• L3
  • Email :
  • Search :

18 September 2012

Bandung Makin Panas



Oleh Gede H. Cahyana

Masuk paruh kedua September 2012, Bandung sudah betul-betul kering. Siang hari, udara panas sekali. Langit menyapu biru dengan awan putih mengapas di sana-sini. Matahari terik menikam Bumi. Panas! Gemeente van Bandoeng yang dibentuk tahun 1906 ini pun disinyalir makin “cekung” dan “mendung”. Penyebabnya adalah untaian masalah pada agenda ekonomi, sosial dan lingkungan seperti eksploitasi air tanah, penyediaan air bersih, sistem koleksi dan pembuangan sampah, peningkatan polusi udara, zonasi industri dan pemukiman (kumuh), penyaluran air kotor dan drainase kota.

Kota yang dulu berjuluk Bunganya Kota-kota Pegunungan di Nusantara ini memiliki daerah padat dan kumuh (slum area) di antaranya Cicadas. Buruknya fasilitas sanitasi kota mojang Priangan ini diindikasikan oleh lingkup distribusi air minumnya yang masih rendah - sedang (kurang dari 60%). Padahal salah satu penentu status sebuah kota adalah tingkat layanan air minumnya. Begitu pun masalah sampah (seperti longsor TPA Leuwigajah dengan 150-an orang tewas), sistem koleksi dan tempat penampungan sementaranya tak terurus di sudut-sudut jalan.

Hal senada terjadi juga pada riol-riolnya yang dibangun oleh BUDP (Bandung Urban Development Project) pada era 1980-an. Tak optimal kerjanya. Peningkatan layanan penyaluran air limbah di sekitar pipa induk dan cabang belum luas. Dampaknya, banyak ruas pipanya tetap “kering” karena tak ada air limbah yang masuk tapi justru terisi dan tersumbat sampah. Celakanya lagi, riol itu telah berfungsi sebagai bioreaktor anaerob sehingga muncul bau busuk.

Makin Cekung
Dengan elevasi di atas 650 m dari muka laut, dikelilingi gunung dan curah hujannya tinggi, secara teoretis cekungan Bandung takkan punya masalah air minum. Artinya, kebutuhan domestik dan komersialnya tercukupi oleh air tanah dan air permukaan. Diduga, potensi air tanah cekungan Bandung sekitar 1.400 liter/detik. Namun, jika eksploitasi berlebihan atas air tanah itu terus berlangsung, ancaman krisis air makin serius dan di beberapa tempat terjadi ambles (land subsidence) sehingga tanah makin cekung.

Saat ini kapasitas pemompaan air tanahnya sangat kritis. Air hujan yang jatuh di gunung perlu puluhan tahun untuk mengisi cekungan Bandung, karena kecepatannya sangat kecil, kurang dari 2 m/tahun. Itu pun kalau air hujannya tak langsung melimpas ke sungai menuju laut. Jika daerah tangkapan dan resapannya sangat sedikit, selain ancaman banjir juga bisa terjadi penurunan paras air tanah. Ini sudah terjadi di beberapa daerah seperti Batujajar, Cimindi, Buahbatu, Ujung Berung, Soreang, Majalaya, dan lain-lain dengan variasi penurunan 0,5 - 12 meter per tahun.

Mengingat pencekungan paras air tanah itu, maka harus ada penatalaksanaan dan diversifikasi sumber air. Pada tahap perencanaan, asumsi yang diambil oleh konsultan air bersih untuk kebutuhan air bersih orang kota agar bisa hidup higienis adalah 150 - 200 liter/orang/hari. Adapun orang desa 60 liter/orang/hari yang disuplai dari hidran umum. Namun pembagian itu sifatnya tidaklah exactly karena proyeksi kebutuhan air sudah makin kompleks. Di Parisj van Java ini (ini julukan seabad lalu, sebab sekarang sudah tidak demikian lagi), lebih dari 60% kebutuhan air masyarakatnya diambil dari air tanah. Sisanya diladeni oleh PDAM. Mestinya angka tersebut secepatnya dibalik.

Layanan PDAM untuk domestik, komersial dan industri diperluas dan pada saat yang sama sumber air baku PDAM jangan lagi dari air tanah dalam! Orientasinya harus pada pemanfaatan air permukaan (sungai, waduk) karena akan menguntungkan dalam jangka panjang. Selain itu, teknologi pengolahan air permukaan yang dapat diadopsi untuk menanggulangi pencemar telah berkembang pesat. Sampai sekarang, air permukaan dianggap tak ekonomis untuk sumber air baku, terutama dari sudut kualitas. Namun tetap harus berpikir ke depan bahwa potensi terbesar air minum adalah dari air permukaan dengan aplikasi teknologi yang tepat. Jika hal tersebut tak diindahkan, Bandung akan betul-betul makin cekung yang dampaknya tentu pada struktur bangunan khususnya bangunan tinggi dan jalan raya (tol).

Makin “Mendung”
Relokasi dan zonasi industri harus diarahkan pada lokasi tertentu saja. Dengan kata yang strict, Bandung tak layak untuk kota industri tapi sebagai kota pendidikan dan pariwisata. Dulu memang ada ide pemerintah Belanda ingin menjadikan Bandung sebagai pusat gemeente menggantikan Jakarta (oleh Bandoeng Actie 1920, Harry Kunto). Namun, untung ide men-Jakarta-kan kota Kembang itu batal. Sebab, kalau jadi, betapa hancurnya kondisi kota pegunungan ini akibat berubah menjadi metropolis.

Sirkulasi udara di cekungan Bandung menjadi sulit karena pegunungan yang ada menghambat arus udara dari luar menuju Bandung dan sebaliknya. Inilah sisi negatif pegunungan di Bandung, selain bahaya letusan dan gas serta logam-logam berat yang dihasilkannya. Tingkat polusi udara di Bandung saat ini sudah mengkhawatirkan. Inilah yang membuat langit Bandung makin “mendung”, walaupun tak semendung saat letusan G. Galunggung tahun 1982/1983. Kadar partikulat jauh melebihi ambang batas 260 mikrogram/m3. Selain debu (partikulat), pencemar yang lain adalah gas CO, CO2, NOx, SOx, H2S dan hidrokarbon dari kendaraan bermotor, industri dan gunung. Dampaknya meliputi kesehatan manusia, pertanian, properti dan kehidupan air. 

Oh... Bandung
nestapa ekologis
membusa rangka ringkihmu
Usia rentamu 202
pada 25 September 2012 ini

Bandung,
Dikau melati di sisi sunyi
Semburat harummu
Tak jua membahana jiwa
Bergeming seribu basa

(Sebagai warga Bandung, aku tetap cinta kota ini. 
Selamat HUT ke-202 Kota Bandung, semoga tetap ramah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar