• L3
  • Email :
  • Search :

13 Juni 2021

Wasser TL UKRI Webinar Hari Lingkungan

Wasser TL UKRI Webinar Hari Lingkungan

Himpunan Mahasiswa  Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan RI menggelar acara seminar via Zoom untuk memperingati Hari Lingkungan Sedunia. Acara yang berlangsung pada 13 Juni 2021 ini diikuti oleh kurang lebih 270 orang partisipan dari berbagai kampus, dosen dan mahasiswa. 

Narasumber pertama adalah Ir. Ade Subandi dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat. Narasumber kedua adalah Dr. Iwan Saskiawan, dari Divisi Mikrobiologi, LIPI, Cibinong Bogor dan narasumber ketiga adalah Inas Haerudin, dari Walhi Jawa Barat.

Webinar bertema Pengelolaan SDA dan Lingkungan dalam Pembangunan Nasional ini berlangsung kurang lebih 3 jam, dari pk. 13.00 – 16.00 WIB. Acara dibuka Dekan FTSP UKRI, Dr. Amat Rahmat, S.T., M.T., dilanjutkan dengan presentasi, tanya-jawab, closing statement narasumber, dan penutup berupa foto bersama.

Materi yang disampaikan narasumber bermanfaat bagi peserta terutama mahasiswa karena memperoleh ilmu dan pengetahun dari sumber selain dosen-dosen di kampus masing-masing. Panitia dengan tepat dan bagus memadukan narasumber dari instansi pemerintah yang banyak memiliki peraturan (regulasi) di bidang pengelolaan lingkungan, dari peneliti LIPI yang memang sehari-hari menggeluti dunia mikroba yang dimanfaatkan untuk pengolahan air limbah dan remediasi, serta dari LSM, yaitu LSM yang sudah dikenal luas di Indonesia: Walhi Jawa Barat. 

Selamat dan sukses kepada panitia pelaksana dan supporter dari mahasiswa dan himpunan Wasser 2021. 



ReadMore »

10 Juni 2021

Pamali Untuk Restorasi Ekosistem

Pamali Untuk Restorasi Ekosistem

Koran Pikiran Rakyat, 4 Juni 2021

https://osf.io/psdvq/

Restorasi Ekosistem (Ecosystem Restoration) adalah tema peringatan Hari Lingkungan Sedunia 5 Juni 2021. Ekosistem adalah sistem ekologi, yaitu hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan dengan makhluk tak hidup (abiotik). Restorasi memiliki makna pemulihan, perbaikan, menjadikan seperti sedia kala. Restorasi ekosistem adalah upaya memulihkan kerusakan tempat hidup tumbuhan, hewan, manusia dan saling kebergantungannya menjadi lebih baik (seperti semula).

Kerusakan tersebut terjadi karena eksploitasi air, tanah, pasir, batu, batubara, minyak, gas sehingga berdampak pada kerusakan ekosistem hutan, sungai, danau, laut. Dari mana restorasi dimulai? Restorasi dimulai dari tataruang dengan dua pendekatan, yaitu kultur dan struktur. Kultur mengacu pada tataruang berbasis budaya, adat istiadat. Struktur mengacu pada tataruang yang dikemas oleh pemerintah dan DPR(D) di dalam undang-undang atau peraturan daerah. 

Kultur

Menurut Murtiyoso (1994) yang dikutip oleh Johan Iskandar di dalam buku Manusia dan Lingkungan (2014), masyarakat Sunda mengenal tataruang yang dilarang dijadikan permukiman, yaitu lahan sarongge (lahan angker), lemah sahar (tanah sangar), sema (kuburan), catang ronggeng (lahan curam), garenggengan (lahan kering berlumpur), dangdang wariyan (lahan cekung), lemah laki (lahan tandus), kebakan badak (kubangan), hunyur (bukit kecil), pitunahan celeng (habitat babi), kalomberan (comberan), jarian (tempat sampah).

Begitu pula kearifan lokal seperti gunung kaian, yaitu biarkan gunung ditumbuhi oleh pepohonan agar oksigen semakin banyak dan air hujan diresapkan ke dalam tanah untuk cadangan air pada musim kemarau dan mencegah banjir-erosi pada musim hujan. Gawir awian bermakna tanami tebing dengan bambu, bagai aur dengan tebing, agar tidak longsor. Daratan imahan, manfaatkan lahan datar untuk permukiman. Susukan caian, parit dan selokan sebagai penyalur air hujan. Sungai pun dirawat, walungan rawateun, seperti upaya restorasi Citarum sekarang. Legok balongan, lahan cekung (rendah) sebagai kolam retensi atau wetland, bukan permukiman. Jika tidak demikian maka penduduk yang tinggal di daerah cekung akan rutin kena banjir setiap musim hujan.

Selain tataruang menurut kultur, masyarakat Sunda juga mengenal istilah tabu atau pamali. Pamali adalah pantangan bagi setiap orang untuk berbuat buruk kepada lingkungan. Contoh, pamali makan burung yang ngagaludra, yaitu burung yang dua jari kakinya ke depan dan dua ke belakang pada waktu bertengger di ranting pohon, seperti elang dan alap-alap. Burung ini menjaga kesetimbangan ekosistem karena sebagai predator tertinggi di dalam rantai makanan. Apabila burung ini punah maka hama tikus dan bajing semakin banyak di lahan pertanian.

Ada juga pamali menebang pohon beringin, kiara, dan teureup. Pamali ini terbukti mampu melindungi berjenis burung, serangga, dan mamalia kecil sehingga berkembang biak. Pohon tersebut pun dapat meresapkan air hujan dan mengeluarkan air sedikit demi sedikit sepanjang tahun yang disebut mata air (cai nyusu).

Tentu saja tafsir atas pamali tersebut tidak bisa dipahami secara harfiah. Perlu dikaitkan dengan adat istiadat, budaya, dan kepercayaan pada masanya. Yang diambil dari pamali adalah spiritnya dalam melestarikan fungsi lingkungan sebagai tempat hidup, sumber makanan, minuman, pekerjaan, dan hubungan sosial kemanusiaan.  

Namun demikian, pada zaman 4.0 ini masyarakat tidak mudah percaya pada pamali. Oleh sebab itu, perlu disandingkan dengan kajian ilmiah dan peraturan pemerintah. Bisa juga dikaitkan dengan ayat-ayat di dalam kitab suci agama perihal kerusakan lingkungan.

Struktur

Upaya restorasi tidak akan optimal tanpa peran pemerintah dalam hal pelaksanaan, pengawasan dan pendanaan. Gerakan Citarum Harum misalnya, upaya sekarang ini lebih berhasil daripada dulu pada masa gerakan Masyarakat Cinta Citarum dan Program Kali Bersih (Prokasih). Memang restorasi bisa saja dilaksanakan oleh ormas, parpol, kampus, bahkan oleh individu seperti Mak Eroh dan para penerima hadiah Kalpataru. Tetapi hasilnya tidak sinambung. Biaya, ilmu dan teknologi, serta keamanan menjadi kendala.

Hanya gerakan resmi pemerintah saja yang berpeluang besar pada keberhasilan restorasi. Ada peraturan dan ada penegakan hukum. Sudah banyak ada undang-undang dan peraturan daerah. Sudah banyak kasus hukum disidangkan di pengadilan. Tetapi penegakan hukum lingkungan belum sepenuhnya terwujud. Belum muncul efek jera. Pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan terus terjadi. Sebagai contoh dalam gerakan Citarum Harum, tim satgas seperti kucing-kucingan dengan pemilik pabrik yang air limbahnya mencemari sungai.

Pendekatan stuktur berbasis peraturan pemerintah tersebut akan optimal apabila harmonis dengan kultur kearifan lokal seperti slogan mipit kudu amit jeung ngala kudu menta: memungut, meramu, mengubah, memanfaatkan alam harus meminta izin kepada pemerintah berdasarkan hukum positif. Adapun selama ini pembangunan kurang menghargai kultur kearifan lokal. Misalnya, lahan yang pamali dibangun justru oleh pemerintah diberi izin lingkungan dan izin mendirikan bangunan. Akibatnya terjadi rebutan membangun permukiman dan kawasan komersial di lahan kritis. Bahkan sampai ke lahan curam (catang ronggeng), sempadan sungai, empang, dan situ habis dijadikan daratan.

Agar program pemulihan ekosistem ini berhasil maka harus ada senyawa antara pendekatan kultur dan struktur sehingga ekosistem bisa diperbaiki sedikit demi sedikit sampai akhirnya pulih atau mencapai batas maksimal yang mampu diperbaiki. Teoretisnya, semua ekosistem bisa dipulihkan asalkan optimal dalam memanfaatkan kearifan lokal yang disertai kajian ilmiah dan bersanding harmonis dengan pendekatan struktural yang sesuai dengan prinsip konservasi dan restorasi ekosistem.*



ReadMore »

28 April 2021

Puasa untuk Bumi

Puasa Untuk Bumi

Koran Pikiran Rakyat, 22 April 2021

Tema peringatan Hari Bumi (Earth Day) tahun 2021 ini adalah Restore the Earth. Pulihkan Bumi. Satu-satunya planet di tatasurya yang bisa didiami oleh manusia ini sedang sakit. Satu di antara beberapa cara untuk memulihkannya adalah puasa. Puasa dari aktivitas yang mencemari Bumi. Siapa yang harus puasa? Setiap orang sebagai individu dan orang sebagai pengelola masyarakat, yaitu pemerintah (pusat dan daerah). Ada tiga matra yang harus direstorasi dengan cara puasa, yaitu tanah, air dan udara.

Untuk tanah, setiap orang hendaklah puasa dari buang sampah botol plastik atau mengurangi (reduce) botol sejenis. Berikan botol kepada pemulung agar digunakan untuk keperluan lain (reuse, recycle). Bagaimana dengan sumber sampah botol plastik, yaitu pabrik makanan dan minuman, apakah harus ditutup? Haruskah pabrik softdrink dan makanan kemasan dihentikan? Jutaan orang bekerja di sektor industri makanan-minuman kemasan ini, mulai dari industri petrokimia hingga varian industri di hilirnya. Solusinya adalah gunakan bahan kemasan plastik yang ramah tanah sehingga mudah dihancurkan oleh mikroba tanah. 

Adapun sampah organik seperti sisa nasi, sayur, ikan, daging, buah-buahan sebaiknya tidak dibuang ke luar rumah tetapi ditanam di dalam lubang di halaman rumah. Seminimal mungkin ditaruh di bak sampah yang akan diangkut oleh petugas sampah untuk dibawa ke TPA sampah. Memang faktanya tidak bisa 100% tetapi bisa diupayakan sesedikit-sedikitnya. Sekian waktu kemudian sampah organik yang ditanam ini akan berubah menjadi pupuk. Bisa digunakan untuk pupuk tanaman hias, cabe, tomat, dll. Sampah organik ini menjadi penyubur tanah dan ikut memulihkan fertilitas tanah (Bumi). Tanah adalah bioreaktor alamiah yang mampu mengubah zat organik jasad manusia, hewan dan tumbuhan menjadi banyak unsur hara di dalam pupuk (fertilizer).  

Bagaimana dengan peran pemerintah? Pemerintah merilis peraturan yang berpihak kepada kelestarian fungsi lingkungan dan peraturan ini wajib dilaksanakan oleh investor yang mengeksploitasi tanah untuk tambang batubara, emas, perak, nikel, minyak, gas, dll. Peraturan tersebut hendaklah dilaksanakan secara konsekuen. Tidak perlu terlalu banyak peraturan, apalagi setiap tahun ada peraturan baru sehingga terjadi inflasi peraturan. Apabila peraturan yang ada dilaksanakan secara taat asas maka hasilnya tentu efektif. Lemahnya penegakan hukum lingkungan inilah yang menjadi masalah saat ini.  

Sebagai contoh, setiap pohon di kota yang tumbuh di tanah milik negara haruslah dirawat dan dipantau berkala. Tidak perlu semua pohon dipantau. Yang wajib dipantau adalah pohon besar yang rapuh akarnya atau pangkal batangnya berlubang. Kalau bisa disembuhkan tentu lebih baik dipertahankan. Kalau tidak bisa maka segera diregenerasi dengan pohon sejenis kemudian pohon yang sakit ini ditebang sebelum tumbang. Upayakan juga pohon-pohon tersebut tidak silang sengkarut dengan kabel telepon apalagi kabel listrik. Cegahlah korban harta dan jiwa sebelum terjadi. 

Untuk air, setiap orang puasa dari perilaku buang air besar sembarang (open defecation). BABS ialah buang tinja di kebun, ladang, hutan, semak, sungai, selokan, pantai. Setiap rumah harus memiliki septic tank. Tugas pemerintah adalah menambah septic tank komunal di permukiman padat terutama di daerah kumuh (slum area) dan di daerah lain yang membutuhkan. Adapun pemilik pabrik tidak hanya wajib memiliki IPAL tetapi yang jauh lebih penting adalah wajib mengoperasikan IPAL dengan benar. Sebab, IPAL bukanlah lampu Aladdin, perlu dioperasikan dan dirawat sesuai dengan SOP. Demikian juga pemilik kebun dan sawah harus mengurangi pestisida agar air tanah dan air sungai terbebas dari racun pestisida terutama air yang digunakan oleh PDAM untuk air minum.

Untuk udara, setiap orang sebisa-bisanya tidak membakar sampah. Gunakan sepeda untuk jarak dekat di dalam perumahan atau berjalan kali. Pemerintah bertugas menyediakan transportasi masal yang nyaman dan menggunakan bahan bakar ramah udara. Kendaraan listrik menjadi opsi penting meskipun belum tentu lebih ekonomis. Adapun pabrik semampu-mampunya mengurangi penggunaan batubara meskipun sudah dinyatakan bukan limbah B3 lagi oleh PP No. 22/2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang diturunkan dari UU Cipta Kerja. Keputusan ini dinyatakan fatal dan menyisakan pro-kontra di ranah pegiat dan pengamat lingkungan.

Andaikata semua aktivitas tersebut tidak bisa dilaksanakan oleh masyarakat berarti masyarakat tidak berniat serius untuk memulihkan kondisi Bumi. Begitu juga pemerintah, apabila peraturan hanya sekadar dibuat apalagi berpotensi merusak tanah, air, udara maka berarti pemerintah tidak berniat serius untuk menyembuhkan Bumi. Keikutsertaan pemerintah dalam peringatan Hari Bumi hanyalah rutinitas proforma yang tidak berdampak penting bagi Bumi dan sekadar business as usual serta teposaliro belaka kepada negara lain.  

Apabila demikian realitasnya maka keengganan masyarakat dan pemerintah berpuasa untuk memulihkan Bumi kalah jauh dengan masyarakat dan pemerintah Amerika Serikat 51 tahun yang lalu. Kalah oleh spirit seorang ibu rumah tangga, Rachel Carson, penulis buku The Silent Spring (Musim Bunga yang Sunyi). Spiritnya ini kemudian disebarkan oleh senator Wisconsin Gaylord Nelson dalam orasi ekopolitiknya di Seattle pada tahun 1969. Tahun berikutnya sekitar 20 juta orang mengikuti deklarasi Earth Day pada 22 April 1970.

Tampaklah, individu dan pemerintah bersama-sama peduli pada kerusakan lingkungan akibat pencemaran tanah, air dan udara. Respons positif pada saat itu langsung diberikan oleh Presiden Richard Nixon dengan mendirikan Environmental Protection Agency (EPA) pada 2 Desember 1970 dan sukses merilis the Clean Water Act, the Clean Air Act, the Endanger Species Act.

Padahal jauh sebelum tahun 1970 itu, yaitu tahun 1945, Indonesia sudah memiliki pasal sosioekologi: pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang eksplisit menyatakan bahwa Bumi (tanah), air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Deklarasi di dalam konstitusi negara kita ini sudah ada jauh sebelum Amerika Serikat peduli pada kerusakan lingkungan.

Kenapa sekarang justru kita tertinggal dalam ranah kepedulian terhadap lingkungan dan lebih mementingkan investasi yang merusak ekologi? Mampukah kita memulihkan Bumi jika demikian? Selamat memperingati Hari Bumi di tengah pandemi Covid-19. Selamat berpuasa untuk Bumi. *

 

 

 

 

ReadMore »

25 Maret 2021

Menghargai Air (Banjir)

Menghargai Air (Banjir)

Oleh Gede H. Cahyana

Lektor Kepala Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan

Hari Air Dunia (World Water Day) pada 22 Maret 2021 bertema Valuing Water, menghargai air. Apakah selama ini air tidak berharga, kurang dihargai oleh masyarakat dunia? Bagaimana di Indonesia khususnya di kota-kota besar di Jawa Barat?

Ada ungkapan bahwa semua ada harganya. Begitu juga air, terutama air minum. Air minum kemasan harganya antara Rp5.000 dan Rp8.000 seliter. Kemasan botol yang disajikan dalam rapat DPR dan rapat kabinet lebih mahal lagi. Air baku yang biasa disebut air gunung, di Kota Bandung disebut air Gunung Manglayang, harganya antara Rp2.000 dan Rp2.500 per jeriken, isinya kurang lebih 20 liter. Air olahan PDAM harganya berbeda-beda dari satu kabupaten/kota ke kabupaten/kota lainnya. Berbeda-beda juga harganya dari volume sedikit ke volume yang lebih banyak dalam sebulan. Artinya, sesungguhnya kita sudah menghargai air. Terutama dihargai oleh pengusaha, oleh pebisnis air. 


 

Begitu pula, harga air akan semakin tinggi apabila digunakan untuk melarutkan zat-zat kimia menjadi minuman kemasan seperti minuman ringan (soft drink). Harga di supermarket, minimart berbeda dengan harga di warung. Harganya tambah mahal apabila air dijadikan bahan pelarut obat-obatan seperti sirup dan cairan infus. Tempat juga menambah harga air. Air kemasan yang sama akan melejit harganya apabila dibeli di bandara. Lebih mahal lagi kalau dibeli di dalam pesawat selama penerbangan. Sungguh, air sudah dihargai tinggi. Perlukah menghargai air lagi?

Harga variatif air tersebut tentu ada sebabnya. Ada aspek finansial yang berkaitan dengan biaya investasi (investment cost), biaya operasi (operational cost), biaya pemeliharaan atau perawatan (maintenance cost) yang semuanya menuju pada harga (tarif) air per satuan produk (integral cost) pada air jeriken, air minum kemasan ulang, air minum kemasan, air minum yang menjadi pelarut di pabrik farmasi, makanan dan minuman. Harga air pun bisa berbeda karena sumber airnya. Air sungai yang diolah menjadi air minum akan jauh lebih mahal harganya dibandingkan dengan air dari mata air atau air tanah. Ini adalah cara menghargai air versi pebisnis.

 

Air Banjir

Bagaimana cara menghargai air versi masyarakat yang bukan pebisnis air minum? Mayoritas masyarakat bukanlah pebisnis air. Bukan pemilik pabrik air minum, bukan pemilik depot air minum kemasan ulang, bukan pemilik bisnis air jeriken, bukan pemilik pabrik sirup, soft drink, obat dan makanan minuman. Juga bukan pemilik laundry dan bengkel cuci mobil. Mayoritas adalah sebagai konsumen air dan produk-produk berbasis air minum.

Sudahkah kita, warga Jawa Barat, menghargai air hujan? Tiga bulan terakhir ini banjir terjadi di banyak daerah di Jawa Barat. Sudahkah kita menghargai air banjir? Mengapa harus dihargai, bukankah banjir itu membuat masyarakat sengsara? Kerugian akibat banjir meliputi harta dan nyawa, fisiologis dan psikologis. Bisa terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun di lokasi yang sama. Aneh, tetapi begitulah faktanya. Hujan tidak bisa dicegah turunnya, tidak bisa dihalangi, tidak bisa dibatalkan. Seringnya kegagalan semai awan hujan membuktikan bahwa hujan sulit dikendalikan oleh manusia. 

Yang bisa dikendalikan adalah di permukaan tanah. Kendalikan luas hutan di bukit dan gunung, luas hutan kota, jenis bahan perkerasan jalan mobil, jalan setapak, dan lokasi perumahan. Gunakan teknologi agar air hujan lebih banyak masuk ke dalam tanah dan ditampung di permukaan tanah di embung, kolam, waduk, sawah, rawa, selokan, dan teknologi tepat guna seperti biopori, bidang resapan, sumur resapan. Panen air hujan, rain water harvesting.

Menghargai air hujan yang menyebabkan banjir bisa dilaksanakan oleh semua orang. Menghargai air termasuk air hujan sebagai barang sosial sudah ditetapkan di dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 3. Pendiri bangsa, the founding fathers kita sudah demikian tinggi menghargai air, meneguhkan spirit dasar bahwa air digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Apakah menghargai air dengan spirit versi pengusaha diperkenankan? Pembatalan UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA) membuktikan bahwa air selayaknya memberikan kemudahan untuk hajat hidup orang banyak. 

Penggantinya yaitu UU No. 17 tahun 2019 tentang Sumber Daya Air menjadi penegasan kembali pasal sosioekologi (pasal 33 UUD 1945). Pada pasal 7 dinyatakan bahwa SDA tidak dapat dimiliki dan/atau dikuasai oleh perseorangan, kelompok masyarakat, atau badan usaha (bisnis). Begitu juga hak rakyat atas air bukan berarti kepemilikan atas air melainkan hanya untuk memperoleh dan menggunakan sebagian kuota air sesuai dengan alokasinya.

Apabila air banjir saja harus dihargai, apatah lagi air yang lebih bersih seperti air PDAM atau air minum kemasan. Salah satu cara menghargai air adalah hemat air. Seseorang yang memiliki uang miliaran rupiah tentu mudah membeli air minum. Bahkan air pencuci mobilnya pun berkualitas seperti air minum. Air mandi berkualitas air minum. Tetapi merujuk pada pasal sosioekologi tersebut maka perilaku ini termasuk buruk dan egois. Sebab, masih banyak orang yang sulit memperoleh air minum yang layak diminum. Banyak yang terpaksa minum air keruh, air tercemar untuk mencuci sayur, daging, dan beras. Menggunakan air keruh dan kotor untuk mandi dan mencuci piring dan gelas. Hemat air pun perlu dilaksanakan pada waktu berwudhu dengan cara membuka kecil kran air sehingga efisien. Mandi juga demikian, berupaya hemat air. 

Dua versi menghargai air tersebut, yaitu versi pengusaha (pebisnis) dan versi orang awam (bukan pebisnis air) hakikatnya adalah saling membutuhkan. Apabila asasnya adalah pasal sosioekologi UUD 1945 maka ada titik temu antara keduanya. Titik temu menjadi harmonis apabila perusahaan memberikan corporate social responsibility (CSR)-nya untuk penanaman pohon di kota-kota, pembuatan wetland dan kolam retensi di lokasi yang tepat secara teknis, memberikan perangkat pengolahan air minum komunal untuk masyarakat di daerah rutin banjir, termasuk filter pengolah air banjir agar warga masih bisa memperoleh air untuk MCK dengan memanfaatkan air banjir di sekelilingnya.

Hargailah air (banjir) maka air akan menghargai kita: cukup kuantitasnya, baik kualitasnya, tersedia 24 jam sehari semalam. *

 

ReadMore »

12 Maret 2021

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PROPOSAL TUGAS AKHIR

Pengumuman ini ditujukan kepada semua mahasiswa TL UKRI yang akan mengambil TA pada Semester Ganjil atau Semester Genap. Batas pengajuan proposal TA kepada Koordinator TA adalah sepekan (7 hari) setelah PKRS ditutup. Mahasiswa menyerahkan printout proposalnya kepada Koordinator TA dan selanjutnya adalah presentasi proposal yang diatur oleh Koordinator TA. 

Hasil presentasi proposal ada tiga, yaitu (1) diterima, (2) diterima dengan perbaikan, (3) ditolak. Proposal yang ditolak diganti dengan proposal baru kemudian dipresentasikan lagi. Proposal yang diterima (accepted, acc) diplotkan dosen pembimbingnya. Bimbingan atau asistensi dilakukan minimal delapan kali untuk semua bab. Bab Hasil dan Pembahasan minimal tiga kali.

Beberapa tema TA dapat dipilih di bawah ini. Sebagai acuan, materi TA ada dua jenis.


1) Perancangan atau desain.

a. Air Minum: Sistem Transmisi - Distribusi Air Minum atau Perancangan IPAM, RISPAM atau masterplan AM sebuah kota.

b. Air Limbah (buangan): Sistem pengumpulan air limbah sebuah kecamatan, Perancangan IPAL Domestik Kecamatan atau Perancangan IPAL komunal modifikasi untuk kelurahan/perumahan, masterplan air limbah sebuah kota, IPLT.

c. Persampahan: Perancangan TPS dan TPS3R sebuah kecamatan, Perancangan TPST atau TPA, perancangan sistem pengumpulan sampah sebuah kecamatan, masterplan persampahan.

d. Air hujan: Perancangan drainase sebuah kecamatan, kawasan permukiman atau perumahan.

e. Pencemaran udara/bising: Perancangan alat untuk mengurangi polutan seperti partikulat, gas-gas polutan lainnya, untuk mengurangi kebisingan (ini juga bisa masuk ke TA bidang Penelitian).

f. Perancangan sistem plambing sebuah gedung berlantai empat atau dengan studi kasus di konsultan yang sedang merencanakan untuk membangun gedung kantor, mall, hotel, asrama, dll.


2) Penelitian

a. Air Minum:  Penelitian kemampuan sebuah unit operasi atau unit proses dalam mengolah beberapa parameter kualitas air. Misalnya, mengolah kekeruhan air dengan proses koagulasi, flokulasi, bermacam-macam filter, pengolahan air banjir,

b. Air limbah: misalnya mengolah air limbah rumah tangga atau pabrik menggunakan unit operasi atau unit proses tertentu utk mengurangi konsentrasi logam berat, COD, BOD, nitrat, fosfat dan lain-lain. Pilih satu atau dua saja…

c. Persampahan: penelitian dengan tema pengolahan sampah untuk dijadikan kompos, untuk pupuk cair, untuk mengetahui timbulan biogasnya, untuk mengetahui komposisi sampah sebuah kecamatan, dan lain-lain.

d. Air hujan, misalnya penelitian tentang banjir akibat pembangunan Sumarecon Bandung. Penelitian keasaman air hujan di daerah yang ada pabrik yang memanfaatkan batubara sebagai bahan bakar, atau penelitian tentang dampak pabrik semen, pabrik pengolahan kapur di Citatah, dan lain-lain.

e. Penelitian sanitasi makanan-minuman, hygiene industri, K3, berkaitan dengan pelaksanaan K3 di sebuah kantor yang cukup besar agar scope-nya masuk untuk 6 SKS seperti BUMN PT DI, PT Pindad, BUMD PDAM, TPA, pabrik-pabrik swasta besar, dll.

f. Pencemaran udara/kebisingan. Misalnya polusi udara akibat partikulat. Penelitian pengurangan CO2, CO dari knalpot motor, dll.

Sumber pustaka

a. TA perancangan boleh menggunakan textbook yang sudah baku dipelajari di prodi TL. Tersedia banyak buku teks ini di perpustakaan. Boleh menggunakan juklak, juknis yang dikeluarkan oleh kementerian PU atau PUPR, LH dan LHK.  Cari juga di internet (google.scholar) penelitian yang meneliti tentang criteria design (criteria perancangan) unit operasi atau unit proses. Kriteria ini bisa digunakan.

b. TA penelitian, sumber pustakanya dari penelitian sejenis yang tersedia di internet seperti artikel di Google Scholar. Materi yang berkaitan dengan aspek sejarah boleh menggunakan artikel lama. Materi yang berkaitan dengan perbandingan hasil, efisiensi reaktor atau filter air dengan bentuk dan media modifikasi, upayakan artikel terbaru atau lima tahun terakhir. Tetapi kajian sejarahnya boleh merujuk ke artikel lama. Materi dari textbook sedikit saja karena penelitian ini dinamis, berubah-ubah dengan cepat.

Sebagai patokan judul TA, buatlah TA di bidang keahlian TL. Coba cari di google.scholar judul-judul penelitian dan perancangan di bidang TL. Boleh mengulang penelitian atau perancangan orang lain dengan modifikasi. Misalnya, lokasi berbeda, metodologi berbeda: bisa alatnya yang berbeda, bisa metode (cara)-nya yg berbeda. Bisa juga zat kimia atau reagennya yang berbeda.

Agar lebih cepat, tulislah judul TA, latar belakang, perumusan masalah, tujuan, metodologi (alat, bahan, metode/cara). Tulis hal yang berbeda dengan penelitian atau perancangan yang sudah dilaksanakan oleh orang lain agar sedikit kemiripannya (similarity), agar terhindar dari plagiat. Plagiat bisa sangat merugikan, bisa pembatalan gelar sarjana. Oleh sebab itu, dosen pembimbing juga bertanggung jawab agar mayoritas paragraf di dalam laporan TA sudah diparafrase sampai simirarity di bawah 20%.

Berkaitan dengan daftar pustaka yang akan digunakan. TA penelitian, lebih banyak berupa artikel di jurnal ilmiah dan beberapa saja buku teks. TA perancangan, lebih banyak dari buku teks. Juklak, juknis Kementerian PU, PUPR, LH, LHK, Kesehatan. Bandingkan kriteria desain di satu buku teks dengan buku teks lainnya.

Format TA bisa dibaca dilink ini.

https://gedehace.blogspot.com/2019/08/format-proposal-tugas-akhir.html

Selain printout, untuk dokumentasi, maka proposal TA diemailkan dalam format MS Word ke email address: tl.ukri00@gmail.com. *

------------------- ***------------------

Penulisan Laporan KP, TA

Mahasiswa menuliskan hasil KP atau TA di laporan yang sistematikanya sudah baku. Pada Bab Hasil dan Pembahasan, buatlah tabel, grafik, atau gambar yang bagus tampilannya, proporsional besar kecil garis dan titik-titik. Gambar dibuat yang proporsional tanpa skala atau lebih bagus dgn skala. Bisa menggunakan Paint, Powerpoint, Corel, Photoshop… minta tolong teman juga boleh.

Masukkan tabel, grafik, gambar di Bab Hasil dan Pembahasan. Tulislah keterangan atau penjelasan tabel, grafik, gambar tersebut. Lalu tulislah satu alinea (paragraf) yang menjelaskannya. Ini disebut HASIL.Kemudian jelaskan “mengapa” hasilnya demikian, bandingkan dengan teori di Bab Studi Pustaka dan bandingkan juga dengan hasil orang lain di artikel jurnal mereka (dan tulis nama, tahunnya), maka ini sudah disebut HASIL dan PEMBAHASAN. Kalau ada keunggulan hasil penelitian ini dibandingkan dengan orang lain, maka tulis juga keunggulan itu.

Silakan dibaca lebih lanjut folder ini.

ReadMore »

9 Maret 2021

PROPOSAL KERJA PRAKTIK

PROPOSAL KERJA PRAKTIK

Mahasiswa bisa melaksanakan Kerja Praktik di semester ganjil atau di semester genap. Syaratnya adalah sudah mengisi kontrak kuliah di KRS, sudah disetujui oleh dosen wali. Selanjutnya mahasiswa menulis proposal KP, diserahkan printout kepada Koordinator KP dan untuk arsip diemailkan ke email address tl.ukri00@gmail.com. Proposal KP paling telat diajukan sepekan setelah Perubahan KRS (PKRS). Selanjutnya proposal KP diseminarkan yang jadwalnya diatur oleh Koordinator KP. Koordinator KP kemudian memplotkan dosen pembimbing KP.

Dosen pembimbing boleh satu orang dosen, boleh dua orang dosen, bergantung pada tema KP, berat-ringannya materi KP. Mahasiswa boleh KP berkelompok, maksimal dua orang per kelompok dan bergantung pada tema KP (di pekerjaan konstruksi bangunan IPAM, IPAL, IPLT, TPA, IPALin, MCK komunal, boleh 2 orang). Masing-masing melaksanakan tugas dan tanggung jawab materi KP secara spesifik dan menjelaskannya kepada dosen pembimbing dan dosen penguji seminar KP. Laporan KP ditulis bersama dengan tetap memperlihatkan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Kedua mahasiswa aktif bersama-sama dalam pelaksanaan dan penulisan laporan, juga di dalam seminar.

Asistensi (bimbingan)

Diingatkan bahwa proses bimbingan materi KP dilaksanakan selama mahasiswa berada di lokasi KP (30 - 45 hari efektif) dan dilanjutkan lagi di kampus. Komunikasi bisa secara tatap muka di kampus (apabila lokasi KP masih di Bandung dsk), bisa juga dengan email atau media lainnya. Bimbingan dilaksanakan minimal delapan kali dengan fokus pada masalah dan solusi serta hasil dan pembahasan temuan di lokasi KP.

Materi Kerja Praktik

Mata kuliah KP ini adalah mata kuliah untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa “bekerja” secara mandiri di projek atau lokasi yang berkaitan dengan ilmu dan teknologi di bidang teknik lingkungan. Materi KP bisa konstruksi atau OM (Operation & Maintenance). Konstruksi yang dimaksud adalah pekerjaan pembangunan (konstruksi sipil) bidang TL seperti pembangunan intake, pembangunan IPAM, pemasangan pipa transmisi-distribusi air minum, IPAL domestik, pemasangan pipa sewer (sewerage), pembuatan manhole, pumping house, wet well, IPAL industri (pabrik), IPLT (lumpur tinja), TPA, TPST, TPS3R, IPALin (lindi, leachate), plumbing gedung 4 lantai atau lebih, pembuatan dan instalasi alat pereduksi polusi udara pabrik (cerobong asap).

Materi OM adalah materi di instalasi dengan kajian pada unit operasi dan unit prosesnya. Mengkaji kuantitas, kualitas, dan kontinuitas aliran air dan melaporkan efisiensi per unit dan efisiensi totalnya. Lokasi OM ini misalnya IPAM di PDAM, PAM swasta, IPAL domestik, IPAL pabrik, IPAL komunal kawasan permukiman, IPLT, IPALin, dll. Materi pelaksanaan higiene industri dan K3 di perusahaan. Materi Amdal, UKL, UPL, KLHS di perusahaan konsultan, khusus untuk tema ini maka mahasiswa dengan jelas mendeskripsikan apa saja tugasnya dan menulis laporan sesuai dengan deskripsi tugasnya di perusahaan jasa konsultan tersebut.

Pelaporan

Sumber pustaka seperti buku teks dan artikel di jurnal ilmiah sama dengan persyaratan dalam penulisan TA. Silakan dibaca.

Format Proposal KP di link ini.

------------------- ***------------------

Penulisan Laporan KP, TA

Mahasiswa menuliskan hasil KP atau TA di laporan yang sistematikanya sudah baku. Pada Bab Hasil dan Pembahasan, buatlah tabel, grafik, atau gambar yang bagus tampilannya, proporsional besar kecil garis dan titik-titik. Gambar dibuat yang proporsional tanpa skala atau lebih bagus dgn skala. Bisa menggunakan Paint, Powerpoint, Corel, Photoshop… minta tolong teman juga boleh.

Masukkan tabel, grafik, gambar di Bab Hasil dan Pembahasan. Tulislah keterangan atau penjelasan tabel, grafik, gambar tersebut. Lalu tulislah satu alinea (paragraf) yang menjelaskannya. Ini disebut HASIL.Kemudian jelaskan “mengapa” hasilnya demikian, bandingkan dengan teori di Bab Studi Pustaka dan bandingkan juga dengan hasil orang lain di artikel jurnal mereka (dan tulis nama, tahunnya), maka ini sudah disebut HASIL dan PEMBAHASAN. Kalau ada keunggulan hasil penelitian ini dibandingkan dengan orang lain, maka tulis juga keunggulan itu.

Silakan dibaca lebih lanjut di folder ini.

ReadMore »

28 Februari 2021

Hikmah Covid-19 Bagi Literasi

Hikmah Covid-19 Bagi Literasi 

Oleh Gede H. Cahyana

https://osf.io/9jfau/

Virus Corona baru (novel Coronavirus) penyebab wabah Covid-19 mengubah kehidupan manusia. Belajar, bekerja, bersekolah, beribadah, berdagang, bersikap dan berperilaku juga berubah. Muncul gaya hidup baru. Gaya hidup baru ini berlaku minimal selama pandemik atau selama vaksinnya belum ditemukan. Hingga akhir September 2020 belum bisa dipastikan oleh ahlinya kapan vaksin Covid-19 dinyatakan siap diberikan kepada manusia. Sambil menunggu kehadiran vaksin tersebut tentu semua aktivitas hidup manusia harus terus berlangsung tetapi dengan perubahan.

Dunia pendidikan misalnya, sudah berubah. Murid dan mahasiswa disuruh belajar di rumah masing-masing. Begitu juga guru dan dosen disuruh mengajar dari rumah. Hanya dalam kasus khusus saja guru dan murid boleh bertemu di sekolah dan wajib melaksanakan protokol baku kesehatan untuk Covid-19. Ada positifnya, yaitu guru, dosen, murid, dan mahasiswa menjadi makin akrab dengan internet. Akrab dengan e-mail, WA, Telegram, Zoom, Google Meet, Youtube, website, dan blog. Murid dan mahasiswa mengerjakan tugas dari guru dan dosen dengan bantuan platform media komunikasi dunia maya tersebut.

Dunia maya memiliki jutaan lembar naskah akademik untuk murid dan mahasiwa dari bermacam-macam bahasa yang bisa diunduh dari internet. Dunia baca makin bergairah. Dunia tulis terus bertambah. Murid dan mahasiswa kian intensif belajar menulis. Memang banyak yang hanya copy-paste, sekadar salin-tempel dalam menulis tugas-tugasnya  tetapi dapat dimaklumi. Pada tahap awal biasanya seperti itu. Lama-lama mereka akan berubah seiring dengan kemampuan murid dan mahasiswa bahkan guru dan dosen dalam menulis artikel atau makalah (paper). Yang penting gairah membaca dan menulis di dunia maya terus meningkat selama wabah ini. Baca dan tulis harus dikondisikan bagai api nan tak kunjung padam. Selayaknya dikobarkan dan dibesarkan.


Membesarkan api baca tulis menemukan momentum yang tepat pada masa wabah ini. Tanpa Covid-19 belum tentu gairah membaca dan menulis bisa semasif ini. Skalanya nasional bahkan internasional. Nyaris semua negara mengatur ulang pola pembelajaran di sekolah-sekolah. Begitu pun Indonesia. Kalau tidak ada perintah dari pemerintah untuk Work From Home tentu “keterpaksaan” membaca dan menulis dengan sumber dari internet dan menggunakan fasilitas telepon seluler tidak bisa semarak seperti sekarang. Orang tua yang semula kurang paham internet akhirnya ikut-ikutan belajar dan mulai mengenal istilah-istilah di dunia maya.

Orang tua ikut membantu anak-anaknya mencarikan materi tugas sekolah sekaligus ikut belajar membaca dan memahami tugas anak-anaknya. Tentu ini tidak bagus. Membuatkan tentu berbeda dengan mengajarkan. Namun ada juga orang tua yang pendidikannya tidak tinggi sehingga kesulitan membantu anak-anaknya dalam membuat tugas sekolah. Apapun itu, demikianlah faktanya. Bisa dipandang negatif bisa juga positif. Hikmahnya ada, yaitu orang tua menjadi makin dalam masuk ke dalam dunia literasi secara tidak disengaja. Mungkin banyak orang tua yang tidak sempat membaca dan menulis karena sibuk bekerja. Tetapi pada masa pandemik ini justru mereka memiliki banyak waktu menemani anaknya belajar, baik karena kewajiban work from home atau karena sedang dirumahkan oleh perusahaannya.   

Yang juga menarik, ada orang tua ikut mendaftar menjadi anggota perpustakaan dunia maya, misalnya Perpustakaan Nasional. Awalnya mereka tidak tahu ada perpustakaan dunia maya seperti Perpusnas itu. Tetapi informasi selama wabah ini begitu masif sehingga sampai juga informasi tentang perpustakaan tersebut kepada mereka. Orang tua lantas ikut mencarikan materi makalah dan artikel untuk anak-anaknya. Tanpa Covid-19 belum tentu mereka menjadi anggota Perpusnas. Bukan karena tidak mau tetapi tidak ada alasan dan tidak tahu apa manfaatnya.

Tampaklah akibat positif Covid-19 ini, orangtua yang awalnya jauh dari buku menjadi makin dekat dengan buku. Banyak yang merasa kagum (surprised) akan kekayaan literasi di dunia maya. Mereka menjadi tahu bahwa buku, makalah, dan artikel hampir tak terbatas banyaknya. Tidak akan cukup waktu untuk sekadar membuka dan melihat-lihat halaman demi halaman, lembar per lembar. Apalagi membacanya. Tidak mungkin habis dibaca seumur hidup. Satu hari satu buku saja, maka dalam setahun hanya terbaca 365 buku. Sepuluh tahun hanya 3.650 buku. Sedangkan jumlah buku mencapai ratusan ribu judul di Indonesia dan jutaan judul di seluruh dunia.

Kekaguman ini berdampak positif pada perubahan pola pikir orang tua. Mereka antusias berselancar di dunia maya selama membantu anak-anaknya dalam mengerjakan tugas sekolah. Sekaligus orang tua bisa relaksasi selama work from home. Tanpa disadari, orang tua menjadi senang membaca, minimal membaca tulisan di media sosial, media komunikasi antara orang tua murid di sebuah sekolah. Mereka juga mulai menulis, minimal menulis di media sosial tersebut. Mulai menulis argumentasi atas suatu masalah yang hadir di telepon selulernya. Ikut diskusi di grup WA orang tua di sekolah anak-anaknya.

Lama-lama maka obrolan dari mulut ke mulut itu beralih menjadi percakapan dari tulisan ke tulisan. Mulai menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan meskipun banyak yang masih menuliskan kata yang diucapkan saat bercakap-cakap. Istilahnya adalah bahasa tutur yang ditulis. Relatif sulit dipahami karena tanpa titik koma dan sering kata-kata itu disingkat-singkat. Tetapi ini masih wajar-wajar saja, tidak apa-apa. Akan ada masanya kualitas menulis itu makin meningkat seiring dengan peningkatan frekuensi membaca, menganalisis tulisan, dan menulis ulang yang dibacanya.  

Kembali ke perihal perpustakaan tadi. Tidak hanya Perpustakaan Nasional tetapi semua perpustakaan. Covid-19 juga memberikan hikmah untuk perpustakaan. Budaya literasi yang mulai bergairah ini perlu sertamerta disambut baik oleh pustakawan. Mulai dari pejabat terasnya hingga ke pustakawan junior. Mereka ikut memudahkan murid dan orang tua dalam mencari dan membaca sumber daya ilmu yang tersedia di perpustakaan. Perpustakaan konvensional biasanya melayani tamu yang berkunjung secara langsung dengan mengantarnya langsung ke rak yang dituju. Di rak itu pengunjung bisa menemukan buku, majalah, ensiklopedia dan lain-lain sesuai dengan yang diinginkannya. Tetapi pada masa wabah ini berbeda. Rak-rak buku itu kini adalah rak maya. Rak imajiner. Ada tetapi tidak kasat mata.

Agar buku-buku di rak yang bertingkat-tingkat dan berderet-deret itu dapat dibaca oleh murid dan orang tua di mana saja berada maka harus diubah wujudnya. Harus digital. Pustakawan dan tim teknologi informasi membantu mengubah semua buku fisik menjadi buku digital sehingga bisa diakses oleh siapa pun dan di mana pun dengan internet, baik lewat komputer maupun telepon seluler. Dengan demikian maka perpustakaan tetap bisa eksis sebagai lokasi sumber ilmu. Perpustakaan tetap menjadi sumber literasi (pustaka). Perpustakaan ikut menguatkan pendidikan dan ikut mencerdaskan kehidupan anak bangsa Indonesia seperti dicanangkan sejak puluhan tahun sebelum adanya internet.

Hikmah Covid-19 selanjutnya adalah pemberantasan buta huruf. Huruf adalah sarana dasar untuk masuk ke budaya literasi. Tanpa bisa membaca huruf maka tidak mungkin bisa masuk ke dalam budaya baca tulis, budaya literasi. Hingga saat ini masih ada orang tua yang buta aksara Latin. Boleh jadi pada saat murid belajar di rumah bersama orang tuanya ikut serta kakek dan neneknya yang masih buta huruf. Bisa jadi pengasuh anak di rumah tersebut ikut mendengar sambil mengasuh balita. Asisten rumah tangga juga ikut mendengar. Mungkin juga tukang kebun, tukang masak, tukang cuci ikut belajar, minimal ikut mendengar.

Apabila tidak ada Covid-19 maka belum tentu kakek dan nenek ikut melibatkan diri di dalam pendidikan cucu-cucunya. Bahkan di desa-desa masih ada bapak dan ibu yang juga belum lancar membaca huruf Latin, apalagi menulis atau mengetik di komputer. Komputer pun mereka belum punya. Telepon seluler pun hanya ada satu di dalam sebuah keluarga. Berita seperti ini pernah viral di media sosial dan ditayangkan di televisi. Inilah Indonesia, sikap dan perilaku tolong-menolong masih ada. Murid yang kesulitan dalam pembelajaran dengan internet dibantu oleh tetangganya. Semuanya berupaya membantu dengan bergotong royong.

Pembelajaran akhirnya dilaksanakan tidak di rumah tetapi di kantor desa. Ada juga di kantor kecamatan, di kantor polisi. Ada juga yang naik ke bukit agar mudah mendapatkan sinyal internet. Mereka beramai-ramai di bukit itu pada siang hari sehingga aman dari tindak kejahatan. Ada juga yang belajar di warung-warung kopi (kafe) yang memberikan akses internet gratis dan penggunaan komputer yang juga gratis. Ini umumnya terjadi di kota-kota besar dan sedang atau di kota kecamatan.

Yang juga ikut aktif akibat Covid-19 adalah dunia perdagangan buku pelajaran dan buku bacaan umum. Terutama penerbit buku yang sudah memiliki toko buku online. Ketika toko fisiknya sepi pengunjung atau sedikit pembeli bahkan ditutup sementara oleh pemerintah karena alasan Covid-19 maka toko buku online bisa buka selama 24 jam sehari. Toko online bisa menjadi alternatif solusi bagi bisnis buku yang lesu selama pandemik. Penerbit yang belum siap dengan toko online masih bisa ikut berjualan di lokapasar atau marketplace di dunia maya.

Penerbit juga bisa promosi buku lama dan buku baru lewat video di Youtube. Kegiatan bedah buku offline yang tetap menerapkan protokol kesehatan bisa dilansir di kanal Youtube. Begitu juga kegiatan diskusi buku yang dilaksanakan online di Zoom atau Google Meet bisa disebar di internet. Murid dan mahasiswa adalah konsumen utama buku yang dijual online ini, minimal pada saat ini, selama pandemik ini. Mereka belum puas atas makalah dan artikel yang tersedia gratis di dunia maya sehingga perlu membeli buku yang membahas materi tertentu. Apalagi mahasiswa pascasarjana, mereka wajib menelaah beberapa buku ajar (textbook) yang dibandingkan isinya dengan buku ajar yang lain. Hasil telaah ini ditulis dalam bentuk makalah kemudian dibahas di kelas.

Apabila bukunya belum tersedia dalam bentuk e-book maka mereka membelinya secara online. Mereka menghubungi penerbit atau toko buku yang ada di internet lewat mesin pencari seperti Yahoo.com atau Google.com. Ada toko di dalam negeri, ada juga toko di luar negeri. Satu yang terkenal adalah Amazon.com. Dengan cara seperti ini maka penjualan buku fisik masih tetap berlangsung dan dikirimkan lewat jasa titipan kilat. Ada juga yang dikirim dengan jasa ojek online. Ternyata masih ada kehidupan di dunia perbukuan fisik meskipun aktivitas transaksinya di bawah jual beli pada masa sebelum terjadi wabah.

Adakah hikmah Covid-19 bagi penulis buku dan artikel, juga editor? Peluang rejeki ada di mana-mana. Penulis buku dapat memanfaatkan masa wabah ini dengan memberikan pelatihan menulis buku via online. Berbayar tentu saja. Tetapi harganya relatif terjangkau karena tidak perlu membayar sewa ruang rapat di hotel, tidak perlu penganan (snack) dan makan nasi, tidak perlu biaya transportasi, tidak perlu biaya untuk penginapan di hotel. Biayanya hanya untuk akses internet peserta masing-masing dan untuk honor atau penghormatan atas jasa yang diberikan oleh penulis. Peserta pun hanya membayar lewat transfer bank kepada penulis. Setelah itu, pada waktunya, yaitu hari tanggal dan pukul yang ditetapkan oleh penulis, maka pelatihan bisa dilaksanakan.

Peserta pun bisa belajar di rumah masing-masing bahkan bisa diikuti oleh suami/istri dan anak-anaknya. Bayar pelatihan untuk satu orang tetapi bisa diikuti dan didengarkan oleh semua orang yang hadir di rumah peserta pelatihan. Hemat, murah, ramai, meriah. Usai pelatihan semua anggota keluarga bisa mendiskusikan materi pelatihan sehingga pemahaman atas materi pelatihan semakin mantap. Keluarga seperti ini layak menjadi duta literasi keluarga karena sudah menghidupkan nilai-nilai kecendekiawanan (intellectuality).

Hal yang sama juga dialami oleh editor buku. Pelatihan editor buku atau editor artikel ilmiah populer, juga artikel ilmiah untuk diterbitkan di jurnal ilmiah bisa digelar via online juga. Semua dilaksanakan lewat internet. Penulis dan editor bisa saja dilakoni oleh satu orang yang sama tetapi umumnya oleh orang yang berbeda. Tersebut adalah dua profesi yang berbeda di dalam penerbitan buku dan jurnal ilmiah. Tetapi dua profesi ini sama-sama makin dibutuhkan pada masa pandemik Covid-19. Profesi editor memang relatif kurang dikenal oleh masyarakat. Jangankan masyarakat awam, kalangan guru dan dosen juga banyak yang belum tahu bahwa ada profesi penting di dalam penerbitan buku, yaitu editor (penyunting).

Adapun dosen yang sering menulis di jurnal ilmiah biasanya sudah tahu ada profesi editor. Semua jurnal ilmiah pasti memiliki editor. Di penerbitan yang sudah mapan malah ada tim editor dan editor in chief. Profesi editor ini juga ada pada penerbitan berkala berupa majalah dan koran dan biasanya merangkap menjadi redaktur (redaksi). Majalah online dan koran online atau portal berita juga menjadi salah satu sumber rujukan bagi murid dan mahasiswa selama mengerjakan tugas sekolah dan kuliahnya.

Seperti halnya majalah dan koran edisi cetak, yaitu yang berupa kertas, kini majalah dan koran online juga semakin banyak. Malah ada kecenderungan jumlah pelanggan koran dan majalah terus berkurang. Oplah koran dan majalah terus susut di tengah peningkatan akses ke portal berita online. Artinya, budaya literasi masih tetap ada dan bahkan boleh jadi meningkat tetapi berpindah dari media konvensional ke media online. Migrasi ini menjadi keniscayaan pada masa revolusi industri 4.0 dengan basis media massa tanpa kertas (paperless).

Tidak hanya profesi penulis dan editor, profesi guru dan dosen juga memperoleh hikmah dari Covid-19 ini. Derajat kualitas guru dan dosen meningkat karena semakin banyak literatur yang dibacanya. Makin banyak juga yang harus ditulisnya. Lantaran tuntutan tugas pokok dan fungsinya, guru dan dosen dipaksa memiliki materi ajar yang bisa ditayangkan secara online. Minimal bisa dikirimkan kepada murid dan mahasiswa lewat e-mail atau WA.

Sebelum ada wabah Covid-19 mungkin tidak semua guru dan dosen memiliki materi yang berwujud file. Mayoritas guru dan dosen memiliki materi ajar berwujud buku, diktat, modul, fotokopi, atau materi yang ditulis di plastik mika yang memerlukan Over Head Projector (OHP) pada saat digunakan di depan kelas. Semuanya adalah sarana kuliah dan pembelajaran untuk tatap muka di kelas. Kini semua itu harus diubah menjadi bentuk digital. Bentuk yang bisa dikirimkan dengan berbagai media komunikasi online.

Untuk profesi dosen, selain harus menyiapkan materi perkuliahan untuk mahasiswa, yaitu dharma pendidikan dan pengajaran, dosen juga harus menulis artikel penelitian yang diterbitkan di jurnal ilmiah. Ini masuk ke dalam dharma penelitian dari Tridharma. Pada masa normal lama biasanya dosen banyak menghabiskan waktunya dalam perjalanan menuju kampus. Waktunya juga habis untuk temu muka dan saling sapa di kampus. Tetapi selama wabah Covid-19 ini justru dosen dilarang ke kampus sehingga waktunya lebih banyak di rumah.

Dosen memiliki waktu luang untuk selancar di lautan ilmu di dunia maya, mengumpulkan artikel dan menelaahnya. Dosen bisa menulis diktat, menulis modul, menulis buku, dan menulis artikel ilmiah dan ilmiah populer untuk diterbitkan di media masa seperti koran dan majalah. Dosen juga ikut kegiatan yang jarang atau bahkan belum pernah diikuti pada masa sebelum ada wabah, yaitu seminar di dunia maya. Webinar.

Dalam satu hari ada dosen yang bisa ikut tiga kali webinar. Memang lebih banyak dosen yang menjadi peserta tetapi tetap saja positif karena pasti ada ilmu yang diperolehnya. Bagi dosen yang sudah dikenal pakar di bidang ilmu tertentu maka bisa sebagai narasumber di dalam webinar. Ada juga webinar di kalangan terbatas, yaitu diikuti hanya oleh ahli-ahli di bidang ilmu tertentu. Semua ahli itu menjadi pembicara di dalam webinar untuk saling tukar informasi dan saling menyampaikan hasil riset atau penelitiannya.  

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa wabah Covid-19 ini seperti blessing in disguise bagi dunia pendidikan, bagi dunia literasi. Covid-19 sudah mengubah dunia literasi konvensional menjadi online. Slogan bahwa buku adalah jendela dunia masih tetap berlaku tetapi buku dalam format digital. Begitu juga artikel, makalah, modul dan lain-lain. Kegiatan berkunjung ke perpustakaan juga tetap ada tetapi berubah menjadi selancar di perpustakaan maya.

Apabila semua kekayaan perpustakaan bisa diubah menjadi digital maka perpustakaan maya akan berjaya. Begitu pula akan ada aktivitas membeli buku dalam wujud e-book. Menjual buku dalam wujud e-book. Meminjam buku di perpustakaan maya juga dalam wujud e-book. Termasuk kekayaan literasi masa lampau, manuskrip, tulisan di papyrus, di lontar, tulang, kayu dan lain-lain bisa diubah menjadi bentuk digital sehingga bisa dibaca, dilihat, diunduh di dunia maya.

Dengan demikian maka wabah Covid-19 ini sesungguhnya sedang menghidupkan pelan-pelan budaya literasi digital di seluruh dunia. Semua ilmu yang biasanya dibaca dengan memegang wujud fisiknya seperti buku, majalah, koran, jurnal, modul, diktat kini bisa diubah menjadi wujud digital sehingga makin banyak orang yang memperoleh manfaatnya. Semua orang bisa mengunduhnya khususnya oleh murid, guru, mahasiswa, dosen, dan peneliti.

Tidak hanya orang perorang yang mengunduhnya, tetapi lembaga pun seperti sekolah formal, informal, dan nonformal bisa mengunduh materi digital tersebut. Bisa tetap dimanfaatkan dalam bentuk digitalnya, bisa juga dicetak (print out) kemudian dijilid menjadi buku fisik seperti biasanya. Wabah Covid-19 tidak bisa dihindari tetapi hikmahnya tetap bisa diperoleh. Begitu banyak hikmah yang diterima oleh banyak orang dan profesi di bidang literasi. Bisa dibuat hipotesis bahwa dampak literasi digital bagi kehidupan masyarakat akan jauh lebih besar dan lebih luas daripada dampaknya apabila tidak terjadi wabah Covid-19. Ini hanya bisa dibuktikan sekian tahun ke depan. Akhir kata, setiap orang bisa menjadi agen pembangkit literasi di Indonesia hanya dengan rajin membaca buku, artikel, makalah, majalah, koran kemudian berusaha menuliskannya. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. *

ReadMore »

21 Januari 2021

Novel Helical or Coiled Flocculator

Novel helical or coiled flocculator for turbidity reduction in drinking water treatment: a performance study

 https://doi.org/10.31219/osf.io/9nmzs

Since 1970s all PDAM have applied conventional technology in water treatment plant because science and technology have not found an innovative design yet[1]. All PDAM do not have a new design and Ministry of Public Works have tended to implement IPA Kedasih (Instalasi Pengolahan Air Keluaran Direktorat Air Bersih). Whereas the quality of raw water vary widely from one island to another. Water in Java island has much suspended solid and different from Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua where their water is rich with natural organic matter. Edzwald[2] has examined natural organic matter (NOM) in such research and found that NOM was more influential than turbidity in controlling the coagulant dose. Ashery, et.al[3] also found the best removal efficiency on NOM with spiral clari-flocculator.

Since that decade PDAM have used baffled flocculator both in rectangular and hexagonal. Baffled flocculator is an alternative to mechanical flocculator. Unfortunately, baffled flocculator has a lot of sediment at its compartment’s corners therefore reduce its performance. However, baffled flocculator is still used today because the consultants who designed flocculator in water treatment projects have not had much knowledge yet about helical flocculator. Efforts have been made to reduce sediment with helical flocculator, an innovation in drinking water treatment technology. Since 1980s there has not been much more research yet published. Some literatures used different terms: helical, helicoidal, helix, spiral, coiled. All terms have the same meaning and interchangeable. The first performance study has been done by Arfandy[4] and furthermore by Harjoko et.al[5], Vigneswaran and Setiadi[6], Hameed, et.al[7]. In their research, flowrate, turbidity, and dimension of flocculators were different to each others.

In the field of hydraulic study and fluid dynamic in flocculation process, it was investigated by Sartori et.al[8]. Tambo and Hozumi[9], Tambo and Watanabe[10] have examined floc characteristics, floc strength but they did not use helical flocculators. In other method, Carissimi and Rubio[11] have studied the influence of compressed air to flocculation process. Oliveira and Teixeira[12] have researched the performance of helical flocculator for turbidity removal. In Indonesia there has not been research yet on this flocculator after Arfandy[4], Harjoko et.al[5] but perhaps in different type or different nomenclatur like hydrocyclone[13]. There are some differences in shape, configuration, and process mechanism compared to helical flocculator.

Optimum performance in turbidity removal efficiency, sediment volume, velocity gradient and detention time are the objective of this research. Experiments are carried out using two pipe sizes and two helix diameters. Helical flocculator produces less sediment than baffled flocculator. The circular shape in layers is the advantage of helical flocculator but it is also the difficulty when making circular pipe in layers, especially at big flowrate. It is more difficult than rectangular shape or hexagonal baffled flocculator if using large diameter of steel pipe. But it ease to implement in laboratory with small flowrate and no difficulty in setting the apparatus.

The helical flocculators studied by authors mentioned above used different pipe sizes and different helix diameters. Sartori et.al[8] used helical flocculator in horizontal but in this study the helical flocculator was installed vertical. All researchers used laboratory scale with variation in pipe sizes and helix diameters. Researchers used hose or pipe for helical flocculators. Another objective of this study was on small flowrate compared to previous studies by researchers mentioned. It is hoped that small flowrate is more applicable to small community of the city. If a larger flowrate is needed, then more than one helical unit can be built and installed parallel. It is an alternative solution for larger community. This study also run on medium turbidity concentration i.e. 150 NTU. If the performance of small flowrate is good enough, the results of this research can be widely known and become more popular among consultants and governments.

Therefore it may enrich academic or scientific information on efficiency (performance), velocity gradient (G), and detention time. The most important thing in design of hydraulic flocculator is G value and can be maintained in one compartment therefore it could not breakdown the floc. This is the reason why this hydraulic type is more suitable to be applied in small and relative constant flowrate. With regard to detention time (td), the flocculator requires more time than the coagulator unit for its floc growth. The usual values written on textbooks are 20–60 minutes or 25–55 minutes[14][15][16].

In addition to pipe diameter, another parameter which also plays an important role is the helical diameter. According to its function, the helical diameter can be adjusted to obtain a large G value at the inlet of helical flocculator and then decrease gradually to the outlet. The position and shape of helical flocculator can be arranged with any unit in water treatment plant. If the water treatment plant (IPAM: Instalasi Pengolahan Air Minum) is equipped with diffused aerator so the helical flocculator can be installed in circles outside the aerator body. The installation can be horizontal or incline depends on the desired hydraulic effect and artistic consideration[17].




ReadMore »