• L3
  • Email :
  • Search :

1 April 2014

Politik Ini Kotor?

Oleh Gede H. Cahyana


Kata orang, politik ini kotor. Sebetulnya bukan politiknya yang kotor, melainkan orang-orangnya. Politisinya. Politikusnya. Mereka inilah yang sikap dan perilakunya seperti tikus. Politik bisa bersih kalau berada pada orang-orang yang bersih hatinya. Bersih sikap dan perilakunya. Ia juga harus berilmu mumpuni khususnya di bidang tertentu yang menjadi fokus pengabdiannya. Yang ahli hukum, cocok masuk ke komisi hukum. Yang pakar pendidikan, bergulatlah di komisi pendidikan. Begitu juga bidang ilmu lainnya.

Politisi itu seperti dalang. Dalang yang mahir memainkan lalakonnya, seperti Asep Sunandar Sunarya (alm). Namun ia tetap dalam koridor kebenaran. Baik dan benar. Dalam “nanggap” epos Bharatayudha misalnya, ia harus memenangkan Pandawa sebagai manifestasi kebenaran. Tidak boleh ia mengubah, apalagi disetir oleh orang dan kalangan tertentu untuk melakonkan dan memenangkan lakon buruk. Jika demikian perilakunya, politisi ini bukan lagi dalang melainkan wayang. Wayang senantiasa digoyang dan dimainkan gerak hidupnya. Politisi yang seperti wayang ini akan disetir oleh orang-orang kotor di belakang layar demi keuntungan diri, partai dan pemodalnya. Juga, demi anasir asing yang mendukungnya. Yang rugi rakyat juga. Arang habis, besi binasa. Setelah memilih, tak dapat apa-apa.


Oleh sebab itu, mari kita pilih dalang yang bersih, bukan wayang. *



(Kemarin Asep Sunandar Sunarya, dalang kawakan Indonesia, meninggal dan tadi dimakamkan di Jelekong, Baleendah, Kab. Bandung. Semoga diberi rahmat dan ampunan oleh Sang Mahakasih).

ReadMore »

21 Maret 2014

Kampanye vs Air & Energi

Kampanye vs Air & Energi
Oleh Gede H. Cahyana


Sepekan kampanye caleg, termasuk kampanye tak resmi para capres, nyaris tiada satu caleg pun yang mengangkat tema Hari Air Dunia (HAD), 22 Maret 2014, yaitu Water & Energy. Padahal isu air dan energi ini bisa “dijual” kepada masyarakat, tetapi wajib ditepati, harus dilaksanakan kalau terpilih. Jangan seperti lirik sebuah lagu: janji janji, tinggal janji, bulan madu hanya mimpi…! Mungkin mereka lupa, bisa jadi juga lantaran tidak tahu ada peringatan World Water Day, 2014. Ironisnya, pada saat yang sama, ajang kampanye itu pun menjadi tebaran air minum kemasan plastik, kemasan cup, botol, dan menggunakan energi listrik dari PLN maupun genset untuk tata-suara (sound system) dan pengeras suaranya (loud speaker). Artinya, betapa dekat para caleg itu dengan air dan energi selama mereka kampanye, tetapi tidak dijadikan bahan promosi diri dan partainya.

Tahun 2014 ini, air dan energi diangkat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa karena dua material ini paling dibutuhkan oleh manusia. Orang kaya memang dengan mudah memperoleh dua material tersebut tetapi tidak demikian dengan orang miskin. Jangankan air berkualitas air layak minum, air yang agak jernih saja sulit diperoleh. Bahkan air baku pun, yaitu air yang belum diolah, untuk difilter secara sederhana dengan ijuk dan batok kelapa, susah didapat. Sekrisis-krisisnya air dan energi, bagi kaum kaya tentu bukanlah soal.

Namun, jumlah kaum miskin jauh berlipat-lipat dibandingkan dengan kalangan berpunya. Tengoklah rakyat di perdesaan dan pelosok di pulau-pulau besar dan kecil Indonesia. Betapa Kalimantan yang kaya batubara, listriknya byar-pet sementara itu airnya kuning bergambut. Betapa rakyat desa dan kampung di Sumatera, bergelap-gelap ria, tiada bisa membaca, apalagi belajar menulis atau kisah nestapa. Di Jawa, di sejumlah kabupaten, di desa pesisir, masyarakat kesulitan air minum. Airnya asin, berasa garam, atau minimal payau. Memang sudah ada tindakan dari pemerintah, yaitu dari Kementerian Pekerjaan Umum, tetapi hasilnya selalu saja monumen. Monumen kegagalan, tidak menghasilkan air minum yang diharapkan warga, sementara anggaran sudah habis bermiliar rupiah. Onggokan sejumlah instalasi dengan teknologi membran adalah saksinya. Mahal biayanya, tapi hanya seumur jagung usia manfaatnya. Selebihnya menjadi barang rongsokan.

Selain dua materi penting dalam hidup manusia, yaitu air dan energi, ada satu lagi yang tak kalah penting: pangan (food, makanan). Bisa dikatakan, ada tiga material penting untuk perikehidupan manusia: makanan, energi, dan air, disingkat MEA. Dalam bahasa Inggris, tiga hal ini disebut: food, energy, water, disingkat FEW. Few dalam bahasa Inggris pun dapat dimaknai sebagai “sedikit”. Lebih tepatnya, makanan pokok manusia, energi dan air sudah kritis, berada di ujung tanduk. Diversifikasi makanan pokok sudah dilaksanakan, bahkan ada program One Day, No Rice. Di bidang energi, ada program Earth Hour. Di bidang air minum, ada Dasawarsa Air Minum, yang tahap II-nya akan berakhir setahun lagi, pada 2015. Ini pun sudah dirangkum dalam MDG’s.

Lantas, mengapa caleg dan juga capres belum masuk ke dalam kampanye Trilogi MEA yang jelas-jelas merupakan kebutuhan dasar manusia ini? Apakah tim pemenangan caleg/capres belum tahu program ini atau sudah tahu tetapi tidak dianggap penting? Masih ada kesempatan beberapa hari ke depan untuk mengambil hati rakyat dan menepati janji-janji saat kampanye. Hanya orang munafiklah yang mengingkari janji-janji kampanyenya.


Selamat Hari Air Dunia, World Water Day, 22 Maret 2014. *


ReadMore »

2 Maret 2014

Bahayanya Asap Knalpot Kendaraan

Bahayanya Asap Knalpot Kendaraan
Oleh Gede H. Cahyana
  
Hakikatnya, semua ruas jalan sangat berbahaya dari sudut pencemar udaranya. Walaupun demikian, traffic light atau persimpangan dan areal parkir adalah lokasi padat kendaraan per satuan waktu sehingga di sinilah terjadi konsentrasi pencemar. Di traffic light pada saat yang sama, ada sebagian kendaraan bergerak dan sebagian lagi berhenti dan secara hampir bersamaan menekan pedal gas untuk beranjak. Pada kondisi demikian, terjadi semburan asap yang disertai dengan jelaga dan konstituen lain seperti CO, CO2 dan timbal (Pb). 

Hal senada terjadi di tempat parkir khususnya tempat parkir di dalam gedung seperti hotel, kantor atau mall. Sering untuk masuk atau keluar dari tempat parkir di dalam gedung perlu waktu lebih dari setengah jam. Ini sangat berbahaya, karena semua mesin mobil dalam keadaan hidup, bergerak perlahan atau diam sama sekali ditambah dengan kepadatan orang yang berebut oksigen untuk bernafas. Bahaya makin mengancam jika exhaust fan tidak berfungsi atau ventilasi sangat minim. Pada keadaan ini kadar CO di dalam ruang tersebut dapat mencapai lebih dari 80 ppm. Sebagai catatan, jika kadar CO di udara 10 ppm maka kadarnya di dalam darah adalah 2% COHb yang dampaknya diberikan pada tabel 1. Hal ini harus menjadi perhatian para pengelola gedung bertingkat (mall, hotel) yang memiliki tempat parkir berlapis-lapis.

Timbal dan CO
Sumber timbal yang berhamburan dari knalpot adalah BBM yang diberi ‘antiknock additives’ berupa alkil-Pb (tetraetil atau tetrametil lead) untuk meningkatkan nilai oktannya. Hal ini diperparah oleh teknik mengemudi yang tidak pas pada keserasian menekan pedal gas. Dengan mekanisme gerak Brown, sedimentasi, impaksi dan intersepsi, partikulat timbal terakumulasi di tanah, rumput, padi dan sayuran yang tumbuh di tepi jalan. Waspadalah pada pemanfaatan sepetak tanah di tepi jalan yang sarat kendaraan untuk kebun sayur karena kaya dengan timbal terutama di Jakarta, Bandung dan Surabaya. Ternak seperti sapi, domba, kambing yang makan rumput tersebut juga dapat menjadi mata rantai  bioakumulasi dan biomagnifikasi di tubuh manusia.

Selain Pb, ada ‘trace metal’ yang juga berasal dari kendaraan bermotor seperti Fe, Cu, Zn dan Cd. Sumbernya adalah pipa, kabel, ban, jok, bodi dan cat yang terlepas akibat abrasi mekanis atau benturan, tabrakan dan gesekan. Kepadatan arus kendaraan pada saat sibuk seperti pagi dan sore makin menambah frekuensi paparan polutan karena volume kendaraan proporsional terhadap kadar metal/logam. Tanah memiliki kapasitas pertukaran kation yang tinggi sehingga mudah terkontaminasi oleh logam.-logam tersebut. Perajin gerabah yang sumber tanahnya di tepi jalan padat kendaraan hendaknya menaruh perhatian pada hal ini.

Sedangkan gas CO yang karakternya tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, sedikit larut dalam air, stabil dan dapat berubah menjadi gas CO2 jika ada O2 tereksitasi dapat menjadi penyebab keracunan akut. Untungnya, kadar gas CO di udara kering dan bersih, sangat kecil sekitar 10-5 %  volume, jauh dibandingkan dengan kadar CO2 (0,032%), O2 (21%) dan gas N2 (78%). Ini berarti dalam keadaan normal, tidak akan ada dampak yang ditimbulkan oleh gas CO pada manusia.

Tetapi pada kondisi yang tidak normal misalnya karena pembakaran tidak sempurna dari mesin yang menggunakan BBM maka kadar gas CO dapat berlipat jutaan kali. Diperoleh bahwa gas CO adalah pencemar utama atmosfir daerah perkotaan (48%) yang diikuti oleh gas SO2 (15%), NOx (15%) dan HC (16%) yang nilainya bervariasi di setiap daerah. Dari sekian banyak kontributor gas CO, ternyata sektor transportasi adalah penyumbang terbesar (70%  - 85%).

Dampak Kesehatan
Masalah utama asap kendaraan bukan hanya jelaga tetapi beberapa unsur dan senyawa kimia seperti timbal, Cd, Ni, Cu, Fe, Mn dan gas (CO, CO2, SOx dan NOx). Seperti dinyatakan di atas, sayur-sayuran di tepi jalan dapat terkontaminasi pencemar terutama oleh timbal, Cu dan Ni. Selain di hati dan pankreas, timbal dapat terakumulasi pada tulang dengan mengganti posisi unsur yang penting untuk penyusun tulang yaitu kalsium (Ca). Keracunan kronis ini muncul setelah polisi atau sopir dan pengguna jalan lainnya memasuki masa tua/pensiun yang justru dikala kondisi tubuh sudah melemah dan kemampuan berkurang.

Sedangkan gas CO dapat merusak metabolisme aerobik manusia karena daya ikat (afinitas) terhadap Hb (hemoglobin, protein yang berfungsi sebagai alat transpor zat organik dan anorganik) lebih besar daripada oksigen. Kemampuannya untuk mengganti ikatan oksigen-hemoglobin (O2Hb) inilah yang menyebabkan gas CO menjadi sangat toksik/beracun. Reaksinya adalah O2Hb + CO à COHb + O2.

Secara kuantitatif, dengan persamaan Haldane dapat dibuat hubungan antara carboxyhemoglobin (COHb), Oxyhemoglobin (O2Hb), tekanan parsial gas CO dan tekanan parsial O2. Pada manusia, saat temperatur badan normal dan pH darah sekitar 7,4 maka nilai K @ 245. Kualitas keracunan gas CO tergantung pada kadar, lama paparan dan aktivitas saat terpajan apakah lari, jalan atau sedang duduk. Hal ini berhubungan dengan laju pernafasan (volume per waktu) gas yang masuk ke paru-paru.

Diyakini tidak ada dampak kesehatan berarti pada kadar COHb yang kurang dari 2% di dalam darah. Tetapi lebih dari itu, berdampak buruk pada sistem saraf pusat orang yang bukan perokok. Kadar COHb pada para perokok antara 5%-10% sedangkan pada orang bukan perokok berkisar antara 0,5% sampai 1%. Perokok mempunyai toleransi yang lebih tinggi terhadap CO daripada bukan perokok tetapi sama sekali bukan berarti para perokok lebih aman daripada bukan perokok sebab ada aspek kesehatan lain yang merugikan perokok.

Bahaya keracunan Pb dan CO mengancam polisi, sopir, petugas terminal, pedagang dan pengguna jalan lainnya. Mereka potensial terpajan Pb dan CO karena waktunya kontinu, arus sangat padat dan sering terjebak kemacetan. Kondisi diperparah oleh udara calm yang kecepatannya kecil dan tergantung pada topografi yakni ada perbedaan antara daerah pegunungan (Bandung) dengan dataran rendah (Jakarta, Surabaya) yang tiupan anginnya kencang sehingga terjadi dispersi gas CO di udara.

Tabel 1. Dampak kesehatan akibat gas CO di dalam darah.
Kadar COHb, %
Efek
< 1,0
tidak ada efek yang terlihat
1,0 - 2,0
perubahan tingkah laku
2,0 - 5,0
sistem syaraf pusat, penglihatan
5,0 - 10,0
perubahan pada jantung dan paru-paru
>10,0
sesak nafas, lelah, pingsan, meninggal

Untuk mengurangi emisi gas CO dan timbal, telah dicoba beberapa cara seperti program langit biru (masih berlanjut dengan tindakan konkrit?) dan bahan bakar tanpa timbal (BB2L). Tetapi yang realistis adalah pembatasan jumlah kendaraan bermotor dan mengutamakan transportasi massal seperti trem, kereta api dan bis. Jangan apriori, bisa dibuat dengan konsep yang matang dulu. Untuk preventif, areal parkir (khususnya yang di gedung) harus berventilasi baik dan jangan pernah tidur (tidur-tiduran) di dalam mobil pada saat mesin dihidupkan. 

Juga perlu dipikirkan peralatan yang praktis dan nyaman bagi petugas polisi, sopir dan pengguna jalan lainnya agar tidak terkontaminasi dan kendali mutu sayuran agar bebas polutan. Itu semua mengarah pada ketahanan dan kesehatan fisik seseorang yang bermuara pada ketahanan bangsa. ***

ReadMore »

23 Februari 2014

Gratis, Materi Skripsi di Jurnal Internasional

Gratis, Materi Skripsi di Jurnal Internasional
Oleh Gede H. Cahyana



Mahasiswa yang sedang menulis skripsi, tesis, disertasi dan tugas-tugas kuliah serta penelitian lainnya dapat memanfaatkan fasilitas Sumber Daya Elektronik (SDE, e-resources) di Perpustakaan Nasional RI. Semua bidang ilmu, semua rumpun ilmu dan teknologi bisa ditelusuri dari berbagai basis data di seluruh dunia. Ada artikel hasil riset, ulasan buku, e-book (bukel, buku elektronik), kutipan majalah, koran, laporan, referensi, dan banyak lagi yang lain. Semua sumber daya ilmu dan teknologi tersebut mudah diakses dari mana saja di seluruh dunia, dengan berbekal akses internet, dan cuma-cuma alias gratis. Bagaimana caranya? 


Langkah pertama, setelah membuka browser, masuklah ke situs Perpustakaan Nasional RI dengan mengetikkan http://pnri.go.id. Lihatlah sublaman di kanan atas, terbaca e-RESOURCES (warna merah) dan klik. Langkah kedua, kliklah link ini: http://e-resources.pnri.go.id/. Akan muncul Keanggotaan Online Pusnas RI. Klik “Daftar” dan muncullah Petunjuk Pendaftaran Anggota. Di laman ini ada tombol Persyaratan, Kartu Anggota, Tata Tertib, Hak dan Kewajiban. Silakan langsung saja klik tombol di kanan atas, yaitu Lanjutkan Pendaftaran. Bacalah Petunjuk Pengisian Form dan isilah dengan data yang benar. Setelah tuntas pengisian data, maka akses ke “gudang” ilmu dan teknologi dunia bisa dimulai. Kalau ada pertanyaan, saran, dan keluhan yang berkaitan dengan layanan SDE (e-resources) ini, silakan kirimkan sutel (e-mail) ke layanan_eresources@pnri.go.id.

Sungguh luar biasa jumlah sumber daya ilmu dan teknologi yang dilanggan Perpustakaan Nasional RI. Istilahnya, banyak rak buku perpustakaan di seluruh penjuru dunia dapat dilihat kemudian dibaca, dan dipinjam dengan cara mencetaknya, hanya dengan masuk ke http://pnri.go.id. Ada artikel dalam format PDF dan bisa juga langsung dibaca secara online, teks lengkap (full text) maupun abstraknya. SDE ini antara lain dari Alexander Street Press, ALA, Brill Online, ProQuest, SAGE, Westlaw. Liverpool, Amsterdam University Press, Cambridge University Press, EBSCO Host, Niaspress, Ebrary, Cengage Learning, dan lain-lain. Bisa dikatakan, semua rumpun ilmu dan informasi berbagai teknologi ada di SDE (Sumber Daya Elektronik) ini. Tinggal sekarang, bagaimana semua siswa dan mahasiswa, guru dan dosen dapat semaksimal-maksimalnya memanfaatkan SDE ini. Ajak serta teman, rekan, saudara, orangtua, anak-anak untuk memanfaatkan SDE ini. 

Tentu saja, rakyat Indonesia yang tinggal di daerah apalagi di pelosok yang sulit memperoleh akses internet dapat dibantu oleh teman atau rekan-rekannya dengan cara mengirimkan versi cetaknya. Kemudahan memperoleh informasi ilmu dan teknologi dari SDE (e-resources) ini, yang dibayar dengan milyaran rupiah dana APBN alias uang rakyat Indonesia, semoga dapat meningkatkan mutu pendidikan kita, mulai dari prasiswa, siswa, mahasiswa, guru dan dosen serta masyarakat umum.

Ayo ke perpustakaan. Gak perlu ke Jakarta, tapi masuklah ke perpustakaan maya, bisa dari rumah, dari warung, café, mall, lokasi wisata, dari kantor di seluruh pelosok Indonesia, juga dunia. Akhir kata, patutlah kita berterima kasih kepada Perpustakaan Nasional RI. ***

ReadMore »

8 Januari 2014

Oxidation Pond Contoh di Kota Bandung

Oxidation Pond: Contoh di Kota Bandung

Dalam hal air limbah, baik sejarah maupun teknologinya, Bandung menjadi salah satu lokasi studi di Indonesia, selain Jakarta, Medan, dan Denpasar. Ketika banyak masyarakat masih membuang air besar dan air kecil sembarangan atau di selokan, sungai, kebun sebagian warga Bandung sudah memiliki saluran air limbah (riul) dan instalasi pengolahannya. 

Hanya saja, terapan teknologi ini dikhususkan untuk orang Belanda. Tahun 1916, sepuluh tahun setelah Bandung berstatus kotapraja atau gemeente (21 Februari 1906), dan setahun sebelum Meneer B. Coops menjadi walikota (burgemeester) Bandung yang pertama (1917), pemerintah Belanda ingin warganya hidup saniter. Saat itu, Bandung dibagi menjadi dua wilayah: barat dan timur dengan Sungai Cikapundung sebagai garis sempadan. Pada waktu itu, dua pertiga warganya tinggal di belahan barat. Selain mendirikan “PDAM” yang dikelola oleh Technische Dienst Afdeling, Belanda juga membuat instalasi pengolah air limbah (IPAL) domestik di belahan barat.

Hampir seabad yang lalu, Belanda sudah peduli pada lingkungan di tanah jajahannya. Padahal kala itu, pencemaran belumlah separah sekarang karena penduduk Bandung masih sedikit dan air sungainya jernih. Mengapa Imhoff Tank yang dipilih, bukannya activated sludge (lumpur aktif) temuan Ardern dan Locket yang lebih dulu berkembang pada awal abad ke-20? Sebab, selain murah, unit yang patennya dipegang oleh Dr. Karl Imhoff (1904, pakar air limbah dari Jerman), unit ini juga terbaik kinerjanya saat itu. Ia unggul daripada unit lain karena berupa pengolah bikamar atau “dual-purpose two-story tank” yaitu ruang hidrolisis dan sedimentasi.

Pada masa itu, air limbah rumah tangga warga Belanda dialirkan lewat saluran sepanjang 14 km di sepanjang jalan akses yang dinamai Jl. Imhoff Tank menuju IPAL dan air olahannya dibuang ke Sungai Citepus, di dekat IPAL-nya.  Lokasi unit ini sekitar satu kilometer arah timur terminal bis Leuwipanjang, menyusuri Jl. Soekarno-Hatta (By pass), sebelum Jl. Moh. Toha. Tetapi sayang, unit ini sekarang sudah rusak dan dipenuhi lumpur. Pemkot Bandung menggantinya dengan kolam oksidasi di Bojongsoang seluas 85 ha dengan panjang total saluran sekitar 300 km dan akan dibahas di bagian akhir makalah ini.

Terapkan Dua Sistem

Kondisi topografis Bandung yang berpegunungan jauh berbeda dengan Denpasar, Jakarta, dan Medan sehingga pola penyaluran air limbah pun menjadi khas. Ada kesamaannya, ada pula kebedaannya. Kebedaan inilah yang menonjol sehingga jauh lebih mahal apabila diterapkan riul berpola fan, perpendicular, radial. Oleh sebab itu, PDAM selayaknya mengadopsi beberapa sistem pengelolaan dan penyaluran air limbah yang berbeda dengan terapan di kota lain lantaran pola di satu daerah belum tentu cocok dengan kondisi Bandung yang berbukit dan bergunung meskipun umumnya menurun ke arah Selatan menuju Sungai Citarum.

Ada dua sistem yang dapat diterapkan. Sistem pertama, dan ini sudah diterapkan, adalah offsite system, yaitu sistem pengelolaan air limbah yang memusatkan pengolahan airnya di satu lokasi dan menerima air limbah domestik dan efluen industri (pretreatment) dari daerah layanan. Pola ini disebut penyaluran air limbah secara mayor dengan memasang pipa-pipa kolektor dengan sebutan pipa servis, lateral, cabang, dan induk, bangunan pelengkap seperti manhole, rumah pompa dan IPAL di Bojongsoang. Berikutnya ialah cara minor yang dikelompokkan menjadi dua, yaitu sistem mikro atau individual dan sistem makro atau komunal.

Cara mayor banyak dianut oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat pada awal paruh kedua abad ke-20. Sistem ini memerlukan biaya mahal. Dengan layanan mencapai jutaan orang (konsumen), diameter atau ukuran pipa dan saluran yang digunakan menjadi besar, bahkan mobil truk pun bisa masuk di dalam saluran air limbah. Dampak berikutnya, lahan IPAL yang dibutuhkan menjadi luas, berkali-kali luas lapangan sepakbola. alau menggunakan sistem Kolam Oksidasi atau Stabilisasi dengan biaya operasi-rawat relatif murah. Luas lahan IPAL bisa dipersempit dengan menerapkan teknologi activated sludge dan kombinasinya tetapi biaya operasi dan rawatnya menjadi lebih mahal. 

Namun demikian, cara mayor anutan Eropa dan Amerika tersebut umumnya tidak berkembang di negara-negara Asia. Di Jepang misalnya, yang dikembangkan justru onsite system dengan IPAL mikro - makro yang dipasang di setiap rumah, apartemen, kantor, kampus, asrama, dan bahkan pasar. Karena sejarahnya yang “gelap” dalam pencemaran air, sampai-sampai timbul istilah “Pollution Diet”, Jepang obsesif dalam pengolahan air limbah sehingga semua produk IPAL di Jepang selalu dilengkapi dengan disinfeksi. Dampaknya, biaya operasi dan rawatnya menjadi mahal sehingga berat kalau ditiru oleh negara berkembang seperti Indonesia.

Lantas di mana posisi Indonesia? Seperti umumnya di Asia Tenggara, kecuali Singapura, teknologi yang diterapkan cenderung untuk menyisihkan senyawa karbon sehingga orientasi IPAL di Indonesia sekadar menghilangkan zat organik dengan parameter konvensional BOD atau COD. Beberapa peraturan yang seharusnya berisi parameter nitrat, fosfat justru tidak ada tetapi malah parameter yang tidak dibutuhkan yang dimunculkan. Inilah kekeliruan peraturan yang ada di Indonesia dan perlu direvisi agar tidak salah kaprah.  

Masalah lainnya, kepedulian masyarakat terhadap air limbah yang dapat merusak kesehatannya tidak sebaik kepeduliannya terhadap air minum. Makanya, bisa dicek langsung ke masyarakat, mayoritas tangki septik di Indonesia hanya berfungsi sebagai bak penampung, bukan sebagai digester (pengolah tinja). Prosesnya adalah isi – sedot – buang ke sungai (selokan) atau ke IPLT (instalasi pengolah lumpur tinja). Yang paling parah adalah warga yang memasang “sistem meriam”, yakni air limbah (tinja) dari kloset langsung dibuang ke selokan atau sungai di belakang atau sebelah rumahnya dengan pipa PVC 4 inch. Faktanya jelas di depan mata kita. Seharusnya: isi – olah (digester anaerob) – buang (ke selokan) tanpa diolah atau diresapkan ke dalam tanah tanpa mencemari air sumur atau disedot oleh mobil tangki tinja lalu dikeringkan di sludge drying bed, bukan ditumpahkan di IPLT!

Terapkan Tiga Zona

Mengacu pada topografinya, minimal Kota Bandung dapat dilayani dengan tiga zona. Yang pertama ialah zona eksisting Tengah – Timur – Selatan dengan IPAL Bojongsoang sebagai pusatnya. Namun demikian, sejumlah perumahan sulit menyalurkan air limbahnya ke pipa lateral atau pipa cabang yang dibuat pada dekade 1980-an lantaran elevasinya rendah. Karena banyak yang menjadi pelanggan PDAM, maka selayaknya mereka diberi servis untuk pengurasan tangki septik. Sedangkan yang bukan pelanggan PDAM dilayani dengan membayar biaya penyedotan oleh truk tinja. Apabila dilaksanakan oleh perusahan rekanan PDAM, maka harus ada standar harga dan transparan diketahui warga. Volume air yang disedot dan lokasi rumah menjadi salah satu parameter dalam perhitungan biayanya.

Adapun warga kota yang tinggal di bagian Barat Bandung, yang dekat dengan Imhoff tank dapat memanfaatkan fasilitas IPAL peninggalan Belanda ini. Tentu saja IPAL ini perlu direhabilitasi dan penambahan beberapa unit baru semacam grit chamber dan barscreen. Perlu juga pembebasan lahan di sekitarnya kalau IPAL ini serius dijadikan opsi pengolahan air limbah yang berada di pusat kota. Bahkan warga Kota Cimahi, kalau topografinya memungkinkan, bisa juga memanfaatkan Imhoff tank tersebut sehingga biaya operasi-rawatnya dapat dipikul bersama. 

Zona ketiga adalah Barat – Utara. Apabila diinginkan penyaluran air limbah dengan pipa, baik menuju Imhoff tank maupun IPAL Bojongsoang, maka perlu investasi yang mahal. Selain itu, perlu dikaji lagi ukuran pipa induknya apakah cukup untuk penambahan pelanggan dari kawaan Bandung Utara. Apalagi potensi infiltrasi air tanah dan air hujannya cukup tinggi karena pipanya menjadi lebih panjang. Angka infiltrasi ini patut diteliti lebih lanjut, agar diperoleh koefisien infiltrasi yang mendekati fakta, tidak berdasarkan teori. Kalau cara ini sulit diterapkan, maka opsi solusinya ialah dengan membangun sistem mikrokomunal, selain individual. Hanya saja, sistem individual ini sulit dideteksi dan dikelola sehingga dapat mencemari air tanah. Yang terbaik adalah mikrokomunal di beberapa lokasi yang tepat secara topografis kemudian dijadikan BLU (Badan Layanan Umum) sebagai lembaga yang bertanggung jawab.

Kolam Oksidasi Bojongsoang

Merujuk pada nomenklaturnya dan meminjam istilah biotaksonomi, ada beberapa nama yang biasa dikaitkan dengan kolam stabilisasi (stabilization pond) ini, yaitu lagoon, oxidation pond yang diindonesiakan menjadi laguna dan kolam oksidasi. Jika diselisik, kurangnya minat pemerintah daerah dan pusat membuat jenis pengolah air limbah domestik ini karena luasnya yang bukan kepalang. Ini terjadi karena peran mikroba, baik bakteri, rotifer, predator, maupun algae dipengaruhi oleh asupan oksigen dan nutrisinya secara alamiah, tanpa bantuan alat-alat mekanis. Artinya, kemurahan dan kemudahan dalam operasi - rawat ini dibayar dengan biaya mahal untuk kebutuhan lahannya. Namun sangat layak diterapkan untuk daerah-daerah yang masih memiliki lahan kosong yang luas dan murah, seperti semua daerah di luar Pulau Jawa, Madura, dan Bali.

Para ahli di bidang pengolahan air limbah, khususnya bioproses, belum bersepakat atas beberapa istilah yang dikaitkan dengan klasifikasi kolam stabilisasi. Lain buku, lain pula istilahnya, apalagi yang berkaitan dengan dimensi, kecepatan pembebanan organik, nilai ambang batas bawah dan atas, BOD, COD, SS, fecal coli, dll. Salah satu klasifikasi yang cukup dikenal adalah berdasarkan rejim metabolisme, yaitu anaerobik, fakultatif, aerobik (maturasi), dan aerated. Kondisi mana yang akan terjadi di dalam kolam itu bergantung pada aktivitas biologi yang dominan dan reaksi biokimianya yang dipengaruhi oleh kecepatan pembebanan organik (KPO, organic loading rate). 

Kolam pertama adalah kolam anaerobik, didesain untuk berlangsungnya proses pengolahan air limbah tanpa oksigen dengan memanfaatkan bakteri anaerob. Ada dua kejadian pada kolam anaerobik ini, yaitu (1) fenomena fisika berupa sedimentasi padatan di dalam air limbah menjadi sludge; (2) fenomena biokimia, yakni degradasi anaerobik oleh bakteri terhadap zat organik di dalam lumpur kemudian melepaskan gas dan produk terlarut untuk diolah lebih lanjut di kolam berikutnya. Umumnya, fenomena biokimia di kolam berkedalaman 2,5 s.d 5 m ini berlangsung dua tahap. Tahap satu, polutan organik kompleks bermolekul besar (makromolekul) diuraikan menjadi molekul kecil yang diawali oleh proses hidrolisis, asidogenesis dan selanjutnya diubah menjadi asam asetat (asetogenesis). Pada tahap satu tersebut belum terjadi reduksi BOD-COD sehingga bisa dikatakan efisiensinya nol. Efisiensi kolam dapat dideteksi pada tahap dua setelah bakteri metanogenik berhasil mengubah asam asetat dan asam-asam rantai pendek lainnya menjadi gas metana dan karbondioksida. Perubahan polutan organik menjadi gas CH4 dan CO2 inilah yang dijadikan indikator dalam efisiensi pengolahannya.

Berikutnya adalah kolam fakultatif, jenis kolam yang menerima air limbah dengan kekuatan medium atau kecepatan pembebanan organiknya lebih kecil daripada KPO yang diterapkan di kolam anaerobik. Kolam yang juga disebut wastewater lagoon ini (salah satu bentuk misnomer, salah kaprah) adalah yang paling umum diterapkan. Kedalaman airnya antara 1,2 s.d 2,5 m dan terbagi atas dua lapisan, yaitu lapisan anaerobik di bagian bawah dan lapisan aerobik di bagian atas. Di antara kedua lapisan tersebut ada lapisan fakultatif. Kebutuhan waktu untuk pengolahan air limbah berada dalam rentang 5 s.d 30 hari. Di kolam ini, zat organik yang mengendap diolah oleh bakteri anaerob yang alur prosesnya sama dengan kejadian di kolam anaerob tersebut. Hasilnya berupa zat organik terlarut dan gas metana, karbondioksida, hidrogen sulfida, ammonia, dll. Sebaliknya di lapisan atas terjadi proses aerob yang memanfaatkan oksigen. 

Dapat dikatakan, di unit fakultatif inilah terjadi proses utama penyisihan zat organik dengan kehadiran simbiosis mutualisme antara bakteri heterotrof dan algae. Bakteri heterotrof ini serupa dengan bakteri di dalam unit activated sludge atau trickling filter yang bertugas mengolah pencemar organik di dalam zone aerobik menjadi produk akhir oksidasi. Oksigen di lapisan aerobik dipasok dari atmosfer dengan mekanisme reaerasi dan hasil fotosintesis algae dengan bantuan energi matahari. Algae lantas menggunakan nutrisi dan karbondioksida yang dihasilkan bakteri aerob dan anerob untuk fotosintesis. Lewat kerjasama saling menguntungkan inilah air limbah dapat diolah dengan optimal.

Bergantung pada temperaturnya, BOD yang dapat direduksi dalam kolam fakultatif antara 30 – 40 mg/l. Penyisihan zat organik volatil 77 - 96%, nitrogen 40 – 95%, dan fosfat biasanya maksimum 40%. Namun demikian, suburnya perkembangan algae di permukaan kolam lama-lama dapat menimbulkan masalah pada kinerjanya. Algae dapat menambah konsentrasi TSS (total suspended solid) antara 40 s.d 100 mg/l. Algae yang blooming karena keberlimpahan nutrien (senyawa nitrogen dan fosfat) dapat memunculkan kondisi eutrofikasi yang ujungnya adalah pendangkalan kolam secara cepat. 

Yang ketiga adalah kolam aerobik atau kolam maturasi (pematangan). Sesuai dengan namanya, di kolam ini terjadi proses pematangan atau pembersihan terakhir air limbah dari pencemar berupa padatan tersuspensi, zat organik terlarut dan yang utama adalah reduksi bakteri. Dengan kedalaman antara 30 s.d 45 cm, sinar matahari dapat menembus keseluruhan ketebalan lapisan air sehingga dapat membasmi bakterinya. Karena KPO-nya rendah dan kolamnya dangkal maka kebutuhan lahannya menjadi sangat luas. Di kolam ini pun terjadi simbiosis antara bakteri dan algae. Hanya saja, diharapkan bakterinya dapat dibasmi sebelum dibuang ke sungai. Algaenya juga jangan sampai banyak yang masuk ke sungai agar tidak menurunkan kualitas air sungai atau danau, waduk di hilirnya.

Ada dua metode yang biasa diterapkan untuk mendesain unit kolam stabilisasi, yaitu metode beban permukaan dan persamaan empiris Wehner – Wilhelm. Cara kedua menggunakan persamaan laju orde satu yang dirilis tahun 1958 dengan hidrolika aliran airnya semiaduk, yaitu antara plugflow dan complete mixing. Kemudian dimodifikasi oleh Thirumurthi pada 1969 sebagai metode untuk mendesain kolam fakultatif. Penggunaan cara kedua lebih rumit karena ada beberapa parameter yang harus diketahui dulu sebelum dapat dihitung yang juga bergantung pada temperatur airnya. Ketepatan dalam pengambilan asumsi terhadap data sangat berpengaruh pada kinerja kolam, juga sangat bergantung pada variasi cuaca dan sinar matahari.

Yang banyak diterapkan adalah cara pertama, yaitu metode area loading rate. Desain didasarkan pada pembebanan organik dan waktu tinggal hidrolis. Cara ini banyak diterapkan, termasuk untuk menghitung desain IPAL di Bojongsoang Bandung. Terapan ini dibuat oleh USEPA yang dirilis tahun 1983. Inilah cara paling konservatif dalam mendesain kolam stabilisasi. Luas lahan yang dibutuhkan diperoleh dengan cara membagi beban organik atau BOD dengan kecepatan pembebanan organik yang tepat (appropriate). KPO ini sudah direkomendasikan dan ditabelkan di USEPA pada tahun 1974. Hanya saja, kekurangannya bagi kita di Indonesia, rilisan USEPA 1974 tersebut tidak meliputi kondisi daerah tropis yang temperaturnya jauh di atas mayoritas wilayah di Amerika Serikat. Kalaupun diterapkan, nilai kecepatan pembebanan organiknya diambil dengan perkiraan saja. 

Dibandingkan dengan teknologi lumpur aktif (activated sludge) plus turunannya dan trickling filter, kolam oksidasi jauh lebih mudah dalam operasi-rawatnya dengan tingkat efisiensi yang kompetitif. Tingkat keterampilan (skill) operatornya tidaklah setinggi operator untuk teknologi lumpur aktif tetapi dapat menggunakan tenaga kerja yang lebih rendah skill dan pendidikannya. Sebab, nyaris tidak ada yang perlu mendapat perhatian intensif, kecuali perawatan rutin harian dan pekanan, atau tahunan yang berkaitan dengan area lahan seperti rumput, pohon, dan keamanan di sekitar instalasi kolam oksidasi. Agar lebih cepat dibersihkan, dalam masa satu tahun dapat dibersihkan dengan mengerahkan puluhan tenaga kerja kasar untuk membersihkan kolam dan sekitarnya sehingga tetap ada peluang lapangan kerja bagi orang yang rendah skill dan pendidikannya.

Fokus perawatan yang umum adalah pembersihan lahan sekeliling kolam agar tidak menghambat aliran angin yang berfungsi untuk membantu adukan sehingga terjadi pengadukan dan pencampuran yang lebih baik. Operator perlu rutin membersihkan kolam atau permukaan air dari kotoran, sampah, atau benda-benda melayang lainnya. Oleh sebab itu, sebaiknya ada beberapa operator kalau area pengolahannya sangat luas. Yang tidak boleh dilupakan adalah pagar pengaman dan tidak setiap orang diizinkan masuk mendekati kolam untuk menghindari hal-hal negatif yang berkaitan dengan keselamatan manusia, terutama anak-anak. Untuk memutus pertumbuhan tanaman air, dinding kolam sebaiknya dibuat dari pasangan batu kali dan dimiringkan (talud). 

Apabila diizinkan, kolam bisa dijadikan kolam ikan, terutama kolam maturasi, polishing pond misalnya dengan ikan karper dan tilapia (african food fish, cichlid family). Ikan juga sekaligus dapat membasmi jentik-jentik nyamuk dan serangga. *

ReadMore »

5 Januari 2014

Tidak Ada Elpiji, Gas Metana Pun Jadi

Tidak Ada Elpiji, Gas Metana Pun Jadi
Oleh Gede H. Cahyana


Gas elpiji (LPG) naik harganya. Adakah alternatif yang dapat meringankan biaya masak-memasak, khususnya bagi pelaku bisnis makanan? Tiada rotan, akar pun jadi, ini kata peribahasa. Energi alternatif banyak jenisnya, tetapi tidak semua layak diterapkan pada satu jenis bidang usaha. Minimal sampai saat ini. Untuk keperluan masak makanan, energi yang terdekat dengannya adalah energi gas metana. Semua limbah makanan bisa dijadikan sumber energi yang potensial.

Limbah makanan sifatnya organik sehingga mudah diubah oleh mikroba anaerobik menjadi metana. Gas inilah yang dijadikan sumber energi, minimal untuk kebutuhan dapur, pengganti gas Elpiji.  Caranya dengan digester. Bakteri yang berperan mengubah limbah menjadi gas metana 1alah metanogenik seperti Methanobacterium, Methanobacillus, Methanococcus, Methanosarcina.

Komposisi gas yang normal proses ini adalah 60% - 70% metana dan 30% - 40% CO2. Tetapi biasanya konsentrasi metana kurang dari angka itu. Hasil optimal dapat dicapai dengan mengatur temperatur digester antara 30 - 45 derajat Celcius dan pH antara 7 - 8. Karena proses ini adalah beternak bakteri maka harus selalu dikontrol agar tak ada limbah B3 seperti pestisida, deterjen, pembersih lantai dan lain-lain masuk ke digester.

Jika dibandingkan, gas metana ini nilai energinya (fuel value) 5.320 kcal/m3, petrol gas 3.600 kcal/m3, kotoran sapi/cowdung 2.660 kcal/m3 dan seaweed 4.900 kcal/m3. Artinya, metana dari limbah makanan relatif bisa dijadikan alternatif energi untuk memasak makanan bagi pedagang kelas menengah. Disebut kelas menengah karena sisa makanan perhari biasanya relatif banyak dibandingkan dengan warung makanan skala kecil. *

ReadMore »