• L3
  • Email :
  • Search :

28 Agustus 2014

Narasi Presiden Kartu

Narasi Presiden Kartu
Oleh Gede H. Cahyana


Di dompet biasanya ada uang dan kartu. Ada KTP, SIM, BPJS, kartu berobat, kartu sekolah, kartu mahasiswa, kartu TNI, Polri, kartu guru, kartu dosen, dst. Kini, akan bertambah lagi kartu itu, berkat rencana kerja presiden dan wakil presiden terpilih, Jokowi – Jusuf Kalla.

Ada banyak kartu yang dijanjikan sehingga ditafsirkan menjadi kisah perjalanan dalam narasi presiden kartu. Yang paling sering diperlihatkan adalah kartu pintar dan kartu sehat. Sejumlah bupati dan walikota sudah memiliki dan sudah menjalankan program beasiswa di pendidikan dasar dan menengah. Perlukah kartu pintar lagi? Tumpang tindih yang terjadi, program yang mana yang mesti dilaksanakan oleh pemerintah daerah? Kalau tidak sejalan dengan program kartu pintar, bagaimana hubungan (komunikasi politik) antara presiden dan bupati/walikota? Tegang dalam kesepian atau menjadi memanas?

Lantas, yang kartu sehat, di mana posisinya terhadap kartu BPJS? Di Jawa Barat saja peserta BPJS sudah 29 juta dan terus bertambah. Kartu sehat itu untuk siapa? Tumpang tindih? Yang terakhir dan sedang gonjang-hanjing adalah BBM. Justru BBM inilah yang jauh lebih penting daripada kartu sehat dan kartu pintar. Masyarakat tidak bisa bergerak dalam kegiatan sosial, ekonomi, kalau tanpa BBM. Minimal aksesnya menjadi terbatas. Nelayan apalagi, sebab mereka tidak mungkin menggunakan sampan dan dayung ke tengah laut. Mereka perlu solar. Truk, traktor, diesel listrik semuanya perlu BBM. Artinya, yang mendesak sekarang adalah kartu sakti yang disebut Kartu BBM. Sekali mengeluarkan kartu, maka keluar pulalah BBM. Sim salabim. Tiada lagi krisis BBM.

Semua masalah di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka solusinya adalah kartu dan e seperti e-govt, e-audit, e-proc, dan kini e-BBM. Mari kita tunggu kartu kartu yang akan menebalkan dompet kita. Dompet tebal menjadi indikator rakyat makin makmur? Semoga.  *

ReadMore »

24 Agustus 2014

Adakah Larangan Jilbab di Bali?

Adakah Larangan Jilbab di Bali?
Oleh Gede H. Cahyana


Agustus 2014 ini media massa cetak dan elektronik dipenuhi oleh berita tentang larangan jilbab di Bali. Sebetulnya menyebut Bali sebagai sebuah provinsi tentu tidak tepat. Sebab, larangan itu hanya terjadi di Hypermart menurut berita yang tersebar. Dalam hemat saya, kejadian ini karena salah paham dan kurang informasi di pihak pelarang. 

Menurut Ida Bagus Yudha Triguna, Dirjen Bimas Hindhu di Kementerian Agama, isu ini berawal dari surat perusahaan yang menyarankan agar karyawannya mengenakan jilbab selama bulan Ramadhan. Tentu maksudnya bisa diduga, yaitu agar mendukung suasana bulan suci, terutama untuk menarik simpati kaum muslim dan muslimah untuk belanja. Lantas, The Hindhu Center of Indonesia memberikan tanggapan dengan cara meminta agar substansi surat tersebut tidak berlaku di Bali.


Bagaimana ajaran Hindhu memberikan ruang dalam toleransi antarumat beragama? Dalam ajaran Hindhu, ada Tat Twam Asi yang artinya, menurut guru agama Hindhu waktu di SD, Ida Bagus Manuaba, “aku adalah kamu, kamu adalah aku. Adapun arti menurut Wikipedia, “itu adalah kau”. Tafsir atas kalimat tersebut adalah kesamaan antara setiap orang dalam hak dan kewajiban, saling menghargai, dan adil. Jika engkau saya sakiti, maka rasa sakitmu itu akan saya rasakan sama jika engkau menyakiti saya. Dengan satu kalimat tersebut dapat disimpulkan bahwa umat Hindhu yang mengamalkan ajaran tersebut akan toleran kepada umat agama lain, baik Islam, Kristen, Katolik, Budha, dan aliran kepercayaan lainnya.

Terlepas dari kasus di Hypermart itu, secara umum kehidupan kaum muslim dan Hindhu di Bali, sepengetahuan saya, baik-baik saja. Ketika Jum’atan (shalat Jum’at), polisi yang beragama Hindhu pun mengatur lalu-lintas dengan baik. Begitu juga pada waktu Idulfitri, mereka mengamankannya dibantu oleh warga setempat yang beragama Hindhu. Anak-anak sekolah, misalnya di SMP dan SMA, selalu toleran. Guru pun begitu, tidak usil atas gerak tubuh dan gestur muslim saat shalat. Memang pertanyaan tentu ada, misalnya pertanyaan antarteman akrab, kenapa cara ibadah seperti itu. Kenapa harus pakai baju itu, kenapa ke Ka'bah dan sebagainya. Sekadar contoh, kalau saya bertemu teman, mereka mengajak makan, selalu saja mereka berusaha untuk menyajikan masakan yang non-babi, misalnya telur, dll.  Sepengetahuan mereka, orang Islam itu tidak boleh makan babi sehingga mereka pun tidak akan menghidangkan makanan yang demikian. Ucapan salam pun mereka fasih, dilontarkan saat bertemu atau bertamu di rumah, bahkan dalam rapat resmi di kantor pemerintah daerah, kalau ada kaum muslim di dalam rapat itu, mereka pun mengucapkan assalaamu'alaikum. Ini tentu saja terlepas dari pandangan Islam perihal salam. Mereka memang tidak tahu dan belum paham soal aqidah Islam. 

Secara historis, umat Islam dan Hindhu sudah lama bersaudara di Bali. Tidak hanya di "Kampung Jawa", muslimin - muslimah pun berbaur di dalam banjar, di tempat tinggalnya di perumahan atau permukiman. Bahkan ada daerah yang bisa dikatakan 99,99% beragama Islam seperti di Soka Tabanan dan Pegayaman Buleleng. Interaksi pun masif sekaligus cair. Dalam setiap Galungan dan Kuningan, umat Hindhu ngejot (memberikan makanan, kue, buah-buahan) kepada kaum muslim dan agama lainnya. Pada hari Idulfitri, kaum muslim membagikan makanan kepada pemeluk Hindhu dan agama lainnya, di sekitar rumahnya, yaitu para tetangga. Yang seperti ini menjadi kebiasaaan sampai saat ini. Banyak juga terjadi pernikahan antara pemeluk Hindhu dan muslimin - muslimah, baik lelaki muslim dengan wanita Hindhu atau lelaki Hindu dengan wanita muslimah. Ada yang menjadi mualaf, ada juga yang pindah agama menjadi Hindhu. Ini fakta di Bali dan sudah terjadi sejak lama.

Lantas, adakah larangan jilbab di Bali?

Kalau merujuk pada kasus di Hypermart itu, memang ada, dan itu terjadi lantaran salah paham atas surat yang menyarankan karyawan mengenakan busana muslim pada bulan Ramadhan. Karena suratnya dibuat satu lembar dan diartikan sebagai kewajiban juga bagi yang non-muslim - muslimah, maka ini yang menimbulkan “reaksi jawaban” dari The  Hindhu Center of Indonesia lantaran kurang informasi dan komunikasi (salah paham atas substansi surat). Artinya, larangan itu hanya di Hypermart saja dan tidak terjadi secara luas, apalagi di Bali sebagai sebuah provinsi.

Mari laksanakan pasal 29 UUD 1945 dan sila pertama Pancasila. Semua warga negara Indonesia mempersilakan setiap umat beragama untuk melaksanakan ajarannya masing-masing. Hindari isu yang merusak persatuan umat beragama. Umat beragama harus bersatu, sedangkan ajaran agamanya jangan disatukan. Ajarannya tetap ekslusif sesuai dengan petunjuk kitab suci dan nabi masing-masing. *


ReadMore »

12 Agustus 2014

Robin Williams, Fenomena Depresi Selebritis

Robin Williams, Fenomena Depresi Selebritis
Oleh Gede H. Cahyana

Robin Williams, aktor terkenal Hollywood dinyatakan meninggal karena bunuh diri. Beritanya luas tersebar dan menimbulkan kesedihan bagi penggemarnya. Sekian tahun silam, hal serupa terjadi juga pada penggemar Michael Jackson, Whitney Houston dan sejumlah lagi artis yang lain. Temuan forensik menyatakan, mereka mengonsumsi narkoba (misalnya kokain, ganja, dll), selain kecanduan minuman keras (alkohol). Pada saat yang sama, mereka pun memiliki masalah sosial di lingkungan rumah dan komunitasnya, seperti perkumpulan artis, arisan, olah raga (golf, layar, kapal pesiar, dll).

Menurut Stewart Wolf dan John G. Bruhn, kehidupan sosial sangat besar pengaruhnya pada kasus stres dan depresi di kalangan masyarakat umum, apalagi selebritis. Dalam laporan risetnya, Bruhn menyatakan, “… family and community support is disappearing. Most of the men who have hearth attacks here were living under stress and really had nowhere to relieve that pressure …. These people have given up something and it’s killing them.”  Sebelum itu, yaitu tahun 1961, Bruhn justru memperoleh hasil yang oposif dan menyatakan bahwa masyarakat Roseto terbaik kehidupan sosialnya sehingga disebut kota ajaib (miracle city).

Kemampuan merilis stres dan relaksasi dalam komunitas sosial, baik di kantor maupun di rumah, juga di perkumpulan sosial - ekonomi - budaya lainnya, menjadi kunci dalam pengendalian diri. Sikap egois, seperti kata aktor Todd Bridges, teman Robin Williams, dapat menjadi salah satu pemantik bunuh diri (racun diri). "Itu tindakan yang sangat egoistis," cetus Todd Bridges. "Mintalah kepada Tuhan untuk membantu Anda. Percayalah pada kekuatan doa." Seorang Todd pun, percaya pada kekuatan doa, menurut agamanya. Doa, dalam kehidupan ini, adalah representasi kegiatan sosial (jamaah) pada saat di gereja misalnya, atau di masjid. Kekerapan ibadah di gereja atau di masjid bagi muslim, bisa menjadi senjata ampuh menangkis depresi. Ibadah adalah manifestasi kehidupan sosial atau jamaah, saling membutuhkan antarsesama, antarumat dalam satu agama. 

Variasi kehidupan sosial begitu tampak nyata di kalangan selebritis. Selebritis kerapkali bertingkah aneh agar makin terkenal atau minimal tetap terkenal, misalnya gonta-ganti pacar, kawin-cerai, selingkuh, membuat kericuhan di mall, cafĂ©, atau media sosial dengan berbagai pose foto yang vulgar “menantang”. Inilah awal depresi. Sehat fisiknya, tetapi sakit psikisnya. Definisi sehat menurut organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization), sehat adalah state of complete physical, mental, and social well-being, not merely the absence of disease or infirmity. Sehat ialah keadaan sejahtera sempurna jasmani, rohani, dan sosial, tak hanya tanpa adanya penyakit atau kelemahan saja. Agar bisa disebut orang sehat harus dipenuhi tiga syarat: jasmani, rohani, dan sosial.

Sejumlah gangguan jiwa yang bisa mengawali depresi antara lain:

1. Cemas. Rasa ini muncul karena kehilangan makna hidup. Secara fitri kita punya kebutuhan akan makna hidup yang hanya bisa dimiliki oleh pejuang yang menyumbangkan sesuatu untuk orang lain. Orang-orang cemas biasanya mengikuti trend dan tuntutan sosial yang belum tentu benar. Sesekali saja dia merasakan kenikmatan sekejap yang palsu. Akibatnya terjadilah gangguan jiwa.

2. Sepi. Ini muncul karena hubungan silaturahmi sudah tak tulus lagi tapi memakai topeng-topeng sosial yang palsu sehingga hubungan menjadi gersang, mengidap rasa sepi yang kronis padahal berada di keramaian. Tak bisa menikmati senyum orang lain sebab dianggap topeng belaka seperti ketika dia tersenyum kepada orang lain. Pujian dipandangnya sebagai basa-basi belaka.

3. Bosan. Inilah akibat rasa cemas dan sepi yang berkepanjangan. Hidupnya tak bergairah. Jiwanya kosong, mirip orang yang bermobil mewah tapi jiwanya becak; berponsel tapi memakai bahasa isyarat tangan. Makan makanan merek luar negeri tapi wawasan gizinya masih oncom (tak berarti oncom tak bergizi, ini sekadar misal). Harta, tahta, dan jabatannya tinggi tapi jiwanya hampa. Semua atribut, simbol, gelar, baju, sepatu, dasi, mobil, cincin, arloji, rumah, dan banyak lagi yang lain tampak modern namun pikirannya tidak menguasai ilmu-teknologi. Di pentas nikmat sekejap, sampai di rumah dia cemas dan sepi kembali.

4. Perilaku menyimpang. Kalau rasa cemas, sepi dan bosannya terus menggayut, maka dia mudah melakukan perilaku buruk tanpa sadar seperti merampok padahal dia tak butuh uang, memperkosa tanpa tahu siapa yang diperkosa, membunuh tanpa ada sebab kenapa harus membunuh sehingga hidupnya menjadi semrawut.

5. Psikosomatik. Empat hal di atas jika terus terjadi dapat menyebabkan sakit fisik, sakit lantaran faktor jiwa dan sosial. Menjadi psikosomatik. Yang sakit jiwanya, tapi dalam ujud sakit fisik. Makanya tak heran dia selalu mengeluh jantungnya berdeba-debar tanpa sebab, merasa lemah, tak enak badan atau tidak bisa konsentrasi dan sakit maag (tukak lambung). Akhir dari akumulasi tersebut adalah depresi yang tidak bisa lagi berbalik pulih (irreversible) dan berakhir dengan bunuh diri, racun diri, over dosis narkoba.

Semoga kejadian serupa tidak terjadi di Indonesia. *

ReadMore »

25 Juli 2014

Mudik ke Kampung Akhirat

Mudik ke Kampung Akhirat
Oleh Gede H. Cahyana


Mudik sudah menjadi budaya menjelang Idulfitri. Sudah menjadi siklus tahunan, berulang pada sepekan terakhir bulan Ramadhan. Mudik sebagai bukti cinta tanah kelahiran, tertaut daerah asal, rindu ranah turunan. Meskipun sudah tahu pasti karena sudah mengalami berkali-kali, yaitu antri dalam kemacetan lalu-lintas, tetap saja perindu tanah leluhur berduyun-duyun menapak jejak dengan motor, mobil, bis, kereta api, pesawat, atau kapal. Bahkan ada yang naik becak dan kuda.

Mudik pastilah pelik. Ada tiga kelompok kondisi orang mudik. Yang kesatu, pemudik yang melengkapi dirinya dengan fasilitas yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Mereka berkendara, baik pribadi maupun publik, dengan fasilitas AC, disajikan makanan-minuman yang enak, bergizi, dan aman lalu-lintasnya. Yang kedua, pemudik yang pertengahan, tidak terlalu nyaman tetapi tidak pula menderita. Mereka pengguna moda angkutan tanpa AC, hanya dihidangkan air minum dan agak berdesakan. Yang ketiga adalah pemudik yang menderita karena bekalnya sedikit, bahkan nyaris tanpa bekal kecuali baju yang lekat di badan. Moda angkutannya parah, sering mogok, kepanasan, tersiksa lahir batin.

Ketiga kelompok pemudik ini, setelah tiba di kampungnya, juga mengalami perlakuan yang berbeda. Yang pertama, karena membawa bekal yang banyak, fasilitas mobil yang nyaman dan aman, oleh-olehnya disedekahkan kepada tetangga, menjadi persona yang penuh pesona. Ia memesona. Ia dihormati, dielu-elukan. Yang kedua, memperoleh perlakuan pertengahan, sedangkan yang ketiga menjadi kelompok yang menderita. Tanpa membawa bekal dan oleh-oleh, malah membuat buruk suasana. “Untuk apa kau merantau di kota kalau pulang-pulang tidak membawa apa-apa yang bermanfaat buat dirimu. Kalau bisa, ada juga manfaatnya untuk saudara dan tetanggamu, “ begitu ujaran yang mendesak telinganya.

Lantas, bagaimana dengan mudik ke Kampung Akhirat? Kampung Akhirat adalah mudik yang khas karena tiada arus balik. Mudik tanpa balik. Ketika semua orang sudah sampai di kampung tujuannya, misalnya di Trenggalek, di Pacitan, di Garut, maka sekian hari kemudian mereka akan balik. Ada arus balik yang juga menimbulkan kemacetan. Tetapi, kalau tiba waktunya, orang yang mudik ke Kampung Akhirat, tentu tidak akan pernah balik. Tidak ada yang bisa balik meskipun ada yang ingin balik dan memohon kepada Sang Khalik agar ia diizinkan balik (ke dunia). Tetapi sayang, tiada arus balik di akhirat. Manusia hanya memiliki tiket satu arah. Oneway ticket.

Bagaimanapun kondisi negara, tradisi mudik patutlah dipertahankan karena ia penuh rasa persaudaraan. Ada fenomena sebaran ekonomi dari kota ke desa, ada penguat tali persaudaraan. Uang yang biasanya terpusat di kota-kota bisa dinikmati di desa dan pelosok dusun karena ada eksodus mudik. Pada saat yang sama, mudik memberikan pelajaran kepada pemudik bahwa mereka pun akan mudik ke Kampung Akhirat. Setelah tiga pekan puasa, memasuki pekan keempat, mereka berbarengan menuju kampung, menahan marah akibat motor, mobil disenggol pemudik lainnya, dan bahkan ridha pada apapun yang terjadi di jalan. Sabar dan ridha dalam kemacetan, dalam kepanasan, dalam antrian panjang menjadi latihan langsung setelah tiga pekan puasa. Latihan sabar dan menahan marah, emosi yang meletup dan egoisme pribadi.

Setiap orang akan mudik, tidak hanya yang percaya pada adanya Sang Khalik, tetapi semua makhluk, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan. Semua akan mati. Mati adalah sesi menuju perjalanan mudik ke Kampung Akhirat.

Selamat mudik, semoga selamat sampai tujuan. *
ReadMore »

24 Juli 2014

Asal Usul Kota Bogor

Asal Usul Kota Bogor
Oleh Gede H. Cahyana


Julukan Bogor sebagai kota hujan, sudah lama dikenal. Murid-murid pasti ingat IPB: Institut Pertanian Bogor. Juga Istana Bogor. Tentu saja, Kebun Raya Bogor. Inilah tiga ikon Bogor yang luas diketahui masyarakat Indonesia, terutama murid dan santri. Bogor selain berarti tunggul kawung, juga berarti daging pohon kawung yang biasa dijadikan sagu di daerah Bekasi. Dalam bahasa Jawa Kuno, “pabogoran” berarti kebun kawung.

Dalam bahasa Sunda, menurut Coolsma L, Bogor berati droogetaple kawoeng (pohon enau yang sudah habis disadap) atau bladerlooze en taklooze boom (pohon tidak berdaun dan tidak bercabang). Jadi sama dengan pengertian kata “pugur” atau “pogor”. Dalam bahasa Sunda “mugran” dengan “mogoran” berbeda arti. Yang pertama dikenakan pada pohon yang mulai berjatuhan daunnya karena menua, yang kedua berarti bermalam di rumah wanita dalam makna asusila.

Setelah hilang selama seabad sejak 1579, kota asinan ini menggeliat kembali berkat ekspedisi yang dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck pada tahun 1704 dan 1709. Sersan Scipio dan dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanuwijaya, seorang Sunda terah Sumedang. Dari ekspedisi tersebut tidak ditemukan permukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana.

Pada tahun 1687 itu, Tanuwijaya yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, berhasil mendirikan sebuah kampung di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal kelahiran Kabupaten Bogor. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanuwijaya bersama anggota pasukannya adalah Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar.

Pada tahun 1745 Bogor ditetapkan sebagai Kota Buitenzorg, yang artinya kota tanpa kesibukan dengan sembilan buah kampung. Kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan di bawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. Daerah tersebut disebut Regentschap Kampung Baru kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff dibangun tempat peristirahatan pada lokasi istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg.

Pada tahun 1752 di Bogor belum ada orang asing kecuali Belanda. Kebun Raya didirikan tahun 1817. Letak Kampung Bogor yang awal itu di dalam Kebun Raya ada pada lokasi tanaman kaktus. Pasar yang didirikan pada lokasi kampung tersebut oleh penduduk disebut Pasar Bogor. Pada tahun 1808, Bogor diresmikan sebagai pusat kependudukan dan kediaman resmi Gubernur Jenderal. Tahun 1904 dengan keputusan Gubernur Jenderal Van Nederland Indie nomor 4 tahun 1904 Hooflaats Buitenzorg mencantumkan luas wilayah 1.205 ha yang terdiri atas 2 kecamatan dan 7 desa, diproyeksikan untuk 30.000 orang. Pada tahun 1905 Buitenzorg diubah menjadi Gemeente.

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Van Nederland Indie nomor 289 tahun 1924, Bogor diperluas dengan penambahan Desa Bantar Jati dan Desa Tegal Lega (951 Ha) menjadi 2.156 Ha. Pada tahun 1941, Buitenzorg secara resmi lepas dari Batavia dan mendapat otonominya. Keputusan Gubernur Jenderal Belanda nomor 11 tahun 1866, nomor 208 tahun 1905 dan nomor 289 tahun 1924 menyebutkan bahwa wilayah Bogor pada waktu itu seluas 22 km2, terdiri atas 2 subdistrik dan 7 desa. Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 tahun 1950, Kota Bogor ditetapkan menjadi Kota Praja yang terdiri atas 5 kecamatan dan 1 perwakilan kecamatan. Berdasarkan PP No. 44/1992, perwakilan kecamatan Tanah Sareal ditingkatkan statusnya menjadi kecamatan sehingga sekarang menjadi 6 kecamatan dan 68 kelurahan. *

Diolah dari Corporate Plan PDAM Kota Bogor, Kota Bogor Dalam Angka, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bogor, 2006.


ReadMore »

18 Juli 2014

Inilah Potensi Zakat di Indonesia: 30 Triliun

Inilah Potensi Zakat di Indonesia: 30 Triliun
Oleh Gede H. Cahyana


Memasuki pekan ketiga Ramadhan ini atau tanggal likuran, zakat fitrah sudah mulai ramai dibahas di setiap ceramah Tarawih. Zakat fitrah ini diberlakukan terhadap semua manusia yang sudah punya ruh. Bahkan janin tiga bulanan pun wajib dibayarkan zakat fitrahnya. Menurut sunnah Nabi Muhammad Saw, pemberian zakat fitrah yang berupa makanan pokok ini wajib ditunaikan sebelum shalat “Id dilaksanakan. Apabila lewat dari batas waktu tersebut maka dinyatakan tidak sah dan dipandang sebagai sedekah atau infak sunah saja.

Oleh sebab itu, sebaran zakat fitrah umumnya tidak jauh melampaui batas geografis, malah edarannya hanya di dalam lingkaran administrasi kelurahan atau desa saja. Sebagai mustahik, para penerima zakat ini, biasanya fakir miskin yang merupakan dua kelompok dari delapan asnaf, sepekan kemudian kembali kekurangan makanan pokok. Baru tahun depan mereka akan diberi zakat fitrah lagi. Artinya, kemiskinan tak jua entas dari kaum muslimin. Beginilah faktanya. Untuk sekadar makan saja mereka tak mampu, apalagi makan makanan yang lengkap gizinya (dulu istilahnya: empat sehat, lima sempurna).

Berapa potensi zakat fitrah di Indonesia? Kalkulasi kasarnya, umpamakan saja penduduk Indonesia berjumlah 250 juta orang dan 80% beragama Islam. Dari 200 juta orang itu, taruhlah yang miskin 30 juta orang sehingga yang muzakki berjumlah 170 juta orang. Per orang mengeluarkan 2,5 kg beras atau makanan pokok lainnya yang menghasilkan jumlah total 170.000.000 x 2,5 = 425.000.000 kg. Jumlah ini dibagi rata untuk 30 juta orang, 425 : 30 = 14,17 kg per orang. Beras 14,17 kg itu bisa untuk makan selama sebulan atau bahkan dua bulan per orang dengan tiga kali makan sepiring takaran normal orang Indonesia. Memang, tentu saja, belum termasuk lauk-pauk dan sayurnya. Juga belum termasuk buah dan susunya (kalau kita masih sepakat pada jargon empat sehat lima sempurna). Lantas, sepuluh atau sebelas bulan sisanya, mereka makan apa?

Meminjam hirarki buatan Abraham Maslow, konsumsi zakat oleh kelompok fakir miskin itu hanyalah untuk kebutuhan fisiologis, kebutuhan dasar dan utama. Untuk menyediakan makanan selain dari zakat fitrah, sebagai rahmatan lilalamin, Islam sudah menyediakan instrumen selanjutnya, yaitu zakat mal. Jenis zakat ini justru lebih fantastis jumlahnya.

Menurut pakar ekonomi syariah, Prof. Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, S.E, dana kaum muslimin dari zakat mal dan fitrah pada bulan Ramadhan mencapai Rp30-an triliun. Hanya saja, dana tersebut hanya sedikit yang disalurkan untuk pemberdayaan kaum fakir miskin. Selain itu, dana tersebut mayoritas disalurkan oleh muzakkinya secara langsung, tidak melalui institusi amil zakat seperti Rumah Zakat, Rumah Yatim, DPU DT, PKPU, dan lain-lain, baik institusi pemerintah maupun swasta.

Secara syariat, menunaikan zakat secara langsung kepada mustahiknya tentu sah-sah saja, baik dibayarkan sekali setahun atau sekali sebulan, atau dibayarkan segera setelah uang itu diperoleh, minimal 2,5%. Disalurkan lewat institusi amil zakat pun bagus-bagus saja, asalkan diurus secara bertanggung jawab, akuntabel dan auditabel.

Lebih daripada itu adalah kemauan kita untuk membayar zakat, willingness to pay zakat. Sudahkah zakat mal itu kita tunaikan?

ReadMore »

Gaza, Palestina, dan DK PBB

Gaza, Palestina, dan DK PBB


Sejauh ini, Palestina (Gaza) selalu dirugikan oleh pemegang Hak Veto di Dewan Keamanan PBB, terutama oleh Amerika Serikat. Negara yang disetir Yahudi ini bagai ular berkepala dua, munafik. Demokrasi yang dielu-elukannya adalah demorasi yang crazy sehingga gila pula para pejabatnya. Lagi pula, AS begitu gentar melihat keberanian kaum muslim dalam bom-bom syahidnya sehingga mereka berupaya membunuhi anak-anak dan wanita pelahir anak-anak. Bom pembasmi yang berasal dari AS itu digunakan oleh Israel secara membabi buta.

Hal serupa pernah terjadi pada peristiwa Shabra-Satila. Ribuan wanita dan anak-anak tewas terpanggang panasnya bom. Memang, sejumlah negara mengutuk pemboman itu, tapi sekadar mengutuk saja. Atau, boleh jadi mereka pura-pura mengutuk untuk menabiri senyum gembiranya melihat kehancuran kaum muslim. Lembaga dunia yang bertujuan mengamankan dunia dari mala petaka buatan manusia semacam perang, sesuai semangat Liga Bangsa-Bangsa pada awalnya dulu, hanyalah macan ompong. Justru mereka gentar dan takut berat terhadap gerak-kembang Islam sehingga diam saja. Jangankan PBB yang notabene adalah AS dan Israel yang memang islamofobi, negara-negara anggota OKI saja bergeming (tidak bergerak), diam seribu basa. Sekadar dukungan moral saja tidak ada. Berbeda dengan rakyatnya di tataran akar rumput, mereka merasa satu tubuh dan marah lantas bertekad turut berjihad di sana. Tapi sayang, jumlahnya tidak banyak. Kebanyakan dari Suriah dan Iran. Bahkan pernah terjadi, muslimin Indonesia yang hendak berjihad di sana justru ditakut-takuti dan dihalangi oleh pemerintah Indonesia.

Kini, setelah lebih dari 200 orang tewas di Gaza, negara-negara yang pejabatnya pembenci Islam, penganut islamofobi “seolah-olah” mengutuk perbuatan perikehewanan Israel di sana. Mesir versi As Sisi juga begitu. Seolah-olah. Ada drama satu babak yang mereka lakonkan sekarang. Drama-drama ini bisa mereka mainkan berkali-kali sesuai situasi dan kondisi yang mereka alami. Kepura-puraan itu sangat kentara lewat silat lidahnya di media massa. Taktik mereka adalah menyerang terus ketika masih di atas angin dan langsung minta gencatan senjata ketika sudah tersudut dan terpepet. Inilah taktik usang mereka, sama persis dengan moyang mereka, yaitu kaum Yahudi pada masa Nabi Muhammad SAW. Dengan kata lain, kaum Yahudi itu bangsa penakut. Tentara Israel itu sangat penakut, sama seperti AS yang beraninya hanya main keroyokan di Afghanistan dan Irak.

Yahudi adalah pendatang di Palestina. Karena serakah, Yahudi yang menggelandang itu lalu merebut jengkal demi jengkal tanah Palestina dan mengklaimnya sebagai bangsa yang berhak atas tanah itu. Atas kekuatan ekonomi yang mereka susun, mereka lantas mampu menyetir AS dkk. Bahkan boikot dan veto AS di DK PBB pun sebetulnya atas usul lobby Yahudi. Namun demikian, peristiwa seperti ini sebetulnya bukanlah hal baru. Sebab, veto dan boikot ekonomi yang dialami Palestina pun pernah dialami oleh nabi terakhir kita. Malah gempuran kaum kafirin Quraisy begitu membabi buta termasuk ketika mengintimidasi para sahabat Muhammad bin Abdullah. Kelaparan, siksa pedih dan intrik begitu dekat dengan kaum muslim pada masa nabi. Hal senada terjadi pada masa sekarang di berbagai pelosok bumi: di Irak, di Afghanistan, di Filipina, di Thailand dan di Afrika, selain di Palestina dan Libanon. ***

ReadMore »

20 Mei 2014

Inilah Bibit, Bebet, Bobot Prabowo Subianto

Inilah Bibit, Bebet, Bobot Prabowo Subianto
Oleh Gede H. Cahyana

Seperti memilih suami/istri, memilih presiden dan wakilnya haruslah hati-hati. Gunakan pertimbangan hati nurani dan pikiran jernih. Hilangkan sikap membabi-buta, ikut-ikutan, dan asal pilih. Presiden/wapres dapat mengubah nasib kita menjadi makin baik atau kian buruk. Semisal, harga BBM, elpiji (LPG) bergantung pada kebijakan pemerintah. Begitu juga undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan lain lain, baik berkaitan dengan politik, ekonomi, sosial, agama, budaya, pertahanan maupun keamanan kita sebagai WNI.

Lantas, apa saja yang mesti dipertimbangkan dalam memilih presiden dan wapres? Ada kriteria yang bisa digunakan untuk menyeleksi layak-tidaknya seseorang dipilih menjadi presiden/wapres. Satu di antaranya ialah B3: Bibit, Bebet, Bobot. Mari kita gunakan B3 ini untuk capres dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto.

Bibit
Lahir di Jakarta pada 17 Oktober 1951, Prabowo adalah anak Dr. Soemitro Djojohadikusumo, seorang profesor ekonomi di FE UI, Jakarta. Adapun Soemitro adalah anak dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo. Pada masa pramerdeka, Margono berinteraksi intensif dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tjtipto Mangoenkoesoemo dan bergerak sejak lama di basis ekonomi rakyat, yaitu koperasi. Ia pun mendirikan Bank Negara Indonesia, yang kini dikenal dengan nama BNI 46. Setelah proklamasi, ia menjabat sebagai ketua DPA (Dewan Pertimbangan Agung) pada masa Soekarno-Hatta. Usianya 51 tahun saat itu, diusulkan oleh tokoh Pasundan, R. Otto Iskandardinata (Margono D, hal 159). 

Sebagai pakar ekonomi, Dr. Soemitro kerapkali memberikan masukan dan kritik kepada Soeharto pada masa Orde Baru. Kisah hidupnya sudah banyak dibahas di media massa cetak dan online. Di bidang lingkungan, sejak 1970-an Soemitro Djojohadikusumo mewanti-wanti potensi polusi di Indonesia. Begawan ekonomi penulis Science, Resources, and Development ini pada tahun 1977 telah memperingatkan pemerintahan Soeharto bahwa akan terjadi booming dan blooming teknologi yang dapat menjadi bumerang bagi manusia kalau tidak arif dalam menyikapinya. Mantan menteri ini menyatakan bahwa harus ada teknologi yang protektif (protective technology) atas lingkungan. Idenya itu dipublikasikan sebelum rezim Orde Baru merilis Kementerian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada tahun 1978.

Bebet
Bisa diartikan sebagai status sosial ekonomi seseorang. Hal ini langsung tak langsung berkaitan dengan Bibit, garis keturunan. Orang yang kuat sosial ekonominya tentu lebih disukai daripada sebaliknya. Dengan kekuatan ekonomi, perbuatan baik dan benar seperti membangun sekolah, rumah sakit (hospital), rumah sehat, rumah ibadah, panti asuhan, panti jompo, mengembangkan pasar rakyat, membantu nelayan dan petani, memberikan beasiswa baik kepada siswa maupun mahasiswa (S1, S2, S3), dll dapat dilaksanakan. Dalam darah Prabowo mengalir spirit pejuang negara dari kakek dan ayahnya - bahkan hingga ke zaman Raden Tumenggung Banyak Wide, pada masa Pangeran Diponegoro - menjadi pengusaha dan sekaligus prajurit Sapta Marga. Itu sebabnya, ia menjadi nasionalis murni, cinta negara Republik Indonesia.

Bobot
Bobot adalah personalitas seseorang, kapasitas dan kapabilitasnya. Prabowo, karir militernya bagus, sangat bagus, bahkan. Jika dianalogikan dengan dunia akademis, ia mencapai jabatan fungsional profesor dalam usia muda. Ia pensiunan Letnan Jenderal. Karir kepemimpinannya mulai dari komandan peleton hingga Komandan Jenderal Kopassus. Gaya kepemimpinannya yang lugas-tegas, sorot matanya yang tajam dan fisiknya yang atletis pada masa itu, mengantarnya menjadi komandan di jajaran ABRI/TNI. Berikut adalah senarai pengalamannya menjadi pemimpin atau komandan di ABRI/TNI (Sumber: http://id.wikipedia.org).

Tahun
Jabatan
1976
Komandan Peleton Para Komando Grup-1 Kopassandha.
1977
Komandan Kompi Para Komando Grup-1 Kopassandha.
1983 - 1985
Wakil Komandan Detasemen-81 Kopassus
1985-1987
Wakil Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad
1987-1991
Komandan Batalyon Infanteri Lintas Udara 328 Kostrad
1991-1993
Kepala Staf Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad
1993-1994
Komandan Grup-3 Pusat Pendidikan Pasukan Khusus
1994
Wakil Komandan Komando Pasukan Khusus
1995-1996
Komandan Komando Pasukan Khusus
1996-1998
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus
1998
Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat
1998
Komandan Sekolah Staf dan Komando ABRI
Sumber: id.wikipedia.org

Kalangan TNI (ABRI) paham, jenjang karir di militer sangat ketat, membentuk piramid. Garis komando pun tegas. Atasan memberikan perintah, bawahan melaksanakannya. Tanggung jawab ada pada atasan dan pelaksana tugas. Disiplin. Ini serupa dengan kondisi di pesantren. Santri taat pada ustaznya, asatiz taat pada kyainya. Kyai taat pada kyai sebelumnya. Santri, ustaz, kyai taat pada Allah. Evolusi karir di militer yang demikian ketat itu menjadi pilar utama pengalaman Prabowo Subianto menjadi pemimpin. Hanya di militer saja yang tegas dalam jenjang karir dan tampak jelas dalam garis komandonya.

Karir militernya dilengkapi oleh aktivitasnya sebagai pengusaha. Ia memimpin sejumlah perusahaan, baik di dalam maupun di luar negeri. CEO perusahaan menjadi seni tersendiri, yang berbeda dengan seni memimpin di militer. Pemimpin militer ditambah dengan pemimpin di sipil (perusahaan) ikut memperkuat pikiran dan batinnya. Dunia pendidikan pun dilakoninya, meneruskan amanat ayahnya Dr. Soemitro Djojohadikusumo pendiri Yayasan Pendidikan Kebangsaan yang mengelola Universitas Kebangsaan. Inilah wujud nyata keluarga besar Soemitro dalam memajukan pendidikan rakyat Indonesia, terutama di kelas sosial ekonomi menengah – bawah.

Kemarin, Senin, 19 Mei 2014, bertempat di Rumah Polonia, Prabowo dan Hatta Rajasa, dihadiri oleh elite Gerindra, PAN, PKS, PPP, PBB, dan Golkar mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden dan calon wakil presiden periode 2014 – 2019. Semoga cita-cita duet ini terwujud, yaitu menjadi presiden dan wakil presiden yang mampu maningkatkan taraf hidup rakyat, seperti petani, nelayan, buruh, PNS, TNI-POLRI, pegawai swasta, pedagang, dll. Saatnya Indonesia menjadi, tidak saja Macan Asia, tetapi juga Singa Asia. Bangkit, semoga bangkit, Nusantara tercinta, dan selamat memperingati Hari Kebangkitan Nasional. *

Daftar Kepustakaan
1. Margono D, Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman, Satu Kisah Kekeluargaan Tertulis, diterjemahkan dari bahasa Belanda oleh Drs. Muhammad Radjab, PT Indira, Jakarta.
2. Gambar/foto, hasil dari Google.com

ReadMore »

24 April 2014

Nomograf, Manfaat Bagi Insan PDAM

Nomograf, Cara Cepat Hitung Debit, Untuk Insan PDAM
Oleh Gede H. Cahyana

Kehilangan energi atau tekanan (headloss) penting diketahui dalam aliran air, baik di dalam saluran terbuka (selokan) maupun di dalam saluran tertutup atau bertekanan seperti pipa. Hampir semua sifat aliran air di dalam pipa PDAM berupa saluran bertekanan. Itu sebabnya, mengetahui tata-cara menghitung hilang-tekanan secara praktis menjadi penting, selain secara teoteris, terutama insan PDAM, khususnya yang bertugas di bagian operasional pipa transmisi di lapangan.  

Aliran air di dalam pipa bisa ditinjau secara ideal dan secara nyata (fakta). Kondisi aliran faktual suatu fluida (zat alir) lebih rumit daripada kondisi ideal yang diimbuhi oleh beberapa asumsi. Aliran  air di dalam pipa PDAM, tidak hanya di sistem transmisi dan distribusinya tetapi juga di unit operasi dan prosesnya. Perbedaan panjang pipa antara pipa di IPAM dan di transmisi & distribusi menimbulkan perbedaan asumsi dalam penghitungan headloss-nya.

Di IPAM, pipa-pipa biasanya pendek-pendek saja, tetapi banyak ada belokan dan perubahan diameter. Peran minor losses menjadi besar dibandingkan dengan major losses-nya. Maka, rumus yang banyak diterapkan adalah rumus atau formula Darcy-Weisbach dengan formulasi hm = K(v2/2g). Ini untuk belokan, sambungan T, keran dll. Formula ini dimodifikasi juga untuk aliran air dari bak ke bak yang lain, pembesaran tiba-tiba, pengecilan dan sebagainya. Angka (harga, nilai) K ini pun sudah diteliti dan diperoleh variasi yang cukup banyak, berdasarkan sudut belokan.

Adapun pendekatan aliran air di dalam pipa panjang seperti transmisi dan distribusi, boleh saja menggunakan formula teoretis Darcy – Weisbach. Hanya saja, kesulitannya adalah dalam menentukan derajat ketelitian faktor gesekan (f). Pada aliran laminer, nilai f dapat diperoleh secara matematis tetapi tidak demikian untuk aliran turbulen. Nilai f untuk aliran laminer adalah 64/Re. Pada aliran turbulen, ada beberapa formulasi tetapi tidak disebutkan di sini. Kata kuncinya adalah kemampuan seseorang (operator) untuk memperkirakan nilai f berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya sebelum rumus-rumus tersebut dapat digunakan. Oleh sebab itu, biasanya digunakan formula Hazen – William yang empiris praktis.

Formula Hazen-William
Seorang operator PDAM, sedapatnya harus hafal formula ini. Q=0,2785.C.d2,63.S0,54. Ini adalah formulasi dalam satuan MKS (meter, kilogram, sekon) atau metric unit. Keterangan:
Q         =    Debit air (m3/detik)
C          =    Koefisien kekasaran pipa (gesekan)
d          =    Diameter dalam pipa (m)
S          =    Slope garis energi, hl/l

Perhitungan menggunakan kalkulator tentu bisa saja, dan hasilnya pun lebih tepat. Tetapi untuk kepentingan praktis, penggunaan karta nomograf lebih praktis dengan hasil yang mendekati kalkulasi matematis. Kesalahan atau simpangan yang terjadi karena penglihatan mata dan tajam-tumpulnya pensil yang digunakan.

Dalam formula di atas, kekasaran pipa, C bergantung pada bahan pipa dan umur pipa. Umumnya nilai C seperti pada tabel terlampir. Adapun nomografnya, tersedia dalam satuan British unit dan Metric units yang divariasikan berdasarkan nilai C. Terlampir hanya diberikan nomograf untuk C=100. Ada banyak nomograf dengan variasi C, mulai dari C=80, C=90, hingga C=150. Pipa baru memiliki nilai C paling besar, misalnya 150 atau 160. Makin tua umur pipa, nilai C pun menurun.



Contoh 1. Sebuah untaian pipa berdiameter 16 in. dengan nilai C = 160. Berapakah debit air yang mengalir di dalam pipa tersebut jika headloss-nya adalah 1 ft per 1.000 ft. Perkirakan juga kecepatan aliran airnya.

Jawab. Carilah di nomograf angka 16 pada mistar diameter, yaitu mistar kedua dari kiri. Temukan juga titik 1 ft per 1.000 ft. Hubungkanlah kedua titik tersebut dengan pensil dibantu mistar (penggaris). Diperoleh titik 1.000 pada mistar debit dengan satuan gallon per menit (gpm). Debit untuk C = 160 adalah 1.000 x (160/100)  = 1.600 gpm. Pada mistar kecepatan diperoleh titik 1,6 sehingga kecepatan untuk C=160 adalah 1,6 x(160/100) = 2,6 fps.

Dengan menggunakan nomograf berbasis C=100, perkiraan debit air di dalam pipa transmisi dari broncaptering menuju bak pelepas tekanan (BPT) misalnya dapat diketahui. Dengan perkiraan umur pipa dan bahan pipa, maka nilai C bisa diperkirakan, kemudian bisa diperkirakan debit airnya. Begitu pula kecepatannya dapat diketahui. **

Contoh soal diambil dari Babbit, Doland, Cleasby, Water Supply Engineering, McGraw Hill Book Co, 1967.
ReadMore »

1 April 2014

Politik Ini Kotor?

Oleh Gede H. Cahyana


Kata orang, politik ini kotor. Sebetulnya bukan politiknya yang kotor, melainkan orang-orangnya. Politisinya. Politikusnya. Mereka inilah yang sikap dan perilakunya seperti tikus. Politik bisa bersih kalau berada pada orang-orang yang bersih hatinya. Bersih sikap dan perilakunya. Ia juga harus berilmu mumpuni khususnya di bidang tertentu yang menjadi fokus pengabdiannya. Yang ahli hukum, cocok masuk ke komisi hukum. Yang pakar pendidikan, bergulatlah di komisi pendidikan. Begitu juga bidang ilmu lainnya.

Politisi itu seperti dalang. Dalang yang mahir memainkan lalakonnya, seperti Asep Sunandar Sunarya (alm). Namun ia tetap dalam koridor kebenaran. Baik dan benar. Dalam “nanggap” epos Bharatayudha misalnya, ia harus memenangkan Pandawa sebagai manifestasi kebenaran. Tidak boleh ia mengubah, apalagi disetir oleh orang dan kalangan tertentu untuk melakonkan dan memenangkan lakon buruk. Jika demikian perilakunya, politisi ini bukan lagi dalang melainkan wayang. Wayang senantiasa digoyang dan dimainkan gerak hidupnya. Politisi yang seperti wayang ini akan disetir oleh orang-orang kotor di belakang layar demi keuntungan diri, partai dan pemodalnya. Juga, demi anasir asing yang mendukungnya. Yang rugi rakyat juga. Arang habis, besi binasa. Setelah memilih, tak dapat apa-apa.


Oleh sebab itu, mari kita pilih dalang yang bersih, bukan wayang. *



(Kemarin Asep Sunandar Sunarya, dalang kawakan Indonesia, meninggal dan tadi dimakamkan di Jelekong, Baleendah, Kab. Bandung. Semoga diberi rahmat dan ampunan oleh Sang Mahakasih).

ReadMore »