• L3
  • Email :
  • Search :

5 April 2011

Air Limbah di Kota Bandung: Sebuah Catatan

Berita yang dirilis Pikiran Rakyat tentang 3.000 sambungan baru air kotor di Kota Bandung bagai air “bersih” yang menyegarkan bagi warga Bandung. Pasalnya, sudah lama warga yang dekat dengan akses pipa lateral sistem penyaluran air limbah (SiPAL) Kota Bandung mendambakan layanan dari PDAM Sektor Air Kotor (limbah).

Kalau dihitung sejak pencanangan BUDP pada awal 1980-an, maka ada rentang 30 tahun atau satu generasi untuk menikmati layanan air kotor PDAM Kota Bandung. Tak hanya itu, ada sejumlah warga kota yang sulit dilayani SiPAL karena alasan geografis meskipun sebetulnya bisa saja dipasang beberapa jalur pipa cabang dan induk (trunk sewer) untuk warga yang saat ini mustahil dilayani. Namun investasinya yang mahal menyebabkan upaya ini sukar diwujudkan.

Terapkan Dua Sistem
Kondisi topografis Bandung jauh berbeda dengan Denpasar, Jakarta, dan Medan sehingga pola penyaluran air limbah pun menjadi khas. Ada kesamaannya, ada pula kebedaannya. Kebedaan inilah yang justru menonjol sehingga jauh lebih mahal apabila diterapkan SiPAL berpola fan, perpendicular, radial. Oleh sebab itu, PDAM selayaknya mengadopsi beberapa sistem pengelolaan dan penyaluran air limbah yang berbeda dengan terapan di kota lain lantaran pola di satu daerah belum tentu cocok dengan kondisi Bandung yang berbukit, meskipun umumnya menurun ke arah Selatan menuju Sungai Citarum.

Ada dua sistem yang dapat diterapkan. Sistem pertama, ini sudah diterapkan, adalah offsite system, yaitu sistem pengelolaan air limbah yang memusatkan pengolahan airnya di satu lokasi dan menerima air limbah domestik dan efluen industri (pretreatment) dari daerah layanan. Pola ini disebut penyaluran air limbah secara mayor dengan memasang pipa kolektor, bangunan pelengkap dan IPAL dengan investasi luar biasa mahal. Berikutnya ialah cara minor yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu sistem mikro atau individual dan sistem makro atau komunal.

Cara mayor banyak dianut oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat pada awal paruh kedua abad ke-20. Sistem ini memakan biaya tinggi, bahkan sangat mahal. Dengan layanan mencapai jutaan orang (konsumen), maka diameter atau ukuran pipa dan saluran yang digunakan pun menjadi besar, bahkan mobil truk pun bisa masuk di dalam saluran air limbah. Dampak berikutnya, lahan IPAL yang dibutuhkan menjadi luas, berkali-kali luas lapangan sepakbola kalau menggunakan sistem Kolam Oksidasi atau Stabilisasi dengan biaya operasi-rawat relatif murah. Luas lahan IPAL bisa dipersempit dengan menerapkan teknologi activated sludge dan kombinasinya tetapi biaya operasi dan rawatnya menjadi lebih mahal.

Namun demikian, cara mayor anutan Eropa dan Amerika tersebut umumnya tidak berkembang di negara-negara Asia. Di Jepang misalnya, yang dikembangkan justru onsite system dengan IPAL mikro - makro yang dipasang di setiap rumah, apartemen, kantor, kampus, asrama, dan bahkan pasar. Karena sejarahnya yang “gelap” dalam pencemaran air, sampai-sampai timbul istilah “Pollution Diet”, Jepang obsesif dalam pengolahan air limbah sehingga semua produk IPAL di Jepang selalu dilengkapi dengan disinfeksi. Dampaknya, biaya operasi dan rawatnya menjadi mahal sehingga berat kalau ditiru oleh negara berkembang seperti Indonesia.

Lantas di mana posisi Indonesia? Seperti umumnya di Asia Tenggara, kecuali Singapura, teknologi yang diterapkan cenderung untuk menyisihkan senyawa karbon sehingga orientasi IPAL di Indonesia sekadar menghilangkan zat organik dengan parameter konvensional BOD atau COD. Beberapa peraturan yang seharusnya berisi parameter nitrat, fosfat justru tidak ada tetapi malah parameter yang tidak dibutuhkan yang dimunculkan. Inilah kekeliruan peraturan yang ada di Indonesia dan perlu direvisi agar tidak salah kaprah. Pembekalan ilmu perairlimbahan juga perlu diberikan kepada staf dan pejabat di berbagai dinas atau badan lingkungan dan kesehatan, termasuk Pekerjaan Umum, Tata Ruang dan Permukiman di kabupaten-kota.

Masalah lainnya, kepedulian masyarakat terhadap air limbah yang dapat merusak kesehatannya tidak sebaik kepeduliannya terhadap air minum. Makanya, bisa dicek langsung ke masyarakat, mayoritas tangki septik di Indonesia hanya berfungsi sebagai bak penampung, bukan sebagai digester (pengolah tinja). Prosesnya adalah isi – sedot – buang ke sungai (selokan) atau ke IPLT (instalasi pengolah lumpur tinja). Yang paling parah adalah warga yang memasang “sistem meriam”, yakni air limbah (tinja) dari kloset langsung dibuang ke selokan atau sungai di belakang atau sebelah rumahnya dengan pipa PVC 4 inch. Faktanya jelas di depan mata kita. Seharusnya: isi – olah (digester anaerob) – buang (ke selokan) tanpa diolah atau diresapkan ke dalam tanah tanpa mencemari air sumur atau disedot oleh mobil tangki tinja lalu dikeringkan di sludge drying bed, bukan ditumpahkan di IPLT!

Minimal Tiga Zona
Mengacu pada topografinya, minimal Kota Bandung dapat dilayani dengan tiga zona. Yang pertama ialah zona eksisting Tengah –Timur – Selatan dengan IPAL Bojongsoang sebagai pusatnya. Namun demikian, ada perumahan yang sulit menyalurkan air limbahnya ke pipa lateral atau pipa cabang yang dibuat pada dekade 1980-an lantaran elevasinya rendah. Karena banyak yang menjadi pelanggan PDAM, maka selayaknya mereka diberi servis untuk pengurasan tangki septik. Sedangkan yang bukan pelanggan PDAM dilayani dengan membayar biaya penyedotan oleh truk tinja. Apabila dilaksanakan oleh perusahan rekanan PDAM, maka harus ada standar harga dan transparan diketahui warga. Volume air yang disedot dan lokasi rumah menjadi salah satu parameter dalam perhitungan biayanya.

Adapun warga kota yang tinggal di bagian Barat Bandung, yang dekat dengan Imhoff tank dapat memanfaatkan fasilitas IPAL peninggalan Belanda ini. Imhoff (Dr. Karl Imhoff) adalah seorang pakar air limbah di Jerman yang membuat unit pengolah air limbah itu dan diterapkan oleh Belanda dengan pipa (riool) sepanjang 14 km yang dinamai Jl. Imhoff Tank dan efluennya dialirkan ke Sungai Citepus. Tentu saja IPAL ini perlu rehabilitasi dan penambahan beberapa unit baru semacam grit chamber dan barscreen. Perlu juga pembebasan lahan di sekitarnya kalau IPAL ini serius dijadikan opsi pengolahan air limbah yang berada di pusat kota. Bahkan warga Kota Cimahi, kalau topografinya memungkinkan, bisa juga memanfaatkan Imhoff tank tersebut sehingga biaya operasi-rawatnya dapat dipikul bersama.

Zona ketiga adalah Barat – Utara. Apabila diinginkan menyalurkan air limbahnya dengan pipa, baik menuju Imhoff tank maupun IPAL Bojongsoang, maka perlu investasi yang mahal. Selain itu, perlu dikaji lagi ukuran pipa induknya apakah cukup untuk penambahan pelanggan dari kawaan Bandung Utara. Apalagi potensi infiltrasi air tanah dan air hujannya cukup tinggi karena pipanya menjadi lebih panjang. Kalau cara ini sulit diterapkan, maka opsi solusinya ialah dengan membangun sistem mikrokomunal, selain individual. Hanya saja, sistem individual ini sulit dideteksi dan dikelola sehingga dapat mencemari air tanah. Yang terbaik adalah mikrokomunal di beberapa lokasi yang tepat secara topografis kemudian dijadikan BLU (Badan Layanan Umum) sebagai lembaga yang bertanggung jawab.

Menjadi PDAL?
Mungkinkah PDAM Sektor Air Kotor Kota Bandung berkembang menjadi Perusahaan Daerah Air Kotor (PDAK) atau Perusahaan Daerah Air Limbah (PDAL)? Kalau berpikir positif, maka jawabnya adalah mungkin. Tetapi sebelum sampai pada jawaban itu, kondisi eksisting perairlimbahan di Bandung perlu diurai.

Berbeda dengan air minum, air limbah lebih sulit diolah untuk dijadikan air yang relatif bersih. Faktanya, air minum dibutuhkan oleh masyarakat sehingga berapapun harganya, dalam batas-batas kewajaran, pelanggan pasti mau membayarnya. Tetapi air kotor tidak dibutuhkan, bahkan ingin dibuang sejauh-jauhnya. Investasi air minum lebih murah per debit yang sama dengan air limbah dan setelahnya air minum bisa dijual sedangkan air limbah malah dibuang ke sungai. Ragam variasi unit operasi dan proses dalam instalasi pengolahan air minum tidak sebanyak air limbah dan tingkat keberhasilan air minum lebih tinggi daripada air limbah karena jenis zat di dalam air limbah banyak yang sulit diolah, apalagi pengolahan secara biologi sebagai peternakan bakteri atau konsorsium bakteri dan algae.

Pembangunan prasarana air limbah jauh lebih mahal dibandingkan dengan air minum per kapasitas yang sama. Ada sejumlah bangunan pelengkap khas yang tidak ada di dalam sistem penyediaan air minum seperti manhole, drop manhole, ventilator, terminal clean out, siphon dan bak gelontor, dll. Sebagai contoh, jembatan pipa air limbah harus diubah menjadi sifon atau dalam bentuk konstruksi yang berat dan besar kalau melintasi sungai. Perlu banyak bangunan manhole dan rumah pompa di beberapa tempat. Pelaksanaannya oleh kontraktor juga jauh lebih sulit daripada air minum, bahkan pembangunan manhole di Jln. Soekarno-Hatta Bandung menewaskan tiga buruhnya beberapa waktu lalu.

Yang terakhir, utang dan bunga pembangunan sistem penyaluran air limbah dan IPAL Bojongsoang masih besar. Utang total PDAM Kota Bandung kira-kira Rp350 milyar. Inilah yang ikut memberatkan apabila akan didirikan PDAK atau PDAL, terpisah dari PDAM. Akankah perusahaan yang baru lahir langsung menanggung utang sebesar itu? Berapa pendapatan dari pelanggan PDAM dan warga yang dilayani dengan mobil tangki? Bagaimana kemampuan pelanggan? Bagaimana caranya agar konsep polluters pay dapat optimal diterapkan? Berapa gaji dan tunjangan perbulan karyawannya?

Akhir kata, air adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia sehingga apapun harus tetap diupayakan agar warga mudah memperoleh air dan relatif murah harganya. Setelah air minum itu berubah menjadi air limbah, harus juga dikembalikan ke alam dalam kondisi yang baik dengan cara diolah. Teknologinya sudah ada, bahkan beragam-ragam, sistemnya juga dapat dikembangkan dengan mengacu ke negara lain yang lebih dulu menerapkannya.*
ReadMore »

6 Februari 2011

PLTSa Ancam Kesehatan

Pemerintah Kota Bandung akan membangun instalasi pembakar sampah kota yang dikenal dengan istilah insinerator (incinerator). Semua sampah pasar, rumah tangga, kantor, sekolah, kebun, pinggir jalan, dan lain-lain akan dibakar di dalam tungku “raksasa” yang unitnya, setelah ditambah generator, dinamai Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) oleh kalangan pemerintah kota.

Karena sampahnya dibakar, maka PLTSa menghasilkan partikulat debu dan abu, gas-gas pembentuk asam klorida, fluorida, sulfur dioksida, logam-logam berat seperti merkuri, kadmium, seng, nikel, timbal. Juga karbon organik volatil pembentuk furan (polychlorinated dibenzofurans, PCDF) dan dioksin (polychlorinated dibenzo-p-dioxins, PCDD). Semua polutan itu dengan mudah tersebar ke segala arah lewat udara, melekat di daun, sayur, buah, sumber air minum, paru hewan ternak lantas beredar ke seluruh dagingnya dan paru manusia lalu beredar ke pembuluh darahnya.

Parahnya lagi, semua uap logam dan campurannya dapat mengembun membentuk aerosol partikel submikron yang berbahaya bagi paru. Begitu pun senyawa lain dalam sampah dan campuran klor, fluor, sulfur, nitrogen dan lain-lain menghasilkan gas-gas toksik dan korosif. Ketika pembakarannya tak sempurna, muncullah produk pirolisis karbon monoksida, volatile organic compound seperti polycyclic aromatic hydrocarbon, dioksin, furan, jelaga, dan tar. Partikulat abu adalah pencemar yang paling jelas, tampak secara visual berupa kepulan yang mengandung uap logam berat, dioksin dan furan. Di permukaan jelaganya pun disarati gas-gas asam klorida, fluorida, sulfat, dll yang semuanya dipengaruhi desain insinerator, pemanggang, ukuran dan bentuk ruang pembakarnya.

Karena ukurannya variatif, mulai dari satu mikron (bahkan kurang dari satu mikron) sampai yang terbesar 75 mikron, ada partikulat yang mudah masuk ke sistem pernapasan kita. Kira-kira 40% partikel berukuran 1 sampai dengan 2 mikron akan tertahan di bronkioli dan alveoli paru. Yang ukurannya 0,25 sampai dengan 1 mikron justru mudah ke luar masuk lewat udara pernapasan. Tapi yang kurang dari 0,25 mikron akan melekat akibat gerak Brown (Brownian motion). Untuk menyisihkannya, biasanya ditangani dengan kolektor debu seperti mekanikal separator, wet scrubber, atau fabric filter. Partikel berukuran 15 s.d 75 mikron secara efektif dipisahkan dengan cyclones sampai efisiensi 85% dan yang ukurannya lebih kecil dipisahkan dengan fabric filter atau presipitator elektrostatik. Namun demikian, efisiensinya tidak bisa sempurna 100% dan yang tak tersisihkan itulah yang potensial membahayakan kesehatan karena makin lama makin tinggi konsentrasinya di udara kita.

Dari mana asal logam-logam berbahaya itu? Dari sampah tentu saja: timbal berasal dari sampah cat dan kaleng, merkuri dan kadmium dari baterei, aluminum foil, alat plambing, lembar seng, garam-garam volatil dst. Logam dan garam-garam itu mudah menguap karena titik didihnya rendah. Titik didih kadmium adalah 765 derajat Celcius, merkuri 357 derajat C, arsen 130 derajat C, PbCl (timbal klorida) 950 derajat C, dan HgCl2: 302 derajat C. Semua spesiasi logam tersebut bergantung pada keberadaan klor, sulfur, karbon, nitrogen, fluor dan lain-lain selama pembakaran dan pendinginan gasnya. Reaksi dengan klor menghasilkan metal klorida; merkuri misalnya, akan membentuk senyawa yang terikat dengan halogen, yaitu merkuri (II) klorida (ini yang dominan) dan merkuri (I) klorida. Hanya peralatan canggih yang dapat menghilangkan logam berat volatil seperti merkuri itu.

PLTSa Akibatkan Sakit
Dampak PLTSa pada kesehatan meliputi neurological atau nervous system (syaraf), hepatic system (hati), renal system (ginjal), hematopoietic atau blood-forming system (darah). Kadmium misalnya, menyerang pernapasan, ginjal, hipertensi, dan yang paling ekstrem adalah kerapuhan tulang dan sendi. Merkuri menyerang sistem syaraf pusat sehingga mengurangi penglihatan, sensori, pendengaran dan koordinasi tubuh. Timbal dapat mendisfungsi sistem hematologik dan syaraf pusat, merusak fungsi gastrointestinal, reproductive, endocrine, cardiovascular, immunologic, dan menurunkan taraf kecerdasan serta menyebabkan perilaku abnormal pada anak. Polycyclic aromatic compound, dioksin dan furan merusak paru, perut, ginjal, skrotum, dan liver. Beratnya lagi, dioksin dan furan dapat melekat pada abu dan air limbah PLTSa. Karena efek buruknya itulah dioksin dikenal sebagai “the most toxic chemical known to man”. Dampaknya mampu merusak generasi manusia lewat cacat genetis, merusak kromosom pembawa informasi keturunan (genetika), pencetus kanker (karsinogenik) dan mutagenik (pemutasi).

Daya rusak pencemar tersebut dicetuskan oleh senyawa berklor dari plastik, potongan PVC, kertas, karton dll. Dipastikan 60% asam klorida berasal dari PVC, 36% berasal dari kertas. Yang lebih reaktif dan korosif lagi adalah asam fluorida dengan emisi tipikalnya 3 sampai dengan 5 mg per m3. Begitu pun NOx dan SOx yang dapat berubah menjadi asam kuat: asam nitrat dan asam sulfat. Semuanya berkontribusi pada hujan asam yang kaya logam berat, lalu diserap tanaman sayur dan rumput pakan ternak. Efek lainnya ialah kerusakan bangunan, pagar, mobil, motor, kebun, tanaman, dan hutan, termasuk korosi logam di PLTSa sehingga perlu biaya perbaikan. Belum lagi iritasi kulit dan kerusakan sumber air. Luas sekali dampak buruknya, lebih banyak buruknya ketimbang baiknya. Lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya.


Oleh sebab itu, disarankan Pemerintah Kota Bandung membatalkan niatnya untuk membangun PLTSa demi kesehatan kita dan keturunan setiap warga yang mukim di cekungan Bandung.*

Foto: romeltea.wordpress.com
ReadMore »

18 Januari 2011

Babakan Siliwangi

Jangan ada pembangunan lagi di Kawasan Bandung Utara (KBU), juga di Babakan Siliwangi! Inilah saripati kalimat yang dilontarkan pemerintah Provinsi Jawa Barat saat menanggapi rencana Pemkot Bandung mengeksploitasi Babakan Siliwangi. Ajakan tersebut adalah artikulasi kembali suara-suara “hijau” (green sound) pakar lingkungan dan pemerhatinya sejak 1993. Sejumlah unsur masyarakat yang “melek” lingkungan lantas berupaya “menyadarkan” pemerintah yang akan mengambil tindakan keliru atas nama pembangunan ekonomi. Silang pendapat inilah yang ramai dibahas sekarang.

Bagaimana kondisi Babakan Siliwangi pada masa lalu? Lain dulu, lain sekarang. Berikut ini adalah potret sepetak lahan di Babakan Siliwangi pada dekade 1980-an. Selain petak ini, ada dua petak lagi yang memiliki nilai jejak ekologis (ecological footprint) yang tinggi di Kelurahan Babakan Siliwangi, Kecamatan Coblong, yaitu Kebun Binatang dan Taman Ganesa di dekat area Salman ITB. Pada masa itu halaman ITB pun masih menjadi hutan kota yang betul-betul hijau karena masih banyak pohon, ramai oleh kicauan burung beraneka jenis, berbeda dengan masa 15 tahun terakhir ini yang berubah menjadi hutan beton.

Seperempat abad yang lalu, di petak tersebut masih terdengar ricikan air jernih dari sawah dan pancuran bambu. Hijaunya daun dan kuningnya bulir padi datang silih berganti setiap empat bulan. Burung-burung liar yang habitatnya di Taman Ganeca ITB dan Kebun Binatang sering terbang bergerombol ke pohon-pohon di Babakan Siliwangi. Panorama ini dapat dinikmati dari lereng atas Selatan yang berbatasan dengan jalan Tamansari, tepat di belakang ITB (d.h. Kantor Puslitbang Permukiman). Mahasiswa ITB yang kos di daerah ini (d.h Lebak Gede) akan melihat gerombolan burung terbang, barisan capung, juga loncatan belalang setiap pagi.

Dari rumah kos yang berada di tataran bawah kantor BATAN ada jalan setapak menuju jalan berbatu di bawah bibir jalan Tamansari. Berlebar dua meter, jalan berbatu ini selalu ramai dilewati masyarakat setempat kalau hendak ke Simpang Dago. Mahasiswa ITB yang kos di daerah ini pun kerapkali menginjak setapak di ”bebukitan” Lebak Siliwangi, di dekat rumah makan pada masa itu. Area parkir yang luas di depan rumah makan bersebelahan dengan kolam ikan tempat mancing walau hanya sesekali. Udara sangat sejuk, syahdan pada tengah hari bolong. Angin berembus terus-menerus mengacak-acak daun pinus dan palem sambil menebar oksigen. Sanggar Olah Seni pun ramah dan terbuka dikunjungi bagi warga sekitar.

Sebagai warga baru, saya sering keliling gang-gang di Lebak Gede (Siliwangi), mulai dari tepi Sungai Cikapundung di dekat bangunan Intake (penyadap air) PDAM Kota Bandung, sampai gang di dekat sawah di Babakan Siliwangi. Air PDAM sudah tersedia tetapi tidak semua warga berlangganan air ini. Lebih banyak warga mendapatkan air dari sumur dangkal dengan cara ditimba dan disedot pompa. Warga yang di dekat sawah memperoleh air dari rembesan air sawah selain air yang langsung dialirkan dari limpahan air selokan di Dago dan kawasan Cisitu. Air ini untuk mencuci dan bebersih rumah. Untuk minum hampir semua menggunakan air sumur. Semua warung nasi di Lebak Gede atau Babakan Siliwangi memperoleh air minumnya dari sumur dangkal kalau tidak dari PDAM. Waktu itu belum banyak dikenal air minum kemasan berukuran botol lima gallon. Masjid pun kebanyakan memiliki sumur dengan pompa di tempat wudunya.

Keelokan dan eksotika Babakan Siliwangi dapat dinikmati pada pagi hari ketika pucuk-pucuk pinus ”bebukitan” di lereng rumah A. Kasoem diselimuti kabut melayang di sela-sela daun jejari pinus. Kian indah lagi kalau dipandang dari rumah kos yang tepat berada di bawah kantor BATAN, di dekat lapangan voli saat itu. Pada pukul delapan pagi embun pembasah daun belum juga menguap. Itulah potret Lebak Gede dan Lebak/Babakan Siliwangi pada medio 1980-an. Di bagian atas, yaitu di jalan Siliwangi pohon-pohon pun masih banyak berdaun rimbun. Jalan Tamansari juga berpohon rindang, seperti sekarang.

Yang khas di Babakan Siliwangi, paling tidak ketika saya menjadi bagian dari warga di sana, adalah arena adu bagong dan anjing. Dua bagong (babi hutan bertaring) dikerubuti oleh beberapa ekor anjing ”kampung”, bukan sejenis bulldog, herder atau lainnya. Arena pertunjukan yang menurut pencinta hewan dianggap di luar perikehewanan ini berlangsung di lereng Timur Babakan Siliwangi, di dekat jalan Sumur Bandung atau tepat di pertigaan jalan Tamansari, Dayang Sumbi dan Sumur Bandung. Karena pagarnya berupa semak-belukar, ada beberapa pintu masuk yang terbuat dari dinding yang dilubangi. Yang tidak membeli karcis ada yang berupaya naik ke pohon-pohon di sekitar arena sehingga menjadi pemandangan khas ”pohon berbuah orang”.

Pada kali lain, ada juga pertunjukan ular dan orang yang hidup ”rukun” selama 60 hari. Ularnya banyak, besar-kecil, dari berbagai jenis, mulai dari yang tidak berbisa sampai cobra yang bisanya luar biasa. Arena ini selalu ramai dikunjungi orang, terutama pada hari libur dan Ahad, bahkan diramaikan oleh wisatawan dari luar Kota Bandung.

Di sudut lain Babakan Siliwangi adalah aktivitas seni dan ada mushala di sana. Warga dapat melihat-lihat dengan nyaman dan bebas tanpa banyak dijaga. Murid-murid TK dan SD beberapa kali saya lihat berkunjung dan tampak ceria, berbaur dengan alam sejuk di sekitarnya. Pendidikan lingkungan, seni, budaya sambil berjalan dan lari naik turun sekaligus memberikan efek olah raga.

Berkaca pada potret Babakan Siliwangi dua dekade lalu, muncullah pertanyaan sbb: akankah fenomena dulu bisa diperoleh sekarang? Akankah fungsi lingkungan Babakan Siliwangi tetap terjaga ketika diubah menjadi pusat bisnis? Kalaupun tetap hendak (dipaksakan) dibangun, sebaiknya berkonstruksi tiang pancang dan berbentuk panggung agar resapan airnya tetap optimal. Material pondasi bagunan lama harus diangkat semua. Aspalnya juga diangkat semua sampai betul-betul tampak tanah aslinya, kemudian dipasangi paving block yang dapat meloloskan air hujan. Jangan membuat taman hanya sekadar untuk raihan fotosintesisnya tanpa peduli pada aspek tangsap (tangkap-resap) air hujan. Apalagi sekadar tanaman bunga semusim yang orientasinya hanya aspek keindahan tanpa kemampuan tangsap air.

Akhir kata, Kota Bandung perlu sabuk hijau yang tak sekadar untuk faktor estetika, tetapi juga geohidrologis. Dengan luas wilayah 16.730 ha, Kota Bandung perlu 20 persen sabuk hijau berpohon 1,3 juta tegakan. Dapatkah ini dicapai kalau setiap sabuk hijaunya diubah menjadi ”sabuk beton” berupa mall, hotel, dan supermarket yang tak peduli pada lingkungan dan ekologi?*
ReadMore »

22 November 2010

Demokrasi dan Pemilu

Demokrasi dan Pemilu

Demokrasi dan Pemilu pernah menorehkan sejarah abu-abu hingga hitam di berbagai negara termasuk di Indonesia. Dalam kasus di Indonesia, pernah ada istilah demokrasi liberal, terpimpin hingga demokrasi Pancasila. Begitu pula pemilu, mulai dari Pemilu multipartai 1955 hingga pemilu zaman Orde Baru yang hanya tiga partai (termasuk Golkar) dan kembali ke multipartai pascareformasi 1998.

Dalam acara Seminar Sehari ini sebagai pembicara tamu adalah Dr. Yudi Latif. 

 

 












ReadMore »

16 November 2010

Ketika Gunung Antri Erupsi?

TRIBUN JABAR

ADA apa dengan Merapi? Setelah letusan (erupsi) Merapi pada 26 Oktober 2010, delapan gunung dinyatakan dalam taraf waspada, termasuk Papandayan dan Anak Krakatau. Gunung Anak Krakatau pun mulai aktivitas vulkaniknya sehingga dilarang didekati dalam radius tiga kilometer (Tribun, 30/10).

Antri Erupsi
Mayoritas gunung berapi kita terpasak pada satu sabuk, mulai dari Aceh menuju Selat Sunda, menyusuri Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku hingga Sulawesi Utara. Jumlahnya 13 persen dari semua gunung berapi di Bumi. Kalau satu saja menggeliat panas, yang lain pun ikut-ikutan sehingga semua gunung di ladang gunung berapi itu bisa meletus bersamaan atau berurutan.

Merapi, Kelud, Semeru, Guntur, Krakatau dan "anaknya" termasuk grup agresif dari 35 gunung berapi aktif yang menjadi pasak Pulau Jawa. Jumlah itu setara dengan 27 persen dari 129 gunung berapi aktif di Indonesia. Yang tidur (dormant) sekitar 50-an buah.

Sebagai negara gunung, Indonesia disabuki gunung berapi sepanjang 7.000 kilometer, melintang di pulau-pulau seperti disebut di atas. Hanya saja, kaya gunung tak berarti akrab dengannya. Masih banyak aspek kegunungapian yang asing di telinga kita, kecuali bagi kalangan di Vulkanologi atau Geologi saja. Mendengar kata gunung berapi, yang terbayang ialah lahar, lava, debu, dan awan panas saat erupsinya. Sebagai contoh, erupsi Galunggung (1982-1983) telah merusak aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan, tak hanya di daerah setempat tapi juga di daerah lainnya.

Berikutnya ialah letusan Gunung Agung di Bali (1963) dengan korban tewas 300-an orang. Sisa-sisanya dapat dilihat sekarang, di sela-sela kebun salak di sekujur Kabupaten Karangasem, terutama ke arah pura utama di Bali, yaitu Besakih. Konon pada waktu itu ada bintang Kukus (Kemukus) di Timur Pulau Bali dan warga lantas mengaitkannya dengan kasus besar yang bakal terjadi, yaitu G30S/PKI. Adapun korban erupsi Kelud tahun 1935 tak kurang dari 5.000-an orang. Yang paling menyejarah ialah letusan Gunung Krakatau (1883).

Selain letusan, bahayanya yang lain ialah gas beracun. Kawah Sinila tahun 1979 di Pegunungan Dieng menjadi contoh klasik. Minimal 150 orang meninggal tercekat pada bencana pagi itu akibat gas CO (karbon monoksida). Potensi bencananya juga terjadi karena akumulasi gas di atmosfer yang menyebabkan hujan asam dengan pH kurang dari 5,5 akibat larutnya gas belerang oksida (SOx), asam sulfida (H2S), karbon dioksida (CO2), dan nitrogen oksida (NOx) lalu menghasilkan asam sulfat (H2SO4), asam nitrat (HNO3), dan asam karbonat (H2CO3). Dampaknya, pH tanah menjadi rendah, gangguan ekosistem, kerusakan bangunan & monumen serta iritasi kulit.

The Silent Killer lainnya ialah polusi air tanah dan air permukaan oleh logam-logam berat erupsian dan aktivitas kawahnya. Polutan jenis ini sering terjadi di Sungai Ciwidey dan Waduk Saguling di Jawa Barat yang airnya berasal dari Gunung Patuha dengan Kawah Putihnya dan Gunung Tangkuban Parahu di Bandung. Maka, yang patut diwaspadai ialah efeknya pada manusia kalau meminum airnya, memakan ikannya dan sayurmayur yang ditanam di dekat bencana itu karena kaya dioksin dan logam berat.

Peluang Ekonomi
Gunung berapi serupa dengan pedang bermata dua. Satu matanya dapat menebas eksistensi manusia dan satunya lagi justru bisa menambah tingkat ekonominya. Ancaman diubah menjadi peluang ekonomi, disublimasi menjadi keuntungan. Dari sisi pendidikan, erupsi juga peluang untuk evaluasi teori dan hipotesis sains mutakhir, menjadi bahan studi saintis kegunungapian, pertanian, kesehatan, lingkungan dan antropologi.

Dari sisi ekonomi, magmanya (liquid magma) berpeluang dijadikan opsi sumber energi. Pada temperatur 1.150 Derajat Celcius, estimasi energinya 9 x 1014 kcal/km3. Sebagai pembanding, potensi energi Gunung Mauna Loa di Hawaii dan Avachinsky di Kamchatka Peninsula masing-masing 4 x 1018 kcal dan 2 x 1017 kcal. Bandingkan dengan cadangan minyak mentah dunia yang "hanya" 1018 kcal. Contoh di Indonesia, energi yang dirilis erupsi Tambora di Sumbawa (1815) sekitar 3,5 x 1016 kcal sedangkan energi erupsi Krakatau (1883), menurut Hedervari dalam Bulletin Volcanologique, mencapai 4,3 x 1015 kcal. Getarannya mendunia dan energinya yang luar biasa besar mampu melontarkan setengah massanya ke angkasa sehingga debunya menutupi area seluas 827.000 km2. Dengan periode erupsi 101 hari, yang tewas tak kurang dari 36.000-an orang.

Manfaat lainnya ialah bidang kesehatan seperti efeknya terhadap penyakit kelenjar gondok, gigi dan pernapasan, termasuk sakit jantung, fibrosis, dan fluorosis. Semuanya bisa diriset yang dikaitkan dengan karakteristik zat-zat erupsian mineralnya. Sektor pertanian, perkebunan dan kehutanan juga diuntungkan oleh debu vulkaniknya yang subur walaupun ketika erupsinya menjadi material sangat berbahaya. Instalasi pengolah air minum (IPAM) pun mesti dimodifikasi untuk menangani unsur yang berbahaya di dalam air dan emisi gas beracunnya sekaligus memanfaatkan mineralnya dalam konsentrasi tertentu sesuai dengan baku mutu air minum untuk kesehatan kita.

Peluang pencetak uang lainnya ialah pasir-batu (sirtu). Sirtu erupsian terbukti menaikkan ekonomi masyarakat setempat seperti pasir Galunggung. Manfaat berikutnya ialah wisata gunung berapi (volctourism), tetapi belum banyak dikelola. Hanya di gunungapi-gunungapi tertentu saja yang sudah dieksploitasi seperti Bromo, Tangkubanparahu dan Batur di Bali.

Khusus di Gunung Batur, selain Danau Baturnya yang eksotis juga karena ada komunitas khas, yaitu orang Trunyan. Aspek geologinya juga menarik minat peneliti dari luar negeri, termasuk wisata flora, fauna dan mata air panas (hot spring) yang merupakan komponen tak terpisahkan dari gunungapi.

Tampaklah, selain letusannya, gunungapi pun bisa bermanfaat. Bisa dikatakan, bencana (baca: musibah) adalah jarum akupuntur bagi ruhani. Berat sesaat, manfaat setelahnya. (*)
ReadMore »

11 November 2010

18 Oktober 2010

Baffled Fluidized Reactor

Baffled Fluidized Reactor

Mengacu pada nama atau istilahnya, reaktor ini berjenis reaktor biologi (bioreactor) yang memberikan kesempatan kepada bakteri anaerobik untuk tumbuh-kembang optimal dan berlangsung di dalam reaktor yang bersekat-sekat (baffled), bermedia melayang-layang (fluidized). Selain bioproses, minimal ada dua unit operasi yang berlangsung di dalamnya, yang fenomenanya berlawanan, yaitu sedimentasi dan fluidasi. Sedimentasi berkenaan dengan bioflok yang besar massanya dan padatan (coarse solid, suspended solid) tanurai (nonbiodegradable) yang dapat diendapkan secara gravitasi.

Fluidasi berhubungan langsung dengan kecepatan ke atas aliran airnya yang mampu mengapungkan atau melayang-layangkan material tertentu seperti mikroflok, padatan, atau media lekat sintetis ringan. Secara tidak langsung, dalam tempo tertentu, biasanya setelah tiga bulan sejak reaktor dioperasikan, terbentuklah lapisan microbioflocc (sludge blanket) di tengah-tengah reaktor. Lapisan ini mampu memperbaiki kualitas pengolahan air limbah, mempertinggi efisiensinya sehingga harus dijaga agar lapisan ini tetap bertahan dan tidak rusak selama proses pengolahan. Kerusakan biasanya terjadi selama dan setelah pemompaan sludge-nya apabila operatornya ceroboh dalam memasukkan pipa lumpurnya sehingga mengoyak lapisan tersebut.

Karakteristik Reaktor
Kata kunci (keyword) dalam Baffled Fluidized Reactor adalah kecepatan ke atasnya (upflow velocity) yang nilainya kurang dari 2 m/jam. Dengan kecepatan ini biasanya reaktor dibuat agak besar tetapi relatif dangkal, kurang dari 2 meter sehingga lahan yang dibutuhkannya menjadi luas. Inilah yang menyebabkan BFR kurang dikenal dan tidak menjadi pilihan di instalasi yang besar debit air limbahnya. Namun kekurangan ini bisa diminimalkan bahkan dihilangkan kalau di dalam reaktornya diberi media lekat yang terfluidasi. Media ini bergerak dinamis di dalam reaktor dan memberikan peluang kepada bakteri yang cenderung melekat (attached growth) dalam pertumbuhannya. Pada saat yang lain, bakteri yang hidupnya tersuspensi pun bisa berkembang dengan optimal di ruang antarmedia.

Gradasi bakteri yang terlekat atau tersuspensi atau kombinasi keduanya pada BFR ini dipengaruhi oleh pH, temperatur air limbah, beban organik, dan asupan nutrisinya serta material seperti deterjen, logam berat, dan lemak-minyak. Nutrien sangat dibutuhkan oleh biomassa sehingga harus senantiasa tersedia sepanjang waktu tetapi tidak boleh melebihi kebutuhan total biomassanya. Di sinilah letak kesulitan mengelola bioreaktor agar nutrien yang dibutuhkan biomassanya ekivalen dengan asupan atau kandungan nutrien yang ada di dalam air limbah. Menjadi lebih sulit lagi apabila terjadi fluktuasi beban hidrolik (hydraulic loading) dan beban organik (organic loading) yang tinggi setiap hari. Oleh sebab itu, beberapa IPAL, terutama yang kapasitasnya relatif kecil seperti rumah sakit dilengkapi dengan unit ekualisasi (equalization) untuk merata-ratakan aliran airnya sehingga unit ini disebut tangki aliran rerata (TAR). Apabila pengoperasian unit dengan debit kecil itu dipandang kurang efisien maka dapat diterapkan sistem Sequencing Batch Reactor.

Berkaitan dengan media lekat bakterinya, bisa dikatakan bahwa BFR termasuk bioreaktor hibrid yang berada di tengah-tengah antara reaktor terlekat (attached reactor) dan reaktor tersuspensi (suspended reactor). Selain medianya yang dinamis bergerak melayang-layang di dalam air, sekatnya juga menjadi tempat tumbuh bakteri, bahkan semua pipa dan aksesorisnya pun menjadi media tumbuh. Inilah yang dapat mempengaruhi efisiensi pengolahannya, menjadi lebih efisien dengan menghasilkan konsentrasi biomassa yang pekat. Kemampuan retensi biomassanya itu berada di antara fase terlekat dan fase tersuspensi yang terbentuk di permukaan media (porositas, porosity) atau di ruang antarmedia (parasitas, perviousness).

Sejumlah penelitian menyatakan bahwa BFR bermedia lekat terfluidasi ini mampu menanggulangi beban hidrolik dan beban organik yang tinggi secara tiba-tiba (shock loading, baik limbah domestik, pabrik maupun rumah sakit, balai pengobatan, klinik) tanpa mengganggu efisiensinya secara signifikan. Selain media tersebut, peran ini pun diemban oleh sekat, dinding, dan sedimen bioflok. Malah bioflok yang hanyut (washout) dari ruang (chamber) pertama dapat ditangkap kembali di ruang berikutnya. Di ruang terakhir, misalnya ruang ketiga atau keempat dapat dilengkapi dengan skrin di bagian atasnya untuk menahan agar biofloknya tidak hanyut. Tetapi skrin ini tidak dibutuhkan apabila di dalam rangkaian pengolahannya dipasang unit biofilter anaerobik atau aerobik dengan aliran upflow.

Kinerja BFR dapat lebih ditingkatkan lagi dengan cara mendistribusikan debit airnya lewat jaringan pipa perforasi di bagian alas (dasar) reaktor. Konfigurasi “underdrain” ini serupa dengan jaringan pipa yang dipasang di alas filter air minum PDAM. Tentu saja susunan pipanya bisa dimodifikasi dan diameter lubangnya disesuaikan dengan keperluan dan kondisi reaktor. Secara tak langsung, jaringan pipa “underdrain” ini juga berfungsi menumbuhkan mikroba yang karakternya melekat pada media. Hanya saja, endapan yang tinggi setelah reaktor beroperasi lebih dari lima tahun dapat menghilangkan kemampuan biodegradasinya karena tertimbun lumpur sehingga kekurangan nutrisi. Namun kejadian ini tidak terlalu berpengaruh pada kinerjanya karena kuantitasnya dapat diabaikan dibandingkan dengan jumlah total biomassa terlekat lainnya di dalam reaktor.

Dimensi dan Aklimasi
Pendimensian BFR bergantung pada debit air limbah dan waktu detensi yang diterapkan, yang sudah terbukti berhasil dalam mengolah air limbah. Selain bersumber dari hasil penelitian, juga dapat digunakan kriteria desain yang sudah ada, tetapi harus dicek ulang agar tidak keliru. Selain itu, perlu dilihat juga kesamaan jenis air limbahnya dan lokasi geografisnya. Sebab, tidak sertamerta desain yang sukses di satu tempat dapat otomatis sukses dengan hasil yang sama di tempat lain. Beberapa parameter lingkungan ikut mempengaruhi kinerja reaktornya, selain keberadaan unit operasi-proses lainnya.

Dimensi reaktor juga perlu disinkronkan dengan bentuk dan posisi aksesoris lainnya seperti pipa, sekat, alirannya apakah horisontal atau vertikal, posisi inlet-outlet, dll. Sekat bisa berbahan beton, batubata, pelat antikarat, papan yang tak mudah lapuk, atau yang lainnya dengan satu fungsi yaitu, menambah intensitas pengadukan hidrolis tanpa alat mekanis. Jarak antarsekat pun harus dipertimbangkan agar pengadukan bisa optimal dan mudah dalam pelaksanaan pembangunannya. Perhatikan rasio antara tinggi reaktor dan panjang ruangnya (chamber). Bagian penting lainnya ialah media pengisi ruang sebagai tempat melekat mikroba. Media ini bisa berbahan plastik dengan beragam bentuk dan ukuran, tempurung kelapa tua, bambu, kayu, dll. Hanya satu syaratnya, berat jenisnya kurang dari satu agar mampu bergerak melayang-layang di dalam air (fluidized bed) atau melayang karena pengaruh upflow aliran airnya. Volume medianya maksimum 20% dari volume ruang kosong reaktor.

Dalam beberapa penelitian, BFR dibuat serupa dengan baffled flocculator dalam IPAM di PDAM tetapi ada juga yang berbeda, yaitu setiap ruang dipisahkan oleh sekat sehingga airnya dilewatkan melalui pipa berbentuk huruf H. Salah satu “kaki” pipanya (di bagian kiri) berfungsi sebagai inlet dan “kaki” lainnya sebagai outlet. Perlu diperhatikan, kaki-kaki pipa H ini berbeda panjangnya. Bagian inlet lebih panjang, yakni ujung bawahnya mendekati sludge yang mengendap di lantai reaktor. Ini memberikan kesempatan kepada air limbah untuk kontak dengan bioflok yang mengendap sehingga efisiensinya makin tinggi. Sedangkan kaki lainnya lebih pendek agar air yang baru masuk ke dalam bak tidak langsung menuju pipa keluar (short circuit) sehingga cukup waktu bagi mikroba untuk mengolah pencemarnya. Dengan konfigurasi pipa tersebut akan diperoleh waktu detensi yang berlipat-lipat lamanya.

Agar perkembangan biofloknya optimal, perlulah diatur lingkungan airnya, seperti asupan nutrisi dan pH. Pada tahap awal operasinya, harus dimasukkan bibit bakteri (seeding) yang dapat diperoleh dari biakan murni di balai penelitian atau dibeli dari pemasok, bisa juga dari rumen, tangki septik, atau lumpur filter anaerob. Bersamaan waktunya, diinjeksikan pula N dan P (NH4Cl dan K2HPO4). Setelah tiga hingga empat pekan, start-up dapat dimulai dengan memompakan sejumlah tertentu benih ke dalam reaktor untuk mengondisikan bakteri di dalam reaktor dengan air limbah. Proses ini relatif lama, bisa mencapai tiga bulan. Perlu ditambahkan juga larutan penyangga (buffer) pH, misalnya NaHCO3 agar pH-nya dalam rentang netral. Tanpa asupan alkalinitas ini, proses pengolahan dikhawatirkan gagal karena pH-nya menjadi rendah sehingga tidak nyaman bagi metanogen.

Dalam praktiknya, dosis injeksi NaHCO3 tersebut bervariasi, bergantung pada beban organiknya. Sudah diperoleh bahwa air limbah yang kaya karbohidrat dengan beban 10.000 mg/l COD dan menghasilkan 50% CO2 membutuhkan 2.300 mg/l alkalinitas sebagai CaCO3 agar pH-nya berkisar antara 6,8 - 7,0. Karena 1 g NaHCO3 = 0,6 g alkalinitas sebagai CaCO3 maka NaHCO3 yang dibutuhkan = 3,83 g. Jika efektivitas NaHCO3 (teknis) 75% maka dibutuhkan 5,1 g NaHCO3. Penambahan zat kimia tersebut tentu saja menambah biaya operasional instalasi. Oleh sebab itu, standar operasi prosedur (SOP) wajib diikuti oleh operator agar proses yang sudah berlangsung baik dapat bertahan lama. *

(Gede H. Cahyana, Majalah Air Minum, September 2010)
ReadMore »

4 Oktober 2010

Ekosistem Akuatik


Ekosistem Akuatik
Mengacu pada definisinya, ekosistem akuatik ialah ekosistem yang mayoritas terdiri atas air, menjadi habitat makhluk hidup. Contohnya ialah ekosistem air tawar yang bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu ekosistem Lentik: ekosistem yang airnya tergenang (relatif diam) seperti danau, waduk, kolam, rawa, embung, dll. Lentik diturunkan dari kata lenis (bahasa Latin) yang artinya tenang. Ekosistem Lotik (Latin: lotus , artinya alir), ialah ekosistem yang airnya mengalir, seperti: sungai, selokan, dll. Fungsi ekosistem akuatik ini antara lain sebagai sumber air minum, pengairan, air industri, perikanan, PLTA, rekreasi, sumber riset ilmu dan teknologi, juga penerima air olahan IPAL rumah sakit atau efluen IPAL.

Ekosistem Lentik - Lotik 
Hal penting di dalam ekosistem Lentik ini adalah zonasi yang berkaitan dengan kedalaman airnya dan daya tembus sinar matahari di dalam air. Ini dibedakan menjadi tiga, yaitu Zone Litoral, nama yang diberikan untuk zone di tepi danau, waduk, kolam dan sinar matahari dapat menembus sampai ke dasar, tempat perakaran tumbuhan air. Zone Limnetik, berada di antara permukaan air dan lapisan air yang masih dapat dicapai oleh sinar matahari. Di bagian terbawah zone ini, laju fotosintesis tumbuhan masih sama dengan atau lebih besar daripada laju respirasi. Zone Profundal, terletak di bagian dalam atau dasar badan air sehingga tidak dapat dimasuki oleh sinar matahari. Andaipun cahaya masih bisa masuk, tetapi tidak efektif untuk fotosintesis.

Proses kelahiran ekosistem Lentik berbeda-beda. Danau, misalnya, ada yang terbentuk karena patahan formasi geologi lalu berisi air, seperti Danau Toba. Ada juga yang terbentuk karena peristiwa vulkanik, seperti Danau Lamongan. Danau buatan seperti Saguling, biasa disebut waduk, sengaja dibuat dengan cara membendung Sungai Citarum. Seperti ekosistem Lentik, ekosistem Lotik pun berperan penting sebagai sumber makanan, yaitu udang, ikan, dll. Minimal ada tiga kegunaan ekosistem air ini, yaitu produsen pangan, penyedia lapangan kerja, dan penghasil devisa. Namun demikian, pengurangan produksi ikan dapat saja terjadi yang disebabkan oleh beberapa kejadian, seperti teknologi budidayanya belum optimal, penangkapan ikan terlampau berlebih sehingga pemulihannya menjadi lamban, terjadi pencemaran air yang mempengaruhi perkembangbiakannya.

Ekosistem Laut 
Laut adalah badan air terluas dan terbanyak volumenya. Dalam rasanya yang asin, air laut sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Rentang suhunya adantara 26 – 30 derajat Celcius dengan kadar garam antara 27 – 33 permil. Hal ini mengakibatkan pemisahan antara lapisan bawah dan lapisan atas air laut.

Ciri ekosistem / Lapisan atas / Lapisan bawah
- Suhu air laut : Tinggi / Rendah
- Kadar garam : Rendah / Tinggi
- Tembus sinar matahari: Tinggi / Rendah
- Kadar oksigen : Tinggi / Rendah
- Fotosintesis : Cepat / Lambat
- Kadar unsur hara : Rendah / Tinggi

Laut di Indonesia dipengaruhi oleh angin Muson yang berubah arah pada setiap musim. Musim Barat terjadi pada September s.d Maret, musim Timur antara Juni dan Agustus dan terjadi dua pancaroba atau peralihan, yakni April - Juni dan September - November. Pada musim Barat biasanya arus laut bergerak dari Barat ke Timur, Indonesia bagian Barat mendapat curah hujan relatif tinggi sehingga kadar garamnya menjadi rendah, dan angin bertiup kencang sehingga ombaknya tinggi. Pada musim Timur terjadi fenomena yang berlawanan dari uraian di atas.

Berdasarkan kedalamannya, laut di Indonesia dibedakan menjadi dua, yaitu laut dangkal dan laut dalam, memiliki dua paparan benua, yaitu paparan Sunda di bagian Barat, dan Sahul di Timur, keduanya dipisahkan oleh selat dan palung. Besar sekali peran laut ini untuk perkembangan ekonomi, sosial, budaya, ilmu, dan teknologi, bahkan pertahanan, dan keamanan negara. Beberapa poin pentingnya adalah:
• Sumber bahan makanan: udang, cumi-cumi, paus, ganggang, dll.
• Sumber kekayaan alam: garam, mineral, minyak bumi, dan bahan tambang lainnya.
• Sumber energi non-minyak: gas alam, energi gelombang, arus pasang surut.
• Sarana transportasi antarpulau & negara, penghubung dua benua, dua samudra.
• Sebagai sarana pertahanan dan keamanan.
• Pariwisata dan olah raga.

Selain manfaatnya, ada juga masalah lingkungan di laut Indonesia. Kerusakan lingkungan ini terjadi karena dampak negatif kegiatan pembangunan. Banyak terjadi pelumpuran pantai karena air sungai membawa lumpur dari kegiatan pertanian, perkebunan, industri, dan perkotaan. Terjadi pencemaran yang makin masif, seperti pencemaran minyak yang dampaknya pada kematian makhluk dan kerusakan rantai makanan dan menurunkan oksigen terlarut (dissolved oxigen). Masalah lainnya ialah pembabatan mangrove untuk memperoleh kayu atau untuk kebutuhan lahan permukiman, pertanian, pertambangan dll.

Agar dampak buruk di atas bisa dikurangi atau dihentikan, bahkan dipulihkan, ada beberapa upaya yang dapat dilaksanakan, yaitu pengaturan eksploitasi hasil laut dengan melarang penggunaan pukat harimau untuk menangkap ikan. Mencegah dan menanggulangi pencemaran, terutama oleh minyak bumi. Beberapa caranya ialah:
Cara mekanis :
• Melokalisir tumpahan minyak dengan oil boom
• Pengumpulan tumpahan minyak dengan oil skimmer
• Penyerapan dengan oil sorbent
Cara kimia:
• Pemecahan dengan zat kimia yang tidak beracun bagi biota laut
Cara mikrobiologi:
• Pemecahan senyawa hidrokarbon oleh mikroba.

Ekosistem Pantai Tropis 
Pada ekosistem pantai ini dapat ditemukan berbagai ekosistem yang berdekatan satu dengan yang lain, yaitu hamparan rumput laut dan ganggang, terumbu karang, pantai pasir, delta, estuarium, teluk, laguna, hutan mangrove, hutan rawa pasang surut, dataran berlumpur, dan rawa payau. Ekosistem tersebut biasanya berdekatan dan bahkan dihuni manusia dengan kepadatan penduduk yang relatif tinggi. Karena itu, ekosistem ini menjadi sasaran berbagai kegiatan manusia sehingga berdampak pada lingkungannya.

Ekosistem pantai yang populer disebut wilayah pesisir ini merupakan wilayah yang kaya sumber daya alam. Beberapa ekosistem pantai tropis itu sbb.

Estuarium 
Lokasinya ialah di mulut sungai atau muara sungai, sebagai penghubung antara laut dan darat. Secara ekologis, muara sungai ini memiliki fungsi penting, yaitu tempat bertelur dan pemijahan ikan dan hewan akuatik lainnya, tempat ikan dan hewan akuatik mencari makanan, pintu masuk bagi ikan dan hewan akuatik lainnya yang migrasi dari laut ke perairan tawar atau sebaliknya.

Di ekosistem estuarium ini terjadi pertemuan antara air asin dan air tawar. Air tawar dari darat membawa unsur hara dan mineral yang memperkaya kondisi lingkungan sehingga tinggi produktivitasnya. Kekayaan bahan makanan di estuarium ini tidak hanya terbatas di muara sungai, tetapi bisa sampai ke laut lepas. Di Laut Jawa misalnya, produktivitasnya bisa meluas hingga ke laut lepas asalkan tidak tercemari oleh kegiatan manusia.

Delta  
Delta ialah pembentukan lahan secara alami yang menjorok ke garis pantai sebagai hasil dari proses pengendapan lumpur di muara sungai. Ini bisa terjadi di mana-mana. Di kawasan tropis yang sering memiliki daerah aliaran sungai yang landai di sekitar muara, perkembangan Delta tampak jelas. Delta selalu dipengaruhi oleh kondisi laut dan darat. Delta, dalam mata ajar atau mata kuliah matematika, kalkulus, disimbolkan dengan segitiga, artinya adalah tambahan. Jadi, Delta adalah tambahan lahan di muara. 

Hutan Mangrove 
Hutan mangrove di wilayah pesisir merupakan ekosistem yang kaya dan banyak tersebar di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Hutan ini ditumbuhi oleh banyak jenis pohon dan perdu, juga ada rumput, tumbuhan menjalar dan merambat, paku-pakuan dan tumbuhan epifit lainnya. Pohon-pohon di hutan mangrove bisa mencapai ketinggian 10 m, memiliki kekayaan jenis hingga 20 - 30 spesies. Keistimewaannya, tumbuhan yang hidup di hutan ini acapkali mampu tumbuh di tempat asin (laut) dan air tawar, dan tempat-tempat yang terpengaruh oleh kawasan pasang surut air laut.


Tugas Selanjutnya adalah menulis RESUME artikel di bawah ini. 

Siklus Hidrologi

PESONA LAUT

Silabus Buku Kelautan

Banjir Sejagat

Global Warming
ReadMore »

27 September 2010

Peta Hijau, Kado Ultah Kota Bandung

Genap 200 tahun usia Kota Bandung pada 25 September 2010. Tanggal ini berkaitan dengan keputusan pemerintah Hindia Belanda pada 1810 lewat gubernur jenderalnya: Daendels untuk mulai membangun daerah pegunungan ini. Pada waktu itu Bandung dipimpin oleh Bupati R. A. Wiranatakusumah II yang berkedudukan di Dayeuhkolot. Atas perintah Daendels kepada bupati yang bergelar Dalem Kaum tersebut, ibukota lantas dipindahkan ke Alun-alun Kota Bandung (sekarang).

Kalau dibandingkan dengan manusia, usia 200 tahun tentu usia renta. Nyaris tiada manusia yang usianya 200 tahun. Namun demikian, bagi sebuah kota, usia belum bisa dijadikan parameter linier terhadap kemajuan dan ketertiban kota. Ada kota yang baru beberapa puluh tahun usianya tetapi sudah lengkap fasilitas umum dan sosialnya, kawasan komersial dan permukimannya ditata dan warganya taat-tertib pada peraturan. Ada juga yang sudah tua tetapi belum bisa disebut sebagai kota maju atau modern, malah kantong-kantong kumuhnya (slum area) bertebaran. Ada satu kekhasan kota-kota besar termasuk Kota Bandung, yaitu masalah kependudukan dan lingkungan.

Agenda Lingkungan
Dalam hal lingkungan, ada lima agenda krusial di Kota Bandung sehingga mendesak dibuatkan solusinya, yaitu air minum, air limbah, polusi udara, drainase, dan sampah. Lima agenda ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk Kota Bandung yang mencapai 2,4 juta orang dan menjadi kota terpadat di Jawa Barat, nomor empat terpadat di Indonesia. Apabila ditambah dengan pekerja yang domisilinya di luar Kota Bandung tetapi bekerja di Kota Bandung maka jumlahnya menjadi lebih banyak. “Warga siang” ini ikut menambah beban lingkungan di Kota Bandung, baik di sektor air minum, air limbah, pencemaran udara, dan persampahan.

Drainase mulai terasa manfaatnya ketika hujan, terutama hujan deras yang menimbulkan genangan, bahkan banjir di beberapa lokasi. Kemacetan lalu-lintas yang terjadi akibat banjir ini memperparah polusi udara di Kota Bandung yang selanjutnya berdampak langsung-tak langsung pada pencemaran sayuran dan produk pertanian-peternakan di tatar Bandung. Dengan jumlah penduduk 2,4 juta orang itu, belum termasuk “warga siang”, beban pencemaran sungai menjadi berat dan banyak membutuhkan air minum. Apabila 80% air minum berubah menjadi air limbah maka dapat dibayangkan, betapa luas kebutuhan lahan untuk IPAL-nya. Lantas, mampukah instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di Bojongsoang mengolahnya?

Agenda berikutnya ialah persampahan. Mengelola sampah, faktanya, jauh lebih rumit dibandingkan dengan mengelola air limbah. Air limbah (liquid waste, wastewater) jauh lebih mudah dikelola dibandingkan dengan sampah atau limbah padat (solid waste). Itu sebabnya, pengelolaan sampah lebih “heboh” daripada air limbah yang sebetulnya juga parah tetapi “tak tampak” nyata di mata masyarakat. Namun air limbah ini pun diam-diam bisa menjadi musuh, tiba-tiba “meledak” lantas menimbulkan masalah besar bagi lingkungan dan manusia, persis kasus longsor TPA Leuwigajah.

Peta Hijau Persampahan
Persampahan adalah tema pokok artikel ini yang dikaitkan dengan upaya pembuatan Peta Hijau (Green Map) Persampahan Kota Bandung. Karena masih rintisan atau baru kali pertama dibuat, bisa dikatakan bahwa Peta Hijau Persampahan Kota Bandung ini menjadi peta pertama di Indonesia, bahkan di dunia, demikian rilisan draft peta Forum Hijau Bandung yang diamanati tugas oleh Kementerian Pekerjaan Umum, Ditjen Penataan Ruang. Seperti halnya peta biasa, Peta Hijau ini pun didasarkan pada peta geografis Kota Bandung. Bedanya, Peta Hijau ini dilengkapi dengan ikon (gambar, simbol) yang dikaitkan dengan pengelolaan dan pengolahan sampah. Ikon yang dihadirkan di dalam peta tematik persampahan ini merujuk pada Green Map International. Ikonnya sama, hanya bahasanya yang berbeda dan sedikit perbedaan pada deskripsinya agar lebih komunikatif dan mudah dipahami oleh masyarakat yang tidak berlatar ilmu dan teknik lingkungan.

Ada delapan ikon yang diadaptasi untuk merepresentasikan persampahan di Kota Bandung. Ikon kesatu untuk Usaha Produk Hijau. Sesuai dengan namanya, lokasi di peta yang ditandai oleh ikon ini menyatakan bahwa di tempat ini diproduksi dan dijual produk-produk berwawasan dan ramah lingkungan. Masyarakat Kota Bandung dapat memberikan apresiasi dengan cara membeli dan menggunakan produk yang dijual di tempat ini. Kedua, Lokasi Barang Bekas. Daerah yang diikoni oleh gambar tersebut adalah lokasi transaksi jual-beli barang bekas, tukar-menukar barang bekas, baik barang bekas campuran maupun barang bekas khas seperti kertas saja, botol plastik saja, logam saja, elektronik saja, dll.

Ikon selanjutnya ialah Lokasi Daur Ulang. Di lokasi ikon ketiga ini ditampung semua barang bekas yang dapat diolah kembali menjadi barang seperti semula atau barang baru. Misalnya, bungkus bekas menjadi barang kerajinan, kertas bekas menjadi kertas daur ulang, dll. Transaksi jual-beli pun bisa dilaksanakan di sini atau sebagai tempat belajar dan percontohan tatacara - tatakelola daur ulang sampah. Yang keempat, Lokasi Pengomposan. Pengomposan adalah bagian penting dalam pengelolaan sampah kota, terutama di Kota Bandung yang kaya sampah organik dan lokasinya di pegunungan yang bercurah hujan tinggi. Ikon ini menyatakan bahwa di lokasi inilah disediakan fasilitas pengolahan sampah organik (sisa makanan, daun, sampah mudah busuk lainnya) menjadi kompos. Di sini juga dijual biota cacing, bakteri, dll yang berperan dalam pengomposan.

Sekolah Hijau adalah ikon kelima. Persampahan selalu berkaitan dengan karakter orang atau masyarakatnya. Pendidikan karakter ini pun menjadi penting jika dikaitkan dengan persampahan. Oleh sebab itu, sekolah yang dilabeli ikon ini dianggap sudah berkomitmen pada pengelolaan sampah dan aktif dalam klub atau ekstrakurikuler yang berwawasan lingkungan. Keenam, LSM atau Organisasi Masyarakat. Tak dapat dimungkiri, LSM atau ormas ikut berperan aktif yang positif dalam pengelolaan sampah kota. Simbol ini menyatakan bahwa di lokasi tersebut ada LSM atau ormas yang berkomitmen pada pengelolaan sampah dan dapat memberikan informasi serta kegiatan rutin di bidang persampahan.

Ketujuh, Ahli Lingkungan. Lokasi di peta yang diikoni oleh gambar ini menyatakan bahwa masyarakat dapat memperoleh informasi, ilmu dan teknologi di bidang lingkungan, khususnya persampahan di tempat tersebut. Perguruan tinggi, LSM, dan ormas dapat menjadi sumber informasi bagi masyarakat. Kedelapan, TPS Terpadu. Daerah yang berikon ini dianggap sudah memiliki TPS (Tempat Penyimpanan Sementara Sampah) dan sudah melaksanakan kegiatan 3R (reduce, reuse, recycle) dan pengomposan sehingga dapat dijadikan contoh bagi TPS lainnya yang belum terpadu.

Masih ada beberapa poin lain di dalam draft Peta Hijau yang belum ditulis dalam artikel ini. Intinya, tulisan ini bermaksud memberikan informasi kepada masyarakat bahwa Kota Bandung yang berusia 200 tahun ini akan menjadi kota pertama di Indonesia yang memiliki Peta Hijau Persampahan. Peta ini mudah-mudahan sebagai wujud keseriusan masyarakat (dan pemerintah) dalam membuat solusi masalah sampah di Kota Bandung. Seluruh kota dan kabupaten di Indonesia diharapkan ikut membuat peta ini sebagai media informasi dan pendidikan bagi masyarakatnya.

Akhir kata, Peta Hijau yang bertema sampah hanyalah tahap awal dari serangkain Peta-Peta Hijau lainnya yang harus dimiliki oleh Kota Bandung agar masyarakat ikut terlibat dalam kepedulian terhadap lingkungan. Peta Hijau tematik selanjutnya yang harus dibuat ialah Peta Hijau Air Minum, Peta Hijau Air Limbah, Peta Hijau Polusi Udara, dan Peta Hijau Drainase.

Selamat ulang tahun Kota Bandung, Bunganya Kota-kota Pegunungan di Nusantara (der bloem der indische bergsteiden).
ReadMore »