• L3
  • Email :
  • Search :

3 Agustus 2019

Memahami Hakikat Barat

Memahami Hakikat Barat
Oleh: Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A., M.Phil.

1). Sejauh ini arti Barat masih belum jelas bagi kebanyakan orang. Apa, siapa, dan di mana sebetulnya Barat itu?

Barat ataupun Timur itu sebenarnya bukan letak geografis. Sebab Australia terletak di Timur, Canada itu di Utara, Australia di Selatan, tapi digolongkan sebagai negara Barat. Sementara negara Turki separuhnya terletak di Barat tapi tetap dianggap Timur. Demikian pula Timur (Orient). Afrika itu di Selatan, tapi dikategorikan Timur. Negara-negara Arab itu tidak di Timur dan tidak di Selatan, maka mereka sebut Timur Tengah.

Itu semua sebenarnya identifikasi Barat terhadap dunia selain Barat. Barat sebenarnya mencerminkan sebuah pandangan hidup atau suatu peradaban dan terkadang ras kulit putih. Pandangan hidup Barat merupakan kombinasi Yunani, Romawi, tradisi bangsa-bangsa German, Inggris, Perancis, Celtic, dan sebagainya.

Maka orang Barat adalah orang-orang yang berpandangan hidup Barat dan kebetulan peradaban ini didominasi oleh orang berkulit putih, meskipun kini terdapat pula Barat berkulit hitam atau sawo matang. Itulah sebabnya mengapa Muslim yang hidup di Barat bukan orang Barat.

(2). Apa sebenarnya inti dari worldview Barat yang menjadi ciri khas mereka?

Kalau melihat sejarahnya worldview Barat modern itu, seperti yang diakui oleh beberapa pakar, adalah scientific worldview (pandangan hidup keilmuan). Artinya cara pandang terhadap alam ini melulu saintifik dan tidak lagi religius. Tidak berarti di zaman Barat modern tidak ada orang yang religius, mereka ada tapi yang dominan di Barat adalah saintis.

Hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara saintifik atau secara empiris tidak dapat diterima, termasuk metafisika dan teologi. Maka di zaman Barat modern sains  dipisahkan dari agama, oleh karena itu sains berkembang pesat.

Ciri dari worldview yang saintifik itu tercermin dari berkembangnya paham-paham seperti empirisisme, rasionalisme, dualisme atau dikotomi, sekularisme, desakralisasi, pragmatisme dan sebagainya. Paham-paham itu semua otomatis meminggirkan (memarginalkan) agama dari peradaban Barat.

(3). Akhir-akhir ini khususnya setelah peristiwa 11 September hubungan Islam dan Barat menjadi tegang. Bagaimana sejarah hubungan Islam - Barat?

Benar, ketegangan itu ada, bahkan setelah peristiwa 11/9 itu terjadi George W Bush, buru-buru dan penuh emosi menyebutnya sebagai New Crusade (Perang Salib Baru). Ini berarti persepsi Barat terhadap Islam masih diwarnai oleh sejarah perang salib.

Padahal tidak semua umat Islam melihat Barat dengan cara itu, meskipun dalam sejarahnya umat Islam mengalami pengalaman pahit diusir dari Spanyol. Umat Islam justru  lebih mengingat masa-masa dimana karya-karya saintis Muslim disumbangkan kepada Barat melalui proses penerjemahan dari Arab ke Latin. Tapi di sisi lain Barat justru melakukan gerakan orientalisme yang periode awalnya jelas-jelas merupakan serangan pemikiran (ghazwul fikri) yang sangat buruk sekali.

(4). Bagaimana seharusnya hubungan Islam dan Barat?

Seharusnya dikembalikan kepada hubungan keilmuan dan dialog peradaban. Barat dan Muslim sebaiknya diarahkan untuk sepakat saling belajar dalam berbagai masalah.

Jika kelemahan umat Islam adalah dalam bidang sains dan teknologi tidak ada salahnya umat Islam belajar dari Barat. Sementara kelemahan Barat dalam bidang moral spiritual tidak salah pula jika belajar dari Islam.

(5). Kalau melihat hubungan Barat dan Islam sekarang ini sebenarnya dimana letak masalahnya?

Pangkal masalahnya menurut saya karena sekarang ini Barat selalu memandang Islam sebagai agama dan agama dalam pengertian mereka adalah dogma-dogma yang dipegang secara keras dan kaku atau secara fundamental.

Barat tidak melihat Islam sebagai peradaban yang memiliki konsep ilmu, konsep hidup, konsep akhlaq dan bahkan konsep kemanusiaan yang tidak kalah dengan konsep HAM.

Kalau mau obyektif dan fair masalahnya dapat disarikan menjadi 4 kesalahpahaman: Salah paham Barat terhadap Islam; salah paham Barat terhadap Barat sendiri; Salah paham Muslim terhadap Barat  dan Salah paham Muslim terhadap Islam sendiri.

(6). Salah paham Barat terhadap Islam bisa dimaklumi, tapi bagaimana artinya salah paham Barat terhadap Barat sendiri?

Begini, orang Barat itu umumnya melihat nilai-nilai Barat sebagai terbaik dan universal yang bisa diterapkan ke seluruh dunia. Bahkan makanan Barat pun dianggap baik dan enak dimakan oleh orang non-Barat. Barat juga melihat dirinya sebagai peradaban yang maju dan peradaban lain mundur.

Padahal nilai-nilai Barat itu khas Barat dan kemajuannya baik dalam sains sosial atau fisik hanya diukur dari satu aspek. Aspek lain yaitu terutama aspek spiritual yang mereka akui sangat mundur di Barat tidak menjadi ukuran kemajuan.

Meskipun ukuran kemajuannya sangat timpang, Barat tetap menyebarkan nilai-nilai Barat ke dunia ketiga dan menganggap itu baik bagi dunia lain. Itulah nampaknya yang menjadi latar belakang gerakan westernisasi, globalisasi dan liberalisasi. Inilah yang dimaksud dengan kesalahpahaman Barat kepada Barat sendiri. Mungkin bisa disebut over-confident (terlalu percaya diri)

(7). Lalu bagaimana penjelasannya Muslim salah paham terhadap Barat?

Masih  berkaitan dengan kesalahpahaman Barat kepada Barat sendiri yang membawa dampak munculnya gerakan Westernisasi. Gerakan ini telah berhasil menanamkan worldview Barat kepada pikiran Muslim.
Reaksi Muslim dalam hal ini terbagi menjadi dua kelompok: 


Pertama, Melihat Barat seperti orang Barat, sehingga apa yang dari Barat dianggap baik untuk Islam dan bahkan mereka ini memahami Islam dengan cara Barat. Kedua, Melihat Barat dengan penuh antipati dan kebencian, sehingga segala sesuatu yang berasal dari Barat itu jelek dan negatif.

Kedua cara memandang yang sangat ekstrim ini tentu salah. Barat tidak sebaik yang dianggap pemujanya dan tidak seburuk yang diasumsikan pembencinya.

(8). Lalu dimana kesalahan umat Islam sehingga terbagi menjadi dua kelompok itu?

Salahnya terletak pada kemiskinan ilmu dan kelemahan iman. Yang melihat Barat secara positif bahkan hampir mendekati pemujaan Barat itu karena tidak tahu hakekat Barat dengan nilai-nilai dan worldview mereka. Atau kalau pun mereka tahu, mereka tidak tahu dimana salahnya menurut Islam karena ia tidak mengetahui worldview dan nilai-nilai Islam yang seharusnya digunakan untuk menilai Barat.

Misalnya sains di Barat itu sekuler, artinya memisahkan sains dari teologi atau telah menghilangkan jejak Tuhan di  muka bumi, (Syed Hussein Nasr). Tapi umat Islam yang belajar sains di Barat belum tentu tahu itu, kalau pun tahu mereka tidak tahu bagaimana menurut Islam.

Kelompok kedua yang antipati juga tidak tahu hakekat Barat dengan tradisi keilmuannya yang bagus, etos kerjanya yang tinggi dan ketertiban kehidupan sosialnya dan sebagainya. Yang mereka tahu hanya hegemoni ekonomi dan politiknya, moralitas masyarakatnya yang jauh dari agama.

Tapi itupun juga tidak menjadikan mereka semakin cerdas dan kritis sehingga segera bangkit dengan mengembangkan konsep-konsep dan sistem-sistem Islam. Ringkasnya, umat Islam belum menggunakan ilmu sebagai bekal untuk menghadapi Barat.

(9). Konon, kecenderungan pelajar Muslim untuk belajar Islam di Barat akhir-akhir ini cukup tinggi. Bagaimana Anda melihatnya?

Ini sangat wajar, sebab sistem dan metodologi pengkajian ilmu disana terkenal baik. Ini dapat dilihat dari koleksi bukunya yang cukup banyak, penelitian dan penerbitannya yang stabil dan jumlah profesor yang pakar dalam bidangnya yang memadai serta keseriusan dosen dan para mahasiswanya dalam belajar cukup tinggi.

Dalam bidang studi Islam kurang lebih juga demikian. Tapi sebaiknya para pelajar yang ingin kuliah studi Islam ke Barat dibekali dengan penguasaan metodologi dan framework studi Islam yang kuat. Artinya ilmu-ilmu tradisionalnya harus masak terlebih dahulu sebelum berangkat belajar ke Barat.

Sebab mahasiswa yang belum punya bekal ilmu hadis riwayah maupun dirayah, misalnya, kemudian membaca kritik dan framework studi hadis para orientalis, pasti dijamin akan banyak terhanyut oleh framework orientalis dan balik mengkritik hadis.

Demikian pula yang berangkat dengan Ulumul Quran yang lemah, kemudian membaca buku-buku Noldeke, Arthur Jeffery, apalagi Christoph Luxemburg dijamin akan berbalik menjadi pengkritik Mushaf Usmani. Sama halnya dalam bidang Fiqih, Kalam, falsafah, tasawuf dan sebagainya.

Jika Muslim belajar Islam ke Barat, dan belum memiliki bekal ilmu-ilmu keislaman dan bekal ilmu tentang metodologi Barat, maka ia tidak akan bisa bersikap kritis. Orang-orang seperti Muhammad Iqbal, Syed Mohd Naquib al-Attas, Mohammad Rasyidi dan banyak lagi lainnya adalah sedikit contoh dari cendekiawan Muslim yang belajar di Barat dengan bekal yang cukup sehingga tetap bersikap kritis.

(10). Kira-kira apa keuntungan Barat memberi beasiswa kepada mahasiswa Muslim?

Biasanya ketika seseorang diinterview untuk mendapat beasiswa ke Negara Barat pertanyaan yang perlu dijawab adalah “Mengapa kami perlu memberi anda beasiswa dan tidak kepada orang lain? Jika kami memberi anda beasiswa akan menjadi apa anda setelah sepuluh, lima belas tahun lagi?”.Apa yang tersirat dari pertanyaan ini adalah bahwa beasiswa ini untuk menjadikan anda kader pemimpin di negeri anda.

Jika yang jadi pemimpin suatu negara adalah alumni dari Amerika, Inggris, Perancis, Australia atau lainnya maka pengaruhnya terhadap hubungan Indonesia dan Negara-negara itu sangat besar.

Ketika pak Habibi menjadi Presiden yang paling mendukungnya adalah Jerman. Di Zaman Soeharto ekonomi Indonesia didesain dan diatur oleh alumni-alumni dari Berkley Amerika.

(11). Apa kelemahan dari belajar Islam di Barat?

Kelemahannya ada pada framework (manhaj) berpikir mereka dalam mengkaji Islam. Pertama dari prinsip obyektifitas mereka Islam dikaji bukan untuk ibadah atau untuk menambah keimanan pengkajinya. Islam dikaji sebagai ilmu dan ilmu dalam kaca mata Barat harus berdasarkan fakta obyektif dan empiris.

Dalam mengkaji sejarah hadis dan al-Quran misalnya, mereka berangkat dari fakta dalam bentuk tulisan. Fakta dalam bentuk yang tidak empiris, seperti kuatnya hafalan para sahabat Nabi, kesalehan perawi, dan komitmen para sahabat dan tabiin terhadap Islam tidak mereka jadikan variable.

Dari cara pandang ini mereka tidak percaya mushaf al-Quran yang ada sekarang ini persis seperti yang diwahyukan kepada Nabi, sebab tidak ada bukti-bukti empiris tentang hal itu. Demikian pula hadis. Selain itu, para sarjana Barat adalah spesialis-spesialis dalam salah satu bidang studi Islam artinya mereka hanya memahami Islam dari bidang yang ditekuninya.

Jika mereka mengkaji syariah mereka tidak bisa mengaitkannya dengan aqidah. Padahal dalam Islam syariah tidak dapat dipisahkan dari aqidah. Karena cara pandang Barat yang sekuler maka Montgomery Watt misalnya, menganggap Nabi sangat religious ketika di Makkah, tapi menjadi sekuler ketika berada di Madinah.  Masih banyak lagi kelemahan studi Islam di Barat.

(12). Apa saja yang menjadi motivator bagi Barat hingga mereka serius mengkaji Islam dan memiliki Islamic Studies yang bonavid, dan apa pula tujuan akhir mereka?

Motif mereka berubah-ubah atau bermacam-macam. Dulu mereka mengkaji Islam karena kekayaan ilmunya. Mereka menerjemahkan karya-karya sains umat Islam untuk pengembangan sains dan teknologi,  sehingga mereka berhasil lolos dari zaman kegelapan (Dark Ages) menuju zaman pencerahan (Renaissance). 
Tapi selain itu juga untuk kepentingan teologi Kristen yang tidak mampu mengakomodir karya-karya Yunani kuno. Dan kemudian berubah menjadi untuk kepentingan kolonialisme yang berlangsung hingga kini.

Tapi tidak semua Islamic Studies di Barat itu bermutu.  Meski ada yang obyektif tapi keseluruhannya dirancang untuk tujuan know your enemy (mengetahui kekuatan musuh). Sekarang ini malah sudah berubah lagi. Kajian Islam difokuskan pada kajian kawasan.

Jika dulu masih banyak kajian tentang pemikiran ulama periode kejayaan Islam, kini studi Islam diarahkan pada studi Islam di Indonesia, di Malaysia, di Saudi, di Mesir dan sebagainya.

(13). Banyak yang bilang bahwa orang Barat skeptis terhadap agama. Apa kemajuan studi agama dan amalan keagamaan orang Barat memang berbeda (bisa disertakan contoh kongkritnya)?

Bukan hanya skeptis, kebanyakan mereka justru tidak percaya lagi pada agama. Agama bagi mereka bukan tempat yang baik untuk saling menghargai manusia. Maka dari itu mereka mengganti agama dengan humanisme.

Namun studi agama di sana masih dilakukan secara serius, meskipun peminat kajian bidang ini tidak sebanyak bidang sains dan teknologi. Tapi jangan dibayangkan keseriusan mereka mengkaji agama juga dibarengi oleh pengamalannya. Agama dikaji hanya sebatas ilmu. Dan ilmu disana untuk ilmu bukan untuk amal.

(14). Keilmuan Islam tidak bersumber dari Barat, peradaban Barat juga bukan peradaban Islam, tapi mengapa para ilmuwan Muslim banyak bilang “menemukan Islam” disana?


Istilah “menemukan Islam” menurut saya kurang tepat, sebab apa yang ditemukan itu hanyalah satu aspek dari kebaikan Islam. Jika seseorang melihat kebersihan di Singapura lalu menyimpulkan bahwa Singapura itu Islami, tentu salah. Sebab Singapura ternyata juga tidak bersih dari perjudian, pelacuran, penindasan ras dan ketidak adilan sosial.

Demikian pula jika orang melihat orientalis berpikir rasional, obyektif dan argumentatif lantas menyimpulkan orientalis itu Islami adalah salah. Ini lebih disebabkan oleh latar belakang dan kemampuan kritisnya yang rendah serta sikap inferioritasnya yang tinggi.


Sebelum ke Barat orang seperti ini mungkin belajar Islam dengan metode hafalan dan ketika sampai di Barat ia menemukan pemikiran orientalis yang menggunakan metode analisa yang kritis. Tanpa menyadari bahwa metode kritis dan analitis mereka itu justru bertentangan dengan tradisi intelektual Islam dan membingungkan.

Selain itu wawasannya tentang peradaban Islam juga rendah, sehingga apa yang dilihat di Barat itu sebagai kemajuan yang perlu ditiru Islam, padahal dalam sejarahnya umat Islam telah mencapai prestasi keilmuan yang lebih hebat dari Barat.

(15). Di antara para mahasiswa Muslim yang belajar di Barat itu semangat membawa ide rasionalisasi, sekularisasi dan liberalisasi Islam? Padahal ide-ide itu terasa asing bagi masyarakat Islam dan bahkan mengundang kontroversi. Mengapa ini terjadi?

Ini sisi lain dari mentalitas inferior itu. Mereka itu salah target dalam mengagumi Barat. Di Barat saja banyak yang telah mengkritik rasionalisme, sekularisme dan liberalisme. Ketika saya memberi kuliah umum di Universitas Salzburg, Austria, saya berjumpa dosen-dosen yang tidak suka pluralisme dan liberalisme.

Mestinya umat Islam meniru sikap orang Barat yang kritis, bukan justru mengadopsi paham-paham yang ada di Barat. Mengapa ini terjadi? Karena rendahnya pengetahuan tentang pemikiran dan peradaban Islam dan Barat sekaligus, maka jalan pintas yang paling mudah adalah melakukan adopsi dan justifikasi konsep-konsep asing tanpa sikap kritis-selektif.

Seakan mereka tidak mampu lagi melakukan ijtihad yang berdasarkan pada khazanah konsep dan ilmu pengetahuan Islam. Dengan jalan ini mereka berharap konsep-konsep dari Barat yang tidak terdapat dalam khazanah intelektual Islam itu bisa dianggap baru.

(16). Tapi seberapa besar salahnya jika seorang Muslim mengadopsi konsep-konsep Barat?

Kesalahannya akan ditemui pada hasil akhirnya. Dengan menggunakan paham-paham ini maka pemahaman Muslim terhadap Islam bisa berubah. Sebagai contoh, jika selama ini umat Islam memahami al-Quran sebagai wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad, maka dengan menggunakan framework berpikir Barat ia menjadi bukan wahyu yang murni dari Allah.

Dengan filsafat hermeneutika misalnya, al-Quran menjadi produk budaya, atau diwahyukan karena situasi budaya Arab, atau malah bukan murni wahyu Tuhan, tapi interpretasi (ta'wil) Nabi terhadap wahyu Tuhan.

Selain itu, paham liberalisme yang mengandung konsep relativisme meletakkan ijtihad ulama di masa lalu dalam posisi relatif, tergantung pada tempat dan waktu. Ijtihad ulama Timur Tengah tidak sesuai untuk Indonesia, ijtihad abad ke-16 tidak bisa dipakai lagi untuk kondisi zaman sekarang.

Dengan framework liberal ini maka khazanah intelektual Islam menjadi tidak ada artinya. Kitab-kitab yang dikaji di pesantren menjadi tidak sesuai lagi dan harus dibuang.

(17). Apa contoh yang lebih kongkrit dalam bidang pengambilan hukum?


Dalam studi Fiqih misalnya, kajian di Barat menekankan pada konteks sosial budaya manusia daripada teks. Maka dari itu dalil ushul fiqih: al-Ibratu bi umum al-lafz, la bikhusus al-sabab dibalik menjadi al-Ibratu bi khusus al-sabab la  bi umum al-lafz.

Konteks historis lebih penting dari kandungan teks ayat. Dan ketika membaca sejarah, mereka memakai hermeneutik, yaitu metode tafsir yang melihat teks dari konteks sosial, politik, psikologis, ontologis, historis dan sebagainya ketika teks itu diturunkan. Dengan  metode ini maka fiqih yang dipelajari di pesantren akan dianggap kuno dan dianggap maskulin serta bertentangan dengan HAM.

(18). Sebetulnya pada pihak mana salahnya: Pemahaman Islam para pengkaji Barat, atau cara mahasiswa Muslim yang mengadopsi dan menerapkan pemahaman mereka?

Kalau kita mau introspeksi, kita harus akui bahwa kita yang salah. Salah karena belajar Islam kepada non-Muslim, padahal kita tahu pemahaman Islam ala Barat banyak yang tidak sesuai dengan Islam. Jika dasarnya adalah hadis perintah mencari ilmu meski ke negeri Cina (meski ini Dhaif), itupun tidak dapat diartikan sebagai perintah belajar Islam ke negeri Cina.

Jika ada yang berkilah bahwa di Barat terdapat hikmah yang hilang dan karena itu harus kita cari, masalahnya apakah kita punya ilmu untuk mencari dan menemukan hikmah itu dari belantara pemikiran non-Muslim.

Persoalannya menjadi jelas sekarang, bukan salah karena belajar kepada non-Muslim, tapi karena dua hal: Pertama, Karena belajar kepada orang yang tidak memiliki otoritas. Saya dulu di ISTAC Malaysia diajar oleh orientalis tentang sejarah sains Islam, filsafat Islam dan hubungan Islam dan Barat.

Ini menurut al-Attas tidak berarti kita belajar Islam kepada mereka. Materi-materi tentang al-Quran, Hadis, worldview Islam, dan sebagainya tetap diajar oleh profesor Muslim yang otoritatif. Kedua, karena belajar kepada non Muslim tanpa bekal ilmu keislaman yang cukup sehingga membawa madharat daripada maslahat.

(19). Bagaimana pula kita mesti menyikapi ajaran Islam ala Barat yang terlanjur tersebar ini?

Konsep, ide dan ideologi tidak dapat dihadapi dengan sesuatu yang sepadan. Kita tidak bisa demo menentang pemikiran, kita tidak bisa menantang perang karena derasnya arus globalisasi, Westernisasi dan liberalisasi. Kita harus menghadapinya dengan konsep dan ide yang lebih kuat.

Maka dari itu sikap kita dua: Pertama: Mengkaji Islam lebih dalam dengan metode yang lebih canggih lagi. Kedua: Mengkaji pemikiran orientalis, khususnya dan Barat pada umumnya untuk mengetahui tantangan yang sedang kita hadapi.

(20). Apa saja hal-hal penting yang mesti kita lakukan guna memajukan pendidikan Islam dan melepaskan diri dari hegemoni konsep dan paham Barat?

Pendidikan Islam harus diprioritaskan dari bidang-bidang lain. Sebab peradaban Islam itu bangkit berdasarkan ilmu pengetahuan. Agar pendidikan Islam maju, pertama-tama, perlu dukungan semua pihak baik finansial maupun politik; Kedua, tujuan pendidikan Islam tidak hanya diarahkan mencari pekerjaan, tapi untuk mencetak insan kamil.

Ketiga, Pendidikan Islam harus diorientasikan kepada pengkajian turath dalam berbagai bidang, baik ilmu naqliyah maupun ilmu aqliyah, namun turath perlu dipahami dalam konteks kekinian. Sesudah menguasai pemikiran Islam baru kita mengkaji Barat secara kritis. Apa yang baik di Barat kita ambil, dan yang tidak sesuai dengan Islam kita buang. Mestinya begitu. * Sumber: Dr. Adian Husaini (Facebook).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar