• L3
  • Email :
  • Search :

30 April 2012

Buruh a la Robert T. Kiyosaki

Buruh a la Robert T. Kiyosaki
Oleh Gede H. Cahyana

Mayday, 1 Mei disebut sebagai Hari Buruh, hari untuk para pekerja-kerah-biru (blue collar worker). Majikan pabrik pasti butuh buruh. Malah, buruh sangat berjasa bagi majikannya. Tanpa buruh, tak adalah majikan. Tanpa buruh, tak ada produksi, tak ada produk. Tanpa buruh, ekonomi mandeg. Begitu pun, tanpa majikan yang punya pabrik, buruh pun tak ada atau tak bisa bekerja. Tanpa projek dari APBN-APBD, tak ada buruh. Tanpa putaran roda ekonomi, buruh pun tak dibutuhkan. Jadi, kedua belah pihak sama-sama saling membutuhkan, saling dibutuhkan. Idealnya, saling give and take.
Itu sisi idealnya. Buruh-majikan saling butuh. Interaksi mutualisme. Hanya saja, seperti pada masa Orde Baru dulu dan terus berlangsung sampai sekarang, terjadi rekayasa dalam kaitannya dengan undang-undang. Buruh selalu dikalahkan oleh pemerintah dan legislatif karena kekuatan uang. Undang-undang dimanipulasi, atau minimal dibelokkan dari arah sebenarnya. Lembaran fulus selalu saja memutar pikiran aparat negara sehingga tak waras lagi hatinya. Otaknya stabil, tapi hatinya beringas memandang uang. Terjadilah eksploitasi manusia atas manusia. Bahkan undang-undang adalah uang. Rancangan peraturan apapun adalah projek bagi anggota dewan dan eksekutif, menghabiskan uang rakyat.

Salahkah kita berempati pada buruh? Jika kita bukan buruh karena merasa PNS, anggota TNI-Polri, pegawai BUMN-BUMD, guru-dosen, dll, coba bayangkan sebentar saja. Bayangkanlah ini. Mereka rata-rata pergi pagi pulang sore atau pergi sore pulang dini hari. Bahkan ada yang harus berangkat sebelum subuh untuk menanti bis jemputan. Terlambat tiga menit saja, dia ditinggal dan harus keluar ongkos angkot atau bis kota. Jika tak berangkat kerja, tak lama lagi dia bisa dipecat dengan alasan indisipliner. Bahkan kadang-kadang alasannya mengada-ada. Sebab, majikan dan manajernya sudah yakin pada kalimat bertuah ini: pecat satu, seribu melamar. Esa hilang seribu terbilang. Betul-betul buruh sudah tak berharga lagi di depan majikannya, terutama majikan dari negeri seberang.

Hanya saja, mari kita simak tulisan Robert T. Kiyosaki, penulis buku Cashflow Quadrant. Begini katanya, semua orang adalah employee alias pekerja alias karyawan alias pegawai alias buruh jika kita bukan seorang pebisnis dan/atau investor. Jadi, semua profesi, menurut Kiyosaki, adalah buruh kalau bukan pebisnis dan/atau pemodal. Dengan berpikir seperti ini, maka orang yang bukan pebisnis, bukan investor, akan punya empati kepada buruh, terutama buruh yang betul-betul bekerja dengan andalan fisik belaka. Sebab, yang berkerah putih (white collar worker) pun sebetulnya buruh juga, tetapi mereka lebih suka disebut pegawai atau karyawan. *

Foto: vivanews.com
ReadMore »

25 April 2012

Sejarah Jln. Imhoff Tank di Bandung

Oleh Gede H. Cahyana


Jalan Gajah Mada tidak akan kita temukan di Bandung. Sebaliknya, Jl. Imhoff Tank cuma ada di Bandung. Nah, mengapa jalan yang disebut terakhir itu berbau asing dan satu-satunya di Indonesia, tentu ada riwayatnya.

Tahun 1916, sepuluh tahun setelah Bandung berstatus gemeente (21 Februari 1906), dan setahun sebelum Meneer B. Coops menjadi walikota (burgemeester) Bandung yang pertama (1917), pemerintah Belanda ingin warganya hidup saniter. Saat itu, Bandung dibagi menjadi dua wilayah: barat dan timur dengan Sungai Cikapundung sebagai garis sempadan. Waktu itu, dua pertiga warganya tinggal di belahan barat. Maka, selain mendirikan “PDAM” yang dikelola oleh Technische Dienst Afdeling, Belanda juga membuat instalasi pengolah air limbah (IPAL) domestik di belahan barat.

Terlihat betapa seabad lalu, meskipun penjajah, Belanda sudah peduli pada ling- kungan di tanah jajahannya. Padahal kala itu, pence- maran air belumlah separah sekarang. Lalu, mengapa Imhoff Tank yang dipilih, bukannya activated sludge (lumpur aktif) temuan Ardern dan Locket yang lebih dulu berkembang? Sebab, selain murah, unit yang patennya dipegang oleh Dr. Karl Imhoff (1904, pakar air limbah dari Jerman), unit ini juga terbaik kinerjanya saat itu. Ia unggul daripada unit pengolah lain karena berupa pengolah bikamar atau “dual-purpose two-story tank” yaitu ruang hidrolisis dan sedimentasi.

Air limbah rumah tangga warga Belanda dialirkan lewat saluran sepanjang 14 km di sepanjang jalan akses yang dinamai Jln. Imhoff Tank menuju IPAL dan air olahannya dibuang ke Sungai Citepus, di dekat IPAL-nya. Tapi sayang, unit ini sekarang sudah rusak dan dipenuhi lumpur. Pemkot Bandung menggantinya dengan kolam oksidasi di Bojongsoang seluas 85 ha dengan panjang total saluran sekitar 300 km.

Ingin wisata ke sana? Mudah saja. Lokasinya satu kilometer arah timur terminal bis Leuwipanjang, menyusuri Jln. Soekarno - Hatta (By pass), sebelum Jln. Moh. Toha. Warga setempat, khususnya orang-orang tua, biasanya tahu lokasinya. *

Foto/gambar: Wikipedia

ReadMore »

19 April 2012

Gubernur Jakarta: Wajib Cerdas Lingkungan


Pemilihan gubernur DKI Jakarta sebentar lagi. Siapa yang akan dipilih? Yang dipilih sebaiknya yang punya kecerdasan lingkungan (enviro intelligence, quotient). Ini faktanya. Dulu ada program Segar Jakartaku, Hari Tanpa Kendaraan Bermotor, juga Langit Biru. Ada juga Prokasih, Program Kali Bersih. 

Apa hasilnya? Jakarta kian gerah, langit kelabu dan disesaki banjir. Malah Ciliwung dinobatkan menjadi WC terpanjang di dunia. Taruhlah penduduk Jakarta 10 juta orang. Jika satu juta orang ber-WC di Ciliwung secara langsung dan tak langsung, maka ada 100.000 m3/hari air limbah masuk ke Ciliwung. Ini setara dengan 10 buah lapangan sepakbola yang digenangi air setinggi satu meter. Monas, istana presiden dan sekitarnya pun tenggelam oleh air WC ini setiap hari.

Enviro Quotient (EnQ) itulah yang luput dari gubernur Jakarta. Mereka dan jajar- annya tidak cerdas ling- kungan tapi hanya berbekal kecerdasan otak. Miskin pula kecerdasan akhlaknya. Sejak 1970-an wanti-wanti ini dirilis oleh Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo (alm). Begawan ekonomi penulis Science, Resources, and Development ini pada tahun 1977 telah memperingatkan pemerintah bahwa akan terjadi booming dan blooming teknologi yang dapat menjadi bumerang bagi manusia kalau tidak arif dalam menyikapinya. Mantan menteri ini menyatakan bahwa harus ada teknologi protektif (protective technology) atas lingkungan. 

Teknologi protektif pada masa sekarang justru menjadi poin terpenting karena berkaitan langsung dengan kelestarian fungsi lingkungan, keterkaitan antara manusia dan alamnya. Semua manusia tanpa kecuali, kaya miskin tua muda, dapat menjadi agen perusak atau pemberdaya lingkungan. Sudah pula terbukti, deretan gelar akademik seseorang dan kepangkatannya di TNI-Polri tidak berkorelasi linier dengan pemahamannya atas persoalan lingkungan. Tak sedikit orang-orang pintar dan berjabatan-berpangkat itu justru menjadi pelaku masif balak-liar (illegal logging). Nihil sense of belonging, tak hendak menjadi pemangku (stakeholders) fungsi lingkungan. 

Sebaliknya, ada orang yang tidak sekolah, tak berbasiskan ilmu lingkungan, tidak memiliki teori ilmu lingkungan tetapi sudah melaksanakan pelestarian fungsi lingkungan. Contohnya Mak Eroh. Beliau meninggal pada usia 70 tahun pada September 2004 dan dipredikati sebagai pahlawan hijau oleh penduduk Desa Pasirkadu. Apa yang dikerjakannya sampai dihadiahi Kalpataru pada tahun 1988? Wanita ini hanya mencangkul dan mencangkul seorang diri, setapak demi setapak selama berminggu-minggu untuk membuat saluran air. Ketika kanal itu sudah mencapai 2 km dan sudah 47 hari mencangkul sendirian, barulah warga desa membantunya. Awalnya warga mencibir dan menganggapnya gila. Lantaran “Mak Eroh Aquiduct” itulah desanya menjadi hijau.

Nyata di pelupuk mata, betapa orang awam sudah menjadi penggerak bela lingkungan, tinggi kecerdasan ling- kungannya. Tanpa pidato mereka langsung beraksi. Mereka sudah peduli lingkungan meskipun disebut orang lugu, bahkan bodoh. Saksikan saja tradisi ujung ladang masyarakat Melayu di Sumetera Utara misalnya, mereka senantiasa berwawasan lingkungan kalau membuka hutan. Meskipun menebang pohon, selalu saja ada vegetasi pelindung yang tersisa. Pola ini membantu menahan tanah agar tidak erosi, longsor, atau merusak tanaman. Suku Dayak di Kalimantan punya tradisi Nyaang. Mereka biasa membuat lajur isolasi pada ladang atau ketika membabat hutan untuk melokalisir kebakaran. Begitu pun awig-awig di Bali, selektif menebang pohon. Tradisi sasi di Saparua Maluku berlaku di darat atau di laut atas komoditi yang haram dieksploitasi untuk waktu terbatas. 

Jika demikian, satu pertanyaan reflektif, siapa yang lebih peduli lingkungan, masyarakat awamkah, ataukah politisi-birokrat? Dalam spirit Enviro Quotient, tak hendakkah kita belajar dari kearifan tradisional itu? Apakah kepedulian politisi-birokrat, kalah oleh kalangan tradisionalis itu? Kapankah ada pejabat publik yang tak sekedar peduli dalam retorika politiknya ketika bicara soal lingkungan? Adakah partai politik yang tak sekedar proforma dalam membuat divisi lingkungan? Sudah saatnya kita memilih gubernur yang paham masalah dan mampu menyelesaikan masalah lingkungan. Pilihlah calon gubernur DKI yang tinggi Enviro Quotient-nya. 

Akhir kata, ada pesan dari E. F. Schumacher, “Krisis lingkungan terjadi bukan karena pengembangan sains dan teknologi, tetapi hasil dari sikap mental dan life-style (gaya hidup) dunia modern.” Semoga nanti muncul politisi berlabel enviro, enviropolitician yang tak sekadar vokalis sehingga advokasi enviro-nya hanya proforma belaka. Juga dicari birokrat yang tinggi sense of enviro-nya sehingga tak sekadar menjadi dust in the wind. ***
 
Foto: chillphy's Blog.

ReadMore »

14 April 2012

Sisi Lain dari Sosok Kartini

Kartini dipingit, sudah luas diketahui. Beliau berkebaya, sudah pula diikuti. Dijadikan ikon oleh gerakan feminisme di Indonesia, bisa dianggap demikian. Lagu perihal "putri sejati" itu pun sering dinyanyikan anak TK dan SD. Buku kumpulan surat-suratnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, boleh jadi tiada yang tak tahu. Tapi pernahkah kita membacanya atau minimal melihat bukunya?

Ada satu hal lagi. Populerkah sisi lain Kartini di mata khalayak? Faktanya, sisi lain ini belum banyak diketahui, malah cenderung dientaskan. Tarung ideologis yang terus membebani psikisnya tak banyak diungkap. Ia menangis menatap kehidupan kaumnya yang ditindas penjajah. Adat Jawa pemasung wanita sebagai dampak buruk kolonial Belanda terus meluas. Sampai-sampai ia dibujuk untuk pindah agama oleh Ny. van Kol. Tegaslah jawabnya, ”Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini. Serta dengan nyonya kami berharap dengan senangnya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama kami, patut disukai (21 Juli 1902).
 
Hal kedua yang nyaris tak bergema ialah semangat menulisnya. Kepandaiannya dalam olah kata ini jarang dipaparkan. Ketika jutaan orang Indonesia buta huruf pada akhir abad ke-19 itu, Kartini justru mampu menulis. Tak tanggung-tanggung, selain Zeehandelaar, sahabat penanya adalah keluarga J. H. Abendanon, M.C.E. Ovink Soer, T. H. van Kol, dll. Nilai plusnya kian bertambah lagi lantaran tak semua orang yang (sering) membaca akan mampu pula menulis (dalam arti mengarang) pada zamannya. Lantas, kenapa kepioniran Kartini dalam berkorespondensi tak dijadikan pemicu kemampuan baca-tulis kaum wanita khususnya dan masyarakat umumnya?

Aneh, memang! Padahal sepuluh hari setelah Hari Kartini, yaitu 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tiga pekan berikutnya sudah pula disambut Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei. Terlebih lagi dimaklumi bersama, hanya lewat pendidikanlah kita bisa bangkit menjadi negara yang tekno-sainstifik. Hanya orang yang melek huruflah yang bakal berkembang ilmunya. Tapi nyatanya pejabat di Depdiknas dan Disdik belum juga optimal menumbuhkan spirit belajar, baik di kalangan guru maupun muridnya. Program yang dirilisnya terbukti sekadar politis dan lips service belaka. Sekali jadi lalu mati.

Yang juga salah kaprah dan masih terkait dengan Hardiknas dan Harkitnas itu ialah bahwa bangsa ini “bangkit” lantaran kehadiran pergerakan Budi Utomo. Menurut sejarawan George McTuman Kahin, penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia, bukan Budi Utomo pelopor pembaruan pendidikan di Indonesia, melainkan Kartini. Alasannya, terang Prof. Ahmad M. Suryanegara dalam buku Menemukan Sejarah, Kartini tak hanya berjuang untuk perempuan, tetapi juga untuk membangkitkan bangsanya dari kehinaan. Jika ditilik dari waktunya, periode hidupnya memang mendahului periode Budi Utomo.

Namun sayangnya, spirit “pergerakan” Kartini hanya dimaknai secara selintas. Pola peringatannya sama dengan pola puluhan tahun lalu. Tiada kebaruan dalam upaya menghargai perjuangan Kartini. Yang banyak dipublikasikan justru hal remeh seperti kebaya, kain, sanggul dan konde. Anak-anak disuruh mengenakan kebaya sambil melenggang-lenggok. Parahnya lagi, murid lelakinya disuruh mengenakan baju perempuan dan berperilaku seperti perempuan. Lucu memang lucu, tetapi pola didik seperti itu mendekatkannya pada penyimpangan seksual kelak. Lomba itu pun isinya hura-hura, lepas dari aspek kognitif yang menjadi inti perjuangan Kartini. 

Dari sisi sosiologis juga terjadi pemarjinalan spirit Kartini yang jauh dari pola pikir kaum feminis sekarang. Mengatasnamakan pembelaan hak-hak perempuan mereka memlintir hakikat perjuangan Kartini. Di antaranya soal poligami. Tak pernah sekali pun digembar-gemborkan oleh sejumlah kalangan bahwa Kartini ketika menikah berstatus menjadi istri keempat. Djojoadiningrat, suaminya itu, sudah beristri tiga dengan tujuh anak ketika menikahi Kartini. Putri tertua suaminya terpaut delapan tahun dengannya. Perkawinan itu berlangsung pada 8 November 1903. Perkawinan ini praktis menyudahi perlawanannya terhadap praktik poligami di masyarakat Jawa. Setelah diboyong ke Rembang menjadi raden ayu di kabupaten, Kartini tidak lagi bicara soal kedudukan perempuan atau menyerang poligami, bahkan juga cita-citanya mengenai pendidikan. Sangat boleh jadi ia sudah berdamai dengan lingkungannya. (Majalah Tempo, 17 April 2006).

Patut diakui, sebelumnya Kartini menentang praktik poligami. Tapi yang dicercanya ialah raja atau susuhunan yang istrinya puluhan. (NB: Amangkurat I menanggalkan gelar Sultan lalu menyandang gelar Susuhunan sebagai ekspresi penolakan atas pengaruh ulama yang bergelar Suhunan. Dia menambah suku kata “su” sehingga menjadi dua kali, yaitu Susuhunan sekaligus menolak syariat Islam termasuk hukum pernikahan: maksimum empat istri. Maka terjadilah perkawinan tanpa batas. Tak dapat dimungkiri, raja-raja itu memang memiliki berhektar-hektar tanah dan menerima “upeti” dari “rakyatnya” setiap panen. Kekayaannya, untuk lingkup lokal memang luar biasa. Membiayai 30 anak pun mereka mampu dan tanpa masalah!) 

Kembali ke soal Kartini. Justru di situlah letak masalahnya, yaitu fenomena yang menyeruak ke masyarakat dan dengan gegabah mengganti hukum syariat Islam dengan hukum adat yang mengizinkan lelaki menikahi perempuan sebanyak-banyaknya. Oleh sebab itu, ia menulis surat kepada Zeehandelaar yang isinya kisah nestapa perempuan Surakarta pada masa itu. Katanya,” Di sana hampir tiada seorang juga laki-laki yang perempuannya hanya seorang, dalam kalangan bangsawan, terutama lingkungan susuhunan seorang laki-laki sampai 26 orang perempuannya.” Ini ditulisnya pada 23 Agustus 1900, tiga tahun sebelum ia menikah. Demikian tulis sejarawan Ahmad M. Suryanegara dalam buku tersebut.

Kegeramannya melihat jahiliah sosial itu akhirnya diabadikan dalam suratnya kepada Stella. “Aku hendak, aku mesti menuntut kebebasanku. Stella, aku hendak perdengarkan kepadamu. Manakah aku akan menang bila tiada berjuang. Manakah aku akan mendapatkan bila aku tiada mencari. Tiada perjuangan, tiada kemenangan; aku berjuang Stella, aku akan merebut kemerdekaanku. Aku tidak gentar karena keberatan dan kesukaran, perasaanku aku cukup kuat mengalahkan semuanya itu”. Curahan hatinya itu menjadi penguat betapa Kartini, waktu itu usianya 21 tahun (1879 – 1900), membenci hukum adat. Ia melawan dengan sekuat tenaga justru ketika perempuan lain sezamannya nrimo-nrimo saja dan terseret arus kebelanda-belandaan. 

Patutlah dikedepankan, sikap renaisans pemahaman Kartini itu dipicu oleh Qur’an. Ia menulis surat kepada anak Abendanon yang bernama E. C. Abendanon,” Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami. Kartini telah mengikrarkan kitab suci agamanya sebagai gunung kekayaan (ilmu).” Kemudian hadirlah deretan kata yang “abadi” dan selalu dikutip pada Hari Kartini. Ini terjadi pada 17 Agustus 1902,” Sekarang ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang teguh-teguh di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.” Kata-kata “habis gelap terbitlah terang” itu bersumber pada Al Qur’an: minazh zhulumati ilan nur. 

Akhirnya, mari peringati Hari Kartini dengan cara yang mendidik, tak sekadar berkebaya, bersanggul-konde dan berjalan pelan bak siput. Jangan “racuni” anak TK dan SD dengan model jahiliah lantaran Kartini membenci kejahiliahan itu. Beliau justru ingin menerangi, agar habislah kegelapan ini menjadi keterangan. Gantilah pola perayaannya dengan lomba yang meningkatkan kualitas pikiran seperti lomba menulis (surat, cerpen, novel, artikel, pidato, dll) agar mampu menulis seperti Kartini. *

Daftar Pustaka
1. Pane, Armijn, Habis Gelap Terbitlah Terang, Balai Pustaka, Djakarta, 1951.
2. Suryanegara, A. M, Menemukan Sejarah, Mizan, Bandung, 1995.
3. Majalah Tempo, 17 April 2006
4. Foto, Wikipedia, April 2012.

Sambutlah Hari Kartini. *
 
ReadMore »

25 Februari 2012

Ketertinggalan Jawa Barat Selatan

Ketertinggalan Jawa Barat Selatan
Oleh Gede H. Cahyana
-------------------------------------------------------------------------

Di bawah ini adalah tulisan singkat tentang konsep pengembangan wilayah Jawa Barat bagian Selatan, lebih menjurus pada konservasi fungsi lingkungan. Pembangunan setiap satuan ekonomi dan sosial harus tetap menjaga fungsi lingkungan agar tetap seperti sebelum diubah peruntukannya.

Kondisi Eksisting
Ciri khas bentang alam di wilayah Jawa Barat bagian Selatan adalah pantai yang langsung diikuti oleh dataran tinggi. Bahkan bibir pantai bergaris ombak indah memutih itu tampak jelas dari ketinggian di perbukitan Cianjur Selatan (600 m dpl). Bentang alam yang eksotis ini berpotensi sebagai daerah tujuan wisata, selain memiliki keunggulan komparatif sebagai daerah yang kaya gula aren, kayu, dan pertanian. Hasil laut dari bermacam-macam jenis bisa juga dijadikan sumber daya alam yang unggul.

Di balik kemolekan alam itu, ironisnya, masyarakatnya sudah lama menderita karena tidak ada jalan yang bisa memperlancar arus barang yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan. Semua warga tanpa kecuali mengeluhkan kondisi jalan yang sulit dilewati karena hanya berbatu pecah yang sering memecahkan ban kendaraan dan sebagian ruas yang lain hanya bertanah merah yang licin saat gerimis. Kalau ban kendaraan sudah pecah sekali alamat akan pecah berkali-kali, seperti dari Cirendeu menuju Cisaranten dan Sindangbarang.

Dengan kondisi seperti di atas, dapat dibayangkan, betapa berat murid-murid SD setiap hari harus berjalan kaki ke sekolahnya menyusuri jalan licin, rawan longsor dan berada di pinggir hutan. Sampai di sekolah mereka tidak langsung belajar tetapi membuka bekal dulu untuk sekadar sarapan nasi atau lontong dengan ikan asin. Ketika hujan mereka tidak bisa belajar hingga selesai pada siang hari karena segera dipulangkan oleh gurunya agar tidak kemalaman atau terjebak di jalan sepi. Kehujanan di jalan berarti harus berteduh di gubuk-gubuk reyot di tepi jalan semalaman tanpa lampu teplok, apalagi listrik. Gelap. Hanya gulita yang menemani serta derat-derit gesekan dahan dan daun dihembus angin kalau mereka tidak dijemput oleh orang tuanya sebab orang tuanya pun takut menjemput karena hujan. Guru pun pulang lebih awal naik motor yang juga berbahaya karena jalannya licin dan tebingnya rawan longsor. Padahal inilah satu-satunya jalan yang menghubungkan Cianjur Selatan dengan Kabupaten Bandung (Ciwidey).

Kejadian nyaris sama terjadi di sepanjang Jawa Barat Selatan, mulai dari Pangandaran sampai ke Ujung Genteng. Wajiblah pemerintah pusat dan daerah mengembangkan wilayah Jawa Barat Selatan dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, agama, dan potensi bentang alamnya. Dalam tulisan ini disampaikan beberapa pandangan untuk peningkatan kualitas ekonomi, sosial, pendidikan, keamanan dan pelestarian fungsi lingkungan. Isu strategis wilayah Jawa Barat Selatan ialah kesenjangan di berbagai sektor seperti disebut di atas. Perkembangan Jawa Barat Selatan relatif rendah akibat keterbatasan infrastrukturnya. Prioritas pengembangan bisa ke arah ekonomi pariwisata pantai, perikanan, dan pengembangan sumber daya manusia. Itu sebabnya, sekolah hendaklah dibangun mulai dari SMP hingga perguruan tinggi, minimal kursus dan sekolah kejuruan (SMK perkebunan dan kelautan). 

Badan Pengelola
Untuk mengawali percepatan pembangunan di Jawa Barat Selatan itu, perlu ada badan yang mengurusinya dengan tugas:
  1. Menyusun Rencana Induk dan Rencana Kegiatan Pengembangan Sarana dan Prasarana serta Pengembangan Wilayah Jawa Barat Selatan.
  2. Mengupayakan pelabuhan untuk perikanan dan perdagangan di lokasi yang tepat secara geologis, geografis, dan sosio-ekonomis.
  3. Membuat fasilitas yang dapat menstimulasi pertumbuhan ekonomi warga Jawa Barat Selatan dengan membangun jalan akses dan/atau kereta api Timur-Barat-Tengah Jawa Barat dan berhubungan dengan berbagai jalan tol eksisting.
  4. Penyediaan infrastruktur bidang Teknik Lingkungan seperti air baku, air minum, air limbah, drainase, persampahan, sumber energi, dan telekomunikasi.
Dengan demikian, pengembangan wilayah Jawa Barat Selatan akan terintegrasi dengan pengembangan Jawa Barat bagian tengah yang memang sudah terhubung dengan Jakarta dan berbagai pelabuhan dan bandara di Jawa Barat. Objeknya ialah prasarana transportasi (jalan, jembatan, pelabuhan, bandara dsb); prasarana kesehatan (jaringan pipa air minum, drainase, air limbah, pengelolaan sampah); prasarana energi dan komunikasi (jaringan kawat transmisi dan pembagi, jaringan telepon dsb).

Kebutuhan prasarana untuk mendukung pengembangan Jawa Barat Selatan sbb:

a. Transportasi
  1. Jaringan jalan dan prasarana penunjang. Pengembangan jaringan jalan harus berhubungan dengan sistem transportasi nasional dan regional.
  2. Kereta api. Pengembangan jaringan rel kereta api dari Timur ke Barat dan dikoneksikan dengan jaringan rel yang sudah ada, termasuk kereta api wisata.
  3. Transportasi laut. Pengembangan transportasi laut: pelabuhan internasional, nasional, regional, atau lokal.
  4. Transportasi udara. Pengembangan bandara domestik regional, terutama untuk pengangkutan hasil bumi dan perikanan, termasuk wisatawan.
b. Energi
  1. Kebutuhan pengembangan energi meliputi listrik dan gas. Pengembangan energi listrik dengan opsi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya, atau energi biogas yang berasal dari kotoran ternak dan hutan.
c. Utilitas.
  1. Kebutuhan pengembangan utilitas wilayah adalah penyediaan sumber air baku, air minum, air limbah, persampahan, drainase, energi, dan telekomunikasi.
Konsep Pengembangan
Bagaimana metode untuk mengembangkan wilayah Jawa Barat Selatan? Kata kuncinya ialah bersahabat dengan lingkungan agar tidak menjadi bumerang pada masa depan seperti terjadi sekarang akibat keburukan konsep pembangunan pada masa lalu. Ada tiga konsep yang diutarakan, yaitu:

A. Konsep pengembangan berkelanjutan
B. Konsep pengembangan yang bersahabat dengan lingkungan
C. Konsep pengembangan timbal-balik dengan pembangunan sumber daya manusia.

A. Konsep pengembangan berkelanjutan
Konsep pembangunan yang diterapkan harus “berkelanjutan”. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial. Penjabaran pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga tiang utama (pembangunan ekonomi, pembangunan sosial, dan keberlanjutan lingkungan) yang saling bergantung.

Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan adalah mengutamakan hubungan yang berkesinambungan antara pembangunan wilayah dengan konservasi lingkungan sekitarnya.

B. Konsep pengembangan yang bersahabat dengan lingkungan.
Konsep pembangunan yang bersahabat dengan lingkungan ialah konsep pengembangan yang berlanjut terus (sustainable development). Pembangunan yang sinergi dengan lingkungan mengedepankan keselarasan antara pengembangan wilayah dengan konservasi lingkungan, yaitu pengembangannya tidak fokus pada pembangunan semata tetapi juga memperhatikan kelestarian fungsi lingkungannya. Dalam pengembangan wilayah Jawa Barat Selatan ini perlu ditekankan agar terwujud sustainable environmental and development.

Berdasarkan konsep tersebut maka pembangunan harus mengacu pada:

1. Keberlanjutan Lingkungan
a. Pembangunan dikembangkan secara jelas peruntukan daerahnya.
b. Ada buffer zone untuk pelestarian fungsi lingkungan.
c. Struktur bangunan harus ramah terhadap lingkungan
d. Konsep clean production dalam pengadaan jaringan air limbah.
e. Air minum yang langgeng sumbernya, catchment area terlindungi.
f. Pendekatan 3R dalam pengelolaan sampah dan sanitary landfill.

2. Pembangunan Ekonomi
a. Pembangunan wilayah harus mendukung industri kecil di daerah.
b. Alokasi lahan harus sesuai dengan fungsinya.
c. Sediakan air bersih, salurkan air limbah/sampah, transportasi, dan listrik.
d. Pemicu wisata bahari, wisata pantai dan pasar ikan skala internasional.

3. Pembangunan Sosial Budaya
a. Penyiapan SDM yang berkualitas dan mampu bersaing di pasar kerja.
b. Meningkatkan kesejahteraan ekonomi rakyat dengan membuka kesempatan kerja dalam pembangunan.
c. Masyarakat bisa hidup sehat dengan udara dan air bersih sesuai dengan konsep keberlanjutan lingkungan.
d. Infrastruktur perdagangan dan jasa yang dikembangkan adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan penduduk setempat.

C. Konsep pengembangan timbal-balik dengan pembangunan sumber daya manusia.
Hal ini selaras dengan konsep pembangunan yang harus mengembangkan dan meningkatkan kemampuan SDM, yaitu dengan tetap mempertahankan nilai budaya dan agamanya. Beberapa hal yang dapat dilakukan ialah:

1. Mengembangkan industri dan jasa yang menguatkan pengembangan SDM.
2. Mengembangkan prasarana yang sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
3. Meningkatkan kemampuan SDM dengan tetap mempertahankan nilai budaya dan agama.

--**--

Disiapkan sebagai materi diskusi dalam Forum Jabar Selatan di rumah dinas Gubernur, Gedung Pakuan, Bandung.
ReadMore »

3 Oktober 2011

Wetland: The Green Technology

Wetland: The Green Technology
Oleh Gede H. Cahyana

Istilah green technology (teknologi hijau) yang disebarluaskan lewat media massa cetak dan elektronik selalu mengacu pada makna konotatifnya, bukan makna secara harfiah. Berbeda dengan teknologi hijau tersebut, wetland adalah teknologi yang memang betul-betul hijau dalam arti sesungguhnya. Bahkan kemampuan utama dalam mereduksi polutan yang mencemari air diperankan oleh warna hijau, yaitu tanaman berklorofil yang mampu berfotosintesis. Aktivitas pengolahan unsur hara yang diambil dari air limbah inilah yang “dimasak” di zat hijau daun (klorofil) sehingga tanaman menjadi tumbuh, baik fisiknya maupun jumlah tunasnya, sekaligus mengurangi polutan di dalam air limbah.

Secara umum, wetland dibedakan menjadi dua, yaitu wetland alamiah dan buatan. Dalam artikel ini dibahas wetland buatan yang semua kondisi dan karakteristik lahan dan tanamannya dikondisikan dengan tujuan tertentu, yaitu mencapai efisiensi pengolahan yang relatif tinggi. Selain dinamai wetland buatan atau constructed wetland, ia juga disebut dengan nama lain seperti rock-reed filter, microbial rock plant filter, vegetated submerged bed, marsh bed, tule bed, hydrobotanical system. Di Jerman unit serupa ini yang menggunakan tanah setempat (native soil) dan reeds disebut root zone method. Meskipun namanya beragam, vegetasinya cenderung serupa, yaitu menggunakan bulrush, reeds, cattails yang fungsinya sama: menyediakan oksigen ke dalam akar-akarnya dan menambah luas permukaan untuk pertumbuhan biologi di dalam zone akar sehingga transfer oksigen menjadi lebih banyak.

Karena prosesnya secara alamiah berupa konsorsium mikroba dan tanaman maka wetland ini layak dijadikan alternatif dalam pengolahan air limbah, khususnya sebagai pengolah pencemar organik, nitrogen dan fosfat. Beberapa keunggulan wetland dibandingkan dengan teknologi pengolah air limbah konvensional lainnya ialah murah dalam biaya operasi-rawatnya, toleran terhadap berbagai tingkat konsentrasi pencemar, mampu mereduksi logam berat, tanamannya dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, kertas, pupuk, tanaman hias, mendukung fungsi ekologis, kawasan hijau, habitat satwa, dan kawasan rekreasi. Selain manfaatnya tersebut, wetland juga memiliki sejumlah kekurangan, yaitu perlu lahan yang luas, relasi kompleks biologis dan hidrologis, kalau airnya tergenang bisa menjadi sarang nyamuk.


Jenis Wetland
Teknologi wetland dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu wetland “genang” (Surface Flow Constructed Wetland), wetland “kolam” (Free Water System) dan wetland “kering” Sub-Surface Flow Constructed Wetland. Sesuai dengan namanya, wetland “genang” dan wetland kolam senantiasa dipenuhi oleh air limbah di permukaan media kerikil dan sebagian batang tanamannya sehingga berpotensi terjadi aliran-singkat (short-circuit) yang dapat menurunkan kualitas air olahan. Tinggi genangan ini antara 10 s.d 50 cm. Hanya saja, wetland kolam jarang diterapkan karena menimbulkan bau busuk dan sarang nyamuk, tikus, dll. Dalam wetland “kering”, semua air limbah influen berada di bawah permukaan media kerikil sehingga potensi aliran-singkat dapat dikurangi.

Mekanisme Proses
Ada tiga parameter penting yang mempengaruhi kinerja wetland. Yang pertama, media tumbuh. Biasanya digunakan kerikil atau batu bata dengan fungsi sebagai tempat tumbuh tanaman, media lekat perkembangan mikroorganisme, ruang endap (sedimentasi). Yang kedua, tanaman. Seperti tersurat dalam judul artikel ini, tanaman hijau inilah bagian penting dalam wetland. Fungsinya ialah: akar dan/atau batang dalam air sebagai tempat tumbuh mikroba dan adsorban. Batang dan daun yang di atas air mencegah pertumbuhan algae, mengurangi dampak kecepatan angin di permukaan air, berperan dalam transfer gas, meningkatkan aktivitas mikroba di zone akar. Yang ketiga, mikroba. Jasad renik ini membantu penguraian polutan berupa senyawa karbon, baik mikroba aerob, fakultatif, maupun anaerob.


Tanaman dan mikroba bersimbiosis mutualisme, saling menguntungkan di dalam wetland. Tanaman membantu pertumbuhan mikroba seperti jamur, bakteri, algae dan protozoa. Batang, cabang dan daun tanaman yang berada di dalam genangan air akan memperluas area perlekatan mikroba. Akar tumbuhan melepaskan oksigen sehingga daerah sekitarnya menjadi aerob. Oksigen ini berasal dari udara yang berdifusi melewati pori-pori daun, batang dan dilepaskan di akar. Dengan demikian, di dalam unit ini terjadi kondisi aerob di sekitar perakaran tanaman, kondisi fakultatif dan kondisi anaerob.

Dalam terapannya, wetland mampu mengolah air limbah domestik dan non-domestik seperti air limbah pertanian, peternakan, perikanan, tambak, air lindi TPA, air limbah rumah sakit. *
ReadMore »

25 September 2011

Babakan Siliwangi: Hutan Kota Dunia


Babakan Siliwangi: Hutan Kota Dunia

Gede H. Cahyana

Babak baru Babakan Siliwangi sudah bergulir. Hutan kota seluas kurang lebih 3,8 ha itu akan diresmikan oleh Wakil Presiden Boediono menjadi Hutan Kota Dunia (world city forest) pertama di Indonesia. Deklarasinya berlangsung dalam pembukaan konferensi lingkungan internasional: Tunza International Children and Youth Conference On the Environment 2011 yang mulai digelar pada 27 September 2011. Inilah kado ulang tahun Kota Bandung dari PBB melalui United Nation Environmental Programe (UNEP). Akankah deklarasi ini mampu memupus berbagai perbedaan pendapat dan beragam kepentingan Pemkot Bandung dan pengusaha lantas memunculkan sinergi?

Faktanya, harapan untuk saling dukung demi kepentingan masyarakat Bandung sudah sejak lama digulirkan. Bahkan ujaran keras pernah keluar dari pemerintah Provinsi Jawa Barat agar tidak ada lagi pembangunan di Kawasan Bandung Utara (KBU) dan Babakan Siliwangi! Ajakan tersebut adalah artikulasi kembali suara-suara “hijau” (green sound) pakar lingkungan dan pemerhatinya sejak 1993. Sejumlah unsur masyarakat yang “melek” lingkungan lantas berupaya “menyadarkan” pemerintah yang akan mengambil tindakan keliru atas nama pembangunan ekonomi. Silang pendapat inilah yang ramai dibahas sewindu terakhir ini.

Bagaimana kondisi Babakan Siliwangi pada masa lalu? Lain dulu, lain sekarang. Berikut ini adalah potret sepetak lahan di Babakan Siliwangi pada dekade 1980-an. Selain petak ini, ada dua petak lagi yang memiliki nilai jejak ekologis (ecological footprint) yang tinggi di Kelurahan Babakan Siliwangi, Kecamatan Coblong, yaitu Kebun Binatang dan Taman Ganesa di dekat area Salman ITB. Pada masa itu halaman ITB pun masih menjadi hutan kota yang betul-betul hijau karena masih banyak pohon, ramai oleh kicauan burung beraneka jenis, berbeda dengan masa 15 tahun terakhir ini yang berubah menjadi hutan beton.

Seperempat abad yang lalu, di petak tersebut masih terdengar ricikan air jernih dari sawah dan pancuran bambu. Hijaunya daun dan kuningnya bulir padi datang silih berganti setiap empat bulan. Burung-burung liar yang habitatnya di Taman Ganeca ITB dan Kebun Binatang sering terbang bergerombol ke pohon-pohon di Babakan Siliwangi. Panorama ini dapat dinikmati dari lereng atas Selatan yang berbatasan dengan jalan Tamansari, tepat di belakang ITB (d.h. Kantor Puslitbang Permukiman). Mahasiswa ITB yang kos di daerah ini (d.h Lebak Gede) akan melihat gerombolan burung terbang, barisan capung, juga loncatan belalang setiap pagi.

Dari rumah kos yang berada di tataran bawah kantor BATAN ada jalan setapak menuju jalan berbatu di bawah bibir jalan Tamansari. Berlebar dua meter, jalan berbatu ini selalu ramai dilewati masyarakat setempat kalau hendak ke Simpang Dago. Mahasiswa ITB yang kos di daerah ini pun kerapkali menginjak setapak di ”bebukitan” Lebak Siliwangi, di dekat rumah makan pada masa itu. Area parkir yang luas di depan rumah makan bersebelahan dengan kolam ikan tempat mancing walau hanya sesekali. Udara sangat sejuk, syahdan pada tengah hari bolong. Angin berembus terus-menerus mengacak-acak daun pinus dan palem sambil menebar oksigen. Sanggar Olah Seni pun ramah dan terbuka dikunjungi bagi warga sekitar.

Sebagai warga baru, saya sering keliling gang-gang di Lebak Gede (Siliwangi), mulai dari tepi Sungai Cikapundung di dekat bangunan Intake (penyadap air) PDAM Kota Bandung, sampai gang di dekat sawah di Babakan Siliwangi. Air PDAM sudah tersedia tetapi tidak semua warga berlangganan air ini. Lebih banyak warga mendapatkan air dari sumur dangkal dengan cara ditimba dan disedot pompa. Warga yang di dekat sawah memperoleh air dari rembesan air sawah selain air yang langsung dialirkan dari limpahan air selokan di Dago dan kawasan Cisitu. Air ini untuk mencuci dan bebersih rumah. Untuk minum hampir semua menggunakan air sumur. Semua warung nasi di Lebak Gede atau Babakan Siliwangi memperoleh air minumnya dari sumur dangkal kalau tidak dari PDAM. Waktu itu belum banyak dikenal air minum kemasan berukuran botol lima gallon. Masjid pun kebanyakan memiliki sumur dengan pompa di tempat wudunya.

Keelokan dan eksotika Babakan Siliwangi dapat dinikmati pada pagi hari ketika pucuk-pucuk pinus ”bebukitan” di lereng rumah A. Kasoem diselimuti kabut melayang di sela-sela daun jejari pinus. Kian indah lagi kalau dipandang dari rumah kos yang tepat berada di bawah kantor BATAN, di dekat lapangan voli saat itu. Pada pukul delapan pagi embun pembasah daun belum juga menguap. Itulah potret Lebak Gede dan Lebak/Babakan Siliwangi pada medio 1980-an. Di bagian atas, yaitu di jalan Siliwangi pohon-pohon pun masih banyak berdaun rimbun. Jalan Tamansari juga berpohon rindang, seperti sekarang.

Yang khas di Babakan Siliwangi, paling tidak ketika saya menjadi bagian dari warga di sana, adalah arena adu bagong dan anjing. Dua bagong (babi hutan bertaring) dikerubuti oleh beberapa ekor anjing ”kampung”, bukan sejenis bulldog, herder atau lainnya. Arena pertunjukan yang menurut pencinta hewan dianggap di luar perikehewanan ini berlangsung di lereng Timur Babakan Siliwangi, di dekat jalan Sumur Bandung atau tepat di pertigaan jalan Tamansari, Dayang Sumbi dan Sumur Bandung. Karena pagarnya berupa semak-belukar, ada beberapa pintu masuk yang terbuat dari dinding yang dilubangi. Yang tidak membeli karcis ada yang berupaya naik ke pohon-pohon di sekitar arena sehingga menjadi pemandangan khas ”pohon berbuah orang”.

Pada kali lain, ada juga pertunjukan ular dan orang yang hidup ”rukun” selama 60 hari. Ularnya banyak, besar-kecil, dari berbagai jenis, mulai dari yang tidak berbisa sampai cobra yang bisanya luar biasa. Arena ini selalu ramai dikunjungi orang, terutama pada hari libur dan Ahad, bahkan diramaikan oleh wisatawan dari luar Kota Bandung. Di sudut lain Babakan Siliwangi adalah aktivitas seni dan ada mushala di sana. Warga dapat melihat-lihat dengan nyaman dan bebas tanpa banyak dijaga. Murid-murid TK dan SD beberapa kali saya lihat berkunjung dan tampak ceria, berbaur dengan alam sejuk di sekitarnya. Pendidikan lingkungan, seni, budaya sambil berjalan dan lari naik turun sekaligus memberikan efek olah raga.

Berkaca pada potret Babakan Siliwangi dua dekade lalu, muncullah pertanyaan sbb: akankah fenomena dulu bisa diperoleh sekarang? Akankah fungsi lingkungan Babakan Siliwangi tetap terjaga ketika diubah menjadi pusat bisnis? Kalaupun tetap hendak (dipaksakan) dibangun, sebaiknya berkonstruksi tiang pancang dan berbentuk panggung agar resapan airnya tetap optimal. Material pondasi bagunan lama harus diangkat semua. Aspalnya juga diangkat semua sampai betul-betul tampak tanah aslinya, kemudian dipasangi paving block yang dapat meloloskan air hujan. Jangan membuat taman hanya sekadar untuk raihan fotosintesisnya tanpa peduli pada aspek tangsap (tangkap-resap) air hujan. Apalagi sekadar tanaman bunga semusim yang orientasinya hanya aspek keindahan tanpa kemampuan tangsap air.

Akhir kata, Kota Bandung perlu sabuk hijau yang tak sekadar untuk faktor estetika, tetapi juga geohidrologis. Dengan luas wilayah 16.730 ha, Kota Bandung perlu 20 persen sabuk hijau berpohon 1,3 juta tegakan. Dapatkah ini dicapai kalau setiap sabuk hijaunya diubah menjadi ”sabuk beton” berupa mall, hotel, dan supermarket yang tak peduli pada lingkungan dan ekologi? Pencanangan Hutan Kota Dunia (Hukodu) diharapkan mengawali pembangunan Babakan Siliwangi secara sosioekologis. Semoga mampu mereduksi perbedaan kemudian memunculkan kerjasama sinergis antarunsur masyarakat: LSM, ormas, pemkot, pemprov, pengusaha, dan akademisi. *
ReadMore »

2 September 2011

Besi dalam Air Minum


Oleh Gede H. Cahyana

“Saya nyesel. Nyesel banget beli rumah di sana. Dibohongin. Developer-nya bilang air sumurnya bagus. Tapi nyatanya bohong. Padahal dalamnya sudah 25 meteran. Airnya amis dan kuning. Siapa yang nggak kesal.” Demikian gerutu seseorang kepada penulis.

Mendengar itu saya tetap diam, terus menyimak, manggut-manggut sambil bergumam, ooo... ooo saja. Keluh kesahnya panjang, agak lama kami ngobrol. Masalahnya tak lain dari mutu atau kualitas air. Sebetulnya dia hendak menjual rumahnya itu, tapi belum laku juga karena semua calon pembelinya selalu menanyakan airnya. Begitu tahu airnya jelek, mereka langsung pergi. Apalagi tak ada tanda-tanda air ledeng PDAM bakal masuk ke perumahan itu.

Dalam acara peringatan Hari Air Dunia, penulis sempat ditanya seseorang yang mengadu soal air. Bersama anaknya, ibu paruh baya ini bertanya, “Kenapa ya, air sumur saya kuning? Sudah disaring pakai kain, tapi tetap saja kuning. Pernah jernih sebentar tapi kuning lagi. Lantai pun jadi kuning. Ember juga kuning-coklat. Bahaya nggak, ya? Gimana cara menghilangkannya?”

Agar Sehat: Olah!
Air perlu diolah karena kualitas air bakunya berbeda dengan kualitas air minum yang sudah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan No. 907/Menkes/SK/VII/2002, pada 29 Juli 2002. Perbedaan inilah yang harus diolah sampai ke taraf konsentrasi yang sesuai dengan surat keputusan tersebut. Aturan tersebut dibuat demi kesehatan manusia dan dibagi menjadi empat, yaitu kualitas bakteriologis (penulis cenderung menyebutnya bakteriologi), kimiawi (penulis menyebutnya kimia), radioaktivitas, dan fisik (penulis menyebutnya fisika). Dari sekian banyak parameter kualitas kimia dalam baku mutu tersebut yang sering menjadi masalah adalah kalsium, magnesium, besi dan mangan. Pada kesempatan sekarang, fokus tulisan ini adalah besi dan mangan.

“Musuh bersama” kita, kalau boleh disebut demikian, adalah kation besi (II) yang bersembunyi di dalam air. Kation ini hadir di dalam tanah dan air bersama dengan kation mangan (II) dan kation lainnya. Konsentrasi terbesarnya justru ada di dalam air tanah (groundwater) seperti sumur yang banyak dijadikan sumber air masyarakat tetapi relatif kecil di dalam air permukaan seperti sungai, danau, dan waduk.

Kation besi, selanjutnya disebut besi, menimbulkan banyak masalah dalam penyediaan air minum individual dan komunal termasuk masalah kesehatan manusia. Itu sebabnya, konsentrasi maksimum besi terlarut di dalam air minum yang tercantum di berbagai peraturan pemerintah atau menteri kesehatan adalah 1.0 mg/l. Tetapi faktanya, konsentrasi besi di dalam air tanah dangkal dan air tanah dalam (juga beberapa air permukaan) jauh di atas ambang batas tersebut. Agar dapat dimanfaatkan dan tidak menimbulkan masalah kesehatan, estetika, kerugian ekonomi, dll maka air tersebut harus diolah dulu dengan teknologi tertentu. Satu di antara teknologi yang bisa diterapkan adalah slow sand filter modifikasi.

Seperti tersirat di dalam namanya, slow sand filter adalah unit operasi filter yang laju aliran airnya relatif lambat dengan kisaran 0,1 – 0,4 m3/m2/jam yang dicapai dengan lapisan pasir berdiameter antara 0,1 – 0,35 mm. Lewat pertolongan gravitasi Bumi, air mengalir lambat menyusup di antara butir-butir pasir dari bagian atas filter ke bagian bawah. Jenis slow sand filter konvensional tersebut banyak diterapkan untuk mengolah air permukaan dengan kekeruhan rendah sehingga umur filter menjadi lebih lama dibandingkan dengan filter yang mengolah kekeruhan lebih tinggi. Operasi-rawatnya juga mudah dan tanpa penambahan zat kimia. Hanya saja, filter ini membutuhkan lahan yang luas dan media filter yang besar volumenya dibandingkan jenis lainnya.

Modifikasi Media
Terapan utama slow sand filter di atas adalah untuk menurunkan kekeruhan air baku yang disebabkan oleh koloid dan suspended solid berkonsentrasi rendah. Dampak tambahan positif lainnya ialah reduksi senyawa besi (dan sedikit mangan), baik oleh aktivitas biologi maupun kimiawi alami. Aktivitas fisika dapat juga terjadi kalau besi dan mangan mengalami oksidasi alami meskipun dalam jumlah yang sedikit. Hal ini akan terjadi optimal apabila lapisan tipis di permukaan media filter (schmutzdecke) berkembang dengan baik dan bertahan selama proses filtrasi. Meskipun dapat diupayakan, justru di sinilah letak kesulitannya.

Lain koloid dan suspended solid, lain juga besi. Agar dapat digunakan untuk mengurangi konsentrasi besi dan mangan dengan jumlah yang banyak maka perlu ada modifikasi media tanpa mengubah laju aliran airnya. Dengan mempertahankan lajunya yang rendah seperti slow sand filter konvensional maka mekanisme filtrasinya tetap sama dan tanpa zat kimia seperti pada rapid sand filter yang memerlukan proses koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi di dalam unit yang terpisah. Satu cara modifikasi media ini ialah dengan memberikan tambahan kemampuan dalam penyisihan besi dan mangan. Di sini ada tambahan mangan karena di dalam slow sand filter konvensional relatif sulit untuk menyisihkan mangan karena persyaratan pH-nya relatif tinggi.

Untuk menambah daya-sisih (removal power) pasir terhadap besi (dan juga mangan) maka pasir diaktifkan dengan larutan KMnO4 yang lantas membentuk lapisan MnO2. Lapisan inilah yang bertindak sebagai katalisator (pemercepat reaksi) pada proses oksidasi kation Mn(II). Aktivasi media pasir dilakukan dengan larutan KMnO4 0,1 N. Pasir direndam selama 24 jam lalu dikeringkan dengan oven pada temperatur 150 derajat C selama 2 jam.

Selain sebagai katalisator reaksi oksidasi, pasir juga mampu memfilter presipitat besi dan mangan. Yang tidak teroksidasi akan diadsorpsi oleh lapisan besi hidroksida sehingga fenomena di dalam modifikasi media ini menjadi banyak, yaitu aerasi-oksidasi, filtrasi, sedimentasi, dan adsorpsi sekaligus disinfeksi sehingga air filtratnya sudah siap diminum (drinking water).

Kinerja Filter
Irmanto dan penulis sudah meneliti dan mengevaluasi kinerja slow sand filter modifikasi ini di Universitas Kebangsaan dengan sumber air baku dari air tanah di kantor Kopertis Wilayah IV (Jawa Barat-Banten). Dalam beberapa kali pengambilan sampel air tersebut diperoleh konsentrasi besi antara 1,85 mg/l – 2,61 mg/l, jauh di atas ambang batas maksimum 1,0 mg/l. Dengan konfigurasi filter seperti Gambar 1, efisiensi penyisihan besi di dalam slow sand filter modifikasi mencapai angka 95%.

Dengan latar penelitian di laboratorium tersebut, maka rancangan filter skala lapangan bia dibuat, baik untuk kebutuhan individual (rumah tangga) maupun komunal di kantor-kantor.*
ReadMore »

8 Agustus 2011

Penyediaan Air Minum di Dalam Gedung (Plumbing)

Penyediaan Air Minum di Dalam Gedung
(PLUMBING, PLAMBING)


Adakah peran PDAM dalam penyediaan air minum di dalam gedung? Sebagai sebuah sistem, penyediaan air minum di dalam gedung memang bukanlah tanggung jawab PDAM. Meter air menjadi titik demarkasi atau batas tanggung jawab antara PDAM dan pelanggannya. Namun demikian, peran PDAM sesungguhnya masih ada di dalam sistem penyediaan air minum di dalam gedung, biasa disebut sistem plambing, terutama yang berkaitan dengan kuantitas air, kualitas air, dan tekanan sisa airnya.

Dalam sistem plambing, terutama bangunan publik seperti kantor, mall, hotel, dan juga rumah pribadi berlantai satu atau dua, karakteristik hidrolis di daerah distribusi PDAM berpengaruh besar terhadap sistem plambing. Dalam sistem plambing air minum, selain syarat kuantitas dan kualitas, juga ada syarat tekanan sisa (residual head), khususnya di alat plambing yang kritis tekanan sisanya. Selain air minum, ada juga instalasi air limbah dan ventilasi, air hujan, pemadam kebakaran (sprinkler system), dan air panas. Oleh sebab itu, kehati-hatian dalam pemasangan atau instalasinya perlu diperhatikan agar tidak terjadi pencampuran antara pipa air minum dan air buangan (cross connection). Syarat ini diperlukan agar tercapai aspek kesehatan, kenyamanan dan menyenangkan (convenience and comfort) pelanggan dan pengguna gedung.

Identik dengan pola desain sistem PAM kota, sistem PAM dalam gedung pun mengacu pada besaran sistem yang dipengaruhi oleh populasi dan kebutuhan per kapita. Populasi dalam gedung ini dapat berupa orang, tempat tidur, luas lantai, porsi makanan, hewan, dll. Dalam praktiknya, besaran sistem bisa ditetapkan oleh pemilik gedung atas saran perencananya, dihitung berdasarkan populasinya, atau diperkirakan dari kebutuhan maksimum gedung. Biasanya, untuk keamanan sistem dan kenyamanan orang di dalam gedung, kebutuhan air dilebihkan 20% dari nilai riil perhitungan desainnya.

Pola dan Karakteristik Sistem
Seperti dalam PAM kota, plambing juga memiliki tiga komponen sistem, yaitu sumber air, transmisi, dan distribusi. Selain PDAM, sumber air bisa dari air tanah atau air permukaan dengan pengolahan terlebih dahulu. Mana yang dipilih bergantung pada kapasitas yang dibutuhkan gedung dan ada tidaknya sumber air alternatif. Dalam satu gedung boleh jadi ada lebih dari satu jenis sumber air dengan pengolahan atau tidak.

Sistem transmisi di dalam gedung biasanya pendek saja, bergantung pada tinggi-rendahnya gedung. Dihubungkan dengan peran kapasitas dan tekanan sisa air PDAM, sistem plambing ini dibedakan menjadi dua, yaitu gedung atau rumah berlantai satu dan dua serta gedung berlantai lebih dari dua. Pada rumah berlantai dua, peran PDAM dalam penyediaan tekanan air untuk menaikkan air ke lantai dua menjadi besar. Apabila tekanan air PDAM cukup tinggi, minimal 1 bar atau satu atmosfer, maka semua alat plambing seperti WC, kran, wastafel, dll di lantai dua dapat disuplai langsung. Kalau pasokan air PDAM konstan selama 24 jam sehari, maka pelanggan atau pemilik gedung tidak perlu menyediakan tangki air di atas lantai dua karena tekanannya sudah cukup. Ini tentu menghemat biaya yang harus dikeluarkan oleh pelanggan.

Hanya saja, kondisi air bertekanan cukup ini jarang terjadi, kecuali di daerah-daerah tertentu yang dekat dengan pipa induk PDAM atau topografinya mendukung. Sering juga terjadi, tekanan airnya justru sangat tinggi sehingga airnya merembes dari sambungan pipa, bahkan merusak kran alat-alat plambing. Belum lagi masalah sisa klor (kaporit) yang bisanya relatif tinggi di daerah distribusi yang dekat dengan instalasi dan pipa induk PDAM. Opsi solusinya ialah dengan memasang filter karbon aktif. Rumah atau gedung yang kondisi seperti ini disarankan menampung airnya dulu di tangki air atas (roof tank) atau di tangki air bawah di tanah (ground tank) lalu memompanya ke alat-alat plambing atau ke roof tank. Dari tangki atas ini air lantas dialirkan secara gravitasi ke setiap alat plambing. Serupa dengan itu, PDAM pun bisa membangun beberapa tangki tinggi (elevated tank) di daerah distribusi dengan mempertimbangkan topografi dan jumlah pelanggannya serta proyeksi jumlah pelanggan pada masa depan sehingga tercapai kesetimbangan tekanan.

Pola sistem yang paling aman secara teknis bagi instalasi plambing adalah dengan menyediakan dua tangki air, yaitu tangki air bawah (ground tank) dan tangki air atas (roof tank) dengan volume total minimal 70% dari kebutuhan gedung. Volume tangki air bawah bisa 60 – 70 persen dari kebutuhan gedung, sedangkan volume tangki air atas antara 30 – 40 persen. Untuk gedung berlantai empat atau kurang, bisa saja tanpa tangki atas asalkan dipasang minimal dua pompa distribusi (1 aktif, 1 siaga) ke setiap lantai dengan tekanan sisa yang cukup untuk lantai paling atas dan tidak terlalu besar bagi lantai terbawah (basement dan lantai 1). Pemasangan seperti ini tidak membutuhkan katup pengatur tekanan (pressure regulating valve). Namun yang terbaik tentu saja dilengkapi dengan tangki atas karena secara hidrolis lebih stabil, lebih nyaman ketika listrik padam, dan lebih aman bagi lifetime kran-kran air.

Hal selanjutnya yang penting ialah headloss kritis yang terjadi di lantai teratas. Pada PAM kota, sebab utama kehilangan tekanan adalah major losses karena bentangan pipanya sangat panjang. Dalam sistem plambing, sebab utamanya ialah minor losses akibat banyak fitting dalam jarak yang pendek saja. Major losses dan minor losses di lantai teratas ini mempengaruhi ketinggian tangki atas, khususnya ketinggian permukaan air maksimum dan minimumnya. Variasi ketinggian muka air ini hendaklah mampu menyediakan tekanan sisa (residual head) di alat plambing yang paling kritis (biasanya paling jauh lokasinya dari tangki atas). Sisa tekanan di titik kritis ini tidak perlu terlalu besar, antara 2 s.d 3 meter kolom air saja sudah cukup. Kalau sisa tekanan ini sudah tercukupi maka dapat dipastikan sisa tekanan di alat plambing lainnya di lantai teratas juga tercukupi, termasuk lantai di bawahnya.

Yang juga perlu diperhatikan ialah efektivitas penempatan tangki atas agar tidak ada variasi sisa tekanan yang timpang antara satu ruang dan ruang lainnya, terutama ruang yang terjauh dari posisi tangki. Yang terbaik ialah ada kesetimbangan sisa tekanan di antara semua ruang agar semua pengguna fasilitas sanitasi di setiap ruang menjadi nyaman, sama persis dengan pola kesetimbangan sisa tekanan di sistem distribusi air PDAM. Dalam sistem PAM kota, maksud ini dapat dicapai dengan membuat elevated tank di beberapa lokasi sesuai dengan keadaan topografinya dan jumlah pelanggannya (serta proyeksinya). Bedanya, dalam sistem plambing, selain kesetimbangan horisontal, juga harus dipertimbangkan kesetimbangan vertikal antarlantai agar kenyamanan juga dinikmati oleh semua pengguna di setiap lantai. Yang sering menjadi masalah justru kesetimbangan sisa tekanan vertikal ini, terutama di gedung berlantai banyak (high rise building) sehingga harus dibuat beberapa pola sistem distribusi (zoning system) dengan perangkat mekanikal - elektrikal yang khusus untuk mengatur tekanan air.

Yang terakhir, tetapi penting, adalah menetapkan diameter pipa yang harus digunakan. Sama dengan sistem PAM kota, semua diameter yang harus dipasang hendaklah sudah dihitung dulu dengan menggunakan rumus-rumus baku dalam hidrolika, seperti formula Darcy-Weisbach, Hazen-William dengan nilai konstanta yang sesuai. Asumsi debit yang diterapkan ke dalam rumus adalah debit pada saat aliran puncak, jam puncak atau peak hour. Berbeda dengan sistem PAM kota yang biasanya menggunakan program perangkat lunak (software) seperti UNDP, Epanet atau secara manual dengan kalkulator untuk sistem distribusi yang sederhana, perhitungan diameter di dalam gedung biasanya menggunakan tabel-tabel. Tabel yang tersedia di antaranya ialah tabel beban (fixtures unit), tabel diameter yang dikaitkan dengan jumlah fixtures unit dan nomograf yang berisi informasi debit, kecepatan, headloss, dan diameter pipa. Dalam penerapannya ada sejumlah asumsi yang diambil dengan mempertimbangkan kelayakan sistem yang didasarkan pada pengalaman, baik yang ditulis di dalam buku-ajar maupun dari pengalaman pribadi perencana (konsultan).

Dalam sistem plambing ini, khususnya untuk gedung berlantai satu s.d empat, biasanya tidak membutuhkan kalkulasi yang rumit. Seorang arsitek pun bisa dengan mudah menetapkan sistem plambing tanpa bantuan sarjana teknik lingkungan, terutama yang berkaitan dengan diameter pipa. Berdasarkan pengalamannya, dalam beberapa kali pekerjaan plambing, arsitek akan dengan cepat menetapkan diameter pipa air minum. Di sisi lain, pada gedung berlantai banyak, yang sering berperan ialah sarjana teknik mesin dengan anggapan plambing adalah segmen pekerjaan M-E (mekanikal – elektrikal). Tidak salah memang, karena sarjana teknik mesin juga belajar mekanika fluida. Sebabnya, mungkin, adalah kepraktisan dalam bekerja dan ekonomis bagi konsultan dan kontraktor karena tidak perlu mempekerjakan dua orang sarjana.

Di bagian akhir tulisan ini penulis berharap agar sarjana teknik lingkungan dan jurusan teknik lingkungan di semua kampus lebih mengembangkan lagi segmen pasar kerja di bidang plambing ini. Ikatan alumninya (IATPI) juga hendaklah proaktif dan intensif menyebarkan image dan fakta bahwa anggotanya berkompeten dalam mendesain dan melaksanakan pekerjaan plambing. Alumni yang sudah punya ”nama” dan jabatan di pemerintahan, perusahaan swasta, BUMN, BUMD, janganlah diam saja apalagi acuh tak acuh pada pengembangan bidang teknik lingkungan karena eksistensi profesi ini bergantung pada peran alumninya juga. Ada tanggung jawab moral dan ilmiah di dalam sosok individu alumninya, apapun profesinya sekarang, asalkan ia adalah alumni teknik penyehatan atau teknik lingkungan.

Dengan demikian, suatu saat nanti, brand image atau persepsi orang terhadap produk plambing akan sama dengan brand image PDAM. Artinya, orang yang ingat PDAM, maka ia akan ingat pada sarjana teknik penyehatan dan lingkungan; saat ingat air limbah (pabrik, hotel, rumah sakit, dll), ia pun ingat sarjana teknik lingkungan, sama dengan orang yang ingat mobil, maka ia akan ingat sarjana teknik mesin, ingat rumah maka ia akan ingat arsitek. Semoga. *
ReadMore »