• L3
  • Email :
  • Search :

13 Juni 2012

Unesco: Subak adalah Warisan Budaya Dunia

Ke Bali, Kunjungilah Museum Subak
Oleh Gede H. Cahyana

Dimuat di Merpati Archipelago, Inflight Magazine, Edisi 14, Juli 2012

Dulu, pada waktu Gede Ardika menjadi Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, beliau men- cetuskan eco-tourism dan sawah dijadikan salah satu objek unggulannya. Secara harfiah, ecotourism tak sekadar menjual lingkungan (environment), bukan envitourism, tetapi lebih luas lagi, yaitu budaya khas daerah. Di Bali, apabila kita bicara tentang sawah maka produk budaya lokalnya, yaitu subak, tak bisa dilepaskan. Di St. Petersburg, Rusia, pada 20 Juni 2012, Unesco (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) resmi menetapkan Subak menjadi warisan budaya dunia setelah pemerintah Indonesia mem- perjuangkannya selama 12 tahun. 

Menurut sejarah, subak atau suba krama (kerukunan yang baik), seperti tertulis pada lontar pajangan di museum itu, sudah ada pada abad ke-14 M. Ada juga yang mengatakan bahwa subak mulai eksis pada abad ke-7 Masehi, merujuk ke tulisan Nyoman S. Pendit di dalam buku “Membangun Bali” (Pustaka Bali Post, 2001) yang dikutipnya dari hasil riset tim Universitas Udayana. Menurut Dr. Goris, di buku tersebut, sudah ada sejak 600-an Masehi. Sekarang, khazanah khas yang terdiri atas 1.193 subak seluas 98.679.915 ha itu (akurasi angka ini diragukan sebab luas Bali lebih-kurang 5.633 km2 (Jensen dan Suryani di dalam buku “Orang Bali”, Penerbit ITB, Bandung, 1996), kata Pendit, telah ditiru oleh berbagai daerah: di Jawa Tengah bernama Darmatirta, di Jawa Barat jadi Mitracai dan Tolai di Sulawesi Tengah.

Situs Langka
Menyambut ketetapan Unesco ini, hendaklah Pemkab Tabanan membuat brosur yang baik kualitasnya, isinya tentang riwayat subak, sejarah museum, latar belakang pendirian, kapan, dan biayanya. Yang juga penting adalah uraian tentang maksud, manfaat, dan isu transenden yang terkandung di dalam “pusaka-pusaka” itu, selain, mengapa situsnya dibangun di Tabanan. Hal-hal seperti itu masih banyak yang belum tahu. Diharapkan Museum Subak bisa menetas menjadi opsi baru objek wisata unggulan di Tabanan. Apalagi “museum” lapangannya sudah ada, yaitu di Jatiluwih, di lereng Gunung Batukaru. Teraseringnya tiada tara. Meski sama-sama dingin-berkabut, panoramanya lebih spektakuler dibandingkan dengan Batu di Malang, Puncak di Cianjur, maupun Tangkubanparahu di Bandung. Didukung lagi oleh kondisi keamanannya yang kondusif bagi investasi di sektor wisata. Sungguh bernas. 

Yang diperlukan setelah penghargaan dari Unesco adalah upaya Pemkab Tabanan untuk mengenal- kannya ke seluruh Indonesia dan dunia. Ada harapan, jumlah turis asing yang ke Indonesia akan terus meningkat, mencapai 3 - 4 juta orang. Apabila separuhnya landing di Bandara Ngurah Rai, lalu setengahnya berhasil digaet ke museum itu, bisalah dihitung berapa besar PAD Kabupaten Tabanan. Undanglah investor untuk membuat sinetron atau film, seperti film-filmnya Garin Nugroho, yang ber-setting subak dan lokasi shooting-nya di Museum Subak, Jatiluwih, dan sekitarnya. Terbitkan juga buku yang berisi usulan pakar dan praktisi wisata di Bali agar lebih realistis.

Terakhir, himbauan untuk Pemprov Bali, Pemkab Tabanan dan anggota dewan, agar makin peduli pada aset dunia ini. Pada saatnya kelak, bukan Tanah Lot, Beratan, dan Bedugul saja yang menjadi unggulan sumber PAD Tabanan, tapi juga Museum Subak. Apalagi lokasinya strategis, di pinggir jalan Denpasar-Gilimanuk, 20 km ke arah barat Denpasar dan 100 km dari Gilimanuk, ke arah timur. Kalau ini terwujud, bakal banyak turis yang wisata ke Sangulan, tempat yang pernah diplesetkan menjadi Song of land-nya Bali; Gita tatar (Gitar) Bali. Good luck. *

Foto: baliwisata
ReadMore »

24 Mei 2012

Tips Belajar di Perguruan Tinggi

Tips Belajar di Perguruan Tinggi
Oleh Gede H. Cahyana


[Selamat buat yang lulus UN. Untuk yang belum lulus, ikutlah ujian paket atau kesetaraan. Bisa juga ikut tahun depan. Hidup ini rahasia, banyak yang gagal UN tetapi justru sukses finansial dalam wirausahanya. "Siapa saja yang bersungguh-sungguh, akan berhasil"]

Mulai Mei 2012 ini, semua perguruan tinggi, baik sekolah tinggi, institut, akademi, politeknik, maupun universitas melaksanakan penerimaan mahasiswa baru. Calon mahasiswa pun sibuk mendaftarkan diri. Ada yang ingin lulus di PTN (perguruan tinggi negeri), ada juga yang lebih suka langsung mendaftar ke PTS (perguruan tinggi swasta) tanpa ikut ujian SNMPTN. Ada juga yang akhirnya kuliah di PTS karena tidak lulus SNMPTN. 

Namun demikian, di mana pun kuliah, di PTN maupun PTS, hakikatnya sama, yaitu sama-sama menjadi masyarakat akademis. Patut diakui, perguruan tinggi memiliki relung khas di hati mayoritas masyarakat. Buktinya, banyak yang ikut ujian SNMPTN. Juga banyak yang kuliah di PTS. Secara nasional, jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 3.070-an unit, 83 unit berupa PTN (3%). Sisanya PTS (97%). Oleh sebab itu, hendaklah pemerintah berupaya mengembangkan PTS karena menjadi salah satu tiang kekuatan pendidikan dan riset di Indonesia. 

Sebagai pusat keunggulan, perguruan tinggi adalah sumber pemikir (think tank). Sejarahnya bisa ditarik jauh ke masa sebelum Masehi, ke zaman Yunani kuno ketika cendekiawannya membagikan ilmu dari rumah ke rumah termasuk ke istana raja. Salah satu filosof dan pakar geometri yang akrab di telinga kita ialah Phytagoras (580 – 500 SM), sang penemu rumus untuk menghitung sisi miring (hypotenuse) segitiga siku-siku. Hanya saja, menurut sejarah, Platolah dianggap penemu perguruan tinggi bernama Academy. Rintisannya ini dilanjutkan Aristoteles dengan mendirikan Lyceum. Lantas kian berkembang pada masa Romawi, pada masa Islam di Timur Tengah dan Asia Barat lalu bergerak ke Eropa pada masa renaissance (renesans, pembaruan) hingga sekarang. 

Faktanya, masyarakat masih memandang prestisius jenjang pendidikan tinggi karena banyak hal baru di dalamnya. Belajar di SMA, SMK, atau Madrasah Aliyah biasanya bersifat monolog. Di perguruan tinggi berbeda. Di kalangan kampus, cara belajarnya lebih mengutamakan dialog. Secara ringkas di bawah ini diberikan tips belajar di perguruan tinggi untuk mahasiswa baru, baik yang kuliah di PTS maupun PTN. Poin-poin di bawah ini bersifat fleksibel, bisa diperluas atau dipersempit. 


Tips Belajar

Inilah tips belajar untuk mahasiswa.

  1. Jadikan belajar sebagai hobi. Sikap ini membantu konsentrasi kamu dan mengurangi stres. Kata pakar pendidikan Gordon Stokes, 80% kesulitan belajar terkait dengan stres.
  2. Jangan bolos. Jika kuliahnya membosankan karena dosennya kurang komunikatif atau materinya sulit, teruslah hadir. Kalau sering absen, kamu akan rugi biaya, tak dapat ilmu dan mungkin tidak lulus. Agar bisa belajar efektif, kata Stockwell, kamu harus melihat, mendengar, dan merasakan. Bolos berarti kehilangan ilmu. Catatan memang bisa dipinjam dari teman, tetapi tidak semua ucapan dosen akan sempat dicatat. Kuliah mutlak perlu untuk menguatkan kesan visual dan melatih alur berpikir.
  3. Buatlah catatan kuliah. Catat yang penting-penting saja. Agar cepat, gunakan singkatan atau kode khas buatan kamu dan mudah diingat. Jangan asal tulis, tapi berpikirlah saat mencatat.
  4. Jika belum mengerti, bertanyalah. Jangan malu bertanya karena teman pun mungkin belum mengerti. Teman kamu pasti berterima kasih karena kamu bertanya tentang sesuatu yang dia pun belum mengerti meskipun tak diucapkannya.
  5. Setiap selesai kuliah, bacalah catatan sekali lagi. Sekilas saja. Lalu cari penjelasan detail di buku teks. Buatlah catatan ringkas dari setiap topik yang dibaca.
  6. Temukan gayamu. Setiap orang punya cara khas dalam belajar. Jika suka musik, putarlah musik favoritmu atau gunakan headset. Jika suka sepi, carilah tempat dan waktu yang pas agar suasananya sunyi.
  7. Buatlah grup belajar agar sering diskusi. Anggotanya cukup lima orang. Temuilah dosen atau asisten jika ada kesulitan dalam memahami kuliah.
  8. Bacalah buku yang disarankan dosen. Garisbawahi atau stabiloi kata, kalimat penting (jika buku milik sendiri). Jika buku pinjaman, foto kopilah bagian yang perlu saja atau catat dengan kalimat sendiri.
  9. Menjelang UTS, UAS segarkan ingatan dengan mengulang (review) bahan kuliah. Jangan lakukan SKS: sistem kebut semalam.
  10. Last but not least, jadikan belajar sebagai ibadah agar semangat. Ingatlah, mahasiswa adalah masyarakat akademis berciri cerdas, egaliter, senang membaca, menulis dan mengembangkan ilmu dan teknologi (iltek) yang berbasis imtak (iman dan takwa).
Karena bebas berpendapat secara lisan dan tulisan, mahasiswa jangan segan apalagi takut bertanya kepada dosen. Dosen yang baik selalu siap memberikan penjelasan kepada mahasiswanya. Sikapnya terbuka, mau menerima pendapat mahasiswanya yang berbeda. Artinya, dosen tidak selalu betul karena ilmu dan teknologi terus berkembang. 

Selamat belajar.*

ReadMore »

18 Mei 2012

Amien Rais, Empat Belas Tahun Lalu

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, Indonesia sedang genting-gentingnya. Pada pekan itu Presiden Soeharto sedang berada di luar negeri. Salah satu negara yang didatanginya adalah Mesir. Sementara itu, di dalam negeri kegawatan terus berubah dari detik ke detik. Percepatannya sangat terasa. Sejumlah aksi demo kian marak. Mahasiswa dari 99,99% perguruan tinggi bergerak. Tak hanya di Jakarta, tapi juga di Bandung, di Yogya, Solo, Semarang, Surabaya, Makasar, Medan, Padang, dll. Semuanya bersatu menyerukan perlawanan terhadap status quo yang dilakoni Orde Baru. 

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, seorang dosen UGM, Amien Rais namanya, diisukan akan ditangkap. Orang Jawa ini memang sedang merancang pertemuan besar di Monas. Itu sebabnya, bala tentara telah disiapkan untuk menggagalkan acara itu dan bila perlu menindaknya secara tegas. Isu ini terus meletus dan sampai juga ke telinga rakyat kecil. Mereka tak rela pemimpinnya dinista seperti itu dan bersama mahasiswa mereka ikut bergerak. Gedung MPR-DPR dijejali ratusan ribu manusia, bahkan sampai sesak hingga radius satu kilometer. Luar-dalam gedung milik rakyat itu sarat rakyat. Mereka menagih miliknya kepada wakil-wakilnya yang tetap bersikukuh atas pilihan mereka.

Bulan ini, yaitu 21 Mei, empat belas tahun lalu, terjadi peristiwa sejarah yang abadi selamanya. Soeharto, presiden yang berkuasa nyaris 32 tahun, akhirnya turun. Lengser keprabon, tanpa mandeg pandhito. Kulihat semua orang yang ada di gedung DPR-MPR itu menangis. Menangis sejadi-jadinya. Kulihat mereka saling berpelukan, berbaur. Tua muda, anggota dewan dan mahasiswa, semuanya kulihat mengusap air mata. Bahagia tak terkira. Satu tahap perjuangannya telah berbuah. Mereka tahu, banyak pengorbanan yang telah keluar. Tak hanya tenaga, uang, pikiran, perasaan, tapi juga nyawa kawan mereka. Peristiwa Semanggi dan sederetan lagi peristiwa lainnya. Entah berapa banyak orang yang hilang dan tak diketahui kabarnya sampai sekarang. 

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, Prof. Dr. Habibie mulai menjalankan tugasnya sebagai presiden. Pertentangan terjadi. Mekanismenya dianggap salah. Runyamlah lagi suasana. Namun akhirnya para politisi dan ekonom Indonesia dapat memberikan pengertian kepada mayoritas pihak bahwa Habibie hanya sementara. Ia menjadi presiden sampai jangka waktu tertentu, yaitu sampai Pemilu. Ini sudah dilaksanakannya. Pemilu multipartai. Tapi sayang, satu kesalahan terbesar Habibie adalah lepasnya Timor Timur dari NKRI. Tragis memang. Setelah puluhan ribu nyawa melayang, Timtim akhirnya bukan milik kita lagi. Ia menjadi negara baru bernama Timor Leste dan Xanana Gusmao menjadi presiden.

Kembali ke sosok Amien Rais. Dialah orang pertama yang berani menyuarakan isu suksesi tanpa huru-hara. Itu dilontarkannya tahun 1993, ketika baru saja Soeharto terpilih kembali menjadi presiden. Dalam rentang waktu lima tahun itu, yaitu dari 1993 sampai 1998, Amien Rais selalu berada di garda depan. Ia bahkan dicerca oleh semua lawan kampus dan lawan politiknya. Bahkan di PP Muhammadiyah pun ia dilawan, ketika ia menjadi ketuanya. Dari sekian poin kasusnya, artikel berjudul Inkonstitusional di Republika inilah yang melambungkan namanya dan dianggap kontra-Orde Baru padahal dia seorang PNS. Bagi Orde baru, PNS adalah Golkar, sebuah organisasi yang tak mau mengaku sebagai partai tapi selalu berpolitik. Aneh memang. ABRI pun masuk ke Golkar. Tak heran Golkar menang dengan suara telak pada masa itu. 

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, Amien Rais berhasil membawa lokomotif yang menarik gerbong berisi 180 juta orang waktu itu. Ia antarkan sampai stasiun untuk kemudian berganti masinis dan melanjutkan perjalanan lagi. Mau ke mana? Tentu saja arahnya bergantung pada mayoritas rakyat Indonesia, lewat mekanisme Pemilu. Jika masih terus saja mau bodoh dan rela diperbodoh, maka hasilnya takkan lebih baik daripada masa Orde Baru dulu. Cuma akal dan pikir inilah yang mampu melepaskan diri kita dari kungkungan kebodohan, ketidakadilan, dan kenistaan. Bayangkan, sekarang kita sudah 235 juta orang! Sangat potensial untuk melawan kesialan selama ini, bukan?

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, Amien Rais membuktikan satu perkara penting, yaitu: tetap berada di jalur kebenaran, sekuat apa pun badai menerjang. Ujungnya, semua berakhir. Mau sebagai pecundang atau pemenang? Itu semua adalah opsi kita. Bagai angsa yang memilih tumpahan susu di kolam berlumpur. Akal sehat adalah kuncinya.*

Artikel ini sekadar kilas-balik, refleksi atas reformasi yang diawali oleh seorang dosen bernama Amien Rais.

Foto: Vivanews.com
ReadMore »

16 Mei 2012

Apa Kabar Hari Buku Nasional?


Sejak dicanangkan tahun 1980, setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Ini bertepatan dengan peresmian Perpustakaan Nasional di Jakarta. Bagaimana peran buku bagi perkembangan masyarakat? 


Buku itu pintu ilmu; jendela dunia. Membaca buku sama dengan membuka tirai dunia, membawa dunia lebih dekat dengan kita. Malah ada di tangan kita, dalam lembaran kertas berisi tulisan bermakna, kalimat- nya tertata dengan struktur tertentu yang bervariasi. Inilah makna buku secara klasik konvensional. 

Buku itu gudang ilmu. Yang lebih tepat, menurut saya, buku adalah ladang ilmu. Ladang tempat menyemaikan benih. Benih yang unggul akan bagus hasilnya. Benih buruk, buruklah buahnya. Tak heran ada buku yang menjadi ladang maksiat, mengubah pikiran orang menjadi marxis dan melekatkan ateisme di selaput kelabu otaknya. Bersamaan dengan itu, ada buku yang menjadi ladang kebaikan, menggiring orang pada kebenaran dan hiburan bagi kalbu.

Kekuatan Buku
Lewat buku kita menjadi makin tahu. Orang yang belum pernah ke Alaska menjadi tahu kondisi di sana lewat koran, majalah, tabloid atau buku. Buku-buku tentang kedigjayaan bangsa dan budaya Mesopotamia di Irak zaman dahulu bisa kita ketahui lewat buku juga. Yang belum pernah mendaki Himalaya di India menjadi tahu cerita tentang makhluk Yeti yang misterius itu, juga dari buku. Tentang jagat raya atau makrokosmos seperti planet, bintang-gemintang, asteroid, komet, matahari hingga galaksi, alam renik semisal bakteri-kuman, juga bisa didapat di buku. Sejarah tentang kertas atau papirus dan riwayat mesin cetak Gutenberg juga dapat ditelusuri di buku-buku.

Pendeknya, semua ilmu dan teknologi mulai dari ajaran agama, sekte kepercayaan, teknologi lama dan baru, sejarah dan situs purbakala hingga Zaman Dinosaurus bisa diretas lewat buku. Tak berlebihan jika buku disebut penyambung lidah sejarah. Ia meniti dan melintasi zaman sambil mendata pernak-pernik adat dan budaya di setiap daerah. Sebagai penyambung kebudayaan, buku begitu penting bagi masyarakat beradab yang selalu berpikir maju. Catatan ilmu dan teknologi dari sejumlah buku dipelajari oleh ilmuwan dan teknolog, lalu diuji coba di laboratorium kemudian hasilnya dituangkan di dalam buku juga. Bagaimanapun, buku adalah salah satu alat komunikasi antarilmuwan lintas agama, lintas budaya, lintas negara, dan..., ini yang penting: lintas masa.

Itulah kekuatan buku. Banyak yang percaya pada kemampuan buku untuk menyebarkan sainstek di tengah perkembangan radio, televisi, komputer, internet (blog, FB, Twitter) atau apa saja pada masa depan. Bahkan kehadiran ponsel dengan SMS-nya justru makin membiasakan orang menulis catatan singkat. Ini bisa menjadi cikal-bakal munculnya penulis-penulis buku di kalangan remaja, terlepas dari SMS itu yang—kata pakar bahasa—merusak bahasa kita. Facebook juga sama, dapat membiasakan Fbers menulis apa saja, meskipun sekadar satu-dua kata, baik dianggap penting maupun tidak oleh Fbers lainnya. Yang penting...., menulis.

Yang pasti, baik SMS, e-mail, Fb, Twitter, maupun surat biasa lewat pos adalah sarana pembiasaan menulis dan mengemukakan pendapat secara tertulis yang tertata. Pasti ada sisi positifnya, sekecil apapun ia. Untuk tahap awal, amat prematur kalau kita langsung bicara soal mutu tulisan. Semua orang silakan saja menulis: mau menulis cerita fakta, silakan. Mau fiksi, boleh-boleh saja. Mau novel pop, novel picisan, atau novel sastra, semuanya sah-sah saja. Nanti masyarakat yang menilai. Pokoknya.., tulis!

Kembali ke soal buku. Buku nyaman dijinjing ke mana saja. Praktis dan mudah diakses. Kapan mau dibuka, saat itu juga bisa dilakukan. Tak perlu listrik, tanpa baterei, dan ringan. Sambil santai di kursi, sembari berbaring atau lesehan, waktu berjemur di pantai, mudah dilakoni. Bahkan, untuk mengirim surat ke pacar zaman cinta monyet di SMP-SMA dulu banyak yang diselipkan di dalam buku cerita seperti Lima Sekawan, Sapta Siaga, novel pop, atau buku-buku paket mafikibi (matematika, fisika, kimia, biologi).

Selamat menulis, selamat memperingati Hari Buku Nasional, 17 Mei 2012.*

Salam Buku

Gede H. Cahyana
Foto: Solopos
ReadMore »

30 April 2012

Buruh a la Robert T. Kiyosaki

Buruh a la Robert T. Kiyosaki
Oleh Gede H. Cahyana

Mayday, 1 Mei disebut sebagai Hari Buruh, hari untuk para pekerja-kerah-biru (blue collar worker). Majikan pabrik pasti butuh buruh. Malah, buruh sangat berjasa bagi majikannya. Tanpa buruh, tak adalah majikan. Tanpa buruh, tak ada produksi, tak ada produk. Tanpa buruh, ekonomi mandeg. Begitu pun, tanpa majikan yang punya pabrik, buruh pun tak ada atau tak bisa bekerja. Tanpa projek dari APBN-APBD, tak ada buruh. Tanpa putaran roda ekonomi, buruh pun tak dibutuhkan. Jadi, kedua belah pihak sama-sama saling membutuhkan, saling dibutuhkan. Idealnya, saling give and take.
Itu sisi idealnya. Buruh-majikan saling butuh. Interaksi mutualisme. Hanya saja, seperti pada masa Orde Baru dulu dan terus berlangsung sampai sekarang, terjadi rekayasa dalam kaitannya dengan undang-undang. Buruh selalu dikalahkan oleh pemerintah dan legislatif karena kekuatan uang. Undang-undang dimanipulasi, atau minimal dibelokkan dari arah sebenarnya. Lembaran fulus selalu saja memutar pikiran aparat negara sehingga tak waras lagi hatinya. Otaknya stabil, tapi hatinya beringas memandang uang. Terjadilah eksploitasi manusia atas manusia. Bahkan undang-undang adalah uang. Rancangan peraturan apapun adalah projek bagi anggota dewan dan eksekutif, menghabiskan uang rakyat.

Salahkah kita berempati pada buruh? Jika kita bukan buruh karena merasa PNS, anggota TNI-Polri, pegawai BUMN-BUMD, guru-dosen, dll, coba bayangkan sebentar saja. Bayangkanlah ini. Mereka rata-rata pergi pagi pulang sore atau pergi sore pulang dini hari. Bahkan ada yang harus berangkat sebelum subuh untuk menanti bis jemputan. Terlambat tiga menit saja, dia ditinggal dan harus keluar ongkos angkot atau bis kota. Jika tak berangkat kerja, tak lama lagi dia bisa dipecat dengan alasan indisipliner. Bahkan kadang-kadang alasannya mengada-ada. Sebab, majikan dan manajernya sudah yakin pada kalimat bertuah ini: pecat satu, seribu melamar. Esa hilang seribu terbilang. Betul-betul buruh sudah tak berharga lagi di depan majikannya, terutama majikan dari negeri seberang.

Hanya saja, mari kita simak tulisan Robert T. Kiyosaki, penulis buku Cashflow Quadrant. Begini katanya, semua orang adalah employee alias pekerja alias karyawan alias pegawai alias buruh jika kita bukan seorang pebisnis dan/atau investor. Jadi, semua profesi, menurut Kiyosaki, adalah buruh kalau bukan pebisnis dan/atau pemodal. Dengan berpikir seperti ini, maka orang yang bukan pebisnis, bukan investor, akan punya empati kepada buruh, terutama buruh yang betul-betul bekerja dengan andalan fisik belaka. Sebab, yang berkerah putih (white collar worker) pun sebetulnya buruh juga, tetapi mereka lebih suka disebut pegawai atau karyawan. *

Foto: vivanews.com
ReadMore »

25 April 2012

Sejarah Jln. Imhoff Tank di Bandung

Oleh Gede H. Cahyana


Jalan Gajah Mada tidak akan kita temukan di Bandung. Sebaliknya, Jl. Imhoff Tank cuma ada di Bandung. Nah, mengapa jalan yang disebut terakhir itu berbau asing dan satu-satunya di Indonesia, tentu ada riwayatnya.

Tahun 1916, sepuluh tahun setelah Bandung berstatus gemeente (21 Februari 1906), dan setahun sebelum Meneer B. Coops menjadi walikota (burgemeester) Bandung yang pertama (1917), pemerintah Belanda ingin warganya hidup saniter. Saat itu, Bandung dibagi menjadi dua wilayah: barat dan timur dengan Sungai Cikapundung sebagai garis sempadan. Waktu itu, dua pertiga warganya tinggal di belahan barat. Maka, selain mendirikan “PDAM” yang dikelola oleh Technische Dienst Afdeling, Belanda juga membuat instalasi pengolah air limbah (IPAL) domestik di belahan barat.

