• L3
  • Email :
  • Search :

18 Januari 2008

Air Tak Berekening, Non-Revenue Water

Tak mungkin tak ada kehilangan air. Sekecil apapun, kehilangan air selalu terjadi di setiap jaringan pipa, tak hanya di PDAM tapi juga di semua perusahaan air minum di seluruh dunia. Bedanya adalah tingkat atau persentasenya.

Namun demikian, istilah kehilangan air atau Unaccounted for Water, UfW ini sudah dihapus oleh IWA Task Force karena variasi interpretasinya terlalu luas sehingga tak bisa dibandingkan antarnegara atau tak berlaku secara global, mendunia. Istilahnya diganti dengan sebutan Air Tanpa Rekening atau Air Tak Berekening (ATR) atau Non-Revenue Water (NRW).

Ada banyak sebab kehilangan air (Water Losses menurut terminologi IWA Best Practice). Misalnya, karena kebocoran fisik (Real Losses) seperti pipa pecah, retak, sambungan tak ketat, juga karena kebocoran nonfisik (Apparent Losses) seperti pencurian air, kerusakan meter air, kesalahan (baca) data, dll.

Selain itu, meskipun kecil persentasenya, ada juga akibat air tak berekening lantaran dipakai oleh pemadam kebakaran atau diberikan cuma-cuma (gratis) lewat kran umum. Kasus seperti ini dimasukkan ke dalam kelompok konsumsi resmi tak berekening (Unbilled Authorized Consumption). Jumlah Water Losses dan Unbilled Authorized Consumption disebut Non-Revenue Water (Air Tanpa Rekening, ATR).

PDAM Kota Bandung
Kehilangan air dengan segala modusnya terjadi juga di PDAM Kota Bandung. Sekira 52% air produksinya masuk kategori ATR. Namun demikian, menurut hasil survei internal PDAM, kebocoran itu berada pada rentang 60-70% di Kel. Isola dan Ledeng. Artinya, tingkat ATR di dua daerah tersebut lebih tinggi daripada angka reratanya. Andaikata bisa direduksi menjadi sama dengan reratanya sudah merupakan hal positif, apalagi lebih rendah daripada itu.

Sebagai perbandingan, pada tahun 1989 tingkat ATR di Singapura 10,6%, menjadi 6% pada 1994 dan hanya 5% pada tahun 2000. Semua air produksi dan konsumsinya terukur akurat dan meter air produksinya ditera setiap tahun. Meter pelanggannya diganti per 7 tahun, meter industrinya per 4 tahun. Contoh lainnya di Belanda. Pipa sepanjang 400 km di negeri kincir angin itu hanya 7% airnya yang hilang. Relatif sangat rendah.

Untuk mencapai reduksi ATR itu bisa digunakan pendekatan langsung, yaitu survei ke setiap pelanggan dan penduduk di daerah studi. Fokus kunjungan ialah mencatat sejumlah poin yang ada di dalam kuesioner, seperti mendeteksi dan supervisi perbaikan kebocoran pipa dan fitting, dan menduga lokasi terjadinya kehilangan air nonfisik (pencurian air, illegal connetion). Termasuk data potensi perluasan pelanggan yang mungkin berminat menjadi customer PDAM suatu saat kelak.

Juga dapat memperbaiki database pelanggan agar dapat digunakan oleh PDAM untuk meningkatkan kualitas layanannya, juga untuk meraih peluang perluasan (penambahan) jumlah pelanggan potensial. Sisi ini tentu berkaitan dengan raihan data dan gambaran akurat tentang kondisi sosial ekonomi warga setempat. Juga untuk menghitung persentase ATR dan mereduksinya sampai sekecil-kecilnya sehingga “air yang terselamatkan” dapat dijual kepada (calon) pelanggan baru.

Penambahan pelanggan akan dapat mereduksi ATR. Ada “aturan tak tertulis” bahwa daerah yang rendah layanan PDAM-nya justru tinggi ATR-nya. Misalkanlah ada daerah studi, yaitu Isola dan Ledeng. Keduanya menerima air dari BPT3 yang terletak di Jl. Sersan Bajuri. Dari BPT3 ini dipasang dua ruas pipa: yang pertama sepanjang kurang lebih 800 meter, melayani 26 konsumen (sambungan rumah, SR) di Cihideung; ruas kedua berupa pipa transmisi, berada di Jl. Sersan Sodik, sepanjang kurang lebih 3 km, berakhir di BPT5. Di BPT5 ini belum ada flow meter. Dari BPT5 ini air dialirkan ke Kelurahan Isola dan Ledeng (termasuk perumahan Dream Hill). Batas Selatan daerah layanan berada di Jl. Geger Kalong Girang untuk zone Isola dan Jl. Kapten Abdul Hamid (Panorama) untuk zone Ledeng.

Dua zone tersebut lantas dibagi menjadi tiga subzone, yaitu daerah Utara (disebut subzone 1), daerah tengah (subzone 2), dan daerah Selatan (subzone 3). Masing-masing melayani sekira 300 SR. Jumlah total pelanggan di dua zone studi tersebut 1.000 SR. Debit air yang dialirkan pipa transmisi sekira 40 l/d, dengan ATR antara 60% dan 70%. Dari sisi tekanan, terdeteksi reratanya lebih besar daripada 1 atm dan pasokannya 24 jam.

Upaya Reduksi ATR
Bagaimana tahap kegiatan yang harus dilaksanakan? Secara garis besar, tahapnya sebagai berikut.
1. Persiapan, Koleksi, Analisis Data Sekunder
Menyiapkan rencana detil pekerjaan. Mengumpulkan dan menganalisis data sekunder, menghitung tingkat ATR yang ada, baik skala PDAM maupun skala pilot studi.
2. Pembentukan Pilot Zone
Merencanakan sistem zoning, memeriksa kondisi katup dan meter induk air yang terpasang, mengawasi perbaikan dan pemasangan katup/meter air dan test isolasi zone.
3. Pengukuran dan Survei Lapangan
  • Pengukuran “minimum night flow”, “pola aliran”, dan “tekanan air” di lokasi zone selama 2 x 24 jam (2 kali pengukuran).
  • Mengukur konsumsi air konsumen, 2 x 24 jam (2 kali pengukuran).
  • Mengukur tekanan air di sejumlah titik di pilot zone, 2 x 24 jam (2 kali pengukuran).
  • Mencari titik-titik kebocoran.
  • Melaksanakan step test.
  • Mensupervisi perbaikan kebocoran.
  • Menginspeksi pelanggan, memeriksa kebocoran di pipa dinas, mengukur akurasi meter air dan mendeteksi sambungan ilegal.
  • Mengaudit meter air.
  • Menganalisis Water Balance nol (sebelum pelaksanaan program) dan Water Balance satu (setelah pelaksanaan program).
  • Menganalisis hasil program ATR, termasuk tingkat ATR-nya, tekanan air dan cost benefit analysis.
Gede H. Cahyana
ReadMore »

13 Januari 2008

Oom Pasikom

Menerima undangan untuk menghadiri “Pameran 40 th Oom Pasikom” pada Kamis, 17 Januari 2008 nanti, saya agak lama tercenung. Bukan apa-apa, ternyata aliran waktu ini begitu cepat berlalu, melesat lepas ke ujung lain tanpa terasa. Sungguh tak terasa. Dua pekan lalu kita memasuki tahun baru Masehi dan tiga hari lalu tahun baru Hijriyah. Keduanya menjadi patok masa yang memutar parabola kala, bukan lingkaran kala. Sebab, time series hidup ini bukanlah siklus melainkan linier dan kalau dianalogikan dengan usia manusia, maka hidup ini serupa benar dengan parabola. Inilah matematika hidup.

Tak terasa, sudah 40 tahun usia Oom Pasikom. Bagi ukuran orang Indonesia, mungkin juga ukuran umum manusia di Bumi ini, usia 40 dianggap usia matang. “Hidup mulai pada usia 40”, begitu kata orang. Bisa juga dikatakan, usia ini adalah awal goncangan pertama, awal kelabilan manusia. Tak sedikit yang mengalami masa pubertas kedua sehingga mulai larak-lirik perempuan lain selain istri, mulai lagi berdandan a la anak muda belia belasan dan likuran tahun. Tua-tua keladi makin tua makin menjadi (mudah-mudahan makin menjadi baik).

Itulah fenomena sosok manusia yang memasuki usia 40 tahun. Bagaimana dengan “manusia” bernama Oom Pasikom? Saya termasuk penggemar Om ini. Kalau di Amerika Serikat ada yang namanya Uncle Sam, maka di Indonesia ada yang bernama Uncle Pasikom. Ketika membaca Kompas, tak pernah lupa saya menggiliri sentilan Om ini. Apalagi gaya kartunnya sederhana dan pas serta mudah dipahami maknanya. Betapa tidak, dengan gaya olah tulis dan grafisnya, paduan dua karakter ini menghasilkan kritikan sambil minum kopi. Yang dikritik seperti diberi kopi nikmat sehingga tak lantas menyakitkan hati tetapi membenarkan fenomena yang dikatakan Si Om.

Namun demikian, meskipun dia adalah “Om saya”, tetapi usianya tak terpaut banyak dengan saya. Malah saya sepantaran dengan “Om ini”. Di dunia nyata bahkan ada yang Omnya berusia lebih muda daripada Sang Om. Bahkan ada anak usia SD yang sudah menjadi Om dan usia keponakannya justru jauh di atasnya, setara dengan anak usia SMA. Ini banyak terjadi di Indonesia terutama di kalangan ningrat yang memiliki istri lebih dari satu. Ada yang malah empat istri resminya dengan anak mencapai tiga puluhan. Wajarlah kalau seorang Om akhirnya berkeponakan yang jauh lebih tua usianya ketimbang usia dirinya.

Itu sekadar intermezzo. Mari kembali ke soal Si Om ini. Semoga ultah ke-40 Om Bertopi ini makin memajukan “orang tua” Si Om, yaitu ibunya yang bernama Kompas. Semoga Kompas Jawa Barat pun kian berkembang dan menjadi koran kuat di tatar Sunda ini serta kuat pula semangat untuk membela kebenaran, objektif dalam berita dan selektif objektif dalam memuat artikel opini (terutama dari penulis freelancer), menulis kritik berimbang dari semua sisi dan terus memupuk para penulis muda sebagai pilar ketiga dalam kemajuan media. Serta..., spesial buat Kompas Jawa Barat, ini hasil obrolan dengan teman-teman, tolong cepat tambah jumlah halamannya. Makin tebal, tentu makin seru, ok...?!

Akhir kata, selamat berpameran, semoga Galeri Soemardja ITB menjadi saksi jejak langkah Om ini. Pameran untuk umum dibuka pada 18 s.d 27 Januari 2008, mulai pk. 09.00 s.d 16.00 WIB.

Demikian Om, dan ‘met ultah. Good luck Mr. GM Sudarta.
ReadMore »

7 Januari 2008

PLTSa: Jebakan Nikmat

Sejak paruh kedua Desember 2007 sampai Senin, 7 Januari 2008 ini, kota lembah raya di cekungan Bandung kian semarak dengan lautan spanduk. Khas sekali kalimat di spanduk itu. Dengan beragam warna, spanduk yang dipasang di banyak sudut dan prapatan jalan itu menambah suntuk pemandangan. Ada yang dipasang di pagar lahan kosong tepi jalan, ada yang diselipkan di antara dua pohon, ada juga di tempat resmi untuk space iklan. 

Yang membuat orang bertanya-tanya, semua kalimat di spanduk itu berisi klaim dari organisasi, LSM, forum, ormas (Islam, belum saya lihat ada ormas non-muslim), dll, dan selalu mengatasnamakan orang banyak. Ada yang mengatasnamakan tokoh masyarakat atau sekumpulan organisasi yang sarat orang-orang pro-PLTSa. Bahkan ada partai politik dan ormasnya yang gegap gempita mengusung PLTSa. Dari sejumlah diskusi ada dugaan bahwa tokoh partai ini terlibat dalam investasi miliaran rupiah atau paling tidak, mereka memperoleh keuntungan finansial dan nonfinansial kalau PLTSa jadi dibangun.

Tak perlu saya tuliskan kalimat yang mengisi setiap spanduk itu karena banyak jenisnya. Ada yang kalimatnya tidak baku, tak sesuai dengan kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Saya akui, saya bukanlah ahli bahasa, bukan linguis ataupun munsyi. Meskipun sedikit, saya tahu ada sejumlah kaidah dalam bahasa Indonesia yang pernah saya pelajari di sekolah. Apalagi tak sedikit ejaan PLTSa itu ditulis dengan PLTSA. Aneh memang. Dulu, ketika dinamai dengan istilah gagah dalam bahasa Inggris, yaitu Waste to Energy, saya katakan bahwa itu sesungguhnya Wasted Energy. Singkatannya lantas diubah menjadi PLTS. Kemudian saya katakan bahwa PLTS sudah lumrah dijadikan singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Akhirnya, digunakanlah PLTSa sebagai singkatan sampai sekarang. 

Jenuh! Sebetulnya saya sudah jenuh membahas PLTSa. Sebab, semua yang saya tulis secara garis besar sudah masuk ke wilayah inti dari ancaman PLTSa terhadap ekologi, lingkungan dan manusia. Tak ada lagi yang mesti dibahas karena hanya akan menjadi debat kusir tanpa solusi. Pihak pemkot dan kawan-kawannya pasti akan berseberangan dengan yang kontra-PLTSa dan susah dipertemukan. Dan yang pasti, pemkot punya uang, wewenang, dan peluang. Pemkot adalah eksekutif sekaligus eksekutor dalam semua masalah warga di Bandung. Apalagi pemkot sudah berikrar bahwa PLTSa harus seharus-harusnya, wajib sewajib-wajibnya dibangun tanpa peduli atas apapun hasil kajian Amdalnya. Harga mati ini senantiasa didengung-dengungkan di setiap “jumpa fans” dengan masyarakat. Bahkan sudah masuk ke wilayah agama dengan melibatkan ulama dan “ulama”. Seorang teman berkata, ulama itu ada dua, ulama baik dan ulama buruk. 

Dalam setiap “temu fans” dan “sarasehan” itu, warga awam dininabobokan oleh alat yang menyulap sampah menjadi listrik. Semua sampah akan lenyap dari Bandung sekaligus menghasilkan listrik. Begitu katanya. Padahal yang diubah hanya sebagian kecil dari volume total sampah Bandung, yakni 5.000 m3 per hari. Angka ini setara dengan 1.250 ton per hari atau 1.000 gajah per hari (ini menurut hitungan Pak Sobirin dari DPKLTS). Artinya, tetap saja diperlukan TPA sanitary landfill dan composting. Andaikata dana studi untuk tim ITB dan biaya pembelian serta pembangunan PLTSa itu diarahkan untuk pemberdayaan masyarakat dalam mengelola sampahnya, hasilnya justru akan makin mendidik masyarakat agar kian peduli pada kotanya. Sebab, PLTSa akan mengajak masyarakat untuk terus membuang sampah tanpa upaya mengelola dan mengolahnya. 

Akibatnya, warga akan kian terbuai oleh kenikmatan semu. Semua semu! Mereka menjadi cuek dan dengan mudah saja membuang sampah, asal lempar, asal buang dan merasa aman dari potensi bahaya akibat polusi udara PLTSa. Padahal, tiada satu alat pun di dunia ini yang efisiensinya 100 persen. Tidak ada! Terlebih lagi kalau sudah dimakan usia, sudah bertahun-tahun umurnya. Sekecil apapun potensi polusinya, lama-lama akan terkumpul, menumpuk, terakumulasi lalu menjadi ancaman yang signifikan. Kalau boleh dianalogikan, sesungguhnya PLTSa serupa benar dengan kisah beruang kutub dan orang Eskimo. Orang-orang yang pro-PLTSa seolah-olah menjadi beruang kutub yang terlena ketika merasa nyaman menjilati darah. 

Kata sahibul hikayat, inilah kisahnya. Konon, Kutub Utara tak bisa dipisahkan dengan orang Eskimo. Orang Eskimo pun tak bisa dipisahkan dengan ikan dan beruang kutub. Karena dingin lingkungannya dan di mana-mana tampak bekuan es memutih, orang-orang Eskimo selalu mengenakan baju tebal. Bahannya adalah kulit beruang. Bagaimana cara mereka menangkap beruang? (Ada juga kisah dengan versi serigala, bukan beruang. Tetapi yang penting dari kisah ini adalah substansinya, bukan jenis hewannya).

Unik cara mereka membunuh beruang (serigala). Melawannya dengan duel ataupun mengeroyoknya tentu berisiko tinggi. Ada satu cara cerdik yang digunakan, yaitu dengan melumuri pisau tajam dengah darah binatang lain. Mereka rendam pisau itu di dalam darah hewan dan dibiarkan membeku. Pisau tersebut lantas ditancapkan di sekitar tempat main beruang (serigala). Dengan penciuman yang tajam, beruang (serigala) itu dapat mengendus bau darah dari jarak jauh dan berupaya mencarinya.

Tanpa curiga dan takut, hewan itu lalu menjilati darah di pisau. Karena tajam, lidah dan moncongnya mulai luka berdarah. Makin lama dia makin asyik menikmati darah itu sekaligus menjilati darahnya sendiri. Karena dingin, rasa sakitnya tidak terasa. Nikmat saja. Lama-lama darah di tubuhnya makin sedikit, akhirnya lemas terkulai tak berdaya. Saat inilah orang Eskimo memanfaatkan kesempatan. Mereka bisa membiarkan beruang itu mati lemas atau agar cepat prosesnya mereka lantas menusuknya dengan tombak di bagian jantungnya. 

Pelajaran apa yang bisa diambil dari hewan itu? Terlena! Terlena oleh klaim kenyamanan fatamorgana PLTSa akan mengantar manusia ke daerah bencana. Pelan tapi pasti, kesehatannya digerogoti polusi yang disebarkan PLTSa. Tak hanya yang di dekat PLTSa, tapi semua warga di cekungan Bandung Raya terkena dampaknya. Sebab, polutan udara bisa dihembus angin ke segala arah dan berputar-putar. Akhirnya..., semua orang sadar ketika sudah terlambat. Lantaran obsesi satu atau segelintir orang untuk alasan ekonomi, politik, dan kekuasaan, akhirnya jutaan orang kena getahnya. Lantaran satu orang yang melubangi perahu, banyak orang akhirnya tenggelam. Maka, detik-detik petaka ekologi di tatar Bandung akhirnya mewujud pelan-pelan. Kematian bakal menjemput dalam keheningan. Selamat tinggal masa kenyamanan. Selamat datang masa kesakitan. 

Bagaimana dengan saya? Saya adalah warga Bandung, ber-KTP kota pegunungan ini. Apa yang saya lakoni dalam kancah sampah & PLTSa ini adalah bentuk kepedulian saya kepada warga yang bakal kena ancaman serius dari PLTSa. Saya, istri dan anak-anak, juga saudara dan kawan-kawan saya, sahabat saya, dan orang-orang yang tidak saya kenal, semuanya di ambang bahaya. Namun, apapun yang bakal terjadi, andaikata esok lusa PLTSa tetap dibangun, saya tidak merasa kalah. Bagi saya, di sini tidak ada pecundang, yang ada hanya pemenang. Menang memang tak harus memegangnya, bukan? Yang penting bagi saya, saya sudah memberikan masukan kepada Pemkot Bandung dan kalangan yang pro-PLTSa. 

Andaikata besok, Selasa, 8 Januari 2008 pemkot jadi meletakkan batu pertama pondasi PLTSa atau diawali dulu dengan menanam pohon, saya hanya bisa berdoa. Ya Allah, ampunilah kesalahan saya apabila saya tidak mampu membatalkan laju pembangunan PLTSa itu. Lindungilah kesehatan warga yang tak berdaya karena tak punya kuasa, tiada power, tiada uang dan wewenang. Ya Allah, berilah kami pejabat (dan pemimpin) yang memiliki rasa populis, memihak rakyat, membela yang benar, bukan yang bayar. Wallahu ‘alam.*

Bandung, 7 Januari 2008.
Gede H. Cahyana
ReadMore »

23 Desember 2007

Jangan Anak Tirikan Warga Cempaka Arum...!!!

Di bawah ini adalah tulisan ringkas anggota DPRD Kota Bandung dan FPKS. Saya unduh dan lekatkan di blog ini agar dapat dibaca oleh rekan-rekan. Untuk mengunjungi situs aslinya dapat diklik di sini.


adi wahyono

Kontroversi Pembangunan PLTSa yang akan di bangun di kelurahan Ranca Numpang Kec. Gede bage terus berlarut – larut bahkan sampai pengunduran jadual peletakan batu pertama di undur sekitar 5 kali, dan sampai dengan sakarang kurang lebih 2800 warga sekitar PLTSa Perumahan Griya Cempaka Arum masih ketat bersih keras menolak bahkan cenderung kurang didengar aspirasinya. Seyogyanya untuk menyelesaikan masalah ini jangan sampai menganaktirikan warga.khususnya disekitar PLTSa. Demikian diungkapkan Adi Wahyono Angota DPRD Fraksi PKS DP 6. Mereka harus lebih diperhatikan. Karena Mereka akan merasakan dampak terdekat dari PLTSa, lanjutnya. Bahkan seharusnya Walikota bersedia datang langsung mendengarkan keluhan permasalahan dan aspirasinya untuk diberikan solusi cerdas sehingga win-win solution dapat di peroleh.



Saya, Gede H. Cahyana, bersyukur ada anggota dewan yang masih peduli pada orang-orang Bandung, khususnya warga di Griya Campaka Arum dan sekitarnya. Hanya segelintir anggota dewan yang peduli pada kesehatan paru-paru orang di Bandung Raya. Sebagian besar sudah solid bergabung dengan eksekutif dalam upaya membangun PLTSa. Bahkan Prof. Otto pun yang notabene 50 tahunan menggeluti ekologi dan konservasi lingkungan ditolak mentah-mentah oleh anggota dewan yang baru kemarin sore belajar lingkungan.
ReadMore »

11 Desember 2007

Warning: Global Warming!

Warning: Global Warming
Oleh Gede H. Cahyana

Tanggal 3 s.d 14 Desember 2007 Bali menjadi fokus mata dunia. Tak kurang dari 189 utusan negara berkumpul dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim dengan tema krusial: penghangatan (warming) atau pemanasan Bumi. Bersamaan dengan itu, masalah lain terus menguntit seperti lubang ozon dan pencairan es di kutub. Yang tak kalah penting ialah ledakan populasi berpola geometric growth. 

Dunia Paradoks
Pesat sekali pertumbuhan penduduk Bumi. Tahun 1950-an hanya 2,5 miliar orang. Dalam tempo 55 tahun menjadi 6,2 miliar orang. Pada akhir 2007 ini 6,5 miliar orang dan 1,5 miliar berada di bawah garis kemiskinan. Satu miliar di antaranya hidup di negara berkembang. Dekade lalu, dengan populasi hanya 20% dari populasi total, negara maju mengonsumsi 80% kayu hutan. Konsumsi satu bayinya setara dengan 15 bayi di negara miskin. Negara kaya pun membuang limbah terbanyak, mencapai 90%, termasuk limbah B3 dan melepas 90% CFC (chlorofluorocarbon), senyawa pelubang lapisan ozon. 

Parahnya lagi, karbondioksida (CO2) terus bertambah akibat penggunaan BBM, zat kimia dan penebangan hutan. Per tahun saja, 1% hutan tropis di Bumi ini lenyap sehingga mereduksi fotosintesis yang berdampak pada kenaikan temperatur Bumi. Tibet yang biasanya dingin misalnya, temperatur udaranya pernah mencapai 25 derajat Celcius selama 23 hari. Permukaan air laut pun naik di Kep. Bermuda, Hawaii, Fiji dan pencairan gunung es Gangotri, India dan es di Peg. Andes di Peru. Bukti lainnya, dekade terpanas terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an dan tahun terpanasnya ialah tahun 1998, 2001, dan 2005. 

Kalau pemanasan itu terus berlanjut, pada tahun 2100 diduga muka air laut naik antara 15 – 95 cm sehingga pulau-pulau kecil tenggelam, pantai menyempit, intrusi makin jauh ke darat. Terjadi reduksi luas pulau sehingga timbul masalah demografi dan gangguan kesehatan seperti malaria, demam berdarah, filariasis, flu burung, SARS (pernapasan akut). Juga memicu gelombang panas yang jauh lebih ganas dan makin luas paparannya, seperti kejadian di kawasan Amerika- Eropa. Badai Noel, topan Katrina, puting beliung terjadi di mana-mana, terakhir di Bangladesh yang diporak-porandai oleh badai Sidr yang menewaskan 2.400-an orang. 

Pola hujan dan salju pun berubah, mengubah pola siklus hidrologi, mengganggu suplai air bersih. Intrusi mengasinkan sumur, memperluas krisis air. Karena terjadi ledakan jumlah penduduk, muncullah ancaman kekurangan pangan sehingga makin luaslah eksploitasi lahan baru di gunung, bukit, hutan, dan dataran banjir. Semuanya terpaksa dieksploitasi demi penyediaan kebutuhan pangan. Di satu daerah terjadi banjir pantai, di daerah lain justru kekeringan. Hadirlah paradoks iklim dan cuaca di seluruh dunia. Keragaman hayati berkurang, spesiesnya punah, gagal panen dan kelaparan meluas. Yang paling menderita tentu saja masyarakat miskin. 

Semua fenomena di atas berkaitan dengan efek rumah kaca (greenhouse effect). Ilustrasinya begini. Andaikan kita berada di dalam mobil, di bawah panas matahari. Akan terasa ada peningkatan panas apalagi ditambah dengan CO2 hasil pernapasan kita. Makin banyak orang di dalam mobil, makin cepatlah terasa panas. Atmosfer Bumi pun dapat diserupakan dengan atap kaca yang tembus cahaya sehingga sinar matahari dapat masuk dan sampai ke permukaan Bumi lalu dipantulkan kembali ke atmosfer. Hanya saja, pantulan sinar inframerah (gelombang panjang) dihalangi gas rumah kaca sehingga berbalik memantul ke Bumi. Inilah yang meningkatkan panas muka Bumi. Contoh yang jelas ialah sesaat sebelum hujan ketika ada banyak awan (uap air) sehingga temperatur terasa lebih panas dan berakhir setelah hujan turun.

Jika demikian, jahatkah efek rumah kaca? Tidak! Sebab, secara alamiah efek ini menguntungkan karena temperatur Bumi menjadi hangat. Efek yang dikendalikan oleh gas beratom dua atau lebih ini menyerap inframerah di Troposfer. Masalahnya, konsentrasi CO2 dan gas lainnya terus meningkat sehingga pemanasan Bumi menjadi tak terkendali, temperaturnya terus naik dan diistilahkan dengan Global Warming (GW). Pada kasus ini kondisi Bumi sudah lampu kuning dan tanda peringatan waspada (warning) telah menyala. 

Tanggung Jawab?
Siapa yang bertanggung jawab atas GW? Tentu saja semua negara! Namun, jika dikaitkan dengan CO2, maka yang paling bertanggung jawab ialah negara industri karena merekalah yang terbanyak mengemisi CO2. Sekadar contoh, emisi orang Amerika Serikat (AS) lima kali lebih besar daripada orang Meksiko, bahkan 19 kali lebih besar daripada orang India. Walaupun hanya 20% orang tinggal di negara maju tetapi kontribusinya 63% dari total emisi. Memang betul, kalau dihitung berdasarkan negaranya, maka Cinalah pengemisi terbesar lantaran jumlah penduduknya memang terbanyak. Namun secara individu emisi tujuh orang Cina setara dengan satu orang AS. Tujuh orang setara dengan satu orang!

Terkait dengan CO2 tersebut, tanggung jawab terbesar haruslah dipikul oleh negara maju seperti AS. Sama sekali keliru membandingkannya dengan Cina dan India meskipun banyak penduduknya. Sebab, emisi gas rumah kaca khususnya CO2, tidak berkorelasi linier dengan jumlah populasi secara langsung. Bisa saja penduduk suatu negara sangat banyak tetapi sebagian besar bergerak di sektor pertanian. Meskipun, memang, pertanian juga menjadi kontributor gas rumah kaca, khususnya setelah panen padi tapi tidak sebanyak yang diemisikan oleh industri dan transportasi. 

Di situlah letak kekeliruan AS dalam menanggapi kesepakatan reduksi aktivitas ekonomi (industri dan transportasi). Padahal yang dideritanya juga dialami negara-negara maju lainnya, kelompok G7 (Kelompok Utara). AS merasa Protokol Kyoto adalah “penggusuran” terhadap aktivitas ekonominya sekaligus menentang Deklarasi Stockholm, sebuah komitmen bersama tentang pembangunan (industri) ramah lingkungan yang terlanjutkan. Juga melawan kesepakatan perlindungan lapisan ozon yang diputuskan pada Konvensi Wina tahun 1985, sebagai “landmark” aksi lingkungan dan Protokol Montreal tahun 1987 dengan serial amandemennya tahun 1990 di London, 1992 di Kopenhagen dan di Wina lagi pada 1996.

Lebih jauh lagi, AS pun mengingkari KTT Bumi di Rio de Janeiro pada Juni 1992 dengan Agenda 21 Globalnya yang merupakan cetak-biru sustainable development abad ke-21. Ketika itu, di bawah Konvensi Perubahan Iklim, negara-negara maju setuju mereduksi emisi gas rumah kaca. KTT Bumi plus 5 pun telah dilaksanakan di kota yang sama pada Juni 1997 dengan spirit serupa. Kemudian, Protokol Kyoto 1997 yang dimasalahkan oleh Presiden George W. Bush adalah lanjutan dari Protokol Montreal 1987. Isinya masih berorientasi pada reduksi emisi gas rumah kaca dan perusak ozon Stratosfer seperti metana, karbondioksida, kloroflorokarbon, halon, karbon tetraklorida dan metil kloroform. 

Selain GW, efek yang juga riskan ialah hujan asam (hujas) atau acid rain, acid deposition. Menurut Gorham, dengan kadar 0,03% CO2 dari seluruh gas atmosfer maka derajat keasaman air hujan sekitar 5,7. pH-nya turun karena ada tambahan asam dari asam nitrat dan asam sulfat dengan sumber SO2 dan NOx. Pada tahun 2007 ini, pH air hujan di Jakarta sudah 4 – 4,5. Di Denpasar pun, mulai Ubung sampai Renon, sudah dipadati kendaraan, emitor CO2. Tapi untung Denpasar dekat dengan Samudera Indonesia yang kuat hembusan anginnya sehingga mudah terjadi dispersi polutan udara. 

Sebetulnya, potensi GW oleh CO2 tidaklah besar. Metana 21 kali lebih besar daripada CO2. CFC malah 7.300 kali lebih besar daripada CO2. Hanya saja, karena kadar CO2 sangat banyak maka gas inilah yang paling besar kontribusinya pada GW, yaitu 50%. Sumber gas rumah kaca itu ialah BBM (57%), CFC 17%, pertanian 14%, dan penebangan hutan 9%. Dulu, Protokol Montreal mewajibkan penghentian produksi CFC (chlorofluorocarbon) pada tahun 1996. Tetapi faktanya, produk itu masih saja beredar. Untunglah pemerintah Indonesia telah berkehendak melarang impor CFC, halon, dan metil bromida tahun depan. 

Opsi Solusi
Ada sejumlah upaya tindak yang dapat dilakukan. Yang pertama, mengurangi emisi CO2, mengurangi penebangan hutan (legal & illegal). Menghentikan produksi CFC lalu menggantinya dengan zat kimia ramah lingkungan. Mereduksi emisi metana dari sawah dengan mengurangi rendaman jerami, kurangi pembakaran biomassa, hindari pembakaran sampah (insinerasi, PLTSa: Pembangkit Listrik Tenaga Sampah), termasuk kurangi pemakaian pupuk kaya nitrogen. 

Sebaliknya, giatkan proses fotosintesis, tarutama padi. Absorbsi CO2 oleh padi akan meningkatkan produksi beras sekaligus mereduksi GW. Ada riset di Jepang yang menyatakan pemberian CO2 sebanyak 700 ppmv (sekitar 200% kadar CO2 di udara) dapat menaikkan produksi 20 – 30%. Ini dicoba oleh periset di Shizukuishi, Iwate Prefecture Jepang dan dinamai The Rice Face. FACE (Free-Air CO2 Enrichment) adalah pembubuhan CO2 ke sawah tanpa mengubah ekosistemnya. 

Yang dapat ditempuh juga ialah perluasan penggunaan sumber energi angin (bayu, PLTB) seperti di Nusa Penida, energi surya (PLTS), dan energi air (PLTA). Inilah potensi sumber energi masa depan dengan memanfaatkan sains dan teknologi. Energi biomassa juga boleh, asalkan jangan PLTSa (Sa: Sampah)! 

Akhir kata, mari hayati tulisan E. F. Schumacher, “Krisis lingkungan terjadi bukan karena pengembangan sains dan teknologi, tetapi hasil dari sikap mental dan life-style (gaya hidup) dunia modern.” * (Karikatur di atas dari Bali Post, 5 Desember 2007)
ReadMore »

Epanet (Studi Kasus di PDAM Kabupaten Tangerang)

Tangerang, sebuah kabupaten di Provinsi Banten, memiliki banyak “kekayaan” air permukaan sebagai sumber air baku PDAM. Cisadane, sungai pembelah ibukota Tangerang menjadi bagian Barat dan bagian Timur, adalah sumber terbesar air permukaan di sana. Selain untuk memenuhi kebutuhan domestik yang dikelola langsung oleh PDAM Kabupaten Tangerang, juga memasok air curah untuk PDAM tetangga dan sejumlah PAM “swasta” di beberapa perumahan. Karena luas sebarannya, maka daerah distribusinya pun menjadi relatif kompleks. 

Daerah distribusi PDAM Kabupaten Tangerang dapat dibagi menjadi tiga wilayah pelayanan, yaitu Wilayah I, II, dan III. Wilayah I terletak di Timur Sungai Cisadane sedangkan Wilayah II dan III berada di Barat sungai tersebut. Lokasi Wilayah II di bagian Utara dan Wilayah III di bagian Selatan. Keduanya dipisahkan oleh Jln. Gatot Subroto. Bersumber dari S. Cisadane, PDAM ini memiliki instalasi pengolahan air minum (IPAM) di tiga tempat, yaitu Cikokol, Babakan, dan TTM. 

Model Simulasi
Berkaitan dengan pengelolaan jaringan pipa air minum khususnya daerah distribusi yang sangat luas, bagaimana caranya mengelola, memantau, dan mengembangkan sistem yang sangat luas ini dan terus berkembang? Hanya satu kata kuncinya, yaitu PDAM harus memiliki backbone (rangka utama) sistemnya sebagai basis data dalam setiap evaluasi dan perluasan jaringan pada masa yang akan datang. Ini pun harus didukung oleh seperangkat instrumen seperti manometer, flowmeter, dan SDM yang mampu melaksanakan tugas di lapangan dalam memantau jaringan distribusi. 

Bersamaan dengan itu, diperlukan perangkat lunak (software) untuk membuat simulasi sistem distribusinya. Pada medio1980-an, UNDP (United Nations Development Program), The World Bank merilis program Loop dan telah diterapkan secara luas di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan digunakan oleh mahasiswa Teknik Penyehatan & Lingkungan dalam skripsinya, termasuk juga oleh konsultan dan PDAM. Lantas, pada September 2000 dirilis produk yang disebut Epanet. Sebelumnya sudah ada metode untuk menghitung debit, kehilangan energi (headloss), sisa energi (residual head) dalam jaringan pipa, yaitu Hardy Cross. Metode ini layak pakai untuk jaringan sederhana tetapi sangat memakan waktu dan bahkan simulasinya menjadi tidak mungkin ketika sistem distribusinya besar dan kompleks yang terdiri atas banyak loop, banyak sumber air dan reservoir. 

imulasi hidrolis sistem distribusi air PDAM meliputi penentuan debit dan headloss di semua pipa yang dijadikan objek studi. Umumnya, sebuah sistem distribusi air PDAM berisi pipa, node, berbagai macam katup (valve), dan bagian jaringan berupa loop dan/atau branch. Solusi langsung (direct solution) untuk menganalisisnya bisa dikatakan tidak mungkin meskipun jaringan pipanya sederhana. Oleh sebab itu, dikembangkan metode tak langsung untuk menganalisis sistem distribusinya, yaitu (1) sectioning, (2) circle method, (3) pipe equivalence, (4) trial and error (or relaxation), (5) digital computer analysis, dan (6) electrical analogy. 

Peran Epanet

Dalam tulisan ini akan dipaparkan secara ringkas hasil evaluasi dan analisis jaringan distribusi dengan mengambil sampel studi di PDAM Kabupaten Tangerang. Seperti dipahami bersama, tugas sistem distribusi ialah mengantarkan air olahan ke semua pelanggan PDAM dan harus memenuhi TK3, yaitu tekanan sisanya sesuai dengan persyaratan, kualitasnya sesuai dengan baku mutu air minum, kuantitasnya sesuai dengan kebutuhan per orang per hari dan tersedia 24 jam (kontinuitas). Agar hal tersebut tercapai maka mulai tahap perancangan, implementasi, dan operasi-rawatnya harus terlaksana dengan baik. Kalau tahap implementasinya berbeda dengan desain atau perancangannya maka hendaklah dicatat dan dimasukkan ke dalam analisis sistemnya. Setiap perubahan sekecil apapun di daerah distribusi, wajib dicatat dan dimasukkan ke dalam basis datanya. 

leh sebab itu, pencatatan harus dilaksanakan dalam setiap perubahan di daerah layanan, perubahan letak pipa, termasuk perubahan dan penambahan sumber baru air dari IPAM dengan tetap mengacu pada upaya optimalisasi sistem distribusi yang ada. Artinya, kemampuan sistem harus dikembangkan sesuai dengan kondisi jaringan eksistingnya. Di sinilah peran penting simulasi komputer untuk memperoleh hasil optimal dalam mengoperasikan dan mengembangkan sistem distribusi. Untuk itulah software buatan Water Supply and Water Resources Division USEPA’s National Risk Management Research Laboratory yang bernama Epanet 2.0 digunakan dalam analisis sistem distribusi ini. Contoh “kertas” kerja Epanet ini seperti tampak pada gambar terlampir dan programnya dapat diunduh (download) di internet. 

Dalam rangka evaluasi sistem distribusi ini perlu ada aktivitas pengumpulan data pemakaian air (DPA) secara akurat, data variasi pemakaian air dan kecenderungan polanya, kriteria perancangan (opsi), dan analisis jaringannya. Kegiatan ini perlu melibatkan aspek teoretis (textbook) dan data lapangan berupa fakta fisik yang tinggi akurasinya seperti data panjang pipa, jenis pipa dan umurnya (terkait dengan faktor gesekan, friction atau koefisien kekasaran), diameter, pemakaian air, ada tidaknya valve, kondisi sambungan (ada tidaknya kebocoran), head pompa, elevasi, dll. Singkatnya, harus diperoleh data fisik sistem distribusi seperti di atas dan data hidrolis yang absah karena dapat mempengaruhi hasil analisis Epanet 2.0.

Demikian, semoga bermanfaat bagi PDAM yang berencana mengelola, memantau, dan mengembangkan jaringan pipa distribusinya.







ReadMore »

18 November 2007

Hatta Rajasa

Tokoh kita kali ini memang tak ada kaitannya dengan Bung Hatta, seorang proklamator RI bersama Bung Karno. Beliau “hanyalah” menteri dan sudah mengemban tiga “jenis” kementerian dalam kabinet di republik ini, yaitu Menteri Riset & Teknologi di Kabinet Gotong Royong (2001 – 2004), Menteri Perhubungan di Kabinet Indonesia Bersatu (2004 – 2007), dan Menteri Sekretaris Negara pada saat ini.

Dalam Kongres VII Ikatan Alumni (IA) ITB yang digelar pada 16 - 17 November 2007 kemarin, Hatta berhasil menjadi ketua umum setelah mengalahkan empat kandidat lainnya. Koleksi suaranya jauh di atas calon lainnya. Sebagian orang malah sudah menduga bahwa yang menjadi “raja” di “singgasana” IA ITB periode mendatang ialah Rajasa. Didukung oleh perangkat yang solid, yakni Keluarga Besar Salman ITB, Gamais, dan lewat berbagai buletin, internet, dan selebaran sebagai alat kampanyenya, pria berciri khas rambut putih ini resmi mengemudikan IA ITB untuk periode 2007 – 2011.

Seorang kyai senior di Bandung yang juga dosen MK Agama di ITB, yaitu Dr. KH. Miftah Faridl bahkan menyatakan dukungannya kepada fungsionaris Partai Amanat Nasional (PAN) ini. “Beliau sederhana dalam hidupnya, sejak dulu sampai sekarang, yakni ketika menjadi menteri,” demikian ujar kyai yang moderat ini. Seperti halnya Prof. Dr. Amien Rais, suami dari Drg. Oktiniwati dan ayah empat anak ini merasa resah pada tiga hal, yaitu kemiskinan yang menggayut di 40 juta orang warga kita, potensi keretakan kerukunan masyarakat, dan masalah korupsi.

Memang, dan ini sangat... sangat... fakta... betul-betul de facto.... masalah korupsi itu pun membelit banyak kalangan alumni ITB. Artinya, ada alumninya yang lurus jalan hidupnya tapi banyak juga yang bengkok dalam tapak-jejak umurnya. That’s life..., never mind. Go ahead and never give up!
Pak Hatta, selamat ya Pak..., selamat menjadi lebih sibuk lagi, lebih banyak menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Juga selamat memperoleh peluang ibadah yang sangat besar. Selamat menjadi pilot IA ITB! Semoga Allah meridhai dan mampu mewujudkan misi yang telah dipublisitaskan di kalangan alumni.

Salam,
Gede H. Cahyana
ReadMore »

Camp Test

Dirilis di Majalah Air Minum edisi 145, Oktober 2007.

Sebagai unit yang populer, sedimentasi nyaris selalu ada di PDAM. Di mana ada koagulasi-flokulasi di situ pasti ada sedimentasi. Dengan memanfaatkan gaya gravitasi, pemisahan padatan dari cairan (air) didasarkan atas perbedaan berat jenisnya. Dengan kata lain, gaya berat padatan lebih besar daripada gaya apung cairan (air). 
Istilah sedimentasi (sedimentation) dapat dipertukarkan (interchangable) dengan istilah settling. Maka, istilah sedimentation basin = settling basin, istilah sedimentation tank = settling tank. Konsep sedimentasi ini diterapkan pada grit chamber (pemisah pasir, grit), primary settling tank (pemisah pasir, grit yang lebih kecil daripada partikel di grit chamber), secondary settling tank (pemisah bioflok, activated sludge), sedimentation (pemisah kimflok setelah koagulasi-flokulasi), prasedimentation (pemisah pasir dari air sungai), sludge thickener (pemekat lumpur).

Semua unit tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat jenis yang didasarkan atas fenomenanya dan dikaitkan dengan jenis partikel dan konsentrasinya. Empat tipenya itu ialah tipe diskrit (klarifikasi klas-1), tipe flok (klarifikasi klas-2), tipe zone settling, dan tipe compression settling. Hanya saja, empat tipe tersebut tidak mutlak terpisah kejadiannya tetapi mungkin saja terjadi lebih dari satu tipe di dalam satu unit tangki pengendap. Pada tabel 1 diberikan deskripsi ringkas setiap tipe dan di unit apa saja fenomenanya dapat terjadi.
 
Tipe
Deskripsi
Aplikasi
Diskrit
. partikel diskrit, individualis
. sulit membentuk flok
. konsentrasinya encer (dilute suspension)
grit chamber
Flok
. partikel flok
. bergabung dengan partikel yang lain
. konsentrasinya encer
primary settling tank
sedimentation tank (kimflok)
Zone
. partikel flok.
. konsentrasi intermediate (sedang)
. posisi antarpartikel relatif tetap karena sulit bergerak
akibat jarak antarpartikelnya sangat pendek
secondary settling tank (bioflok)
Kompresi
. partikel flok
. konsentrasi sangat tinggi
. partikel bersinggungan, tak ada jarak antarpartikel
. terjadi pemampatan atau kompaksi
lapisan terbawah secondary settling tank
sludge thickener

Fenomena pengendapan tipe-1 mudah dijelaskan dengan hukum klasik Newton, hukum Stoke, dan Archimedes. Dari analisis berbagai formula tersebut diperoleh formula pengendapan yang disebut hukum Stokes. Dalam tulisan ini tidak disertakan kalkulasi matematisnya karena relatif panjang uraiannya. 
Pada unit sedimentasi aliran harus laminer agar partikel dapat mengendap dengan sempurna dan efisiensi pemisahannya menjadi tinggi. Dengan asumsi partikelnya berbentuk bola maka diperoleh persamaan Stoke (Stoke’s equation). 

Dalam desain tangki sedimentasi biasanya langsung ditentukan besar partikel yang akan diendapkan, yaitu partikel yang memiliki terminal settling velocity tertentu (vt). Kecepatan vt ini menjadi acuan untuk mendesain unit sedimentasi. Dengan asumsi ini, semua partikel yang kecepatannya ³ vt akan mengendap. Kapasitas alirannya (laju klarifikasi), Q = vt.A. A = luas permukaan unit sedimentasi. vt = Q/A atau overflow rate = surface loading atau beban permukaan (m3/m2.d). vt ekivalen dengan beban permukaan bak.
Pada persamaan Q = vt.A, tampak bahwa kapasitas (Q) tak bergantung pada kedalaman (depth) bak untuk tipe diskrit (klas-1). Hubungan antara vt, td dan h (height, tinggi atau dalam bak) adalah vt = h/td.

Sesungguhnya rumus di atas jarang digunakan dalam desain IPAM karena sulit dalam menentukan diameter partikelnya dan bentuknya tidak bulat bola (sferis) sehingga perlu faktor koreksi, y. Oleh sebab itu, dikembangkan cara tak langsung untuk mendapatkan settling velocity, vt partikel diskrit dalam suspensi encer, yaitu dengan kolom pengendapan yang dikenal dengan Camp test.

Analisis Camp Test
Prinsip kolom di atas dapat digunakan untuk menentukan keterendapan (kemampuan mengendap atau settleability) suatu suspensi partikel. Secara teoretis, kedalaman kolom air tidak berpengaruh pada hasil percobaan. Umumnya digunakan kedalaman, h = 2 m.

Caranya sbb: campurkanlah suspensi secara merata agar didapat konsentrasi awal yang tepat (representatif). Ukurlah konsentrasi awalnya, Co. Setelah dibiarkan mengendap dalam waktu t1, ambillah konsentrasi kedua, yaitu C1. Semua partikel C1 punya kecepatan endap kurang dari zo/t1 sehingga fraksi massanya ialah x = C1/Co dan v1 < style=""> 

Dari percobaan kolom pegendapan itu, apabila ditentukan waktu detesi (detention time) to, maka persentase pemisahan totalnya bisa diketahui. Semua partikel berkecepatan endap lebih besar dari vo (vo = zo/to) akan terendapkan 100%. Dengan kata lain, sejumlah fraksi partikel (1-xo) akan lengkap mengendap sedangkan sisanya akan mengendap dengan rasio vi/vo, seperti diperlihatkan oleh daerah yang diarsir pada gambar terlampir.
--*--
ReadMore »

4 November 2007

IPAL PAKAR

IpalPakar melayani jasa konsultansi, konstruksi, perbaikan dan penambahan kapasitas IPAM dan IPAL. Unit operasi dan proses berbasis kriteria desain dari buku teks, artikel ilmiah dan dikuatkan oleh pengalaman empiris. Terapan sedimentasi, filtrasi dan bioproses modifikasi activated sludge, anaerobic process, koagulasi, flokulasi, kombinasi AOP (Advanced Oxidation Process). 

IpalPakar menyediakan sejumlah variasi unit yang bisa disesuaikan dengan kualitas air baku untuk air minum dan kualitas air limbah yang akan diolah.

Pabrik makanan dan minuman yang air limbahnya belum sesuai dengan peraturan pemerintah dapat menerapkan IPAL modifikasi. Begitu juga air limbah rumah sakit, klinik, puskesmas, dan pabrik. 

Contact: gedehc77@gmail.com

Ilmu dan pengetahuan tentang air limbah dan teknologi pengolahan air limbah disajikan di dalam folder berikut ini:   Air Limbah. 





ReadMore »