Budi
Arie Setiadi Projo Tidak Berbudi
Dulu waktu sekolah di SD ada pelajaran Budi Pekerti. Maksud pelajaran tersebut, kurang lebih, agar murid dan juga gurunya, bisa berperilaku baik. Mulia. Bijaksana. Tetapi orang yang bernama Budi Arie ini tidak mencerminkan makna pelajaran pada masa Orde Baru itu. Pelajaran tersebut bisa disamakan dengan mata kuliah Etika di perguruan tinggi. Tetapi Budi Arie, merujuk pada pidatonya, seperti tidak beretika. Tidak berempati pada pemerintahan yang sedang berlangsung. Apakah karena di-reshuffle oleh Prabowo?
Tuturan
di dalam pidatonya itu menghasut. Hasut ini berasal dari kata hasad atau hasud dalam
bahasa Arab. Orang hasad artinya orang yang tidak suka orang lain mendapatkan kesenangan,
kebahagiaan. Orang hasad ingin agar kebahagiaan orang lain tersebut sirna,
lenyap, hilang dan menjadi kesedihan. Ucapan Budi Arie sudah dalam kategori penghasutan.
Ketua Projo tersebut tidak suka melihat keberlangsungan pemerintahan Presiden
Prabowo sehingga Projo siap apabila terjadi percepatan pergantian presiden.
Budi Arie memiliki nama belakang Setiadi dan dia memang setia kepada Jokowi. Totalitas Projo dia persembahkan untuk Jokowi dan anaknya, yaitu Gibran dan anaknya yang lain. Namun pekerti yang dia perlihatkan kepada khalayak adalah pekerti penghasut. Ini berbahaya bagi keamanan masyarakat. Apabila elite yang berpekerti buruk terus menggemakan narasi keburukan kepada masyarakat maka kerusakan stabilitas mulai terjadi. Rasa sakit hati elite seperti ini dapat menyulut instabilitas keamanan dan memicu pro-kontra di masayarakat.
Tindakan hukum yang mana yang akan digunakan oleh polisi untuk memanggil Budi Arie Setiadi atas pernyataannya itu? Apakah kata-kata Said Didu menjadi nyata di dalam kasus ini, yaitu perihal SSB: Singapura, Solo, Bandung bahwa ada oligarki dan parcok yang bermain?*



Tidak ada komentar:
Posting Komentar