Hikmah Covid-19 Bagi Literasi
Oleh Gede H. Cahyana
https://osf.io/9jfau/
Virus Corona
baru (novel Coronavirus) penyebab
wabah Covid-19 mengubah kehidupan manusia. Belajar, bekerja, bersekolah,
beribadah, berdagang, bersikap dan berperilaku juga berubah. Muncul gaya hidup
baru. Gaya hidup baru ini berlaku minimal selama pandemik atau selama vaksinnya
belum ditemukan. Hingga akhir September 2020 belum bisa dipastikan oleh ahlinya
kapan vaksin Covid-19 dinyatakan siap diberikan kepada manusia. Sambil menunggu
kehadiran vaksin tersebut tentu semua aktivitas hidup manusia harus terus
berlangsung tetapi dengan perubahan.

Dunia pendidikan
misalnya, sudah berubah. Murid dan mahasiswa disuruh belajar di rumah
masing-masing. Begitu juga guru dan dosen disuruh mengajar dari rumah. Hanya
dalam kasus khusus saja guru dan murid boleh bertemu di sekolah dan wajib
melaksanakan protokol baku kesehatan untuk Covid-19. Ada positifnya, yaitu guru,
dosen, murid, dan mahasiswa menjadi makin akrab dengan internet. Akrab dengan
e-mail, WA, Telegram, Zoom, Google Meet, Youtube, website, dan blog. Murid dan mahasiswa
mengerjakan tugas dari guru dan dosen dengan bantuan platform media komunikasi
dunia maya tersebut.

Dunia maya
memiliki jutaan lembar naskah akademik untuk murid dan mahasiwa dari
bermacam-macam bahasa yang bisa diunduh dari internet. Dunia baca makin
bergairah. Dunia tulis terus bertambah. Murid dan mahasiswa kian intensif
belajar menulis. Memang banyak yang hanya copy-paste,
sekadar salin-tempel dalam menulis tugas-tugasnya tetapi dapat dimaklumi. Pada tahap awal
biasanya seperti itu. Lama-lama mereka akan berubah seiring dengan kemampuan
murid dan mahasiswa bahkan guru dan dosen dalam menulis artikel atau makalah (paper). Yang penting gairah membaca dan
menulis di dunia maya terus meningkat selama wabah ini. Baca dan tulis harus
dikondisikan bagai api nan tak kunjung padam. Selayaknya dikobarkan dan
dibesarkan.

Membesarkan api
baca tulis menemukan momentum yang tepat pada masa wabah ini. Tanpa Covid-19
belum tentu gairah membaca dan menulis bisa semasif ini. Skalanya nasional
bahkan internasional. Nyaris semua negara mengatur ulang pola pembelajaran di
sekolah-sekolah. Begitu pun Indonesia. Kalau tidak ada perintah dari pemerintah
untuk Work From Home tentu
“keterpaksaan” membaca dan menulis dengan sumber dari internet dan menggunakan
fasilitas telepon seluler tidak bisa semarak seperti sekarang. Orang tua yang
semula kurang paham internet akhirnya ikut-ikutan belajar dan mulai mengenal
istilah-istilah di dunia maya.
Orang tua ikut membantu
anak-anaknya mencarikan materi tugas sekolah sekaligus ikut belajar membaca dan
memahami tugas anak-anaknya. Tentu ini tidak bagus. Membuatkan tentu berbeda
dengan mengajarkan. Namun ada juga orang tua yang pendidikannya tidak tinggi
sehingga kesulitan membantu anak-anaknya dalam membuat tugas sekolah. Apapun
itu, demikianlah faktanya. Bisa dipandang negatif bisa juga positif. Hikmahnya
ada, yaitu orang tua menjadi makin dalam masuk ke dalam dunia literasi secara
tidak disengaja. Mungkin banyak orang tua yang tidak sempat membaca dan menulis
karena sibuk bekerja. Tetapi pada masa pandemik ini justru mereka memiliki
banyak waktu menemani anaknya belajar, baik karena kewajiban work from home atau karena sedang
dirumahkan oleh perusahaannya.
Yang juga
menarik, ada orang tua ikut mendaftar menjadi anggota perpustakaan dunia maya,
misalnya Perpustakaan Nasional. Awalnya mereka tidak tahu ada perpustakaan
dunia maya seperti Perpusnas itu. Tetapi informasi selama wabah ini begitu
masif sehingga sampai juga informasi tentang perpustakaan tersebut kepada
mereka. Orang tua lantas ikut mencarikan materi makalah dan artikel untuk
anak-anaknya. Tanpa Covid-19 belum tentu mereka menjadi anggota Perpusnas.
Bukan karena tidak mau tetapi tidak ada alasan dan tidak tahu apa manfaatnya.
Tampaklah akibat
positif Covid-19 ini, orangtua yang awalnya jauh dari buku menjadi makin dekat
dengan buku. Banyak yang merasa kagum (surprised)
akan kekayaan literasi di dunia maya. Mereka menjadi tahu bahwa buku, makalah,
dan artikel hampir tak terbatas banyaknya. Tidak akan cukup waktu untuk sekadar
membuka dan melihat-lihat halaman demi halaman, lembar per lembar. Apalagi
membacanya. Tidak mungkin habis dibaca seumur hidup. Satu hari satu buku saja,
maka dalam setahun hanya terbaca 365 buku. Sepuluh tahun hanya 3.650 buku.
Sedangkan jumlah buku mencapai ratusan ribu judul di Indonesia dan jutaan judul
di seluruh dunia.
Kekaguman ini
berdampak positif pada perubahan pola pikir orang tua. Mereka antusias
berselancar di dunia maya selama membantu anak-anaknya dalam mengerjakan tugas
sekolah. Sekaligus orang tua bisa relaksasi selama work from home. Tanpa disadari, orang tua menjadi senang membaca,
minimal membaca tulisan di media sosial, media komunikasi antara orang tua
murid di sebuah sekolah. Mereka juga mulai menulis, minimal menulis di media
sosial tersebut. Mulai menulis argumentasi atas suatu masalah yang hadir di
telepon selulernya. Ikut diskusi di grup WA orang tua di sekolah anak-anaknya.
Lama-lama maka obrolan
dari mulut ke mulut itu beralih menjadi percakapan dari tulisan ke tulisan.
Mulai menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan meskipun banyak yang masih
menuliskan kata yang diucapkan saat bercakap-cakap. Istilahnya adalah bahasa
tutur yang ditulis. Relatif sulit dipahami karena tanpa titik koma dan sering
kata-kata itu disingkat-singkat. Tetapi ini masih wajar-wajar saja, tidak
apa-apa. Akan ada masanya kualitas menulis itu makin meningkat seiring dengan
peningkatan frekuensi membaca, menganalisis tulisan, dan menulis ulang yang
dibacanya.
Kembali ke
perihal perpustakaan tadi. Tidak hanya Perpustakaan Nasional tetapi semua
perpustakaan. Covid-19 juga memberikan hikmah untuk perpustakaan. Budaya
literasi yang mulai bergairah ini perlu sertamerta disambut baik oleh pustakawan.
Mulai dari pejabat terasnya hingga ke pustakawan junior. Mereka ikut memudahkan
murid dan orang tua dalam mencari dan membaca sumber daya ilmu yang tersedia di
perpustakaan. Perpustakaan konvensional biasanya melayani tamu yang berkunjung
secara langsung dengan mengantarnya langsung ke rak yang dituju. Di rak itu
pengunjung bisa menemukan buku, majalah, ensiklopedia dan lain-lain sesuai
dengan yang diinginkannya. Tetapi pada masa wabah ini berbeda. Rak-rak buku itu
kini adalah rak maya. Rak imajiner. Ada tetapi tidak kasat mata.
Agar buku-buku
di rak yang bertingkat-tingkat dan berderet-deret itu dapat dibaca oleh murid
dan orang tua di mana saja berada maka harus diubah wujudnya. Harus digital.
Pustakawan dan tim teknologi informasi membantu mengubah semua buku fisik
menjadi buku digital sehingga bisa diakses oleh siapa pun dan di mana pun
dengan internet, baik lewat komputer maupun telepon seluler. Dengan demikian
maka perpustakaan tetap bisa eksis sebagai lokasi sumber ilmu. Perpustakaan
tetap menjadi sumber literasi (pustaka). Perpustakaan ikut menguatkan
pendidikan dan ikut mencerdaskan kehidupan anak bangsa Indonesia seperti
dicanangkan sejak puluhan tahun sebelum adanya internet.
Hikmah Covid-19
selanjutnya adalah pemberantasan buta huruf. Huruf adalah sarana dasar untuk
masuk ke budaya literasi. Tanpa bisa membaca huruf maka tidak mungkin bisa
masuk ke dalam budaya baca tulis, budaya literasi. Hingga saat ini masih ada
orang tua yang buta aksara Latin. Boleh jadi pada saat murid belajar di rumah bersama
orang tuanya ikut serta kakek dan neneknya yang masih buta huruf. Bisa jadi
pengasuh anak di rumah tersebut ikut mendengar sambil mengasuh balita. Asisten
rumah tangga juga ikut mendengar. Mungkin juga tukang kebun, tukang masak,
tukang cuci ikut belajar, minimal ikut mendengar.
Apabila tidak
ada Covid-19 maka belum tentu kakek dan nenek ikut melibatkan diri di dalam
pendidikan cucu-cucunya. Bahkan di desa-desa masih ada bapak dan ibu yang juga
belum lancar membaca huruf Latin, apalagi menulis atau mengetik di komputer.
Komputer pun mereka belum punya. Telepon seluler pun hanya ada satu di dalam
sebuah keluarga. Berita seperti ini pernah viral di media sosial dan
ditayangkan di televisi. Inilah Indonesia, sikap dan perilaku tolong-menolong
masih ada. Murid yang kesulitan dalam pembelajaran dengan internet dibantu oleh
tetangganya. Semuanya berupaya membantu dengan bergotong royong.
Pembelajaran
akhirnya dilaksanakan tidak di rumah tetapi di kantor desa. Ada juga di kantor
kecamatan, di kantor polisi. Ada juga yang naik ke bukit agar mudah mendapatkan
sinyal internet. Mereka beramai-ramai di bukit itu pada siang hari sehingga
aman dari tindak kejahatan. Ada juga yang belajar di warung-warung kopi (kafe)
yang memberikan akses internet gratis dan penggunaan komputer yang juga gratis.
Ini umumnya terjadi di kota-kota besar dan sedang atau di kota kecamatan.
Yang juga ikut
aktif akibat Covid-19 adalah dunia perdagangan buku pelajaran dan buku bacaan
umum. Terutama penerbit buku yang sudah memiliki toko buku online. Ketika toko fisiknya sepi pengunjung atau sedikit pembeli
bahkan ditutup sementara oleh pemerintah karena alasan Covid-19 maka toko buku online bisa buka selama 24 jam sehari. Toko
online bisa menjadi alternatif solusi
bagi bisnis buku yang lesu selama pandemik. Penerbit yang belum siap dengan
toko online masih bisa ikut berjualan
di lokapasar atau marketplace di
dunia maya.
Penerbit juga
bisa promosi buku lama dan buku baru lewat video di Youtube. Kegiatan bedah
buku offline yang tetap menerapkan
protokol kesehatan bisa dilansir di kanal Youtube. Begitu juga kegiatan diskusi
buku yang dilaksanakan online di Zoom atau Google Meet bisa disebar di internet. Murid dan mahasiswa adalah
konsumen utama buku yang dijual online
ini, minimal pada saat ini, selama pandemik ini. Mereka belum puas atas makalah
dan artikel yang tersedia gratis di dunia maya sehingga perlu membeli buku yang
membahas materi tertentu. Apalagi mahasiswa pascasarjana, mereka wajib menelaah
beberapa buku ajar (textbook) yang dibandingkan isinya dengan buku ajar yang
lain. Hasil telaah ini ditulis dalam bentuk makalah kemudian dibahas di kelas.
Apabila bukunya
belum tersedia dalam bentuk e-book
maka mereka membelinya secara online.
Mereka menghubungi penerbit atau toko buku yang ada di internet lewat mesin
pencari seperti Yahoo.com atau Google.com. Ada toko di dalam negeri, ada juga
toko di luar negeri. Satu yang terkenal adalah Amazon.com. Dengan cara seperti
ini maka penjualan buku fisik masih tetap berlangsung dan dikirimkan lewat jasa
titipan kilat. Ada juga yang dikirim dengan jasa ojek online. Ternyata masih ada kehidupan di dunia perbukuan fisik meskipun
aktivitas transaksinya di bawah jual beli pada masa sebelum terjadi wabah.
Adakah hikmah
Covid-19 bagi penulis buku dan artikel, juga editor? Peluang rejeki ada di
mana-mana. Penulis buku dapat memanfaatkan masa wabah ini dengan memberikan
pelatihan menulis buku via online.
Berbayar tentu saja. Tetapi harganya relatif terjangkau karena tidak perlu
membayar sewa ruang rapat di hotel, tidak perlu penganan (snack) dan makan nasi, tidak perlu biaya transportasi, tidak perlu
biaya untuk penginapan di hotel. Biayanya hanya untuk akses internet peserta
masing-masing dan untuk honor atau penghormatan atas jasa yang diberikan oleh
penulis. Peserta pun hanya membayar lewat transfer bank kepada penulis. Setelah
itu, pada waktunya, yaitu hari tanggal dan pukul yang ditetapkan oleh penulis,
maka pelatihan bisa dilaksanakan.
Peserta pun bisa
belajar di rumah masing-masing bahkan bisa diikuti oleh suami/istri dan
anak-anaknya. Bayar pelatihan untuk satu orang tetapi bisa diikuti dan
didengarkan oleh semua orang yang hadir di rumah peserta pelatihan. Hemat,
murah, ramai, meriah. Usai pelatihan semua anggota keluarga bisa mendiskusikan
materi pelatihan sehingga pemahaman atas materi pelatihan semakin mantap. Keluarga
seperti ini layak menjadi duta literasi keluarga karena sudah menghidupkan
nilai-nilai kecendekiawanan (intellectuality).
Hal yang sama
juga dialami oleh editor buku. Pelatihan editor buku atau editor artikel ilmiah
populer, juga artikel ilmiah untuk diterbitkan di jurnal ilmiah bisa digelar via online juga. Semua dilaksanakan
lewat internet. Penulis dan editor bisa saja dilakoni oleh satu orang yang sama
tetapi umumnya oleh orang yang berbeda. Tersebut adalah dua profesi yang
berbeda di dalam penerbitan buku dan jurnal ilmiah. Tetapi dua profesi ini
sama-sama makin dibutuhkan pada masa pandemik Covid-19. Profesi editor memang
relatif kurang dikenal oleh masyarakat. Jangankan masyarakat awam, kalangan
guru dan dosen juga banyak yang belum tahu bahwa ada profesi penting di dalam
penerbitan buku, yaitu editor (penyunting).
Adapun dosen
yang sering menulis di jurnal ilmiah biasanya sudah tahu ada profesi editor.
Semua jurnal ilmiah pasti memiliki editor. Di penerbitan yang sudah mapan malah
ada tim editor dan editor in chief.
Profesi editor ini juga ada pada penerbitan berkala berupa majalah dan koran
dan biasanya merangkap menjadi redaktur (redaksi). Majalah online dan koran online
atau portal berita juga menjadi salah satu sumber rujukan bagi murid dan
mahasiswa selama mengerjakan tugas sekolah dan kuliahnya.
Seperti halnya
majalah dan koran edisi cetak, yaitu yang berupa kertas, kini majalah dan koran
online juga semakin banyak. Malah ada
kecenderungan jumlah pelanggan koran dan majalah terus berkurang. Oplah koran
dan majalah terus susut di tengah peningkatan akses ke portal berita online. Artinya, budaya literasi masih tetap
ada dan bahkan boleh jadi meningkat tetapi berpindah dari media konvensional ke
media online. Migrasi ini menjadi
keniscayaan pada masa revolusi industri 4.0 dengan basis media massa tanpa
kertas (paperless).
Tidak hanya
profesi penulis dan editor, profesi guru dan dosen juga memperoleh hikmah dari
Covid-19 ini. Derajat kualitas guru dan dosen meningkat karena semakin banyak
literatur yang dibacanya. Makin banyak juga yang harus ditulisnya. Lantaran
tuntutan tugas pokok dan fungsinya, guru dan dosen dipaksa memiliki materi ajar
yang bisa ditayangkan secara online.
Minimal bisa dikirimkan kepada murid dan mahasiswa lewat e-mail atau WA.
Sebelum ada
wabah Covid-19 mungkin tidak semua guru dan dosen memiliki materi yang berwujud
file. Mayoritas guru dan dosen
memiliki materi ajar berwujud buku, diktat, modul, fotokopi, atau materi yang
ditulis di plastik mika yang memerlukan Over
Head Projector (OHP) pada saat
digunakan di depan kelas. Semuanya adalah sarana kuliah dan pembelajaran untuk
tatap muka di kelas. Kini semua itu harus diubah menjadi bentuk digital. Bentuk
yang bisa dikirimkan dengan berbagai media komunikasi online.
Untuk profesi
dosen, selain harus menyiapkan materi perkuliahan untuk mahasiswa, yaitu dharma
pendidikan dan pengajaran, dosen juga harus menulis artikel penelitian yang
diterbitkan di jurnal ilmiah. Ini masuk ke dalam dharma penelitian dari
Tridharma. Pada masa normal lama biasanya dosen banyak menghabiskan waktunya dalam
perjalanan menuju kampus. Waktunya juga habis untuk temu muka dan saling sapa
di kampus. Tetapi selama wabah Covid-19 ini justru dosen dilarang ke kampus
sehingga waktunya lebih banyak di rumah.
Dosen memiliki
waktu luang untuk selancar di lautan ilmu di dunia maya, mengumpulkan artikel
dan menelaahnya. Dosen bisa menulis diktat, menulis modul, menulis buku, dan
menulis artikel ilmiah dan ilmiah populer untuk diterbitkan di media masa
seperti koran dan majalah. Dosen juga ikut kegiatan yang jarang atau bahkan
belum pernah diikuti pada masa sebelum ada wabah, yaitu seminar di dunia maya. Webinar.
Dalam satu hari
ada dosen yang bisa ikut tiga kali webinar.
Memang lebih banyak dosen yang menjadi peserta tetapi tetap saja positif karena
pasti ada ilmu yang diperolehnya. Bagi dosen yang sudah dikenal pakar di bidang
ilmu tertentu maka bisa sebagai narasumber di dalam webinar. Ada juga webinar
di kalangan terbatas, yaitu diikuti hanya oleh ahli-ahli di bidang ilmu
tertentu. Semua ahli itu menjadi pembicara di dalam webinar untuk saling tukar informasi dan saling menyampaikan hasil
riset atau penelitiannya.
Dengan demikian
bisa dikatakan bahwa wabah Covid-19 ini seperti blessing in disguise bagi dunia pendidikan, bagi dunia literasi.
Covid-19 sudah mengubah dunia literasi konvensional menjadi online. Slogan bahwa buku adalah jendela
dunia masih tetap berlaku tetapi buku dalam format digital. Begitu juga
artikel, makalah, modul dan lain-lain. Kegiatan berkunjung ke perpustakaan juga
tetap ada tetapi berubah menjadi selancar di perpustakaan maya.
Apabila semua
kekayaan perpustakaan bisa diubah menjadi digital maka perpustakaan maya akan
berjaya. Begitu pula akan ada aktivitas membeli buku dalam wujud e-book. Menjual buku dalam wujud e-book. Meminjam buku di perpustakaan
maya juga dalam wujud e-book.
Termasuk kekayaan literasi masa lampau, manuskrip, tulisan di papyrus, di lontar, tulang, kayu dan
lain-lain bisa diubah menjadi bentuk digital sehingga bisa dibaca, dilihat,
diunduh di dunia maya.
Dengan demikian maka
wabah Covid-19 ini sesungguhnya sedang menghidupkan pelan-pelan budaya literasi
digital di seluruh dunia. Semua ilmu yang biasanya dibaca dengan memegang wujud
fisiknya seperti buku, majalah, koran, jurnal, modul, diktat kini bisa diubah
menjadi wujud digital sehingga makin banyak orang yang memperoleh manfaatnya. Semua
orang bisa mengunduhnya khususnya oleh murid, guru, mahasiswa, dosen, dan
peneliti.
Tidak hanya
orang perorang yang mengunduhnya, tetapi lembaga pun seperti sekolah formal,
informal, dan nonformal bisa mengunduh materi digital tersebut. Bisa tetap
dimanfaatkan dalam bentuk digitalnya, bisa juga dicetak (print out) kemudian dijilid menjadi buku fisik seperti biasanya.
Wabah Covid-19 tidak bisa dihindari tetapi hikmahnya tetap bisa diperoleh.
Begitu banyak hikmah yang diterima oleh banyak orang dan profesi di bidang
literasi. Bisa dibuat hipotesis bahwa dampak literasi digital bagi kehidupan
masyarakat akan jauh lebih besar dan lebih luas daripada dampaknya apabila
tidak terjadi wabah Covid-19. Ini hanya bisa dibuktikan sekian tahun ke depan.
Akhir kata, setiap orang bisa menjadi agen pembangkit literasi di Indonesia
hanya dengan rajin membaca buku, artikel, makalah, majalah, koran kemudian
berusaha menuliskannya. Ikatlah ilmu dengan menuliskannya. *