• L3
  • Email :
  • Search :

12 September 2021

STASIUN KROYA

STASIUN KROYA

Sudah lupa, kapan pastinya saya kali pertama (bukan pertama kali, menurut EYD atau PUEBI) naik kereta api. Yang pasti waktu itu masih di SD. Waktu ke Bandung. Waktu itu adalah zaman “seadanya”. Kereta masih dikelola seadanya. Yang penting kereta bisa jalan. Bisa antar penumpang. Rasa nyaman belum dijadikan prioritas. Kondisi aman pun belum diutamakan. Pernah terjadi kecelakaan tragis pada tahun 1987. Bulan Oktober. Waktu itu saya tinggal di Bandung. Di Lebak Gede yang sekarang menjadi Sabuga ITB. Dua kereta api seperti “adu domba”, berjalan di rel yang sama. 156 orang meninggal, 300-an luka-luka. Lantas difilmkan dengan judul Tragedi Bintaro. 

    (Foto diambil dari Wikipedia). 

Tentu ada sejumlah kecelakaan kereta lainnya. Ada yang tergelincir dari relnya, ada yang menabrak motor, mobil, bis, truk, dll. Tapi biasanya kereta terus melaju karena umumnya dalam posisi yang benar. Yang salah adalah pelanggar rambu lalu lintas, pelanggar lintas batas palang rel dan jalan raya, Namun demikian, kereta api tetaplah dicinta, disukai, dan dibutuhkan. Tiada hari tanpa kereta yang berjalan di atas relnya. Kali ini saya akan cerita perihal stasiun kereta api. Namanya Kroya. Singkat dan enak didengar. Terdengar seperti Korea atau Keria atau Karya.

Saya tidak ingat lagi (waduh… tidak ingat lagi?). Waktu sekolah di SD, ada buku pelajaran bahasa Indonesia. Salah-satu topik bahasannya berjudul “Ke Kroya” atau Pergi ke Kroya”. Saya berharap semoga saya bisa menemukan buku itu lagi, entah di pedagang loak atau di perpustakaan. Saya berkesan membaca cerita tentang Stasiun Kroya di buku itu. Apalagi di Bali tidak ada kereta api pada waktu itu. Sampai sekarang. Kesan itu terpatri kuat sampai akhirnya naik kereta api pada kali pertama itu. Akhirnya sering juga naik kereta api, pergi-pulang, selama menjadi mahasiswa di ITB. Kadang-kadang naik kereta ekonomi, kadang-kadang kereta bisnis. Naik kereta api Mutiara Selatan: Bandung-Surabaya Gubeng dan Mutiara Timur: Surabaya Gubeng- Banyuwangi (stasiun lama, bukan stasiun Banyuwangi Baru yang dekat pelabuhan Ketapang).

Kembali ke cerita tentang Kroya. Saya tidak ingat lagi (hhmm… memang tidak pernah diingat?) kapan lagu Di Tepinya Sungai Serayu dijadikan lagu kedatangan kereta di Kroya. Saya terkesan pada lagu ini. Setiap memasuki stasiun Kroya selalu saja menantikan lagu ini. Belakangan saya baru tahu, lagu itu diperdengarkan juga di Maos dan Purwokerto. Malah stasiun Purwokerta adalah pelopornya. Begitu katanya. Tetapi Kroya menjadi berkesan karena ada di buku pelajaran SD pertengahan dekade 1970-an. Namanya singkat, enak di dengar, hanya dua suku kata. Kro dan Ya. Kroya. Ternyata, ini juga saya baru tahu belakangan, Kroya adalah stasiun pertemuan jalur kereta api dari Bandung, Cirebon, Jogja, Surabaya. Hhmm.. sibuk sekali stasiun ini. Padat, merakyat, semangat. Seperti semangat Achilles di dalam film Troya. Kuda Troya, ini juga film yang bagus... 

Baiklah, lagu kedatangan kereta di stasiun yang berketinggian +11 m (mdpl: , meter di atas permukaan laut) disematkan di bawah ini. Ini diunduh dari kanal youtube milik Anwar Zakaria, https://www.youtube.com/watch?v=L53qhC-fpHY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar