• L3
  • Email :
  • Search :

6 Juni 2020

New Normal, Sudah Waktunya?

New Normal, Sudah Waktunya?
Oleh Gede H. Cahyana

Rencana new normal yang disampaikan pemerintah pusat menimbulkan pertanyaan. Sudahkah waktunya? Tergesa-gesakah? Apakah mengarah ke herd immunity atau dalam istilah lain adalah prinsip the survival of the fittest, yang terkuat yang bertahan hidup? Tentu masyarakat juga paham bahwa geliat ekonomi menjadi alasan utama untuk memulai new normal. Perlu disampaikan bahwa ini bukan soal setuju atau tidak setuju. Tetapi ini semata-mata masalah waktu. Kapankah waktu yang tepat untuk new normal (normal baru)?
Sebelum muncul wacana normal baru, sudah ada warga yang ingin segera membuka usaha menjelang Idulfitri. Keinginan ini bisa dimaknai sebagai ingin segera kembali berusaha, bekerja, berjualan. Ingin kembali normal. Berkaitan dengan hal ini, warga masyarakat terbelah menjadi dua kelompok besar. Yang pertama adalah kelompok yang ingin segera bekerja atau membuka usaha. Umumnya di sektor perdagangan seperti pemilik toko, warung, jualan di pasar, pemilik mall dan pekerjanya. Termasuk pemilik bisnis transportasi seperti angkot, bis, ojek pangkalan dan online, travel. Juga bisnis pariwisata seperti hotel, biro jasa wisata, taksi, rental motor dan mobil. Mereka berupaya untuk memenuhi kebutuhan primer seperti sembako dan biaya sekolah dan kuliah anak-anaknya.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang nyaman work from home, bekerja di (dari) rumah dan tetap berpenghasilan. Mereka merasa aman dari bahaya Covid-19 karena sedikit berinteraksi dengan masyarakat luas tetapi tetap produktif di bidang pekerjaannya. Finansial tetap tersedia meskipun tidak berlebih dengan mengatur konsumsi harian, membagi kebutuhan menjadi primer, sekunder, dan tersier. Biaya sekolah dan kuliah anak-anak bisa menjadi masalah bagi sebagian di antara kelompok kedua ini. Terlebih lagi yang anaknya banyak. Kelompok kedua ini ada yang menjadi pegawai negeri atau ASN ada juga yang pegawai swasta.

Jika demikian, tentu ada parameter yang bisa dijadikan tolokukur untuk menyatakan bahwa keadaan sudah normal, yaitu normal baru, normal yang berbeda dengan normal sebelum pandemi. Cara yang paling tepat untuk mulai memberlakukan normal baru adalah dengan merujuk pada basis data epidemiologi, demografi, dan geografi (wilayah, daerah hingga ke RT/RW). Tentu tidak mudah memperoleh data akurat sampai ke daerah terkecil karena keterbatasan uji swab dan uji cepat (rapid test). Juga keterbatasan alat dan bahan di laboratorium, keterbatasan tenaga medis, dan kendala biaya.

Namun demikian, statistik membantu dalam membuat perkiraan (forecasting). Bisa dibuat kurva insidensi epidemi dengan memasangkan waktu dan jumlah orang yang sakit. Yang harus dianalisis adalah data perkembangan jumlah korban, kecenderungan jumlah yang sembuh, penurunan jumlah yang meninggal yang diiringi dengan peningkatan uji swab di seluruh kabupaten dan kota. Dugaan secara epidemiologis inilah yang akan memberikan hasil akurat perihal waktu untuk memulai status normal baru. Setiap daerah memiliki kurva khas masing-masing.

Selain itu bisa juga dibuat analogi dengan meninjaunya dari aspek mikrobiologi. Aspek ini memberikan pandangan apakah normal baru bisa dilaksanakan pada bulan Juni 2020 ini ataukah tidak. Apakah bisa secara nasional atau hanya daerah tertentu saja.

Analogi mikrobiologi
Secara mikrobiologi, normal baru adalah kondisi setelah wabah (pascapandemi) yang sudah melewati fase penurunan (declining). Di dalam jurnal Annu. Rev. Microbiology, 1949: 3: 371-394, Jacques Monod menjelaskan pola pertumbuhan bakteri. Monod yang bekerja di Pasteur Institute di Paris, Prancis adalah orang pertama yang menulis tentang grafik pertumbuhan bakteri. Kurva pertumbuhan bakteri ini bisa dijadikan analogi untuk persebaran wabah oleh novel Coronavirus. Sekali lagi disebutkan bahwa kurva ini adalah analogi pertumbuhan dan pengurangan jumlah penderita Covid-19, bukan kajian epidemiologis. Kurva Monod ini hanya pendekatan untuk memperoleh gambaran awal, apakah sudah waktunya normal baru atau belum.

Kurva dimulai dari fase lag, yaitu tahap adaptasi dengan laju pertumbuhan nol. Fase lag ini di Indonesia terjadi pada Januari sampai dengan medio Februari 2020. Sebagian orang Indonesia, terutama yang bermain media sosial memberikan perhatian pada kasus Corona di Wuhan, China. Pada periode ini pemerintah pusat menanggapi dengan santai dan memberikan ujaran senda-gurau di media massa. Berikutnya adalah fase akselerasi, yaitu percepatan laju pertumbuhan tetapi belum ada yang dinyatakan sakit karena belum banyak uji swab, juga belum ada uji cepat (rapid test). Ini berlangsung hingga medio Maret 2020, dua pekan setelah Presiden Jokowi mengumumkan bahwa ada dua orang yang sakit akibat Corona pada 2 Maret 2020.

Mulai pekan ketiga Maret 2020 terjadilah fase eksponensial, yaitu kenaikan laju pertumbuhan jumlah penderita. Laju yang tinggi ini terus naik selama beberapa waktu sampai memasuki fase pelambatan (retardation) ketika laju pertumbuhan mulai menurun. Dalam skala nasional, yang tentu berbeda dengan kejadian di daerah-daerah, pada awal Juni 2020 masih berada di fase eksponensial. Sampai kapan? Sampai tercapai puncaknya dengan indikasi terjadi laju pertumbuhan nol sehingga jumlah pertambahan penderita relatif konstan dari hari ke hari. Ini disebut fase stationary. Fase ini bisa berlangsung beberapa pekan bergantung pada perilaku hidup dan interaksi sosial masyarakat.

Terakhir adalah fase penurunan (decline), yaitu laju pertumbuhan negatif yang artinya jumlah penderita berkurang seiring dengan pergantian hari. Lama waktunya juga bergantung pada perilaku masyarakat dalam interaksi sosial di sekitar rumah, di pasar, toko, mall, dan di tempat kerja. Termasuk kesungguhan penegakan hukum oleh aparatur terhadap warga masyarakat yang melanggar. Setelah ini dilewati barulah masuk ke fase new normal, yaitu ketika lajunya tidak berkurang lagi tetapi stabil. Stabil artinya naik dan turun silih berganti secara dinamis sehingga masyarakat menjadi terbiasa seperti halnya terbiasa dengan penyakit akibat virus lainnya.

Patut dipahami oleh masyarakat bahwa normal baru adalah keadaan yang diasumsikan normal dalam kehidupan sosial masyarakat dan konsisten melaksanakan protokol kesehatan dari hari ke hari. Sampai kapan? Sampai ditemukan vaksin yang betul-betul mampu melawan novel Coronavirus dan vaksinnya sudah diproduksi masal dan murah harganya. Boleh jadi anak balita pun akan diberikan vaksi ini seperti vaksin lainnya. 

Dengan berpatokan pada temuan vaksin inilah maka tatanan dunia baru atau new normal bisa dinyatakan valid di seluruh dunia. Semua orang di dunia tidak akan merasa terancam lagi oleh wabah Covid-19.*
ReadMore »

28 Mei 2020

Bahaya Laten Virus Corona

Bahaya Laten Virus Corona
Oleh Gede H. Cahyana
Pengamat Sanitasi Lingkungan Universitas Kebangsaan

Jejak genetis novel Coronavirus sudah ditemukan di dalam air limbah. Pernyataan ini dirilis oleh peneliti di RIVM National Institute for Public Health and the Environment di laman situsnya pada Maret 2020. Jejak di dalam air limbah domestik tersebut diperoleh dari sampel yang diambil di instalasi pengolahan air limbah (IPAL) di bandara Schiphol dan di IPAL Kaatsheuvel, Netherland. Memang tidak semua sampel yang dianalisis menghasilkan data positif jejak genetis virus Corona baru. Tetapi sampel yang positif memberikan indikasi bahwa air limbah berpotensi menjadi sumber biakan Corona.
Materi genetis virus Corona juga pernah ditemukan di dalam air limbah dalam kasus wabah SARS (severe acute respiratory syndrome) tahun 2002/2003 di China. Dengan uji PCR (polymerase-chain reaction) asam nukleat SARS-CoV ditemukan di dalam air limbah sebelum proses disinfeksi di rumah sakit di Beijing. Setelah disinfeksi ternyata RNA SARS-CoV masih dapat dideteksi di dalam air limbah di rumah sakit Chinese People's Liberation Army, Beijing. Peneliti menyatakan bahwa virus mampu bertahan 14 hari di dalam air limbah pada temperatur 4 derajat Celcius, 2 hari pada 20 derajat Celcius, dan RNA virus dapat dideteksi selama 8 hari meskipun virus sudah dinonaktifkan.

Bagaimana dengan air limbah domestik di Indonesia? Setiap kota besar di Indonesia memiliki fasilitas IPAL. Kota Bandung misalnya memiliki kolam oksidasi (oxidation pond).

Kolam Oksidasi
Bojongsoang adalah desa di tepi Sungai Citarum. Di desa ini ada IPAL domestik jenis kolam oksidasi terluas (85 hektar) di ASEAN. IPAL ini terdiri atas tiga jenis kolam. Kolam pertama yang menerima air limbah disebut kolam anaerobik, yaitu kolam tanpa oksigen. Di kolam inilah feses (tinja) orang yang andaikata berisi virus masuk pertama kali setelah dibuang di water closet (WC). Pengolahan air limbah dilaksanakan oleh mikroba anaerob yang kurang mampu mereduksi persistensi virus dibandingkan dengan mikroba aerob.

Kedalaman kolam anarobik antara 3-5 m. Proses pengolahan berlangsung selama 24 jam sehari, yaitu selama air limbah dari penduduk mengalir ke dalam IPAL. Konsentrasi virus di dalam air limbah mentah antara 5,000–100,000 pfu per liter (pfu: plaque forming unit, satuan konsentrasi untuk virus). Virus tersebut mampu direduksi oleh unit pengolahan. Tetapi efisiensi tidak mencapai 100%. Virus yang mampu bertahan aktif kemudian mengalir ke kolam kedua, yaitu fakultatif.

Kedalaman kolam fakultatif antara 1,2–2,5 m. Secara alamiah kolam ini terbagi menjadi dua lapisan, yaitu lapisan anaerobik di bagian bawah dan lapisan aerobik di bagian atas yang kaya oksigen. Oksigen di lapisan aerobik ini berasal dari dua proses alamiah, yaitu reaerasi dari atmosfer dan fotosintesis algae. Kondisi anaerobik di bagian bawah mendukung pertumbuhan virus. Sedangkan di bagian atas yang aerob mampu mereduksi persistensi virus. Kondisi aerobik ini membantu bakteri aerob menonaktifkan virus.

Efluen (air olahan) kolam fakultatif kemudian masuk ke kolam ketiga, yaitu maturasi. Kolam ini paling dangkal, antara 30–45 cm sehingga sinar matahari dapat menembus ke dasar kolam apabila airnya jernih. Sinar ultraviolet mampu membasmi bakteri dan virus. Tetapi umumnya hanya efektif di bagian permukaan air. Daya destruksi sinar ultraviolet berkurang apabila virus berada makin dalam dari permukaan air. Adanya serpihan feses berukuran mikron juga menyulitkan sinar matahari mengenai virus karena seolah-olah virus sembunyi di dalam ruang feses. Begitu juga pada waktu malam ketika tidak ada sinar matahari yang mengenai air limbah. Maka, efluen kolam maturasi ini pun belum bisa bebas dari bakteri dan virus. Bakteri dan virus yang bertahan aktif di kolam maturasi akhirnya dibuang ke Sungai Citarum. Potensi kontak bakteri dan virus dengan manusia menjadi lebih besar.

Masalah lainnya, IPAL Bojongsoang tidak dilengkapi dengan unit klorinasi. IPAL hanya mengandalkan peran bakteri dan cahaya matahari dalam pengolahan air. Selayaknya ada, minimal digunakan secara insidentil, seperti pada saat wabah Covid-19. Masalah berikutnya adalah Buang Air Besar Sembarang (BABS). Mungkin masyarakat sudah buang air besar di dalam WC (water closet) tetapi disalurkan langsung ke selokan atau sungai. Perilaku buruk sanitasi seperti ini pernah menimbulkan wabah penyakit hepatitis dengan 30.000 kasus di India karena air limbah yang berlimpah virus masuk ke air Sungai Yamuna (Jumna).

Operator Waspada
Operator IPAL Bojongsoang harus waspada karena air limbah banyak mengandung bakteri dan virus. Juga mewaspadai aliran air limbah yang mungkin teraduk (mixing) secara alamiah sehingga bagian atas yang aerob bisa pindah ke bawah dan bagian bawah yang anaerob bisa pindah ke atas. Fenomena ini disebut upwelling (balikan) yang terjadi karena perbedaan densitas air akibat perubahan temperatur.

Selain air limbah, lumpur (sludge) juga berisiko. Lumpur dalam pengolahan air limbah secara biologi adalah endapan biosolid atau bioflocc yang terdiri atas banyak jenis mikroba dan virus. Lumpur di tiga jenis kolam tersebut berpotensi menyebarkan patogen ke dalam air sungai, air tanah, dan tanah yang dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan. Semua lumpur di kolam anerobik, fakultatif dan maturasi berisiko karena cahaya matahari hanya mampu mencapai permukaan air. Juga karena tidak terjadi disinfeksi oleh cahaya matahari pada waktu malam.

Operator sebaiknya tidak kontak langsung dengan lumpur tanpa APD (masker, sarung tangan, dan sepatu boots). Juga harus disiplin memakai APD. Operator harus mendahulukan precautionary principle (prinsip kehati-hatian) karena bekerja di lokasi yang justru bakteri sengaja dikembangbiakkan sebagai pengolah pencemar organik.

Kalau bakteri berkembang dengan subur maka subur juga potensi keaktifan virus karena bakteri bisa dijadikan inang oleh virus. Virus mereplikasi diri di dalam sel bakteri anaerob yang jumlahnya berlimpah di kolam oksidasi. Upaya tersebut perlu dilaksanakan sebagai cara untuk memutus rantai pesebaran virus. Juga untuk mencegah bahaya laten munculnya virus-virus baru dari air limbah yang masuk ke sungai pada masa yang akan datang.* 
ReadMore »

21 April 2020

Air PDAM Basmi Corona

Air PDAM Basmi Corona
Oleh Gede H. Cahyana
Associate Professor Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan

Setelah Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020 mengumumkan bahwa dua orang WNI terinfeksi virus Corona maka terjadilah kepanikan. Orang-orang memborong kebutuhan pokok: beras, telor, minyak, mie instan, ikan, daging, sayur, makanan minuman kaleng. Juga masker dan sanitangan (hand sanitizer). Harganya langsung naik karena panic buying atau rush buying atau beli-rusuh. Kemudian pada 11 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah ini menjadi pandemi. Pandemi ialah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi geografi yang luas di seluruh dunia.

WHO menamainya Coronavirus Disease-19, disingkat CoViD-19 (penyakit yang disebabkan oleh virus Corona, tahun 2019). Corona tidak bisa hidup di udara bebas tetapi memerlukan inang. Ia bisa hidup beberapa jam di permukaan benda seperti baju, celana, tas, saputangan sehingga sebaiknya segera dicuci atau direndam di dalam air bersabun atau dijemur di terik matahari. Gejala orang yang terinfeksi ialah demam, batuk kering, badan lelah, lemas, napas pendek (sesak). Masa inkubasinya, yaitu rentang waktu antara terinfeksi sampai sakit antara 1 hingga 14 hari (Roser, et.al., 2020)

Sabun dan Alkohol
Belum ditemukan vaksin untuk mencegah Corona menginfeksi manusia. Yang bisa dilakukan adalah mencegah agar tidak kena virus tersebut. Benda yang mampu membasmi virus adalah sabun dan alkohol. Sanitangan berisi alkohol. Caranya dengan sering cuci tangan pakai sabun atau alkohol. Kapankah harus cuci tangan? WHO menyarankan setelah batuk atau bersin. Setelah bersentuhan dengan penderita. Sebelum, selama, setelah menyiapkan makanan. Sebelum makan. Setelah dari kamar mandi (WC). Saat tangan kotor. Setelah memegang hewan atau kotoran hewan. Selama bepergian ke tempat umum.

Sabun berisi senyawa alkali NaOH untuk sabun batangan dan KOH untuk sabun cair dan senyawa triclosan sebagai antibakteri. Hampir semua bakteri bisa dibasmi oleh zat yang ada di dalam sabun. Tetapi virus tidak bisa. Virus lebih resisten daripada bakteri. Begitu pula alkohol. Alkohol 70% bisa membunuh bakteri. Apabila bakterinya mati maka virus yang hidup di dalam inang bakteri itu pun mati.

Namun demikian, sabun atau alkohol (sanitangan) belum tentu tersedia di setiap tempat dan setiap waktu. Yang paling mudah dan murah adalah air. Tetapi tidak semua air. Tidak bisa dengan air minum kemasan (amik), air minum kemasan ulang (amiku), air hujan, air sumur, air tanah dalam. Hanya air berklor yang bisa membasmi bakteri.

Senyawa klor
Mengapa air PDAM? Karena air PDAM berisi klor. Disinfeksinya menggunakan kaporit (kalsium hipoklorit, Ca(OCl)2) atau bleaching powder atau puyer kelantang atau chlorinated lime. Setelah diinjeksikan atau dibubuhkan ke dalam air di reservoir, kisaran waktu kontaknya (t, time) antara 15 - 30 menit. Dosis klor antara 0,2 - 40 mg/l. Keuntungannya, ada sisa klor antara 0,2 – 0,5 mg/l. Sisa klor ini dibutuhkan apabila di ruas pipa distribusi terjadi rekontaminasi bakteri yang masuk ke dalam pipa akibat kebocoran. Sisa klor inilah yang diharapkan mampu membasmi bakteri itu (Cahyana, 2004, hlm. 239 – 242)).

Karakterisitik klor sebagai biosida: (1) toksik bagi mikroba pada konsentrasi yang tidak berbahaya bagi manusia dan hewan; (2) cepat bereaksi membunuh bakteri dengan waktu kontak yang singkat; (3) tahan lama sehingga mampu menanggulangi rekontaminasi di zone distribusi; (4) ekonomis (murah) dan mudah diperoleh; (5) mudah dianalisis di laboratorium; dan (6) mudah menentukan dosisnya. Rekomendasi WHO, nilai rerata minimal Ct = 15 mg.menit/liter. Misalkan, 0,5 mg/l sisa klor bebas dengan waktu kontak 30 menit. C = konsentrasi klor dan t =  waktu kontak.

Basmi CoViD-19
Virus yang dinamai SARS-CoV-2 ini adalah virus baru berjenis Coronavirus. Satu famili dengan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV atau SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV atau MERS). CoViD-19 memiliki karakteristik fisika dan biokimia yang sama dengan SARS dan MERS. Virus ini diselimuti oleh struktur protein yang disebut kapsid (capsid) dan dikelompokkan menjadi tiga: (1) virus berselimut membran lemak (enveloped virus); (2) virus besar tak berselimut (large non-enveloped); dan (3) virus kecil tak berselimut (small non-enveloped).

EPA, 2011 menyatakan bahwa klor efektif membasmi virus berselimut membran sehingga virus penyebab wabah CoVid-19 ini pun bisa dibasmi karena termasuk virus berselimut. Gambar 1 adalah gambar untuk air minum yang diklorinasi, menyatakan kemampuan klor dan sinar ultraviolet dalam membasmi beberapa jenis virus. Sebagai oksidator kuat, klor mampu merusak DNA bakteri. Diharapkan DNA atau RNA virus pun ikut rusak. Coxsackievirus, Poliovirus dan Rotavirus adalah contoh virus tak berselimut (non-enveloped virus).Semua virus tersebut bisa dibasmi pada nilai Ct kurang dari 15 mg.menit/liter. Artinya, virus berselimut seperti CoViD-19 bisa dibasmi pada nilai Ct yang lebih rendah.

Kesimpulan, dibandingkan dengan sabun, alkohol, dan sanitangan yang harganya mahal maka air PDAM lebih murah dan efektif dalam membasmi bakteri dan virus. Agar PDAM ikut berperan besar dalam sejarah wabah CoViD-19 ini maka air PDAM selayaknya selalu berisi sisa klor bebas, terutama di lokasi terjauh dari IPAM. Disarankan dosis klor dinaikkan 10% dari dosis biasanya. Semoga bermanfaat. *
'> 

Kesimpulan, dibandingkan dengan sabun, alkohol, dan sanitangan yang harganya mahal maka air PDAM lebih murah dan efektif dalam membasmi bakteri dan virus. Agar PDAM ikut berperan besar dalam sejarah wabah CoViD-19 ini maka air PDAM selayaknya selalu berisi sisa klor bebas, terutama di lokasi terjauh dari IPAM. Disarankan dosis klor dinaikkan 10% dari dosis biasanya. Semoga bermanfaat. *
Daftar Pustaka
1. Cahyana, G. H (2004), PDAM Bangkrut, Awas Perang Air, Sahara Golden Press.
2. EHS Water O.U. (2020), Advice note to EHS on COVID-19 in 
chlorinated drinking water supplies and chlorinated swimming pools, Version 3.
3. Environmental Protection Agency, Water Treatment Manual Disinfection, (2011).
4. Max Roser, Hannah Ritchie and Esteban Ortiz-Ospina (2020) , 
Coronavirus Disease (COVID-19), Statistics and Research
Published online at OurWorldInData.org. Retrieved from: 
'https://ourworldindata.org/coronavirus' [Online Resource]

ReadMore »

8 April 2020

Air PDAM Melawan Corona

Air PDAM Melawan Corona
Oleh Gede H. Cahyana
Pengamat Sanitasi Lingkungan Universitas Kebangsaan

Tanggal 22 Maret 2020 adalah peringatan Hari Air Dunia yang paling sepi sejak digelar pertama kali pada tahun 1993. Tidak ada seremonial. Dengan tema Water and Climate Change, Air dan Perubahan Iklim, peringatan ini sesungguhnya berkaitan dengan wabah penyakit menular, selain curah hujan abnormal sehingga banjir atau kekeringan, gagal panen, dan kenaikan muka air laut. Di dalam buku Bioteknologi dan Lingkungan yang terbit tahun 1994 Vandana Shiva menulis dampak perubahan iklim terhadap hal tersebut, termasuk indikasi terjadinya mutasi virus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus Corona baru (novel Coronavirus) berkaitan dengan virus sebelumnya. Virus yang dinamai SARS-CoV-2 ini masih satu keluarga dengan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV atau SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV atau MERS). Artinya, virus-virus tersebut memiliki kesamaan sifat fisika dan biokimia. Tetapi yang paling bahaya adalah virus hasil mutasi terakhir seperti Corona ini. Penyakit akibat virus baru ini dinamai CoViD-19, Coronavirus Disease-19, penyakit karena Corona yang muncul tahun 2019.

Cara melawan
Tentu ada cara untuk melawan Corona. Yang pertama adalah tindakan preventif dengan cara memperkuat daya tahan tubuh, kekebalan atau imunitas. Orang sehat akan sulit diinfeksi oleh virus. Kesehatan diperoleh dengan makan makanan bergizi cukup: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air bersih. Termasuk rempah, rimpang, sayur dan buah bervitamin C.

Yang kedua adalah tindakan kuratif dengan pengobatan dan isolasi. Penderita CoViD-19 dirawat di ruang khusus sehingga virus tidak bisa ke luar ruang dan mati di ruang perawatan pasien. Sebaran virus pun bisa dihentikan. Sementara itu imunitas pasien terus diperkuat sehingga bisa bertahan dan melewati masa kritisnya sampai sehat kembali. Hanya dokter dan perawat saja yang boleh kontak dengan pasien dengan mengikuti prosedur standar protokol penyakit menular.

Yang ketiga adalah tindakan mekanis, yaitu melawan Corona dengan zat kimia. Orang sakit bisa menyebarkan virus dari muncratan air liur pada saat batuk atau bersin. Juga dari cairan hidung yang melekat di benda-benda sekitarnya. The New England Journal of Medicine menyatakan bahwa Corona bisa bertahan tiga jam di dalam aerosol. Bertahan empat jam di permukaan tembaga, bertahan 24 jam di karton, dan tiga hari di permukaan plastik dan logam stainless. Oleh sebab itu, gagang pintu, finger print, pensil, kertas, rel tangga dan eskalator, kursi di angkot, bis, kereta api, dan semua benda bisa menjadi sumber Corona. Maka mengurangi sentuhan dengan semua benda tersebut di ruang publik menjadi penting dengan cara bekerja, belajar, beribadah di rumah selama masa inkubasinya, sekitar14 hari.

Bagaimana praktik cara mekanis tersebut? Caranya adalah mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Sabun batangan dibuat dari natrium hidroksida dan sabun cair dari kalium hidroksida. Di pasaran keduanya ada yang ditambah dengan antiseptik seperti triclosan atau triclocarban yang masih diperdebatkan plus-minusnya. Selain sabun juga bisa dengan alkohol 70% atau produk komersial yang berisi alkohol seperti sanitangan (hand sanitizer), baik buatan pabrik, industri rumahan maupun buatan sendiri. Hanya saja, sabun dan sanitangan itu relatif mahal. Harganya terus naik karena banyak yang membutuhkan.

Air PDAM
Yang paling murah adalah air PDAM. Air ini mengandung klor sehingga mampu membunuh bakteri dan virus. Sifat klor yang digunakan oleh PDAM antara lain (1) toksik bagi mikroba pada konsentrasi yang tidak berbahaya bagi manusia dan hewan; (2) cepat bereaksi membunuh bakteri dan virus dengan waktu kontak yang singkat; (3) tahan lama sehingga mampu menanggulangi rekontaminasi di zone distribusi; (4) ekonomis (murah) dan mudah diperoleh; (5) mudah dianalisis di laboratorium; dan (6) mudah dalam menentukan dosisnya.

Menurut EHS Water yang dirilis 5 Maret 2020, yaitu Advice note to EHS on COVID-19 in chlorinated drinking water supplies and chlorinated swimming pools, Version 3, klor adalah oksidator kuat yang mampu merusak DNA bakteri dan RNA virus. Bakteri biasanya menjadi inang bagi virus. Kalau bakterinya mati maka virusnya juga mati. Parameter yang digunakan untuk pembasmian ini adalah hasil kali konsentrasi (C) klor dan lamanya waktu kontak (t) yang ditulis Ct. Rekomendasi WHO dengan mengutip Environmental Protection Agency, Water Treatment Manual Disinfection (2011) adalah nilai rerata minimal Ct = 15 mg.menit/liter, yaitu hasil kali konsentrasi 0,5 mg/l sisa klor dengan waktu kontak selama 30 menit. Dinyatakan bahwa Coxsackievirus, Poliovirus dan Rotavirus adalah virus tidak berselimut (non-enveloped virus) yang bisa dibasmi pada nilai Ct kurang dari 15 mg.menit/liter. Karena Corona termasuk virus berselimut (enveloped virus) maka bisa dibasmi dengan nilai Ct yang lebih rendah.

Bagaimana kalau tidak berlangganan PDAM? Bisa dengan kaporit tablet yang dijual di toko kimia. Cara membuatnya, masukkan sebutir kaporit tablet ke dalam 500 - 1.000 liter air di toren (tangki). Apabila habis, masukkan lagi 1 butir. Akan tercium bau kaporit “seangin” atau sekilas saja, ini sudah cukup. Tetapi hindari menarik napas dalam-dalam di atas air toren tersebut karena klor bersifat korosif, menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terpapar. Sebaiknya gunakan masker kalau ingin melihat apakah butir kaporit tablet masih ada atau sudah habis.


Dengan demikian, untuk melawan sebaran Corona ini maka masyarakat, pengurus masjid, gereja sekolah bisa memanfaatkan air PDAM atau air berklor buatan sendiri. Disarankan juga agar PDAM menambah dosis klornya sehingga air di lokasi terjauh dari instalasi pengolahan airnya masih memiliki sisa klor bebas. Sisa klor bebas inilah yang akan membasmi bakteri dan virus Corona selama digunakan untuk mencuci tangan, mandi atau berwudhu.*
ReadMore »

27 Maret 2020

Dokter dan Perawat

Dokter dan Perawat

Perang melawan musuh berwujud orang atau tentara negara asing seperti Belanda dan Jepang sudah dilakukan oleh tentara Indonesia. Perang melawan musuh yang tidak tampak, seperti bakteri dan virus, memerlukan jenis senjata lain. Patriotnya adalah dokter dan perawat. Kini dokter dan perawat berada di garis depan, melawan Corona. Berjibaku. Sudah berhasil menyembuhkan pasien Covid-19. Tetapi ada sejumlah dokter dan perawat yang meninggal. Masalah yang muncul adalah kurang APD. APD ini semacam benteng bagi tentara. Dokter dan perawat tanpa APD serupa dengan tentara yang berdiri di tengah medan tempur yang dikelilingi oleh tentara musuh.


Kisah dokter yang menjadi tentara betulan juga ada. Dokter ini betul-betul ikut ke medan tempur. Ikut terjun payung di Timor Timur. Musuhnya adalah Fretilin. Pimpinan Xanana Gusmao.  Tugasnya adalah memberikan bantuan logistik kesehatan. Luka kena peluru, jatuh, patah tulang, dll menjadi tugasnya untuk mengobati korban. Sejak bertugas di Timor Timur itu, menjadi dokter yang akrab dengan Pak Prabowo Subianto (sekarang Menteri Pertahanan). Beliau adalah dr. Boyke Setiawan, M.M. yang meninggal pada Januari 2020 lalu. Meskipun tentara, jiwa dokternya itu terbawa sampai akhir hayatnya. Selama menjadi rektor Universitas Kebangsaan, kerapkali mengadakan “dokling”: dokter keliling ke ratusan desa di Jawa Barat. 

Saya juga teringat pada seorang dokter di Bali. Tepatnya di Kab. Jembrana. Namanya dr. Faisal Baraas. Beliau dulu rutin menulis di koran Republika. Artikelnya sudah dibukukan dengan judul Catatan Harian Seorang Dokter. Banyak kisah penyakit (termasuk yang menular (mewabah), terutama disentri, kolera) yang ditulis dengan bernas. Beliau memaparkan fakta kesehatan masyarakat dan pengaruh mistik yang waktu itu, medio tahun 1970-an sering menyulitkan dalam memberikan pemahaman kesehatan kepada masyarakat. Waktu itu baru saja mulai Pelita (Pembangunan Lima Tahun) Orde Baru. Baru saja mulai penggunaan kloset leher angsa di desa. Paparan yang lincah dan trengginas itu membawa pembaca seolah-olah berada di hadapan pasien di Puskesmas.

Yang terakhir, ini saya baca dari novel karya Boris Pasternak: Doctor Zhivago. Kisah seorang dokter pada masa perang di Rusia. Waktu itu pun di dunia, faktanya, sedang berkecamuk wabah atau Pandemi Flu Spanyol. Meskipun namanya Spanyol, ternyata asalnya dari China juga. Yang meninggal di Indonesia kurang lebih 1,5 juta orang. Sekitar 50 juta orang meninggal (2,9%) di seluruh dunia. Yang sakit sekitar 500 juta orang (29%) . Waktu itu Bumi dihuni oleh sekitar 1,71 miliar orang. Itulah kisah suka duka dokter pada masa perang, kisah cintanya (karena dokter juga manusia biasa), dan intrik politik ekonomi dalam setiap perang dan wabah penyakit. Seperti sekarang ini, di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Dilema antara lockdown dan tidak. Lockdown, tidak. Lockdown, tidak.

Selamat berjuang di garis depan para dokter dan perawat. Semoga selalu sehat walafiat. Menang melawan Corona. Terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta, Pak Anies Baswedan atas perhatian dan empati kepada dokter, perawat, sanitarian, ahli gizi, pegawai administrasi, hingga pasukan cleaning services. Adakah pejabat lain yang akan mengikuti jejak langkahnya untuk kesehatan semua orang Indonesia? *
ReadMore »

26 Maret 2020

Corona dan Pekerja Informal Sanitasi

Corona dan Pekerja Informal Sanitasi

Pasien Covid-19 terus bertambah. Tidak ada lagi pengumuman pasien nomor sekian sembuh, pasien nomor sekian meninggal, dan yang di Solo adalah pasien nomor sekian. Mengawali kasus ini dengan senda gurau, canda tawa, dan senyum sumringah para menteri ketika ditanya wartawan, kini tidak ada lagi. Yang muncul adalah wajah-wajah kaku para juru bicara (jubir) yang nyaris always ingin menang sendiri, menggunakan diksi represif, baik di TV maupun medsos mereka.

“Ini seperti puncak gunung es. Yang terdeteksi hanya 10%,” begitulah ujaran yang beredar. Yang sudah sakit tetapi tidak tercatat jauh lebih banyak. Orang sakit yang kelihatan sehat inilah yang bahaya. Mereka bisa menjadi pengedar (bukan narkoba). Pengedar virus Corona. Siapakah mereka? Komunitas studi sosial menyebutnya orang-orang marjinal. Hampir tanpa hak asasi manusia. Mereka bekerja harian dan malaman. Siang dan malam. Ketika orang lain belajar, bekerja, beribadah di rumah sembari tetap dapat gaji, mereka tetap bekerja di luar. Ketika orang beli-rusuh (panic buying), mereka tidak beli apa-apa. Bukan karena tidak ingin, tapi tak ada uang. Ketika orang memborong sanitangan (hand sanitizer), sepotong sabun pun mereka tak punya.


Mereka adalah pekerja sanitasi. Pekerja di tingkat bawah. Mereka pembersih selokan (sewer atau sewerage). Penyedot tinja (septic tank). Pengais sampah. Mereka bekerja tanpa sarung tangan. Tanpa masker. Tanpa sabun. Tanpa APD. Tak pernah tahu sanitangan. Sampah masker, sarung tangan, sisa makanan yang bertumpuk di bak sampah menjadi “harta-karun” untuk hari itu. Kompilasi penelitian yang ditulis ringkas di The New England Journal of Medicine menyatakan bahwa virus Corona bisa bertahan beberapa hari di benda-benda berbahan tertentu. Benda itu banyak ada di bak sampah. Di TPS dan TPA. Adakah uji-cepat (rapid test) diadakan di TPA sampah? 

Kalau hanya fokus pada “orang-orang kota”, lupa atau melupakan test pada orang-orang marjinal (pinggiran) ini, bukankah Corona tidak akan bisa lenyap, tidak akan bisa “diputus” sebarannya? Artinya, virus Corona akan sulit dibasmi apabila sampah-sampah masker, sarung tangan, dll terus berserakan di mana-mana dan menularkannya ke pekerja informal sanitasi tersebut. Ini luput dari perhatian pemerintah pusat dan daerah. Apabila pemerintah alergi atas aksi “lock down”, mbok ya jangan menatap mereka “look down” terhadap pekerja informal sanitasi itu. Jangan melihat dengan sebelah mata, jangan meremehkan. Mereka manusia Indonesia juga. Negeri indah dengan nyiur melambai.

Masihkah indah negeri ini? Adakah exploitation de l'homme par l'homme di negeri ini? Kisruh pendapat perihal prioritas rapid test dan beli-rusuh, penolakan warga sekitar terhadap perawat pasien Covid-19 adalah ciri-cirinya. Masih adakah asas kekeluargaan, gotong-royong? Janganlah bertanya kepada rumput yang bergoyang. Tidak akan mendapatkan jawaban. Tanyakan kepada hati masing-masing, khususnya hati para pemimpin di pemerintahan pusat dan daerah. *
ReadMore »

24 Maret 2020

Air PDAM Melawan Corona

Air PDAM Melawan Corona
Oleh Gede H. Cahyana
Pengamat Sanitasi Lingkungan Universitas Kebangsaan

Tanggal 22 Maret 2020 adalah peringatan Hari Air Dunia yang paling sepi sejak digelar pertama kali pada tahun 1993. Tidak ada seremonial. Dengan tema Water and Climate Change, Air dan Perubahan Iklim, peringatan ini sesungguhnya berkaitan dengan wabah penyakit menular, selain curah hujan abnormal sehingga banjir atau kekeringan, gagal panen, dan kenaikan muka air laut. Di dalam buku Bioteknologi dan Lingkungan yang terbit tahun 1994 Vandana Shiva menulis dampak perubahan iklim terhadap hal tersebut, termasuk indikasi terjadinya mutasi virus.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus Corona baru (novel Coronavirus) berkaitan dengan virus sebelumnya. Virus yang dinamai SARS-CoV-2 ini masih satu keluarga dengan Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus (SARS-CoV atau SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV atau MERS). Artinya, virus-virus tersebut memiliki kesamaan sifat fisika dan biokimia. Tetapi yang paling bahaya adalah virus hasil mutasi terakhir seperti Corona ini. Penyakit akibat virus baru ini dinamai CoViD-19, Coronavirus Disease-19, penyakit karena Corona yang muncul tahun 2019.

Cara melawan
Tentu ada cara untuk melawan Corona. Yang pertama adalah tindakan preventif dengan cara memperkuat daya tahan tubuh, kekebalan atau imunitas. Orang sehat akan sulit diinfeksi oleh virus. Kesehatan diperoleh dengan makan makanan bergizi cukup: karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air bersih. Termasuk rempah, rimpang, sayur dan buah bervitamin C.

Yang kedua adalah tindakan kuratif dengan pengobatan dan isolasi. Penderita CoViD-19 dirawat di ruang khusus sehingga virus tidak bisa ke luar ruang dan mati di ruang perawatan pasien. Sebaran virus pun bisa dihentikan. Sementara itu imunitas pasien terus diperkuat sehingga bisa bertahan dan melewati masa kritisnya sampai sehat kembali. Hanya dokter dan perawat saja yang boleh kontak dengan pasien dengan mengikuti prosedur standar protokol penyakit menular.

Yang ketiga adalah tindakan mekanis, yaitu melawan Corona dengan zat kimia. Orang sakit bisa menyebarkan virus dari muncratan air liur pada saat batuk atau bersin. Juga dari cairan hidung yang melekat di benda-benda sekitarnya. New England Journal of Medicine menyatakan bahwa Corona bisa bertahan tiga jam di dalam aerosol. Bertahan empat jam di permukaan tembaga, bertahan 24 jam di karton, dan tiga hari di permukaan plastik dan logam stainless. Oleh sebab itu, gagang pintu, finger print, pensil, kertas, rel tangga dan eskalator, kursi di angkot, bis, kereta api, dan semua benda bisa menjadi sumber Corona. Maka mengurangi sentuhan dengan semua benda tersebut di ruang publik menjadi penting dengan cara bekerja, belajar, beribadah di rumah selama masa inkubasinya, sekira14 hari.

Bagaimana praktik cara mekanis tersebut? Caranya adalah mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Sabun batangan dibuat dari natrium hidroksida dan sabun cair dari kalium hidroksida. Di pasaran keduanya ada yang ditambah dengan antiseptik seperti triclosan atau triclocarban yang masih diperdebatkan plus-minusnya. Selain sabun juga bisa dengan alkohol 70% atau produk komersial yang berisi alkohol seperti sanitangan (hand sanitizer), baik buatan pabrik, industri rumahan maupun buatan sendiri. Hanya saja, sabun dan sanitangan itu relatif mahal. Harganya terus naik karena banyak yang membutuhkan.

Air PDAM
Yang paling murah adalah air PDAM. Air ini mengandung klor sehingga mampu membunuh bakteri dan virus. Sifat klor yang digunakan oleh PDAM antara lain (1) toksik bagi mikroba pada konsentrasi yang tidak berbahaya bagi manusia dan hewan; (2) cepat bereaksi membunuh bakteri dan virus dengan waktu kontak yang singkat; (3) tahan lama sehingga mampu menanggulangi rekontaminasi di zone distribusi; (4) ekonomis (murah) dan mudah diperoleh; (5) mudah dianalisis di laboratorium; dan (6) mudah dalam menentukan dosisnya.

Menurut EHS Water yang dirilis 5 Maret 2020, yaitu Advice note to EHS on COVID-19 in chlorinated drinking water supplies and chlorinated swimming pools, Version 3, klor adalah oksidator kuat yang mampu merusak DNA bakteri dan RNA virus. Bakteri biasanya menjadi inang bagi virus. Kalau bakterinya mati maka virusnya juga mati. Parameter yang digunakan untuk pembasmian ini adalah hasil kali konsentrasi (C) klor dan lamanya waktu kontak (t) yang ditulis Ct. Rekomendasi WHO dengan mengutip Environmental Protection Agency, Water Treatment Manual Disinfection (2011) adalah nilai rerata minimal Ct = 15 mg.menit/liter, yaitu hasil kali konsentrasi 0,5 mg/l sisa klor dengan waktu kontak selama 30 menit. Dinyatakan bahwa Coxsackievirus, Poliovirus dan Rotavirus adalah virus tidak berselimut (non-enveloped virus) yang bisa dibasmi pada nilai Ct kurang dari 15 mg.menit/liter. Karena Corona termasuk virus berselimut (enveloped virus) maka bisa dibasmi dengan nilai Ct yang lebih rendah.

Bagaimana kalau tidak berlangganan PDAM? Bisa dengan kaporit tablet yang dijual di toko kimia. Cara membuatnya, masukkan sebutir kaporit tablet ke dalam 500 - 1.000 liter air di toren (tangki). Apabila habis, masukkan lagi 1 butir. Akan tercium bau kaporit “seangin” atau sekilas saja, ini sudah cukup. Tetapi hindari menarik napas dalam-dalam di atas air toren tersebut karena klor bersifat korosif, menyebabkan iritasi pada bagian tubuh yang terpapar. Sebaiknya gunakan masker kalau ingin melihat apakah butir kaporit tablet masih ada atau sudah habis.

Dengan demikian, untuk melawan sebaran Corona ini maka masyarakat, pengurus masjid, gereja sekolah bisa memanfaatkan air PDAM atau air berklor buatan sendiri. Disarankan juga agar PDAM menambah dosis klornya sehingga air di lokasi terjauh dari instalasi pengolahan airnya masih memiliki sisa klor bebas. Sisa klor bebas inilah yang akan membasmi bakteri dan virus Corona selama digunakan untuk mencuci tangan, mandi atau berwudhu.*
ReadMore »

Disrupsi Siklus Air

Disrupsi Siklus Air
Oleh Gede H Cahyana
Associate Professor Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan

Dimuat di Majalah Air Minum, Edisi 294, Maret 2020.

Siapakah pemilik air? Apakah air mutlak hak kita? Apakah air selalu tersedia di tempat ia dibutuhkan? Apakah air selalu tersedia ketika ia dibutuhkan? Adakah potensi perang karena air?

Tema peringatan Hari Air Dunia (World Water Day) berbeda dari tahun ke tahun. Tahun 2020 ini bertema Water and Climate Change. Air dan Perubahan Iklim. Sudah banyak fakta bahwa perubahan iklim berpengaruh pada air, baik kuantitas, kualitas, maupun kontinyuitas alirannya. Banjir awal tahun 2020 di Jakarta, Bekasi, Lebak, Tangerang, dan daerah di luar Pulau Jawa adalah dampak dari curah hujan yang melebihi curah hujan rata-rata. Hujan adalah fenomena cuaca (weather) seperti halnya salju, perubahan temperatur udara, angin, awan yang bersifat jangka pendek (short-term). Sedangkan iklim adalah perubahan rerata cuaca dalam jangka panjang (long-term). Iklim dan cuaca mempengaruhi kejadian hujan: di mana, kapan, dan bagaimana terjadinya.  



Rusakkah Siklus Air?
Betulkah kuantitas atau volume air berkurang? Secara teoretis, jumlah air yang terlibat di dalam siklus air (hydrologic atau hydrological cycle) di dunia ini tidak berubah. Tidak bertambah, tidak juga berkurang. Yang terjadi adalah perubahan kuantitas tiga wujud air. Wujud padat, yaitu es, wujud cair, yaitu air, dan wujud gas, yaitu uap. Ketiga wujud ini terbentuk oleh dua proses penting di dalam siklus air, yaitu penguapan (evaporation) dan pengembunan (condensation).  Menurut Enger dan Smith (2016) keduanya dikendalikan oleh transfer energi dari matahari dan temperatur planet Bumi yang dipengaruhi oleh jebakan panas oleh gas-gas rumah kaca (greenhouse gases).

Pada proses penguapan air, energi ini menyebabkan jarak antar-molekul air makin jauh sehingga berubah menjadi gas. Pada proses kondensasi, molekul air melepaskan energinya sehingga jarak antar-molekul makin dekat yang akhirnya menjadi cair. Fenomena jatuhnya zat cair ini disebut hujan. Air hujan yang menyentuh tanah ada yang melimpas di permukaan tanah, sawah, kolam, rawa, lalu masuk ke selokan, sungai, danau, waduk, dan berakhir di laut. Ada juga yang masuk ke dalam tanah menjadi air tanah dangkal dan air tanah dalam. Sisanya tersebar di pohon, daun, bunga, hewan, bebatuan, dan material lainnya yang mampu menampung air. Begitu kejadiannya sepanjang masa.

Jika betul demikian yang terjadi, mengapa banyak daerah yang kesulitan air pada musim kemarau? Karena hanya sedikit air yang masuk ke dalam reservoir alami bernama ruang antarbutir atau parasitas (perviousness) dan ruang di dalam butir tanah atau porositas (porosity). Hanya sedikit yang menjadi air tanah. Mayoritas air pada musim hujan langsung ke sungai menuju laut. Sedikit yang menjadi air tanah dangkal dan makin sedikit lagi yang masuk ke dalam akifer air tanah dalam. Akibatnya terjadi krisis air pada musim kemarau, terutama saat kemarau panjang. Terjadi disrupsi siklus air. Siklusnya tetap, komponen yang menyebabkan terjadinya siklus juga tetap ada, tetapi perubahan iklim menyebabkan kapan, di mana, bagaimana terjadinya hujan mengalami perubahan. Ada daerah yang sering hujan pada lima puluh tahun yang lalu tetapi sekarang kejadian hujannya berkurang. Ada daerah yang sedikit hujan pada masa lalu tetapi sekarang sering kebanjiran.  

Air Baku dari Air Limbah
Meskipun belum ada yang mengukur volume air di laut tetapi bisa diduga berdasarkan disrupsi siklus air tersebut bahwa air laut pasti bertambah. Ada indikasi kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan atmosfer Bumi (global warming).  Sebaliknya air tawar makin sedikit. Jumlah orang makin banyak, kebutuhan air tawar yang layak diminum atau digunakan untuk keperluan lainnya juga makin banyak. Kira-kira 1,1 miliar orang di dunia ini tidak punya akses air bersih. Di zone American West, air sudah menimbulkan perang (Water Wars). Whiskey is for drinking, water is for fighting. Ini ungkapan bergaya cowboy di Wild Wild West. Perang ini pun bisa terjadi antar-negara atau antara dua atau lebih kabupaten, kota, provinsi. Selanjutnya adalah air limbah yang terus bertambah. Begitu juga air asin akibat intrusi air laut yang meluas di kota dekat pantai seperti pantura Jawa. Di kota-kota yang banyak kawasan industri terjadi “tambang air tanah” (groundwater mining).  Inilah disrupsi sumber daya air.

Sejak dulu hingga saat ini sumber air diberdayakan untuk empat kelompok kebutuhan. Yang pertama adalah kebutuhan domestik, dimanfaatkan untuk aktivitas mandi, cuci, kakus, dan dapur. Termasuk untuk makan dan minum dan kebutuhan ibadah. Yang kedua adalah kebutuhan pertanian. Sebelum ada perusahaan air minum, masyarakat memperoleh air dari upaya sendiri dengan membuat sumur gali atau memanfaatkan mata air dan sungai, pada saat itu pertanian sudah memanfaatkan air. Tidak terjadi sengketa air karena kebutuhan air untuk domestik relatif sedikit dibandingkan dengan kebutuhan air untuk pertanian. Ini terjadi karena penduduk setempat masih sedikit. Yang ketiga adalah kebutuhan untuk industri. Makin banyak industri, terutama industri makanan dan minuman, makin banyak dibutuhkan air. Ada juga penggunaan air industri untuk pengisi ketel uap dan pencuci atau pembilas bahan baku.  Penggunaan air yang keempat disebut In-Stream, yaitu air yang digunakan sebagai sarana seperti pembangkit listrik tenaga air, untuk navigasi atau pelayaran sungai, danau, dan laut dan sebagai objek wisata (Enger dan Smith, 2016).

Semua penggunaan air tersebut berujung pada air limbah atau air bekas. Timbullah air limbah domestik, air limbah pertanian, air limbah industri, dan air limbah akibat minyak dan oli dari kapal atau perahu motor. Bisa terjadi juga polusi air tanah dangkal. Sedangkan air tanah dalam hampir tidak terpengaruh oleh semua kegiatan tersebut. Dengan catatan, tidak terjadi retak (fracture) pada lapisan batuan akifernya. Air tercemar inilah yang makin banyak jumlahnya dan menjadi masalah bagi sumber air PDAM. Kalau bukan karena air limbah industri, maka masalahnya adalah cemaran dari air pertanian. Semua pestisida dan pupuk yang digunakan berpotensi ada di dalam air baku PDAM. Sudah saatnya IPAM di PDAM dilengkapi dengan unit operasi dan proses yang mampu menghilangkan pestisida dalam berbagai jenis zat kimia dan menghilangkan nutrien dari pupuk yang digunakan. Siapkah PDAM mengantisipasi air baku yang sudah berkualitas seperti air limbah?

Paradigma Baru
Perubahan iklim adalah keniscayaan. Banyak indikasinya. Sementara itu PDAM harus terus hidup sebagai penyedia air layak guna dan layak minum untuk masyarakat di daerah masing-masing. Tetapi sumber air baku yang bersahabat sudah langka. Banyak air baku yang tidak bersahabat. Tidak mudah diolah. Bahkan kualitasnya sudah setara dengan air limbah. Akankah berhenti berproduksi hanya karena air baku sudah berubah menjadi seperti air limbah? Tentu tidak. Spirit filsafat PDAM adalah P = Pegawai, D = Desain, A = Area servis, M = Manajemen dan aspek AIR: A (aman secara kualitas), I (Isi atau volume air yang dibutuhkan per orang per hari), dan R (Rutin, kontinyu 24 jam sehari) (Cahyana, 2004). Masyarakat tetap setia menunggu inovasi teknologi yang diterapkan di PDAM untuk air minum yang aman, tarif yang bersahabat dan tersedia sepanjang hari dan malam.

Hingga saat ini pelanggan masih percaya kepada PDAM dan ini harus dijadikan pemicu untuk mengolah air limbah menjadi air layak minum. Menggeser paradigma lama bahwa air baku adalah air yang kualitasnya seperti air sungai di hulu di kaki gunung. Masih bersih. Ini betul dan bisa dilakukan dengan uang. Maka ada istilah “water flows uphill toward money”. Air bisa mengalir ke hulu, maksudnya menjadi bersih kembali, dengan uang. Artinya dengan teknologi. Saatnya mengolah air baku berkualitas air limbah dengan smart system. Begitu pula PDAM yang berlokasi di dekat pantai sudah saatnya menggunakan air payau atau air laut sebagai sumber air dengan smart system juga. Tentu ada pertimbangan, apakah mengolah air payau lebih murah daripada mengolah air limbah. Sebagai contoh, Singapura sudah lama mengolah air limbah menjadi air minum. NEWater bahkan menetapkan pada tahun 2060 setengah dari kebutuhan air di Singapura berasal dari air limbah (Cunningham dan Cunningham, 2017).

Apabila PDAM mengadopsi teknologi NEWater tersebut, bagaimana dengan tarif airnya? Bagaimana dengan kelayakan air sebagai sarana ibadah seperti wudhu bagi masyarakat yang beragama Islam? Bukankah sekarang ini air bekas wudhu, bekas cuci yang sudah diresirkulasi tetap menimbulkan “diskusi tanpa akhir”? Biarlah ini menjadi bahasan ulama. Hanya saja perlu diingat bahwa fungsi dan tujuan IPAM di PDAM sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan “IPAM” yang bernama siklus air itu. Apalagi dengan teknologi yang digunakan di NEWater. Kalau air hujan hasil olahan “IPAM” siklus air sah untuk wudhu, bisakah air limbah kamar mandi, WC dan urinal yang diolah dengan teknologi seperti di NEWater itu disetarakan dengan air hujan sehingga suci dan mensucikan juga?

Itulah sejumlah masalah, sederet pertanyaan yang muncul akibat disrupsi siklus air lantaran perubahan iklim. Selamat memperingati Hari Air Dunia, 22 Maret 2020. Senantiasa jayalah PDAM. *

Daftar Pustaka
1. Cahyana, G. H. (2004), PDAM Bangkrut, Awas Perang Air, Sahara Golden Press, Bandung, ISBN. 979-98596-0-3.
2. Cunningham, W. dan M. A. Cunningham  (2017), Principles of Environmental Science: Inquiry and Application, McGraw-Hill Education, New York, ISBN. 978-0-07-803607.
3. Enger E. D. dan B. F. Smith (2016), Environmental Science: a Study of Interrelationships, McGraw-Hill Education, New York, ISBN. 978-1-259-25309-9.
ReadMore »

16 Maret 2020

Belajar Online karena Corona

Belajar Online karena Corona

Kemarin Presiden Joko Widodo menandaskan tiga hal utama. Belajar di rumah. Bekerja di rumah. Beribadah di rumah. Sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga seperti itu. Saya ingin menulis perihal belajar di rumah.

Internet membantu banyak kegiatan. Pada awalnya, tahun 2000, sebelum muncul Facebook, Youtube, Twitter, maka website menjadi andalan. Banyak informasi perusahaan dan kampus diperoleh di web ini. Tetapi koneksi internet masih mahal. Rental internet masih jarang. Kemudian muncul modem. Hingga akhirnya, koneksi internet begitu mudah dan lebih murah. Semua ada di tangan. Tinggal ada ponsel dengan Androidnya dan tentu saja kuota internet. Saya tidak bicara e-learning, blended learning dalam makna yang disepakati dan diatur oleh kementerian. Tetapi saya bicara tentang pemanfaatan internet dalam PBM (Proses Belajar Mengajar) yang saya laksanakan selama ini.

Begini. Tidak semua mata kuliah bisa dengan mudah secara online. Mata kuliah berpraktikum dengan zat kimia dan peralatannya dan  perancangan perlu tatap muka dan menunjukkan gambar serta proses desainnya. Tetapi mata kuliah yang lain, bisa lebih mudah. Saya menggunakan blog untuk beberapa subjek mata kuliah. Tidak semua. Sekitar 60%. Agar mahasiswa betul-betul membaca, maka diwajibkan menulis. Menulis berupa ringkasan. Juga bisa rangkuman. Ringkasan adalah hasil kajian untuk sebuah subjek materi kuliah. Rangkuman adalah hasil kajian dari beberapa subjek materi kuliah. Keduanya wajib ditulis ulang dengan kalimat sendiri. Parafrase. Sumbernya adalah materi di blog dan di osf.io. Tetapi, ya begitulah. Sedikit yang melaksanakan parafrase. Mayoritas menyalin saja. Bahkan banyak mahasiswa yang menyalin dari ringkasan temannya.

Namun demikian, saya tetap menghargai tulisan mahasiswa itu. Yang penting mahasiswa belajar menulis. Mengatur tetes pikiran menjadi kata dan kalimat yang logis. Ini sebagai awal sebelum akhirnya mereka menulis ilmiah dalam bentuk makalah di MK Kerja Praktik, Seminar, dan Tugas Akhir. Untungnya sekarang ada software untuk cek kemiripan (similarity). Tulisan mahasiswa bisa dikendalikan dengan ini. Bagaimana memeriksanya? Memang butuh waktu dan menguras tenaga kalau semua diperiksa. Tetapi caranya adalah dengan mengambil secara random tulisan mereka. Kalau ada delapan tugas maka bisa dilihat empat atau lima tugas. Tidak dibaca semua. Sekilas saja sudah bisa diambil kesimpulan, berapa nilainya. Yang utama adalah kelengkapan tugas. Harus masuk semua.

Belajar di rumah dengan bantuan internet memang bisa. Tetapi ini untuk mahasiswa. Saya tidak tahu bagaimana di SMA, SMP, apalagi SD. Semoga ada solusi untuk murid-murid ini. *

ReadMore »

15 Maret 2020

Pikiran Rakyat Edisi Minggu Ditutup

Pikiran Rakyat Edisi Minggu Ditutup

Usia koran Pikiran Rakyat ini 54 tahun. Usia matang untuk ukuran manusia. Dalam usia 54 tahun itu, redaksi dan pemilik koran Pikiran Rakyat berketetapan untuk menghentikan terbitan setiap hari Minggu. Terbitan Senin hingga Sabtu masih akan rutin menemui pembacanya.

Sedih tentu saja. Saya pernah intens membaca harian umum edisi Minggu ini lantaran saya ingin memotivasi anak-anak agar gemar membaca dan menulis. Waktu itu anak-anak masih di SD. Beberapa kali mendapatkan hadiah teka-teki atau mewarnai. Juga menulis cerita sangat pendek di Rubrik Kuncup asuhan Kak Etti R. S. Pe Er Kecil.

Namun, karena semua anak bersekolah di luar kota sejak tamat SD, maka mereka menjadi jarang membaca edisi Minggu. Saya pun jarang membacanya lagi. Lebih cenderung membaca edisi Senin s.d Sabtu. Pernah juga saya begitu sedih ketika kantor Pikiran Rakyat terbakar. Lokasinya di Jln. Soekarno Hatta. Ini link di blog saya.

Edisi Minggu, 15 Maret 2020 ini adalah terbitan terakhir. Namun redaksi akan tetap menghadirkan rubrik di PR Minggu itu di hari Kamis, Jumat, dan Sabtu.  “Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu,” ujar Heracletos, seorang pemikir di Yunani.

Jayalah selalu koran Pikiran Rakyat. Koran orang yang tinggal di Jawa Barat. *
ReadMore »

4 Maret 2020

Wabah Sampah Masker

Wabah Sampah Masker

Masker yang sudah digunakan seharian, apalagi di ruang terbuka, dikenakan saat naik motor, di kereta api, di bis, di angkot, dll sebaiknya ditaruh di tempat sampah. Esok ganti lagi dengan yang baru. Kalau tidak diganti justru potensi risikonya makin tinggi. Lantaran kotor oleh debu dan jelaga. Juga boleh jadi ada bakteri yang terakumulasi. Flok bakteri ini justru bisa tersedot ke dalam hidung dan masuk ke saluran napas hingga ke paru. Begitu juga virus, bisa masuk dan menimbulkan masalah yang awalnya ingin dihindari.

Kalau banyak orang yang mengenakan masker maka banyak juga sampah masker di tempat sampah. Di TPS hingga TPA. Potensi bahaya pemulung kian tinggi. Terlebih lagi imunitas tubuhnya rendah dan kualitas gizinya buruk. Risiko itu tentu saja ada. Bahkan bisa lebih besar karena berdekatan dengan ratusan atau mungkin ribuan potong masker bekas dari banyak mulut orang dan jenis penyakit. Selain kesehatan pemulung dan kalangan petugas sampah, juga masker memenuhi TPS dan TPA. Karena bahannya adalah polimer seperti polypropylene, polystyrene, polycarbonate, polyester, butuh waktu lama untuk membusukkannya.

Artinya, wabah Corona ini otomatis menimbulkan ledakan jumlah sampah masker dalam waktu singkat di perumahan dan kantor. Biasanya masker hanya di rumah sakit, tetapi kini masker justru lebih banyak digunakan dan dibuang di bak sampah di depan rumah, terkumpul di TPS dan ditimbun di TPA sampah. Siapkah dinas atau perusahaan daerah yang mengurusi sampah dalam antisipasi ledakan volume dan berat sampah masker?

Tentu saja kita berharap dinas, badan, dan perusahaan daerah siap sedia. Tidak hanya membuang masker tetapi juga menihilkan potensinya sebagai agent dan reservoir bakteri dan virus. Yang patut juga dilaksanakan, selain mencuci tangan dan wajah dengan air PDAM karena air ini berklor (chlorine, kaporit) sesering-seringnya, juga mencuci tangan dengan sabun. Boleh juga dengan sanitangan (hand sanitizer). 

Semoga sehat dan kuat untuk kita semua. (Gede H. Cahyana).
ReadMore »

3 Maret 2020

Air PDAM Basmi Corona

Air PDAM Basmi Corona

SERANGAN UMUM 2 MARET 2020. Corona serang Indonesia. Selamat datang virus Corona, kami akan belajar untuk menangkalmu. Berusaha mencegahmu. Membasmi keturunanmu. Apakah kau, hai Corona, diciptakan untuk dibasmi? Atau kaukah yang akan membasmi manusia? Akhirnya kau tersenyum sinis ya Corona, melihat banyak orang yang “panic buying”. Ataukah ini akal-akalan pebisnis saja agar barangnya laku? Entahlah. Kau sukses Corona. Tapi kau wajib dilawan. Tak perlu biaya mahal. Ini yang murah, buat yang tidak mampu ikut-ikutan borong masker, sayur, buah, beras, dan puluhan dus soft-drink. Air PDAM sudah cukup. Kenapa?


PDAM menggunakan klorin di dalam proses disinfeksi, selain kaporit (kalsium hipoklorit, Ca(OCl)2). Nama lainnya ialah bleaching powder atau puyer kelantang atau chlorinated lime. Biasa digunakan untuk membasmi bakteri, algae dan bau. Setelah diinjeksikan atau dibubuhkan ke dalam air di reservoir, kisaran waktu kontaknya antara 15 - 30 menit. Dosis total klor bervariasi antara 0,2 - 40 mg/l. Keuntungan menggunakan zat ini ialah adanya sisa klor, biasanya antara 0,2 – 0,5 mg/l. Sisa klor ini dibutuhkan apabila di ruas pipa distribusi terjadi rekontaminasi bakteri yang masuk ke dalam pipa akibat kebocoran. Sisa klor inilah yang diharapkan mampu membasmi bakteri di dalam air kotor itu.

Karakterisitik klorin sebagai biosida antara lain (1) toksik bagi mikroba pada konsentrasi yang tidak berbahaya bagi manusia - hewan; (2) cepat bereaksi membunuh bakteri dengan waktu kontak yang singkat; (3) tahan lama sehingga mampu menanggulangi rekontaminasi di zone distribusi; (4) ekonomis (murah) dan mudah diperoleh; (5) mudah dianalisis di laboratorium; dan (6) mudah menentukan dosisnya. Tentu saja makna tidak berbahaya bagi manusia tersebut harus tetap mengacu pada upaya keamanan dengan melaksanakan prosedur operasi standar (SOP) yang berlaku. Misalnya, menggunakan tutup hidung dan mulut yang tepat.

Tapi ini kan virus. Bukan bakteri. Ya betul. Klorin mampu merusak DNA virus seperti halnya merusak DNA bakteri dan mikroba lainnya. Bagaimana caranya? Sering-seringlah mencuci tangan dengan air PDAM. Jangan air sumur. Jangan air minum kemasan (Amik). Jangan air minum kemasan ulang (Amiku). Jangan juga air hujan. Apalagi air mata, jangan! Eh mata air. Air yang ke luar langsung dari tanah itu. Biasa disebut spring. Kecuali hot water spring. Ini bagus. Terutama yang berisi belerang. Sulfur. Wah…. rindu Ciater, Cipanas Garut euyy..

Bagusnya lagi, kaum muslimin itu, mereka sering wudhu. Ini cara eksklusif basmi virus. Tidak hanya tangan tapi juga wajah, lipatan telinga, kaki dan kulit yang terpapar udara dibasuh air. Sekali lagi, air PDAM. Air PDAM. Tapiii…, PDAM juga harus membubuhkan klor di dalam air olahannya secara benar. Harus ada sisa klor. Kalau tidak ada… percuma. Akan sama dengan air lainnya. Please ya PDAM, untuk saat ini, karena ada wabah, bahkan Pandemi, air PDAM dikasi klor yang lebih daripada biasanya. Naikkan 10% dosisnya. Tolong cek di lokasi terjauh dari IPAM (instalasi) apakah ada sisa klor ataukah tidak. Please. Mari bantu masyarakat agar sehat, bebas Corona, Si Covid-19, Si renik yang parasit. (Gede H. Cahyana).*
ReadMore »