• L3
  • Email :
  • Search :

19 September 2026

Prabowo dan Kyai Hasan serta Palestina

Prabowo dan Kyai Hasan serta Palestina

Empat kali sudah KH. Hasan Abdullah Sahal bertemu presiden Prabowo. Pertemuan keempat ini terjadi pada Sabtu, 19 September 2026, bertepatan dengan acara peringatan 100 tahun PMDG di Gontor Ponorogo. Dalam sambutannya, Kyai Hasan berterima kasih kepada Presiden Prabowo karena berkenan meluangkan waktu untuk hadir di Gontor. Kyai Hasan juga menyampaikan informasi bahwa pada saat diwakafkan, luas pondok kurang lebih 1,2 hektar. Pada usia yang ke-100 tahun ini luasnya menjadi 1.200-an hektar. (Merujuk pada catatan lainnya, luasnya 1.700 hektar).

Sumber foto: Sekretariat Presiden

Acara yang digelar di gedung baru BPPM (Balai Pertemuan Pondok Modern) itu dihadiri juga oleh sejumlah duta besar negara-negara yang penduduknya mayoritas muslim di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Uniknya, tak disangka atau mungkin ada juga orang yang sudah menduga, Presiden Prabowo ternyata memberikan perhatian pada Panca Jiwa dan Moto PMDG. Panitia diminta menayangkan kembali dua pedoman untuk menjadi masyarakat PMDG tersebut. Satu per satu kata dan frase di dalam Panca Jiwa dan Moto tersebut dibaca dan dibahas oleh Presiden. Katanya, makna kata-kata tersebut sama dengan pikirannya dan cita-cita pemerintahannya. Tepuk tangan meriah sontak dari hadirin.
 
Presiden juga menyebut khusus Palestina. “Free Palestine” tiga kali berturut-turut dan di scene lainnya menyebutnya dua kali. Total lima kali. Duta besar Palestina juga memberikan kain sorban khas Palestina yang disebut keffiyeh. Sambil berpelukan tampak keharuan duta besar atas perhatian Presiden Prabowo kepada rakyat Palestina. Indonesia, kata Presiden, belum mampu berbuat banyak untuk kemerdekaan Palestina. Kemudian melihat ke tribun yang dipenuhi oleh santri dan santriwati seraya mengajak agar generasi penerus khususnya Gontor bisa lebih banyak berperan untuk Palestina.
 
Dalam acara Resepsi Kesyukuran 100 Tahun PMDG tersebut dibagikan juga sebuah buku berjudul Gontor Untuk Indonesia kepada Presiden Prabowo dan mushhaf Gontor. Disaksikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, Ph.D, Prabowo juga meresmikan Fakultas Kedokteran UNIDA dengan mendatangani batu prasasti yang sudah disiapkan. Juga menandatangani prasasti mushhaf Gontor, sebuah mushhaf tulisan tangan karya para santri dan guru-guru di Gontor. 
 
Terucap juga dari lisan Presiden bahwa Gontor tidak boleh berpolitik praktis. Sudah tepat, katanya. Tetapi Gontor harus paham politik. Gontor tidak ke mana-mana tetapi ada di mana-mana. Acara tasyakur tersebut diakhiri dengan foto bersama dengan latar belakang hadirin yang duduk di belakang dan tribun BPPM. Tampak dalam acara tersebut, peran kyai yang menjadi penerang bagi pemimpin di semua lapisan, level atau strata pemerintahan. Pejabat yang mendatangi kyai di pondoknya dan kyai memberikan nasihatnya, baik langsung maupun tidak langsung. Faktanya juga, pondok pesantren, tidak hanya Gontor tetapi juga Tebuireng, Lirboyo, dan banyak lagi pondok lainnya, lebih dulu eksistensinya daripada NKRI. NKRI dikuatkan oleh eksistensi pondok pesantren.
 
Patutlah diucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo yang mau menghadiri acara 100 tahun Gontor dan semoga perkembangan Gontor pada abad keduanya, mulai tahun 101, institusi Gontor, kyai, guru, santri, dan alumninya semakin unggul.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar