• L3
  • Email :
  • Search :

18 September 2012

Bandung Makin Panas



Oleh Gede H. Cahyana

Masuk paruh kedua September 2012, Bandung sudah betul-betul kering. Siang hari, udara panas sekali. Langit menyapu biru dengan awan putih mengapas di sana-sini. Matahari terik menikam Bumi. Panas! Gemeente van Bandoeng yang dibentuk tahun 1906 ini pun disinyalir makin “cekung” dan “mendung”. Penyebabnya adalah untaian masalah pada agenda ekonomi, sosial dan lingkungan seperti eksploitasi air tanah, penyediaan air bersih, sistem koleksi dan pembuangan sampah, peningkatan polusi udara, zonasi industri dan pemukiman (kumuh), penyaluran air kotor dan drainase kota.

Kota yang dulu berjuluk Bunganya Kota-kota Pegunungan di Nusantara ini memiliki daerah padat dan kumuh (slum area) di antaranya Cicadas. Buruknya fasilitas sanitasi kota mojang Priangan ini diindikasikan oleh lingkup distribusi air minumnya yang masih rendah - sedang (kurang dari 60%). Padahal salah satu penentu status sebuah kota adalah tingkat layanan air minumnya. Begitu pun masalah sampah (seperti longsor TPA Leuwigajah dengan 150-an orang tewas), sistem koleksi dan tempat penampungan sementaranya tak terurus di sudut-sudut jalan.

Hal senada terjadi juga pada riol-riolnya yang dibangun oleh BUDP (Bandung Urban Development Project) pada era 1980-an. Tak optimal kerjanya. Peningkatan layanan penyaluran air limbah di sekitar pipa induk dan cabang belum luas. Dampaknya, banyak ruas pipanya tetap “kering” karena tak ada air limbah yang masuk tapi justru terisi dan tersumbat sampah. Celakanya lagi, riol itu telah berfungsi sebagai bioreaktor anaerob sehingga muncul bau busuk.

Makin Cekung
Dengan elevasi di atas 650 m dari muka laut, dikelilingi gunung dan curah hujannya tinggi, secara teoretis cekungan Bandung takkan punya masalah air minum. Artinya, kebutuhan domestik dan komersialnya tercukupi oleh air tanah dan air permukaan. Diduga, potensi air tanah cekungan Bandung sekitar 1.400 liter/detik. Namun, jika eksploitasi berlebihan atas air tanah itu terus berlangsung, ancaman krisis air makin serius dan di beberapa tempat terjadi ambles (land subsidence) sehingga tanah makin cekung.

Saat ini kapasitas pemompaan air tanahnya sangat kritis. Air hujan yang jatuh di gunung perlu puluhan tahun untuk mengisi cekungan Bandung, karena kecepatannya sangat kecil, kurang dari 2 m/tahun. Itu pun kalau air hujannya tak langsung melimpas ke sungai menuju laut. Jika daerah tangkapan dan resapannya sangat sedikit, selain ancaman banjir juga bisa terjadi penurunan paras air tanah. Ini sudah terjadi di beberapa daerah seperti Batujajar, Cimindi, Buahbatu, Ujung Berung, Soreang, Majalaya, dan lain-lain dengan variasi penurunan 0,5 - 12 meter per tahun.

Mengingat pencekungan paras air tanah itu, maka harus ada penatalaksanaan dan diversifikasi sumber air. Pada tahap perencanaan, asumsi yang diambil oleh konsultan air bersih untuk kebutuhan air bersih orang kota agar bisa hidup higienis adalah 150 - 200 liter/orang/hari. Adapun orang desa 60 liter/orang/hari yang disuplai dari hidran umum. Namun pembagian itu sifatnya tidaklah exactly karena proyeksi kebutuhan air sudah makin kompleks. Di Parisj van Java ini (ini julukan seabad lalu, sebab sekarang sudah tidak demikian lagi), lebih dari 60% kebutuhan air masyarakatnya diambil dari air tanah. Sisanya diladeni oleh PDAM. Mestinya angka tersebut secepatnya dibalik.

Layanan PDAM untuk domestik, komersial dan industri diperluas dan pada saat yang sama sumber air baku PDAM jangan lagi dari air tanah dalam! Orientasinya harus pada pemanfaatan air permukaan (sungai, waduk) karena akan menguntungkan dalam jangka panjang. Selain itu, teknologi pengolahan air permukaan yang dapat diadopsi untuk menanggulangi pencemar telah berkembang pesat. Sampai sekarang, air permukaan dianggap tak ekonomis untuk sumber air baku, terutama dari sudut kualitas. Namun tetap harus berpikir ke depan bahwa potensi terbesar air minum adalah dari air permukaan dengan aplikasi teknologi yang tepat. Jika hal tersebut tak diindahkan, Bandung akan betul-betul makin cekung yang dampaknya tentu pada struktur bangunan khususnya bangunan tinggi dan jalan raya (tol).

Makin “Mendung”
Relokasi dan zonasi industri harus diarahkan pada lokasi tertentu saja. Dengan kata yang strict, Bandung tak layak untuk kota industri tapi sebagai kota pendidikan dan pariwisata. Dulu memang ada ide pemerintah Belanda ingin menjadikan Bandung sebagai pusat gemeente menggantikan Jakarta (oleh Bandoeng Actie 1920, Harry Kunto). Namun, untung ide men-Jakarta-kan kota Kembang itu batal. Sebab, kalau jadi, betapa hancurnya kondisi kota pegunungan ini akibat berubah menjadi metropolis.

Sirkulasi udara di cekungan Bandung menjadi sulit karena pegunungan yang ada menghambat arus udara dari luar menuju Bandung dan sebaliknya. Inilah sisi negatif pegunungan di Bandung, selain bahaya letusan dan gas serta logam-logam berat yang dihasilkannya. Tingkat polusi udara di Bandung saat ini sudah mengkhawatirkan. Inilah yang membuat langit Bandung makin “mendung”, walaupun tak semendung saat letusan G. Galunggung tahun 1982/1983. Kadar partikulat jauh melebihi ambang batas 260 mikrogram/m3. Selain debu (partikulat), pencemar yang lain adalah gas CO, CO2, NOx, SOx, H2S dan hidrokarbon dari kendaraan bermotor, industri dan gunung. Dampaknya meliputi kesehatan manusia, pertanian, properti dan kehidupan air. 

Oh... Bandung
nestapa ekologis
membusa rangka ringkihmu
Usia rentamu 202
pada 25 September 2012 ini

Bandung,
Dikau melati di sisi sunyi
Semburat harummu
Tak jua membahana jiwa
Bergeming seribu basa

(Sebagai warga Bandung, aku tetap cinta kota ini. 
Selamat HUT ke-202 Kota Bandung, semoga tetap ramah).
ReadMore »

14 September 2012

Luruhlah Hujan


Luruhlah Hujan



Hujan itu
luruh juga.
Tetes mutiaranya
tampias di lensa mata


Hablur bayangannya
menyeka rekah luka.
Selimut selapisnya
kondisioner  pelembab.


Ricak-ricak kezarahannya
Mengoyak tanah, mengurat akar ilalang dan teki
Menyublim pohon
Menghijau telentang.


Water is the best of all things”, kata Pindar.


Panaan dalam keterpanaanku itu, kuakui, betul jua seuntai kalimat Pindar itu. Namun faktanya, meskipun terbaik, di Indonesia ini, air belum diutamakan, masih di baris belakang sehingga terkuaklah krisis air di mana-mana, diberitakan di media massa. 


(Mudah-mudahan puisi ini menjadi catatan akhir kemarau ketika kebanyakan sudut daerah di Indonesia sedang didukanestapai oleh kekeringan dan krisis air minum, air irigasi, dan kebanjiran air mata …, sementara itu, mata airnya kekeringan). *



ReadMore »

7 September 2012

Teknik Lingkungan ITB Ulang Tahun Ke-50

Teknik Lingkungan ITB Ulang Tahun Ke-50
Oleh Gede H. Cahyana

Sebulan dari sekarang akan ada perhelatan ulang tahun Teknik Lingkungan di Indonesia, khususnya diwakili oleh kelahiran Teknik Penyehatan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kali ini ultahnya yang ke-50, karena “bayi” teknik ini lahir pada 10 Oktober 1962. Orang menamainya, ulang tahun emas. Waktu itu istilahnya Departemen Teknik Penyehatan. Pada 1984, departemen ini diubah menjadi Departemen Teknik Lingkungan. Tetapi, pada saat yang sama, istilah “jurusan” justru sering juga digunakan. Antara 1984 hingga 1990 kerapkali muncul sebutan “departemen TP”, departemen TL, juga jurusan TP atau TL. Kakak kelas saya, lebih sering menyebutnya departemen TP. Namun, saya dan teman-teman lebih suka dengan nama jurusan Teknik Lingkungan. Selain karena lebih luas bidang kajiannya, tak sekadar ke-TP-an, juga karena namanya familiar dan lumrah di masyarakat.








Namun sekarang, kondisi keilmuan dan pemahaman keteknikan sarjana Teknik Lingkungan di Indonesia dipertanyakan, terutama oleh kalangan di Kementerian Pekerjaan Umum atau Dinas PU di daerah. Pasalnya, penguasaan ilmu, kemampuan desain sarjana Teknik Lingkungan dianggap menurun dibandingkan dengan lulusan ketika namanya masih Teknik Penyehatan. Ini sebabnya, muncul wacana di kalangan alumni, juga asosiasinya, yaitu IATPI (Ikatan Alumni Teknik Penyehatan – Lingkungan Indonesia, berdiri 10 Oktober 1977 di Bandung) agar dimunculkan lagi jurusan Teknik Penyehatan atau Program Studi Teknik Penyehatan. Akankah ada dua prodi, yaitu Teknik Lingkungan dan Teknik Penyehatan atau sebutan lainnya yang disinyalir ialah Program Studi Teknik Infrastruktur Lingkungan di Indonesia?

Menimbang beragam rencana di atas, juga untuk mengisi ulang tahun emas TP/TL ITB (juga di Indonesia), layaklah diaktifkan lagi kegiatan semacam Lokakarya Jurusan Teknik Lingkungan Seluruh Indonesia yang pernah digelar di ITB pada 12 Juni 1996. Waktu itu saya mewakili Teknik Lingkungan Institut Teknologi Adityawarman (Univ. Kebangsaan). Sudah lewat enam belas tahun kegiatan itu berlangsung dan pasti ada hal baru yang mesti dibahas bersama. Apalagi peluang pengembangan bidang TP/TL ini meliputi belasan sektor, bahkan bisa mencapai 16 bidang yang melibatkan alumni TL secara langsung. Hal ini tentu terkait erat dengan pengayaan kurikulum prodi yang antisipatif menghadapi peluang dan tantangan kerja alias peluang pasar. “Pasar” tidak dicari tetapi diciptakan (disiapkan), begitu kata motivator bisnis. Juga, agar alumni TL tidak terkonsentrasi di bidang air minum saja, tetapi juga meluas ke sektor lainnya, termasuk meningkatkan strata pendidikannya: S1, S2 dan S3 dengan harapan, penambahan gelar akan menambah kuantitas ilmu dan kemampuannya.

Berikut dikutipkan paparan Prof. Dr. Bambang Hidayat (Astronomi ITB) ketika menjabat sebagai Sekretaris BAN dan hadir dalam lokakarya tersebut bahwa alumni S1 harus mampu menerapkan ilmu (bersifat inovatif), S2 harus mampu berkreasi (kreatif) dan S3 hendaklah arif dalam mendalamkan ilmunya dan wajib mampu menampilkan perubahan di bidang sainstek.

Selamat ulang tahun ke-50 Teknik Penyehatan – Teknik Lingkungan ITB, sekaligus sebagai ulang tahun emas profesi TP/TL di Indonesia, sebuah profesi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya seperti air minum, air limbah, persampahan, kesehatan lingkungan, AMDAL, plambing gedung, dan seterusnya. Good luck. *

Sejumlah dosen yang menjadi founder, co-founder dan pengembang sainstek ke-TP/TL-an di Indonesia dan sudah meninggal disebutkan di bawah ini. Selain Ir. K. R. T. Mertonegoro, semuanya adalah dosen yang langsung mengajar saya. Pak Mertonegoro “mengajar” saya lewat buku dan diktat yang ditulisnya yang tersedia di perpustakaan jurusan pada waktu itu. 

Ir. K. R. T. Mertonegoro
Prof. Dr. Ir. Soetiman, M.Sc
Prof. Dr. Ir. Benny Chatib, M.Sc
Prof. Ir. H. M. Masduki HS
Prof. Dr. Ir. Kalimardin A, Dipl.S.E
Prof. Dr. Ir. Asis H. Djajadiningrat, Dipl.S.E, DEA
Prof. Ir. R. Harjoko, M.Sc
Prof. Dr. Ir. Moestikahadi S, M.Sc, DEA
Prof. Dr. Ir. Munsyir Arfandi
ReadMore »

5 September 2012

Orbs adalah Hantu, Jin ataukah “nothing”?


Oleh Gede H. Cahyana

Orbs, menurut sejumlah sumber, berasal dari bahasa Latin orbis. Kata ini juga mengingatkan kita pada kata orbit, orbital elektron atau garis (lintas) edar planet atau satelit yang berbentuk lingkaran. Dalam tulisan ini, orbs dinisbatkan pada gambar objek yang berbentuk lingkaran di sebuah foto yang diambil dengan lampu flash (blitz). Pendapat pun beragam, ada yang menyatakan bahwa orbs adalah manifestasi “sesuatu” yang mengarah pada makhluk gaib (tak tampak oleh mata). Yang lain meyakini itu adalah energi (positif atau negatif) yang hadir pada saat pemotretan. Tentu ada lagi pendapat lain.

Foto terlampir adalah orbs yang terekam kamera, lokasinya di Gua Jepang, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, di Bandung Utara. Foto pertama diambil tanpa lampu flash karena, entah kenapa, lampunya tidak menyala. Dalam hitungan kurang dari 10 detik, diambil lagi foto kedua dan lampu flash-nya menyala. Pada foto kedua, tampak lingkaran dengan beragam diameter, besar dan kecil, tersebar di seluruh area foto. Seorang teman yang melihat foto tersebut langsung berkomentar bahwa objek itu adalah “sesuatu”. Dia lalu bercerita tentang “Dunia Lain” dan berbagai hal yang berkaitan dengan jin dan objek yang tak tampak tetapi ada.

Alam, setahu saya, dikelompokkan menjadi dua, yaitu alam gaib (ghaib: tak tampak) dan alam tampak. Yang gaib adalah iblis, jin, malaikat, surga dan neraka.  Yang tahu kondisi alam gaib hanyalah Allah Swt, Tuhan yang Mahaesa. Sedangkan manusia, sekadar alam tampak pun tak semua diketahuinya. Alam di luar angkasa, nun jauh di sana, jutaan tahun perjalanan cahaya, di planet-planet tertentu, bahkan di dasar laut pun, tak semua diketahui oleh manusia. 

Dalam kehidupan ini, manusia dilarang minta tolong dan minta perlindungan kepada jin, syahdan dalam perkara kebaikan, karena jin akan menjadi congkak (sombong). Lantas, pertanyaannya, bagaimana dengan klaim bahwa ada yang mengerahkan pasukan jin untuk mengamankan suatu acara atau perhelatan di negeri ini?

Kembali ke foto tersebut, mestikah kita percaya bahwa objek orbs itu adalah “sesuatu” yang gaib? Kalau betul-betul gaib, logikanya, tentu tak kasat mata, tak dapat ditangkap kamera. Ataukah, makhluk gaib itu menampakkan dirinya dalam wujud (ujud) yang bisa “ditabrak” elektron berupa cahaya flash? Atau, mereka adalah hantu (ghost) seperti dalam film Ghost-nya Demi Moore? Atau, mereka adalah nothing? Wa Allahu ‘alam. ***
ReadMore »

2 September 2012

Ke Gontor, Apa Yang Kau Cari?

Ke Gontor, Apa Yang Kau Cari?

Libur lebaran yang lalu sempatlah saya berkunjung ke Gontor, sebuah pesantren yang gemanya sampai ke negeri manca. Murid atau santrinya ada yang dari Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand, Saigon, Australia, Amerika Serikat, dan Saudi Arabia. Hingga tahun 2012 ada 13 pondok putra dan 7 pondok putri yang tersebar di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dengan luas total 7.273.670 m2 atau 727,367 hektar. Jumlah guru dan santrinya 24.145 orang. (Sumber: Warta Dunia, Vol. 65, Sya’ban 1433). Di ranah pendidikan tinggi, Gontor mengelola kampus, yaitu Institut Studi Islam Darussalam (ISID) yang sedang berbenah menjadi Darussalam University.

Di Kabupaten Kediri ada Gontor 3 untuk putra, lokasinya di Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah. Butuh waktu 25 menit, kurang lebih, perjalanan naik mobil dari stasiun Kediri. Menuju ke Gontor Putri (GP) 5 di Kandangan, waktu tempuhnya sekitar 70 menit, melewati Pare, kota kecil yang terkenal dengan bahasa Inggrisnya. Kampung Inggris, begitulah nama yang disematkan ke daerah yang cukup sejuk ini. Lokasi GP 5 sekitar 120 meter dari jalan raya yang merupakan jalur penghubung dan urat nadi ekonomi antara Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang.

Di Kabupaten Ngawi ada GP 1, GP 2, dan GP 3. Berlokasi di tepi jalan raya Solo – Surabaya, pondok putri ini mudah dijangkau oleh semua moda kendaraan. GP 1 dan GP 2 berada di Kecamatan Mantingan, berbatasan dengan Kabupaten Sragen. GP 3 terhampar di Kecamatan Widodaren, sekitar 250 meter dari jalan raya Solo - Surabaya, dikelilingi oleh sawah yang menghijau. Selain terminal bis Gendingan, ada satu stasiun kereta api, yaitu Walikukun di daerah ini, dengan jarak tempuh 10 menit dari pondok.

Di Kabupaten Ponorogo ada Gontor 1 dan Gontor 2. Di daerah yang terkenal dengan Reognya inilah cikal bakal Pondok Modern Darussalam Gontor.  Diprakarsai oleh K. H. Ahmad Sahal, K. H. Zainuddin Fananie, dan K. H. Imam Zarkasyi, Gontor diresmikan pada 20 September 1926 (12 Rabiul Awwal 1345). Tiga orang pendiri pondok ini dikenal dengan sebutan Trimurti, semuanya sudah meninggal (almarhum). Kini tampuk pimpinan pondok diemban oleh K. H. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, K. H. Hasan Abdullah Sahal, dan K. H. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag.

Yang menarik, sebagai eye catcher, adalah kalimat tanya Ke Gontor, Apa Yang Kau Cari? Untaian kata ini terpampang di beberapa gedung di Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), baik di pondok putra maupun putri. Juga terbaca sejumlah kata-kata mutiara sebagai motivator bagi guru dan santri dalam mengajar-belajar mulai pukul 04.00 s.d 22.00 setiap hari. Guru mengenakan jas dan/atau berdasi dan santri bercelana panjang dan kemeja. Ketika shalat saja mereka bersarung dan kopiah (peci).

Yang juga menarik, santri selalu antri dan lari. Mau mandi, antri. Mau makan, antri. Menuju kelas, menuju dapur, menuju masjid, mereka lari atau jalan rapi berduyun-duyun. Bersamaan dengan itu, kakak kelasnya bertepuk tangan memberikan aba-aba agar semangat dan cepat berkumpul di masjid atau kelas atau berbaris rapi dalam suatu kegiatan. 

Melihat itu semua, ternyata pesantren, khususnya Gontor, sangat dinamis dan enerjik dalam proses belajar – mengajarnya. Hanya saja, sampai sekarang saya belum tahu, apa jawaban yang tepat untuk pertanyaan: Ke Gontor, Apa Yang Kau Cari? Adakah pembaca yang tahu jawabannya? *


ReadMore »

8 Agustus 2012

Refleksi Proklamasi, Dicari Pemimpin Sejati



Sudah 67 tahun usia proklamasi kita. Adakah rasa merdeka hadir di hati? Dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, kondisi kita jauh tertinggal. Meskipun usia kemerdekaan mereka lebih muda daripada Indonesia, apalagi “hanya” berupa hadiah dari penjajahnya, ternyata mereka berada di depan, khususnya dalam pendidikan dan ekonomi. Apa sebabnya demikian? Peran pemimpinlah yang mengubahnya.

“A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.”
John C. Maxwell

Bukan Pejabat
Dalam lingkup sempit, setiap diri adalah pemimpin. Andaikata seseorang tidak mampu memimpin dirinya, pasti tak mampu pula memimpin orang lain. Yang bisa dilakukannya hanyalah menjadi pejabat dan menyuruh-nyuruh ajudan, staf dan bawahannya. Semua orang yang disuruhnya, rela tak rela, suka tak suka, akan melaksanakan perintahnya selama dia menjabat. Setelah pensiun atau pindah jabatan, perintahnya tak lagi dituruti, sebab pejabatnya telah berganti.

Mengapa demikian? Pejabat adalah orang yang diserahi tanggung jawab mengelola suatu fungsi tugas dalam organisasi. Ia diangkat untuk membantu atasannya dalam melaksanakan kewajiban dan biasanya berkaitan dengan tugas-tugas negara atau perusahaan. Seorang pejabat tak perlu mendapat persetujuan hati nurani masyarakat. Jangankan persetujuan masyarakat, persetujuan bawahan atau rekan kerjanya saja tak perlu. Kalau atasannya sudah memilihnya, dia akan segera menjadi pejabat dalam kurun tertentu di lingkup keahliannya dan mendapatkan bayaran atas tugasnya itu.

Bayaran berupa tunjangan jabatan dan akses ke setiap projek itulah yang begitu menarik sehingga berduyun-duyunlah orang hendak menjadi pejabat di suatu institusi. Parahnya lagi, di setiap institusi itu kerapkali terjadi persaingan ketat yang tak sehat. Kian sulit lagi kalau terjadi pembangkangan, grup-grupan dan intrik-intrikan. Bisa terjadi, ketika satu orang dari grup tertentu menjadi pejabat, semua jabatan di bawahnya dipegang oleh orang dalam kelompok itu. Terjadilah mutasi besar-besaran. Program pun segera diganti, tidak mau meneruskan program pejabat sebelumnya karena tak hendak lawannya itu menjadi populer dan dianggap berjasa sebagai pemilik ide program tersebut. Seringlah terjadi gonta-ganti program kerja dan tak peduli pada dana yang telah keluar dan menjadi mubazir, sekadar pemutar roda ekonomi di antara mereka yang terlibat dalam projek tersebut.

Begitulah terjadi berkali-kali, bongkar pasang pejabat dan jabatan dalam arah horisontal dan vertikal. Kesan egosentris, cinta diri dan kelompok yang berlebihan begitu menonjol dan kantor menjelma menjadi ladang uang untuk diri dan grupnya. Mentalnya berubah menjadi pangreh praja yang kental sehingga sulit dicairkan agar mudah beradaptasi dengan lingkungan. Ia selalu minta dilayani, tak hanya oleh ajudan, staf, dan bawahannya, tetapi juga oleh masyarakat, bahkan oleh orang-orang yang justru memilihnya ketika pemilu. Yang paling sederhana saja, seperti baju, tas, jas, sepatu, dan sandal minta dibawakan dan bangga berperilaku demikian seolah-olah hidup kesehariannya laksana upacara tujuh belasan yang sarat dengan ajudan dan tatakrama upacara.

Tetapi anehnya, orang-orang yang berposisi sebagai ajudan, sopir, pembantu, atau bawahan pejabat tersebut malah bangga dan senang berposisi demikian. Apalagi kalau pejabatnya itu begitu mudah mengeluarkan uang, pastilah akan lebih disukai lagi dan segala titahnya dilaksanakan. Namun demikian, ketaatan seperti itu hanya semu belaka dan segera sirna ketika sudah tidak menjabat lagi atau dimutasi. Muncullah fenomena post power syndrome, sindrom pascakuasa, sampai-sampai ada yang tak mau lagi ke luar rumah bergaul dengan tetangga dan sejawatnya dan hidup terasing dalam keramaian. Yang paling menyedihkan adalah ketika mantan pejabat itu harus menghitung hari di balik jeruji besi lantaran kasus korupsinya.

Wanted: Pemimpin Sejati
Pejabat berkarakter bagaimana yang dibutuhkan Indonesia? Yang dibutuhkan adalah pejabat yang berkarakter pemimpin. Pejabat belum tentu pemimpin! Pemimpin pun memang belum tentu seorang pejabat. Di Indonesia banyak ada pejabat, mulai dari tingkat kelurahan (desa), kecamatan, sampai ke tingkat pusat. Di setiap departemen-dinas, di setiap lembaga dan badan pun ada banyak pejabat tetapi belum pasti diakui sebagai pemimpin. Pemimpin adalah orang yang merasa terpanggil memimpin sekelompok orang dan orang-orang itu pun merasakan dan mengakuinya sebagai pemimpin. Ada pelibatan rasa di sini. Tanpa interaksi kedua rasa itu takkan ada kepemimpinan dan malah bertepuk sebelah tangan.

Itu sebabnya, pemimpin bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Ia tidak dibatasi ruang dan waktu. Berbeda dengan pejabat yang harus patuh pada ruang, yaitu tempatnya berkerja dan waktunya terbatas, misalnya empat atau lima tahun. Seorang pemimpin pun tak harus bertitel sarjana, magister, doctor, profesor. Yang titelnya berjejer banyak pula yang tak mampu memimpin, bahkan tak sanggup memimpin dirinya sehingga berpredikat koruptor. Orang jenius pun tidak sertamerta atau otomatis diterima oleh sekelompok orang sebagai pemimpinnya karena kepemimpinan tidak berada di wilayah intelektual atau kecerdasan (apalagi sekadar deretan gelar palsu atau minimal tak bermutu karena diperoleh dengan uang).

Yang dicari kini adalah pemimpin sejati, yaitu orang-orang yang orientasinya melayani orang lain. Hati nuraninya menyetir fisiknya untuk mengabdi dan mengerjakan tugasnya sebagai tanggung jawab kepada masyarakat. Pada taraf yang lebih tinggi lagi, pemimpin selalu berorientasi pada makna transenden, selalu mengaitkan tugasnya dengan makna ketuhanan. Dia memimpin demi ibadahnya dan mendambakan pahala-Nya. Itu sebabnya, orang yang berpredikat pemimpin sangat tidak mungkin berdusta, tidak berbuat nista, dan tak mungkin korupsi. Yang sering terjadi justru harta halalnya dibagi-bagikan kepada orang-orang yang sulit ekonominya, misalnya untuk biaya SPP dan beli buku. Buat diri dan keluarganya, dia hanya mengambil secukupnya agar bisa hidup sehat, bisa berpikir jernih, kuat belajar dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Danah Zohar dan Ian Marshall menamainya servant-leader, pemimpin pengabdi. Dia memimpin demi menghidup-hidupkan nilai-nilai (values) kearifan atau sapientia. Itu sebabnya kita digolongkan Homo Sapien, manusia berkearifan (Spiritual Quotient, SQ).

Di antara perbedaannya yang tajam itu, ada satu yang sama, yaitu pemimpin dan pejabat harus bertanggung jawab atas tugasnya. Baik gajinya besar, kecil, atau bahkan tak digaji pun, maka amanatnya tetap harus ditunaikan. Andaikata tak mau lagi memikul amanat itu selayaknyalah dikembalikan kepada pemberi amanat agar orang lain yang bersedia memikulnya mendapat kesempatan berbuat kebajikan.

Sebagai refleksi proklamasi, akankah kita terus berlomba meraih jabatan sambil sikut kanan-kiri, sogok-sogokan dan intrik-intrikan? Akankah kita menyia-nyiakan nasib orang banyak yang berada di bawah jabatan kita, bertingkah acuh tak acuh karena menganggap mereka tak lebih daripada cacing tanah yang bisa diinjak dan dipermainkan nasibnya? Akankah kita bermain sinetron bermuka manis pada setiap menjelang pemilu?

Orang merdeka adalah orang yang memerdekakan orang lain. Orang merdeka adalah orang yang mampu membebaskan orang lain dan mau melayaninya. Menjadi “pelayan”! Dalam lingkup inilah orang merdeka akan mampu menjadi pejabat sekaligus pemimpin. Menjadi pejabat yang juga pemimpin. Wanted: pemimpin sejati! *

Gambar: rumahfilsafat.com

ReadMore »

30 Juli 2012

Mengapa Dosen Sulit Menulis?

Oleh Gede H. Cahyana

Diktator” banyak ada di perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri. Kata yang sering berkonotasi negatif ini merujuk pada dosen yang menulis diktat (“yang melulu mengacu pada satu textbook”). Yang bagus adalah dosen merujuk ke sejumlah textbook lalu meramunya menjadi satu “buku baru” berujud diktat. Ini jauh lebih bagus ketimbang bersumberkan pada satu textbook dan hanya mencomot atau dalam tata-tulis memakai komputer disebut “copy-paste” saja. Apalagi kalau textbook yang diacunya sudah tua sekali, misalnya terbitan tahun 1990-an atau lebih lama lagi. Yang lebih dari lima tahun saja, terutama dalam ilmu-ilmu yang pesat perkembangannya, bisa jauh ketinggalan. Lain halnya dalam bidang ilmu yang lamban pertumbuhannya, terbitan lawas boleh jadi masih relevan. Jadi, tak bisa dipukul rata dalam menilai suatu partisi keilmuan.

Dalam ilmu teknik misalnya, entah karena banyak berisi gambar-gambar rekayasa, entah karena tak bisa atau malas menggambar lagi, entah karena gambarnya rumit, kebanyakan diktat nyaris merupakan ambil sana ambil sini dari textbook. Kalimat yang dibuat pun nyaris terjemahan murni tanpa polesan dari dosen atau bisa juga dari penterjemah komersial yang dibayarnya. Setiap paragraf disalin (diterjemahkan) begitu saja tanpa memasukkan pandangan atau pendapat dosen atas apa yang diambilnya itu. Yang elok adalah dosen punya pandangan sendiri atas apa yang diambilnya dari textbook, sesedikit apapun pendapatnya itu. Ini akan menjadi sumbangan (kontribusi) pemikiran dalam khazanah sainstek.

Namun, bagaimanapun, dosen yang mau menulis diktat jauh lebih baik ketimbang dosen yang tidak menulis diktat. Bayangkan kalau seumur-umur sampai pensiun dosen tidak menulis diktat, bagaimana kira-kira mutu alumni perguruan tinggi terutama kalau budaya baca mahasiswanya tidak tumbuh. Otomatis ilmu yang dimiliki mahasiswa atau alumninya akan sangat rendah, sebatas apa yang diucapkan dosen ketika kuliah. Belum lagi kalau mereka lupa semua apa yang pernah diterima di bangku kuliah setelah sekian tahun. Yang tersisa hanya selembar kertas bernama ijazah dan transkrip akademik serta gelar sarjananya.

Kalau menulis diktat saja sudah demikian bermasalah, bagaimana dengan menulis textbook yang khusus untuk kalangan mahasiswa (dan dosen)? Bagaimana dengan menulis buku yang bukan textbook, katakanlah buku ilmiah populer yang ditujukan bagi pembaca umum? Bagaimana dengan menulis artikel ilmiah yang dimuat di jurnal untuk masyarakat khas dalam sainstek yang bersangkutan? Yang dimuat di media massa cetak dan internet bagi masyarakat umum bagaimana? Bagaimana pula dengan makalah seminar dalam berbagai temu-ilmiah, semi-ilmiah dengan pemerintah atau dengan populasi masyarakat tertentu?

Menulis buku yang bukan textbook tentu jauh lebih mudah apalagi kalau data dalam textbook itu tidak perlu riset yang berbiaya besar dan waktu lama. Beda halnya dengan textbook yang harus mencantumkan data akurat terbaru dalam khazanah ilmu. Untuk dapat mencantumkan data terbaru ini dosen harus riset dulu. Waktunya bisa bulanan, bahkan tahunan. Kalau risetnya kelar, dia boleh (wajib) mempublikasikannya di jurnal ilmiah agar bisa dibahas dan dievaluasi oleh rekan sejawatnya di seluruh Indonesia (atau dunia). Di tahap ini pun, yaitu penulisan artikel ilmiah sudah merupakan kendala tersendiri. Tak banyak dosen yang mampu menuliskan apa yang telah dirisetnya. Banyak dosen yang piawai meriset namun lemah dalam menulis. Tapi banyak juga (malah terbanyak) dosen yang tak mampu meriset sekaligus tak bisa menulis.

Lantas bagaimana kalau dosen tak mampu riset sendiri dengan alasan, misalnya biaya, apakah peluang menulis textbook pupus begitu saja? Tentu saja tidak. Dosen bisa mencari dan dia harus rajin mencari bermacam-macam jurnal ilmiah terbitan teranyar dari dalam maupun luar negeri. Bisa lewat Perpustakaan Nasional di Jakarta atau lewat internet. Peluang selalu ada asalkan dosen mau meluangkan waktu dan berupaya maksimal. Semua data yang diperolehnya dari jurnal ilmiah terakreditasi dan berkaliber internasional dapatlah dijadikan data dalam rancangan textbook-nya. Andaikata tidak demikian, yaitu tidak mencari data terbaru dari berbagai jurnal atau buku teks terbaru, maka buku teks buatannya akan terasa kering dan out of date. Apalagi kalau datanya hanya mengacu ke buku teks yang sudah tua, jadilah buku teksnya sekumpulan informasi usang dan tak punya nilai jual.

Data dari jurnal yang disalin di dalam textbook inilah yang dapat memperbarui dan menambah wawasan ilmu pembaca bukunya, terutama mahasiswa dan dosen lainnya. Kalau draft text- book-nya sudah selesai, muncul lagi problem berikutnya. Adakah penerbit yang mau menerbitkannya? Ini tentu menyangkut banyak hal seperti kualitas atau kredibilitas dosen (deretan gelarnya juga berpengaruh), mutu tulisannya: pola nalar, pola papar, dan pola bayar (royalti). Di pihak penerbit juga ada tolokukurnya, yaitu pola pasar dan pola bayar (laba). Kalau keduanya sepakat pada pola benar (saling setuju), maka terbitlah textbook itu. Berarti dosen sudah mem-publish (terbit, layak menjadi dosen). Kalau tidak jadi terbit, tak adalah textbook itu dan dosen dianggap belum menulis textbook dan dia boleh jadi di-perish (binasa, celaka: tak layak berlabel dosen). Itulah publish or perish.

Kembali ke soal riset yang sangat penting dalam penulisan textbook. Budaya riset memang belum tumbuh bagus di kalangan dosen kita. Ini melanda mayoritas dosen. Walau demikian, dalam kasus orang per orang, banyak juga yang tuman meriset. Namun sayangnya, riset dosen itu masih dalam taraf pemula. Jangankan di PTS (perguruan tinggi swasta), di PTN (perguruan tinggi negeri) yang terkenal saja budaya riset ini belum berkembang baik. Jumlah riset memang relatif banyak secara aritmetika tetapi kecil sekali persentasenya. Apalagi kalau parameter mutu dimasukkan ke dalam evaluasinya, sangat kecil. Kebanyakan risetnya hanya modifikasi kecil-kecilan dari riset yang telah dilaksanakan di luar negeri, biasanya dari tempat mereka meraih gelar master, doktor atau post-doctoralnya. Risetnya seputar itu ke itu saja, seolah-olah hanya bertujuan meraih nilai kum dan uang. Selain itu, sang dosen pun jarang terjun langsung dalam riset itu dan hanya menerima laporan apa adanya dari mahasiswa S1, S2, atau S3. Kalau demikian, bagaimana dengan standar kualitas riset tersebut kalau dosen tidak terjun langsung, minimal secara berkala, ke laboratorium atau lapangan? Inilah yang banyak terjadi di perguruan tinggi kita.

Dalam sebuah seminar terungkap bahwa banyak riset yang menyimpang dari tujuan awal ketika penandatanganan kontrak riset. Ada yang tujuannya menghasilkan prototipe tetapi yang dilaporkan sekadar “temuan” yang mengarah ke riset fundamental. Artinya, tak bisa langsung diterapkan sesuai janji semula. Memang ada juga riset pengembangan teknologi tapi itu pun belum siap disadap oleh masyarakat, khususnya kalangan industri/pebisnis. Malah muncul pendapat bahwa hasil riset itu bukanlah inovasi melainkan baru dalam tahap invensi (invention), baru rekaan saja. Masih sangat mentah, masih prototipe awal sehingga perlu diriset lebih lanjut. Namun demikian, bagaimanapun hasilnya, kita wajib memberikan apresiasi kepada periset ini karena mereka sudah lebih baik daripada dosen yang tidak meriset. Lebih dari itu, kita memang wajib mengkritiknya agar upaya memajukan ilmu dan pendidikan berada di jalur yang betul. Pandanglah kritik sebagai sahabat yang peduli pada periset agar bisa lebih maju lagi.

Jadi kian jelaslah bagi kita bahwa menulis buku teks yang betul-betul serius memerlukan jalan panjang riset mandiri dan studi pustaka (textbook dan jurnal). Riset adalah kendalanya. Risetnya pun memunculkan banyak kendala lagi seperti biaya, materi riset, metodologi, analisis, dukungan jurnal terbaru, kerjasama antarperiset. Lantas, setelah riset selesai dan andaikata diperoleh data yang absah dan dipublikasikan di jurnal (diakui oleh rekan sejawat di dalam dan luar negeri) barulah bisa dimasukkan ke dalam buku teks. Artinya, sang dosen baru memulai menulis perihal temuannya itu dalam buku teksnya, selain mengutip data dari buku teks lainnya atau mengutip data dari jurnal ilmiah absah yang berkualitas tinggi. Inilah yang disebut dukungan data yang absah pada setiap penulisan buku, baik buku ilmiah populer maupun textbook. Syahdan, novel pun yang mengarah ke fiksi sainstek (sciencetech fiction) wajib didukung oleh riset yang absah agar tidak menjadi bumerang bagi penulis dan mutu novelnya.

Akhirnya, boleh dikatakan bahwa dosen sulit menulis buku teks lantaran ada banyak hal yang mesti disiapkan sebelum kegiatan penulisan itu dimulai. Ada prolog yang bisa jadi sama panjangnya atau bahkan lebih panjang ketimbang penulisan buku teksnya. Begitu pun ketika dosen hendak menulis buku ilmiah populer, dia pun harus mengumpulkan data yang mendukung paparan dan pendapatnya. Sumber data tidak hanya dari buku teks, tetapi juga dari berbagai jurnal ilmiah, semi-ilmiah, koran, radio, televisi, wawancara langsung dengan masyarakat atau direktur perusahaan, politisi, pemerintah, atau tokoh masyarakat.

Sebagai penutup perlu ditulis di sini bahwa ilmu selalu berkembang, siang malam mengalami pembaruan. Ada yang cepat berubah, ada yang lambat. Yang penting adalah tersedia data yang bisa diasumsikan absah. Apalagi ada dogma bahwa semua riset tidak ada yang salah sejauh ada alasan yang diberikan dan masuk ke dalam logika sainstek. Istilahnya, tak ada riset yang final. Semuanya masih perlu diuji dan diuji terus sepanjang zaman. Last but not least adalah dana. Dana riset adalah kendala besar di perguruan tinggi kita.  

Akhirulkalam, tulisan ini juga sebagai swakritik untuk penulis, entah sampai kapan dosen tak mampu menulis textbook yang diakui dunia akademik internasional, dirujuk oleh jurusan dan program studi di seluruh dunia. Dalam skala kecil, minimal menjadi rujukan di tingkat nasional. (Silakan direka-reka profesor kita, berapa banyak yang menulis buku teks yang berkualitas baik, tak sekadar buku teks. Akan ada temuan yang mengejutkan. Sebab, mayoritas profesor kita tak punya buku teks. Menulis buku ilmiah populer pun tak banyak yang melakoninya. Begitu pun artikel pendek populer di media massa). Dan Tuhanlah yang Mahatahu. ***

Foto: blog.arjournals.com

ReadMore »

27 Juli 2012

Buka Puasa, Hindari Makanan-Minuman Manis

Oleh Gede H. Cahyana

Sudah umum diketahui, setiap buka puasa selalu saja yang terbayang adalah kolak, sirup dan sejenisnya. Manis rasanya dan nikmat di lidah. Jangankan anak-anak, orang dewasa dan orang tua saja suka sekali pada makanan - minuman (mak - min) manis. Itu sebabnya, setiap bulan Ramadhan harga gula selalu naik tetapi tetap laris manis semanis rasanya. Namun perlu diingat, terutama untuk orang yang suka minum teh manis, kopi manis, kue, kolak, sirup dan sejenisnya, agar mulai mengurangi konsumsi mak-min tersebut. Ini demi kesehatan pada masa mendatang. Apa pasal?

Ternyata, di balik rasa manisnya, gula menjadi perusak kesehatan manusia (juga hewan). Sejumlah penelitian menyatakan bahwa gula adalah biang kerok penyakit degeneratif pada manusia (dan hewan). Penyakit diabetes mellitus adalah contohnya. Artinya, kalau dikaitkan dengan bulan puasa sekarang, hendaklah kita mengurangi makan dan minum yang mengandung gula, terutama saat buka puasa. Kita puasa selama kurang lebih 13 jam sehari pada tahun 1433 H ini di daerah Tropis. Tubuh jangan dikejutkan oleh pasokan gula (sukrosa) sehingga gula darah pun naik tajam dalam waktu singkat. Kalau begitu, bagaimana sebaiknya dalam berbuka?

Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat (Maghrib). Kalau tidak ada, beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Kalau tidak ada juga, beliau minum seteguk air. Menurut keterangan yang lain, dinyatakan bahwa Muhammad Saw berkata, “Apabila kamu buka (shaum), hendaklah dengan kurma. Kalau kamu tidak memperolehnya, berbukalah dengan air. Sesungguhnya air itu suci.” (Catatan: Silakan pembaca mengecek hadis yang berkaitan dengan ini, terutama isi/matan hadis dan periwayatannya). Dapat disimpulkan, kurma adalah makanan utama untuk buka puasa. Tiga buah kurma sudah cukup lalu minumlah air secukupnya. Kurma yang dimaksud di sini adalah kurma asli yang tidak terlalu manis rasanya, bukan kurma yang dilumuri gula atau manisan kurma.

Bagaimana kalau tidak ada kurma asli, bukan manisan kurma? Untuk kasus ini, yang penting, hindari makan dan minum mak-min yang manis-manis. Apalagi kalau pemanisnya adalah pemanis buatan semacam sakarin dan sejenisnya, ini jauh lebih bahaya daripada gula (pasir). Namun demikian, khusus gula aren, ada pendapat yang membolehkan dalam batas wajar, tidak berlebihan. Gula kelapa juga diperbolehkan. Dulu guru olah raga saya di SMA menyuruh kami (saya dan teman-teman) mengulum gula aren/kelapa selama olah raga untuk sumber energi. Teman-teman yang berasal dari Pupuan (Tabanan bagian Utara, daerah yang berbukit-bukit, naik-turun berjalan kaki) juga sering berbekal gula ini (Di Bali disebut Gule Bali. Bukan gule/gulai dalam gule kambing. Bacanya gule, e pepet).

Akhir kata, mumpung Ramadhan baru berlalu 25%, mari kita hindari berbuka dengan mak-min kaya gula alias manis-manis. Berbukalah dengan kurma asli atau air. Bisa juga dengan madu asli dicampur dengan jeruk nipis dan air. Segarnya tidak kalah dengan es sirup. Sssrrruup…, segar dan sehat. *
ReadMore »