• L3
  • Email :
  • Search :

17 Maret 2015

Filter Air, Mudah Tapi Susah

Filter Air, Mudah Tapi Susah
Oleh Gede H. Cahyana



Filter memang mudah dibuat, bahkan oleh tukang yang hanya lulusan SD. Dengan bekal alat-alat bengkel seperti gergaji, palu, paku, las pipa, kawat, besi beton, klem, pipa, fibre, pasir dan ijuk, jadilah alat bernama filter. Ini fisiknya, alat filter. Tetapi sesungguhnya, filter tidak semudah itu, terutama kalau dikaitkan dengan hidrolika aliran airnya dan aspek reaksi kimianya. 

Sebagai contoh, kecepatan aliran air sangat mempengaruhi berapa lama filter bisa digunakan. Melewati batas waktu ini, biasanya disebut life-time, maka kualitas air tidak akan memenuhi persyaratan air layak-minum. Begitu juga reaksi kimia. Pengolahan air sumur yang banyak mengandung zat besi (juga mangan) sebagai contoh, tidak lantas dijatuhkan begitu saja dari ketinggian tertentu, biasanya disebut aerasi, tanpa mempertimbangkan pH airnya. Sebab, reaksi oksidasi (dengan cara diaerasi tersebut) dapat berlangsung pada pH basa, sebaiknya di atas 8,3. Kalau pH air sumur di bawah 8, apalagi di bawah 7 seperti air sumur di perumahan bekas lahan sawah, maka filter tidak berfungsi optimal. Belum lagi kation kalsium, magnesium, karbondioksida agresif dan seterusnya. 

Namun demikian, dengan tetap menghormati pebisnis filter air, selayaknya konsumen diberi tahu bahwa filter akan berfungsi dengan baik kalau memenuhi persyaratan seperti ditulis di atas. Agar mudah, silakan tiru unit filter yang digunakan oleh PDAM. Tinggal kecilkan saja skalanya, menjadi skala rumah tangga dengan tetap memperhatikan dan memberikan fasilitas reaksi dan pengolahan secara alamiah. Hukum alam diikuti, maka pengolahan dengan filter akan memberikan kualitas air olahan yang layak diminum, meskipun perlu menyediakan peralatan yang lebih banyak dan pengondisian kimiawinya. *

ReadMore »

21 Februari 2015

Hikmah Longsor TPA Leuwigajah

Hikmah Longsor TPA Leuwigajah
Oleh Gede H. Cahyana




Kenang, Kenanglah Kami
(Satu Dasawarsa Longsor TPA Leuwigajah, 21 Februari 2005)

Hening, sepertiga malam terakhir
Bahana derik jengkrik di kejauhan
Lapak-lapak pemulung tangkup bisu
Ricikan membasah, hujan semalaman
Gemuruh suara
Bukan…!
Bukan Gemuruh
Itu gelegarrr.., itu dentuman!
Itu ledakannn…
Tapi
Ledakan apa?
Hanya sekejap, lenyap

Lampus, tak kurang dari 147 orang
Ruh terlepas dari jasadnya
Sepekan-dua pekan lewat,
Parijs van Java
menjadi
Rubbish van Java
-----------------------------

Bandung, 21 Februari 2015

Sepuluh tahun sudah usia bencana longsor TPA Leuwigajah (21 Februari 2005) yang menimbun tak kurang dari 147 orang. Inilah bencana terbesar TPA di Indonesia, bahkan sampai sekarang belum ada yang menandinginya. Mudah-mudahan tidak pernah terjadi lagi, di mana pun di Indonesia. Kota Bandung sebagai pemasok sampah terbanyak pada waktu itu menjadi lautan sampah. Bandung Lautan Sampah dijadikan yel-yel oleh demonstran seperti LSM, mahasiswa, dan warga Bandung, Untung saja Facebook dan Twitter belum ada saat itu. Kalau ada, tentu akan makin masif dan ramai di jagat nyata dan maya, bahkan bisa menjadi penyulut demo yang efektif. Betapa Bandung yang pernah berjuluk Parijs van Java berubah menjadi Rubbish van Java.

Namun demikian, selalu saja ada hikmah di balik bencana dan kesusahan hidup. Blessing in disguise, orang bilang. Hikmah pertama, setelah diskusi panjang yang berlarut-larut, menerima masukan dari akademisi, LSM, dan warga masyarakat, pemerintah pusat dan DPR menyusun Undang-Undang Pengelolaan Sampah. Deretan workshop digelar, begitu juga seminar dan focused group discussion di berbagai daerah, dengan suasana “panas” dan emosional. Fase ini berakhir manis, yakni DPR mensahkan Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Hikmah kedua, orientasi TPA Open Dumping bergeser menuju Sanitary Landfill sehingga projek-projek Sanitary Landfill makin banyak. Ini mendatangkan manfaat bagi kalangan yang ahli di bidang teknik pembuangan akhir sampah (refuse disposal), baik konsultan, kontraktor, akademisi, pengelola projek di dinas (kementerian), dan perusahaan pembuat, suplier, dan penjual pipa, geotekstil, geomembran, tanah urug, dan puluhan aksesoris teknologi persampahan lainnya. Nilai projek persampahan ini mencapai triliunan. Tentu saja, ini yang patut disayangkan, pemerintah daerah yang menggebu-gebu membangun Sanitary Landfill tidak disertai oleh kemampuan sumber daya manusianya dalam pengelolaan TPA. Akibatnya, banyak TPA yang didesain Sanitary Landfill akhirnya berubah menjadi Open Dumping lagi.

Hikmah ketiga, akronim “tiga er” atau “3R” makin dikenal dan fasih diucapkan bahkan oleh ibu rumah tangga sekalipun karena gerakan ini sangat masif disebarkan oleh pemerintah daerah lewat kelurahan, RW/RT, termasuk majelis taklim dan posyandu. Gerakan pembuatan lubang biopori dengan memasukkan sampah organik ke dalamnya sempat booming. Sekarang juga digelar Gerakan Pungut Sampah (GPS) dan selalu rutin di-posting oleh walikota di Facebook dan Twitter. Ini cara yang efektif untuk menggerakkan atau minimal memperkenalkan rasa peduli pada kebersihan lingkungan di kalangan anak muda dan sekolah yang banyak memiliki akun aktif Facebook dan Twitter. Gerakan 3R terus meluas, bahkan sudah masuk ke desa-desa untuk memberikan ilmu dan paham bahwa sampah yang ditimbulkan oleh manusia harus ditangani sedemikian rupa sehingga tidak mencemari lingkungan dan menyumbat selokan.

Keempat, muncul perdebatan yang “belum berkesudahan” perihal PLTSa. Awalnya, atas masukan dari akademisi, walikota Bandung menyatakan akan merilis program Waste to Energy. Program ini ditentang oleh masyarakat dan LSM yang khawatir pada dampak buruknya pada udara, air, dan tanah di cekungan Bandung. Bahkan pakar lingkungan seperti Prof. Otto Soemarwoto (alm) pun ikut turun tangan dan hadir di berbagai event yang membahas insinerator ini, termasuk pernah “dilecehkan” oleh DPRD Kota Bandung. Program ini akhirnya diubah menjadi PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) berbasis pembakaran (insinerasi). Karena menggunakan teknologi insinerator, maka rencana in pun ditolak warga. Sampai saat ini, belum ada keputusan pasti tentang PLTSa ini, apakah batal ataukah lanjut.

Kelima, muncul kesadaran untuk memberikan pendidikan lingkungan di SD, SMP, MTs, dan SMA, SMK, MA berupa Muatan Lokal (Mulok) Pendidikan Lingkungan (Hidup). Bandung adalah kota pertama di Indonesia yang merilis program ini dalam bentuk peraturan. Artinya, bukan inisiatif sekolah per sekolah atas dasar kesadaran guru dan kepala sekolahnya. Ini pernah menjadi gerakan masif di semua sekolah di Bandung. Program ini sempat juga diikuti oleh daerah-daerah lainnya. Hanya saja, program ini mulai mati suri tiga tahun terakhir ini, seolah-olah pada pendidik dan pemerintah mulai melupakan esensi Mulok PLH dan tragedi 147 orang yang tertimbun sampah. Semoga Mulok PLH bisa dimunculkan lagi.

Tentu saja, selain hikmah tersebut, ada sederet lagi masalah yang menggayut di lengan Pemerintah Kota Bandung. Di antaranya, masalah TPA Sarimukti yang kerapkali diprotes warga setempat dan sekitar jalan akses truk-truk sampah. Begitu pula pemerintah provinsi, berkaitan dengan rencana TPA Legok Nangka. Apa dan bagaimana realisasi dan metode transportasi truk menuju lokasi? Dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi, sesekali banjir di Rancaekek, apalagi pada musim libur dan lebaran, tentu bukan hal mudah bagi puluhan armada sampah berlalu-lalang di zone ini. Apalagi lokasinya menurun, menuju ke arah Nagreg.

Agar peristiwa Sarimukti tidak berulang di Legok Nangka, maka persiapan lapisan dasar TPA harus betul-betul mengikuti kaidah desain dan maksimal, karena ini berkaitan dengan pemanfaatan biogasnya di masa depan. Secara teoretis, dari 1.000 kg COD air sampah (lindi) dapat dihasilkan 12 juta BTU (British Thermal Unit) sebagai metana; 10.000 BTU sekira 1 KWH. Selamat memperingati satu dasawarsa longsor TPA Leuwigajah, dikenang untuk tidak terulang. *

ReadMore »

30 Januari 2015

Open Dump Sarimukti

Open Dump Sarimukti
By Gede H. Cahyana


There is a big problem of solid waste management and disposal in Indonesia. What’s that? Volume! Volume or rate of generation is out of the box. Not business as ussual, for example is the tonnage of solid waste in Bandung city that dumped in Sarimukti.

TPA Sarimukti is the only one of disposal point for solid waste of Bandung and Cimahi. This point is an open dumping, not a sanitary landfill. For this time, management of solid waste always take a NIMBY principle: not in my backyard. It should be switched to another principle like waste for one is added value for another.

Sarimukti has two problems, i.e: quantity of solid waste and condition of disposal point. About 5,000 m3 per day, the generation of solid waste need a very large area for disposal such as sanitary landfill or at least controlled landfill. Not open dumping as usually. Social problem appeared because of the open dumping release its rotten odor and bad smell.

So, the leachate treatment is also failure to get the best quality of effluent, esspecially in rainy season, and because of its collapse in hydraudinamic coresspond to plant design. To make it become optimal treatment, leachate must be treated by plant that follow the design criteria in regulations or textbooks. For the solution of this problem of waste, the provincial government and three local governments around great Bandung basin need to work together to help each other, both in the provision of land for the sanitary landfill, and in terms of social and public health cases around the disposal area.


Rights and obligations of each local government should be accomplished so that there are no conflicts in the communities and result a win-win solution. *

ReadMore »

22 Januari 2015

Bukan Rumah Kaca Abraham Samad

Bukan Rumah Kaca Abraham Samad
Oleh Gede H. Cahyana


Tulisan berjudul Rumah Kaca Abraham Samad di Kompasiana dibetulkan oleh elite PDIP, Hasto Kristiyanto, seorang Plt Sekjen PDIP di Metrotvnews.com. Ini sungguh mengejutkan banyak kalangan, baik di komunitas KIH maupun di KMP. Namun demikian, meniru acara Empat Mata dan Bukan Empat Mata, maka tulisan kali ini dijuduli Bukan Rumah Kaca Abraham Samad yang cenderung ekologi sentris, bukan ekopolitik. Ini tentang Efek Rumah Kaca yang dikaitkan dengan potensi banjir sejagat. Apa penyebabnya dan bagaimana banjir itu bisa terjadi? Ini berawal dari gas-gas rumah kaca dan satu di antaranya adalah karbondioksida.

Karbon dioksida adalah gas yang secara alamiah ada di alam dan tidak berbahaya. Gas ini digunakan  untuk fotosintesis tanaman berklorofil. Kejadiannya menjadi lain apabila konsentrasi gas ini sangat tinggi di atmosfer yang membentuk selimut CO2 sehingga pantulan cahaya matahari dari bumi berbalik lagi menuju bumi. Kejadian ini berulang sehingga temperatur atmosfer meningkat. Diperkirakan pada pertengahan abad ke-21 nanti temperatur bumi meningkat rata-rata  3o C atau 1o C di katulistiwa dan 7o C di kutub. Akibatnya, gunung es di kedua kutub bumi mencair sehingga banyak pulau-pulau kecil lenyap dari permukaan laut dan kota-kota pantai (water front city) bisa  tenggelam. Pantai Utara Jakarta diperkirakan tenggelam 7 meter di bawah muka air. Selain itu, daratan menjadi kering sehingga hasil perkebunan,  pertanian, perikanan, peternakan  berkurang.

Betulkah pulau-pulau bisa tenggelam karena efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global? Akankah Dunia Air itu bisa betul-betul terjadi? Ada kajian ilmiah yang disebut Teori Lebur atau Melting Theory. Intinya adalah kontradiksi yang dapat terjadi jika global warming makin parah. Ada dua hal penting yang bisa terjadi, yaitu perubahan tinggi muka air laut karena daratan bergerak relatif terhadap lautan (isostatik) dan perubahan yang terjadi karena volume air laut bertambah akibat pencairan es dan salju (eustatik).

Jika demikian, mencairkah es di kedua kutub Bumi itu? Para pakar terbelah pendapatnya pada soal ini. Sekelompok ahli yakin bahwa es di kedua kutub itu akan mencair jika pemanasan global tak berkurang. Es yang terus berubah menjadi air lalu masuk ke laut sehingga muka air laut meninggi yang lantas “memakan” pantai, mengurangi garis pantai dan menenggelamkan nusa-nusa. Namun ada pendapat lain. Kelompok ini justru yakin bahwa ada beda karakter atas kedua kutub Bumi. Katanya, kutub Selatan (Antartika) adalah dataran yang ditutupi es. Sebaliknya kutub Utara (Artik) adalah air laut yang membeku membentuk pulau es dan gunung-gunung es. Dengan kata lain, kutub Utara, kecuali Greenland, adalah es yang terapung.

Andaikata temperatur global betul-betul naik ekstrem, apa yang akan terjadi pada es di kedua kutub itu? Jika pulau apung di Artik mencair, maka takkan banyak berpengaruh pada tinggi muka air laut. Ini mirip dengan gelas yang berisi air dan ada sepotong es yang menyembul di permukaannya. Meskipun es itu habis mencair, sesuai dengan hukum Archimedes, maka airnya takkan tumpah. Jadi, peleburan es di Artik hanya akan mengubah wujudnya dari padat mencari cair sehingga tak berpengaruh pada kenaikan muka air laut global.

Hal berseberangan bisa terjadi di Antartika. Gunung es di kutub dapat mempengaruhi muka air laut karena volumenya cukup besar untuk menambah volume air laut global. Hanya saja, karakter lingkungan di Antartika sangat-sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga esnya tak mudah mencair. Pemanasan global tak mampu mencairkan esnya. Andaikata pemanasan global dapat mencairkan es di sana maka diduga semua manusia sudah mati. Semuanya tewas akibat heat stroke, fenomena yang sering menimpa jamaah haji dan negara di Eropa ketika musim panas, sebelum berdampak pada kenaikan muka air laut.

Lebih jauh lagi, hal muskil pun dapat saja terjadi dan kontradiktif. Pemanasan global justru menyebabkan air laut di kutub Selatan menguap dan terus menguap. Hembusan angin lantas membawanya ke daratan kutub dan akhirnya jatuh membeku di sana. Jika kejadian ini berlangsung menerus maka air laut pindah ke darat lalu menjadi es. Maka, yang terjadi justru penurunan muka air laut, bukan kenaikan! Artinya, pantai kita meluas dan muncul nusa-nusa baru.

Tampaklah bahwa pemanasan global, karamnya pulau dan banjir sejagat tak mudah dijelaskan karena belum pernah terjadi, belum ada pengalaman. Yang ada hanyalah film-nya Kevin Kostner yang juga banyak menuai kontroversi dan dianggap tak ilmiah. Tapi itulah yang terjadi, dunia teoretis berbakuhantam dengan kreativitas sineas.

Namun demikian, apapun teorinya dan bagaimanapun cara orang menjelaskannya, yang pasti pemanasan global akibat efek rumah kaca akan mempengaruhi aktivitas kita. Polusi CO2 yang kian parah, andaipun kecil dampaknya pada kenaikan muka air laut, tetapi besar pengaruhnya pada paru-paru kita, pada kenyamanan kerja kita, pada produktivitas kita.*
----------------------------------------------------------

Apabila tertarik membaca tulisan Rumah Kaca Abraham Samad versi politik di Kompasiana, silakan klik di sini, sebelum di delete, suatu saat kelak.

ReadMore »

21 Januari 2015

IPA Nusantara a la Dr Ing. Ir. Mohajit, M.S

IPA Nusantara a la Dr Ing. Ir. Mohajit, M.S
Oleh Gede H. Cahyana


Teknologi pengolahan air baku (air sungai, waduk, danau) yang ada selama ini kebanyakan berupa teknologi konvensional, yaitu hanya berupa unit operasi dan proses klasik, dimulai sejak awal perkembangannya di Eropa dan Amerika Serikat. Lahan yang dibutuhkan untuk membangun menjadi sangat luas. Fokus utama biasanya di unit prasedimentasi dan sedimentasi.

Selanjutnya hadir modifikasi dengan plate settler, baik yang dipasang datar (horizontal) maupun miring (inclined). Tahap berikutnya berkembang tubesettler berbentuk sarang lebah pada dekade 1980-an. Kini, dengan inovasi yang dibuat oleh tim yang diketuai oleh Dr Ing. Ir. Mohajit, M.S, dosen Teknik Lingkungan ITB, perubahan unit operasi dan proses ini menghasilkan uprating di luar kapasitas biasanya. Kapasitas bisa dijadikan tiga kali kapasitas aslinya. Artinya, dengan luas lahan yang sama, inovasi teknologi ini menghasilkan kapasitas olahan 300% dari kapasitas desain konvensional.

IPA atau IPAM ini pun, menurut tim pembuatnya, tidak dipatenkan agar dapat diperbanyak di mana-mana, termasuk di luar negeri. Siapapun bisa membangun unit yang sama tanpa harus memberikan honor (uang) kepada tim pembuatnya. Ini adalah lompatan quantum di bidang teknologi pengolahan air minum. Good luck for the team, and for Pak Mohajit, It’s a great idea.*

ReadMore »

19 Januari 2015

Nol



Nol

“Nomor hp-mu berapa?”

“Kosong delapan satu lima ….”

Jawaban di atas sering terdengar dalam keseharian. Mengapa dikatakan kosong? Kenapa tidak disebut nol? Kosong dan nol berbeda maknanya dalam matematika, logika, fisika, realita. Tertawa kita? Tak pa-pa, itulah fakta.

Yang pasti, angka nol tak ada dalam angka Romawi. Hanya angka Arab yang memiliki angka nol dengan simbol titik. Dalam perkembangannya, angka nol lantas disimbolkan dengan ”0” dan dieja dengan nol atau nul atau null (English) dan dimasukkan ke dalam kelompok bilangan genap!

Makna nol ialah zero atau ”ada yang tiada dan tiada yang ada”. Analoginya kolong dipan. Ruang di bawah dipan yang dinamai kolong ini kalau dilihat-lihat dan dicari-cari tetap saja tidak ada. Tapi kita yakin ia ada. Ia ada dalam tiada. (Duh pabaliut kieu geningan).

Kosong artinya tidak ada atau empty. Dalam matematika, kosong ini menjadi himpunan bagian dari sebuah set himpunan (Semesta, S). Ia tidak memiliki anggota atau unsur. Jadi, kalau ada set himpunan yang anggotanya ”nol” maka himpunan bagiannya ada dua, yaitu himpunan bagian kosong dan nol.

Dalam bisnis, angka nol memegang posisi utama. Salah jumlah atau salah menempatkan angka nol bisa merunyamkan semua orang. Di bidang elektronika dan sistem biner pun peran nol sangat penting. Ia angka istimewa. Ia perkasa. Berapa pun besarnya sebuah angka, kalau dikalikan dengan nol, hasilnya nol. Misalnya:

1 x 0 = 0
22 x 0 = 0
333 x 0 = 0
4444 x 0 = 0
55555 x 0 = 0
666666 x 0 = 0
7777777 x 0 = 0
88888888 x 0 = 0
999999999 x 0 = 0
1234567890 x 0 = 0


Lawan kali adalah bagi. Kalau suatu angka dibagi nol, maka hasilnya....? Misalnya:
1111111111 : 0 =
222222222 : 0 =
33333333 : 0 =
4444444 : 0 =
555555 : 0 =
66666 : 0 =
7777 : 0 =
888 : 0 =
99 : 0 =
0 : 0 =


Allah Swt berfirman dalam QS Al-Fajr (89): 3. ”Demi yang genap dan yang ganjil.” Apa maknanya Allah menyebut atau bersumpah atas yang genap dan yang ganjil?

1234567890- ghc -0987654321- J

“Film apa sih, kok heboh buangeeet?” Pernah nonton filmnya? Itu lho, yang tentang kiamat menurut ramalan manusia. Betul, film "2012". 

“Dua nol satu dua!” Ini betul.
”Dua nol duabelas!” Ini juga ok.
”Duaribu duabelas!” Ini paling aman, gak bakalan deh ada yang bingung ngung ngung.

Mari biasakan diri membilang nol, bukan kosong, ketika merujuk pada angka yang simbolnya “0”. Cobalaahh.


ReadMore »

14 Januari 2015

Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan RI

Program Studi Teknik Lingkungan
S1 (Sarjana Teknik)

Universitas Kebangsaan

Sejak 1991 Yayasan Pendidikan Kebangsaan membuka Program Studi Teknik Lingkungan dan kini berakreditasi B. Tahun ini Prodi Teknik Lingkungan menerima calon mahasiswa lulusan SMA, MA, SMK, pesantren, Paket C. 

3,5 tahun menjadi sarjana
Khusus alumni SMK Analisis Kimia, Kimia Industri, dan Tekstil, ada apresiasi berupa  bebas 16 SKS (satu semester). Alumni akan memiliki dua kompetensi, yaitu di bidang analisis kimia, industri, tekstil dan di bidang rekayasa lingkungan. Untuk keperluan konversi nilai, calon mahasiswa menyerahkan fotokopi raport kelas 3 dan fotokopi ijazah SMK yang telah dilegalisasi.

Mata Kuliah yang disetarakan sbb:
1. Kimia Dasar I  : 3 SKS
2. Kimia Dasar II  : 3 SKS
3. Kimia Lingkungan  : 3 SKS
4. Laboratorium Lingkungan I  : 2 SKS
5. Laboratorium Lingkungan II  : 2 SKS
6. Mikrobiologi Lingkungan  : 3 SKS

Jumlah = 16 SKS (1 smt). Kuliah bisa dipercepat dengan Semester Padat (SP).
A. VISI
Terwujudnya program studi yang unggul dalam bidang teknik penyehatan dan lingkungan khususnya air minum, air limbah, dan persampahan di tingkat nasional pada tahun 2022.

B. MISI
1. Menyelenggarakan sistem pendidikan yang profesional, kreatif, dan inovatif, serta berkualitas dalam bidang Teknik  Penyehatan dan Lingkungan.
2. Melaksanakan penelitian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Teknik Lingkungan.
3. Melaksanakan pengabdian sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sosial dalam rangka penerapan ilmu teknik penyehatan dan lingkungan kepada masyarakat.
4. Menjalin kerjasama (networking) dengan berbagai instansi yang relevan dalam lingkup regional, nasional dan luar negeri.

C. TUJUAN
1. Menghasilkan lulusan yang unggul, kompetitif pada bidang Teknik penyehatan dan lingkungan.
2. Menghasilkan riset di bidang teknik penyehatan dan lingkungan yang tepat guna bagi masyarakat.
3. Memberikan sumbangsih kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk pemikiran dan pemecahan masalah terhadap kebutuhan masyarakat.
4. Menghasilkan kerjasama (networking) dengan berbagai instansi  di  tingkat regional, nasional, maupun internasional.

D.  SASARAN
Sasaran yang akan dicapai ialah menghasilkan lulusan atau sarjana Teknik Lingkungan yang berkecimpung di bidang air minum, air limbah, udara, persampahan, kesehatan lingkungan, baik individu maupun kelompok, yang bermanfaat bagi masyarakat

E. PROFIL LULUSAN
Lulusan Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan memiliki kemampuan bekerja dan wirausaha (entrepreneur)  di bidang sistem penyediaan air minum kota, desa, dan isi ulang, sistem penyaluran air limbah, perancangan IPAM dan IPAL untuk hotel, rumah sakit, pabrik, AMDAL, UKL UPL, perubahan iklim, perancangan TPA sampah. 

Bidang kerjanya bisa di pemerintah, BUMN, BUMD, dan swasta (konsultan lingkungan), yaitu Bappenas, Bappeda, Departemen/ Dinas Pekerjaan Umum, Kesehatan, Dinas/Badan Lingkungan Hidup, PDAM, PAM Swasta, PDAL, pertambangan, industri migas, industri semen, pupuk, dll, rumah sakit, pengelola lingkungan di kawasan industri, guru PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup), dosen, wirausaha air minum. 

F. KOMPETENSI LULUSAN
 Kompetensi Utama
1.       Lulusan mampu merencanakan, merancang, dan menerapkan teknologi bidang teknik penyehatan dan lingkungan.
2.      Lulusan mampu membuat rencana induk sistem penyediaan air minum (RISPAM).
3.      Lulusan mampu membuat rencana rinci (DED: Detailed Engineering Design) air minum mulai dari unit sumber air, unit transmisi, unit produksi, unit distribusi, dan unit pelayanan.
4.      Lulusan mampu membuat rencana induk pengelolaan air limbah, penyaluran air limbah (sewerage system), dan merancang IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).
5.      Lulusan mampu membuat rencana induk persampahan, sistem pengelolaan (manajemen) persampahan dan merancang sanitary landfill yang dilengkapi IPALin (Instalasi Pengolahan Air Lindi (leachate).
6.      Lulusan mampu mengelola lingkungan dalam pekerjaan RKL, RPL, dan Amdal suatu kegiatan.
7.      Lulusan Diploma 1 mampu melaksanakan pekerjaan “water and sanitation” di perdesaan dalam kerangka penerapan Undang-Undang Desa dan menjadi asisten perencana di konsultan.

Kompetensi Pendukung
1.   Lulusan mampu mengerjakan pekerjaan laboratorium lingkungan seperti analisis air minum, air limbah, sampah.
2.   Lulusan mampu menggunakan teodolit dan mampu membuat peta dan poligon dalam pekerjaan air minum, air limbah.
3.   Lulusan mampu memanfaatkan beberapa perangkat lunak seperti wordprocessor, spreadsheet, presentation, sketch-up, autocad.
4.   Lulusan mampu membuat instalasi air minum isi ulang dan bisnisnya.
5.   Lulusan memiliki pengetahuan tentang dampak perkembangan teknologi terhadap lingkungan



KETUA YAYASAN
Letjen. TNI (Purn.) Prabowo Subianto
ReadMore »

29 Desember 2014

Memimpikan Alun-alun Ramah Lingkungan

Memimpikan Alun-alun Ramah Lingkungan

Oleh Gede H. Cahyana



Hampir 17 tahun usia artikel ini, dikirim ke koran Galamedia (GM). Alun-alun Bandung, dengan wajah barunya, akan diresmikan oleh Walikota Ridwan Kamil pada 31 Desember 2014. Mimpi 17 tahun lalu ini, mudah-mudahan saja betul-betul terwujud pada tahun 2015.
------------------------------------------------------

Rencana Pemda Kodya Bandung menutup Jl. Dewi Sartika - segmen di depan Masjid Agung - seperti diliput oleh “GM (20/3) dan tajuk rencananya (21/3) yang lalu, mendapat tanggapan pro dan kontra dari banyak kalangan. Yang kontra beralasan akan ada penurunan PAD (Pendapatan Asli Daerah) dan ancaman PHK bagi dua puluhan orang tukang parkir di kawasan tersebut. Gema protes keras itu, menimbulkan penafsiran negatif di kalangan masyarakat. Ada apa gerangan? Untuk perparkiran, “GM” menulis ada Rp 40 juta uang retribusi parkir raib per harinya. Atau sekitar Rp 14,4 miliar per tahun! Sebagai perbandingan, target pendapatan pada tahun anggaran 1998/1999 hanyalah Rp 4,2 miliar.

Berseberangan secara diametral, kelompok warga yang setuju pun tidak kalah banyaknya. Jumlah saran, usulan dan masukan via surat pembaca di media massa sudah tak terhitung. Mereka adalah kalangan yang kehilangan nuansa tumakninah sebagai warga Bandung yang pernah dibelai lembut oleh Bandung Tempo Doeloe! Sudah gerah melihat dekadensi moral yang mewujud di sekitar masjid itu. Dengan serius mereka menghujat kesemrawutan, kebisingan, kenyamanan dan keamanan di sekitar Alun-alun. Merekalah pencinta Bandung dengan motto Berhiber. Keinginannya kuat untuk meraih kembali Parijs van Java, Kota Kembang yang hilang.

Namun pada sudut yang lain, kalangan netral tanpa vested interest, mengkhawatirkan terjadinya penumpukan kendaraan di ruas jalan yang lain, khususnya pada pagi dan sore hari. “Pengalihan jalur,” katanya, “hanya memindahkan kemacetan!” Penambahan jalan, apalagi dengan area parkir, dianggap sudah tidak mungkin lagi. Kawasan hutan beton itu, memang tidak memiliki celah untuk ditata ulang. Artinya, kemacetan di jantung kota Bandung itu menjadi suatu keharusan. Jika dipaksakan maka social cost-nya akan sangat tinggi. Bayangkanlah, mega aktivitas padat di noktah sejarah (historical spot, Kunto 1984) mulai dari kegiatan di Masjid Agung, sekolah, perkantoran, hotel, trayek angkot, sentra bisnis dan hiburan di dalam radius 500 m. Terlebih lagi dekat stasiun, terminal Kebon Kalapa, Kantor Pos Besar dan dilewati oleh jalur bis kota. Itu semua menambah sareukseuk kawasan yang luasnya tidak lebih besar daripada lapangan sepak bola tersebut.

Sebenarnya keinginan menata kawasan Alun-alun sudah menjadi lagu lama. Haryoto Kunto (alm) telah mengkompilasi metamorfosis Alun-alun. “Sudah tiga kali ubah muka,” tulisnya. Hingga sekarang, mungkin telah lima kali wajah pusat budaya (baheula) itu “dioperasi”. Namun pada era reformasi ini, ketika semua orang bebas bicara, tuntutan itu menguat. Ulama dan kaum terdidik apik (akademisi dan pelajar) sering menggelar mimbar bebas di Alun-alun, yang “doeloe” menjadi arena budaya. Tuntutannya sama dan sebangun dengan pembubaran dan restrukturisasi daerah kelabu Saritem, yang akan dijadikan pesantren. Sejauh ini, gemanya memang masih terdengar sayup-sayup.

Namun demikian, aspek yang mengemuka sejauh ini adalah sisi sosioekonomi dan budaya saja. Sedikit - untuk tak menyebut tidak ada - kalangan yang meninjau aspek sosio ekologinya. Padahal aspek ini berpengaruh luas terhadap kondisi sosial, budaya dan ekonomi. Yang paling kentara di dalam masalah ekologi adalah kondisi vegetasi sebagai paru-paru kota, parameter utama kota bernuansa gunung. Ajakan di dalam motto Berhiber itu pun erat kaitannya dengan kawasan hijau.

Tidak Ramah lingkungan?
Alun-alun sudah tidak ramah lagi! Secara sosial budaya, dengan kasat mata dapat diyakini bahwa daerah tersebut menjadi ajang perjudian. Ada pula warga yang meniru mentah-mentah budaya “barat”. Westernisasi itu merasuk ke mode pakaian hingga ke cara bergaul. Tanpa rasa sungkan, para remaja - mulai dari pelajar hingga warga awam lainnya, berpesta moral di sana. Tidak sekedar berpegangan tangan. Kini telah jamak dilihat, pasangan nir-nikah itu, berpelukan dengan intimnya. Puncaknya akan terjadi menjelang tengah malam. Terutama pada Sabtu malam, malam tahun baru atau Hari Valentine. Semua kalangan, seolah-olah tumpah ruah di sana. Sangat biasa, jika petugas kebersihan menjumput CD (celana dalam), kondom dan bungkus pil KB, setiap hari!

Penganut “baratisme” yang sebagian besar adalah pemuda/di, mengalami sindrome familiar strangers. Mereka tidak saling kenal kecuali dengan konco-konconya, bergaya hidup AWOL (American Way of Life). Padahal, Dewi Sartika - yang dikenang dengan nama jalan di Alun-alun itu - sangat perhatian pada kemajuan wanita. “Sakola Istri” yang akhirnya diubah menjadi “Sakola Kautamaan Istri” adalah hasil obsesinya untuk memberdayakan wanita. Namun kini, hiburan dan lipuran di Alun-alun seperti bioskop dan amusement jika tidak selektif akan menunjang lost generation. Hal yang dihindari oleh Dewi Sartika. Dan di sana, dengan interaksi yang pekat di antara pengunjung namun miskin komunikasi, akan suburlah sikap kamu adalah kamu dan aku adalah aku.

Dari sisi sosial ekonomi, alun-alun - seperti halnya BIP - menjadi pusat jor-joran kapitalisme. Akibatnya, lokasi mejeng itu sering menjadi ajang penodongan. Pencopetan sudah menjadi keseharian. Kesenjangan ekonomi, dianggap pencetusnya. Namun, di sela-sela gemerlap kemewahan, tak terhitung jumlah pengemis (anak-anak) dan kalangan yang terpinggirkan secara sosial, ekonomi dan pendidikan. Mereka tak terimbas oleh perputaran miliaran rupiah kapital di sentra bisnis tersebut. Area Pendopo Kabupaten tengah mengalami krisis (urban crisis). Kawasan yang menjadi salah satu land mark Bandung itu, awal dekade 80-an ketika serbuan supermarket belum gencar adalah tujuan pelesir kaum muda. Selain berada di jantung kota, mudah dijangkau oleh angkot juga karena dekat masjid untuk shalat.

Namun, seperti disebutkan di atas, kondisi sosioekologinya sangat memprihatinkan. Entah berapa belas ribu kendaraan yang lalu lalang dan parkir per harinya. Selain bising dan mengurangi kenyamanan ibadah di Masjid Agung, limbah gasnya banyak mengandung CO (karbon monoksida), gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa dan sedikit larut di dalam air. Gas hasil dari pembakaran tidak sempurna mesin itu, sangat berbahaya. Metabolisme aerobik manusia dapat rusak karenanya. Ini diakibatkan oleh daya ikat (afinitas) CO terhadap hemoglobin (Hb) sangat besar. Dan, sekitar 48% pencemar udara di perkotaan berasal dari gas CO. Selanjutnya diikuti oleh gas SO2 (15 %), NOx (15%) dan Hidrokarbon (16%). Pada kondisi itu, kontributor utama CO adalah sektor transportasi, antara 70% hingga 85%.

Selain gas CO, ancaman serius juga datang dari keracunan kronis akibat timbal atau timah hitam (lead) yang berasal dari TEL (tetra etil lead). Keropos tulang adalah dampak akumulasi (penimbunan) timbal di dalam tulang akibat pertukaran dan reposisi ion kalsium. Keracunan sistemik pun dapat diderita oleh seluruh tubuh (hati dan pankreas). Bising itu, seperti disinggung di atas, dapat mengganggu kenyamanan dan konsentrasi kerja, mengganggu komunikasi, merusak pendengaran baik temporer maupun permanen.

Mencari solusi
Mencermati fenomena di atas maka sangat dituntut sikap lapang dada semua pihak. Tujuannya adalah mencari solusi dari opsi yang ada. Dan memang tidak akan ada satu pilihan (option) pun yang memuaskan semua pihak. Jadi harus ada pembagian rasa puas (sharing). Terutama mereka yang selama ini menangguk untung dari kondisi sekarang. Relakah dicap sebagai penopang “status quo”? Meskipun demikian, pihak yang “tergusur”, harus tetap diindahkan. Khususnya kalangan marginal, para PKL termasuk petugas parkir. Terlebih, menurut “GM”, ada 236 lokasi parkir di Kodya Bandung yang dapat dijadikan tempat “mutasi” yang bersangkutan.

Selanjutnya, taman Alun-alun itu bisa dikembangkan menjadi bentang hijau (green area) yang lebih baik lagi. Belum terlambat. Masih ada sedikit waktu. Membongkar kolam dan pot tanpa bunga dan menanaminya dengan pohon (bukan perdu) seperti di THR Djuanda adalah salah satu way out-nya. Pedestrian paving block (semoga di bawahnya memang tanah, bukan semen apalagi aspal) akan mendukung resapan air. Diharapkan hal ini mampu merestorasi wajah kelamnya dan mengukirnya menjadi paru-paru kota.

Untuk area parkir memang pelik. Sebagai opsi, dapat dipindahkan ke tempat yang lebih jauh dari Alun-alun, seperti kawasan Cikapundung dan Kebon Kalapa. Warga yang ingin ke Alun-alun dapat berjalan kaki atau disediakan angkutan ramah lingkungan. Misalnya kawasan bersepeda (akan memunculkan rental sepeda) atau trem listrik untuk masa depan. Tujuannya untuk mengurangi dampak negatif gas CO dan pajanan timbal. Karena selain pengunjung, keracunan juga mengancam para sopir angkot, penumpang, pedagang, petugas parkir dan polisi lalu-lintas. Mereka amat potensial terpajan gas CO dan timbal. Ini diperparah lagi oleh udara di Cekungan Bandung yang calm, berkecepatan rendah.

Opsi yang lain adalah upaya reverse urbanization. Membangun kawasan pemukiman, perkantoran dan pusat bisnis di daerah pinggiran, menyebar di delapan penjuru angin. Maksudnya adalah memecah konsentrasi massa dan kendaraan, sehingga kadar polutan dapat diminimalkan. Termasuk memperkecil kemungkinan bahaya sosial dan mengurangi beban lalu-lintas pada saat jam-jam puncak atau hari libur.

Dalam dimensi nasional, imporlah BBM yang rendah kadar sulfurnya dan gunakan bensin biru bebas TEL. Tentu cara efektif adalah pembatasan jumlah kendaraan bermotor (pribadi) yang masuk kawasan itu. Bagaimana mekanismenya, itulah tugas anggota DPRD dan eksekutif daerah untuk berfikir dan berkarya. Toh rakyat memilihnya memang untuk mencari solusi dari masalah yang ada, tanpa menimbang berapa gajinya.

Akhirnya, apa pun pilihannya, harus memberi andil dalam pelestarian fungsi lingkungan Alun-alun. Menjadikannya lebih ramah lingkungan dan warga yang peduli dan antusias dapat melalui hijaunisasi - Gerakan Penghijauan, Gerakan Sejuta Pohon! *

Catatan:

Pada masa itu, istilahnya adalah Kota Madya atau Kodya. Dulu Saritem masih “heboh” tetapi sekarang sudah berubah menjadi pesantren.
ReadMore »