• L3
  • Email :
  • Search :

15 Juli 2015

Elizabeth Dunn: Sedekahlah, Lalu Dapatkan Bahagia

Elizabeth Dunn: Sedekahlah, Lalu Dapatkan Bahagia
Oleh Gede H. Cahyana


Seseorang sering berkata, “Aku akan bahagia kalau aku sudah menikah”. Padahal saat ini dia masih belia, sepantaran SMA. “Bahagianya diriku kalau aku sudah menjadi sarjana”. Padahal dirinya masih SMA atau baru semester dua. “Alangkah bahagianya aku, kalau anakku sudah menikah”. Saat ini anaknya masih di SD. “Bahagia diriku kalau aku sudah punya rumah seluas 1.000 m2 dan berlantai tiga”. Padahal saat ini rumahnya sudah tipe 250 m2, dua lantai, dan ada kebun di belakangnya. Begitu seterusnya, sangat banyak orang yang ingin bahagia tetapi dihalangi oleh dirinya. Oleh dirinya, bukan oleh orang lain. Mereka menunda meraih bahagia sekarang menjadi sekian tahun yang akan datang dengan mematok syarat-syarat berat. Padahal bahagia itu bisa diperoleh saat ini, sekarang juga.

Di dalam buku Cara Hidup Sehat Islami, dr. Tauhid Nur Azhar, Ph.D mengutip sebuah artikel dari majalah Science. Di majalah ilmiah tersebut, seorang pakar psikologi di University of British Columbia, Vancouver, Canada bernama Elizabeth Dunn membuktikan pada penelitiannya bahwa bahagia bisa mudah diperoleh. Dunn merilis hasil risetnya pada majalah Science Vol. 318, tahun 2008. Simpulan risetnya, seseorang akan bahagia setelah ia memberikan uang atau hadiah kepada orang lain. Makin banyak uang atau hadiah yang diberikan, makin bahagia dirinya. Ada 109 orang mahasiswa yang ditelitinya kemudian hasilnya ditulis dalam artikel ilmiah dengan judul provokatif: Spending Money on Others Promotes Happiness.

Dunn dan rekannya membagi objek penelitiannya menjadi dua kelompok. Kelompok kesatu diberi kebebasan dalam memilih jumlah uang, apakah 20 dollar atau 5 dollar. Hasilnya bisa ditebak, para mahasiswa memilih yang 20 dollar dan berkata bahwa mereka lebih bahagia dengan uang 20 dollar daripada 5 dollar. Mahasiswa itu juga menyatakan bahwa mereka akan membelanjakannya untuk keperluan dirinya, bukan untuk orang lain.Pada tahap berikutnya, Dunn dan timnya memberi 46 mahasiswa lain amplop berisi uang 5 dollar atau 20 dollar. Mereka tidak diberi kebebasan dalam berbelanja tetapi mereka disuruh membeli barang-barang yang sudah ditetapkan oleh Dunn dan timnya.

Hasilnya, mahasiswa yang mengeluarkan uang untuk amal kemanusiaan atau memberikan hadiah kepada orang lain ternyata lebih bahagia daripada mahasiswa yang menggunakan uang tersebut untuk melunasi rekening pribadinya atau untuk bersenang-senang sendiri. Dengan memberi, mereka mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan plus yang tidak diperoleh pada orang yang membelanjakan uang hanya untuk kepentingannya sendiri. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa tetapi juga pada kelompok karyawan perusahaan di Boston. Tim riset Dunn meneliti karyawan pada waktu sebelum dan sesudah diberi bonus dengan besaran beragam. Tim juga mengumpulkan data karyawan seperti data gaji, pengeluaran dan tingkat kebahagiaan pada 632 orang di Amerika Serikat. Simpulan risetnya pun menarik. Dalam kedua kelompok tersebut, kebahagiaan ternyata ada hubungannya dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk orang lain daripada jumlah absolut gaji atau bonusnya.

Analisis ilmiah perihal sifat dermawan, pemurah, filantrofis ini berkaitan erat dengan respons defensif manusia yang sifatnya antisipatif. Manusia cenderung mempertahankan miliknya sekuat daya dan kemampuannya, bahkan sampai kikir. Istilahnya, pelit kikir kedekut buntut kasiran, mere ge hese. Faktanya memang, nyaris semua manusia cemas dan takut kehilangan harta, tahta, dan kenyamanan hidupnya sehingga mampu mengoyak pusat kesadaran emosi di otaknya yang bernama amigdala. Makin cemas dirinya, makin luas sebaran rasa takutnya dan menjadi fondasi buruk bagi dirinya lantas menimbulkan sikap egosentris, agresif, dan curiga. Orang yang dikuasai oleh sifat ini akan menjadi pendek akal, tidak berpikir untuk masa yang jauh ke depan. Karena sifat buruk itu dapat muncul kapan saja, di mana saja, dan dalam kondisi apa saja, maka Allah SWT memberikan solusi berupa kegiatan mengeluarkan zakat, infak dan sedekah, dan wakaf (ZISW).

ZISW adalah untuk mengingatkan manusia bahwa semua karunia yang diperolehnya adalah titipan sementara dari Allah. Kemampuan manusia melewati atau melompati mental barrier atau hambatan mental kepemilikan dan takut kehilangan menghasilkan dampak yang luar biasa. Muncul kesadaran yang mampu menjernihkan pikiran sehingga bebas dari ketakutan akan kehilangan. Secara neurologi, ini diproses di lokasi penting seperti nukleus acumben, girus singulata, dan nukleus raphe. Sebab, ketakutan yang lama dan “dipelihara” dapat memblokir jalur-jalur cerdas di dalam otak. Dengan mengeluarkan ZISW maka gembok pemblokir mental itu dapat dibuka sehingga jalur berpikir cerdas siap menghasilkan solusi terhadap masalah yang ada. Ini berkaitan dengan kadar kortisol yang berpengaruh pada sistem imun. Tubuh menjadi kuat dalam melawan kuman penyebab penyakit. Maka, ZISW tidak sekadar dapat melipatgandakan rejeki, menyehatkan jiwa tetapi juga mampu menyehatkan badan dan menajamkan pikiran.

Masih ada satu hari lagi untuk menunaikan ZISW. Tentu saja harus cermat agar penerima ZIS adalah golongan orang yang fakir, miskin, dll (ada delapan kelompok atau asnaf). Delapan golongan inilah yang layak menerima ZIS. Perlu diingat, zakat adalah harta milik orang lain (fakir miskin) yang bisa menjadi “karena nila setitik rusak susu sebelanga” kalau tidak dibuang (dikeluarkan). Hanya 2,5% atau 1/40 saja harta fakir-miskin yang ada di dalam harta orang kaya. Adapun wakaf, memiliki aturan dan kriteria tersendiri sehingga perlu dibahas khusus. Wakaf ini sifatnya monumental seperti tanah, gedung, ribuan buku dan bisa juga wakaf dana abadi. 

Selamat membayar zakat, infak, sedekah, wakaf dan zakat fitrah. Selamat merayakan Idul Fitri 1436 H dan maaf apabila ada kesalahan pada artikel ini. 

Taqabbalallahu minna wa minkum. *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar