• L3
  • Email :
  • Search :

7 Mei 2019

Puasa dan Sakit Jiwa Menurut Al Qur’an

Puasa dan Sakit Jiwa Menurut Al Qur’an
Oleh Gede H. Cahyana

Bisakah puasa menjadi obat sakit jiwa, yaitu penyakit yang dipicu oleh kemajuan ilmu dan teknologi yang salah dalam pemanfaatannya? Menurut Dr. Achmad Mubarok dalam buku Jiwa Dalam Al Qur’an, sebuah disertasi doktor terbitan Paramadina, ada sejumlah gangguan jiwa yang diakibatkannya.

1. Cemas. Rasa ini muncul karena kehilangan makna hidup. Secara fitri kita punya kebutuhan akan makna hidup yang hanya bisa dimiliki oleh pejuang yang menyumbangkan sesuatu untuk orang lain. Orang-orang cemas biasanya mengikuti trend dan tuntutan sosial yang belum tentu benar. Sesekali saja dia merasakan kenikmatan sekejap yang palsu. Akibatnya terjadilah gangguan jiwa. Puasa Ramadhan diharapkan menjadi kawah Candradimuka bagi insan-insan cemas.

2. Sepi. Ini muncul karena hubungan silaturahim tidak tulus lagi tetapi memakai topeng-topeng sosial yang palsu sehingga hubungan menjadi gersang, mengidap rasa sepi yang kronis padahal berada di keramaian. Tidak bisa menikmati senyum orang lain sebab dianggap topeng belaka seperti ketika dia tersenyum kepada orang lain. Pujian dipandangnya sebagai basa-basi belaka.

3. Bosan. Ini akibat rasa cemas dan sepi yang berkepanjangan. Hidupnya tak bergairah. Jiwanya kosong, mirip orang yang bermobil mewah tapi jiwanya becak; HP-nya Android tapi memakai bahasa isyarat tangan. Makan makanan merek luar negeri tapi wawasan gizinya rendah. 

Harta, tahta, dan jabatannya tinggi tapi jiwanya hampa. Semua atribut, simbol, gelar, baju, sepatu, dasi, mobil, cincin, arloji, rumah, dan banyak lagi yang lain tampak modern namun pikirannya tidak menguasai ilmu-teknologi. Di pentas nikmat sekejap, sampai di rumah dia cemas dan sepi kembali. Lantaran bosan inilah dia masuk ke lingkaran narkoba, bunuh diri, racun diri atau gantung diri.

4. Perilaku menyimpang. Kalau rasa cemas, sepi dan bosannya terus menggayut, maka dia mudah melakukan perilaku buruk tanpa sadar seperti merampok padahal dia tak butuh uang, memperkosa tanpa tahu siapa yang diperkosa, membunuh tanpa ada sebab kenapa harus membunuh sehingga hidupnya menjadi semrawut.

5. Psikosomatik. Empat hal di atas jika terus terjadi dapat menyebabkan sakit fisik, sakit lantaran faktor jiwa dan sosial. Menjadi psikosomatik yang dalam bahasa Arab disebut nafs jasadiyah atau nafs biolojiyah. Yang sakit jiwanya, tetapi dalam ujud sakit fisik. Makanya tak heran dia selalu mengeluh jantungnya berdeba-debar tanpa sebab, merasa lemah, tak enak badan atau tidak bisa konsentrasi dan sakit maag (tukak lambung).

Oleh sebab itu, yang ingin sehat jiwa dan raga tentu saja, hendaklah mencari harta halal untuk disedekahkan. Gunakan untuk kemaslahatan orang lain. Saat puasa Ramadhan ini ada peluang jiwa kotor itu masih bisa disucikan dengan riyadhah al nafs atau tazkiyah al nafs seperti infak (zakat, zakat fitrah), shalat, kesucian seksual rumah tangga, dan bergaul yang santun secara lisan dan perbuatan.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar