• L3
  • Email :
  • Search :

24 Juli 2014

Asal Usul Kota Bogor

Asal Usul Kota Bogor
Oleh Gede H. Cahyana


Julukan Bogor sebagai kota hujan, sudah lama dikenal. Murid-murid pasti ingat IPB: Institut Pertanian Bogor. Juga Istana Bogor. Tentu saja, Kebun Raya Bogor. Inilah tiga ikon Bogor yang luas diketahui masyarakat Indonesia, terutama murid dan santri. Bogor selain berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu di daerah Bekasi. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti kebun kawung.

Dalam bahasa Sunda, menurut Coolsma L, Bogor berati droogetaple kawoeng (pohon enau yang sudah habis disadap) atau bladerlooze en taklooze boom (pohon tidak berdaun dan tidak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”. Dalam bahasa Sunda “mugran” dengan “mogoran” berbeda arti. Yang pertama dikenakan pada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna asusila.

Setelah hilang selama seabad sejak 1579, kota asinan ini menggeliat kembali berkat ekspedisi yang dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck pada tahun 1704 dan 1709. Sersan Scipio dan dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanuwijaya, seorang Sunda terah Sumedang. Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukan permukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana.

Pada tahun 1687 itu, Tanuwijaya yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, berhasil mendirikan sebuah kampung di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal kelahiran Kabupaten Bogor. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanuwijaya bersama anggota pasukannya adalah Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar.

Pada tahun 1745 Bogor ditetapkan sebagai Kota Buitenzorg, yang artinya kota tanpa kesibukan dengan sembilan buah kampung. Kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. Daerah tersebut disebut Regentschap Kampung Baru kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff dibangun tempat peristirahatan pada lokasi istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg.

Pada tahun 1752 di Bogor belum ada orang asing kecuali Belanda. Kebun Raya didirikan tahun 1817. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya ada pada lokasi tanaman kaktus. Pasar yang didirikan pada lokasi kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor. Pada tahun 1808, Bogor diresmikan sebagai pusat kependudukan dan kediaman resmi Gubernur Jenderal. Tahun 1904 dengan keputusan Gubernur Jenderal Van Nederland Indie nomor 4 tahun 1904 Hooflaats Buitenzorg mencantumkan luas wilayah 1.205 ha yang terdiri atas 2 kecamatan dan 7 desa, diproyeksikan untuk 30.000 orang. Pada tahun 1905 Buitenzorg diubah menjadi Gemeente.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Van Nederland Indie nomor 289 tahun 1924, Bogor diperluas dengan penambahan Desa Bantar Jati dan Desa Tegal Lega (951 Ha) menjadi 2.156 Ha. Pada tahun 1941, Buitenzorg secara resmi lepas dari Batavia dan mendapat otonominya. Keputusan Gubernur Jenderal Belanda nomor 11 tahun 1866, nomor 208 tahun 1905 dan nomor 289 tahun 1924 menyebutkan bahwa wilayah Bogor pada waktu itu seluas 22 km2, terdiri atas 2 subdistrik dan 7 desa. Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 tahun 1950, Kota Bogor ditetapkan menjadi Kota Praja yang terdiri atas 5 kecamatan dan 1 perwakilan kecamatan. Berdasarkan PP No. 44/1992, perwakilan kecamatan Tanah Sareal ditingkatkan statusnya menjadi kecamatan sehingga sekarang menjadi 6 kecamatan dan 68 kelurahan. *

Diolah dari Corporate Plan PDAM Kota Bogor, Kota Bogor Dalam Angka, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor, 2006.


ReadMore »

18 Juli 2014

Inilah Potensi Zakat di Indonesia: 30 Triliun

Inilah Potensi Zakat di Indonesia: 30 Triliun
Oleh Gede H. Cahyana


Memasuki pekan ketiga Ramadhan ini atau tanggal likuran, zakat fitrah sudah mulai ramai dibahas di setiap ceramah Tarawih. Zakat fitrah ini diberlakukan terhadap semua manusia yang sudah punya ruh. Bahkan janin tiga bulanan pun wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Menurut sunnah Nabi Muhammad Saw, pemberian zakat fitrah yang berupa makanan pokok ini wajib ditunaikan sebelum shalat “Id dilaksanakan. Apabila lewat dari batas waktu tersebut maka dinyatakan tidak sah dan dipandang sebagai sedekah atau infak sunah saja.

Oleh sebab itu, sebaran zakat fitrah umumnya tidak jauh melampaui batas geografis, malah edarannya hanya di dalam lingkaran administrasi kelurahan atau desa saja. Sebagai mustahik, para penerima zakat ini, biasanya fakir miskin yang merupakan dua kelompok dari delapan asnaf, sepekan kemudian kembali kekurangan makanan pokok. Baru tahun depan mereka akan diberi zakat fitrah lagi. Artinya, kemiskinan tak jua entas dari kaum muslimin. Beginilah faktanya. Untuk sekadar makan saja mereka tak mampu, apalagi makan makanan yang lengkap gizinya (dulu istilahnya: empat sehat, lima sempurna).

Berapa potensi zakat fitrah di Indonesia? Kalkulasi kasarnya, umpamakan saja penduduk Indonesia berjumlah 250 juta orang dan 80% beragama Islam. Dari 200 juta orang itu, taruhlah yang miskin 30 juta orang sehingga yang muzakki berjumlah 170 juta orang. Per orang mengeluarkan 2,5 kg beras atau makanan pokok lainnya yang menghasilkan jumlah total 170.000.000 x 2,5 = 425.000.000 kg. Jumlah ini dibagi rata untuk 30 juta orang, 425 : 30 = 14,17 kg per orang. Beras 14,17 kg itu bisa untuk makan selama sebulan atau bahkan dua bulan per orang dengan tiga kali makan sepiring takaran normal orang Indonesia. Memang, tentu saja, belum termasuk lauk-pauk dan sayurnya. Juga belum termasuk buah dan susunya (kalau kita masih sepakat pada jargon empat sehat lima sempurna). Lantas, sepuluh atau sebelas bulan sisanya, mereka makan apa?

Meminjam hirarki buatan Abraham Maslow, konsumsi zakat oleh kelompok fakir miskin itu hanyalah untuk kebutuhan fisiologis, kebutuhan dasar dan utama. Untuk menyediakan makanan selain dari zakat fitrah, sebagai rahmatan lilalamin, Islam sudah menyediakan instrumen selanjutnya, yaitu zakat mal. Jenis zakat ini justru lebih fantastis jumlahnya.

Menurut pakar ekonomi syariah, Prof. Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, S.E, dana kaum muslimin dari zakat mal dan fitrah pada bulan Ramadhan mencapai Rp30-an triliun. Hanya saja, dana tersebut hanya sedikit yang disalurkan untuk pemberdayaan kaum fakir miskin. Selain itu, dana tersebut mayoritas disalurkan oleh muzakkinya secara langsung, tidak melalui institusi amil zakat seperti Rumah Zakat, Rumah Yatim, DPU DT, PKPU, dan lain-lain, baik institusi pemerintah maupun swasta.

Secara syariat, menunaikan zakat secara langsung kepada mustahiknya tentu sah-sah saja, baik dibayarkan sekali setahun atau sekali sebulan, atau dibayarkan segera setelah uang itu diperoleh, minimal 2,5%. Disalurkan lewat institusi amil zakat pun bagus-bagus saja, asalkan diurus secara bertanggung jawab, akuntabel dan auditabel.

Lebih daripada itu adalah kemauan kita untuk membayar zakat, willingness to pay zakat. Sudahkah zakat mal itu kita tunaikan?

ReadMore »

Gaza, Palestina, dan DK PBB

Gaza, Palestina, dan DK PBB


Sejauh ini, Palestina (Gaza) selalu dirugikan oleh pemegang Hak Veto di Dewan Keamanan PBB, terutama oleh Amerika Serikat. Negara yang disetir Yahudi ini bagai ular berkepala dua, munafik. Demokrasi yang dielu-elukannya adalah demorasi yang crazy sehingga gila pula para pejabatnya. Lagi pula, AS begitu gentar melihat keberanian kaum muslim dalam bom-bom syahidnya sehingga mereka berupaya membunuhi anak-anak dan wanita pelahir anak-anak. Bom pembasmi yang berasal dari AS itu digunakan oleh Israel secara membabi buta.

Hal serupa pernah terjadi pada peristiwa Shabra-Satila. Ribuan wanita dan anak-anak tewas terpanggang panasnya bom. Memang, sejumlah negara mengutuk pemboman itu, tapi sekadar mengutuk saja. Atau, boleh jadi mereka pura-pura mengutuk untuk menabiri senyum gembiranya melihat kehancuran kaum muslim. Lembaga dunia yang bertujuan mengamankan dunia dari mala petaka buatan manusia semacam perang, sesuai semangat Liga Bangsa-Bangsa pada awalnya dulu, hanyalah macan ompong. Justru mereka gentar dan takut berat terhadap gerak-kembang Islam sehingga diam saja. Jangankan PBB yang notabene adalah AS dan Israel yang memang islamofobi, negara-negara anggota OKI saja bergeming (tidak bergerak), diam seribu basa. Sekadar dukungan moral saja tidak ada. Berbeda dengan rakyatnya di tataran akar rumput, mereka merasa satu tubuh dan marah lantas bertekad turut berjihad di sana. Tapi sayang, jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan dari Suriah dan Iran. Bahkan pernah terjadi, muslimin Indonesia yang hendak berjihad di sana justru ditakut-takuti dan dihalangi oleh pemerintah Indonesia.

Kini, setelah lebih dari 200 orang tewas di Gaza, negara-negara yang pejabatnya pembenci Islam, penganut islamofobi “seolah-olah” mengutuk perbuatan perikehewanan Israel di sana. Mesir versi As Sisi juga begitu. Seolah-olah. Ada drama satu babak yang mereka lakonkan sekarang. Drama-drama ini bisa mereka mainkan berkali-kali sesuai situasi dan kondisi yang mereka alami. Kepura-puraan itu sangat kentara lewat silat lidahnya di media massa. Taktik mereka adalah menyerang terus ketika masih di atas angin dan langsung minta gencatan senjata ketika sudah tersudut dan terpepet. Inilah taktik usang mereka, sama persis dengan moyang mereka, yaitu kaum Yahudi pada masa Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, kaum Yahudi itu bangsa penakut. Tentara Israel itu sangat penakut, sama seperti AS yang beraninya hanya main keroyokan di Afghanistan dan Irak.

Yahudi adalah pendatang di Palestina. Karena serakah, Yahudi yang menggelandang itu lalu merebut jengkal demi jengkal tanah Palestina dan mengklaimnya sebagai bangsa yang berhak atas tanah itu. Atas kekuatan ekonomi yang mereka susun, mereka lantas mampu menyetir AS dkk. Bahkan boikot dan veto AS di DK PBB pun sebetulnya atas usul lobby Yahudi. Namun demikian, peristiwa seperti ini sebetulnya bukanlah hal baru. Sebab, veto dan boikot ekonomi yang dialami Palestina pun pernah dialami oleh nabi terakhir kita. Malah gempuran kaum kafirin Quraisy begitu membabi buta termasuk ketika mengintimidasi para sahabat Muhammad bin Abdullah. Kelaparan, siksa pedih dan intrik begitu dekat dengan kaum muslim pada masa nabi. Hal senada terjadi pada masa sekarang di berbagai pelosok bumi: di Irak, di Afghanistan, di Filipina, di Thailand dan di Afrika, selain di Palestina dan Libanon. ***

ReadMore »

20 Mei 2014

Inilah Bibit, Bebet, Bobot Prabowo Subianto

Inilah Bibit, Bebet, Bobot Prabowo Subianto
Oleh Gede H. Cahyana

Seperti memilih suami/istri, memilih presiden dan wakilnya haruslah hati-hati. Gunakan pertimbangan hati nurani dan pikiran jernih. Hilangkan sikap membabi-buta, ikut-ikutan, dan asal pilih. Presiden/wapres dapat mengubah nasib kita menjadi makin baik atau kian buruk. Semisal, harga BBM, elpiji (LPG) bergantung pada kebijakan pemerintah. Begitu juga undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan lain lain, baik berkaitan dengan politik, ekonomi, sosial, agama, budaya, pertahanan maupun keamanan kita sebagai WNI.

Lantas, apa saja yang mesti dipertimbangkan dalam memilih presiden dan wapres? Ada kriteria yang bisa digunakan untuk menyeleksi layak-tidaknya seseorang dipilih menjadi presiden/wapres. Satu di antaranya ialah B3: Bibit, Bebet, Bobot. Mari kita gunakan B3 ini untuk capres dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Bibit
Lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951, Prabowo adalah anak Dr. Soemitro Djojohadikusumo, seorang profesor ekonomi di FE UI, Jakarta. Adapun Soemitro adalah anak dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo. Pada masa pramerdeka, Margono berinteraksi intensif dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tjtipto Mangoenkoesoemo dan bergerak sejak lama di basis ekonomi rakyat, yaitu koperasi. Ia pun mendirikan Bank Negara Indonesia, yang kini dikenal dengan nama BNI 46. Setelah proklamasi, ia menjabat sebagai ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) pada masa Soekarno-Hatta. Usianya 51 tahun saat itu, diusulkan oleh tokoh Pasundan, R. Otto Iskandardinata (Margono D, hal 159). 

Sebagai pakar ekonomi, Dr. Soemitro kerapkali memberikan masukan dan kritik kepada Soeharto pada masa Orde Baru. Kisah hidupnya sudah banyak dibahas di media massa cetak dan online. Di bidang lingkungan, sejak 1970-an Soemitro Djojohadikusumo mewanti-wanti potensi polusi di Indonesia. Begawan ekonomi penulis Science, Resources, and Development ini pada tahun 1977 telah memperingatkan pemerintahan Soeharto bahwa akan terjadi booming dan blooming teknologi yang dapat menjadi bumerang bagi manusia kalau tidak arif dalam menyikapinya. Mantan menteri ini menyatakan bahwa harus ada teknologi yang protektif (protective technology) atas lingkungan. Idenya itu dipublikasikan sebelum rezim Orde Baru merilis Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tahun 1978.

Bebet
Bisa diartikan sebagai status sosial ekonomi seseorang. Hal ini langsung tak langsung berkaitan dengan Bibit, garis keturunan. Orang yang kuat sosial ekonominya tentu lebih disukai daripada sebaliknya. Dengan kekuatan ekonomi, perbuatan baik dan benar seperti membangun sekolah, rumah sakit (hospital), rumah sehat, rumah ibadah, panti asuhan, panti jompo, mengembangkan pasar rakyat, membantu nelayan dan petani, memberikan beasiswa baik kepada siswa maupun mahasiswa (S1, S2, S3), dll dapat dilaksanakan. Dalam darah Prabowo mengalir spirit pejuang negara dari kakek dan ayahnya - bahkan hingga ke zaman Raden Tumenggung Banyak Wide, pada masa Pangeran Diponegoro - menjadi pengusaha dan sekaligus prajurit Sapta Marga. Itu sebabnya, ia menjadi nasionalis murni, cinta negara Republik Indonesia.

Bobot
Bobot adalah personalitas seseorang, kapasitas dan kapabilitasnya. Prabowo, karir militernya bagus, sangat bagus, bahkan. Jika dianalogikan dengan dunia akademis, ia mencapai jabatan fungsional profesor dalam usia muda. Ia pensiunan Letnan Jenderal. Karir kepemimpinannya mulai dari komandan peleton hingga Komandan Jenderal Kopassus. Gaya kepemimpinannya yang lugas-tegas, sorot matanya yang tajam dan fisiknya yang atletis pada masa itu, mengantarnya menjadi komandan di jajaran ABRI/TNI. Berikut adalah senarai pengalamannya menjadi pemimpin atau komandan di ABRI/TNI (Sumber: http://id.wikipedia.org).

Tahun
Jabatan
1976
Komandan Peleton Para Komando Grup-1 Kopassandha.
1977
Komandan Kompi Para Komando Grup-1 Kopassandha.
1983 - 1985
Wakil Komandan Detasemen-81 Kopassus
1985-1987
Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad
1987-1991
Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad
1991-1993
Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad
1993-1994
Komandan Grup-3 Pusat Pendidikan Pasukan Khusus
1994
Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus
1995-1996
Komandan Komando Pasukan Khusus
1996-1998
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus
1998
Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat
1998
Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI
Sumber: id.wikipedia.org

Kalangan TNI (ABRI) paham, jenjang karir di militer sangat ketat, membentuk piramid. Garis komando pun tegas. Atasan memberikan perintah, bawahan melaksanakannya. Tanggung jawab ada pada atasan dan pelaksana tugas. Disiplin. Ini serupa dengan kondisi di pesantren. Santri taat pada ustaznya, asatiz taat pada kyainya. Kyai taat pada kyai sebelumnya. Santri, ustaz, kyai taat pada Allah. Evolusi karir di militer yang demikian ketat itu menjadi pilar utama pengalaman Prabowo Subianto menjadi pemimpin. Hanya di militer saja yang tegas dalam jenjang karir dan tampak jelas dalam garis komandonya.

Karir militernya dilengkapi oleh aktivitasnya sebagai pengusaha. Ia memimpin sejumlah perusahaan, baik di dalam maupun di luar negeri. CEO perusahaan menjadi seni tersendiri, yang berbeda dengan seni memimpin di militer. Pemimpin militer ditambah dengan pemimpin di sipil (perusahaan) ikut memperkuat pikiran dan batinnya. Dunia pendidikan pun dilakoninya, meneruskan amanat ayahnya Dr. Soemitro Djojohadikusumo pendiri Yayasan Pendidikan Kebangsaan yang mengelola Universitas Kebangsaan. Inilah wujud nyata keluarga besar Soemitro dalam memajukan pendidikan rakyat Indonesia, terutama di kelas sosial ekonomi menengah – bawah.

Kemarin, Senin, 19 Mei 2014, bertempat di Rumah Polonia, Prabowo dan Hatta Rajasa, dihadiri oleh elite Gerindra, PAN, PKS, PPP, PBB, dan Golkar mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden dan calon wakil presiden periode 2014 – 2019. Semoga cita-cita duet ini terwujud, yaitu menjadi presiden dan wakil presiden yang mampu maningkatkan taraf hidup rakyat, seperti petani, nelayan, buruh, PNS, TNI-POLRI, pegawai swasta, pedagang, dll. Saatnya Indonesia menjadi, tidak saja Macan Asia, tetapi juga Singa Asia. Bangkit, semoga bangkit, Nusantara tercinta, dan selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional. *

Daftar Kepustakaan
1. Margono D, Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman, Satu Kisah Kekeluargaan Tertulis, diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Drs. Muhammad Radjab, PT Indira, Jakarta.
2. Gambar/foto, hasil dari Google.com

ReadMore »

24 April 2014

Nomograf, Manfaat Bagi Insan PDAM

Nomograf, Cara Cepat Hitung Debit, Untuk Insan PDAM
Oleh Gede H. Cahyana

Kehilangan energi atau tekanan (headloss) penting diketahui dalam aliran air, baik di dalam saluran terbuka (selokan) maupun di dalam saluran tertutup atau bertekanan seperti pipa. Hampir semua sifat aliran air di dalam pipa PDAM berupa saluran bertekanan. Itu sebabnya, mengetahui tata-cara menghitung hilang-tekanan secara praktis menjadi penting, selain secara teoteris, terutama insan PDAM, khususnya yang bertugas di bagian operasional pipa transmisi di lapangan.  

Aliran air di dalam pipa bisa ditinjau secara ideal dan secara nyata (fakta). Kondisi aliran faktual suatu fluida (zat alir) lebih rumit daripada kondisi ideal yang diimbuhi oleh beberapa asumsi. Aliran  air di dalam pipa PDAM, tidak hanya di sistem transmisi dan distribusinya tetapi juga di unit operasi dan prosesnya. Perbedaan panjang pipa antara pipa di IPAM dan di transmisi & distribusi menimbulkan perbedaan asumsi dalam penghitungan headloss-nya.

Di IPAM, pipa-pipa biasanya pendek-pendek saja, tetapi banyak ada belokan dan perubahan diameter. Peran minor losses menjadi besar dibandingkan dengan major losses-nya. Maka, rumus yang banyak diterapkan adalah rumus atau formula Darcy-Weisbach dengan formulasi hm = K(v2/2g). Ini untuk belokan, sambungan T, keran dll. Formula ini dimodifikasi juga untuk aliran air dari bak ke bak yang lain, pembesaran tiba-tiba, pengecilan dan sebagainya. Angka (harga, nilai) K ini pun sudah diteliti dan diperoleh variasi yang cukup banyak, berdasarkan sudut belokan.

Adapun pendekatan aliran air di dalam pipa panjang seperti transmisi dan distribusi, boleh saja menggunakan formula teoretis Darcy – Weisbach. Hanya saja, kesulitannya adalah dalam menentukan derajat ketelitian faktor gesekan (f). Pada aliran laminer, nilai f dapat diperoleh secara matematis tetapi tidak demikian untuk aliran turbulen. Nilai f untuk aliran laminer adalah 64/Re. Pada aliran turbulen, ada beberapa formulasi tetapi tidak disebutkan di sini. Kata kuncinya adalah kemampuan seseorang (operator) untuk memperkirakan nilai f berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya sebelum rumus-rumus tersebut dapat digunakan. Oleh sebab itu, biasanya digunakan formula Hazen – William yang empiris praktis.

Formula Hazen-William
Seorang operator PDAM, sedapatnya harus hafal formula ini. Q=0,2785.C.d2,63.S0,54. Ini adalah formulasi dalam satuan MKS (meter, kilogram, sekon) atau metric unit. Keterangan:
Q         =    Debit air (m3/detik)
C          =    Koefisien kekasaran pipa (gesekan)
d          =    Diameter dalam pipa (m)
S          =    Slope garis energi, hl/l

Perhitungan menggunakan kalkulator tentu bisa saja, dan hasilnya pun lebih tepat. Tetapi untuk kepentingan praktis, penggunaan karta nomograf lebih praktis dengan hasil yang mendekati kalkulasi matematis. Kesalahan atau simpangan yang terjadi karena penglihatan mata dan tajam-tumpulnya pensil yang digunakan.

Dalam formula di atas, kekasaran pipa, C bergantung pada bahan pipa dan umur pipa. Umumnya nilai C seperti pada tabel terlampir. Adapun nomografnya, tersedia dalam satuan British unit dan Metric units yang divariasikan berdasarkan nilai C. Terlampir hanya diberikan nomograf untuk C=100. Ada banyak nomograf dengan variasi C, mulai dari C=80, C=90, hingga C=150. Pipa baru memiliki nilai C paling besar, misalnya 150 atau 160. Makin tua umur pipa, nilai C pun menurun.



Contoh 1. Sebuah untaian pipa berdiameter 16 in. dengan nilai C = 160. Berapakah debit air yang mengalir di dalam pipa tersebut jika headloss-nya adalah 1 ft per 1.000 ft. Perkirakan juga kecepatan aliran airnya.

Jawab. Carilah di nomograf angka 16 pada mistar diameter, yaitu mistar kedua dari kiri. Temukan juga titik 1 ft per 1.000 ft. Hubungkanlah kedua titik tersebut dengan pensil dibantu mistar (penggaris). Diperoleh titik 1.000 pada mistar debit dengan satuan gallon per menit (gpm). Debit untuk C = 160 adalah 1.000 x (160/100)  = 1.600 gpm. Pada mistar kecepatan diperoleh titik 1,6 sehingga kecepatan untuk C=160 adalah 1,6 x(160/100) = 2,6 fps.

Dengan menggunakan nomograf berbasis C=100, perkiraan debit air di dalam pipa transmisi dari broncaptering menuju bak pelepas tekanan (BPT) misalnya dapat diketahui. Dengan perkiraan umur pipa dan bahan pipa, maka nilai C bisa diperkirakan, kemudian bisa diperkirakan debit airnya. Begitu pula kecepatannya dapat diketahui. **

Contoh soal diambil dari Babbit, Doland, Cleasby, Water Supply Engineering, McGraw Hill Book Co, 1967.
ReadMore »

1 April 2014

Politik Ini Kotor?

Oleh Gede H. Cahyana


Kata orang, politik ini kotor. Sebetulnya bukan politiknya yang kotor, melainkan orang-orangnya. Politisinya. Politikusnya. Mereka inilah yang sikap dan perilakunya seperti tikus. Politik bisa bersih kalau berada pada orang-orang yang bersih hatinya. Bersih sikap dan perilakunya. Ia juga harus berilmu mumpuni khususnya di bidang tertentu yang menjadi fokus pengabdiannya. Yang ahli hukum, cocok masuk ke komisi hukum. Yang pakar pendidikan, bergulatlah di komisi pendidikan. Begitu juga bidang ilmu lainnya.

Politisi itu seperti dalang. Dalang yang mahir memainkan lalakonnya, seperti Asep Sunandar Sunarya (alm). Namun ia tetap dalam koridor kebenaran. Baik dan benar. Dalam “nanggap” epos Bharatayudha misalnya, ia harus memenangkan Pandawa sebagai manifestasi kebenaran. Tidak boleh ia mengubah, apalagi disetir oleh orang dan kalangan tertentu untuk melakonkan dan memenangkan lakon buruk. Jika demikian perilakunya, politisi ini bukan lagi dalang melainkan wayang. Wayang senantiasa digoyang dan dimainkan gerak hidupnya. Politisi yang seperti wayang ini akan disetir oleh orang-orang kotor di belakang layar demi keuntungan diri, partai dan pemodalnya. Juga, demi anasir asing yang mendukungnya. Yang rugi rakyat juga. Arang habis, besi binasa. Setelah memilih, tak dapat apa-apa.


Oleh sebab itu, mari kita pilih dalang yang bersih, bukan wayang. *



(Kemarin Asep Sunandar Sunarya, dalang kawakan Indonesia, meninggal dan tadi dimakamkan di Jelekong, Baleendah, Kab. Bandung. Semoga diberi rahmat dan ampunan oleh Sang Mahakasih).

ReadMore »

21 Maret 2014

Kampanye vs Air & Energi

Kampanye vs Air & Energi
Oleh Gede H. Cahyana


Sepekan kampanye caleg, termasuk kampanye tak resmi para capres, nyaris tiada satu caleg pun yang mengangkat tema Hari Air Dunia (HAD), 22 Maret 2014, yaitu Water & Energy. Padahal isu air dan energi ini bisa “dijual” kepada masyarakat, tetapi wajib ditepati, harus dilaksanakan kalau terpilih. Jangan seperti lirik sebuah lagu: janji janji, tinggal janji, bulan madu hanya mimpi…! Mungkin mereka lupa, bisa jadi juga lantaran tidak tahu ada peringatan World Water Day, 2014. Ironisnya, pada saat yang sama, ajang kampanye itu pun menjadi tebaran air minum kemasan plastik, kemasan cup, botol, dan menggunakan energi listrik dari PLN maupun genset untuk tata-suara (sound system) dan pengeras suaranya (loud speaker). Artinya, betapa dekat para caleg itu dengan air dan energi selama mereka kampanye, tetapi tidak dijadikan bahan promosi diri dan partainya.

Tahun 2014 ini, air dan energi diangkat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa karena dua material ini paling dibutuhkan oleh manusia. Orang kaya memang dengan mudah memperoleh dua material tersebut tetapi tidak demikian dengan orang miskin. Jangankan air berkualitas air layak minum, air yang agak jernih saja sulit diperoleh. Bahkan air baku pun, yaitu air yang belum diolah, untuk difilter secara sederhana dengan ijuk dan batok kelapa, susah didapat. Sekrisis-krisisnya air dan energi, bagi kaum kaya tentu bukanlah soal.

Namun, jumlah kaum miskin jauh berlipat-lipat dibandingkan dengan kalangan berpunya. Tengoklah rakyat di perdesaan dan pelosok di pulau-pulau besar dan kecil Indonesia. Betapa Kalimantan yang kaya batubara, listriknya byar-pet sementara itu airnya kuning bergambut. Betapa rakyat desa dan kampung di Sumatera, bergelap-gelap ria, tiada bisa membaca, apalagi belajar menulis atau kisah nestapa. Di Jawa, di sejumlah kabupaten, di desa pesisir, masyarakat kesulitan air minum. Airnya asin, berasa garam, atau minimal payau. Memang sudah ada tindakan dari pemerintah, yaitu dari Kementerian Pekerjaan Umum, tetapi hasilnya selalu saja monumen. Monumen kegagalan, tidak menghasilkan air minum yang diharapkan warga, sementara anggaran sudah habis bermiliar rupiah. Onggokan sejumlah instalasi dengan teknologi membran adalah saksinya. Mahal biayanya, tapi hanya seumur jagung usia manfaatnya. Selebihnya menjadi barang rongsokan.

Selain dua materi penting dalam hidup manusia, yaitu air dan energi, ada satu lagi yang tak kalah penting: pangan (food, makanan). Bisa dikatakan, ada tiga material penting untuk perikehidupan manusia: makanan, energi, dan air, disingkat MEA. Dalam bahasa Inggris, tiga hal ini disebut: food, energy, water, disingkat FEW. Few dalam bahasa Inggris pun dapat dimaknai sebagai “sedikit”. Lebih tepatnya, makanan pokok manusia, energi dan air sudah kritis, berada di ujung tanduk. Diversifikasi makanan pokok sudah dilaksanakan, bahkan ada program One Day, No Rice. Di bidang energi, ada program Earth Hour. Di bidang air minum, ada Dasawarsa Air Minum, yang tahap II-nya akan berakhir setahun lagi, pada 2015. Ini pun sudah dirangkum dalam MDG’s.

Lantas, mengapa caleg dan juga capres belum masuk ke dalam kampanye Trilogi MEA yang jelas-jelas merupakan kebutuhan dasar manusia ini? Apakah tim pemenangan caleg/capres belum tahu program ini atau sudah tahu tetapi tidak dianggap penting? Masih ada kesempatan beberapa hari ke depan untuk mengambil hati rakyat dan menepati janji-janji saat kampanye. Hanya orang munafiklah yang mengingkari janji-janji kampanyenya.


Selamat Hari Air Dunia, World Water Day, 22 Maret 2014. *


ReadMore »

2 Maret 2014

Bahayanya Asap Knalpot Kendaraan

Bahayanya Asap Knalpot Kendaraan
Oleh Gede H. Cahyana
  
Hakikatnya, semua ruas jalan sangat berbahaya dari sudut pencemar udaranya. Walaupun demikian, traffic light atau persimpangan dan areal parkir adalah lokasi padat kendaraan per satuan waktu sehingga di sinilah terjadi konsentrasi pencemar. Di traffic light pada saat yang sama, ada sebagian kendaraan bergerak dan sebagian lagi berhenti dan secara hampir bersamaan menekan pedal gas untuk beranjak. Pada kondisi demikian, terjadi semburan asap yang disertai dengan jelaga dan konstituen lain seperti CO, CO2 dan timbal (Pb). 

Hal senada terjadi di tempat parkir khususnya tempat parkir di dalam gedung seperti hotel, kantor atau mall. Sering untuk masuk atau keluar dari tempat parkir di dalam gedung perlu waktu lebih dari setengah jam. Ini sangat berbahaya, karena semua mesin mobil dalam keadaan hidup, bergerak perlahan atau diam sama sekali ditambah dengan kepadatan orang yang berebut oksigen untuk bernafas. Bahaya makin mengancam jika exhaust fan tidak berfungsi atau ventilasi sangat minim. Pada keadaan ini kadar CO di dalam ruang tersebut dapat mencapai lebih dari 80 ppm. Sebagai catatan, jika kadar CO di udara 10 ppm maka kadarnya di dalam darah adalah 2% COHb yang dampaknya diberikan pada tabel 1. Hal ini harus menjadi perhatian para pengelola gedung bertingkat (mall, hotel) yang memiliki tempat parkir berlapis-lapis.

Timbal dan CO
Sumber timbal yang berhamburan dari knalpot adalah BBM yang diberi ‘antiknock additives’ berupa alkil-Pb (tetraetil atau tetrametil lead) untuk meningkatkan nilai oktannya. Hal ini diperparah oleh teknik mengemudi yang tidak pas pada keserasian menekan pedal gas. Dengan mekanisme gerak Brown, sedimentasi, impaksi dan intersepsi, partikulat timbal terakumulasi di tanah, rumput, padi dan sayuran yang tumbuh di tepi jalan. Waspadalah pada pemanfaatan sepetak tanah di tepi jalan yang sarat kendaraan untuk kebun sayur karena kaya dengan timbal terutama di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Ternak seperti sapi, domba, kambing yang makan rumput tersebut juga dapat menjadi mata rantai  bioakumulasi dan biomagnifikasi di tubuh manusia.

Selain Pb, ada ‘trace metal’ yang juga berasal dari kendaraan bermotor seperti Fe, Cu, Zn dan Cd. Sumbernya adalah pipa, kabel, ban, jok, bodi dan cat yang terlepas akibat abrasi mekanis atau benturan, tabrakan dan gesekan. Kepadatan arus kendaraan pada saat sibuk seperti pagi dan sore makin menambah frekuensi paparan polutan karena volume kendaraan proporsional terhadap kadar metal/logam. Tanah memiliki kapasitas pertukaran kation yang tinggi sehingga mudah terkontaminasi oleh logam.-logam tersebut. Perajin gerabah yang sumber tanahnya di tepi jalan padat kendaraan hendaknya menaruh perhatian pada hal ini.

Sedangkan gas CO yang karakternya tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, sedikit larut dalam air, stabil dan dapat berubah menjadi gas CO2 jika ada O2 tereksitasi dapat menjadi penyebab keracunan akut. Untungnya, kadar gas CO di udara kering dan bersih, sangat kecil sekitar 10-5 %  volume, jauh dibandingkan dengan kadar CO2 (0,032%), O2 (21%) dan gas N2 (78%). Ini berarti dalam keadaan normal, tidak akan ada dampak yang ditimbulkan oleh gas CO pada manusia.

Tetapi pada kondisi yang tidak normal misalnya karena pembakaran tidak sempurna dari mesin yang menggunakan BBM maka kadar gas CO dapat berlipat jutaan kali. Diperoleh bahwa gas CO adalah pencemar utama atmosfir daerah perkotaan (48%) yang diikuti oleh gas SO2 (15%), NOx (15%) dan HC (16%) yang nilainya bervariasi di setiap daerah. Dari sekian banyak kontributor gas CO, ternyata sektor transportasi adalah penyumbang terbesar (70%  - 85%).

Dampak Kesehatan
Masalah utama asap kendaraan bukan hanya jelaga tetapi beberapa unsur dan senyawa kimia seperti timbal, Cd, Ni, Cu, Fe, Mn dan gas (CO, CO2, SOx dan NOx). Seperti dinyatakan di atas, sayur-sayuran di tepi jalan dapat terkontaminasi pencemar terutama oleh timbal, Cu dan Ni. Selain di hati dan pankreas, timbal dapat terakumulasi pada tulang dengan mengganti posisi unsur yang penting untuk penyusun tulang yaitu kalsium (Ca). Keracunan kronis ini muncul setelah polisi atau sopir dan pengguna jalan lainnya memasuki masa tua/pensiun yang justru dikala kondisi tubuh sudah melemah dan kemampuan berkurang.

Sedangkan gas CO dapat merusak metabolisme aerobik manusia karena daya ikat (afinitas) terhadap Hb (hemoglobin, protein yang berfungsi sebagai alat transpor zat organik dan anorganik) lebih besar daripada oksigen. Kemampuannya untuk mengganti ikatan oksigen-hemoglobin (O2Hb) inilah yang menyebabkan gas CO menjadi sangat toksik/beracun. Reaksinya adalah O2Hb + CO à COHb + O2.

Secara kuantitatif, dengan persamaan Haldane dapat dibuat hubungan antara carboxyhemoglobin (COHb), Oxyhemoglobin (O2Hb), tekanan parsial gas CO dan tekanan parsial O2. Pada manusia, saat temperatur badan normal dan pH darah sekitar 7,4 maka nilai K @ 245. Kualitas keracunan gas CO tergantung pada kadar, lama paparan dan aktivitas saat terpajan apakah lari, jalan atau sedang duduk. Hal ini berhubungan dengan laju pernafasan (volume per waktu) gas yang masuk ke paru-paru.

Diyakini tidak ada dampak kesehatan berarti pada kadar COHb yang kurang dari 2% di dalam darah. Tetapi lebih dari itu, berdampak buruk pada sistem saraf pusat orang yang bukan perokok. Kadar COHb pada para perokok antara 5%-10% sedangkan pada orang bukan perokok berkisar antara 0,5% sampai 1%. Perokok mempunyai toleransi yang lebih tinggi terhadap CO daripada bukan perokok tetapi sama sekali bukan berarti para perokok lebih aman daripada bukan perokok sebab ada aspek kesehatan lain yang merugikan perokok.

Bahaya keracunan Pb dan CO mengancam polisi, sopir, petugas terminal, pedagang dan pengguna jalan lainnya. Mereka potensial terpajan Pb dan CO karena waktunya kontinu, arus sangat padat dan sering terjebak kemacetan. Kondisi diperparah oleh udara calm yang kecepatannya kecil dan tergantung pada topografi yakni ada perbedaan antara daerah pegunungan (Bandung) dengan dataran rendah (Jakarta, Surabaya) yang tiupan anginnya kencang sehingga terjadi dispersi gas CO di udara.

Tabel 1. Dampak kesehatan akibat gas CO di dalam darah.
Kadar COHb, %
Efek
< 1,0
tidak ada efek yang terlihat
1,0 - 2,0
perubahan tingkah laku
2,0 - 5,0
sistem syaraf pusat, penglihatan
5,0 - 10,0
perubahan pada jantung dan paru-paru
>10,0
sesak nafas, lelah, pingsan, meninggal

Untuk mengurangi emisi gas CO dan timbal, telah dicoba beberapa cara seperti program langit biru (masih berlanjut dengan tindakan konkrit?) dan bahan bakar tanpa timbal (BB2L). Tetapi yang realistis adalah pembatasan jumlah kendaraan bermotor dan mengutamakan transportasi massal seperti trem, kereta api dan bis. Jangan apriori, bisa dibuat dengan konsep yang matang dulu. Untuk preventif, areal parkir (khususnya yang di gedung) harus berventilasi baik dan jangan pernah tidur (tidur-tiduran) di dalam mobil pada saat mesin dihidupkan. 

Juga perlu dipikirkan peralatan yang praktis dan nyaman bagi petugas polisi, sopir dan pengguna jalan lainnya agar tidak terkontaminasi dan kendali mutu sayuran agar bebas polutan. Itu semua mengarah pada ketahanan dan kesehatan fisik seseorang yang bermuara pada ketahanan bangsa. ***

ReadMore »

23 Februari 2014

Gratis, Materi Skripsi di Jurnal Internasional

Gratis, Materi Skripsi di Jurnal Internasional
Oleh Gede H. Cahyana



Mahasiswa yang sedang menulis skripsi, tesis, disertasi dan tugas-tugas kuliah serta penelitian lainnya dapat memanfaatkan fasilitas Sumber Daya Elektronik (SDE, e-resources) di Perpustakaan Nasional RI. Semua bidang ilmu, semua rumpun ilmu dan teknologi bisa ditelusuri dari berbagai basis data di seluruh dunia. Ada artikel hasil riset, ulasan buku, e-book (bukel, buku elektronik), kutipan majalah, koran, laporan, referensi, dan banyak lagi yang lain. Semua sumber daya ilmu dan teknologi tersebut mudah diakses dari mana saja di seluruh dunia, dengan berbekal akses internet, dan cuma-cuma alias gratis. Bagaimana caranya? 


Langkah pertama, setelah membuka browser, masuklah ke situs Perpustakaan Nasional RI dengan mengetikkan http://pnri.go.id. Lihatlah sublaman di kanan atas, terbaca e-RESOURCES (warna merah) dan klik. Langkah kedua, kliklah link ini: http://e-resources.pnri.go.id/Akan muncul Keanggotaan Online Pusnas RI. Klik “Daftar” dan muncullah Petunjuk Pendaftaran Anggota. Di laman ini ada tombol Persyaratan, Kartu Anggota, Tata Tertib, Hak dan Kewajiban. Silakan langsung saja klik tombol di kanan atas, yaitu Lanjutkan Pendaftaran. Bacalah Petunjuk Pengisian Form dan isilah dengan data yang benar. Setelah tuntas pengisian data, maka akses ke “gudang” ilmu dan teknologi dunia bisa dimulai. Kalau ada pertanyaan, saran, dan keluhan yang berkaitan dengan layanan SDE (e-resources) ini, silakan kirimkan sutel (e-mail) ke layanan_eresources@pnri.go.id.

Sungguh luar biasa jumlah sumber daya ilmu dan teknologi yang dilanggan Perpustakaan Nasional RI. Istilahnya, banyak rak buku perpustakaan di seluruh penjuru dunia dapat dilihat kemudian dibaca, dan dipinjam dengan cara mencetaknya, hanya dengan masuk ke http://pnri.go.id. Ada artikel dalam format PDF dan bisa juga langsung dibaca secara online, teks lengkap (full text) maupun abstraknya. SDE ini antara lain dari Alexander Street Press, ALA, Brill Online, ProQuest, SAGE, Westlaw. Liverpool, Amsterdam University Press, Cambridge University Press, EBSCO Host, Niaspress, Ebrary, Cengage Learning, dan lain-lain. Bisa dikatakan, semua rumpun ilmu dan informasi berbagai teknologi ada di SDE (Sumber Daya Elektronik) ini. Tinggal sekarang, bagaimana semua siswa dan mahasiswa, guru dan dosen dapat semaksimal-maksimalnya memanfaatkan SDE ini. Ajak serta teman, rekan, saudara, orangtua, anak-anak untuk memanfaatkan SDE ini. 

Tentu saja, rakyat Indonesia yang tinggal di daerah apalagi di pelosok yang sulit memperoleh akses internet dapat dibantu oleh teman atau rekan-rekannya dengan cara mengirimkan versi cetaknya. Kemudahan memperoleh informasi ilmu dan teknologi dari SDE (e-resources) ini, yang dibayar dengan milyaran rupiah dana APBN alias uang rakyat Indonesia, semoga dapat meningkatkan mutu pendidikan kita, mulai dari prasiswa, siswa, mahasiswa, guru dan dosen serta masyarakat umum.

Ayo ke perpustakaan. Gak perlu ke Jakarta, tapi masuklah ke perpustakaan maya, bisa dari rumah, dari warung, café, mall, lokasi wisata, dari kantor di seluruh pelosok Indonesia, juga dunia. Akhir kata, patutlah kita berterima kasih kepada Perpustakaan Nasional RI. ***

ReadMore »