• L3
  • Email :
  • Search :

8 Desember 2014

Surat Untuk Tuhan

Surat Untuk Tuhan
Oleh Gede H. Cahyana


Hujan deras pekan ini disertai angin puting-beliung, merusak sawah dan ladang di desa pinggir kota. Seorang lelaki paruh baya bermuram durja. Sambil bicara dengan istrinya, ia merapikan selimut usang ke dada anak keduanya lalu duduk di dekat Si Sulung yang murid SD.

“Enam bulan ke depan kita tidak punya bahan makanan. Singkong dan ubi belum jadi, keburu dihantam badai, bu” lirihnya.

“Ya pak,” singkat kata istrinya, perempuan asli desa di lereng gunung itu.

“Padi dua bulan, rebah ditutupi banjir. Tak ada yang bisa menolong kita.”

Meskipun ia dan istrinya tidak lulus SD, tidak pandai, tetapi ada secercah iman dan harapan.

“Tuhan akan menolong. Tidak akan mati kelaparan,“ gumamnya dalam yakin.

Ia lantas merobek selembar kertas dari buku lusuh anaknya, dan dengan terbata-bata, ia tulis satu-dua huruf, dua-tiga kata hingga menjadi kalimat. “Tuhan, sawah dan kebun rusak. Habis tak bersisa. Singkong dan ubi makin sedikit di dapur. Jagung habis. Tolong beri kami uang lima juta rupiah.”

Esoknya, ia berbegas ke kantor pos, pagi-pagi. Setelah ditempeli prangko biasa, ia serahkan kepada pegawai kantor Pos dan langsung pulang.

Begitu membaca alamat tujuan di sampul surat itu, pagawai kantor Pos tertawa lebar. Kepala cabang kantor Pos itu pun tidak bisa menahan tawanya. Berderai-derai tawanya sehingga perutnya makin menyembul ke luar sela-sela kancing bajunya.

Sejurus kemudian, ia terkesiap. Ia salut kepada lelaki itu. Imannya tinggi, pikirnya. Ia masih percaya pada adanya Tuhan. Lelaki dusun, bodoh, dan miskin itu, masih punya harapan. Ia lantas mengajak pegawai kantor Pos itu menyumbang sukarela dan meneruskannya juga ke warga di sekitar kantor, termasuk menelepon kantor pusat.

“Terkumpul juga uang tetapi tidak sejumlah yang diminta lelaki itu. Tak apalah.” Kepala kantor Pos lantas menulis surat untuk lelaki desa itu.

Dua hari berselang, lelaki itu mendatangi kantor Pos dan menanyakan surat balasan dari Tuhan. Dengan sopan, kepala kantor Pos memberikan surat yang berisi uang. Riang hati lelaki itu dan balik ke rumah.

“Tidak mungkin. Ini hanya dua juta rupiah. Sisanya ke mana?”

Ia pun merobek selembar kertas dari buku lusuh anaknya dan menulis lagi. Segera ke kantor Pos dan tanpa bicara langsung dimasukkan ke kotak surat.

Kepala kantor Pos langsung membuka dan membacanya. “Tuhan, terimakasih, uang sudah kuterima. Tetapi jumlahnya kurang. Tolong kirimkan kekurangannya langsung ke rumah. Jangan lewat Pos lagi. Sebab, pegawai kantor Pos kota ini pencuri semua.” *** 

(Ide dari: Surat Buat Tuhan, Gregorio Lopez y Fuentes). (Maaf kepada pegawai Pos di manapun, tiada maksud buruk, ini hanya tulisan fiktif atau cerita saja).

1 komentar: