• L3
  • Email :
  • Search :

7 Mei 2019

Sehat Menurut WHO dan Puasa

Sehat Menurut WHO dan Puasa
Oleh Gede H. Cahyana

WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa sehat adalah state of complete physical, mental, and social well-being, not merely the absence of disease or infirmity. Sehat adalah keadaan sejahtera sempurna jasmani, ruhani, dan sosial, tak hanya tanpa adanya penyakit atau kelemahan saja.
Maka, ada tiga syarat sehat, yaitu sehat jasmani, sehat ruhani, dan sehat sosial. Andaikata ada orang yang sangat kuat-sehat fisiknya, rajin shalat dan saum Ramadhan plus saum sunnah dilaksanakannya, umroh - hajinya berulang - ulang, tetapi tidak peduli pada orang-orang fakir, miskin terutama perihal pendidikan dan pembekalannya agar mereka bisa mandiri, maka dia belum disebut orang sehat. Dia masih “sakit” secara sosial

Seorang Hujjatul Islam, Imam Al Ghazali, mengelompokkan puasa (shaum) menjadi tiga tingkat.

Yang pertama, saum umum (awam), yaitu puasa yang sekadar menahan lapar, haus/dahaga dan syahwat. Beliau menandaskan, tingkat ini yang terbanyak dilakukan oleh kaum muslimin.

Yang kedua, shaum khusus, yaitu puasa yang memuasakan mata, telinga, lisan dan anggota tubuh lainnya.

Yang ketiga ialah shaum khusus al khusus, selain melaksanakan dua level shaum di atas, hatinya pun ikut puasa dari segala sesuatu selain Allah dan semua yang dilakukannya lillahi ta’ala.

Logikanya, kalau kita puasa dalam taraf kesatu saja, yaitu puasa orang awam seharusnya inflasi bisa jauh berkurang pada saat Ramadhan karena berhemat. Tapi nyatanya kita jauh lebih boros lantaran segala makanan dibeli, setiap hari membuat kolak, kacang ijo, asinan, atau sirup. 

Baju pun terus ditumpuk, bertambah menjelang lebaran. Di satu sisi memang menghidupkan roda ekonomi tetapi di lain sisi ikut menaikkan harga sembako dan tidak turun lagi pascalebaran.

Ketosis, Singset Sehat Karena Puasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar