) dengan koagulasi. Agar tercapai kualitas yang diinginkan, yaitu airnya jernih, maka selalu ditambahkan zat kimia (koagulan), lalu diaduk dan disebar (dispersi), dikuatkan floknya denga flokulasi dan terakhir diendapkan (sedimentasi).

Dalam desain, pada tahap tertentu akan dibuat sebuah deretan unit operasi dan proses atau urutan unit pengolah. Ini disebut process train, flow sheet, process or flow diagram, flow schematic, atau flow scheme. Ini pun bisa dilihat dalam gambar profil hidrolis yang biasanya dibuat setelah tahap rancangan setiap UO dan UP selesai. Di bawah ini diberi skema posisi air baku (raw water), IPAM, dan air olahan (air minum yang sesuai denga standar kualitas air minum menurut peraturan pemerintah. Perlu diingat juga, dalam setiap IPAM akan selalu dihasilkan air limbah dan sludge (lumpur). Keduanya harus diolah lagi atau disiapkan unit pengolahnya (penampungnya) dan jangan dibuang ke badan air (sungai, danau, waduk). Tetapi masih bisa dibuang di tanah yang cekung dengan tujuan mengurugnya (urugan).

Ada sejumlah komponen penting, meskipun tidak harus selalu tersedia, dalam sistem pengolahan air minum. Komponen ini menjadi bagian penting dalam setiap deretan proses pengolahan air. Yang pertama adalah intake (raw water intake). Ini merupakan bangunan untuk mengambil air dari sungai, danau, waduk, dll. Bentuknya ada yang sederhana seperti submerged intake pipe. Ada juga yang floating dan yang berbentuk tower-like structure yang bisa berisi intake gates, screens, control valves, pompa, dan chemical feeders. Submerged dan floating intake digunakan untuk debit kecil sedangkan tower-like intakes diterapkan untuk debit besar dan bisa menjadi bagian integral dari sebuah dam atau merupakan bangunan yang dibuat khusus.

Komponen kedua ialah pompa. Unit ini biasanya dipasang di bangunan sadap atau intake. Gunanya untuk menaikkan air dari sungai atau danau ke ketinggian tertentu lalu dialirkan secara gravitasi. Head pompanya sama dengan jumlah head statis, friction losses dan minor losses. Pompa yang digunakan adalah sentrifugal, baik yang suspended, submerged, atau yang dry-well centrifugal pumps.

Yang ketiga, raw water conveyance atau transmisi, transportasi. Gunanya untuk mengalirkan air dari sumber ke IPAM. Biasanya IPAM berada di dalam atau di dekat kota sehingga perlu pipa atau saluran yang panjang. Kota Bandung misalnya, memperoleh air baku dari air Sungai Citarum sejauh 38 km dari IPAM-nya di Jln. Badak Singa. Salurannya berupa pipa. Contoh yang lain adalah PAM Jakarta yang memperoleh air baku dari kanal Tarum Barat di sepanjang Kali Malang, Bekasi. Hal yang penting dalam menentukan saluran dan jalurnya adalah topografi, available head, material konstruksi, ekonomi, dan kualitas airnya. Bentuk-bentuk salurannya: kanal, flume, grade aquiduct, grade tunnel, pipa atau kombinasinya.

Yang keempat, flow measurement. Pengukuran debit air baku dan air olahan sangat penting untuk operasi instalasi, kendali proses, billing (tarif air), dan record keeping. Alat ini bisa dipasang di dalam pipa air baku, pipa insuk distribusi setelah pompa servis, atau di sejumlah lokasi di dalam instalasi. Jumlahnya pun bisa lebih dari satu, sesuai dengan keperluan instalasi. Secara umum, debit dapat diukur di dalam pipa bertekanan dan di dalam saluran terbuka. Debit yang melewati pipa bertekanan diukur dengan mechanical or differential head meters seperti venturi meter, flow nozzles, atau orifice meter. Adapun yang lewat saluran terbuka menggunakan weir atau venturi-type flume seperti Parshal flume.

Sistem IPAM
Pada masa sekarang ini, terutama di kota-kota besar dan kota yang sarat dengan kawasan industri, kualitas air baku sudah sangat tercemar. Pencemar organik dan anorganik ini menjadi masalah utama dalam pengolahan air minum. Setelah pengolahan pun, yaitu sebagai efek sampingnya, selalu muncul sludge (lumpur) yang mesti dibuang dengan aman. Bisa juga di-recovery lagi untuk memperoleh, misalnya, alum, besi, kalsium, magnesium, dll.

IPAM, terutama pengolahan lengkap (complete treatment) selalu disusun atas beberapa UO dan UP. Karena demikian banyaknya unit-unit pengolah itu, maka seleksi yang tepat merupakan kunci sukses pengolahannya. Selain itu, seleksi yang tepat akan menghemat biaya investasi, juga ongkos operasi dan rawatnya. Atau, kalaupun mahal, tetapi sepadan dengan kualitas air olahannya yang juga sangat bergantung pada kualitas air bakunya. Begitu pun sebaliknya, salah dalam proses seleksi dapat mengubah proses pengolahan secara besar-besaran dan memboroskan uang.

Apa saja yang berpengaruh dalam proses seleksi UO dan UP dalam desain IPAM? Memang, memilih unit pengolah yang tepat bukanlah tugas yang mudah. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan sehingga tidak sesimpel yang diperkirakan. Yang berpengaruh dalam seleksi tersebut adalah:
  1. Kualitas air minum. Ini bergantung pada kondisi dan potensi perubahan air baku dalam jangka panjang dan juga perubahan menurut musim (kemarau, hujan).
  2. Yang juga diperhatikan adalah topografi dan kondisi lokasi, tata guna lahan, dan syarat-syarat hidrolis.
  3. Evaluasi sistem keseluruhan.
  4. Fleksibilitas dan kemudahan operasinya.
  5. Kemudahan dalam upgrade kalau air bakunya berubah dan standar kualitas air minum pun berubah pada masa datang.
  6. Ketersediaan personal untuk operasi-rawat instalasi, mesin-mesin, dan zat kimia.
  7. Mampu menangani ketika terjadi beban puncak hidrolis.
  8. Mudah dalam pembangunannya.
  9. Murah biaya pembangunannya dan murah pula operasi-rawatnya.
Oleh sebab itulah, perlu laboratorium dan studi-studi instalasi untuk mendapatkan parameter desain yang cocok untuk jenis air tertentu. Studi itu meliputi: bench-scale di lab., pilot plant testing, dan plant-scale simulation testing.
                                                                                                                                            
Apakah inti sistem pengolahan air minum? Kalau dijawab secara singkat, bisa dikatakan bahwa pengolahan air minum ialah reduksi (eliminasi) zat yang tak diperlukan. Kejadian atau fenomena dalam unit pengolahnya bisa berupa gejala fisika, reaksi kimia, atau biologi atau kombinasi ketiganya. Zat yang dieliminasi atau direduksi dapat berupa ion, molekul, atau padatan (solid), baik dari golongan zat organik maupun anorganik. Hanya saja, pada saat ini, seperti diungkap di atas, kondisi air baku (sungai, danau, waduk) sudah sangat tercemar sehingga seolah-olah air baku untuk air minum kita sudah berasal dari air limbah. Lihat saja Citarum, warnanya hitam pekat di beberapa ruasnya. Padahal air sungai ini menjadi sumber air minum untuk beberapa daerah di hilirnya.

Residu Pengolahan
Residu pengolahan adalah semua material yang disisihkan selama proses pengolahan dan sebanding dengan air yang diolah. Yang termasuk kelompok ini adalah material penyebab kekeruhan (turbidity) dan warna air, padatan organik dan anorganik, algae, bakteri, virus, dan presipitat kimia. Semua residu itu berasal dari koagulasi, presipitasi besi dan mangan, cuci filter (backwashing), softening (pelunakan air sadah), regeneration brines, dan air pencuci mikrostrainer. Volume air yang ikut terbuang dalam proses residu dan pemberihannya antara 3 – 10 persen dari air baku yang diolah. Konsentrasi padatan berkisar 0,1 – 4 persen, dan bergantung pada proses dan kualitas air bakunya. Patut diingat, residu ini TIDAK boleh dibuang ke sungai, danau, atau waduk. Malah residu ini sudah dimasukkan ke dalam limbah industri dan harus ditangani hati-hati, sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Apa saja proses dan manajemen residu di atas? Ada beberapa yang dapat diterapkan seperti settling, thickening, conditioning, dewatering, drying, recovery, dan disposal. Memang, ada kalanya residu tertentu boleh dibuang ke sanitary sewer. Hanya saja, di Bandung ini, cara ini tidak diperbolehkan. Atau, bagaimana faktanya, apakah PDAM membuang sebagian atau seluruh residunya ke saluran air limbah domestiknya?  Logikanya, kalau PDAM berbuat demikian, maka IPAL Bojongsoang yang berada di area seluas 85 hektar itu akan cepat dangkal.

Bagaimana cara memilih proses pengolahan residu itu? Ini dipengaruhi oleh kondisi lokasi, misalnya luas lahan, jenis dan kualitas sludge, kondisi cuaca, biaya zat kimia, dan tipe disposal atau pembuangan akhir yang tersedia atau diadakan. Seleksi ini pun bergantung pada dimensi unit (size of plant), biaya konstruksi, harga peralatan (equipment), termasuk faktor operasional seperti zat kimia, listrik, pekerja, dan kelayakan. Opsi yang dipilih dari alternatif deretan proses pengolahan residu itu harus didasarkan pada keuntungan, manfaat dan pertimbangan keburukan setiap proses dan biaya proses secara keseluruhan.

Untuk memilih prosesnya, berikut ini wajib dipertimbangkan: (1) persyaratan lahan, (2) operasi di bawah kodisi cuaca yang buruk, (3) variasi debit olahan, (4) mudah dalam operasi-rawat, (5) kualitas lumpur dan supernatan.

Studi Keterolahan
Kualitas air pasti berbeda dari satu daerah dengan daerah lainnya. Oleh sebab itu, perlu studi awal yang menyangkut keterolahannya. Ini untuk mendukung desain yang tepat dan menetukan parameter operasi setiap unit proses dan deretan proses keseluruhan. Studi awal ini sangat dibutuhkan apabila akan dibuat instalasi baru, berbeda dengan yang sudah ada. Maka, seorang desainer harus memahami metodologi: (1) percobaan laboratorium untuk menilai keterolahan air baku sampai tingkat yang diinginkan, (2) prosedur lab. dan studi pilot-plant, (3) menerjemahkan data lab. ke dalam parameter desain dan operasi. Studi lab. bisa secara batch (curah) dan/atau reaktor aliran kontinyu. Cara jar test masih menjadi andalan. Cara klasik ini dapat menentukan dosis zat kimia yang tepat dan dapat menentukan kondisi terbaik koagulasi.

Pilot plant dapat lebih bagus lagi, mampu menentukan keterolahan untuk membuat parameter desain yang tepat, menguji zat kimia baru, optimasi dosis, mengevaluasi proses untuk meningkatkan kinerja instalasi dan hemat biaya. Secara umum, studi pilot plant digunakan untuk kondisi berikut ini: (1) menguji proses baru, (2) stimulasi proses, (3) prediksi kinerja proses, (4) mendata kinerja proses, (5) optimasi desain, (6) optimasi operasi untuk dosis kimia, periode reaksi, dll.

Yang harus diingat, studi pilot pasti bermanfaat dalam mendesain IPAM karena dapat meningkatkan kinerja instalasi, baik yang lama (eksisting) maupun yang baru (akan dibangun). Manfaat lainnya, dapat menghemat biaya operasi dan rawat instalasi. PAM swasta dan PDAM perlu mulai membiasakan diri melakukan pilot studi kalau ingin memperoleh untung dan laba yang signifikan. Demikian, semoga bermanfaat. *

ReadMore »

25 April 2013

Hari Bumi 2013, Catatan Dunia Paradoks


Oleh Gede H. Cahyana

Hari Bumi 22 April 2013 meninggalkan catatan yang berkaitan dengan perubahan iklim, penghangatan (warming) atau pemanasan Bumi. Bersamaan dengan itu, masalah lain terus menguntit seperti lubang ozon dan pencairan es di kutub. Yang tak kalah penting ialah ledakan populasi yang berpola geometric growth dan ketimpangan sebaran penduduk, hanya berkumpul di pulau-pulau besar yang ekonominya sudah berkembang pesat.

Dunia Paradoks
Pesat sekali pertumbuhan penduduk Bumi. Tahun 1950-an hanya 2,5 miliar orang. Dalam tempo 55 tahun menjadi 6,2 miliar orang. Pada akhir 2007 lalu 6,5 miliar orang dan 1,5 miliar berada di bawah garis kemiskinan. Satu miliar di antaranya hidup di negara berkembang. Dekade lalu, dengan populasi hanya 20% dari populasi total, negara maju mengonsumsi 80% kayu hutan. Konsumsi satu bayinya setara dengan 15 bayi di negara miskin. Negara kaya pun membuang limbah terbanyak, mencapai 90%, termasuk limbah B3 dan melepas 90% CFC (chlorofluorocarbon), senyawa pelubang lapisan ozon.

Parahnya lagi, karbondioksida (CO2) terus bertambah akibat penggunaan BBM, zat kimia dan penebangan hutan. Pertahun saja, 1% hutan tropis di Bumi ini lenyap sehingga mereduksi fotosintesis yang berdampak pada kenaikan temperatur Bumi. Tibet yang biasanya dingin misalnya, temperatur udaranya pernah mencapai 25 derajat Celcius selama 23 hari. Permukaan air laut pun naik di Kep. Bermuda, Hawaii, Fiji dan pencairan gunung es Gangotri, India dan es di Peg. Andes di Peru. Bukti lainnya, dekade terpanas terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an dan tahun terpanasnya ialah tahun 1998, 2001, dan 2005.

Kalau pemanasan itu terus berlanjut, pada tahun 2100 diduga muka air laut naik antara 15 – 95 cm sehingga pulau-pulau kecil tenggelam, pantai menyempit, intrusi makin jauh ke darat. Terjadi reduksi luas pulau sehingga timbul masalah demografi dan gangguan kesehatan seperti malaria, demam berdarah, filariasis, flu burung, SARS (pernapasan akut). Juga memicu gelombang panas yang jauh lebih ganas dan makin luas paparannya, seperti kejadian di kawasan Amerika- Eropa. Badai Noel, topan Katrina, puting beliung terjadi di mana-mana, terakhir di Bangladesh yang diporak-porandai oleh badai Sidr yang menewaskan 2.400-an orang.

Pola hujan dan salju pun berubah, mengubah pola siklus hidrologi, mengganggu suplai air bersih. Intrusi mengasinkan sumur, memperluas krisis air. Karena terjadi ledakan jumlah penduduk, muncullah ancaman kekurangan pangan sehingga makin luaslah eksploitasi lahan baru di gunung, bukit, hutan, dan dataran banjir. Semuanya terpaksa dieksploitasi demi penyediaan kebutuhan pangan. Di satu daerah terjadi banjir pantai, di daerah lain justru kekeringan. Hadirlah paradoks iklim dan cuaca di seluruh dunia. Keragaman hayati berkurang, spesiesnya punah, gagal panen dan kelaparan meluas. Yang paling menderita tentu saja masyarakat miskin.

Semua fenomena di atas berkaitan dengan efek rumah kaca (greenhouse effect). Ilustrasinya begini. Andaikan kita berada di dalam mobil, di bawah panas matahari. Akan terasa ada peningkatan panas apalagi ditambah dengan CO2 hasil pernapasan kita. Makin banyak orang di dalam mobil, makin cepatlah terasa panas. Atmosfer Bumi pun dapat diserupakan dengan atap kaca yang tembus cahaya sehingga sinar matahari dapat masuk dan sampai ke permukaan Bumi lalu dipantulkan kembali ke atmosfer. Hanya saja, pantulan sinar inframerah (gelombang panjang) dihalangi gas rumah kaca sehingga berbalik memantul ke Bumi. Inilah yang meningkatkan panas muka Bumi. Contoh yang jelas ialah sesaat sebelum hujan ketika ada banyak awan (uap air) sehingga temperatur terasa lebih panas dan berakhir setelah hujan turun.

Jika demikian, jahatkah efek rumah kaca? Tidak! Sebab, secara alamiah efek ini menguntungkan karena temperatur Bumi menjadi hangat. Efek yang dikendalikan oleh gas beratom dua atau lebih ini menyerap inframerah di Troposfer. Masalahnya, konsentrasi CO2 dan gas lainnya terus meningkat sehingga pemanasan Bumi menjadi tak terkendali, temperaturnya terus naik dan diistilahkan dengan Global Warming (GW). Pada kasus ini kondisi Bumi sudah lampu kuning dan tanda peringatan waspada (warning) telah menyala.

Tanggung Jawab?
Siapa yang bertanggung jawab atas GW? Tentu saja semua negara! Namun, jika dikaitkan dengan CO2, maka yang paling bertanggung jawab ialah negara industri karena merekalah yang terbanyak mengemisi CO2. Sekadar contoh, emisi orang Amerika Serikat (AS) lima kali lebih besar daripada orang Meksiko, bahkan 19 kali lebih besar daripada orang India. Walaupun hanya 20% orang tinggal di negara maju tetapi kontribusinya 63% dari total emisi. Memang betul, kalau dihitung berdasarkan negaranya, maka Cinalah pengemisi terbesar lantaran jumlah penduduknya memang terbanyak. Namun secara individu emisi tujuh orang Cina setara dengan satu orang AS. Tujuh orang setara dengan satu orang!

Terkait dengan CO2 tersebut, tanggung jawab terbesar haruslah dipikul oleh negara maju seperti AS. Sama sekali keliru membandingkannya dengan Cina dan India meskipun banyak penduduknya. Sebab, emisi gas rumah kaca khususnya CO2, tidak berkorelasi linier dengan jumlah populasi secara langsung. Bisa saja penduduk suatu negara sangat banyak tetapi sebagian besar bergerak di sektor pertanian. Meskipun, memang, pertanian juga menjadi kontributor gas rumah kaca, khususnya setelah panen padi tapi tidak sebanyak yang diemisikan oleh industri dan transportasi.

Di situlah letak kekeliruan AS dalam menanggapi kesepakatan reduksi aktivitas ekonomi (industri dan transportasi). Padahal yang dideritanya juga dialami negara-negara maju lainnya, kelompok G7 (Kelompok Utara). AS merasa Protokol Kyoto adalah “penggusuran” terhadap aktivitas ekonominya sekaligus menentang Deklarasi Stockholm, sebuah komitmen bersama tentang pembangunan (industri) ramah lingkungan yang terlanjutkan. Juga melawan kesepakatan perlindungan lapisan ozon yang diputuskan pada Konvensi Wina tahun 1985, sebagai “landmark” aksi lingkungan dan Protokol Montreal tahun 1987 dengan serial amandemennya tahun 1990 di London, 1992 di Kopenhagen dan di Wina lagi pada 1996.

Lebih jauh lagi, AS pun mengingkari KTT Bumi di Rio de Janeiro pada Juni 1992 dengan Agenda 21 Globalnya yang merupakan cetak-biru sustainable development abad ke-21. Ketika itu, di bawah Konvensi Perubahan Iklim, negara-negara maju setuju mereduksi emisi gas rumah kaca. KTT Bumi plus 5 pun telah dilaksanakan di kota yang sama pada Juni 1997 dengan spirit serupa. Kemudian, Protokol Kyoto 1997 yang dimasalahkan oleh Presiden George W. Bush adalah lanjutan dari Protokol Montreal 1987. Isinya masih berorientasi pada reduksi emisi gas rumah kaca dan perusak ozon Stratosfer seperti metana, karbondioksida, kloroflorokarbon, halon, karbon tetraklorida dan metil kloroform.

Selain GW, efek yang juga riskan ialah hujan asam (hujas) atau acid rain, acid deposition. Menurut Gorham, dengan kadar 0,03% CO2 dari seluruh gas atmosfer maka derajat keasaman air hujan sekitar 5,7. pH-nya turun karena ada tambahan asam dari asam nitrat dan asam sulfat dengan sumber SO2 dan NOx. Pada tahun 2007 ini, pH air hujan di Jakarta sudah 4 – 4,5. Di Denpasar pun, mulai Ubung sampai Renon, sudah dipadati kendaraan, emitor CO2. Tapi untung Denpasar dekat dengan Samudera Indonesia yang kuat hembusan anginnya sehingga mudah terjadi dispersi polutan udara.

Sebetulnya, potensi GW oleh CO2 tidaklah besar. Metana 21 kali lebih besar daripada CO2. CFC malah 7.300 kali lebih besar daripada CO2. Hanya saja, karena kadar CO2 sangat banyak maka gas inilah yang paling besar kontribusinya pada GW, yaitu 50%. Sumber gas rumah kaca itu ialah BBM (57%), CFC 17%, pertanian 14%, dan penebangan hutan 9%. Dulu, Protokol Montreal mewajibkan penghentian produksi CFC (chlorofluorocarbon) pada tahun 1996. Tetapi faktanya, produk itu masih saja beredar. Untunglah pemerintah Indonesia telah berkehendak melarang impor CFC, halon, dan metil bromida tahun depan.

Opsi Solusi
Ada sejumlah upaya tindak yang dapat dilakukan. Yang pertama, mengurangi emisi CO2, mengurangi penebangan hutan (legal & illegal). Menghentikan produksi CFC lalu menggantinya dengan zat kimia ramah lingkungan. Mereduksi emisi metana dari sawah dengan mengurangi rendaman jerami, kurangi pembakaran biomassa, hindari pembakaran sampah (insinerasi, PLTSa: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah), termasuk kurangi pemakaian pupuk kaya nitrogen.

Sebaliknya, giatkan proses fotosintesis, tarutama padi. Absorbsi CO2 oleh padi akan meningkatkan produksi beras sekaligus mereduksi GW. Ada riset di Jepang yang menyatakan pemberian CO2 sebanyak 700 ppmv (sekitar 200% kadar CO2 di udara) dapat menaikkan produksi 20 – 30%. Ini dicoba oleh periset di Shizukuishi, Iwate Prefecture Jepang dan dinamai The Rice Face. FACE (Free-Air CO2 Enrichment) adalah pembubuhan CO2 ke sawah tanpa mengubah ekosistemnya.

Yang dapat ditempuh juga ialah perluasan penggunaan sumber energi angin (bayu, PLTB) seperti di Nusa Penida, energi surya (PLTS), dan energi air (PLTA). Inilah potensi sumber energi masa depan dengan memanfaatkan sains dan teknologi. Energi biomassa juga boleh, asalkan jangan PLTSa (Sa: Sampah)!

Akhir kata, mari hayati tulisan E. F. Schumacher, “Krisis lingkungan terjadi bukan karena pengembangan sains dan teknologi, tetapi hasil dari sikap mental dan life-style (gaya hidup) dunia modern.” *
ReadMore »

16 April 2013

Ujian Nasional Amburadul, Sebuah Kilas Balik


Ujian Nasional Amburadul, Sebuah Kilas Balik
Oleh Gede H. Cahyana

Amburadul, inilah kata yang tepat untuk pelaksanaan Ujian Nasional tingkat SMA, SMK, MA tahun 2013 ini. Betapa tidak, ada 11 provinsi yang dijadwal ulang, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, NTB dan NTT. Dalam kondisi normal saja, nyaris semua siswa, terutama yang ingin lulus dengan nilai maksimal, menjadi tegang. Apalagi ada pengunduran jadwal, ketegangan ini bisa membebani psikologisnya sehingga hasil ujian justru bisa memburuk.

Aneh memang. Pada zaman internet dan alat komunikasi serba canggih ini, juga alat cetak yang cepat, masih saja terjadi masalah dalam pengadaan logistik ujian. Sungguh di luar nalar normal. Patut dicurigai, yakni buruk sangka demi kebenaran, terjadi "sesuatu" di Kemendikbud dan mesti diusut serta harus bertanggung jawab karena sudah menderitakan murid-murid yang siap-siap UN. Secuek-cueknya murid yang tidak peduli pada masa depan pendidikannya, menurut amatan saya ketika menjadi murid dulu, mereka ternyata takut tidak lulus. Bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya karena frustrasi pada hasil ujian berupa EBTANAS pada masa itu. 

Dulu, ketika belum ada komputer seperti sekarang, offset masih orde dua, ujian tetap bisa berlangsung lancar, terlepas dari ada tidaknya joki dan main-mata di antara pendidik, murid dan guru serta bimbingan belajar yang mulai tumbuh pada dekade 1980-an itu. Di bawah ini sekadar kisah tentang sejarah ujian, tes, evaluasi, atau apapun namanya pada masa Orde Baru. 

Waktu di SD dulu ada yang namanya Test Diagnostik. Karena namanya Diagnostik, mungkin waktu itu pemerintah ingin mendiagnosa murid-muridnya, “penyakit akademis” apa saja yang bersarang di tubuhnya. Entah apa dan bagaimana hasilnya, sampai sekarang saya tidak tahu. Di kelas enam SD, ada ujian akhir yang disebut EBTA (Evaluasi Belajar Tahap Akhir). Yang diujikan adalah semua materi pelajaran kelas 1 s.d kelas 6. Tetapi praktiknya, yang diujikan adalah materi kelas 4 hingga kelas 6. Kelulusan murid tidak hanya ditentukan oleh EBTA tetapi diramu dengan nilai ulangan harian dan perilaku, etikanya. Waktu itu ujiannya sudah bersifat regional, karena soal-soalnya dibuat oleh tim guru di Dinas P dan K (Pendidikan dan Kebudayaan) Kabupaten Tabanan. Hanya saja, hasil EBTA ini tidak bisa dijadikan alat untuk lulus ke tingkat SMP. Lulusan SD harus ikut testing lagi di SMP yang diminatinya.

Tiga tahun di SMPN I Tabanan, tidak ada ujian lain yang membuat jantung berdebar-debar selain EBTA. Hasil EBTA ini bisa dijadikan alat kelulusan untuk ke tingkat SMA. Yang nilainya mencapai standar tertentu, juga wajib melampirkan nilai raport selama di SMP, dipersilakan daftar tanpa harus ikut ujian masuk SMA. Karena sudah diberlakukan sistem rayon, maka murid tidak bebas memilih SMAN-nya. Dinas P dan K waktu itu memilah sekolah berdasarkan batas administrasi yang banyak menimbulkan protes dan ketakpuasan murid dan orang tua. Namun..., peraturan tetap wajib diikuti kalau tak hendak disebut subversif pada masa Orde Baru itu. Beruntunglah saya karena masuk ke rayon Utara yang jatahnya di SMAN I Tabanan. Berbekal nilai EBTA dan raport, diterimalah saya di SMA idamanku itu. Namun demikian, karena ingin juga merasakan ujian masuk SMA, akhirnya saya pun ikut ujian.

Pada semester kelima di SMA, murid diminta mengisi borang PMDK (Penelusuran Minat Dan Kemampuan) untuk dinilai di Jakarta yang akan digunakan sebagai alat kelulusan di perguruan tinggi pilihan murid. Beberapa kali dilaksanakan latihan pengisian borang agar tidak salah sebelum akhirnya mengisi borang asli. Waktu itu sudah ada rayon sehingga banyak murid yang protes atau kesal karena tidak bisa memilih dua pilihan di luar rayonnya. Satu pilihan harus di dalam rayon (Bali dan Nusa Tenggara) dan satu pilihan lagi boleh di luar rayon. Yang dinyatakan lulus pilihan kedua wajib mengambil jatahnya itu dan tidak boleh ikut ujian masuk perguruan tinggi Sipenmaru: Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru. Kalau tetap tidak mau kuliah di jurusan pilihan kedua, mau tak mau harus rela ikut tes Sipenmaru pada tahun berikutnya. Lantaran takut diluluskan di pilihan kedua maka beberapa orang akhirnya menulis pilihannya untuk satu pilihan saja, umumnya di luar rayon. Andaikata tidak lulus, mereka siap untuk tes Sipenmaru dan dapat bebas memilih dua atau bahkan tiga (IPS) jurusan di rayon yang diminatinya.

Setelah pengisian borang PMDK itu, datanglah EBTANAS. Karena labelnya nasional, maka soalnya dari pusat (Jakarta). Nilai EBTANAS digabung dengan nilai lokal dan perilaku, etika murid untuk menentukan kelulusannya. Tetapi..., nilai EBTANAS (dan EBTA) ini tidak bisa digunakan sebagai alat kelulusan di perguruan tinggi. Lulusan SMA dan sederajat harus ikut Sipenmaru. Yang bersikeras ingin kuliah di luar Bali akhirnya hijrah dan mendaftar langsung di rayon yang dicita-citakannya setelah ikut bimbingan belajar yang mulai marak di kota-kota besar.

Tentu saja, dalam spirit idealismenya, UN ini memang ada positifnya. Dalam keputusan meng-UN-kan murid pasti ada niat baik untuk memajukan kualitas pendidikan kita. Mungkin caranya yang belum tepat karena rentang mutu sekolah sangat beragam, Jawa dan Papua, Papua Barat misalnya, mulai dari guru, murid, prasarana, sarana, kemampuan ekonomi murid, dll. Berbagai pihak tentu saja boleh mengajukan kritik dan keberatan atas pelaksanaan UN ini sambil memberikan masukan, nasihat, saran kepada pemerintah. Yang pasti, guru memiliki hak otonomi dalam menilai murid-muridnya selama proses belajar, apakah layak lulus ataukah tidak. Jadi, bukan semata-mata ditentukan oleh ujian sekali saja yang disebut UN itu.

UN yang amburadul ini, plus kurikulum baru yang bakal mendera dan berbagai peraturan yang dibuat oleh kalangan “pintar” dan “guru besar” sembari cuek terhadap dosen dan “guru kecil”, mereka seperti “kacang lupa akan kulitnya.” Mereka adalah pejabat pembuat peraturan untuk pendidikan kita, baik di Dikdasmen maupun Dikti. Inilah wajah pendidikan kita yang sedikit-banyak dapat dijadikan peta akademis generasi mendatang.

Untuk murid-murid, anak-anak didikku, siapkan saja dirimu, belajarlah. Apapun yang terjadi nanti, itulah hasilnya. Tak usah stres apalagi sampai menyudahi hidup yang cuma sekali saja di Bumi ini. Kamu sudah berusaha, que sera sera, what ever will be... will be. Kita berikan salam untuk Pak Menteri P dan K, semoga segera menemukan jalan yang tepat untuk generasi muda Indonesia, para pelajar dan mahasiswa. *
ReadMore »

1 April 2013

Kelaparan di Tambrauw, The Hidden Paradise


Oleh Gede H. Cahyana


Busung lapar melanda sejumlah distrik di Tambrauw. Di Distrik Kwoor misalnya, yang meninggal minimal 95 orang pada Februari 2013. Yang sakit di Kampung Baddei 250 orang, di Kampung Jokjoker 210 orang dan 75 orang di Kosefo. Jumlah korbannya diperkirakan meningkat pada satu bulan terakhir ini. Karena takut pada kejadian itu sejumlah penduduk pindah ke kampung lainnya dengan menempuh perjalanan satu hari. Yang sakit dan keluarganya berjalan selama empat hari untuk berobat ke Distrik Sausapor sekaligus melaporkan kejadian kelaparan itu ke Puskesmas dan pejabat setempat. (www.aman.or.id).

Di manakah lokasi Tambrauw? Ia adalah kabupaten baru di tepi Samudera Pasifik dan Sausapor, sebuah distrik tepi pantai dengan ribuan nyiur melambai sebagai ibukota sementara. Kabupaten yang sekarang dipimpin oleh Bupati Gabriel Asem, S.E., M.Si ini sudah menyusun rencana tata ruang di Distrik Fef untuk ibukotanya nanti. Sebagai calon ibukota, Fef berada di daerah yang lebih tinggi daripada Sausapor, di perbukitan dengan tanah subur yang cocok untuk pertanian dan perkebunan. Kepadatan penduduk di Tambrauw hanya satu orang/ha. Penduduknya berjumlah 14.966 orang, laki-laki 7.426 orang dan perempuan 7.540 orang (tahun 2010). Sausapor adalah distrik yang terbanyak penduduknya, yaitu 3.564 orang atau 23,81% dari total penduduk Tambrauw. Yang tersedikit adalah Distrik Syujak802 orang atau 5,36%

Dibandingkan dengan Kwoor, Distrik Sausapor jauh lebih lengkap fasilitas kesehatannya, juga aktivitas ekonominya. Selain kantor bupatinya berada di Sausapor, di distrik ini juga sudah dibangun Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) sebagai penunjang hidup higienis. Sausapor juga sudah memiliki Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RISPAM). Secara topografis, kabupaten yang namanya diambil dari nama gunung ini berada pada kisaran 5 s.d 2.500 mdpl (meter di atas permukaan laut). Berlokasi di “kepala burung” Papua Barat, Sausapor adalah pusat perdagangan dan jasa, pelayanan sosial, pusat transportasi regional, pariwisata, pengolahan pertanian, perkebunan, dan perikanan. Sausapor berfungsi sebagai pusat kegiatan lokal.

Bagaimana cara ke Sausapor? Sausapor dapat dicapai dari Sorong dengan melalui laut. Perlu enam jam pelayaran kapal dalam cuaca normal. Kapal ini melayani rute Sorong – Sausapor  dua kali sepekan. Bisa juga lewat darat, yaitu dari Sorong menembus hutan perawan dengan jalan tanah dan sirtu tanpa jembatan di atas sungai-sungai yang dilewati. Artinya, kalau hujan deras atau banjir, mobil tidak bisa melintasinya alias diam di tempat, menunggu sampai surut. Dengan menyewa mobil Strada atau Hilux plus sopirnya yang berpengalaman di medan hutan Tambrauw, waktu tempuh bisa delapan jam. Untuk waktu tempuh dan medan yang luar biasa off-road itu, ongkos sewanya antara tiga-empat juta rupiah sekali jalan, bergantung pada tawar menawar dan kondisi cuaca. 

Ketegangan perjalanan dibayar lunas oleh pemandangan eksotis. Dari jalan di lereng bukit terhampar lautan luas dengan gulungan ombaknya yang membusa, memecah pasir pantai. Garis pantai meliuk-liuk, berkelak-kelok dijejeri nyiur lurus tegak dan miring, bahkan rebah. Dari bebukitan di the hidden paradise ini, pandangan bisa tembus langsung ke tengah samudera sementara di kanan adalah hutan lebat dan di kiri jurang tak terkira dalamnya. Sebagai penumpang, adrenalin sungguh dipacu ke titik puncak. Seliweran tikus hutan, ular, monyet, dan babi hutan menjadi pemandangan biasa. Sekali waktu sopir menabrak tikus hutan dan langsung berteriak gembira, mengambilnya dan akan disate, begitu katanya. 

Kwoor, distrik yang dilanda kelaparan berat itu tidak seberuntung Sausapor. Pada tahun 2012, jumlah rumah penduduk di Sausapor 500-an unit, dengan luas lantai bangunan 120–200 m2. Kondisinya mulai dari semi permanen hingga permanen. Bangunan semi permanen berdinding papan, lantai panggung dari kayu, ketinggian lantai 40  50 cm dari permukaan tanah. Atapnya berbahan seng. Bangunan permanen sudah ada yang berlantai keramik, dinding pasangan bata merah atau batako, dengan atap seng. Jarak antarrumah cukup jauh karena kavlingnya besar. Ada satu sumur di dekat rumah wakil bupati yang dibuat oleh PNPM Mandiri.

Kelaparan atau Kekurangan Energi Protein (KEP) dan buruknya kesehatan di Kwoor, Tambrauw berkaitan dengan fasilitas kesehatan. Saat ini ada empat Puskesmas dan enam Puskesmas pembantu di Sausapor. Untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat umumnya memanfaatkan air tanah dan air permukaan secara langsung. Pada musim kemarau mereka kesulitan air sehingga banyak penyakit yang timbul seperti diare, penyakit kulit. Banyak warga yang membuang hajatnya di kebun atau pekarangan karena belum memiliki kamar mandi/WC. Setelah IPAM berfungsi diharapkan ada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Hanya saja, Kwoor belum terjangkau air bersih ini. *

ReadMore »