• L3
  • Email :
  • Search :

8 April 2020

Air PDAM Melawan Corona

Air PDAM Melawan Corona
Oleh Gede H. Cahyana
Pengamat Sanitasi Lingkungan Universitas Kebangsaan

Tanggal 22 Maret 2020 adalah peringatan Hari Air Dunia yang paling sepi sejak digelar pertama kali pada tahun 1993. Tidak ada seremonial. Dengan tema Water and Climate Change, Air dan Perubahan Iklim, peringatan ini sesungguhnya berkaitan dengan wabah penyakit menular, selain curah hujan abnormal sehingga banjir atau kekeringan, gagal panen, dan kenaikan muka air laut. Di dalam buku Bioteknologi dan Lingkungan yang terbit tahun 1994 Vandana Shiva menulis dampak perubahan iklim terhadap hal tersebut, termasuk indikasi terjadinya mutasi virus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus Corona baru (novel Coronavirus) berkaitan dengan virus sebelumnya. Virus yang dinamai SARS-CoV-2 ini masih satu keluarga dengan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV atau SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV atau MERS). Artinya, virus-virus tersebut memiliki kesamaan sifat fisika dan biokimia. Tetapi yang paling bahaya adalah virus hasil mutasi terakhir seperti Corona ini. Penyakit akibat virus baru ini dinamai CoViD-19, Coronavirus Disease-19, penyakit karena Corona yang muncul tahun 2019.

Cara melawan
Tentu ada cara untuk melawan Corona. Yang pertama adalah tindakan preventif dengan cara memperkuat daya tahan tubuh, kekebalan atau imunitas. Orang sehat akan sulit diinfeksi oleh virus. Kesehatan diperoleh dengan makan makanan bergizi cukup: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air bersih. Termasuk rempah, rimpang, sayur dan buah bervitamin C.

Yang kedua adalah tindakan kuratif dengan pengobatan dan isolasi. Penderita CoViD-19 dirawat di ruang khusus sehingga virus tidak bisa ke luar ruang dan mati di ruang perawatan pasien. Sebaran virus pun bisa dihentikan. Sementara itu imunitas pasien terus diperkuat sehingga bisa bertahan dan melewati masa kritisnya sampai sehat kembali. Hanya dokter dan perawat saja yang boleh kontak dengan pasien dengan mengikuti prosedur standar protokol penyakit menular.

Yang ketiga adalah tindakan mekanis, yaitu melawan Corona dengan zat kimia. Orang sakit bisa menyebarkan virus dari muncratan air liur pada saat batuk atau bersin. Juga dari cairan hidung yang melekat di benda-benda sekitarnya. The New England Journal of Medicine menyatakan bahwa Corona bisa bertahan tiga jam di dalam aerosol. Bertahan empat jam di permukaan tembaga, bertahan 24 jam di karton, dan tiga hari di permukaan plastik dan logam stainless. Oleh sebab itu, gagang pintu, finger print, pensil, kertas, rel tangga dan eskalator, kursi di angkot, bis, kereta api, dan semua benda bisa menjadi sumber Corona. Maka mengurangi sentuhan dengan semua benda tersebut di ruang publik menjadi penting dengan cara bekerja, belajar, beribadah di rumah selama masa inkubasinya, sekitar14 hari.

Bagaimana praktik cara mekanis tersebut? Caranya adalah mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Sabun batangan dibuat dari natrium hidroksida dan sabun cair dari kalium hidroksida. Di pasaran keduanya ada yang ditambah dengan antiseptik seperti triclosan atau triclocarban yang masih diperdebatkan plus-minusnya. Selain sabun juga bisa dengan alkohol 70% atau produk komersial yang berisi alkohol seperti sanitangan (hand sanitizer), baik buatan pabrik, industri rumahan maupun buatan sendiri. Hanya saja, sabun dan sanitangan itu relatif mahal. Harganya terus naik karena banyak yang membutuhkan.

Air PDAM
Yang paling murah adalah air PDAM. Air ini mengandung klor sehingga mampu membunuh bakteri dan virus. Sifat klor yang digunakan oleh PDAM antara lain (1) toksik bagi mikroba pada konsentrasi yang tidak berbahaya bagi manusia dan hewan; (2) cepat bereaksi membunuh bakteri dan virus dengan waktu kontak yang singkat; (3) tahan lama sehingga mampu menanggulangi rekontaminasi di zone distribusi; (4) ekonomis (murah) dan mudah diperoleh; (5) mudah dianalisis di laboratorium; dan (6) mudah dalam menentukan dosisnya.

Menurut EHS Water yang dirilis 5 Maret 2020, yaitu Advice note to EHS on COVID-19 in chlorinated drinking water supplies and chlorinated swimming pools, Version 3, klor adalah oksidator kuat yang mampu merusak DNA bakteri dan RNA virus. Bakteri biasanya menjadi inang bagi virus. Kalau bakterinya mati maka virusnya juga mati. Parameter yang digunakan untuk pembasmian ini adalah hasil kali konsentrasi (C) klor dan lamanya waktu kontak (t) yang ditulis Ct. Rekomendasi WHO dengan mengutip Environmental Protection Agency, Water Treatment Manual Disinfection (2011) adalah nilai rerata minimal Ct = 15 mg.menit/liter, yaitu hasil kali konsentrasi 0,5 mg/l sisa klor dengan waktu kontak selama 30 menit. Dinyatakan bahwa Coxsackievirus, Poliovirus dan Rotavirus adalah virus tidak berselimut (non-enveloped virus) yang bisa dibasmi pada nilai Ct kurang dari 15 mg.menit/liter. Karena Corona termasuk virus berselimut (enveloped virus) maka bisa dibasmi dengan nilai Ct yang lebih rendah.

Bagaimana kalau tidak berlangganan PDAM? Bisa dengan kaporit tablet yang dijual di toko kimia. Cara membuatnya, masukkan sebutir kaporit tablet ke dalam 500 - 1.000 liter air di toren (tangki). Apabila habis, masukkan lagi 1 butir. Akan tercium bau kaporit “seangin” atau sekilas saja, ini sudah cukup. Tetapi hindari menarik napas dalam-dalam di atas air toren tersebut karena klor bersifat korosif, menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terpapar. Sebaiknya gunakan masker kalau ingin melihat apakah butir kaporit tablet masih ada atau sudah habis.


Dengan demikian, untuk melawan sebaran Corona ini maka masyarakat, pengurus masjid, gereja sekolah bisa memanfaatkan air PDAM atau air berklor buatan sendiri. Disarankan juga agar PDAM menambah dosis klornya sehingga air di lokasi terjauh dari instalasi pengolahan airnya masih memiliki sisa klor bebas. Sisa klor bebas inilah yang akan membasmi bakteri dan virus Corona selama digunakan untuk mencuci tangan, mandi atau berwudhu.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar