• L3
  • Email :
  • Search :

14 September 2012

Luruhlah Hujan


Luruhlah Hujan



Hujan itu
luruh juga.
Tetes mutiaranya
tampias di lensa mata


Hablur bayangannya
menyeka rekah luka.
Selimut selapisnya
kondisioner  pelembab.


Ricak-ricak kezarahannya
Mengoyak tanah, mengurat akar ilalang dan teki
Menyublim pohon
Menghijau telentang.


Water is the best of all things”, kata Pindar.


Panaan dalam keterpanaanku itu, kuakui, betul jua seuntai kalimat Pindar itu. Namun faktanya, meskipun terbaik, di Indonesia ini, air belum diutamakan, masih di baris belakang sehingga terkuaklah krisis air di mana-mana, diberitakan di media massa. 


(Mudah-mudahan puisi ini menjadi catatan akhir kemarau ketika kebanyakan sudut daerah di Indonesia sedang didukanestapai oleh kekeringan dan krisis air minum, air irigasi, dan kebanjiran air mata …, sementara itu, mata airnya kekeringan). *



Tidak ada komentar:

Posting Komentar