Terlihat betapa seabad lalu, meskipun penjajah, Belanda sudah peduli pada ling- kungan di tanah jajahannya. Padahal kala itu, pence- maran air belumlah separah sekarang. Lalu, mengapa Imhoff Tank yang dipilih, bukannya activated sludge (lumpur aktif) temuan Ardern dan Locket yang lebih dulu berkembang? Sebab, selain murah, unit yang patennya dipegang oleh Dr. Karl Imhoff (1904, pakar air limbah dari Jerman), unit ini juga terbaik kinerjanya saat itu. Ia unggul daripada unit pengolah lain karena berupa pengolah bikamar atau “dual-purpose two-story tank” yaitu ruang hidrolisis dan sedimentasi.

Air limbah rumah tangga warga Belanda dialirkan lewat saluran sepanjang 14 km di sepanjang jalan akses yang dinamai Jln. Imhoff Tank menuju IPAL dan air olahannya dibuang ke Sungai Citepus, di dekat IPAL-nya. Tapi sayang, unit ini sekarang sudah rusak dan dipenuhi lumpur. Pemkot Bandung menggantinya dengan kolam oksidasi di Bojongsoang seluas 85 ha dengan panjang total saluran sekitar 300 km.

Ingin wisata ke sana? Mudah saja. Lokasinya satu kilometer arah timur terminal bis Leuwipanjang, menyusuri Jln. Soekarno - Hatta (By pass), sebelum Jln. Moh. Toha. Warga setempat, khususnya orang-orang tua, biasanya tahu lokasinya. *

Foto/gambar: Wikipedia

ReadMore »

19 April 2012

Gubernur Jakarta: Wajib Cerdas Lingkungan


Pemilihan gubernur DKI Jakarta sebentar lagi. Siapa yang akan dipilih? Yang dipilih sebaiknya yang punya kecerdasan lingkungan (enviro intelligence, quotient). Ini faktanya. Dulu ada program Segar Jakartaku, Hari Tanpa Kendaraan Bermotor, juga Langit Biru. Ada juga Prokasih, Program Kali Bersih

Apa hasilnya? Jakarta kian gerah, langit kelabu dan disesaki banjir. Malah Ciliwung dinobatkan menjadi WC terpanjang di dunia. Taruhlah penduduk Jakarta 10 juta orang. Jika satu juta orang ber-WC di Ciliwung secara langsung dan tak langsung, maka ada 100.000 m3/hari air limbah masuk ke Ciliwung. Ini setara dengan 10 buah lapangan sepakbola yang digenangi air setinggi satu meter. Monas, istana presiden dan sekitarnya pun tenggelam oleh air WC ini setiap hari.

Enviro Quotient (EnQ) itulah yang luput dari gubernur Jakarta. Mereka dan jajar- annya tidak cerdas ling- kungan tapi hanya berbekal kecerdasan otak. Miskin pula kecerdasan akhlaknya. Sejak 1970-an wanti-wanti ini dirilis oleh Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo (alm). Begawan ekonomi penulis Science, Resources, and Development ini pada tahun 1977 telah memperingatkan pemerintah bahwa akan terjadi booming dan blooming teknologi yang dapat menjadi bumerang bagi manusia kalau tidak arif dalam menyikapinya. Mantan menteri ini menyatakan bahwa harus ada teknologi protektif (protective technology) atas lingkungan. 

Teknologi protektif pada masa sekarang justru menjadi poin terpenting karena berkaitan langsung dengan kelestarian fungsi lingkungan, keterkaitan antara manusia dan alamnya. Semua manusia tanpa kecuali, kaya miskin tua muda, dapat menjadi agen perusak atau pemberdaya lingkungan. Sudah pula terbukti, deretan gelar akademik seseorang dan kepangkatannya di TNI-Polri tidak berkorelasi linier dengan pemahamannya atas persoalan lingkungan. Tak sedikit orang-orang pintar dan berjabatan-berpangkat itu justru menjadi pelaku masif balak-liar (illegal logging). Nihil sense of belonging, tak hendak menjadi pemangku (stakeholders) fungsi lingkungan. 

Sebaliknya, ada orang yang tidak sekolah, tak berbasiskan ilmu lingkungan, tidak memiliki teori ilmu lingkungan tetapi sudah melaksanakan pelestarian fungsi lingkungan. Contohnya Mak Eroh. Beliau meninggal pada usia 70 tahun pada September 2004 dan dipredikati sebagai pahlawan hijau oleh penduduk Desa Pasirkadu. Apa yang dikerjakannya sampai dihadiahi Kalpataru pada tahun 1988? Wanita ini hanya mencangkul dan mencangkul seorang diri, setapak demi setapak selama berminggu-minggu untuk membuat saluran air. Ketika kanal itu sudah mencapai 2 km dan sudah 47 hari mencangkul sendirian, barulah warga desa membantunya. Awalnya warga mencibir dan menganggapnya gila. Lantaran “Mak Eroh Aquiduct” itulah desanya menjadi hijau.

Nyata di pelupuk mata, betapa orang awam sudah menjadi penggerak bela lingkungan, tinggi kecerdasan ling- kungannya. Tanpa pidato mereka langsung beraksi. Mereka sudah peduli lingkungan meskipun disebut orang lugu, bahkan bodoh. Saksikan saja tradisi ujung ladang masyarakat Melayu di Sumetera Utara misalnya, mereka senantiasa berwawasan lingkungan kalau membuka hutan. Meskipun menebang pohon, selalu saja ada vegetasi pelindung yang tersisa. Pola ini membantu menahan tanah agar tidak erosi, longsor, atau merusak tanaman. Suku Dayak di Kalimantan punya tradisi Nyaang. Mereka biasa membuat lajur isolasi pada ladang atau ketika membabat hutan untuk melokalisir kebakaran. Begitu pun awig-awig di Bali, selektif menebang pohon. Tradisi sasi di Saparua Maluku berlaku di darat atau di laut atas komoditi yang haram dieksploitasi untuk waktu terbatas. 

Jika demikian, satu pertanyaan reflektif, siapa yang lebih peduli lingkungan, masyarakat awamkah, ataukah politisi-birokrat? Dalam spirit Enviro Quotient, tak hendakkah kita belajar dari kearifan tradisional itu? Apakah kepedulian politisi-birokrat, kalah oleh kalangan tradisionalis itu? Kapankah ada pejabat publik yang tak sekedar peduli dalam retorika politiknya ketika bicara soal lingkungan? Adakah partai politik yang tak sekedar proforma dalam membuat divisi lingkungan? Sudah saatnya kita memilih gubernur yang paham masalah dan mampu menyelesaikan masalah lingkungan. Pilihlah calon gubernur DKI yang tinggi Enviro Quotient-nya. 

Akhir kata, ada pesan dari E. F. Schumacher, Krisis lingkungan terjadi bukan karena pengembangan sains dan teknologi, tetapi hasil dari sikap mental dan life-style (gaya hidup) dunia modern. Semoga nanti muncul politisi berlabel enviro, enviropolitician yang tak sekadar vokalis sehingga advokasi enviro-nya hanya proforma belaka. Juga dicari birokrat yang tinggi sense of enviro-nya sehingga tak sekadar menjadi dust in the wind. ***
 
Foto: chillphy's Blog.

ReadMore »

14 April 2012

Sisi Lain dari Sosok Kartini

Kartini dipingit, sudah luas diketahui. Beliau berkebaya, sudah pula diikuti. Dijadikan ikon oleh gerakan feminisme di Indonesia, bisa dianggap demikian. Lagu perihal "putri sejati" itu pun sering dinyanyikan anak TK dan SD. Buku kumpulan surat-suratnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, boleh jadi tiada yang tak tahu. Tapi pernahkah kita membacanya atau minimal melihat bukunya?

Ada satu hal lagi. Populerkah sisi lain Kartini di mata khalayak? Faktanya, sisi lain ini belum banyak diketahui, malah cenderung dientaskan. Tarung ideologis yang terus membebani psikisnya tak banyak diungkap. Ia menangis menatap kehidupan kaumnya yang ditindas penjajah. Adat Jawa pemasung wanita sebagai dampak buruk kolonial Belanda terus meluas. Sampai-sampai ia dibujuk untuk pindah agama oleh Ny. van Kol. Tegaslah jawabnya, ”Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini. Serta dengan nyonya kami berharap dengan senangnya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama kami, patut disukai (21 Juli 1902).
 
Hal kedua yang nyaris tak bergema ialah semangat menulisnya. Kepandaiannya dalam olah kata ini jarang dipaparkan. Ketika jutaan orang Indonesia buta huruf pada akhir abad ke-19 itu, Kartini justru mampu menulis. Tak tanggung-tanggung, selain Zeehandelaar, sahabat penanya adalah keluarga J. H. Abendanon, M.C.E. Ovink Soer, T. H. van Kol, dll. Nilai plusnya kian bertambah lagi lantaran tak semua orang yang (sering) membaca akan mampu pula menulis (dalam arti mengarang) pada zamannya. Lantas, kenapa kepioniran Kartini dalam berkorespondensi tak dijadikan pemicu kemampuan baca-tulis kaum wanita khususnya dan masyarakat umumnya?

Aneh, memang! Padahal sepuluh hari setelah Hari Kartini, yaitu 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tiga pekan berikutnya sudah pula disambut Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei. Terlebih lagi dimaklumi bersama, hanya lewat pendidikanlah kita bisa bangkit menjadi negara yang tekno-sainstifik. Hanya orang yang melek huruflah yang bakal berkembang ilmunya. Tapi nyatanya pejabat di Depdiknas dan Disdik belum juga optimal menumbuhkan spirit belajar, baik di kalangan guru maupun muridnya. Program yang dirilisnya terbukti sekadar politis dan lips service belaka. Sekali jadi lalu mati.

Yang juga salah kaprah dan masih terkait dengan Hardiknas dan Harkitnas itu ialah bahwa bangsa ini “bangkit” lantaran kehadiran pergerakan Budi Utomo. Menurut sejarawan George McTuman Kahin, penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia, bukan Budi Utomo pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia, melainkan Kartini. Alasannya, terang Prof. Ahmad M. Suryanegara dalam buku Menemukan Sejarah, Kartini tak hanya berjuang untuk perempuan, tetapi juga untuk membangkitkan bangsanya dari kehinaan. Jika ditilik dari waktunya, periode hidupnya memang mendahului periode Budi Utomo.

Namun sayangnya, spirit “pergerakan” Kartini hanya dimaknai secara selintas. Pola peringatannya sama dengan pola puluhan tahun lalu. Tiada kebaruan dalam upaya menghargai perjuangan Kartini. Yang banyak dipublikasikan justru hal remeh seperti kebaya, kain, sanggul dan konde. Anak-anak disuruh mengenakan kebaya sambil melenggang-lenggok. Parahnya lagi, murid lelakinya disuruh mengenakan baju perempuan dan berperilaku seperti perempuan. Lucu memang lucu, tetapi pola didik seperti itu mendekatkannya pada penyimpangan seksual kelak. Lomba itu pun isinya hura-hura, lepas dari aspek kognitif yang menjadi inti perjuangan Kartini. 

Dari sisi sosiologis juga terjadi pemarjinalan spirit Kartini yang jauh dari pola pikir kaum feminis sekarang. Mengatasnamakan pembelaan hak-hak perempuan mereka memlintir hakikat perjuangan Kartini. Di antaranya soal poligami. Tak pernah sekali pun digembar-gemborkan oleh sejumlah kalangan bahwa Kartini ketika menikah berstatus menjadi istri keempat. Djojoadiningrat, suaminya itu, sudah beristri tiga dengan tujuh anak ketika menikahi Kartini. Putri tertua suaminya terpaut delapan tahun dengannya. Perkawinan itu berlangsung pada 8 November 1903. Perkawinan ini praktis menyudahi perlawanannya terhadap praktik poligami di masyarakat Jawa. Setelah diboyong ke Rembang menjadi raden ayu di kabupaten, Kartini tidak lagi bicara soal kedudukan perempuan atau menyerang poligami, bahkan juga cita-citanya mengenai pendidikan. Sangat boleh jadi ia sudah berdamai dengan lingkungannya. (Majalah Tempo, 17 April 2006).

Patut diakui, sebelumnya Kartini menentang praktik poligami. Tapi yang dicercanya ialah raja atau susuhunan yang istrinya puluhan. (NB: Amangkurat I menanggalkan gelar Sultan lalu menyandang gelar Susuhunan sebagai ekspresi penolakan atas pengaruh ulama yang bergelar Suhunan. Dia menambah suku kata “su” sehingga menjadi dua kali, yaitu Susuhunan sekaligus menolak syariat Islam termasuk hukum pernikahan: maksimum empat istri. Maka terjadilah perkawinan tanpa batas. Tak dapat dimungkiri, raja-raja itu memang memiliki berhektar-hektar tanah dan menerima “upeti” dari “rakyatnya” setiap panen. Kekayaannya, untuk lingkup lokal memang luar biasa. Membiayai 30 anak pun mereka mampu dan tanpa masalah!

Kembali ke soal Kartini. Justru di situlah letak masalahnya, yaitu fenomena yang menyeruak ke masyarakat dan dengan gegabah mengganti hukum syariat Islam dengan hukum adat yang mengizinkan lelaki menikahi perempuan sebanyak-banyaknya. Oleh sebab itu, ia menulis surat kepada Zeehandelaar yang isinya kisah nestapa perempuan Surakarta pada masa itu. Katanya,” Di sana hampir tiada seorang juga laki-laki yang perempuannya hanya seorang, dalam kalangan bangsawan, terutama lingkungan susuhunan seorang laki-laki sampai 26 orang perempuannya.Ini ditulisnya pada 23 Agustus 1900, tiga tahun sebelum ia menikah. Demikian tulis sejarawan Ahmad M. Suryanegara dalam buku tersebut.

Kegeramannya melihat jahiliah sosial itu akhirnya diabadikan dalam suratnya kepada Stella. “Aku hendak, aku mesti menuntut kebebasanku. Stella, aku hendak perdengarkan kepadamu. Manakah aku akan menang bila tiada berjuang. Manakah aku akan mendapatkan bila aku tiada mencari. Tiada perjuangan, tiada kemenangan; aku berjuang Stella, aku akan merebut kemerdekaanku. Aku tidak gentar karena keberatan dan kesukaran, perasaanku aku cukup kuat mengalahkan semuanya itu”. Curahan hatinya itu menjadi penguat betapa Kartini, waktu itu usianya 21 tahun (1879 – 1900), membenci hukum adat. Ia melawan dengan sekuat tenaga justru ketika perempuan lain sezamannya nrimo-nrimo saja dan terseret arus kebelanda-belandaan. 

Patutlah dikedepankan, sikap renaisans pemahaman Kartini itu dipicu oleh Qur’an. Ia menulis surat kepada anak Abendanon yang bernama E. C. Abendanon,” Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami. Kartini telah mengikrarkan kitab suci agamanya sebagai gunung kekayaan (ilmu).” Kemudian hadirlah deretan kata yang “abadi” dan selalu dikutip pada Hari Kartini. Ini terjadi pada 17 Agustus 1902,” Sekarang ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang teguh-teguh di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.” Kata-kata “habis gelap terbitlah terang” itu bersumber pada Al Qur’an: minazh zhulumati ilan nur

Akhirnya, mari peringati Hari Kartini dengan cara yang mendidik, tak sekadar berkebaya, bersanggul-konde dan berjalan pelan bak siput. Jangan “racuni” anak TK dan SD dengan model jahiliah lantaran Kartini membenci kejahiliahan itu. Beliau justru ingin menerangi, agar habislah kegelapan ini menjadi keterangan. Gantilah pola perayaannya dengan lomba yang meningkatkan kualitas pikiran seperti lomba menulis (surat, cerpen, novel, artikel, pidato, dll) agar mampu menulis seperti Kartini. *

Daftar Pustaka
1. Pane, Armijn, Habis Gelap Terbitlah Terang, Balai Pustaka, Djakarta, 1951.
2. Suryanegara, A. M, Menemukan Sejarah, Mizan, Bandung, 1995.
3. Majalah Tempo, 17 April 2006
4. Foto, Wikipedia, April 2012.

Sambutlah Hari Kartini. *
 
ReadMore »

25 Februari 2012

Ketertinggalan Jawa Barat Selatan

Ketertinggalan Jawa Barat Selatan
Oleh Gede H. Cahyana
-------------------------------------------------------------------------

Di bawah ini adalah tulisan singkat tentang konsep pengembangan wilayah Jawa Barat bagian Selatan, lebih menjurus pada konservasi fungsi lingkungan. Pembangunan setiap satuan ekonomi dan sosial harus tetap menjaga fungsi lingkungan agar tetap seperti sebelum diubah peruntukannya.

Kondisi Eksisting
Ciri khas bentang alam di wilayah Jawa Barat bagian Selatan adalah pantai yang langsung diikuti oleh dataran tinggi. Bahkan bibir pantai bergaris ombak indah memutih itu tampak jelas dari ketinggian di perbukitan Cianjur Selatan (600 m dpl). Bentang alam yang eksotis ini berpotensi sebagai daerah tujuan wisata, selain memiliki keunggulan komparatif sebagai daerah yang kaya gula aren, kayu, dan pertanian. Hasil laut dari bermacam-macam jenis bisa juga dijadikan sumber daya alam yang unggul.

Di balik kemolekan alam itu, ironisnya, masyarakatnya sudah lama menderita karena tidak ada jalan yang bisa memperlancar arus barang yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Semua warga tanpa kecuali mengeluhkan kondisi jalan yang sulit dilewati karena hanya berbatu pecah yang sering memecahkan ban kendaraan dan sebagian ruas yang lain hanya bertanah merah yang licin saat gerimis. Kalau ban kendaraan sudah pecah sekali alamat akan pecah berkali-kali, seperti dari Cirendeu menuju Cisaranten dan Sindangbarang.

Dengan kondisi seperti di atas, dapat dibayangkan, betapa berat murid-murid SD setiap hari harus berjalan kaki ke sekolahnya menyusuri jalan licin, rawan longsor dan berada di pinggir hutan. Sampai di sekolah mereka tidak langsung belajar tetapi membuka bekal dulu untuk sekadar sarapan nasi atau lontong dengan ikan asin. Ketika hujan mereka tidak bisa belajar hingga selesai pada siang hari karena segera dipulangkan oleh gurunya agar tidak kemalaman atau terjebak di jalan sepi. Kehujanan di jalan berarti harus berteduh di gubuk-gubuk reyot di tepi jalan semalaman tanpa lampu teplok, apalagi listrik. Gelap. Hanya gulita yang menemani serta derat-derit gesekan dahan dan daun dihembus angin kalau mereka tidak dijemput oleh orang tuanya sebab orang tuanya pun takut menjemput karena hujan. Guru pun pulang lebih awal naik motor yang juga berbahaya karena jalannya licin dan tebingnya rawan longsor. Padahal inilah satu-satunya jalan yang menghubungkan Cianjur Selatan dengan Kabupaten Bandung (Ciwidey).

Kejadian nyaris sama terjadi di sepanjang Jawa Barat Selatan, mulai dari Pangandaran sampai ke Ujung Genteng. Wajiblah pemerintah pusat dan daerah mengembangkan wilayah Jawa Barat Selatan dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, agama, dan potensi bentang alamnya. Dalam tulisan ini disampaikan beberapa pandangan untuk peningkatan kualitas ekonomi, sosial, pendidikan, keamanan dan pelestarian fungsi lingkungan. Isu strategis wilayah Jawa Barat Selatan ialah kesenjangan di berbagai sektor seperti disebut di atas. Perkembangan Jawa Barat Selatan relatif rendah akibat keterbatasan infrastrukturnya. Prioritas pengembangan bisa ke arah ekonomi pariwisata pantai, perikanan, dan pengembangan sumber daya manusia. Itu sebabnya, sekolah hendaklah dibangun mulai dari SMP hingga perguruan tinggi, minimal kursus dan sekolah kejuruan (SMK perkebunan dan kelautan). 

Badan Pengelola
Untuk mengawali percepatan pembangunan di Jawa Barat Selatan itu, perlu ada badan yang mengurusinya dengan tugas:
  1. Menyusun Rencana Induk dan Rencana Kegiatan Pengembangan Sarana dan Prasarana serta Pengembangan Wilayah Jawa Barat Selatan.
  2. Mengupayakan pelabuhan untuk perikanan dan perdagangan di lokasi yang tepat secara geologis, geografis, dan sosio-ekonomis.
  3. Membuat fasilitas yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi warga Jawa Barat Selatan dengan membangun jalan akses dan/atau kereta api Timur-Barat-Tengah Jawa Barat dan berhubungan dengan berbagai jalan tol eksisting.
  4. Penyediaan infrastruktur bidang Teknik Lingkungan seperti air baku, air minum, air limbah, drainase, persampahan, sumber energi, dan telekomunikasi.
Dengan demikian, pengembangan wilayah Jawa Barat Selatan akan terintegrasi dengan pengembangan Jawa Barat bagian tengah yang memang sudah terhubung dengan Jakarta dan berbagai pelabuhan dan bandara di Jawa Barat. Objeknya ialah prasarana transportasi (jalan, jembatan, pelabuhan, bandara dsb); prasarana kesehatan (jaringan pipa air minum, drainase, air limbah, pengelolaan sampah); prasarana energi dan komunikasi (jaringan kawat transmisi dan pembagi, jaringan telepon dsb).

Kebutuhan prasarana untuk mendukung pengembangan Jawa Barat Selatan sbb:

a. Transportasi
  1. Jaringan jalan dan prasarana penunjang. Pengembangan jaringan jalan harus berhubungan dengan sistem transportasi nasional dan regional.
  2. Kereta api. Pengembangan jaringan rel kereta api dari Timur ke Barat dan dikoneksikan dengan jaringan rel yang sudah ada, termasuk kereta api wisata.
  3. Transportasi laut. Pengembangan transportasi laut: pelabuhan internasional, nasional, regional, atau lokal.
  4. Transportasi udara. Pengembangan bandara domestik regional, terutama untuk pengangkutan hasil bumi dan perikanan, termasuk wisatawan.
b. Energi
  1. Kebutuhan pengembangan energi meliputi listrik dan gas. Pengembangan energi listrik dengan opsi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya, atau energi biogas yang berasal dari kotoran ternak dan hutan.
c. Utilitas.
  1. Kebutuhan pengembangan utilitas wilayah adalah penyediaan sumber air baku, air minum, air limbah, persampahan, drainase, energi, dan telekomunikasi.
Konsep Pengembangan
Bagaimana metode untuk mengembangkan wilayah Jawa Barat Selatan? Kata kuncinya ialah bersahabat dengan lingkungan agar tidak menjadi bumerang pada masa depan seperti terjadi sekarang akibat keburukan konsep pembangunan pada masa lalu. Ada tiga konsep yang diutarakan, yaitu:

A. Konsep pengembangan berkelanjutan
B. Konsep pengembangan yang bersahabat dengan lingkungan
C. Konsep pengembangan timbal-balik dengan pembangunan sumber daya manusia.

A. Konsep pengembangan berkelanjutan
Konsep pembangunan yang diterapkan harus “berkelanjutan”. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Penjabaran pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga tiang utama (pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan keberlanjutan lingkungan) yang saling bergantung.

Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan adalah mengutamakan hubungan yang berkesinambungan antara pembangunan wilayah dengan konservasi lingkungan sekitarnya.

B. Konsep pengembangan yang bersahabat dengan lingkungan.
Konsep pembangunan yang bersahabat dengan lingkungan ialah konsep pengembangan yang berlanjut terus (sustainable development). Pembangunan yang sinergi dengan lingkungan mengedepankan keselarasan antara pengembangan wilayah dengan konservasi lingkungan, yaitu pengembangannya tidak fokus pada pembangunan semata tetapi juga memperhatikan kelestarian fungsi lingkungannya. Dalam pengembangan wilayah Jawa Barat Selatan ini perlu ditekankan agar terwujud sustainable environmental and development.

Berdasarkan konsep tersebut maka pembangunan harus mengacu pada:

1. Keberlanjutan Lingkungan
a. Pembangunan dikembangkan secara jelas peruntukan daerahnya.
b. Ada buffer zone untuk pelestarian fungsi lingkungan.
c. Struktur bangunan harus ramah terhadap lingkungan
d. Konsep clean production dalam pengadaan jaringan air limbah.
e. Air minum yang langgeng sumbernya, catchment area terlindungi.
f. Pendekatan 3R dalam pengelolaan sampah dan sanitary landfill.

2. Pembangunan Ekonomi
a. Pembangunan wilayah harus mendukung industri kecil di daerah.
b. Alokasi lahan harus sesuai dengan fungsinya.
c. Sediakan air bersih, salurkan air limbah/sampah, transportasi, dan listrik.
d. Pemicu wisata bahari, wisata pantai dan pasar ikan skala internasional.

3. Pembangunan Sosial Budaya
a. Penyiapan SDM yang berkualitas dan mampu bersaing di pasar kerja.
b. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan membuka kesempatan kerja dalam pembangunan.
c. Masyarakat bisa hidup sehat dengan udara dan air bersih sesuai dengan konsep keberlanjutan lingkungan.
d. Infrastruktur perdagangan dan jasa yang dikembangkan adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan penduduk setempat.

C. Konsep pengembangan timbal-balik dengan pembangunan sumber daya manusia.
Hal ini selaras dengan konsep pembangunan yang harus mengembangkan dan meningkatkan kemampuan SDM, yaitu dengan tetap mempertahankan nilai budaya dan agamanya. Beberapa hal yang dapat dilakukan ialah:

1. Mengembangkan industri dan jasa yang menguatkan pengembangan SDM.
2. Mengembangkan prasarana yang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
3. Meningkatkan kemampuan SDM dengan tetap mempertahankan nilai budaya dan agama.

--**--

Disiapkan sebagai materi diskusi dalam Forum Jabar Selatan di rumah dinas Gubernur, Gedung Pakuan, Bandung.
ReadMore »