• L3
  • Email :
  • Search :

21 Oktober 2008

Antara BaNdung dan Badung

Dua pekan terakhir ini, petak Babakan Siliwangi, sering disingkat dengan Baksil, selalu ramai dibincangkan terutama di koran-koran lokal Bandung. Sebelum fokus ke tulisan ini, akronim Baksil sungguh bukanlah nama yang bagus karena orang yang tahu ilmu kesehatan dan ilmu hayat (biologi) akan mengingatkannya pada bakteri, kuman penyebab penyakit. Lebih bagus akronimnya adalah Basil (tanpa huruf k). Mudah-mudahan media massa seperti koran, radio, dan televisi, juga kalangan pemerintah daerah dan anggota dewan, pemerhati lingkungan serta warga umum dapat menerima akronim yang lebih bernilai positif ini.

Satu hal yang perlu dicatat di Bandung pada lima tahun terakhir ini, pemerintah Kota Bandung selalu saja membuat langkah aneh dalam kaitannya dengan ekologi dan lingkungan. Padahal Bandung adalah kota gunung yang derap hidupnya dipengaruhi oleh pohon (hutan) dan sirkulasi udaranya. Ini berbeda dengan kota di dataran rendah yang lebih dipengaruhi oleh kondisi pantai atau laut. Pemkot Bandung seharusnya lebih peduli pada hutan dan pohon-pohonnya apalagi berada di cekungan raya. Ini tentu berbeda dengan pemerintah Kabupaten Badung di Bali. Badung adalah kabupaten yang wilayahnya meliputi pantai (laut), dataran rendah dan gunung berbentuk kukus. Dari sisi atmosfer, Kabupaten Badung Bali tidak mendapatkan masalah yang berarti karena tiupan angin lautnya terus menerus membilas polutan udara. Begitu juga kawasan hijaunya, sangat banyak. Sekadar contoh, Badung punya kawasan yang dihuni monyet di Sangeh. Daerah yang berpohon besar-besar ini tidak akan berani diutak-atik oleh pemerintah daerah di sana.

Begitu pula, sejumlah petak hijau bertebaran di sana-sini dan selalu saja dibuatkan sanggah sebagai hubungan transenden manusia dengan Pencipta. Tiada yang berani memotong atau menebang begitu saja pepohonannya. Ini berbeda dengan di Bandung yang pernah dijuluki kota Kembang dan Parahyangan. Tetapi Doel Sumbang justru menamainya kota Kambing dan tidak lagi menjadi kota para Hyang, yang menjadi basis transenden warga tatar Bandung. Kini kembangnya jauh berkurang dan petak hijaunya juga diubah menjadi bangunan untuk basis ekonomi. Semua daerah perlu pendapatan untuk modal membangun dan menata daerahnya, tetapi tetap wajib berorientasi pada lingkungan, berwawasan lingkungan. Kepedulian ini tidak sekadar wacana, ucapan ketika pidato belaka, tetapi betul-betul menjadi fakta lapangan. Mengubah daerah hijau menjadi daerah bagunan beton otomatis faktanya adalah menghilangkan pohon lalu menumbuhkan beton. Fungsi tangsap (tangkap-resap) air hujan pasti minimal kalau tidak bisa dikatakan lenyap.

Badung di Bali relatif lebih peduli pada lingkungan padahal wilayahnya berada di tiga matra, yaitu laut (pantai), dataran rendah, dan dataran tinggi. Andaikata pemerintah daerahnya cuek pada polutan udara pun sebetulnya tidak masalah. Sebab, polutan udaranya selalu terbilas habis oleh hembusan angin laut berlengas tinggi, kaya uap air, setiap hari. Di Bandung Jawa Barat tidak demikian. Sebagai kota pegunungan berbentuk cekung, polutan udaranya, terutama CO2, juga CO dan Pb (TEL: tetra etil lead), akan melayang-layang, berputar-putar di cekungan raya Bandung, sulit ke luar menuju alam bebas. Paru-paru setiap orang di dataran tinggi ini pasti berisi polutan berbahaya dan beracun dari polutan udara, apalagi kalau PLTSa jadi dibangun. Karena mudaratnya jauh lebih banyak daripada manfaatnya, PLTSa bukanlah opsi solusi bagi sampah Bandung. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar