• L3
  • Email :
  • Search :

8 Agustus 2012

Refleksi Proklamasi, Dicari Pemimpin Sejati



Sudah 67 tahun usia proklamasi kita. Adakah rasa merdeka hadir di hati? Dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, kondisi kita jauh tertinggal. Meskipun usia kemerdekaan mereka lebih muda daripada Indonesia, apalagi “hanya” berupa hadiah dari penjajahnya, ternyata mereka berada di depan, khususnya dalam pendidikan dan ekonomi. Apa sebabnya demikian? Peran pemimpinlah yang mengubahnya.

“A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.”
John C. Maxwell

Bukan Pejabat
Dalam lingkup sempit, setiap diri adalah pemimpin. Andaikata seseorang tidak mampu memimpin dirinya, pasti tak mampu pula memimpin orang lain. Yang bisa dilakukannya hanyalah menjadi pejabat dan menyuruh-nyuruh ajudan, staf dan bawahannya. Semua orang yang disuruhnya, rela tak rela, suka tak suka, akan melaksanakan perintahnya selama dia menjabat. Setelah pensiun atau pindah jabatan, perintahnya tak lagi dituruti, sebab pejabatnya telah berganti.

Mengapa demikian? Pejabat adalah orang yang diserahi tanggung jawab mengelola suatu fungsi tugas dalam organisasi. Ia diangkat untuk membantu atasannya dalam melaksanakan kewajiban dan biasanya berkaitan dengan tugas-tugas negara atau perusahaan. Seorang pejabat tak perlu mendapat persetujuan hati nurani masyarakat. Jangankan persetujuan masyarakat, persetujuan bawahan atau rekan kerjanya saja tak perlu. Kalau atasannya sudah memilihnya, dia akan segera menjadi pejabat dalam kurun tertentu di lingkup keahliannya dan mendapatkan bayaran atas tugasnya itu.

Bayaran berupa tunjangan jabatan dan akses ke setiap projek itulah yang begitu menarik sehingga berduyun-duyunlah orang hendak menjadi pejabat di suatu institusi. Parahnya lagi, di setiap institusi itu kerapkali terjadi persaingan ketat yang tak sehat. Kian sulit lagi kalau terjadi pembangkangan, grup-grupan dan intrik-intrikan. Bisa terjadi, ketika satu orang dari grup tertentu menjadi pejabat, semua jabatan di bawahnya dipegang oleh orang dalam kelompok itu. Terjadilah mutasi besar-besaran. Program pun segera diganti, tidak mau meneruskan program pejabat sebelumnya karena tak hendak lawannya itu menjadi populer dan dianggap berjasa sebagai pemilik ide program tersebut. Seringlah terjadi gonta-ganti program kerja dan tak peduli pada dana yang telah keluar dan menjadi mubazir, sekadar pemutar roda ekonomi di antara mereka yang terlibat dalam projek tersebut.

Begitulah terjadi berkali-kali, bongkar pasang pejabat dan jabatan dalam arah horisontal dan vertikal. Kesan egosentris, cinta diri dan kelompok yang berlebihan begitu menonjol dan kantor menjelma menjadi ladang uang untuk diri dan grupnya. Mentalnya berubah menjadi pangreh praja yang kental sehingga sulit dicairkan agar mudah beradaptasi dengan lingkungan. Ia selalu minta dilayani, tak hanya oleh ajudan, staf, dan bawahannya, tetapi juga oleh masyarakat, bahkan oleh orang-orang yang justru memilihnya ketika pemilu. Yang paling sederhana saja, seperti baju, tas, jas, sepatu, dan sandal minta dibawakan dan bangga berperilaku demikian seolah-olah hidup kesehariannya laksana upacara tujuh belasan yang sarat dengan ajudan dan tatakrama upacara.

Tetapi anehnya, orang-orang yang berposisi sebagai ajudan, sopir, pembantu, atau bawahan pejabat tersebut malah bangga dan senang berposisi demikian. Apalagi kalau pejabatnya itu begitu mudah mengeluarkan uang, pastilah akan lebih disukai lagi dan segala titahnya dilaksanakan. Namun demikian, ketaatan seperti itu hanya semu belaka dan segera sirna ketika sudah tidak menjabat lagi atau dimutasi. Muncullah fenomena post power syndrome, sindrom pascakuasa, sampai-sampai ada yang tak mau lagi ke luar rumah bergaul dengan tetangga dan sejawatnya dan hidup terasing dalam keramaian. Yang paling menyedihkan adalah ketika mantan pejabat itu harus menghitung hari di balik jeruji besi lantaran kasus korupsinya.

Wanted: Pemimpin Sejati
Pejabat berkarakter bagaimana yang dibutuhkan Indonesia? Yang dibutuhkan adalah pejabat yang berkarakter pemimpin. Pejabat belum tentu pemimpin! Pemimpin pun memang belum tentu seorang pejabat. Di Indonesia banyak ada pejabat, mulai dari tingkat kelurahan (desa), kecamatan, sampai ke tingkat pusat. Di setiap departemen-dinas, di setiap lembaga dan badan pun ada banyak pejabat tetapi belum pasti diakui sebagai pemimpin. Pemimpin adalah orang yang merasa terpanggil memimpin sekelompok orang dan orang-orang itu pun merasakan dan mengakuinya sebagai pemimpin. Ada pelibatan rasa di sini. Tanpa interaksi kedua rasa itu takkan ada kepemimpinan dan malah bertepuk sebelah tangan.

Itu sebabnya, pemimpin bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Ia tidak dibatasi ruang dan waktu. Berbeda dengan pejabat yang harus patuh pada ruang, yaitu tempatnya berkerja dan waktunya terbatas, misalnya empat atau lima tahun. Seorang pemimpin pun tak harus bertitel sarjana, magister, doctor, profesor. Yang titelnya berjejer banyak pula yang tak mampu memimpin, bahkan tak sanggup memimpin dirinya sehingga berpredikat koruptor. Orang jenius pun tidak sertamerta atau otomatis diterima oleh sekelompok orang sebagai pemimpinnya karena kepemimpinan tidak berada di wilayah intelektual atau kecerdasan (apalagi sekadar deretan gelar palsu atau minimal tak bermutu karena diperoleh dengan uang).

Yang dicari kini adalah pemimpin sejati, yaitu orang-orang yang orientasinya melayani orang lain. Hati nuraninya menyetir fisiknya untuk mengabdi dan mengerjakan tugasnya sebagai tanggung jawab kepada masyarakat. Pada taraf yang lebih tinggi lagi, pemimpin selalu berorientasi pada makna transenden, selalu mengaitkan tugasnya dengan makna ketuhanan. Dia memimpin demi ibadahnya dan mendambakan pahala-Nya. Itu sebabnya, orang yang berpredikat pemimpin sangat tidak mungkin berdusta, tidak berbuat nista, dan tak mungkin korupsi. Yang sering terjadi justru harta halalnya dibagi-bagikan kepada orang-orang yang sulit ekonominya, misalnya untuk biaya SPP dan beli buku. Buat diri dan keluarganya, dia hanya mengambil secukupnya agar bisa hidup sehat, bisa berpikir jernih, kuat belajar dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Danah Zohar dan Ian Marshall menamainya servant-leader, pemimpin pengabdi. Dia memimpin demi menghidup-hidupkan nilai-nilai (values) kearifan atau sapientia. Itu sebabnya kita digolongkan Homo Sapien, manusia berkearifan (Spiritual Quotient, SQ).

Di antara perbedaannya yang tajam itu, ada satu yang sama, yaitu pemimpin dan pejabat harus bertanggung jawab atas tugasnya. Baik gajinya besar, kecil, atau bahkan tak digaji pun, maka amanatnya tetap harus ditunaikan. Andaikata tak mau lagi memikul amanat itu selayaknyalah dikembalikan kepada pemberi amanat agar orang lain yang bersedia memikulnya mendapat kesempatan berbuat kebajikan.

Sebagai refleksi proklamasi, akankah kita terus berlomba meraih jabatan sambil sikut kanan-kiri, sogok-sogokan dan intrik-intrikan? Akankah kita menyia-nyiakan nasib orang banyak yang berada di bawah jabatan kita, bertingkah acuh tak acuh karena menganggap mereka tak lebih daripada cacing tanah yang bisa diinjak dan dipermainkan nasibnya? Akankah kita bermain sinetron bermuka manis pada setiap menjelang pemilu?

Orang merdeka adalah orang yang memerdekakan orang lain. Orang merdeka adalah orang yang mampu membebaskan orang lain dan mau melayaninya. Menjadi “pelayan”! Dalam lingkup inilah orang merdeka akan mampu menjadi pejabat sekaligus pemimpin. Menjadi pejabat yang juga pemimpin. Wanted: pemimpin sejati! *

Gambar: rumahfilsafat.com

ReadMore »

30 Juli 2012

Mengapa Dosen Sulit Menulis?

Oleh Gede H. Cahyana

“Diktator” banyak ada di perguruan tinggi, baik swasta maupun negeri. Kata yang sering berkonotasi negatif ini merujuk pada dosen yang menulis diktat (“yang melulu mengacu pada satu textbook”). Yang bagus adalah dosen merujuk ke sejumlah textbook lalu meramunya menjadi satu “buku baru” berujud diktat. Ini jauh lebih bagus ketimbang bersumberkan pada satu textbook dan hanya mencomot atau dalam tata-tulis memakai komputer disebut “copy-paste” saja. Apalagi kalau textbook yang diacunya sudah tua sekali, misalnya terbitan tahun 1990-an atau lebih lama lagi. Yang lebih dari lima tahun saja, terutama dalam ilmu-ilmu yang pesat perkembangannya, bisa jauh ketinggalan. Lain halnya dalam bidang ilmu yang lamban pertumbuhannya, terbitan lawas boleh jadi masih relevan. Jadi, tak bisa dipukul rata dalam menilai suatu partisi keilmuan.

Dalam ilmu teknik misalnya, entah karena banyak berisi gambar-gambar rekayasa, entah karena tak bisa atau malas menggambar lagi, entah karena gambarnya rumit, kebanyakan diktat nyaris merupakan ambil sana ambil sini dari textbook. Kalimat yang dibuat pun nyaris terjemahan murni tanpa polesan dari dosen atau bisa juga dari penterjemah komersial yang dibayarnya. Setiap paragraf disalin (diterjemahkan) begitu saja tanpa memasukkan pandangan atau pendapat dosen atas apa yang diambilnya itu. Yang elok adalah dosen punya pandangan sendiri atas apa yang diambilnya dari textbook, sesedikit apapun pendapatnya itu. Ini akan menjadi sumbangan (kontribusi) pemikiran dalam khazanah sainstek.

Namun, bagaimanapun, dosen yang mau menulis diktat jauh lebih baik ketimbang dosen yang tidak menulis diktat. Bayangkan kalau seumur-umur sampai pensiun dosen tidak menulis diktat, bagaimana kira-kira mutu alumni perguruan tinggi terutama kalau budaya baca mahasiswanya tidak tumbuh. Otomatis ilmu yang dimiliki mahasiswa atau alumninya akan sangat rendah, sebatas apa yang diucapkan dosen ketika kuliah. Belum lagi kalau mereka lupa semua apa yang pernah diterima di bangku kuliah setelah sekian tahun. Yang tersisa hanya selembar kertas bernama ijazah dan transkrip akademik serta gelar sarjananya.

Kalau menulis diktat saja sudah demikian bermasalah, bagaimana dengan menulis textbook yang khusus untuk kalangan mahasiswa (dan dosen)? Bagaimana dengan menulis buku yang bukan textbook, katakanlah buku ilmiah populer yang ditujukan bagi pembaca umum? Bagaimana dengan menulis artikel ilmiah yang dimuat di jurnal untuk masyarakat khas dalam sainstek yang bersangkutan? Yang dimuat di media massa cetak dan internet bagi masyarakat umum bagaimana? Bagaimana pula dengan makalah seminar dalam berbagai temu-ilmiah, semi-ilmiah dengan pemerintah atau dengan populasi masyarakat tertentu?

Menulis buku yang bukan textbook tentu jauh lebih mudah apalagi kalau data dalam textbook itu tidak perlu riset yang berbiaya besar dan waktu lama. Beda halnya dengan textbook yang harus mencantumkan data akurat terbaru dalam khazanah ilmu. Untuk dapat mencantumkan data terbaru ini dosen harus riset dulu. Waktunya bisa bulanan, bahkan tahunan. Kalau risetnya kelar, dia boleh (wajib) mempublikasikannya di jurnal ilmiah agar bisa dibahas dan dievaluasi oleh rekan sejawatnya di seluruh Indonesia (atau dunia). Di tahap ini pun, yaitu penulisan artikel ilmiah sudah merupakan kendala tersendiri. Tak banyak dosen yang mampu menuliskan apa yang telah dirisetnya. Banyak dosen yang piawai meriset namun lemah dalam menulis. Tapi banyak juga (malah terbanyak) dosen yang tak mampu meriset sekaligus tak bisa menulis.

Lantas bagaimana kalau dosen tak mampu riset sendiri dengan alasan, misalnya biaya, apakah peluang menulis textbook pupus begitu saja? Tentu saja tidak. Dosen bisa mencari dan dia harus rajin mencari bermacam-macam jurnal ilmiah terbitan teranyar dari dalam maupun luar negeri. Bisa lewat Perpustakaan Nasional di Jakarta atau lewat internet. Peluang selalu ada asalkan dosen mau meluangkan waktu dan berupaya maksimal. Semua data yang diperolehnya dari jurnal ilmiah terakreditasi dan berkaliber internasional dapatlah dijadikan data dalam rancangan textbook-nya. Andaikata tidak demikian, yaitu tidak mencari data terbaru dari berbagai jurnal atau buku teks terbaru, maka buku teks buatannya akan terasa kering dan out of date. Apalagi kalau datanya hanya mengacu ke buku teks yang sudah tua, jadilah buku teksnya sekumpulan informasi usang dan tak punya nilai jual.

Data dari jurnal yang disalin di dalam textbook inilah yang dapat memperbarui dan menambah wawasan ilmu pembaca bukunya, terutama mahasiswa dan dosen lainnya. Kalau draft text- book-nya sudah selesai, muncul lagi problem berikutnya. Adakah penerbit yang mau menerbitkannya? Ini tentu menyangkut banyak hal seperti kualitas atau kredibilitas dosen (deretan gelarnya juga berpengaruh), mutu tulisannya: pola nalar, pola papar, dan pola bayar (royalti). Di pihak penerbit juga ada tolokukurnya, yaitu pola pasar dan pola bayar (laba). Kalau keduanya sepakat pada pola benar (saling setuju), maka terbitlah textbook itu. Berarti dosen sudah mem-publish (terbit, layak menjadi dosen). Kalau tidak jadi terbit, tak adalah textbook itu dan dosen dianggap belum menulis textbook dan dia boleh jadi di-perish (binasa, celaka: tak layak berlabel dosen). Itulah publish or perish.

Kembali ke soal riset yang sangat penting dalam penulisan textbook. Budaya riset memang belum tumbuh bagus di kalangan dosen kita. Ini melanda mayoritas dosen. Walau demikian, dalam kasus orang per orang, banyak juga yang tuman meriset. Namun sayangnya, riset dosen itu masih dalam taraf pemula. Jangankan di PTS (perguruan tinggi swasta), di PTN (perguruan tinggi negeri) yang terkenal saja budaya riset ini belum berkembang baik. Jumlah riset memang relatif banyak secara aritmetika tetapi kecil sekali persentasenya. Apalagi kalau parameter mutu dimasukkan ke dalam evaluasinya, sangat kecil. Kebanyakan risetnya hanya modifikasi kecil-kecilan dari riset yang telah dilaksanakan di luar negeri, biasanya dari tempat mereka meraih gelar master, doktor atau post-doctoralnya. Risetnya seputar itu ke itu saja, seolah-olah hanya bertujuan meraih nilai kum dan uang. Selain itu, sang dosen pun jarang terjun langsung dalam riset itu dan hanya menerima laporan apa adanya dari mahasiswa S1, S2, atau S3. Kalau demikian, bagaimana dengan standar kualitas riset tersebut kalau dosen tidak terjun langsung, minimal secara berkala, ke laboratorium atau lapangan? Inilah yang banyak terjadi di perguruan tinggi kita.

Dalam sebuah seminar terungkap bahwa banyak riset yang menyimpang dari tujuan awal ketika penandatanganan kontrak riset. Ada yang tujuannya menghasilkan prototipe tetapi yang dilaporkan sekadar “temuan” yang mengarah ke riset fundamental. Artinya, tak bisa langsung diterapkan sesuai janji semula. Memang ada juga riset pengembangan teknologi tapi itu pun belum siap disadap oleh masyarakat, khususnya kalangan industri/pebisnis. Malah muncul pendapat bahwa hasil riset itu bukanlah inovasi melainkan baru dalam tahap invensi (invention), baru rekaan saja. Masih sangat mentah, masih prototipe awal sehingga perlu diriset lebih lanjut. Namun demikian, bagaimanapun hasilnya, kita wajib memberikan apresiasi kepada periset ini karena mereka sudah lebih baik daripada dosen yang tidak meriset. Lebih dari itu, kita memang wajib mengkritiknya agar upaya memajukan ilmu dan pendidikan berada di jalur yang betul. Pandanglah kritik sebagai sahabat yang peduli pada periset agar bisa lebih maju lagi.

Jadi kian jelaslah bagi kita bahwa menulis buku teks yang betul-betul serius memerlukan jalan panjang riset mandiri dan studi pustaka (textbook dan jurnal). Riset adalah kendalanya. Risetnya pun memunculkan banyak kendala lagi seperti biaya, materi riset, metodologi, analisis, dukungan jurnal terbaru, kerjasama antarperiset. Lantas, setelah riset selesai dan andaikata diperoleh data yang absah dan dipublikasikan di jurnal (diakui oleh rekan sejawat di dalam dan luar negeri) barulah bisa dimasukkan ke dalam buku teks. Artinya, sang dosen baru memulai menulis perihal temuannya itu dalam buku teksnya, selain mengutip data dari buku teks lainnya atau mengutip data dari jurnal ilmiah absah yang berkualitas tinggi. Inilah yang disebut dukungan data yang absah pada setiap penulisan buku, baik buku ilmiah populer maupun textbook. Syahdan, novel pun yang mengarah ke fiksi sainstek (sciencetech fiction) wajib didukung oleh riset yang absah agar tidak menjadi bumerang bagi penulis dan mutu novelnya.

Akhirnya, boleh dikatakan bahwa dosen sulit menulis buku teks lantaran ada banyak hal yang mesti disiapkan sebelum kegiatan penulisan itu dimulai. Ada prolog yang bisa jadi sama panjangnya atau bahkan lebih panjang ketimbang penulisan buku teksnya. Begitu pun ketika dosen hendak menulis buku ilmiah populer, dia pun harus mengumpulkan data yang mendukung paparan dan pendapatnya. Sumber data tidak hanya dari buku teks, tetapi juga dari berbagai jurnal ilmiah, semi-ilmiah, koran, radio, televisi, wawancara langsung dengan masyarakat atau direktur perusahaan, politisi, pemerintah, atau tokoh masyarakat.

Sebagai penutup perlu ditulis di sini bahwa ilmu selalu berkembang, siang malam mengalami pembaruan. Ada yang cepat berubah, ada yang lambat. Yang penting adalah tersedia data yang bisa diasumsikan absah. Apalagi ada dogma bahwa semua riset tidak ada yang salah sejauh ada alasan yang diberikan dan masuk ke dalam logika sainstek. Istilahnya, tak ada riset yang final. Semuanya masih perlu diuji dan diuji terus sepanjang zaman. Last but not least adalah dana. Dana riset adalah kendala besar di perguruan tinggi kita.  

Akhirulkalam, tulisan ini juga sebagai swakritik untuk penulis, entah sampai kapan dosen tak mampu menulis textbook yang diakui dunia akademik internasional, dirujuk oleh jurusan dan program studi di seluruh dunia. Dalam skala kecil, minimal menjadi rujukan di tingkat nasional. (Silakan direka-reka profesor kita, berapa banyak yang menulis buku teks yang berkualitas baik, tak sekadar buku teks. Akan ada temuan yang mengejutkan. Sebab, mayoritas profesor kita tak punya buku teks. Menulis buku ilmiah populer pun tak banyak yang melakoninya. Begitu pun artikel pendek populer di media massa). Dan Tuhanlah yang Mahatahu. ***

Foto: blog.arjournals.com

ReadMore »

27 Juli 2012

Buka Puasa, Hindari Makanan-Minuman Manis

Oleh Gede H. Cahyana

Sudah umum diketahui, setiap buka puasa selalu saja yang terbayang adalah kolak, sirup dan sejenisnya. Manis rasanya dan nikmat di lidah. Jangankan anak-anak, orang dewasa dan orang tua saja suka sekali pada makanan - minuman (mak - min) manis. Itu sebabnya, setiap bulan Ramadhan harga gula selalu naik tetapi tetap laris manis semanis rasanya. Namun perlu diingat, terutama untuk orang yang suka minum teh manis, kopi manis, kue, kolak, sirup dan sejenisnya, agar mulai mengurangi konsumsi mak-min tersebut. Ini demi kesehatan pada masa mendatang. Apa pasal?

Ternyata, di balik rasa manisnya, gula menjadi perusak kesehatan manusia (juga hewan). Sejumlah penelitian menyatakan bahwa gula adalah biang kerok penyakit degeneratif pada manusia (dan hewan). Penyakit diabetes mellitus adalah contohnya. Artinya, kalau dikaitkan dengan bulan puasa sekarang, hendaklah kita mengurangi makan dan minum yang mengandung gula, terutama saat buka puasa. Kita puasa selama kurang lebih 13 jam sehari pada tahun 1433 H ini di daerah Tropis. Tubuh jangan dikejutkan oleh pasokan gula (sukrosa) sehingga gula darah pun naik tajam dalam waktu singkat. Kalau begitu, bagaimana sebaiknya dalam berbuka?

Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw berbuka dengan ruthab (kurma basah) sebelum shalat (Maghrib). Kalau tidak ada, beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Kalau tidak ada juga, beliau minum seteguk air. Menurut keterangan yang lain, dinyatakan bahwa Muhammad Saw berkata, “Apabila kamu buka (shaum), hendaklah dengan kurma. Kalau kamu tidak memperolehnya, berbukalah dengan air. Sesungguhnya air itu suci.” (Catatan: Silakan pembaca mengecek hadis yang berkaitan dengan ini, terutama isi/matan hadis dan periwayatannya). Dapat disimpulkan, kurma adalah makanan utama untuk buka puasa. Tiga buah kurma sudah cukup lalu minumlah air secukupnya. Kurma yang dimaksud di sini adalah kurma asli yang tidak terlalu manis rasanya, bukan kurma yang dilumuri gula atau manisan kurma.

Bagaimana kalau tidak ada kurma asli, bukan manisan kurma? Untuk kasus ini, yang penting, hindari makan dan minum mak-min yang manis-manis. Apalagi kalau pemanisnya adalah pemanis buatan semacam sakarin dan sejenisnya, ini jauh lebih bahaya daripada gula (pasir). Namun demikian, khusus gula aren, ada pendapat yang membolehkan dalam batas wajar, tidak berlebihan. Gula kelapa juga diperbolehkan. Dulu guru olah raga saya di SMA menyuruh kami (saya dan teman-teman) mengulum gula aren/kelapa selama olah raga untuk sumber energi. Teman-teman yang berasal dari Pupuan (Tabanan bagian Utara, daerah yang berbukit-bukit, naik-turun berjalan kaki) juga sering berbekal gula ini (Di Bali disebut Gule Bali. Bukan gule/gulai dalam gule kambing. Bacanya gule, e pepet).

Akhir kata, mumpung Ramadhan baru berlalu 25%, mari kita hindari berbuka dengan mak-min kaya gula alias manis-manis. Berbukalah dengan kurma asli atau air. Bisa juga dengan madu asli dicampur dengan jeruk nipis dan air. Segarnya tidak kalah dengan es sirup. Sssrrruup…, segar dan sehat. *
ReadMore »

13 Juni 2012

Unesco: Subak adalah Warisan Budaya Dunia

Ke Bali, Kunjungilah Museum Subak
Oleh Gede H. Cahyana

Dimuat di Merpati Archipelago, Inflight Magazine, Edisi 14, Juli 2012

Dulu, pada waktu Gede Ardika menjadi Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, beliau men- cetuskan eco-tourism dan sawah dijadikan salah satu objek unggulannya. Secara harfiah, ecotourism tak sekadar menjual lingkungan (environment), bukan envitourism, tetapi lebih luas lagi, yaitu budaya khas daerah. Di Bali, apabila kita bicara tentang sawah maka produk budaya lokalnya, yaitu subak, tak bisa dilepaskan. Di St. Petersburg, Rusia, pada 20 Juni 2012, Unesco (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) resmi menetapkan Subak menjadi warisan budaya dunia setelah pemerintah Indonesia mem- perjuangkannya selama 12 tahun. 

Menurut sejarah, subak atau suba krama (kerukunan yang baik), seperti tertulis pada lontar pajangan di museum itu, sudah ada pada abad ke-14 M. Ada juga yang mengatakan bahwa subak mulai eksis pada abad ke-7 Masehi, merujuk ke tulisan Nyoman S. Pendit di dalam buku “Membangun Bali” (Pustaka Bali Post, 2001) yang dikutipnya dari hasil riset tim Universitas Udayana. Menurut Dr. Goris, di buku tersebut, sudah ada sejak 600-an Masehi. Sekarang, khazanah khas yang terdiri atas 1.193 subak seluas 98.679.915 ha itu (akurasi angka ini diragukan sebab luas Bali lebih-kurang 5.633 km2 (Jensen dan Suryani di dalam buku “Orang Bali”, Penerbit ITB, Bandung, 1996), kata Pendit, telah ditiru oleh berbagai daerah: di Jawa Tengah bernama Darmatirta, di Jawa Barat jadi Mitracai dan Tolai di Sulawesi Tengah.

Situs Langka
Menyambut ketetapan Unesco ini, hendaklah Pemkab Tabanan membuat brosur yang baik kualitasnya, isinya tentang riwayat subak, sejarah museum, latar belakang pendirian, kapan, dan biayanya. Yang juga penting adalah uraian tentang maksud, manfaat, dan isu transenden yang terkandung di dalam “pusaka-pusaka” itu, selain, mengapa situsnya dibangun di Tabanan. Hal-hal seperti itu masih banyak yang belum tahu. Diharapkan Museum Subak bisa menetas menjadi opsi baru objek wisata unggulan di Tabanan. Apalagi “museum” lapangannya sudah ada, yaitu di Jatiluwih, di lereng Gunung Batukaru. Teraseringnya tiada tara. Meski sama-sama dingin-berkabut, panoramanya lebih spektakuler dibandingkan dengan Batu di Malang, Puncak di Cianjur, maupun Tangkubanparahu di Bandung. Didukung lagi oleh kondisi keamanannya yang kondusif bagi investasi di sektor wisata. Sungguh bernas. 

Yang diperlukan setelah penghargaan dari Unesco adalah upaya Pemkab Tabanan untuk mengenal- kannya ke seluruh Indonesia dan dunia. Ada harapan, jumlah turis asing yang ke Indonesia akan terus meningkat, mencapai 3 - 4 juta orang. Apabila separuhnya landing di Bandara Ngurah Rai, lalu setengahnya berhasil digaet ke museum itu, bisalah dihitung berapa besar PAD Kabupaten Tabanan. Undanglah investor untuk membuat sinetron atau film, seperti film-filmnya Garin Nugroho, yang ber-setting subak dan lokasi shooting-nya di Museum Subak, Jatiluwih, dan sekitarnya. Terbitkan juga buku yang berisi usulan pakar dan praktisi wisata di Bali agar lebih realistis.

Terakhir, himbauan untuk Pemprov Bali, Pemkab Tabanan dan anggota dewan, agar makin peduli pada aset dunia ini. Pada saatnya kelak, bukan Tanah Lot, Beratan, dan Bedugul saja yang menjadi unggulan sumber PAD Tabanan, tapi juga Museum Subak. Apalagi lokasinya strategis, di pinggir jalan Denpasar-Gilimanuk, 20 km ke arah barat Denpasar dan 100 km dari Gilimanuk, ke arah timur. Kalau ini terwujud, bakal banyak turis yang wisata ke Sangulan, tempat yang pernah diplesetkan menjadi Song of land-nya Bali; Gita tatar (Gitar) Bali. Good luck. *

Foto: baliwisata
ReadMore »

24 Mei 2012

Tips Belajar di Perguruan Tinggi

Tips Belajar di Perguruan Tinggi
Oleh Gede H. Cahyana


[Selamat buat yang lulus UN. Untuk yang belum lulus, ikutlah ujian paket atau kesetaraan. Bisa juga ikut tahun depan. Hidup ini rahasia, banyak yang gagal UN tetapi justru sukses finansial dalam wirausahanya. "Siapa saja yang bersungguh-sungguh, akan berhasil"]

Mulai Mei 2012 ini, semua perguruan tinggi, baik sekolah tinggi, institut, akademi, politeknik, maupun universitas melaksanakan penerimaan mahasiswa baru. Calon mahasiswa pun sibuk mendaftarkan diri. Ada yang ingin lulus di PTN (perguruan tinggi negeri), ada juga yang lebih suka langsung mendaftar ke PTS (perguruan tinggi swasta) tanpa ikut ujian SNMPTN. Ada juga yang akhirnya kuliah di PTS karena tidak lulus SNMPTN. 

Namun demikian, di mana pun kuliah, di PTN maupun PTS, hakikatnya sama, yaitu sama-sama menjadi masyarakat akademis. Patut diakui, perguruan tinggi memiliki relung khas di hati mayoritas masyarakat. Buktinya, banyak yang ikut ujian SNMPTN. Juga banyak yang kuliah di PTS. Secara nasional, jumlah perguruan tinggi di Indonesia mencapai 3.070-an unit, 83 unit berupa PTN (3%). Sisanya PTS (97%). Oleh sebab itu, hendaklah pemerintah berupaya mengembangkan PTS karena menjadi salah satu tiang kekuatan pendidikan dan riset di Indonesia. 

Sebagai pusat keunggulan, perguruan tinggi adalah sumber pemikir (think tank). Sejarahnya bisa ditarik jauh ke masa sebelum Masehi, ke zaman Yunani kuno ketika cendekiawannya membagikan ilmu dari rumah ke rumah termasuk ke istana raja. Salah satu filosof dan pakar geometri yang akrab di telinga kita ialah Phytagoras (580 – 500 SM), sang penemu rumus untuk menghitung sisi miring (hypotenuse) segitiga siku-siku. Hanya saja, menurut sejarah, Platolah dianggap penemu perguruan tinggi bernama Academy. Rintisannya ini dilanjutkan Aristoteles dengan mendirikan Lyceum. Lantas kian berkembang pada masa Romawi, pada masa Islam di Timur Tengah dan Asia Barat lalu bergerak ke Eropa pada masa renaissance (renesans, pembaruan) hingga sekarang. 

Faktanya, masyarakat masih memandang prestisius jenjang pendidikan tinggi karena banyak hal baru di dalamnya. Belajar di SMA, SMK, atau Madrasah Aliyah biasanya bersifat monolog. Di perguruan tinggi berbeda. Di kalangan kampus, cara belajarnya lebih mengutamakan dialog. Secara ringkas di bawah ini diberikan tips belajar di perguruan tinggi untuk mahasiswa baru, baik yang kuliah di PTS maupun PTN. Poin-poin di bawah ini bersifat fleksibel, bisa diperluas atau dipersempit. 


Tips Belajar

Inilah tips belajar untuk mahasiswa.

  1. Jadikan belajar sebagai hobi. Sikap ini membantu konsentrasi kamu dan mengurangi stres. Kata pakar pendidikan Gordon Stokes, 80% kesulitan belajar terkait dengan stres.
  2. Jangan bolos. Jika kuliahnya membosankan karena dosennya kurang komunikatif atau materinya sulit, teruslah hadir. Kalau sering absen, kamu akan rugi biaya, tak dapat ilmu dan mungkin tidak lulus. Agar bisa belajar efektif, kata Stockwell, kamu harus melihat, mendengar, dan merasakan. Bolos berarti kehilangan ilmu. Catatan memang bisa dipinjam dari teman, tetapi tidak semua ucapan dosen akan sempat dicatat. Kuliah mutlak perlu untuk menguatkan kesan visual dan melatih alur berpikir.
  3. Buatlah catatan kuliah. Catat yang penting-penting saja. Agar cepat, gunakan singkatan atau kode khas buatan kamu dan mudah diingat. Jangan asal tulis, tapi berpikirlah saat mencatat.
  4. Jika belum mengerti, bertanyalah. Jangan malu bertanya karena teman pun mungkin belum mengerti. Teman kamu pasti berterima kasih karena kamu bertanya tentang sesuatu yang dia pun belum mengerti meskipun tak diucapkannya.
  5. Setiap selesai kuliah, bacalah catatan sekali lagi. Sekilas saja. Lalu cari penjelasan detail di buku teks. Buatlah catatan ringkas dari setiap topik yang dibaca.
  6. Temukan gayamu. Setiap orang punya cara khas dalam belajar. Jika suka musik, putarlah musik favoritmu atau gunakan headset. Jika suka sepi, carilah tempat dan waktu yang pas agar suasananya sunyi.
  7. Buatlah grup belajar agar sering diskusi. Anggotanya cukup lima orang. Temuilah dosen atau asisten jika ada kesulitan dalam memahami kuliah.
  8. Bacalah buku yang disarankan dosen. Garisbawahi atau stabiloi kata, kalimat penting (jika buku milik sendiri). Jika buku pinjaman, foto kopilah bagian yang perlu saja atau catat dengan kalimat sendiri.
  9. Menjelang UTS, UAS segarkan ingatan dengan mengulang (review) bahan kuliah. Jangan lakukan SKS: sistem kebut semalam.
  10. Last but not least, jadikan belajar sebagai ibadah agar semangat. Ingatlah, mahasiswa adalah masyarakat akademis berciri cerdas, egaliter, senang membaca, menulis dan mengembangkan ilmu dan teknologi (iltek) yang berbasis imtak (iman dan takwa).
Karena bebas berpendapat secara lisan dan tulisan, mahasiswa jangan segan apalagi takut bertanya kepada dosen. Dosen yang baik selalu siap memberikan penjelasan kepada mahasiswanya. Sikapnya terbuka, mau menerima pendapat mahasiswanya yang berbeda. Artinya, dosen tidak selalu betul karena ilmu dan teknologi terus berkembang. 

Selamat belajar.*

ReadMore »

18 Mei 2012

Amien Rais, Empat Belas Tahun Lalu

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, Indonesia sedang genting-gentingnya. Pada pekan itu Presiden Soeharto sedang berada di luar negeri. Salah satu negara yang didatanginya adalah Mesir. Sementara itu, di dalam negeri kegawatan terus berubah dari detik ke detik. Percepatannya sangat terasa. Sejumlah aksi demo kian marak. Mahasiswa dari 99,99% perguruan tinggi bergerak. Tak hanya di Jakarta, tapi juga di Bandung, di Yogya, Solo, Semarang, Surabaya, Makasar, Medan, Padang, dll. Semuanya bersatu menyerukan perlawanan terhadap status quo yang dilakoni Orde Baru. 

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, seorang dosen UGM, Amien Rais namanya, diisukan akan ditangkap. Orang Jawa ini memang sedang merancang pertemuan besar di Monas. Itu sebabnya, bala tentara telah disiapkan untuk menggagalkan acara itu dan bila perlu menindaknya secara tegas. Isu ini terus meletus dan sampai juga ke telinga rakyat kecil. Mereka tak rela pemimpinnya dinista seperti itu dan bersama mahasiswa mereka ikut bergerak. Gedung MPR-DPR dijejali ratusan ribu manusia, bahkan sampai sesak hingga radius satu kilometer. Luar-dalam gedung milik rakyat itu sarat rakyat. Mereka menagih miliknya kepada wakil-wakilnya yang tetap bersikukuh atas pilihan mereka.

Bulan ini, yaitu 21 Mei, empat belas tahun lalu, terjadi peristiwa sejarah yang abadi selamanya. Soeharto, presiden yang berkuasa nyaris 32 tahun, akhirnya turun. Lengser keprabon, tanpa mandeg pandhito. Kulihat semua orang yang ada di gedung DPR-MPR itu menangis. Menangis sejadi-jadinya. Kulihat mereka saling berpelukan, berbaur. Tua muda, anggota dewan dan mahasiswa, semuanya kulihat mengusap air mata. Bahagia tak terkira. Satu tahap perjuangannya telah berbuah. Mereka tahu, banyak pengorbanan yang telah keluar. Tak hanya tenaga, uang, pikiran, perasaan, tapi juga nyawa kawan mereka. Peristiwa Semanggi dan sederetan lagi peristiwa lainnya. Entah berapa banyak orang yang hilang dan tak diketahui kabarnya sampai sekarang. 

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, Prof. Dr. Habibie mulai menjalankan tugasnya sebagai presiden. Pertentangan terjadi. Mekanismenya dianggap salah. Runyamlah lagi suasana. Namun akhirnya para politisi dan ekonom Indonesia dapat memberikan pengertian kepada mayoritas pihak bahwa Habibie hanya sementara. Ia menjadi presiden sampai jangka waktu tertentu, yaitu sampai Pemilu. Ini sudah dilaksanakannya. Pemilu multipartai. Tapi sayang, satu kesalahan terbesar Habibie adalah lepasnya Timor Timur dari NKRI. Tragis memang. Setelah puluhan ribu nyawa melayang, Timtim akhirnya bukan milik kita lagi. Ia menjadi negara baru bernama Timor Leste dan Xanana Gusmao menjadi presiden.

Kembali ke sosok Amien Rais. Dialah orang pertama yang berani menyuarakan isu suksesi tanpa huru-hara. Itu dilontarkannya tahun 1993, ketika baru saja Soeharto terpilih kembali menjadi presiden. Dalam rentang waktu lima tahun itu, yaitu dari 1993 sampai 1998, Amien Rais selalu berada di garda depan. Ia bahkan dicerca oleh semua lawan kampus dan lawan politiknya. Bahkan di PP Muhammadiyah pun ia dilawan, ketika ia menjadi ketuanya. Dari sekian poin kasusnya, artikel berjudul Inkonstitusional di Republika inilah yang melambungkan namanya dan dianggap kontra-Orde Baru padahal dia seorang PNS. Bagi Orde baru, PNS adalah Golkar, sebuah organisasi yang tak mau mengaku sebagai partai tapi selalu berpolitik. Aneh memang. ABRI pun masuk ke Golkar. Tak heran Golkar menang dengan suara telak pada masa itu. 

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, Amien Rais berhasil membawa lokomotif yang menarik gerbong berisi 180 juta orang waktu itu. Ia antarkan sampai stasiun untuk kemudian berganti masinis dan melanjutkan perjalanan lagi. Mau ke mana? Tentu saja arahnya bergantung pada mayoritas rakyat Indonesia, lewat mekanisme Pemilu. Jika masih terus saja mau bodoh dan rela diperbodoh, maka hasilnya takkan lebih baik daripada masa Orde Baru dulu. Cuma akal dan pikir inilah yang mampu melepaskan diri kita dari kungkungan kebodohan, ketidakadilan, dan kenistaan. Bayangkan, sekarang kita sudah 235 juta orang! Sangat potensial untuk melawan kesialan selama ini, bukan?

Bulan ini, yaitu Mei, empat belas tahun lalu, Amien Rais membuktikan satu perkara penting, yaitu: tetap berada di jalur kebenaran, sekuat apa pun badai menerjang. Ujungnya, semua berakhir. Mau sebagai pecundang atau pemenang? Itu semua adalah opsi kita. Bagai angsa yang memilih tumpahan susu di kolam berlumpur. Akal sehat adalah kuncinya.*

Artikel ini sekadar kilas-balik, refleksi atas reformasi yang diawali oleh seorang dosen bernama Amien Rais.

Foto: Vivanews.com
ReadMore »

16 Mei 2012

Apa Kabar Hari Buku Nasional?


Sejak dicanangkan tahun 1980, setiap tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Ini bertepatan dengan peresmian Perpustakaan Nasional di Jakarta. Bagaimana peran buku bagi perkembangan masyarakat? 


Buku itu pintu ilmu; jendela dunia. Membaca buku sama dengan membuka tirai dunia, membawa dunia lebih dekat dengan kita. Malah ada di tangan kita, dalam lembaran kertas berisi tulisan bermakna, kalimat- nya tertata dengan struktur tertentu yang bervariasi. Inilah makna buku secara klasik konvensional. 

Buku itu gudang ilmu. Yang lebih tepat, menurut saya, buku adalah ladang ilmu. Ladang tempat menyemaikan benih. Benih yang unggul akan bagus hasilnya. Benih buruk, buruklah buahnya. Tak heran ada buku yang menjadi ladang maksiat, mengubah pikiran orang menjadi marxis dan melekatkan ateisme di selaput kelabu otaknya. Bersamaan dengan itu, ada buku yang menjadi ladang kebaikan, menggiring orang pada kebenaran dan hiburan bagi kalbu.

Kekuatan Buku
Lewat buku kita menjadi makin tahu. Orang yang belum pernah ke Alaska menjadi tahu kondisi di sana lewat koran, majalah, tabloid atau buku. Buku-buku tentang kedigjayaan bangsa dan budaya Mesopotamia di Irak zaman dahulu bisa kita ketahui lewat buku juga. Yang belum pernah mendaki Himalaya di India menjadi tahu cerita tentang makhluk Yeti yang misterius itu, juga dari buku. Tentang jagat raya atau makrokosmos seperti planet, bintang-gemintang, asteroid, komet, matahari hingga galaksi, alam renik semisal bakteri-kuman, juga bisa didapat di buku. Sejarah tentang kertas atau papirus dan riwayat mesin cetak Gutenberg juga dapat ditelusuri di buku-buku.

Pendeknya, semua ilmu dan teknologi mulai dari ajaran agama, sekte kepercayaan, teknologi lama dan baru, sejarah dan situs purbakala hingga Zaman Dinosaurus bisa diretas lewat buku. Tak berlebihan jika buku disebut penyambung lidah sejarah. Ia meniti dan melintasi zaman sambil mendata pernak-pernik adat dan budaya di setiap daerah. Sebagai penyambung kebudayaan, buku begitu penting bagi masyarakat beradab yang selalu berpikir maju. Catatan ilmu dan teknologi dari sejumlah buku dipelajari oleh ilmuwan dan teknolog, lalu diuji coba di laboratorium kemudian hasilnya dituangkan di dalam buku juga. Bagaimanapun, buku adalah salah satu alat komunikasi antarilmuwan lintas agama, lintas budaya, lintas negara, dan..., ini yang penting: lintas masa.

Itulah kekuatan buku. Banyak yang percaya pada kemampuan buku untuk menyebarkan sainstek di tengah perkembangan radio, televisi, komputer, internet (blog, FB, Twitter) atau apa saja pada masa depan. Bahkan kehadiran ponsel dengan SMS-nya justru makin membiasakan orang menulis catatan singkat. Ini bisa menjadi cikal-bakal munculnya penulis-penulis buku di kalangan remaja, terlepas dari SMS itu yang—kata pakar bahasa—merusak bahasa kita. Facebook juga sama, dapat membiasakan Fbers menulis apa saja, meskipun sekadar satu-dua kata, baik dianggap penting maupun tidak oleh Fbers lainnya. Yang penting...., menulis.

Yang pasti, baik SMS, e-mail, Fb, Twitter, maupun surat biasa lewat pos adalah sarana pembiasaan menulis dan mengemukakan pendapat secara tertulis yang tertata. Pasti ada sisi positifnya, sekecil apapun ia. Untuk tahap awal, amat prematur kalau kita langsung bicara soal mutu tulisan. Semua orang silakan saja menulis: mau menulis cerita fakta, silakan. Mau fiksi, boleh-boleh saja. Mau novel pop, novel picisan, atau novel sastra, semuanya sah-sah saja. Nanti masyarakat yang menilai. Pokoknya.., tulis!

Kembali ke soal buku. Buku nyaman dijinjing ke mana saja. Praktis dan mudah diakses. Kapan mau dibuka, saat itu juga bisa dilakukan. Tak perlu listrik, tanpa baterei, dan ringan. Sambil santai di kursi, sembari berbaring atau lesehan, waktu berjemur di pantai, mudah dilakoni. Bahkan, untuk mengirim surat ke pacar zaman cinta monyet di SMP-SMA dulu banyak yang diselipkan di dalam buku cerita seperti Lima Sekawan, Sapta Siaga, novel pop, atau buku-buku paket mafikibi (matematika, fisika, kimia, biologi).

Selamat menulis, selamat memperingati Hari Buku Nasional, 17 Mei 2012.*

Salam Buku

Gede H. Cahyana
Foto: Solopos
ReadMore »

30 April 2012

Buruh a la Robert T. Kiyosaki

Buruh a la Robert T. Kiyosaki
Oleh Gede H. Cahyana

Mayday, 1 Mei disebut sebagai Hari Buruh, hari untuk para pekerja-kerah-biru (blue collar worker). Majikan pabrik pasti butuh buruh. Malah, buruh sangat berjasa bagi majikannya. Tanpa buruh, tak adalah majikan. Tanpa buruh, tak ada produksi, tak ada produk. Tanpa buruh, ekonomi mandeg. Begitu pun, tanpa majikan yang punya pabrik, buruh pun tak ada atau tak bisa bekerja. Tanpa projek dari APBN-APBD, tak ada buruh. Tanpa putaran roda ekonomi, buruh pun tak dibutuhkan. Jadi, kedua belah pihak sama-sama saling membutuhkan, saling dibutuhkan. Idealnya, saling give and take.
Itu sisi idealnya. Buruh-majikan saling butuh. Interaksi mutualisme. Hanya saja, seperti pada masa Orde Baru dulu dan terus berlangsung sampai sekarang, terjadi rekayasa dalam kaitannya dengan undang-undang. Buruh selalu dikalahkan oleh pemerintah dan legislatif karena kekuatan uang. Undang-undang dimanipulasi, atau minimal dibelokkan dari arah sebenarnya. Lembaran fulus selalu saja memutar pikiran aparat negara sehingga tak waras lagi hatinya. Otaknya stabil, tapi hatinya beringas memandang uang. Terjadilah eksploitasi manusia atas manusia. Bahkan undang-undang adalah uang. Rancangan peraturan apapun adalah projek bagi anggota dewan dan eksekutif, menghabiskan uang rakyat.

Salahkah kita berempati pada buruh? Jika kita bukan buruh karena merasa PNS, anggota TNI-Polri, pegawai BUMN-BUMD, guru-dosen, dll, coba bayangkan sebentar saja. Bayangkanlah ini. Mereka rata-rata pergi pagi pulang sore atau pergi sore pulang dini hari. Bahkan ada yang harus berangkat sebelum subuh untuk menanti bis jemputan. Terlambat tiga menit saja, dia ditinggal dan harus keluar ongkos angkot atau bis kota. Jika tak berangkat kerja, tak lama lagi dia bisa dipecat dengan alasan indisipliner. Bahkan kadang-kadang alasannya mengada-ada. Sebab, majikan dan manajernya sudah yakin pada kalimat bertuah ini: pecat satu, seribu melamar. Esa hilang seribu terbilang. Betul-betul buruh sudah tak berharga lagi di depan majikannya, terutama majikan dari negeri seberang.

Hanya saja, mari kita simak tulisan Robert T. Kiyosaki, penulis buku Cashflow Quadrant. Begini katanya, semua orang adalah employee alias pekerja alias karyawan alias pegawai alias buruh jika kita bukan seorang pebisnis dan/atau investor. Jadi, semua profesi, menurut Kiyosaki, adalah buruh kalau bukan pebisnis dan/atau pemodal. Dengan berpikir seperti ini, maka orang yang bukan pebisnis, bukan investor, akan punya empati kepada buruh, terutama buruh yang betul-betul bekerja dengan andalan fisik belaka. Sebab, yang berkerah putih (white collar worker) pun sebetulnya buruh juga, tetapi mereka lebih suka disebut pegawai atau karyawan. *

Foto: vivanews.com
ReadMore »

25 April 2012

Sejarah Jln. Imhoff Tank di Bandung

Oleh Gede H. Cahyana


Jalan Gajah Mada tidak akan kita temukan di Bandung. Sebaliknya, Jl. Imhoff Tank cuma ada di Bandung. Nah, mengapa jalan yang disebut terakhir itu berbau asing dan satu-satunya di Indonesia, tentu ada riwayatnya.

Tahun 1916, sepuluh tahun setelah Bandung berstatus gemeente (21 Februari 1906), dan setahun sebelum Meneer B. Coops menjadi walikota (burgemeester) Bandung yang pertama (1917), pemerintah Belanda ingin warganya hidup saniter. Saat itu, Bandung dibagi menjadi dua wilayah: barat dan timur dengan Sungai Cikapundung sebagai garis sempadan. Waktu itu, dua pertiga warganya tinggal di belahan barat. Maka, selain mendirikan “PDAM” yang dikelola oleh Technische Dienst Afdeling, Belanda juga membuat instalasi pengolah air limbah (IPAL) domestik di belahan barat.

Terlihat betapa seabad lalu, meskipun penjajah, Belanda sudah peduli pada ling- kungan di tanah jajahannya. Padahal kala itu, pence- maran air belumlah separah sekarang. Lalu, mengapa Imhoff Tank yang dipilih, bukannya activated sludge (lumpur aktif) temuan Ardern dan Locket yang lebih dulu berkembang? Sebab, selain murah, unit yang patennya dipegang oleh Dr. Karl Imhoff (1904, pakar air limbah dari Jerman), unit ini juga terbaik kinerjanya saat itu. Ia unggul daripada unit pengolah lain karena berupa pengolah bikamar atau “dual-purpose two-story tank” yaitu ruang hidrolisis dan sedimentasi.

Air limbah rumah tangga warga Belanda dialirkan lewat saluran sepanjang 14 km di sepanjang jalan akses yang dinamai Jln. Imhoff Tank menuju IPAL dan air olahannya dibuang ke Sungai Citepus, di dekat IPAL-nya. Tapi sayang, unit ini sekarang sudah rusak dan dipenuhi lumpur. Pemkot Bandung menggantinya dengan kolam oksidasi di Bojongsoang seluas 85 ha dengan panjang total saluran sekitar 300 km.

Ingin wisata ke sana? Mudah saja. Lokasinya satu kilometer arah timur terminal bis Leuwipanjang, menyusuri Jln. Soekarno - Hatta (By pass), sebelum Jln. Moh. Toha. Warga setempat, khususnya orang-orang tua, biasanya tahu lokasinya. *

Foto/gambar: Wikipedia

ReadMore »

19 April 2012

Gubernur Jakarta: Wajib Cerdas Lingkungan


Pemilihan gubernur DKI Jakarta sebentar lagi. Siapa yang akan dipilih? Yang dipilih sebaiknya yang punya kecerdasan lingkungan (enviro intelligence, quotient). Ini faktanya. Dulu ada program Segar Jakartaku, Hari Tanpa Kendaraan Bermotor, juga Langit Biru. Ada juga Prokasih, Program Kali Bersih. 

Apa hasilnya? Jakarta kian gerah, langit kelabu dan disesaki banjir. Malah Ciliwung dinobatkan menjadi WC terpanjang di dunia. Taruhlah penduduk Jakarta 10 juta orang. Jika satu juta orang ber-WC di Ciliwung secara langsung dan tak langsung, maka ada 100.000 m3/hari air limbah masuk ke Ciliwung. Ini setara dengan 10 buah lapangan sepakbola yang digenangi air setinggi satu meter. Monas, istana presiden dan sekitarnya pun tenggelam oleh air WC ini setiap hari.

Enviro Quotient (EnQ) itulah yang luput dari gubernur Jakarta. Mereka dan jajar- annya tidak cerdas ling- kungan tapi hanya berbekal kecerdasan otak. Miskin pula kecerdasan akhlaknya. Sejak 1970-an wanti-wanti ini dirilis oleh Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo (alm). Begawan ekonomi penulis Science, Resources, and Development ini pada tahun 1977 telah memperingatkan pemerintah bahwa akan terjadi booming dan blooming teknologi yang dapat menjadi bumerang bagi manusia kalau tidak arif dalam menyikapinya. Mantan menteri ini menyatakan bahwa harus ada teknologi protektif (protective technology) atas lingkungan. 

Teknologi protektif pada masa sekarang justru menjadi poin terpenting karena berkaitan langsung dengan kelestarian fungsi lingkungan, keterkaitan antara manusia dan alamnya. Semua manusia tanpa kecuali, kaya miskin tua muda, dapat menjadi agen perusak atau pemberdaya lingkungan. Sudah pula terbukti, deretan gelar akademik seseorang dan kepangkatannya di TNI-Polri tidak berkorelasi linier dengan pemahamannya atas persoalan lingkungan. Tak sedikit orang-orang pintar dan berjabatan-berpangkat itu justru menjadi pelaku masif balak-liar (illegal logging). Nihil sense of belonging, tak hendak menjadi pemangku (stakeholders) fungsi lingkungan. 

Sebaliknya, ada orang yang tidak sekolah, tak berbasiskan ilmu lingkungan, tidak memiliki teori ilmu lingkungan tetapi sudah melaksanakan pelestarian fungsi lingkungan. Contohnya Mak Eroh. Beliau meninggal pada usia 70 tahun pada September 2004 dan dipredikati sebagai pahlawan hijau oleh penduduk Desa Pasirkadu. Apa yang dikerjakannya sampai dihadiahi Kalpataru pada tahun 1988? Wanita ini hanya mencangkul dan mencangkul seorang diri, setapak demi setapak selama berminggu-minggu untuk membuat saluran air. Ketika kanal itu sudah mencapai 2 km dan sudah 47 hari mencangkul sendirian, barulah warga desa membantunya. Awalnya warga mencibir dan menganggapnya gila. Lantaran “Mak Eroh Aquiduct” itulah desanya menjadi hijau.

Nyata di pelupuk mata, betapa orang awam sudah menjadi penggerak bela lingkungan, tinggi kecerdasan ling- kungannya. Tanpa pidato mereka langsung beraksi. Mereka sudah peduli lingkungan meskipun disebut orang lugu, bahkan bodoh. Saksikan saja tradisi ujung ladang masyarakat Melayu di Sumetera Utara misalnya, mereka senantiasa berwawasan lingkungan kalau membuka hutan. Meskipun menebang pohon, selalu saja ada vegetasi pelindung yang tersisa. Pola ini membantu menahan tanah agar tidak erosi, longsor, atau merusak tanaman. Suku Dayak di Kalimantan punya tradisi Nyaang. Mereka biasa membuat lajur isolasi pada ladang atau ketika membabat hutan untuk melokalisir kebakaran. Begitu pun awig-awig di Bali, selektif menebang pohon. Tradisi sasi di Saparua Maluku berlaku di darat atau di laut atas komoditi yang haram dieksploitasi untuk waktu terbatas. 

Jika demikian, satu pertanyaan reflektif, siapa yang lebih peduli lingkungan, masyarakat awamkah, ataukah politisi-birokrat? Dalam spirit Enviro Quotient, tak hendakkah kita belajar dari kearifan tradisional itu? Apakah kepedulian politisi-birokrat, kalah oleh kalangan tradisionalis itu? Kapankah ada pejabat publik yang tak sekedar peduli dalam retorika politiknya ketika bicara soal lingkungan? Adakah partai politik yang tak sekedar proforma dalam membuat divisi lingkungan? Sudah saatnya kita memilih gubernur yang paham masalah dan mampu menyelesaikan masalah lingkungan. Pilihlah calon gubernur DKI yang tinggi Enviro Quotient-nya. 

Akhir kata, ada pesan dari E. F. Schumacher, “Krisis lingkungan terjadi bukan karena pengembangan sains dan teknologi, tetapi hasil dari sikap mental dan life-style (gaya hidup) dunia modern.” Semoga nanti muncul politisi berlabel enviro, enviropolitician yang tak sekadar vokalis sehingga advokasi enviro-nya hanya proforma belaka. Juga dicari birokrat yang tinggi sense of enviro-nya sehingga tak sekadar menjadi dust in the wind. ***
 
Foto: chillphy's Blog.

ReadMore »