• L3
  • Email :
  • Search :

6 Mei 2019

Ketosis, Singset Sehat Karena Puasa

Ketosis, Singset Sehat Karena Puasa
Oleh Gede H. Cahyana

Hari pertama, bagi yang tidak biasa puasa Senin – Kamis, pastilah berat. Empat jam pertama mulai lemah, tubuh lelah, lesu kian parah. Menjelang buka, metabolisme tubuh sudah di tahap ketosis. Karena glukose nyaris habis, maka lemak menjadi sasaran enak. Hati (liver) lantas mengubah lemak menjadi keton. Keton inilah yang menjadi sumber energi untuk sel-sel otak dan sel lainnya. Ini seperti motor/mobil yang punya energi baru (pertamax), setelah bensin habis.


Katakanlah semacam keajaiban, yakni bahan “sampah” diolah menjadi bahan bakar yang lebih baik. “Sampah” lemak berkurang dan hebatnya lagi, yaitu otak dan mata-hati (nurani, selain liver) menjadi lebih baik. Ini berkorelasi dengan kesehatan mental, obat stress. Ada rekonstruksi fisik, juga terjadi rekonstruksi ruhani. Sekaligus dekonstruksi sel perusak dan degradasi jiwa negatif seperti nafsu buruk (lauwwamah). Keren ya.

(Kalau ini dibahas, jadi panjang tulisannya. Terutama kalau dikaitkan dengan rasa hati seperti ikhlas puasa, ingin ridha Allah, ingin tetap semangat kerja, olah raga, bahkan perang sekalipun seperti zaman Nabi Muhammad, yaitu perang Badar pada bulan puasa, malah makin kuat dan menang. Padahal pasukan nabi hanya 300-an orang sedangkan musuhnya hampir 1.000 orang. Puasa memang BUKAN bulan lemah, tapi justru bulan makin giat bekerja, berperang kalau sedang perang, berjuang, bertarung kalau sedang lomba olah raga, belajar kalau sedang ujian, dan banyak lagi yang lain. Ok, kembali ke laptop… eh ke bahasan puasa).

Setelah masuk waktu buka (breakfasting, makanya sarapan itu disebut breakfast dalam bahasa Inggris karena memang pada malam hari kita puasa, karena tidur. Jadi jangan malah makan nasi goreng jam 23.00 untuk begadang dengan alasan besok akan ujian mata kuliah), hindari makan nasi, bubur, kolak yang kaya karbohidrat kompleks. Makan kurma lebih bagus. Glukosenya siap diserap. Tapi jangan balas dendam. Sedikit saja. Juga madu, bagus tentu saja. Yang asli ya.

Lalu langsung Maghrib. Ini justru ujiannya. Mampukah kita menahan nafsu makan yang sudah ditahan-tahan sejak siang? Kalau mampu, kita termasuk orang cerdas lho. Berat melawan nafsu ini. Apalagi pas buko-basamo, semua makanan minuman tersedia. Seperti sarapan di hotel yang “all… you can eat”. Godaan besar. Kapan lagi kalau gak dimakan sekarang, mumpung gratis… dibayar kantor.. hm hm.. 

Malam hari, minum air bening saja. Tidak ngeteh, ngopi? Bagusnya sih tidak. Termasuk yang teh – kopi tanpa gula. Tapi bolehlah sedikit. Ngemil kurma sambil minum air hangat lebih bagus. Tambah madu sesendok makan. Jangan tambah gorengan, gudeg, sate, soto, lontong lagi. Laksanakan Tarawih atau Tahajjud. Maraton atau bertahap. Kemudian sahur lagi. Nasi, lauk (pilih satu: ayam, ikan, daging, telur), sayur (pilih satu: buncis, bayam, kangkung, labu, pare, toge), air dan madu. Kurma lagi? Ya bolehlah, satu biji.

Setelah Shubuh, baca buku atau Qur’an atau hadits. Atau menulis. Atau lipat baju, setrika, nyapu, lap motor/mobil. Tidur? Sebentar saja, 45 menit. Lalu ke kantor, pabrik, warung, toko, dll. Gerakkan badan. Pada tahap ini sel-sel tubuh akan mulai “marah”. Dia kelaparan sehingga bernafsu memakan lemak, protein, dan sampah metabolisme di dalam tubuh. Istilahnya autophagy, otofagi. Terjadi karena konsentrasi glukose berkurang. Insulin pun turun. Kejadian ini malah meremajakan sel-sel. Asyiik.. jadi muda. (Maaf, bukan berarti usia 52 tahun jadi kelihatan 25 tahun, he he).

Nah… ajaibnya, yang terjadi, hormon pertumbuhan malah makin kuat. Lebih tinggi daripada sebelum puasa. Makin hari makin banyak. Hormon ini menjaga otot kita tanpa lemak, mengurangi lemak sehingga sel makin sehat, jantung makin kuat, luka pun mudah sembuh. (Tapi uban tidak bisa jadi hitam lagi lho… mudah-mudahan bisa diperlambat). Tubuh pun terus memproduksi sel-sel kekebalan. Itu sebabnya, orang yang puasa pasti sehat singset. Langsing.

Semua itu adalah aspek fisik. Badan, tubuh rapuh ini. Saat mati akan kembali menjadi tanah dan air, asal-muasal manusia. “..Dan dari airlah Kami jadikan segala sesuatu yang hidup, Al Anbiya: 30. Tubuh kita 65% - 75% terdiri atas air. Minimal 63 kali Allah menyebut kata air atau yang berkaitan dengan air seperti hujan di dalam Qur’an. Aspek nonfisik juga penting. Lebih penting malah. Yaitu agar menjadi orang bertakwa. Puasa memang TIDAK otomatis mengubah orang menjadi takwa. Maka diksinya ialah mudah-mudahan”.

Ingat lagu kebangsaan Indonesia Raya? Ada kalimat: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya. Yang pertama dibangun adalah jiwanya. Ruhaninya. Akhlaknya. Adabnya. Moralnya. Etikanya. Yang kedua adalah badannya. Fisiknya. Body-nya. Ototnya. Langsingnya. Singsetnya. Six-pack-nya. Body building-nya.

Artikel: Sehat Menurut WHO dan Puasa


Untuk sementara sekian dulu. Selamat melaksanakan ibadah puasa (shaum) Ramadhan. Sukses jiwa, sukses raga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar