• L3
  • Email :
  • Search :

27 Oktober 2013

Ciptakan "Ikan Hiu” Demi Hidup

Ciptakan "Ikan Hiu” Demi Hidup
Oleh Gede H. Cahyana


Alkisah, pada suatu masa, ada nelayan Jepang yang kerapkali melaut di lepas pantai Pulau Hokaido. Berhari-hari mereka diombang-ambing gelombang, dibanjur tampias ombak dan diterpa panas mentari serta “ditusuk” dingin angin malam. Tetapi jarang mereka menemukan ikan tangkapannya dalam kondisi segar sehingga harganya murah kalau dijual. Mereka lantas menyediakan bak yang diisi es balok. Semua ikan tangkapan dimasukkan ke dalam pendingin itu. Tetapi..., tetap saja ikan-ikan itu tidak segar begitu tiba di darat. Harganya pun tetap rendah.

“Harus dicoba cara lain”, pikir Yamasaki, nelayan yang tiga anaknya juga menjadi nelayan, membantunya menangkap dan menjual ikan ke restoran.

Mereka lalu membuat kolam di dalam perahu. Ikan-ikan tangkapannya langsung ditaruh di kolam itu. Namun, lagi-lagi ikan-ikannya tak segar begitu tiba di pantai. Malah ikan-ikannya tampak lemah, tidak gesit berenang dan mudah ditangkap.

Bagaimana caranya...?” Yamasaki termenung. Empat hari kemudian muncullah idenya. Ia menempatkan seekor anak hiu ke dalam kolam ikan itu. Satu dua ikan mulai dimakan anak hiu. Ikan ketiga, keempat....ketiga puluh lima dan terus... Entah sudah berapa banyak ikan tangkapannya dimakan hiu. Ikan yang selamat atau selamat sementara akhirnya HARUS terus bergerak agar tidak dimakan hiu. Yang terus BERENANG ke sana-sini akhirnya selamat dan segar sampai di darat.

Masalah itu mirip dengan hiu di kolam tadi. Bagi ikan, hiu adalah masalah besar. Ada ikan yang mati karena tidak gesit berenang dan malas bergerak. Tetapi ikan yang terus bergerak dan waspada malah sehat dan bugar. Otot-ototnya kian kuat sehingga makin cepatlah berenangnya. Ia survive justru akibat adanya tantangan. Jadi..., ikan yang selamat sampai ke pantai patutlah bersyukur karena punya tantangan. Tanpa tantangan... terbukti ikan-ikan lainnya mati sebelum tiba di pantai. Atau, ada tantangan... tetapi karena malas bergerak dan enggan berpikir serta tidak bersyukur diberi tantangan maka akhirnya... mati!

Lalu... kenapa kita malah bertanya-tanya, "kenapa kita yang diberi tantangan berat ini?" Dilihat dari sisi berpikir positif, tantangan yang selalu menerpa kita akan menguatkan “otot” hidup kita, seperti otot ikan di atas. Tantangan pasti menyebabkan kita terus berpikir dan berupaya untuk mengatasinya. Mahasiswa pasti lebih berat tantangan ujian, skripsi, Tugas Akhir daripada murid SD. Maukah mahasiswa diberi tantangan menjawab soal ujian dan tugas-tugas untuk murid SD?


Tantangan itu akan dapat diatasi kalau kita bekerja di bidang tugas masing-masing dengan rasa tanggung jawab. Kalau melihat teman malas-malasan, kita jangan ikut bermalas-malasan. Apalagi punya pikiran, “dia malas tapi gajinya sama dengan aku yang rajin.” Memang, kelihatannya gajinya sama tetapi... pasti berbeda berkahnya. Malah..., bekerjalah yang banyak karena akan banyak juga balasan-Nya. Bekerja itu pun tidak selalu harus fisik. Bisa juga duduk-duduk tetapi otak terus berpikir dan jari tangan mengetik di komputer. 

Bekerja adalah bagian dari belajar, dan belajar perlu tantangan, seperti hiu. Kita harus mampu menciptakan “hiu” yang mengejar dan menguntit kita ke mana pun kita pergi agar pikiran tetap “hidup”. Lantas, apa bentuk ikan “hiu” yang Anda ciptakan? **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar