• L3
  • Email :
  • Search :

20 Agustus 2020

Disinfection of Novel Coronavirus in PDAM’s Drinking Water and Wastewater for New Normal Phase

Disinfection of Novel Coronavirus in PDAM’s Drinking Water and Wastewater for New Normal Phase
Gede H. Cahyana

ABSTRACT
The first COVID-19 outbreak was occurred in Wuhan, December 2019. WHO has assigned the outbreak as pandemic on March 11, 2020. This article aims to review the effectiveness of chlorination in eradicating viruses (and bacteria) in drinking water and wastewater so that people have scientific information in eradication practice. Articles were obtained from scholar.google.com, National Library, textbooks. During pandemic doctors, paramedics have carried out curative efforts. People have carried out preventive efforts. A third attempt is needed, mechanical action using chlorine. Chlorine was able to inactivate viruses in objects affected by droplets. At a dose 0.2–40 mg/l and free chlorine residual 0.2–0.5 mg/l, chlorination was effective in eradicating viruses (and bacteria) in drinking water. Bacteria can be used as a host by viruses. If the bacteria die, viruses are inactive. The novel Coronavirus envelope can be destroyed by chlorine. Researchers have found genetic material of novel Coronavirus in wastewater. The SARS virus has also been found in raw wastewater and treated wastewater with disinfectant. This states, chlorination is not effective in eradicating viruses (and bacteria) in wastewater because of its abundant of faeces. Chlorination is also not effective for killing viruses (and bacteria) in the oxidation pond. Effluents always contain significant amounts of viruses (and bacteria). The genetic material of novel Coronavirus found in wastewater will be a latent danger after pandemic (new normal). Water treated by PDAM will become more important in new normal and must be provided in public and social facilities.

Keywords: COVID-19, chlorination , disinfection, drinking water, wastewater

PENDAHULUAN
World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa novel Coronavirus pertama kali muncul di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China pada Desember 2019. Virus Corona baru ini termasuk subfamili Coronavirinae dalam famili Coronaviridae dan ordo Nidovirales (Schoeman and Fielding, 2019). Virus baru yang disebut SARS-CoV-2 ini masih satu famili dengan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV atau SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV atau MERS). SARS-CoV-2 tersebut diduga berasal dari anjing yang biasa dimakan oleh penduduk Wuhan. Kejadian tersebut sama dengan epidemi SARS tahun 2003 dengan lebih dari 8.000 kasus di seluruh dunia dan mortality rate 10% (Manocha et al, 2003). Pada kasus SARS 2003 tersebut dinyatakan bahwa musang dan kelelawar sebagai sumber dan reservoir virus (Guan et al, 2003; Lau et al, 2005; Wang et al, 2006).
Ketiga jenis virus tersebut memiliki sifat fisika dan biokimia yang sama. Semuanya virus berselimut (enveloped) dengan genom RNA utas-tunggal (single-stranded). Belshe (1984) menyatakan bahwa bentuk fisik virus tersebut juga sama, yaitu memiliki mahkota (Latin: corona, Inggris: crown) dengan bentuk bola berdiameter 60–220 nm. Virus tersebut sering menginfeksi burung, mamalia, dan manusia dengan transmisi lewat aerosol atau jalur fekal-oral. Sebarannya semakin cepat dan luas lewat muncratan liur (droplets) pasien. Namun bukti muncratan liur ini dulu diragukan oleh Belshe, “there is no direct evidence to support this” (Belshe, 1984). Sebaliknya WHO berpendapat lain sejak epidemi SARS (2003), MERS (2012) hingga pandemi COVID-19 (CO: Corona, VI: virus, D: disease, 19 adalah tahun mulai wabah 2019. WHO menyatakan bahwa muncratan liur (droplets) pasien makin meluaskan sebaran virus Corona. Kontak fisik antara dokter, paramedis, dan pasien juga interaksi fisik (social - physical distancing) masyarakat dan pasien mengakibatkan jumlah orang sakit tumbuh secara eksponensial (Worldometer, 2020).
Di Indonesia kejadian wabah ini secara resmi diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020. Waktu itu Presiden menyatakan bahwa ada dua orang WNI terinfeksi virus Corona baru. Setelah pengumuman itu penduduk di Jakarta, Bandung dan Surabaya menjadi panik dan memborong kebutuhan pokok harian. Sembilan kebutuhan pokok, masker, dan sanitangan (hand sanitizer) menjadi langka dan mahal harganya akibat panic buying atau rush buying (beli-rusuh). Kemudian pada 11 Maret 2020 WHO menetapkan wabah ini sebagai pandemi, yaitu berjangkit serempak di mana-mana, meliputi geografi yang luas di seluruh dunia. Sampai 7 Juli 2020 sudah terjadi di 216 negara. Jumlah yang sakit hingga 7 Juli 2020 lebih dari 11.764.000 orang, yang meninggal lebih dari 541.000 orang, dan sembuh 6.753.000 orang. Di Indonesia terjadi di semua provinsi, pasien berjumlah lebih dari 66.266 orang, meninggal 3.309 orang, sembuh lebih dari 30.785 orang (Worldometer, 2020).

METODOLOGI
Artikel ini membahas kemampuan disinfektan senyawa klor seperti chlorine, kaporit, sodium hipoklorit dalam membasmi bakteri dan virus. Pembahasan difokuskan pada pemanfaatan senyawa klor untuk disinfeksi di dalam air minum yang diolah oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), sebuah perusahaan daerah yang ada di hampir semua kabupaten-kota di Indonesia. Artikel ini juga mengulas disinfeksi di dalam pengolahan air limbah, yaitu IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) yang dikelola oleh PDAM. IPAL yang dianalisis adalah IPAL Bojongsoang yang dikelola oleh PDAM Kota Bandung.
Semua artikel yang dijadikan rujukan diperoleh dari internet dengan fokus pada wabah yang disebabkan oleh virus Corona seperti wabah SARS dan MERS, termasuk wabah Covid-19 yang dirilis di portal berita internasional dan website WHO antara bulan Maret dan Juni 2020. Artikel diperoleh dengan memanfaatkan Scholar.Google.com, fasilitas di website Perpustakaan Nasional, dan website berita dan rubrik sainstek portal berita internasional. Adapun sumber ilmiah lainnya adalah buku-buku teks di bidang Teknik Penyehatan (Sanitary Engineering) dan Teknik Lingkungan (Environmental Engineering). Buku teks tersebut menjadi rujukan utama dalam perkuliahan dan penulisan artikel ilmiah. 
Artikel dan buku teks dikelompokkan ke dalam materi yang membahas pemanfaatan klor sebagai disinfektan untuk membasmi bakteri dan virus Corona SARS dan MERS dan hipotesis untuk novel Coronavirus penyebab COVID-19.  Uraian ditulis dalam bentuk narasi deskriptif yang dipisahkan menjadi beberapa subbab sehingga dapat memberikan alur penjelasan yang runtut,  mulai dari pengenalan zat kimia disinfektan, proses klorinasi di dalam air minum, klorinasi di dalam air limbah, persistensi virus Corona di dalam air limbah dan kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Upaya Preventif dan Kuratif. Karakteristik virus Corona baru sedang diteliti di sejumlah negara. Virus baru ini juga dikaji dalam aspek virologi lingkungan (environmental virology), yaitu kajian yang fokus pada transmisi virus ke dalam air minum, air limbah, tanah, dan udara. Kajian virologi lingkungan ini berawal dari kasus infeksi virus yang menimbulkan wabah penyakit hepatitis di New Delhi, India pada Desember 1955 hingga Januari 1956 (Bosch et al, 2006). Virus hepatitis tersebut menginfeksi 30.000 orang karena air Sungai Jumna (Yamuna) sebagai sumber air minum penduduk terkontaminasi oleh air limbah domestik. Air limbah domestik ini mengandung lebih dari 100 spesies virus, baik yang berbahaya maupun yang tidak berbahaya (Bosch, 1998). Bagaimana dengan potensi bahaya virus Corona baru?
Potensi bahaya virus Corona baru terjadi dalam kontak sosial dan fisik di masyarakat. Percikan atau muncratan (droplets) liur seseorang ketika batuk atau bersin, juga cairan hidung, telinga, ludah yang menempel di benda-benda di fasilitas umum seperti tombol lift, pagar tangga dan eskalator, lavatory, faucet, urinal, water closet bisa menjadi sumber virus. Semua permukaan alat plambing (plumbing fixtures) di ruang toilet bandara, stasiun kereta api, terminal bis juga bisa menjadi sumber virus. Bahkan bagian dalam pipa air yang berupa endapan kimia dan biofilm juga mengandung virus (Treado et al, 2006). Karena virus Corona baru mudah menyebar maka pemerintah setiap negara berupaya membasmi dengan berbagai cara. Pemerintah pusat dan daerah di Indonesia mengeluarkan peraturan dan mengajak ulama, tokoh agama untuk menghimbau masyarakat agar bekerja, belajar, dan beribadah di rumah.
Satu himbauan yang disampaikan pemerintah untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 adalah dengan memperkuat daya tahan tubuh, kekebalan atau imunitas. Upaya pertama ini adalah upaya preventif atau pencegahan. Makin sehat seseorang akan makin sulit diinfeksi oleh virus. Agar sehat maka seseorang harus makan makanan bergizi cukup, berisi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air bersih. Selain makanan pokok, beberapa makanan yang disarankan adalah madu, sayur, dan buah-buahan bervitamin C seperti tomat, jambu biji, jeruk lemon atau nipis. Juga mengonsumsi rempah, rimpang seperti jahe, kunyit, dan kencur. Ditambah dengan olah raga rutin seperti jalan kaki, senam atau gerak badan lainnya.
Upaya kedua adalah tindakan kuratif untuk orang yang positif Corona, yaitu pengobatan dan isolasi. Upaya kuratif ini dilaksanakan oleh dokter, paramedis di rumah sakit, khususnya rumah sakit yang memiliki ruang isolasi. Pasien COVID-19 diisolasi dan dirawat di ruang khusus sehingga virus tidak bisa ke luar ruang. Virus Corona diupayakan mati di dalam ruang perawatan pasien sehingga sebaran virus bisa dihentikan. Sementara itu imunitas pasien terus diperkuat dengan obat, asupan suplemen vitamin, makanan bergizi sehingga pasien bisa bertahan dan melewati masa kritisnya sampai sehat kembali. Dalam proses pengobatan ini hanya dokter dan perawat yang boleh kontak dengan pasien dan harus mengikuti standar protokol penyakit menular, yaitu mengenakan alat pelindung diri (APD) seperti hazmat, sarung tangan, dan masker N95 (WHO, 2019).
Namun demikian, sebaran COVID-19 ke seluruh dunia menandakan bahwa tidak mudah menghentikan virus ini. Faktor ekonomi dan hubungan sosial satu orang dengan orang lain menjadi salah satu sebab. Satu bulan pertama setelah diumumkan oleh pemerintah Republik Indonesia nyaris tidak ada social-physical distancing yang ditaati oleh masyarakat. Penduduk tidak menjaga jarak dalam komunikasi langsung dan berperilaku seolah-olah tidak ada wabah. Sebaran virus ini makin luas lantaran ada orang yang tampak sehat tetapi di dalam tubuhnya berisi virus. Mereka terinfeksi tetapi kelihatan sehat. Orang yang harus diwaspadai adalah yang positif COVID-19 dengan cara menghindar dari muncratan liur dan cairan hidung yang melekat di benda-benda sekitar. The New England Journal of Medicine edisi 17 Maret 2020 merilis surat (letter) dari van Doremalen, Bushmaker, dan Morris. Surat tersebut menyatakan bahwa Corona bisa bertahan tiga jam di dalam aerosol, empat jam di permukaan tembaga, 24 jam di permukaan karton, dan bertahan tiga hari di permukaan plastik dan logam stainless (NEM, 2020).
Tersebut adalah upaya preventif dan kuratif yang ternyata belum cukup untuk melawan Corona. Penguatan kekebalan tubuh seseorang perlu ditambah dengan upaya ketiga, yaitu tindakan mekanis. Tindakan mekanis ini dilakukan dengan cara memanfaatkan biosida zat kimia. Zat kimia yang bisa digunakan ialah fenol, logam berat, hidrogen peroksida, asam, alkali (basa), dyes, sabun, deterjen sintetis (Tchobanoglous, Metcalf & Eddy, 2003). Sabun dan deterjen mudah diperoleh dan sudah banyak digunakan oleh masyarakat untuk membasmi bakteri dan virus. Sabun padat yang dibuat dari alkali natrium hidroksida dan sabun cair yang dibuat dari alkali kalium hidroksida efektif untuk membunuh bakteri dan virus. Kedua wujud sabun tersebut ada yang dilengkapi dengan antiseptik seperti senyawa triclosan atau triclocarban meskipun kedua senyawa ini masih diperdebatkan bahaya atau risikonya terhadap manusia. Bisa juga menggunakan senyawa lain, yaitu alkohol 70% atau produk komersial yang berisi alkohol seperti sanitangan (hand sanitizer). Ada satu lagi yang bisa digunakan, yaitu air olahan PDAM yang mengandung klor.

Instalasi Pengolahan Air Minum
Pengolahan air minum untuk melayani penduduk kota, kabupaten atau provinsi di Indonesia dilaksanakan oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum). PDAM mengolah air baku dari sungai, waduk, danau, atau muara (air payau) menggunakan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) yang terdiri atas unit proses dan unit operasi prasedimentasi, aerasi, kogulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, dan disinfeksi (Reynold, 1996). Tentu masih ada lagi unit proses dan unit operasi lainnya, bergantung pada kualitas air baku yang diolah dan kualitas air minum yang diinginkan. Adapun unit untuk membasmi bakteri dan virus disebut unit proses disinfeksi atau lebih khusus lagi disebut klorinasi apabila zat kimia yang digunakan adalah klor.
Menurut sejarahnya, proses klorinasi menggunakan gas klor pertama kali dilaksanakan pada tahun 1887 di Amerika Serikat sedangkan klor cair digunakan sejak 1914. Di Jersey City, New Jersey, USA senyawa klor ini digunakan sebagai disinfektan di dalam penyediaan air minum pada tahun 1908 oleh George Johnson dan John Leal (Fair et al, 1968). Adapun di London pertama kali digunakan pada tahun 1854 tetapi berupa kaporit atau chlorinated  lime (Developments in Water Science, 1985). Senyawa klor ditemukan oleh ahli kimia dari Swedia bernama Scheele (1742-1786). Dalam sistem periodik, klor termasuk golongan halogen (VIIA) yang memiliki 7 elektron di kulit terluar. Senyawa halogen lain yang bisa digunakan untuk disinfeksi adalah bromine dan iodine (Tchobanoglous, Metcalf & Eddy, 2003). Tujuh elektron di kulit terluar sangat stabil sehingga cenderung sebagai oksidator pada setiap reaksi kimia. Maka klor yang dilarutkan di dalam air PDAM akan mengoksidasi atau membunuh mikroba yang ada di dalam air tersebut.
Semua PDAM di Indonesia menggunakan klor dalam proses disinfeksi airnya. Bisa dikatakan, sejarah disinfeksi identik dengan sejarah klorinasi. Jenis senyawa klor yang biasa digunakan untuk disinfeksi di PDAM adalah kaporit (kalsium hipoklorit, Ca(OCl)2). Sebutan lain kaporit adalah bleaching powder atau chlorinated lime. Disinfektan lainnya yang juga biasa digunakan adalah natrium hipoklorit (NaOCl), klor (chlorine, Cl2), chloramines (Snoeyink and Jenkins, 1980). Klor diinjeksikan ke dalam air bersih di reservoir dengan kisaran waktu kontak (t, time) antara 15–30 menit. Dosis klor yang biasa digunakan adalah 0,2–40 mg/l. Keuntungan menggunakan klor untuk disinfeksi adalah adanya sisa klor bebas antara 0,2–0,5 mg/l (Droste, 1997). Sisa klor bebas ini dibutuhkan apabila di pipa distribusi yang ditanam di dalam tanah terjadi rekontaminasi bakteri dan virus akibat kebocoran pipa. Sisa klor inilah yang diharapkan membasmi bakteri dan virus di dalam air.
Klor bisa dijadikan disinfektan karena memenuhi karakteristik sebagai biosida yaitu: (1) toksik bagi mikroba pada konsentrasi yang tidak berbahaya bagi manusia dan hewan; (2) cepat bereaksi membunuh virus dan bakteri dengan waktu kontak yang singkat; (3) tahan lama sehingga mampu menanggulangi infeksi akibat rekontaminasi di zone distribusi; (4) murah dan mudah diperoleh; (5) mudah dianalisis di laboratorium; dan (6) mudah menentukan dosisnya. (Cahyana, 2004, hlm. 242). Adapun WHO memberikan rekomendasi klorinasi yang mengacu pada hasil kali antara konsentrasi C dan waktu kontak t sebesar 15 mg.menit/liter. Rumusan hasil kali konsentrasi klor dan waktu kontak ini diberikan oleh hukum Watson (Clark et al, 1989). Angka ini dapat dilihat pada Gambar 1, yaitu 0,5 mg/l sisa klor bebas dengan waktu kontak 30 menit. C adalah konsentrasi klor dan t adalah waktu kontak (USEPA, 2011). Keefektifan (effectiveness) klorinasi juga bergantung pada bentuk ruang reservoir. Bentuk berkelok dengan sekat (baffle) adalah bentuk terbaik karena dapat menghasilkan jenis aliran plug flow (Lawler dan Singer, 1993). Oleh sebab itu, reservoir air bersih PDAM hendaklah didesain berkelak-kelok mulai dari zone inlet (bagian air masuk) hingga di zone outlet (bagian air keluar). 
Rekomendasi USEPA (2011) tersebut dikutip lagi oleh EHS Water pada 5 Maret 2020 dalam sebuah catatan (note) untuk pembasmian virus Corona baru. Isi catatan tersebut tentang kemampuan klor sebagai oksidator yang mampu merusak DNA bakteri dan RNA virus. Bakteri biasanya dijadikan inang oleh virus sehingga virus bisa hidup dan bertahan. Apabila bakterinya mati maka virusnya juga mati. Mengutip USEPA (2011), rilis EHS Water tersebut menyatakan bahwa Coxsackievirus, Poliovirus dan Rotavirus adalah virus tidak berselimut (non-enveloped virus) yang bisa dibasmi pada nilai Ct kurang dari 15 mg.menit/liter (Gambar 1). Karena Corona adalah virus berselimut (enveloped virus) maka bisa dibasmi dengan nilai Ct yang lebih rendah. Prosedur untuk memperoleh parameter Ct ini sangat kompleks atau rumit karena bergantung pada sistem pengolahan air, tipe dan jumlah titik aplikasinya, dan konsentrasi sisa disinfektan (Pontius, 1993). Agar klorinasi makin efektif, WHO juga menetapkan nilai pH air antara 6,5–8,5 dan yang paling efektif adalah pH 8,0 (WHO, 2011). Keefektifan klorinasi juga dipengaruhi oleh waktu kontak teoretis (theoretical contact time) dan waktu kontak ini bergantung pada volume tangki dan debit air yang diolah (Lin, 2001).

Volume atau debit air yang diolah oleh PDAM sangat besar karena untuk melayani ratusan ribu penduduk kota. Sebagai contoh, kapasitas pengolahan PDAM Kota Bandung di satu IPAM saja, yaitu di IPAM Badaksinga sekitar 1.800 liter per detik. Apabila kebutuhan air setiap orang perhari adalah 150 liter dan asumsi kehilangan air 20% maka air yang diolah di IPAM Badaksinga tersebut bisa untuk melayani 829.440 orang. Untuk kapasitas sebesar itu maka yang paling layak digunakan adalah gas klor (chlorine). PDAM juga disarankan menambah dosis klor selama wabah COVID-19 dan masa normal baru (new normal) agar air masih memiliki sisa klor di lokasi terjauh dari instalasi. Sisa klor inilah yang akan membasmi bakteri dan virus pada waktu seseorang mencuci tangan.
Dalam upaya melawan virus Corona baru, PDAM Kota Bandung sudah memanfaatkan air produksinya untuk membersihkan fasilitas umum. Senyawa yang digunakan sebagai disinfektan adalah natrium atau sodium hipoklorit 0,5% (NaOCl). Enam truk tangki dengan volume total 30.000 liter menyemprotkan air berkonsentrasi 10 mg/l klor ke fasilitas umum seperti halte bis, terminal bis, stasiun kereta api. Penyemprotan dilaksanakan setiap malam selama tujuh malam pada pekan keempat Maret 2020 (Pikiran Rakyat, 25 Maret 2020). Adapun untuk kapasitas kecil, misalnya untuk kebutuhan rumah tangga, masjid, gereja, vihara, pura, kantor bisa dengan memanfaatkan kaporit tablet. Kaporit tablet dijual bebas di toko kimia. Satu kaporit tablet bisa untuk 500–1.000 liter air. Apabila tablet habis maka masukkan lagi satu butir. Dilarang menarik napas dalam-dalam di atas tangki air karena klor bersifat korosif, bisa menimbulkan iritasi pada paru-paru. Sebaiknya gunakan masker kalau ingin melihat apakah kaporit tablet masih ada atau sudah habis.
Dapat disimpulkan bahwa selain upaya preventif dan kuratif, tindakan mekanis untuk pencegahan sebaran virus Corona baru bisa dilaksanakan dengan air yang mengandung senyawa klor yang diproduksi PDAM di seluruh Indonesia. Untuk skala kecil bisa dengan air sumur yang diolah dengan kaporit tablet sehingga memiliki sisa klor bebas (free chlorine residual) (Sawyer dan McCarty, 1989).

Instalasi Pengolahan Air limbah
Jejak genetis novel Coronavirus sudah ditemukan di dalam air limbah. Pernyataan ini dirilis oleh peneliti di RIVM National Institute for Public Health and the Environment di laman situsnya pada 19 Maret 2020. Jejak di dalam air limbah domestik (sewage) tersebut diperoleh dari sampel yang diambil di instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di pelabuhan udara Schiphol, Amsterdam dan di IPAL Kaatsheuvel, Netherland. Peneliti RIVM memberikan indikasi bahwa jejak itu adalah novel Coronavirus. Memang tidak semua sampel yang dianalisis menghasilkan data positif jejak genetis virus Corona baru. Tetapi beberapa sampel yang positif itu memberikan kesimpulan sementara bahwa air limbah berpotensi menjadi sumber biakan virus Corona. Jejak genetis virus tersebut berasal dari tinja (feses) pasien atau orang yang sehat tetapi di dalam tubuhnya ada virus Corona baru. Kondisi ini akan berpotensi menjadi bahaya laten wabah COVID-19.
Temuan jejak genetis novel Coronavirus di IPAL bandara Schiphol dan di IPAL Kaatsheuvel adalah pengulangan temuan jejak genetis virus SARS (severe acute respiratory syndrome) di dalam air limbah beberapa tahun lalu. Dengan uji PCR (polymerase-chain reaction) asam nukleat dari SARS-CoV tersebut ditemukan di dalam air limbah sebelum proses disinfeksi di 309th Hospital of Chinese People's Liberation Army dan di Xiao Tang Shan Hospital di Beijing. Setelah proses disinfeksi ternyata RNA SARS-CoV masih dapat dideteksi dari beberapa sampel air limbah rumah sakit 309th Chinese People's Liberation Army tetapi tidak ditemukan di dalam sampel air limbah dari Xiao Tang San Hospital. Penelitian itu menyatakan bahwa virus mampu bertahan selama 14 hari di dalam air limbah pada temperatur 4 derajat Celcius, 2 hari pada 20 derajat Celcius, dan RNA virus dapat dideteksi selama 8 hari meskipun virus sudah dinonaktifkan. Penelitian ini sekali lagi menunjukkan bahwa RNA SARS-CoV dapat dideteksi kehadirannya di dalam air limbah rumah sakit sebelum dan sesudah proses disinfeksi (Wang et al, 2005).
Selama epidemi SARS tahun 2003 tersebut, merujuk pada laporan WHO tanggal 5 Juli 2003, terjadi 8.439 kasus di 32 negara dan 812 orang di antaranya meninggal. Pada waktu itu mekanisme transmisi SARS-CoV terbatas pada interaksi sosial antara orang-orang yang dekat dengan pasien. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa ada jejak genetis RNA Coronavirus di dalam tinja (feses) yang air limbahnya berasal dari pasien di Amoy Gardens Housing Estate di Hong Kong (Wang et al, 2005). Kasus tersebut terjadi karena ada pipa plumbing air limbahnya yang rusak, yaitu pipa berbentuk U atau di Indonesia disebut pipa “leher angsa” yang fungsinya sebagai trap (perangkap) yang berisi air (water seal). Kerusakan pipa tersebut menyebabkan virus dari percikan atau muncratan liur pasien dapat masuk ke sistem plumbing yang kemudian menginfeksi orang lain di kamar mandi yang lain. Akibatnya di kompleks gedung Amoy Gardens tersebut terjadi 300 kasus dan 42 orang meninggal (Murphy dan Soule, 2020).
Epidemi SARS pada 2003 tersebut juga memiliki kaitan kuat dengan sistem air limbah yang buruk di apartemen di Hong Kong dengan populasi 300 orang seperti dinyatakan oleh Peiris et al (2003). Air limbah domestik dengan feses dari pasien menjadi sumber sebaran virus SARS-CoV. Virus ini mampu replikasi di saluran pencernaan pasien sehingga terdeteksi dalam kasus diare sebesar 8 sampai 73% (Leung et al, 2003). Leung et al (2003) juga menyatakan bahwa masih ada virus di saluran pencernaan pasien SARS yang sudah sembuh. Virus ini terdeteksi di feses pasien SARS yang diambil sampelnya hingga tiga pekan setelah terinfeksi (Chan et al, 2004; Liu et al, 2004). Begitu pula Chan et al (2004) meneliti perihal ketahanan virus Corona di dalam air bersih dan air limbah domestik.
Bagaimana dengan air limbah domestik di Indonesia? Setiap kota besar di Indonesia memiliki fasilitas pengolahan air limbah. Jenis unit operasi dan unit proses yang digunakan bisa berbeda-beda. Ada activated sludge dan modifikasinya, ada trickling filter, ada oxidation pond. Semuanya adalah pengolahan sekunder (secondary treatment) secara bioproses. Ada juga unit pengolahan yang khusus menerima air limbah dari septic tank yang disebut IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) dan diolah secara aerob dengan menggunakan aerator mekanis (mechanical surface aerator). Semua bioproses tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Instalasi pengolahan air limbah yang akan dianalisis adalah instalasi milik PDAM Kota Bandung, yaitu oxidation pond.
Oxidation Pond. Bojongsoang adalah nama desa di tepi Sungai Citarum, Kabupaten Bandung. Di desa ini ada IPAL domestik jenis oxidation pond terluas (85 hektar) di ASEAN. Merujuk pada nomenklatur, ada dua nama lain kolam oksidasi (oxidation pond), yaitu kolam stabilisasi (stabilization pond) dan lagoon. Klasifikasi kolam oksidasi berdasarkan metabolisme terdiri atas kolam anaerobik, kolam fakultatif, kolam aerobik (maturasi), dan laguna aerasi atau aerated lagoon (Horan, 1990). Jenis metabolisme yang terjadi di dalam kolam-kolam tersebut bergantung pada aktivitas biologi yang dominan dan reaksi biokimianya. Juga dipengaruhi oleh kecepatan pembebanan organik atau organic loading rate yang diterapkan di dalam kolam (Droste, 1997).
Kolam pertama yang menerima air limbah adalah kolam anaerobik. Di kolam ini terjadi proses pengolahan air limbah tanpa oksigen. Ada dua fenomena di kolam anaerobik, yaitu (1) fenomena fisika berupa sedimentasi zat padat di dalam air limbah menjadi lumpur (sludge); (2) fenomena biokimia, yaitu degradasi zat organik oleh bakteri anaerob (Droste, 1997). Proses biokimia di kolam dengan kedalaman 2,5–5 m ini berlangsung dua tahap. Pada tahap pertama zat organik kompleks (makro-molekul) diubah menjadi mikromolekul dengan proses hidrolisis, asidogenesis dan asetogenesis. Pada tahap ini belum terjadi reduksi BOD dan COD secara signifikan. Setelah archae metanogenik mengubah asam asetat dan asam-asam rantai pendek lainnya menjadi gas metana dan karbondioksida maka reduksi BOD dan COD menjadi besar. Perubahan polutan organik yang mayoritas adalah feses menjadi gas CH4 dan CO2 adalah indikator efisiensi pengolahan anaerobik (Speece, 1996).
Ilustrasi dan penjelasan tentang transportasi feses dan virus di dalam air limbah dapat dilihat pada Gambar 2. Titik awal feses pasien COVID-19 yang berisi virus Corona bermula dari water closet (WC). Feses bersama air kemudian mengalir di dalam pipa riul (riool, sewer) menuju kolam anaerobik. Seperti namanya, air limbah di dalam kolam anaerobik hanya diolah oleh bakteri strict anaerobes seperti Clostridium butyricum, Clostridium pasteurianum, Butyrivibrio fibrisolvens (Gottschalk, 1986). Archae, istilah ini lebih tepat daripada bakteri, yang ikut mengolah air limbah adalah metanothrix atau methanosaeta dan metanosarcina (Speece, 1996, Brock, 1997). Merujuk Hurst (1987), mikroba anaerob ini tidak mampu mereduksi persistensi virus dibandingkan dengan mikroba aerob yang ada di tanah. Hurst et al (1980) juga menyatakan bahwa mikroba mampu mereduksi persistensi virus pada temperatur tinggi tetapi kurang mampu pada temperatur rendah. Pada temperatur satu derajat Celcius dinyatakan bahwa poliovirus, sebagai salah satu jenis virus, mampu stabil selama 70 hari. Apabila mikroba anaerob tersebut tidak mampu dinonaktifkan oleh virus maka virus akan menjadikan mikroba sebagai inang untuk replikasi.
Proses di kolam anaerobik tersebut berlangsung selama 24 jam sehari, yaitu selama air limbah dari penduduk mengalir ke dalam IPAL. Pada Gambar 2 juga dijelaskan tentang air limbah mentah yang langsung masuk ke sungai tanpa diolah. Ada penduduk yang langsung membuang air limbah WC-nya ke selokan atau sungai. Bisa disebut sebagai Buang Air Besar Sembarang tetapi tidak di ruang terbuka. Artinya, pada faktanya di masyarakat, virus yang ada di dalam feses akan masuk ke lingkungan melalui air limbah yang diolah dan air limbah yang tidak diolah. Dengan demikian maka tidak mungkin ada efluen air limbah yang bebas virus (unable to provide virus-free wastewater effluent). Konsentrasi virus di dalam air limbah mentah antara 5,000–100,000 pfu/L (Rao and Melnick, 1986). Virus tersebut mampu direduksi oleh unit pengolahan. Persentase reduksinya bergantung pada unit bioproses yang diterapkan. Tetapi tidak ada unit bioproses yang memiliki efisiensi 100%. Oleh karena itu, konsentrasi virus antara 50–100 pfu/L ditemukan di effluent IPAL yang menuju ke sungai (Rao and Melnick, 1986). Ada juga sejumlah peneliti yang menyatakan bahwa konsentrasi virus di dalam feses manusia adalah rendah dan bisa cepat dinonaktifkan di dalam air. Tetapi beberapa bukti menunjukkan bahwa asumsi ini tidak selalu benar (Yinyin et al, 2016).
Dengan mendahulukan precautionary principle (prinsip kehati-hatian) maka dapat dikatakan bahwa ada sejumlah konsentrasi virus yang mampu hidup dan bertahan di kolam anaerobik. Juga mampu replikasi di dalam sel mikroba anaerob, termasuk archae metanogenik. Sudah disebut di atas bahwa kolam oksidasi adalah kolam yang berlimpah dengan mikroba strict anaerob dan aerotolerants anaerob sehingga makin banyak virus yang bisa replikasi. Kolam ini harus mendapat perhatian khusus dari operator IPAL karena air limbah dan lumpurnya (sludge) kaya dengan virus yang berpotensi menginfeksi pekerja. Apabila sejumlah konsentrasi virus di kolam anaerobik ini mampu bertahan maka selanjutnya virus tersebut mengalir dan masuk ke kolam fakultatif. Kolam fakultatif adalah kolam yang menerima air limbah dengan tingkat polusi medium dan kecepatan pembebanan organiknya lebih kecil daripada kolam anaerobik. Kolam fakultatif juga biasa disebut wastewater lagoon (sebuah misnomer atau salah kaprah) dengan kedalaman air antara 1,2–2,5 m. Secara alamiah kolam ini terbagi menjadi dua lapisan, yaitu lapisan anaerobik di bawah dan lapisan aerobik di atas. Di antara kedua lapisan tersebut ada lapisan fakultatif. Waktu yang dibutuhkan untuk pengolahan air limbah di kolam fakultatif ini antara 5–30 hari. Adapun endapan zat organik di kolam ini diolah oleh bakteri anaerob yang menghasilkan gas metana, karbondioksida, hidrogen sulfida, ammonia (Horan, 1990).
Droste (1997) menjelaskan bahwa di dalam kolam fakultatif terjadi proses utama dalam reduksi zat organik dengan kehadiran simbiosis mutualisme antara bakteri heterotrof dan algae. Bakteri heterotrof ini serupa dengan bakteri di unit activated sludge atau trickling filter yang bertugas mengolah pencemar organik di dalam zone aerobik menjadi produk akhir oksidasi. Di bagian atas kolam fakultatif terjadi proses aerobik sehingga kaya oksigen. Oksigen di lapisan aerobik ini berasal dari dua proses alamiah, yaitu reaerasi dari atmosfer dan hasil fotosintesis algae dengan bantuan sinar matahari. Algae menggunakan nutrisi dan karbondioksida yang dihasilkan oleh bakteri aerob dan archae anerob untuk proses fotosintesis. Dengan simbiosis mutualisme inilah air limbah diolah di kolam fakultatif.
Merujuk pada karakteristik kolam fakultatif tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kondisinya mendukung untuk pertumbuhan virus Corona baru. Proses yang terjadi tidak jauh berbeda dengan proses di kolam anaerobik, yaitu di bagian bawah kolam fakultatif yang kondisinya anaerob. Sedangkan bagian atas kolam bersifat aerob sehingga persistensi virus Corona baru bisa lebih mudah direduksi dan lebih mudah dinonaktifkan. Kondisi aerobik yang banyak mengandung oksigen hasil fotosintesis algae ikut memberikan peluang hidup bagi bakteri aerob sehingga berpeluang menonaktifkan virus (Hurst, 1987). Operator IPAL juga harus waspada karena aliran air limbah yang masuk ke dalam kolam bisa saja teraduk (mixing) secara alamiah sehingga bagian atas yang aerob bisa pindah ke bawah dan bagian bawah yang anaerob bisa pindah ke atas. Perbedaan densitas air karena perubahan temperatur atmosfer dan cuaca bisa menjadi penyebabnya.
Seperti dinyatakan oleh Rao and Melnick (1986), ada potensi efluen kolam fakultatif ini mengandung banyak bakteri dan virus. Efluen ini kemudian masuk ke kolam maturasi. Sesuai dengan namanya, di kolam ini terjadi proses pematangan (maturation) zat padat tersuspensi dan zat organik terlarut dan terjadi reduksi bakteri dan virus. Kolam maturasi ini memiliki kedalaman antara 30–45 cm sehingga sinar matahari dapat menembus ke semua lapisan kedalaman air. Sinar ultraviolet mampu membasmi bakteri dan virus seperti dinyatakan pada Gambar 1. Sinar ultraviolet mampu mendestruksi virus tetapi kemampuan destruksinya berkurang apabila virus berada makin dalam dari permukaan air (Bitton, 1980). Temperatur air di kolam maturasi juga lebih tinggi daripada di kolam fakultatif dan kolam anaerobik karena air di kolam maturasi lebih jernih, sedikit mengandung zat padat tersuspensi yang dapat menghalangi sinar matahari masuk lebih dalam. Kenaikan temperatur dapat mengurangi daya tahan virus karena terjadi denaturasi protein dan kenaikan aktivitas enzim extraselular (Hurst et al, 1980; John and Rose, 2005). Begitu pula kolam maturasi banyak mengandung oksigen sehingga bakteri aerob berkembang pesat yang diharapkan mampu mereduksi persistensi virus (Hurst, 1987).
Dapatkah dikatakan bahwa efluen kolam maturasi sudah bebas dari bakteri dan virus? Jawabannya, belum bisa bebas bakteri dan virus karena efluen IPAL masih mengandung virus 50–100 pfu/L (Rao and Melnick, 1986). Sedikit saja bakteri dan virus yang ada di kolam maturasi ke luar menuju sungai maka dapat menyebarkan virus ke masyarakat. Potensi kontak virus dengan manusia menjadi mudah karena air sungai digunakan untuk mandi, sikat gigi, mencuci beras dan sayur dan aktivitas lainnya. Apalagi air limbah yang masuk ke IPAL Bojongsoang adalah air limbah mentah tanpa klorinasi. Proses pengolahan di IPAL milik PDAM Kota Bandung ini hanya mengandalkan peran archae anaerob, bakteri fakultatif, bakteri aerob dan cahaya matahari. Tidak ada preklorinasi dan postklorinasi. Apabila dilengkapi dengan preklorinasi apakah pembasmian mikroba dan virus akan maksimum? Tidak juga. Pembasmian tidak bisa optimal karena air limbah mentah berlimpah dengan zat padat serpihan feses. Serpihan dalam ukuran satu milimeter akan dijadikan tempat berlindung bagi bakteri dan virus sehingga sulit disentuh oleh disinfektan klor. Klor akan sulit mencapai bakteri dan virus yang berada di bagian dalam serpihan feses tersebut. Bakteri, virus, dan kista protozoa terlindungi oleh zat padat yang ada di dalam air limbah (Chen et al, 1985). Daya tahan virus juga dipengaruhi oleh temperatur, zat organik (seperti feses), dan adanya mikroba aerob (John and Rose, 2005; Melnick and Gerba,1980; Sobsey and Meschke, 2003).
Selain air limbah, apakah lumpur (sludge) di IPAL juga berbahaya? Tentu berbahaya. Sludge adalah endapan bioflok yang terdiri atas banyak jenis mikroba dan  virus. Operator IPAL sebisa mungkin tidak kontak langsung dengan sludge tanpa APD. Sludge atau biosludge di tiga jenis kolam tersebut berpotensi menyebarkan patogen ke dalam air sungai, air tanah, dan tanah yang dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia (Zhao and Liu, 2019). Semua endapan sludge di dasar kolam anerobik, fakultatif dan maturasi berisiko karena cahaya matahari hanya mampu mencapai bagian permukaan air. Sinar matahari tidak mampu menembus zat padat serpihan feses yang mengadsorbsi virus apalagi kalau berada di bagian bawah permukaan air. Begitu juga pada waktu malam ketika tidak ada sinar matahari yang mengenai air limbah. Padahal air limbah yang berisi virus mengalir ke sungai siang dan malam selama 24 jam sehari.
Di negara-negara yang sistem riulnya memenuhi syarat teknis dan operasional karena diawali oleh perencanaan dan perancangan yang memenuhi kaidah hidrolika dan biokimia maka strategi pemantauan bisa menjadi mudah dan tepat. IPAL-nya juga menggunakan proses aerob seperti activated sludge dan modifikasinya sehingga lebih mampu membasmi virus. Penggunaan activated sludge memang lebih mahal dibandingkan dengan kolam oksidasi. Masih ada masalah sanitasi lainnya di Kota Bandung, yaitu Buang Air Besar Sembarang (BABS) atau buang air besar di water closet (WC) di dalam rumah tetapi disalurkan langsung ke selokan atau sungai. Perilaku seperti ini pernah menimbulkan wabah penyakit hepatitis di India di sekitar Sungai Jumna (Yamuna). Jangan sampai pada masa yang akan datang terjadi wabah yang berawal dari air limbah oleh virus baru yang lebih persisten dan resisten terhadap zat kimia klor.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa IPAL Bojongsoang milik PDAM Kota Bandung belum mampu mencegah sebaran virus. Apabila ada virus Corona baru yang masuk ke sistem riul kota dari feses pasien COVID-19 maka belum ada mekanisme pengolahan yang optimal untuk menonaktifkan virus Corona baru. Namun demikian masih ada upaya yang bisa ditempuh, yaitu dengan melengkapi kolam oksidasi dengan proses klorinasi, terutama setelah kolam maturasi. Meskipun tidak maksimum dalam membasmi virus tetapi masih bisa bermanfaat daripada tidak ada sama sekali proses klorinasi. Ditambah dengan fasilitas APD untuk operator dan kedisiplinan operator dalam memakai APD. Upaya tersebut perlu dilaksanakan untuk mencegah virus-virus baru lainnya pada masa depan yang dapat menginfeksi penduduk yang memanfaatkan air sungai.

New Normal
Pada masa new normal diperlukan sikap dan perilaku baru yang berbeda dengan masa normal dulu. Secara mikrobiologi, new normal adalah kondisi setelah wabah (pascapandemi) yang sudah melewati fase decline(decrease). Di dalam jurnal Annu. Rev. Microbiology, 1949: 3: 371-394 Jacques Monod menjelaskan tentang pola pertumbuhan bakteri. Kurva pertumbuhan mikroba ini bisa dijadikan analogi untuk persebaran wabah Covid-19. Sekali lagi, kurva ini adalah analogi pertumbuhan dan pengurangan jumlah penderita Covid-19.
Kurva dimulai dari fase lag, yaitu fase adaptasi dengan laju pertumbuhan nol. Kemudian fase akselerasi, yaitu laju pertumbuhan mulai meningkat. Berikutnya adalah fase eksponensial, yaitu laju pertumbuhan tinggi dan lajunya konstan tinggi selama beberapa waktu sampai memasuki fase perlambatan (retardation) ketika laju pertumbuhan mulai menurun. Selanjutnya adalah fase stationary, yaitu fase pertumbuhan nol sehingga jumlah penderita relatif konstan. Terakhir adalah fase decline atau decrease, yaitu laju pertumbuhan negatif yang artinya jumlah penderita berkurang seiring dengan pergantian hari. Pengurangan ini membutuhkan waktu relatif lama sampai tercapai kondisi seperti semula pada waktu yang baru. Pada titik inilah bisa disebut fase awal yang berada di depan gerbang new normal. Masuk ke fase new normal secara makna harfiah adalah setelah ditemukan vaksin yang bisa digunakan di seluruh dunia, diproduksi masal, dan murah harganya bagi mayoritas penduduk dunia.
New normal adalah keadaan atau kondisi yang diharapkan normal dalam kehidupan sosial masyarakat tetapi konsisten melaksanakan protokol kesehatan dalam beberapa tahun ke depan. Bisa disebut sebagai tatanan dunia baru karena terjadi di seluruh dunia. Pada masa new normal ini maka peran PDAM menjadi signifikan dalam menyediakan air bersih untuk cuci tangan tanpa sabun karena sudah berisi klor, untuk membersihkan lantai, meja, kursi tempat ibadah dan semua benda lainnya. PDAM juga hendaklah berupaya mengelola IPAL yang mampu membasmi bakteri dan virus Corona baru serta senantiasa menerapkan protokol kesehatan untuk operator IPAL.
  
KESIMPULAN
Semua artikel yang membahas virus Corona penyebab SARS dan MERS menegaskan bahwa virus Corona bisa menyebar lewat percikan atau muncratan liur (droplets) yang mengenai orang lain dan bertahan aktif di benda-benda termasuk air minum. Karakteristik demikian juga berlaku untuk novel Coronavirus penyebab COVID-19. Semua virus bisa dinonaktifkan dengan zat kimia seperti sabun, deterjen, dan senyawa klor. Air PDAM diolah dengan proses klorinasi dan memiliki sisa klor bebas sehingga efektif membasmi bakteri dan virus. Klorinasi efektif menonaktifkan virus Corona baru dan jenis virus lainnya sehingga air PDAM layak digunakan untuk mencuci benda-benda di fasilitas umum yang diduga berisi virus. Dosis klor yang bisa diterapkan adalah 0,2–40 mg/l dengan sisa klor bebas 0,2–0,5 mg/l. Air sumur yang digunakan untuk fasilitas umum sebaiknya diolah dengan kaporit tablet pada masa wabah COVID-19 dan pada masa normal baru.
Jejak genetis virus Corona baru ditemukan di dalam sampel air limbah di Netherland (Belanda). Virus Corona baru masih satu famili dengan virus penyebab SARS dan MERS. Virus SARS sudah menyebar di dalam air limbah yang mengalir di dalam pipa-pipa plumbing gedung dan sudah menginfeksi banyak orang yang menggunakan fasilitas alat plumbing tersebut. Jejak genetis virus SARS juga ditemukan di dalam air limbah mentah dan di dalam air limbah yang sudah diolah dengan disinfektan. Instalasi pengolahan air limbah kolam oksidasi tidak optimal dalam membasmi bakteri dan virus. Kemampuan archae anaerob lemah dalam mereduksi persistensi virus apabila dibandingkan dengan kemampuan bakteri aerob sehingga kolam yang optimal dalam membasmi bakteri dan virus adalah kolam maturasi. Sinar ultraviolet dari matahari juga mampu masuk lebih dalam ke dasar kolam maturasi. Tetapi pada waktu malam ketika tidak ada sinar matahari maka kemampuannya berkurang. Kolam oksidasi di IPAL Bojongsoang milik PDAM Kota Bandung tidak dilengkapi dengan proses klorinasi sehingga harus diwaspadai oleh masyarakat pengguna air Sungai Citarum sebagai badan air yang menerima efluen IPAL Bojongsoang. Prinsip kehati-hatian (precautionary principle) diperlukan agar terhindar dari bahaya laten virus baru pada masa new normal atau tatanan baru kehidupan pascapandemi. Peran PDAM sebagai penyedia air bersih yang berisi disinfektan klor menjadi makin penting pada masa normal baru. *

Serambi Engineering Journal

DAFTAR PUSTAKA
Belshe,  R.  B. 1984.  Textbook  of  human  virology. Littleton: PSG Publishing Co, Inc.
Bitton, G, 1980, Introduction to Environmental Virology, John Wiley & Sons, New York.
Bosch, A., Rosa M. Pintó, and F. Xavier Abad. 2006. Survival and Transport of Enteric Viruses in the Environment. (www.ub.edu).
Bosch , A., 1998. Human enteric viruses in the water environment: a minireview International Microbiology, Vol. 1: 191–196, © Springer-Verlag Ibérica 1998
Brock, T. D. 1997.  Biology of Microorganisms. 8th.ed. Prentice Hall, New Jersey, USA.
Cahyana, G. H. 2004.  PDAM Bangkrut, Awas Perang Air, Sahara Golden Press Indonesia
Chan, K. H., Poon, L. M., Cheng, V. C. C., Guan, Y., Hung, I. F. N.,  Kong,  J.,  et  al.  2004. Detection  of  SARS  coronavirus  in patients  with  suspected  SARSEmerging  Infectious  Diseases, 10, 294–299.
Chen Y. S. R., O. J. Sproul, A. J. Rubin. 1985. Inactivation of Naegleria gruberi cysts by chlorine dioxide. Water Research, 19 (6): 783-789.
Clark, R. M., E. J. Read, J. C. Hoff. 1989.  Analysis of Inactivation of Giardia Lamblia by Chlorine. Journal of Environmental Engineering, ASCE, 115: 80-90
Davies-Colley, R. J., Donnison, A. M., Speed, D. J., Ross, C. M., Nagels, J. W., 1999. Inactivation of Faecal Indicator Microorganisms in Waste Stabilization Ponds: Interaction of Environmental Factors with Sunlight, Water Research. Vol. 33, No. 5, pp. 1220-1230
Developments in Water Science. 1985. Waste Water Disinfection. Wastewater and  Sludge Chlorination for  Various Purposes, Chapter 11, Vol. 23, pp. 438-456.
Droste. 1997. Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment. John Wiley, USA
Doremalen, N. V., Bushmaker, Morris. 2020. The New England Journal of Medicine edisi 17 Maret 2020, a letter to the Editors of NEJM.org.
EHS Water O.U. 2020.  Advice note to EHS on COVID-19 in chlorinated drinking water supplies and chlorinated swimming pools, Version 3.
Fair G. M., J. C. Geyer, D. A. Okun. 1968. Water and Wastewater Engineering. Wiley, Vol.2.
Gottschalk, G. 1986.  Bacterial Metabolism, Springer-Verlag, 2nd. Ed., New York.
Guan, Y., Zheng, B. J., He, Y. Q., Liu, X. L., Zhuang, Z. X., Cheung, C.  L.,  et  al. 2003.  Isolation  and  characterization  of  viruses related to the SARS Coronavirus from animals  in  Southern China. Science, 302, 276–279.
Horan, N. J. 1990. Biological Wastewater Treatment Systems, John Wiley & Sons.
Hurst, C. J. 1987. Influence of aerobic micro organisms upon virus survival in soil. Can. J. Microbiol. 34: 696–699.
Hurst, C. J., Gerba, C. P., and Cech, I.1980. Effects of environmental variables and soil characteristics on virus survival in soil. Appl. Environ. Microbiol. 40: 1067–1079.
John, D. E., Rose, J. B. 2005. Review of factors affecting microbial survival in groundwater. Environmental Science & Technology, 39 (19), 7345–7356.
Lau, S. K. P., Woo, P. C. Y., Li, K. S. M., Huang, Y., Tsoi, H. W., Wong, B. H. L., et al (2005). Severe acute respiratory syndrome coronavirus-like virus in Chinese horseshoe bats. Proceedings of the  National  Academy of  Sciences of the United  States  of America, 102(39), 14040–14045.
Lawler D. F. dan P. C. Singer. 1993.  Analyzing Disinfection Kinetics and Reactor Design: a Conceptual Approach versus the SWTR, J. American Water Works Association, 85, 11, pp. 67-76.
Leung, W. K., To, K. F., Chan, P. K. S., Chan, H. L. Y., Wu, A. K. L., Lee,  N.,  et al. (2003).  Enteric  involvement   of severe  acute respiratory  syndrome-associated  coronavirus  infectionGastro-enterology, 125, 1011–1017.
Lin, D. S. 2001. Water and Wastewater Calculation Manual, McGraw-Hill, USA. pp. 447-450.
Manocha, S., Walley, K.R., Russell, J.A. 2003. Severe acute respiratory distress syndrome (SARS): A critical care perspective. Critical Care Medicine, 31, 2684–2692.
Max Roser, Hannah Ritchie and Esteban Ortiz-Ospina. 2020. Coronavirus Disease (COVID-19), Statistics and Research. OurWorldInData.org. (https://ourworldindata.org/coronavirus)
Melnick, J. L., & Gerba, C. P. (1980). The ecology of enteric viruses in natural waters. Critical Reviews in Environmental Control, 10, 65–93.
Murphy, H dan B. Soule. 2020. Water Quality & Health Council. (Akses 20 April 2020).
National Institute for Public Health and the Environment. 2020. Amsterdam, Netherland, diakses 19 Maret 2020 https://www.rivm.nl/en/news/novel-coronavirus-found-in-wastewater
Monod, J, 1949, Annu. Rev. Microbiol., 3: 371-394, Pasteur Institute, Paris, France, diunduh dari www.annualreviews.org.
Ohgaki, S., Ketratanakul, A., Prasertsom, U, 1986, Effect of Sunlight on Coliphages in an Oxidation Pond, Wat.  Sci.  Tech.  Vol.  18, No.  10,  pp.  37-46.
Patricia M. Gundy, Charles P. Gerba, Ian L. Pepper. 2009. Survival of Coronaviruses in Water and Wastewater. Food Environ Virol, 1:10–14
Peiris, J. S. M., Chu, C. M., Cheng, V. C. C., Chan, K. S., Hung, I. F. N., Poon, L. L. M., et al. 2003. Clinical progression and viral load in a community outbreak of coronavirus-associated SARS pneumonia: A prospective studyThe Lancet, 361, 1767–1772.
Pontius, F. W. 1993.  Configuration, opera-tions of system affect C x T value, Opflow 19(8): 7-8.
Rao, V. C., Melnick, J. L. 1986.  Environmental virology, in: Aspects of Microbiology 13 (J.A. Cole, C. J. Knowles, and D. Schlessinger, eds.), American Society for Microbiology, Washington, DC
Reynold, T., Richard, P, A. 1996. Unit Operation and Processes in Environment Engineering Second Edition. PWS Publishing Company.
Sawyer, C. N., McCarty P. L. 1989.  Chemistry for Environmental Engineering,  McGraw-Hill Book, Singapore.
Schoeman dan Fielding. 2019.  Coronavirus envelope protein: current Knowledge, Virology Journal,  (2019) 16:69.
Snoeyink, V dan Jenkins, D. 1980. Water Chemistry, John Wiley & Sons, New York. 
Sobsey, M. D., & Meschke, J. S. 2003. Virus survival in the environment with special attention to survival in sewage droplets and other environmental media of fecal or respiratory origin. Report for the World Health Organization, Geneva, Switzerland, p. 70.
Speece. R. E., 1996 . “Anaerobic Biotechnology for Industrial Wastewaters”. Archae Press.
Tchobanoglous, G., Metcalf & Eddy. 2003. Wastewater Engineering: Treatment, Disposal, Reuse, McGraw-Hill
Treado, S., M. Kedzierski, S. Watson, K. Cole. 2006. Contamination and Decontamination of Building Plumbing  Systems. National Institute of Standards and Technology Gaithersburg, AIChE Annual Conference.
USEPA. 2011. Water Treatment Manual Disinfection.
Wang, L. F., Shi, Z., Zhang, S., Field, H., Daszak, P., & Eaton, B. T. 2006.   Review    of  bats  and   SARS. Emerging Infectious Diseases, 12(12), 1834–1840.
Wang XW, Li J, Guo T, Zhen B, Kong Q, Yi B, Li Z, Song N, Jin M, Xiao W, Zhu X, Gu C, Yin J, Wei W, Yao W, Liu C, Li J, Ou G, Wang M, Fang T, Wang G, Qiu Y, Wu H, Chao F, Li J. 2005. Concentration and detection of SARS coronavirus in sewage from Xiao Tang Shan Hospital and the 309th Hospital of the Chinese People's Liberation Army. Water Sci Technol. 52(8):213-21.
WHO. 2011. Guidelines for drinking water quality, 4th ed. World Health Org. Geneva, pp 1–541
Wigginton K. R, Y. Ye and R. M. Ellenberg. 2015. Emerging investigators series: the source and fate of pandemic viruses in the urban water cycle, Environ. Sci.: Water Res. Technol, 1, 735
Yinyin, Y, Ellenberg, R. M., Graham, K. E., Krista R. 2016. Survivability, Partitioning, and Recovery of Enveloped Viruses in Untreated Municipal Wastewater, Environ. Sci. Technol., 50, 5077−5085
Zhao, Q., Y. Liu. 2019.  Is anaerobic digestion a reliable barrier for deactivation of pathogens in biosludge? Sci. Total Environ. 893–902

Sumber Online:

ReadMore »

1 Agustus 2020

Senarai Ilmu dalam Kurban

Senarai Ilmu dalam Kurban

Di tengah wabah Covid-19 tidak menyurutkan animo masyarakat untuk berkurban. Sebagai indikatornya, ada sekumpulan anak yang berkurban beberapa sapi. Ada nenek usia 77 tahun yang berkerja sebagai pembersih jalan yang berkurban sapi dan kambing setelah menabung selama 15 tahun. Spirit berkurban tumbuh terus tanpa terhalang oleh wabah. Mereka berlomba dalam kebaikan ketika banyak PHK, bisnis merosot, pendapatan menurun, dan sejumlah negara sudah resesi. Aktivitas kurban dapat mengangkat geliat ekonomi dan perbaikan gizi mayoritas masyarakat yang terpapar wabah Covid-19.
Sungguh beruntung orang yang berkurban. Sebelum darah hewannya sampai ke tanah, sudah mendapat pahala. Pahala itu pun tidak hanya untuk pekurban tetapi juga untuk peternak yang telaten memelihara ternaknya sehingga sehat dan besar. Sarjana peternakan berjasa menyehatkan ternak dan merawatnya beberapa tahun sebelum dikurbankan. Dokter hewan ikut memeriksa kesehatan ternak sehingga bebas dari penyakit yang dapat menular kepada manusia. Pekerja pakan mengolah makanan ternak menjadi ramuan mujarab sehingga ternak menjadi besar dan montok. Tukang sabit rumput memudahkan hewan mendapatkan makanan favoritnya tanpa perlu ke lapangan atau sawah. Pekerja kebersihan kandang memperoleh penghasilan dari kotoran hewan. Air yang digunakan berasal dari PDAM atau dari air tanah yang dipompa. Pompa dibuat oleh ahli teknik mesin dan dipasang oleh sekelompok pekerja bor jet pump.

Pada saat disembelih, pisau harus tajam agar hewan tidak geli ketika mata pisau mengiris-iris lehernya. Ahli logam atau metalurgi berperan di sini. Tukang asah melaksanakan asahan dan tukang batu membuat alat pengasah pisau. Setelah kulit hewan dipisahkan dari dagingnya, maka ahli penyamak kulit berperan mengolahnya. Air limbahnya diolah oleh ahli pengolahan limbah. Kulitnya dijadikan tas dan sepatu oleh pengrajin dan pabriknya. Pemilik toko memperoleh penghasilan dari penjualan sepatu dan tas dan pekerja memperoleh penghasilan dari toko tersebut. Daging kurban ditimbang dengan neraca yang dibuat oleh pabrik dan ditera oleh ahli metrologi. Cuaca pada saat pemotongan kurban diperkirakan oleh ahli meteorologi. Disiarkan oleh radio dan televisi yang beritanya ditulis oleh wartawan, sarjana jurnalistik.

Wartawan menggunakan laptop, ponsel untuk mengirimkan berita yang dibantu oleh internet. Ahli komputer dan informatika ikut berperan. Semua bidang ilmu bisa terlibat dalam seekor hewan kurban. Terlalu panjang kalau ditulis semua. Semua ahli atau pakar berperan setara. Orang yang dalam satu bidang kajian ilmu tentu boleh berdebat. Tetapi debat untuk memperoleh yang benar. Bukan menang-menangan dan gengsi-gengsian. Yang berpendapat juga wajib menyertakan bukti empirisnya, bukan rekayasa. Kalau semua ahli seperti itu tentu akan diperoleh ilmu yang bermanfaat untuk manusia. Semua bidang ilmu itu harus ada orang yang melakoninya. Apabila ada satu ilmu yang tidak ada yang mendalaminya maka bidang ilmu itu menjadi wajib untuk ditekuni. Negara mewajibkan orang untuk mempelajarinya dengan memberikan beasiswa dan biaya hidup penuh selama belajar dan bahkan gaji yang memuaskan selama bekerja di bidang ilmu tersebut. Termasuk orang-orang kaya sepatutnya memberikan beasiswa untuk murid berprestasi apabila negara tidak mampu memberikan beasiswa untuk semua murid prestatif yang lemah eknominya.

Begitu seterusnya. Terlalu panjang kalau disambung-sambungkan. Intinya adalah banyak ilmu yang terlibat di dalam aktivitas kurban, sebuah ibadah yang menjadi stairway to heaven, kata sebuah judul lagu, sebuah ibadah yang orientasinya untuk kebahagiaan hidup di akhirat kelak. Ternyata, untuk sampai ke heaven itu, untuk lulus meniti jembatan shirathal mustaqim itu, perlu jasa banyak ilmu dan produk teknologinya. Ini berarti, pendidikan menjadi fokus. Sangat amat penting sekali (lebay ya.. tetapi memang suuaangat penting itu pendidikan). Di Indonesia, pelaku utama pendidikan sebelum negara Rep. Indonesia eksis secara hukum internasional pada 17 Agustus 1945, 75 tahun yang lalu itu, sudah banyak pesantren yang membina pendidikan. Kemudian hadir ormas Muhammadiyah, NU, Persis, Mathla’ul Anwar, al Washliyah, juga Gontor, Lirboyo, Tebuireng, dst. Termasuk sekarang adalah semua kampus yang memiliki spirit ideal dalam pendidikan. Memberikan ilmu untuk membina peradaban, agar menjadi manusia yang punya adab, akhlak yang karim selain ahli di bidang ilmunya itu.

Maka wajarlah pemerintah terutama menteri pendidikan, menteri riset dan teknologi merujuk kepada organisasi tersebut yang sudah lama mengelola pendidikan. Jasmerah: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tetap harus paham sejarah. Dalam dunia ilmiah, sejarah itu adalah rujukan kepada penelitian sebelumnya. Kutipan adalah pengakuan pada sejarah ilmu di bidang tertentu yang lebih dulu ditulis. Mustahil melupakan sejarah dalam penulisan ilmu dan teknologi. Evolusi model atom sejak zaman Dalton sampai sekarang adalah karena peduli pada sejarah pemodelan atom. Hm hm… sudahi sampai di sini saja… nanti jauh meluas… Selamat merayakan Idul Kurban.

ReadMore »

31 Juli 2020

Lindi Sarimukti Tanpa Solusi?

Lindi Sarimukti Tanpa Solusi?
Oleh Gede H. Cahyana
Pengamat sanitasi lingkungan, Universitas Kebangsaan

Hentikan Pencemaran Lindi Sarimukti adalah judul berita utama koran Pikiran Rakyat edisi Selasa, 21 Juli 2020. Lindi adalah air rembesan dari timbunan sampah yang sangat kuat derajat pencemarannya. Pada saat ini TPA Sarimukti sudah tidak layak guna karena kelebihan beban (overload). Proses pengolahan di Instalasi Pengolahan Air Lindi (IPALin) pun buruk sehingga mencemari air sungai di hilirnya.

Evaluasi
Pengolahan lindi di Sarimukti menggunakan proses biologi dan operasi fisika. Hampir sama dengan IPAL Bojongsoang. Bedanya, IPAL Bojongsoang hanya mengolah air limbah domestik. Konsentrasi pencemar air limbah yang masuk ke IPAL Bojongsoang jauh lebih rendah daripada konsentrasi pencemar di dalam lindi. Luas area IPAL Bojongsoang sekitar 85 hektar meskipun tidak semuanya dijadikan kolam pengolahan. Area IPAL-nya saja jauh lebih luas daripada luas area TPA Sarimukti padahal tingkat pencemaran lindi jauh lebih berbahaya daripada air limbah domestik.

IPAL Bojongsoang hanya mengandalkan transfer oksigen secara alami sedangkan IPALin Sarimukti menggunakan blower dan instalasi pipa. Efektifkah blower ini? Sudah disebut bahwa lindi berisi pencemar yang sangat kuat, COD bisa mencapai 30.000 mg/l. Sedangkan COD yang masuk ke IPAL Bojongsoang sekitar 300-400 mg/l. Penelitian ilmiah menyatakan bahwa kolam anaerob hanya mampu menurunkan COD hingga 50%. Artinya, COD sisa yang masuk ke kolam aerob masih sangat tinggi konsentrasinya.

Pengolahan di kolam anaerob makin sulit apabila derajat keasaman (pH) lindi di bawah 7,5. Bakteri lebih dulu mati sebelum mampu beradaptasi. Apalagi lindi berisi zat beracun dan bakteri anaerob adalah jenis bakteri yang sensitif terhadap racun meskipun kecil konsentrasinya. Padahal “kunci” pengolahan anerobik adalah bakteri anaerob jenis metanogenik yang mampu mengubah COD menjadi gas metana.Tanpa konversi COD menjadi metana maka praktis tidak terjadi pengurangan konsentrasi COD secara signifikan.

Dengan demikian, injeksi oksigen oleh blower ke dalam lindi menjadi tidak efektif. Karena pH rendah maka bakteri aerob lebih dulu mati sebelum menerima oksigen dari blower. Listrik pun menjadi mubazir. Hakikatnya, semua kolam pengolahan berubah menjadi sekadar bak penampung lindi tanpa aktivitas mikrobiologis. Terjadilah pencemaran air sungai di hilirnya.

Opsi solusi
Adakah solusinya? Ada dua kegiatan yang harus dikerjakan, yang pertama adalah merancang ulang area timbunan sampah sebelum TPA Legok Nangka dioperasikan. Sebetulnya masalah serupa juga bisa terjadi di Legok Nangka, waktu yang akan membuktikannya. Rancang ulang difokuskan pada penerapan sanitary landfill dan pemanfaatan metana untuk operasional kantor TPA. Syukur-syukur bisa digunakan untuk kebutuhan listrik blower dan pompa.

Kegiatan kedua adalah merancang ulang unit proses dan unit operasi IPALin. Selama ini fokus pemerintah dalam mengelola sampah hanyalah pada timbunan sampah. Kurang perhatian pada pengolahan lindi. Padahal yang mencemari air sungai dan air tanah adalah air lindi. Sedangkan sampah hanya diam selama-lamanya di sel-sel timbunan hingga habis dibusukkan oleh bakteri. Paradigma berpikir tentang pengelolaan sampah harus diubah. Sel sampah dan lindi harus dalam prioritas yang sama.

Pengolahan lindi sesungguhnya jauh lebih penting daripada lahan timbunan sampahnya. Apapun jenis landfill-nya pasti terbentuk lindi dan harus diolah karena berisi ribuan jenis zat kimia beracun. Lindi jauh lebih bahaya daripada air limbah celupan pabrik tekstil. Jauh lebih tinggi zat organiknya daripada air limbah pabrik gula. Apalagi kalau dibandingkan dengan air limbah pabrik makanan-minuman. Bahkan potensi bahaya air limbah dari kilang minyak masih kalah jauh dibandingkan dengan potensi bahaya lindi.

Ada tiga parameter yang dikaji dalam rancang ulang tersebut, yaitu kuantitas, kualitas, kontinuitas aliran lindi. Kuantitas aliran harus diukur dengan teliti karena berpengaruh pada dimensi unit pengolahan. Data ini mencakup data pada musim hujan dan musim kemarau untuk menduga variasi debit yang mungkin terjadi. Apabila data ini diketahui terperinci maka kebutuhan luas lahan IPALin bisa lebih akurat termasuk kebutuhan mekanikal elektrikalnya.

Selanjutnya adalah kualitas lindi yang berbeda pada musim hujan dan musim kemarau. Data ini diperlukan untuk memilih unit pengolah yang layak digunakan dan untuk memperkirakan biaya konstruksi dan biaya operasi-rawatnya. Juga bisa digunakan untuk rencana pengelolaan dan pengolahan lumpur (sludge) IPALin, baik lumpur biologi (biosludge) maupun lumpur kimia (chemsludge). Timbulan lumpur bisa dihitung berapa ton perbulan, bagaimana pengolahannya dan di mana diolah. Termasuk ada tidaknya potensi pendapatan (income) yang bisa diperoleh dari lumpur tersebut.

Poin ketiga adalah kontinuitas. Hal ini berkaitan dengan aliran lindi dari timbunan sampah ke IPALin dan dipengaruhi oleh musim hujan dan musim kemarau. Bersama dengan data kuantitas, data kontinuitas aliran ini digunakan untuk setting unit pengolah yang harus dioperasikan dan yang harus diistirahatkan. Data ini bisa digunakan untuk menduga optimal tidaknya unit pengolah yang tersedia. Juga menentukan unit pengolah mana yang beroperasi, mana yang bisa istirahat sambil dicek atau diperbaki.

Operasi-rawat
Selain jenis unit pengolah, yang juga penting adalah operasi dan perawatan. IPALin bukanlah lampu Aladdin yang sekali berkata “terjadi” maka “terjadilah”. Unit proses biologi IPALin banyak yang gagal. Jangankan IPALin yang lokasinya di tengah hutan atau terpencil, IPAL yang berada di dalam kota saja banyak yang tidak dikelola dengan benar. Apakah IPAL air limbah tekstil yang diolah dengan proses biologi saja mampu menurunkan logam berat, senyawa toksik secara signifikan? Apalagi lindi yang jauh lebih berbahaya daripada air limbah tekstil.

Aspek operasi dan perawatan IPALin harus dipertimbangkan agar bisa menyerap tenaga kerja lokal. Gunakan unit pengolah yang membutuhkan tenaga kerja kasar dan terlatih. Mereka dilatih menjadi operator. Tentu harus ada juga tenaga kerja yang ahli IPALin. Serapan tenaga kerja lokal akan menimbulkan rasa ikut memiliki TPA sehingga ikut menjaga dan mengamankan lokasi. Sekaligus mereka bisa berperan sebagai agen pendidikan peduli sampah di desanya.

Oleh sebab itu, hindari teknologi yang suku cadangnya harus diimpor karena akan merusak proses pengolahan apabila tidak bisa diperbaiki dalam waktu setengah hari. Hindari teknologi yang padat modal dalam investasi, mahal biaya operasinya, mahal biaya perawatannya. Gunakan teknologi yang bisa tahan sepuluh atau lima belas tahun tanpa penggantian peralatan secara signifikan. Hanya perlu penggantian komponen mekanikal elektrikal yang bisa dilakukan oleh bengkel lokal dan suku cadangnya tersedia di pasar lokal.*

ReadMore »

21 Juli 2020

Mengapa BPPSPAM Dibubarkan?

Mengapa BPPSPAM Dibubarkan?

Ada 18 badan, tim, komisi yang dibubarkan oleh Presiden Jokowi. Satu di antaranya adalah BPPSPAM. BPPSPAM dibentuk oleh Peraturan Presiden No. 90 tahun 2016. Usianya mencapai empat tahun. Namun sejarahnya sudah lebih awal, sejak zaman Presiden SBY. Tahun 2005 dibentuk BPPSPAM, sebagai embrio yang menilai kinerja PDAM. Pada awal medio dekade itu, antara tahun 2001 – 2005, kondisi PDAM masih menyedihkan; 90% dalam kondisi tidak sehat, seperti ditulis di dalam buku “PDAM Bangkrut? Awas Perang Air.” Spirit buku ini adalah memberikan informasi dengan fakta yang bisa dikumpulkan pada waktu itu dari berbagai sumber, agar PDAM berubah menjadi perusahaan daerah yang kuat dan bermanfaat luas bagi masyarakat setempat.
Gambar 1. Sejarah BPPSPAM (Sumber: situs bppspam.pupr,go.id)

BPPSPAM itu pun menjadi respon atas UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Sejumlah LSM, misalnya Walhi pada waktu itu memberikan kritik atas kinerja DPR. Begitu juga akademisi dan masyarakat. Namun waktu itu Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tetaplah menguatkan eksistensi UU Nomor 7 tahun 2004, meskipun ada dua hakim yang dissenting opinion. Selanjutnya UU SDA itu digugat oleh Muhammadiyah cs. Akhirnya pada tahun 2015 Mahkamah Konstitusi membatalkan UU SDA dan kembali ke UU No. 11/1974 tentang Pengairan. Esensi pembatalan berkenaan dengan privatisasi (penswastaan) air minum di sektor SPAM dan penguasaan negara atas air. Isu SPAM ini pula yang tarik-ulur saat ini. Sektor ini berpengaruh kepada pengusaha air jeriken dan truk tangki, AMIK (Air Minum Kemasan atau AMDK) dan AMIKU (Air Minum Kemasan Ulang atau air isi ulang). Asasnya, sumber air berupa mata air, air tanah, sungai, danau, waduk, rawa, laut tidak boleh dikuasai oleh perseorangan atau swasta.

Menurut fungsinya, BPPSPAM itu melaksanakan aktivitas dalam hal:
1. Menilai kinerja penyelenggara SPAM (BUMN, BUMD) dalam hal kualitas, kuantitas, kontinuitas.
2. Meningkatkan kinerja penyelenggara SPAM.
3. Memberikan rekomendasi kepada pemerintah pusat dan daerah atas kinerja penyelenggara SPAM.

BPPSPAM sudah memberikan hasil kerjanya berupa penambahan PDAM sehat, pengurangan jumlah PDAM sakit. Keadaan ini terus berubah dinamis dari waktu ke waktu. Majalah Air Minum  (MAM) yang diterbitkan PERPAMSI kerapkali merilis liputan perihal kondisi PDAM di Indonesia.

Dalam kinerja demikian, yang menjadi pertanyaan insan air minum adalah sebab-musababnya. Tentu Presiden Jokowi, Menteri PUPR, dan kalangan KSP yang mengetahuinya. Berharap alasan ini bisa diumumkan agar menjadi pelajaran dan perbaikan pada masa yang akan datang. Termasuk apabila tugas, fungsi BPPSPAM dialihakan ke badan, lembaga, atau direktorat jenderal di PUPR, ini pun perlu diketahui oleh insan air minum Indonesia.

Entahlah, bagaimana tanggapan atau komentar insan air minum, PDAM, akademisi, praktisi di sektor air minum, dll.  Komentar, saran, pendapat silakan ditulis di "comment".. 
ReadMore »

14 Juli 2020

Prabowo Membuat Sawah?

Prabowo Membuat Sawah?

Meskipun tidak beruang (ini bukan sejenis hewan, tetapi maksudnya adalah punya uang), orang Indonesia, terutama ayah dan ibu pasti masih tenang apabila masih punya beras. Tidak usah berton-ton tetapi cukup untuk makan sekeluarga selama sebulan ke depan. Bahkan masih ada beras untuk dimakan hanya sepekan ke depan pun masih bisa tenang plus garam atau ikan asin (teri). Sebab, beras adalah bahan makanan pokok mayoritas orang Indonesia yang diolah menjadi nasi. Bisa menjadi nasi putih. Nasi kuning, Nasi merah. Nasi campur. Nasi kebuli. Nasi soto. Nasi bakar. Nasi rames dan banyak varian lainnya. Intinya adalah nasi. Beras. Padi. Sawah. Air. Energi.

Sejak 2004 Pak Prabowo aktif memberdayakan petani dan nelayan. Pernah menjadi ketua umum HKTI: Himpunan Kerukunan Tani (dan Nelayan) Indonesia. Visi misinya tidak pernah lepas dari FEW: Food, Energy, Water. Tiga sumber daya alam ini harus tersedia dalam jumlah yang cukup dengan indikasi harganya terjangkau oleh mayoritas orang Indonesia.  FEW ini memiliki risiko tinggi terhadap politik. Bisa menentukan jatuh-majunya pemerintah. FEW juga berkaitan dengan masyarakat, dengan warga negara. Tanpa FEW maka pemerintah tidak akan memiliki view pada masa depan pemerintahannya alias bisa saja kolaps di tengah jalan sebelum habis masanya. Bisa didemisioner oleh rakyatnya sendiri.

Kata Dr. Rizal Ramli, kondisi ekonomi Indonesia memang sudah lemah. Makin lemah lagi akibat Corona yang menimbulkan wabah Covid-19 dan bisa berdampak ekonomi dan politik dalam setahun dua tahun ke depan. Dampaknya di seluruh dunia. Terutama kalau vaksinnya belum ditemukan. Atau karena vaksinnya tidak mampu melawan keganasan Corona. Atau karena harga vaksinnya mahal bagi mayoritas orang. Akibatnya, orang-orang di seluruh dunia, terutama yang khawatir pada serangan Corona, akan mengurangi kontak langsung dengan orang lain. Urusan bisnis dan pekerjaan, perdagangan dan pendidikan, travelling dan wisata lokal dan mondial, tidak akan berkembang. Mati perlahan. Maskapai penerbangan pun kolaps, suatu saat kelak. Indikasi ini sudah mulai tampak di PT Garuda (GIA).

Oleh sebab itu, untuk mengurangi dampak buruk terhadap ekonomi dan politik tersebut maka FEW harus tersedia cukup . FEW tidak boleh few (sedikit) apalagi kekurangan. FEW harus cukup untuk seluruh rakyat Indonesia. Stoknya kalau bisa sampai tiga bulan ke depan, sampai panen lagi. Ini untuk padi. Begitu pun singkong, harus digiatkan tanamnya. Ubi pun disebarkan. Talas ditanam di banyak lokasi. Semua sumber karbohidrat itu ditanam sedekat mungkin dengan masyarakat agar transportasinya menjadi murah sehingga harganya terjangkau. Perlu dicoba lagi diversifikasi pangan. Meskipun ini sulit dicapai sejak zaman Orde Baru karena orang Indonesia tidak mudah pindah dari nasi ke singkong, ke jagung, ke talas, dan/atau ke ubi.

Kembali ke pokok tulisan. Siapa yang mampu mengerjakan megaprojek tersebut? Dari sekian banyak menteri dan menteri coordinator, ini secara objektif, yang punya pengalaman di bidang pertanian dan sebagai pelaku pertanian adalah Prabowo. Ada track record-nya, jejak langkahnya di dunia pertanian, perkebunan, perdagangan, perhutanan tanaman industri, pabrik kertas, sawit, peternakan sapi, domba, kuda, dll. Secara objektif juga, dari sisi leadership, adakah menteri Pak Jokowi yang mampu mendirikan partai seperti Gerindra? Begitu juga dari sudut pandang strategi perang yang diterapkan di dalam strategi pertanian dan cs-nya, adakah jenderal yang menguasai strategi perang yang sesungguhnya di lapangan, misalnya di Timor Timur? Atau yang mampu menjadi manajer dan mengelola ekspedisi pendaki gunung dan pembebasan sandera di Papua? Atau adakah menteri di kabinet sekarang yang memimpin pasukan khusus yang pada masanya pasukan itu disegani oleh pasukan khusus negara lain?

Objektifnya demikian dan semua itu bisa ditelusuri di google dot com. Bisa juga dikatakan bahwa kapasitas Prabowo tidak hanya menjadi Menteri Pertahanan dan menteri yang memperkuat ketahanan pangan Indonesia, tetapi juga mampu sebagai presiden RI. Hanya saja, jumlah suaranya yang kalah dari Presiden Jokowi. Tetapi secara kapabilitas, leadership, dan pengalaman memimpin tidak bisa dibandingkan dengan Presiden Jokowi. Bisa dicek dari sisi karirnya sejak masa remaja, atau sejak lulus SMA, atau sejak mulai menjadi tentara. Semua datanya lengkap ada di internet. Apalagi kata ahli politik, keterpilihan dan kemampuan leadership itu adalah dua hal yang berbeda.

Dari data riwayat hidupnya, Prabowo bisa menjadi leader dan menjadi manajer leading sector dalam pembukaan lahan, penanaman, pemanenan, dan distribusi pangan pada saatnya nanti. Presiden Jokowi sudah menyatakan bahwa tentara bisa saja diajak dalam penyiapan food estate di Kalimantan Tengah. Pada masa Orde Baru tentara sudah dilibatkan di banyak kegiatan yang positif seperti AMD: ABRI Masuk Desa. Tentara zeni bisa dan terbiasa membangun jembatan, jalan, membuka hutan untuk daerah transmigrasi dan lain-lain. Mengelola tentara oleh mantan tentara dan sekaligus sebagai Menteri Pertahanan yang memimpin TNI AD, AU, AL maka keberhasilan pembukaan food estate akan semakin besar. Kalaupun gagal, tidak akan gagal seperti Lahan Gambut Sejuta Hektar pada masa Orde Baru. Kalau sukses, tentu untuk bangsa Indonesia semua, bisa makan nasi satu dua tahun ke depan andaikata sinyalemen FAO betul bahwa akan terjadi paceklik di dunia. Krisis pangan yang menyebabkan bencana kelaparan di seluruh dunia.

Semoga bangsa Indonesia, semua WNI bisa makan nasi seperti hari-hari sebelum wabah Covid-19. Aamiin. 

ReadMore »

12 Juli 2020

Potensi Risiko Corona di Ruang Tertutup Ber-AC

Potensi Risiko Corona di Ruang Tertutup Ber-AC 

TVOne dan Kompas TV intensif membahas berita terbaru dari WHO tentang “potensi transmisi Corona di udara/aerosol”. Dalam bahasa positifnya, WHO mungkin berhati-hati karena ini organisasi berskala dunia, sangat dipercaya oleh banyak orang. Meskipun beberapa hari lalu akhirnya Amerika Serikat keluar dari WHO. Tapi ini lain soal. Ini terserah Trump and the ganks.

Kembali ke tema Corona di dalam aerosol. Sebelum 239 orang peneliti ahli yang melaporkan bahwa sebaran Corona bisa lewat aerosol (publikasi 6 Juli 2020), pada medio Maret, The New England Journal of Medicine edisi 17 Maret 2020 merilis surat (letter) dari van Doremalen, Bushmaker, dan Morris. Surat tersebut menyatakan bahwa Corona bisa bertahan tiga jam di dalam aerosol, empat jam di permukaan tembaga, 24 jam di permukaan karton, dan bertahan tiga hari di permukaan plastik dan logam stainless. Rilis jurnal tersebut sudah saya kutip di dalam artikel yang diterbitkan di koran Pikiran Rakyat edisi 23 Maret 2020. Ini link-nya
Tambahan penting dari pernyataan WHO adalah bahwa ruang tertutup seperti ruang kelas murid dan ruang kuliah mahasiswa, termasuk ruang rapat. Akan bertambah besar risikonya adalah ruang yang ber-AC. Corona akan menyebar dan berputar-putar di dalam ruang dan dihirup ke paru-paru oleh semua orang di dalam ruangan itu. Hal ini masuk dalam kajian Indoor Air Pollution (IAP). Agak berbeda dengan potensi sebaran Corona di Outdoor Air Pollution (OAP). Tetapi sangat disarankan, meskipun di luar ruang, agar mengenakan masker. Lebih aman lagi kalau ditopengi dengan face shield (tameng wajah).

Namun demikian, terjadi paradoks di masyarakat. Pada masa awal Corona lebih banyak warga masyarakat yang khawatir, takut, bahkan stress terhadap wabah Covid-19 ini. Pada saat itu yang sakit Covid-19 sangat sedikit. Bahkan dilabeli dengan angka oleh pemerintah, seperti penderita 01, 02, 03, dan seterusnya. Sebaliknya pada Juli 2020 ini, ketika penderita makin banyak, bahkan kasus terbanyak selama ini terjadi di Secapa AD di Hegarmanah Kota Bandung, warga hampir tidak khawatir lagi. Banyak yang tidak bermasker di toko, warung, mall, jalan, dll. 

Warga juga banyak yang berwisata dan menikmati kuliner. Bukan tidak boleh, tetapi protocol kesehatan tetap harus dilaksanakan. Namun demikian, wanti-wanti WHO beberapa hari lalu justru menjadi lampu merah, warning keras bagi kalangan yang sudah beranggapan bahwa Covid-19 ini memasuki masa aman. Apalagi kalau betul di Indonesia ada dua macam virus Corona yang dampaknya bisa berbeda. Ini kalau betul, tentu makin besar risiko yang dihadapi warga Indonesia, justru pada masa di puncak kebosanan tinggal di rumah, bosan work from home, bosan kuliah atau belajar di rumah. 

Paradoksnya lagi, pemerintah justru sudah membuka luas kantor dan fasilitas komersial, transportasi kereta api, bandar udara, pelabuhan laut, terminal, dll. Sebentar lagi adalah bioskop, ruang ber-AC yang kedap tertutup. Sungguh patut dipertimbangkan usulan Pak Dahlan Iskan tentang subsidi pemerintah untuk rakyat senilai kurang lebih 125 triliun untuk menghilangkan sebaran Corona. Silakan baca lebih lengkap di website-nya. 

Intinya, saripatinya, bulan kelima wabah Covid ini justru memasuki masa risiko tinggi. Maka, dunia akademik, mulai dari prasekolah, sekolah, hingga kuliah sebaiknya menahan diri dulu. Gunakan fasilitas internet untuk rapat, belajar, mengajar. Keselamatan dan kesehatan anak-anak, cucu-cucu tidak ternilai harganya dibandingkan dengan egoisme sepihak atau parapihak dengan pertimbangan ekonomi dan politik jangka pendek. 

Bagaimana dengan ruang yang tidak ber-AC? Tentu ada beberapa syarat agar aman. Yang pertama, lokasi ruang itu masuk dalam zone hijau menurut kategori gugus tugas Covid-19 setempat. Ini pun dibagi menjadi dua lagi, yaitu (1) ruang yang menerima orang dari berbagai lokasi atau tempat tinggal seperti ruang kantor, dll.; dan (2) ruang yang hanya diisi oleh orang-orang di dalam lingkup terbatas seperti sekolah berasrama (boarding school). Semua murid sudah dinyatakan sehat sebelum masuk ke asrama sekolah dan dilaksanakan protocol kesehatan yang disiplin selama ini. Termasuk semua guru dan pekerja yang ada di dalam lingkup sekolah tersebut. Apabila keluar-masuk setiap hari maka harus dicek minimal dengan thermogun dan bagusnya lagi adalah dengan rapid test rutin atau swab. Biayanya, ini yang harus dicarikan solusinya oleh pemerintah dan sekolah. Kemudian penunjangnya adalah makan makanan sehat, bergizi cukup. Semua makanan terutama sayur harus dimasak, tidak dilalab (dimakan mentah) dan makan buah-buahan yang berkulit seperti pisang. Hindari buah yang langsung dimakan dengan kulitnya seperti anggur, dll.

Yang kedua, ruang tersebut memiliki ventilasi yang bagus. Jendelanya terbuka dan banyak berjejer di dinding ruang. Pintu dibuka selama PBM. Duduk dengan jarak yang cukup, minimal 2 meter. Harus bermasker dan lebih bagus lagi dengan face shield (tameng wajah). Cuci tangan dengan air dan sabun tersedia di luar ruang dan harus antri dengan sabar dan jaga jarak. Disiplin. Yang melanggar selayaknya diperingatkan dan dikenai sanksi hukuman tertentu. Begitu juga ruang tidurnya, tetap dengan protocol kesehatan. Harus banyak ventilasi dan disemprot dengan disinfektan setiap hari oleh murid-muridnya. Minimal dicuci dengan air yang berisi klor (chlorine). Kaporit bisa dibeli di toko kimia setempat atau minta bantuan ke PDAM setempat lewat bupati atau walikota.

Yang ketiga, durasi waktu belajarnya dipersingkat. Tidak lebih dari 45 menit, yang biasanya 90 menit. Pergantian waktu digunakan untuk menyemprot atau membersihkan ruang oleh murid atau petugas. Paparan kognitif untuk sementara ini, selama wabah Covid-19 ini, dikurangi dan ditambah nanti setelah wabah berlalu. Gunakan waktu yang seharusnya kognitif menjadi psikomotorik untuk menguatkan afektifnya. Penambahan ilmunya kecil tetapi penambahan afeksinya lebih besar. Adab, akhlak, mental, karakternya menjadi lebih kuat. 

ReadMore »

8 Juli 2020

H. Usep Romli, HM, almarhum

H. Usep Romli, HM, almarhum

Di dalam postingan seorang teman di Facebook saya baru tahu Rabu, 8 Juli 2020 bahwa Bapak H. Usep Romli, HM sedang sakit. Tampak foto beliau sedang tidur dan di tangannya ada jarum infus. Lokasi perawatan di klinik al Yamin, Limbangan Garut. Saya menuliskan sekalimat doa agar beliau diberikan kesehatan, sehat wal’afiat kembali. Namun satu jam berikutnya saya lantas membaca banyak postingan yang berisi ucapan duka cita. Penulis yang purnatugas sebagai wartawan Pikiran Rakyat dan Galamedia tersebut meninggal sebelum diperiksakan ke RS Al Islam Bandung. Semoga Allah Swt memberikan maghfirah-Nya, memberikan surga firdaus kepada ajengan Bapak H. Usep Romli, HM. Aamiin.

Sebagai Guru
Saya mengetahui sosok beliau dari berbagai jenis tulisan di koran Pikiran Rakyat. Berbagai macam genre tulisan hasil buah penanya nyaris rutin hadir setiap pekan di koran Pikiran Rakyat. Juga di majalah berbahasa Sunda seperti Mangle. Materinya mulai dari cerita pendek, cerita bersambung, opini yang berkaitan dengan ke-Islam-an, laporan liputan dan berita ringkas. Saya juga pernah ikut pelatihan menulis dan jurnalistik yang diadakan oleh Pikiran Rakyat dengan mentor adalah beliau dan Kang H. Enton Supriatna. Acara ceramahnya juga pernah saya hadiri seperti waktu agresi militer Israel atas Palestina khususnya Gaza. Dalam jejak kewartawanannya beliau pernah meliput di Timur Tengah dan Afghanistan.

Setelah purnatugas di Pikiran Rakyat beliau tetap rutin menulis. Sepekan atau dua pekan ada saja muncul buah penanya di koran terbesar di Jawa Barat tersebut. Selain koran, media sosial Facebook menjadi sarana membaca tulisan, pendapat harian tentang masalah pendidikan, sosial, politik, ekonomi, dan budaya Sunda. Beliau adalah guru dalam kegigihan menulis di media massa agar masyarakat menjadi tercerahkan, lewat karya fiksi dan nonfiksi. Tidak banyak penulis yang melakoni dua jenis karya tulis tersebut, yaitu fiksi dan nonfiksi. Banyak yang fokus pada salah-satu saja...
ReadMore »

5 Juli 2020

Buku yang Berkisah tentang Gontor

Buku yang Berkisah tentang Gontor

Wali santri yang baru kali pertama menyekolahkan anaknya ke PMDG, baik putra maupun putri, perlu membaca beberapa buku yang berkaitan dengan pesantren. Yang lebih khusus lagi adalah pesantren modern yang bernama PMDG. Apalagi selama wabah Covid-19 akibat dari virus Corona ini para walisantri disarankan tinggal di rumah saja. Putra-putrinya tetap mondok di PMDG yang terus aktif dari jam ke jam sehingga belum sempat menelepon ayah-ibunya. Padat karya, seperti hari ini ada pagelaran Porseni. Lantas bagaimana cara mendapatkan informasi yang berkaitan dengan PMDG?
Ada beberapa buku, fiksi dan nofiksi, yang memberikan informasi tentang PMDG. Yang nonfiksi seperti buku Manajemen Pesantren, Trimurti, dll. Yang buku fiksi seperti trilogi buku Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, Rantau 1 Muara, termasuk buku Ayat-Ayat Cinta yang berkisah tentang Mesir, sebuah negara yang menjadi salah-satu tujuan alumni PMDG. Buku-buku tersebut memberikan khazanah ilmu dan pengetahuan tentang pesantren. Adapun buku yang tidak khusus membahas PMDG tetapi membahas tentang pesantren di bawah NU (Nahdhatul  ‘Ulama) adalah Tradisi Pesantren oleh Zamakhsyari Dhofier. Tetapi informasi tentang pesantren (tradisional, salaf) menjadi pembanding yang baik untuk pesantren modern (khalaf) seperti PMDG.

Tentu saja buku tidak bisa menggantikan kunjungan ke pondok, melihat langsung putra-putri, bertatap muka, berpelukan, dan makan bersama. Tidak hanya antara orang tua dan santri, tetapi bersama-sama makan nasi dengan teman-teman dari anak bapak-ibu. Mengajak makan siang atau malam, ditraktir oleh orang tua yang sedang di pondok adalah kegiatan sedekah yang menguatkan silaturahim di antara santri. Informasi tentang anak yang sakit bisa juga diperoleh dari temannya yang sehat yang berbaik hati menelpon orang tuanya, sebagai informasi saja, dan tidak perlu cemas berlebihan.

Perihal buku-buku tersebut, isinya memberikan masukan kepada wali santri tentang berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan di PMDG. Semuanya untuk menguatkan santri, menguatkan pondok, dan menguatkan keikhlasan orang tua dengan akronim TITIP: Tega, Ikhlas, Tawakal, Ikhtiar, Percaya. 

ReadMore »

Belajar di Perpustakaan Maya Setelah Pandemi Covid-19

Belajar di Perpustakaan Maya Setelah Pandemi Covid-19
Oleh Gede H. Cahyana

Virus baru yang disebut novel Coronavirus penyebab wabah Covid-19 berawal dari Wuhan di China pada Desember 2019. Di Indonesia wabah ini mulai pada 2 Maret 2020 setelah dua orang sakit akibat virus tersebut. Pemerintah lantas menganjurkan agar pegawai bekerja di rumah, beribadah di rumah, belajar di rumah. Pegawai negeri dan swasta terutama yang bekerja di sektor pendidikan mulai melaksanakan proses belajar-mengajar (PBM) di rumah masing-masing. Guru, dosen, murid, dan mahasiswa menjadi makin akrab dengan internet. Akrab dengan e-mail, aplikasi Zoom, Google Meeting, dan memanfaatkan website dan blog.

Selama PBM tersebut muncul kendala, yaitu kecepatan akses internet. Ada daerah yang kesulitan mendapatkan sinyal. Kendala kedua adalah pulsa dan kuota. Banyak murid dan orang tua mengeluh lantaran kehabisan pulsa dan kuota. Ada karena di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), dirumahkan sementara, atau tidak bisa lagi berjualan karena toko dan warungnya tutup atau sepi pembeli. Ada lagi bermacam-macam sebab yang disampaikan oleh orang tua dan murid yang kesulitan ikut dalam kegiatan belajar-mengajar maya (online).

Adapun murid dan orang tua yang tinggal di kota besar umumnya tidak mengalami kendala dalam PBM maya. Akses internetnya lebih mudah dan cepat. Tetapi tetap ada masalah biaya internet karena di kota juga banyak keluarga kurang mampu tetapi anak-anaknya harus ikut PBM maya. Juga kesulitan mencari sumber-sumber ilmu dari situs yang berkompeten. Banyak juga situs yang populer di internet tetapi memerlukan uang tambahan karena harus membayar kalau diunduh (download), terutama situs berbahasa Inggris, Jepang, Korea, Arab, China, Jerman karena dibutuhkan oleh mahasiswa di prodi tersebut.

Dari tahun ke tahun jangkauan internet semakin luas sehingga menjadi peluang bagi perpustakaan untuk lebih banyak lagi memberikan layanan hingga ke pelosok. Tidak hanya perpustakaan di ibukota negara, yaitu Perpustakaan Nasional tetapi juga perpustakaan daerah. Ada sumber-sumber daya yang tidak tersedia di Perpustakaan Nasional tetapi tersedia di perpustakaan daerah. Begitu juga banyak sumber daya yang tidak ada di koleksi perpustakaan daerah tetapi ada di Perpustakaan Nasional. Interaksi maya semua perpustakaan di Indonesia akan memperluas sumber-sumber ilmu bagi masyarakat. Dunia pendidikan dasar, menengah, dan tinggi makin dimudahkan dalam mendapatkan akses ilmu dan teknologi, termasuk dari beragam bahasa di berbagai negara di dunia.

Perpustakaan maya
Sejak telepon seluler Android berkembang pesat semakin cepat pula perkembangan situs berita dan ilmu pengetahuan. Berkembang aplikasi baru, mulai dari permainan (game), bisnis maya, sampai ke situs berkonten negatif. Seolah-olah terjadi persaingan antara situs yang mendidik dan yang merusak. Yang berpeluang menjadi benteng untuk menangkal situs buruk tersebut adalah perpustakaan. Setiap orang yang mendengar kata perpustakaan maka yang terbayang adalah deretan buku teratur rapi yang ditata di lemari dan rak berderet-deret. Masyarakat meyakini bahwa di perpustakaan tersedia banyak ilmu dan informasi teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Masalahnya adalah keinginan membaca buku yang masih perlu ditingkatkan. Masyarakat sudah mulai senang membaca, minimal membaca tulisan di media sosial. Masyarakat juga sudah mulai menulis, yaitu menulis di media sosial. Percakapan dari mulut ke mulut sudah beralih menjadi percakapan dari tulisan ke tulisan. Keadaan ini bisa dijadikan peluang oleh perpustakaan untuk lebih mengenalkan lagi berbagai macam sumber daya ilmu dan teknologi yang ada di perpustakaan. Perpustakaan harus “menyerang” (dalam tanda kutip) ponsel, laptop dan semua gawai (gadget) yang ada pada setiap orang.

Inovasi yang perlu dilengkapi oleh perpustakaan pascapendemi Covid-19 adalah fasilitas untuk bercerita (story telling) atau layanan kisah (dongeng). Kegiatan bercerita, berkisah atau mendongeng sudah ada sejak dulu. Seorang ibu atau ayah sebelum dasawarsa 1980-an sering mendongeng kepada anak-anaknya. Bahasa yang digunakan biasanya bahasa daerah karena kisah yang dituturkan adalah kisah di daerah tempat tinggalnya. Juga pada waktu itu masih banyak orang tua yang buta huruf dan tunabahasa Indonesia. Tentu ada yang berbahasa Indonesia, umumnya orang tuanya sudah terdidik, lulusan SMA atau perguruan tinggi.

Kegiatan mendongeng ini membekas di dalam alam bawah sadar anak-anak sehingga menjadi memori yang diingat sampai beranak cucu. Sumber dongeng yang terbatas dan diulang-ulang pada dekade sebelum 1980-an itu karena orangtua sulit memperoleh buku. Pendidikan juga tidak tinggi karena di desa atau di kota kecamatan belum ada sekolah. Orang tua yang tunaaksara latin tersebut memiliki beberapa dongeng yang diperolehnya secara turun-temurun dari kakek, nenek, ayah, ibunya. Didukung juga oleh tradisi masyarakat Indonesia yang lebih banyak bertutur daripada membaca dan menulis. Fakta tersebut dapat dimaklumi karena pada masa sebelum 1980-an, apalagi sebelum 1970-an, lebih banyak rakyat Indonesia yang tidak bersekolah. .

Pada zaman sekarang kondisi daerah sudah berbeda. Kebiasaan mendongeng dulu itu bisa diadopsi dan diadaptasi untuk keperluan zaman sekarang ketika internet sudah luas jangkauannya dan perangkat elektronik seperti laptop dan telepon seluler semakin banyak digunakan. Apalagi setelah wabah Covid-19 ini tentu makin menguatkan peran perpustakaan sebagai sumber belajar. Pendidikan menjadi terbantu dan pencerdasan kehidupan bangsa, seperti amanat Pembukaan UUD 1945, lebih bisa dicapai. Buta huruf makin berkurang sampai ke desa karena interaksi sosial di dalam keluarga yang setiap hari bisa mengakses ilmu dan teknologi dari perpustakaan. Maka peluang kerjasama antara Perpustakaan Nasional dan provider internet makin terbuka dan saling menguntungkan. Terutama menguntungkan bangsa Indonesia karena dapat memperbanyak jumlah orang yang berilmu sehingga peluang temuan teknologi baru bisa bertambah signifikan per tahun.

Masyarakat berilmu dikuatkan pembentukannya oleh Perpustakaan Nasional melalui PBM sesuai dengan segmennya. Misalnya segmen untuk balita, TK, SD, SMP, SMA, SMK, santri, dan mahasiswa. Segmen yang banyak diakses adalah segmen anak balita, TK, dan SD. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI),1 jumlah anak di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 90 juta orang atau 33% dari jumlah penduduk Indonesia. Jumlah ini bisa dimanfaatkan oleh play group, TK dan SD di seluruh Indonesia. Guru menjadi fasilitator atau pembimbing selama PBM. Guru bisa menirukan aksi atau peran yang ada di video yang diakses di situs Perpustakaan Nasional. Murid juga bisa membaca dan menyimak dari telepon seluler orang tuanya dan bisa dilaksanakan di rumah masing-masing. Kegiatan PBM bisa dimanfaatkan oleh orang tua yang melaksanakan home schooling. Orang tua yang memiliki waktu bisa melaksanakan pendidikan anak-anaknya dengan memanfaatkan perpustakaan maya. Untuk orang tua yang bekerja di kantor maka pendidikan anak-anaknya diperoleh di sekolah formal yang juga mengakses perpustakaan maya.

Untuk memperkaya khazanah ilmu dan teknologi, maka perpustakaan menyiapkan materi berupa tulisan dan video yang disesuaikan dengan kurikulum sekolah. Materi tulisan atau buku dan video disiapkan dengan melibatkan guru dan pakar pendidikan. Pembaruan materi dilakukan secara berkala dengan melihat perkembangan ilmu dan teknologi. Pustakawan menyiapkan dan menelusuri sumber-sumber ilmu dan teknologi terbaru kemudian memberikan kepada tenaga ahli yang mengelola situs untuk diunggah (uploaded) sehingga tersedia kebaruan dari waktu ke waktu secara rutin. Pustakawan juga berinteraksi dengan guru, ustadz, kyai, dosen, peneliti, dan aparatur pemerintah untuk menyiapkan materi ilmu dan teknologi yang diunggah di situs perpustakaan. Sumber-sumber ilmu ini terus ditambah dan diluaskan untuk memperkaya khazanah sumber daya perpustakaan.

Dengan demikian bisa dikatakan, wabah Covid-19 ini seperti blessing in disguise bagi perpustakaan. Ada hikmah bagi pengembangan perpustakaan untuk pendidikan, khususnya pembelajaran di semua tingkat sekolah dan perguruan tinggi. Maraknya belajar maya selama wabah Covid-19 menjadi inspirasi bagi dunia perpustakaan. Perpustakaan mampu meraih kembali kata-kata mutiara sebelum dekade 1990-an, yaitu perpustakaan adalah sumber ilmu. Buku adalah jendela dunia. Keliling dunia di dalam perpustakaan. Semua ilmu itu berada di dalam video, audio, dan file-file atau naskah ilmu dan teknologi. Sumber daya klasik yang dimiliki perpustakaan bisa dialihkan bentuknya menjadi digital. Sumber tradisional seperti buku, jurnal, manuskrip menjadi bagian dari kegiatan pustakawan untuk menyiapkannya ke dalam bentuk yang bisa dibaca, dilihat, diunduh di internet.

Tahap digitalisasi
Untuk mewujudkan ide tersebut maka tahap digitalisasi (digitalization)2 menjadi penting. Prioritas pertama diberikan kepada anak usia dini dengan produk digital berupa buku bergambar dan video tentang pendidikan akhlak, etika, budi pekerti. Perpustakaan menyediakan layanan yang mudah diakses oleh anak, guru, dan orang tua. Materi pembelajaran juga dilengkapi dengan tugas yang bisa diunggah secara interaktif. Sekolah formal, informal, dan nonformal bisa memanfaatkan materi tersebut. Juga dilengkapi dengan fasilitas mendongeng, bercerita, berkisah. Perpustakaan mampu membentuk karakter anak dengan memanfaatkan cerita-cerita klasik yang timbul di masyarakat. Cerita asli daerah dan suku-suku yang ada di Indonesia, disiapkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Pembentukan generasi masa depan bangsa Indonesia dimulai dari perpustakaan yang memiliki khazanah budaya asli semua suku bangsa, semua agama yang diakui oleh negara Republik Indonesia.


Untuk membiayai situs tersebut perpustakaan memperoleh pendapatan dari iklan yang ditayangkan, yaitu iklan yang berkaitan dengan pendidikan, pembelajaran yang diperkuat oleh peraturan pemerintah dalam izinnya. Pendapatan itu pun digunakan lagi untuk memperoleh sumber-sumber ilmu dari seluruh dunia agar materi yang dimiliki perpustakaan bisa bertambah sehingga tidak membosankan bagi anak-anak, murid, dan mahasiswa. Perpustakan akhirnya bisa menjadi agen perubahan ke arah yang lebih baik untuk generasi masa depan bangsa Indonesia. Pendidikan dilaksanakan dengan memanfaatkan perpustakaan maya yang ada di genggaman tangan murid dan mahasiswa.*
ReadMore »