• L3
  • Email :
  • Search :

15 November 2013

Grit Chamber, Pemisah Pasir di IPAL

Grit Chamber, Pemisah Pasir di IPAL
Oleh Gede H. Cahyana


Sedimentasi adalah unit operasi yang luas diterapkan di PDAM, baik untuk pemisah partikel diskrit maupun partikel flok dalam proses koagulasi – flokulasi. Fenomena serupa terjadi juga di unit Grit Chamber. Hanya saja, unit operasi ini biasanya diterapkan di IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Perbedaannya dengan sedimentasi, Grit Chamber berfungsi untuk menyisihkan partikel grit seperti pasir, serpihan halus kaca, kerikil kecil, lanau (silt), ampas kopi, dan material yang tak membusuk dengan berat jenis lebih besar daripada berat jenis air. Berat jenis grit tersebut juga lebih besar daripada berat jenis zat padat organik di dalam air limbah.

Tujuan penerapan Grit Chamber adalah untuk melindungi peralatan mekanis dari abrasi akibat partikel padat dan keras, mengurangi endapan di dalam pipa, terutama di belokan pipa. Pada instalasi digester aerob dan anaerob, unit Grit Chamber digunakan untuk mengurangi frekuensi pembersihan digester akibat akumulasi grit. Tanpa unit yang mengawali rangkaian IPAL ini (biasanya IPAL domestik, terutama yang combined sewer, yakni saluran air limbah yang juga berfungsi untuk menyalurkan air hujan) dikhawatirkan terjadi kerusakan pompa dan penyumbatan pipa atau kanal penyalur air limbah. Untuk IPAL industri, terutama industri yang air limbahnya lebih banyak mengandung senyawa terlarut dan koloid, maka Grit Chamber ditiadakan, diganti dengan equalization tank.

Seperti halnya unit sedimentasi di PDAM, setelah rentang waktu tertentu, terjadilah akumulasi grit di dasar Grit Chamber. Akumulasi endapan ini harus dikeluarkan secara gravitasi dengan membuka gate valve pengurasannya. Air yang mengalir bersama grit ini harus dialirkan kembali ke saluran air limbah untuk diolah karena kaya zat organik (BOD-nya masih tinggi). Dengan kata lain bisa disebutkan bahwa Grit Chamber tidak mampu menurunkan BOD atau COD. Efeknya kecil terhadap penurunan BOD. Inilah sebabnya, ia disebut sebagai unit praolah (pretreatment). Adapun grit yang terkumpul lantas diangkut ke tempat pembuangannya di lahan yang cekung atau di TPA sanitary landfill. Bisa juga distabilisasi dulu dengan kapur sebelum diurug di lahan TPA.

Tipe Grit Chamber yang biasa diterapkan di IPAL ada tiga, (1) Velocity Controlled Grit Chamber atau Horizontal Flow Grit Chamber dengan alat ukur Parshall Flume; (2) Aerated Grit Chamber, ada aerasi untuk mengurangi pembusukan; (3) Constant Level – Short Term Grit Chamber. Jenis yang dipasang bergantung pada maksud pembuatannya, apakah untuk air limbah yang tinggi beban organiknya (biodegradable) ataukah untuk air limbah yang mayoritas berisi pasir yang cepat mengendap. Yang dibahas selanjutnya adalah tipe pertama, yaitu horizontal flow karena bisa mudah dianalisis dengan hukum klasik partikel diskrit untuk unit sedimentasi, yaitu Stokes’ Law.

Pada tipe aliran horizontal, airnya mengalir secara horizontal dan kecepatan alirannya dikendalikan oleh dimensi unit, influent distribution gate, dan pelimpah di ujung efluen. Bentuk bak tipe aliran horizontal ini bisa segiempat, bisa juga lingkaran dan di bagian ujungnya (outlet) dipasang weir khusus. Yang pertama dibuat dan banyak diterapkan adalah berbentuk segiempat dengan pengontrol kecepatan aliran air. Minimum dibuat dua unit agar salah satunya dapat dibersihkan dan operasional tetap berjalan normal. Unit ini didesain untuk kecepatan mendekati 0,3 m/d (1 fps) dan untuk memberikan kesempatan kepada grit agar mengendap di dasar saluran. Dengan kecepatan tersebut maka mayoritas zat organik akan terbawa aliran, tetapi dapat mengendapkan grit. Pembersihannya dengan dua cara juga, yaitu secara mekanis dan dengan tangan (manual). Unit mekanis digunakan di instalasi dengan debit pengolahan di atas 40 liter/detik. 

Berkaitan dengan desainnya, faktor desain yang biasa diterapkan ialah kecepatan aliran air dan waktu tinggal (detensi: 45 detik s.d 1,5 menit). Kecepatan ini harus dikendalikan untuk meminimalkan endapan zat organik yang bisa membusuk di dalam ruang grit. Pada Grit Chamber tradisional, yaitu unit yang kali pertama dikembangkan dalam pengolahan air limbah, overflow rate yang digunakan adalah 900 kali kecepatan partikel terkecil yang akan disisihkan. Partikel ini biasanya berukuran 0,2 mm dengan berat jenis (specific gravity) antara 1,3 - 2,65. Meskipun demikian, ada saja zat organik yang ikut mengendap sehingga perlu dilengkapi dengan fasilitas pembersihan (washing unit) untuk menyisihkan zat organik dari grit.

                        Tabel 1. Rentang kecepatan endap dan waktu detensi.
Parameter
Satuan
Rentang
Tipikal
Waktu detensi
detik
45 – 90
60
Kecepatan horizontal
m/d
0,25 – 0,4
0,3
Kecepatan endap grit:



* diameter 0,21 mm
m/menit
1,0 – 1,3
1,15
* diameter 0,15 mm
m/menit
0,6 – 0,9
0,75
                          Sumber : Metcalf- Eddy, 2003

Terakhir, fasilitas yang perlu dilengkapi di bagian hulu Grit Chamber adalah bar screen dan kominutor (comminutor). Bar screen untuk menyisihkan sampah, ranting, dan kominutor untuk memotong benda-benda yang lolos dari bar screen sehingga ukurannya menjadi relatif seragam. Fasilitas screen dan kominutor ini dapat memudahkan operasi dan perawatan Grit Chamber. * 


ReadMore »

12 November 2013

Manusia Jawa = Homo erectus-kah?

Manusia Jawa = Homo erectus-kah?
Oleh Gede H Cahyana

Lokasinya sekitar tiga kilometer dari jalan Solo – Surabaya, ke arah kiri kalau dari Solo, di wilayah Kabupaten Ngawi. Akses ke lokasi bisa juga dari stasiun Kedunggalar kalau naik kereta api ekonomi atau stasiun Madiun jika naik kereta api bisnis atau eksekutif. Trinil adalah nama situs ini. Trinil pun, kalau di-“uthak athik gathuk”, adalah tri = tiga desa tempat temuan manusia purba, yaitu Desa Kawu, Ngancar, dan Gemarang yang berada di tepi Bengawan Solo. Di sinilah Eugene Dubois menemukan fosil Manusia Jawa (Java Man) pada tahun 1891 dan tahun 1893. Manusia ini hidup, berburu dan menangkap ikan di “desa-desa” di tepi Bengawan Solo pada zaman Pleistosen Tengah, satu juta tahun yang lalu.

Beberapa koleksi museum Trinil ini adalah replika (tiruan) dari Pithecanthropus erectus, berupa cranium (tengkorak), fosil gigi geraham atas gajah (Stegodon), fosil tulang paha manusia purba, fosil tanduk kerbau, tanduk banteng, dll. Selain fosil, ada juga tugu yang dibuat oleh E. Dubois, sebuah “prasasti” tentang lokasi titik temuan manusia purba dengan huruf: P.e. 173 M. ONO. 1891/93. Kode ini menerangkan bahwa lokasi penggalian berada pada jarak 173 meter arah timur laut pada tahun 1891 s.d 1893. Patung lainnya adalah gajah purba atau Stegodon yang diletakkan di dekat tempat parkir, tampak mencolok mata karena tinggi dan besar. 





Betulkah fosil di Trinil adalah manusia dalam arti manusia seperti kita? Kalau merujuk pada penjelasan Dubois, fosil tersebut bukanlah manusia seperti kita, yaitu Homo sapiens, tetapi ia tergolong manusia kera (Ape-man). Jadi, Manusia Jawa adalah Ape-man yang berdiri tegak, tidak terlalu bungkuk dengan tinggi antara 160 – 180 cm. Pertanyaan selanjutnya, betulkah tinggi dan ciri-cirinya tepat seperti itu? Betulkah sosok manusia purba ini seperti gambar terlampir? Gambar ini adalah rekonstruksi dari tengkorak dan tulang paha.  Bisakah dalil akal menerima bentuk wajah dan badan sosok makhluk hanya dari kepingan atas tulang tengkorak dan sebuah tulang paha?


Jika demikian, bagaimana sesungguhnya sosok makhluk yang fosilnya meninggalkan jejak untuk dipelajari manusia seperti kita sekarang? Homo erectus-kah ia? Manusia, bukan kera yang berdiri tegakkah ia? Kapankah kejelasan sosok ini terungkap? Sudah lebih dari 120 tahun, tetapi ilmu tentang sosok ini tetap misterius. Atau, perlukah tepi Bengawan Solo digali lagi seluas dan sedalam-dalamnya …? *

Gambar: johnhawks.net.

ReadMore »

31 Oktober 2013

Danau Kelimutu adalah Kawah Arwah

Danau Kelimutu adalah Kawah Arwah
Oleh Gede H. Cahyana

Waktu tempuh dari Maumere, NTT naik mobil sewa dengan kecepatan sedang kira-kira tiga jam. Berlokasi di Kabupaten Ende, danau atau lebih tepat adalah Kawah Kelimutu berada di pegunungan, sejauh ± 100 km dari Maumere. Jalan berkelok menjadi tantangan tersendiri kalau menyetir sendiri, apalagi bagi yang baru kali pertama berkunjung ke kawah tiga warna ini. Agar sempat menyaksikan matahari terbit, berangkatlah dini hari dari Maumere, kira-kira pukul 03.00 WITA. Artinya, menginap dulu di kota ini setelah turun dari pesawat. Ada beberapa hotel yang dekat dengan bandara El Tari, hanya lima menit perjalanan.

Esoknya, awalilah perjalanan dengan sarapan dulu agar tidak lemas diterpa udara dingin. Kenakan jaket dan sepatu plus kaos kaki tebal. Setelah melewati jalan lengang yang panjang, tibalah di jalan yang berkelak-kelok. Sambil menanjak, matahari muncul dalam warna jingga dan tidak menyilaukan. Berhentilah sejenak, turun dan gerakkan kaki sambil melapor ke pos jaga. Berpose dulu di depan gerbang, ambil beberapa foto, lalu segera naik agar tidak didahului oleh turun kabut. Kalau beruntung, hingga pk. 11.00 WITA tidak berkabut. Tapi hal ini, kata warga asli di lereng Kelimutu, hanya terjadi pada bulan Juli – Agustus. Selain bulan itu, kabut bisa turun lebih cepat sehingga “gagallah” menatap kawah senyap ini.

Setelah melewati gerbang masuk, terdengar suara beragam kicauan burung. Ada kicauan dari satu jenis burung tetapi terdengar seperti paduan suara beberapa burung. Inilah burung khas atau endemik di Kelimutu. Namanya Gerugiwa. Burung yang juga disebut burung Arwah oleh Suku Lio ini, karena jarang bisa ditemukan, mampu melantunkan belasan variasi warna suara. Merdunya ba' seruling, buluh perindu di surga (surga dunia… hmn J) dan dapat dinikmati di sepanjang jalan menuju puncak. Tinggi puncak ini kira-kira 1.640 m dpl.



Setelah berjalan santai hampir satu jam, sampailah di tepi kawah eksotis ini. Dua kawah berdampingan, berada di sebelah kanan jalan setapak dan satu lagi berada lurus di kejauhan, kira-kira satu kilometer. Naiklah ke kedua kawah kembar ini. Puaskan hasrat menatap warna airnya. Ambil beberapa foto, tapi hati-hati, meskipun berpagar, karena tiada yang bisa menolong kalau sampai terpeleset ke dalam kawah. Kawah pertama namanya Tiwu Ata Bupu (Danau Arwah Orang), yang kedua bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai (Danau Arwah Muda-Mudi), dan yang ketiga disebut Tiwu Ata Polo (Danau Arwah Tukang Tenung). Dengan kata lain, menurut kepercayaan masyarakat setempat, ketiga kawah tersebut adalah lokasi arwah atau ruh.


Bagaimana dengan warga asli di sana? Masyarakat Suku Lio dan juga Moni berperilaku ramah kepada tamu. Mereka berjualan makanan – minuman dan cendera mata berupa sarung dan kain tenun ikat khas mereka. Sambil minum kopi atau teh, juga mie instan, mereka sekaligus berperan sebagai pemberi informasi, baik yang sifatnya akademis maupun agamis atau kepercayaan setempat. Tentu kita tidak perlu berdebat tentang materi yang berkaitan dengan kepercayaan warga setempat. Terima saja, tunjukkan rasa hormat dan ucapkan terima kasih atas informasinya yang gratis itu.

Setelah puas, kurang lebih tiga jam, turunlah sambil berjalan santai dan simaklah keberisikan suara fauna di tengah kesenyapan desir angin gunung. Fotolah beberapa flora di sepanjang jalan setapak, Feeding Ground Area, lokasi seremonial adat Patika, dan tataplah bebukitan itu. Desahkan selamat tinggal kepada “arwah” di sana dan niatkan akan kembali lagi suatu saat kelak. *



ReadMore »

27 Oktober 2013

Ciptakan "Ikan Hiu” Demi Hidup

Ciptakan "Ikan Hiu” Demi Hidup
Oleh Gede H. Cahyana


Alkisah, pada suatu masa, ada nelayan Jepang yang kerapkali melaut di lepas pantai Pulau Hokaido. Berhari-hari mereka diombang-ambing gelombang, dibanjur tampias ombak dan diterpa panas mentari serta “ditusuk” dingin angin malam. Tetapi jarang mereka menemukan ikan tangkapannya dalam kondisi segar sehingga harganya murah kalau dijual. Mereka lantas menyediakan bak yang diisi es balok. Semua ikan tangkapan dimasukkan ke dalam pendingin itu. Tetapi..., tetap saja ikan-ikan itu tidak segar begitu tiba di darat. Harganya pun tetap rendah.

“Harus dicoba cara lain”, pikir Yamasaki, nelayan yang tiga anaknya juga menjadi nelayan, membantunya menangkap dan menjual ikan ke restoran.

Mereka lalu membuat kolam di dalam perahu. Ikan-ikan tangkapannya langsung ditaruh di kolam itu. Namun, lagi-lagi ikan-ikannya tak segar begitu tiba di pantai. Malah ikan-ikannya tampak lemah, tidak gesit berenang dan mudah ditangkap.

“Bagaimana caranya...?” Yamasaki termenung. Empat hari kemudian muncullah idenya. Ia menempatkan seekor anak hiu ke dalam kolam ikan itu. Satu dua ikan mulai dimakan anak hiu. Ikan ketiga, keempat....ketiga puluh lima dan terus... Entah sudah berapa banyak ikan tangkapannya dimakan hiu. Ikan yang selamat atau selamat sementara akhirnya HARUS terus bergerak agar tidak dimakan hiu. Yang terus BERENANG ke sana-sini akhirnya selamat dan segar sampai di darat.

Masalah itu mirip dengan hiu di kolam tadi. Bagi ikan, hiu adalah masalah besar. Ada ikan yang mati karena tidak gesit berenang dan malas bergerak. Tetapi ikan yang terus bergerak dan waspada malah sehat dan bugar. Otot-ototnya kian kuat sehingga makin cepatlah berenangnya. Ia survive justru akibat adanya tantangan. Jadi..., ikan yang selamat sampai ke pantai patutlah bersyukur karena punya tantangan. Tanpa tantangan... terbukti ikan-ikan lainnya mati sebelum tiba di pantai. Atau, ada tantangan... tetapi karena malas bergerak dan enggan berpikir serta tidak bersyukur diberi tantangan maka akhirnya... mati!

Lalu... kenapa kita malah bertanya-tanya, "kenapa kita yang diberi tantangan berat ini?" Dilihat dari sisi berpikir positif, tantangan yang selalu menerpa kita akan menguatkan “otot” hidup kita, seperti otot ikan di atas. Tantangan pasti menyebabkan kita terus berpikir dan berupaya untuk mengatasinya. Mahasiswa pasti lebih berat tantangan ujian, skripsi, Tugas Akhir daripada murid SD. Maukah mahasiswa diberi tantangan menjawab soal ujian dan tugas-tugas untuk murid SD?


Tantangan itu akan dapat diatasi kalau kita bekerja di bidang tugas masing-masing dengan rasa tanggung jawab. Kalau melihat teman malas-malasan, kita jangan ikut bermalas-malasan. Apalagi punya pikiran, “dia malas tapi gajinya sama dengan aku yang rajin.” Memang, kelihatannya gajinya sama tetapi... pasti berbeda berkahnya. Malah..., bekerjalah yang banyak karena akan banyak juga balasan-Nya. Bekerja itu pun tidak selalu harus fisik. Bisa juga duduk-duduk tetapi otak terus berpikir dan jari tangan mengetik di komputer. 

Bekerja adalah bagian dari belajar, dan belajar perlu tantangan, seperti hiu. Kita harus mampu menciptakan “hiu” yang mengejar dan menguntit kita ke mana pun kita pergi agar pikiran tetap “hidup”. Lantas, apa bentuk ikan “hiu” yang Anda ciptakan? **
ReadMore »

28 September 2013

Google, Sang Guru Imajiner

Google, Sang Guru Imajiner
Oleh Gede H. Cahyana




“Untuk mencari informasi, saya lebih suka menggunakan Google daripada Yahoo, “ begitu kata Dr. Ir. Onno W. Purbo dalam sebuah seminarnya pada tahun 2003. Dalam urusan pencarian data, Google memang lebih piawai, lebih lengkap, cepat, dan lugas serta selektif . Situs yang dibidani oleh Larry Page dan Sergey Brin ini bagai “tuhan”. Tiada satu pun yang dibutuhkan manusia, dalam bentuk informasi tentu saja, yang tidak bisa disajikan kepada pembutuh. Dalam hitungan detik saja, bahkan sepersekian detik, deretan informasi terpampang di depan layar (monitor), laptop, netbook, dan gadget lainnya.

Terlepas dari tanggal pendiriannya, apakah tanggal 7 September 1998 ataukah 15 September 1998, “Mbah Gugel”, inilah nama yang disematkan oleh orang Indonesia, sekadar canda saja,  merajai dan meratui (karena kita tidak tahu, apakah “tuhan” ini lelaki ataukah perempuan, atau waria? J) sumber informasi di jagat maya. Murid-murid dengan mudah memperoleh bahan pelajaran, mahasiswa pun bisa belajar dan berguru kepada dosen-dosen dari berbagai kampus di seluruh dunia, menyerap data dan analisisnya untuk tugas akhir, skripsi, tesis dan disertasi serta berbagai kebutuhan data untuk bahan laporan dalam beragam projek.

Dalam usianya yang ke-15 tahun, Mbah Gugel kian piawai, tampilannya selalu dinamis, berubah-ubah, mengikuti event internasional yang menjadi topik hangat (trending topic). Tampilan Doodle-nya kali ini berupa Doodle Pinata, sebuah video game yang diekspresikan oleh kue ulang tahun, lilin, dan huruf-huruf g o o g l e. Permainan anak-anak ini komunikatif dan menyenangkan, ada senyum dan ada ekspresi sedih (kecewa), dua tanggapan emosi manusia. Bagai seorang guru, Google ini bahkan bisa disebut sebagai guru imajiner karena tidak langsung bertatap muka dengan murid-muridnya tetapi “ikhlas” memberikan pengetahuan kepada pencari informasi.

Dahaga ilmu bisa disegarkan dengan mesin pencari Google, Sang Guru Imajiner, guru para pembelajar, "suhu" yang lahir di garasi. Selamat ulang tahun, “guruku”, guru para pencari informasi. *


ReadMore »

26 September 2013

Trickling Filter Bukanlah Filter

Trickling Filter Bukanlah Filter
Oleh Gede H. Cahyana



Filter dikenal luas di kalangan insan PDAM. Yang biasa digunakan di PDAM adalah filter pasir cepat (rapid sand filter). Yang sedikit diterapkan adalah filter pasir lambat (slow sand filter). Selain itu, dikenal juga filter kasar (roughing filter). Filter ini pun relatif jarang dijumpai di PDAM karena kebanyakan PDAM menerapkan prasedimentasi, unit operasi yang sama fungsinya dengan filter kasar. Lantas ada satu lagi, yaitu trickling filter. Meskipun berisi kata filter, sesungguhnya trickling filter bukanlah filter. Tidak ada proses filtrasi di unit proses ini. Kalaupun ada, ia hanyalah efek samping saja, bukan mekanisme utama. Dengan ukuran media (diameter) yang mencapai 2,5 – 13 cm, mustahil terjadi mekanisme filtrasi. Yang utama adalah proses oksidasi zat organik menjadi material lainnya dalam kondisi aerob.

Oleh sebab itu, unit proses trickling filter dikenal juga dengan nama biofilter, yakni filter yang memanfaatkan makhluk hidup (mikroba) untuk menurunkan pencemar organik. Tampak jelas bedanya, biofilter dan fisikofilter. Biofilter diterapkan di dalam pengolahan air limbah, fisikofilter diterapkan di bidang pengolahan air minum. Makanya, menjadi “aneh” kalau fisikofilter seperti filter pasir cepat diterapkan untuk mengolah air limbah. Anehnya lagi, ada juga pemerintah daerah, cq dinas-dinas teknisnya yang menerapkannya di beberapa daerah, bahkan untuk mengolah lindi (leachate), yaitu air rembesan dari lapisan sampah di TPA. Kontan saja, hanya dalam hitungan hari, filter itu sudah tersumbat (clogging) dan tidak bisa dioperasikan lagi karena tidak dilengkapi dengan fasilitas backwashing. Jadilah unit filter ini sebagai monumen sejarah.

Jenis Trickling Filter
Singkat kata, terapan trickling filter adalah di bidang air limbah, terutama air limbah domestik dan air limbah industri makanan – minuman. Sesuai dengan namanya, aliran air limbah yang masuk ke reaktor berupa tetesan-tetesan (trickling)  yang disebar di atas permukaan media filter. Umumnya air limbah disebar melalui lengan (arm) yang berputar di atas media. Lengan ini berjumlah empat buah, tapi ada juga yang menggunakan dua lengan. Di dalam lengan ini dipasang pipa inlet yang berlubang, dilengkapi dengan nozel sehingga air limbah tersebar di atas permukaan media. Pada saat air disemprotkan atau diteteskan inilah oksigen melarut ke dalam tetesan air.

Tetesan air jatuh di media filter seperti batu, plastik, kayu, bambu, dll. Mikroba yang tumbuh di permukaan media lantas mengoksidasi pencemar organik yang secara kontinyu dialirkan (diteteskan) dari lengan trickling filter. Sentuhan antara mikroba dan pencemar inilah yang mengolah air limbah sehingga konsentrasi BOD atau COD-nya turun ke tingkat tertentu. Makna “sentuhan” ini adalah metabolisme mikroba terhadap zat organik yang terlarut. Zat organik yang berupa koloid dan tersuspensi ukurannya jauh lebih besar daripada mikroba sehingga tidak bisa langsung dimetabolisme di dalam sel mikroba tetapi didahului oleh reaksi enzimatis ekstraseluler. Analoginya adalah singkong besar yang akan dimakan oleh seseorang maka ukuran singkong itu harus diperkecil atau dipotong-potong dulu agar mudah masuk ke mulut dan mudah dikunyah.

Media filter adalah bagian penting di dalam unit trickling filter. Kedalaman media berkisar antara 0,8 s.d 2,5 m. Media harus langsung bersentuhan dengan udara dan di bagian bawahnya sebaiknya diberi ventilasi agar udara bisa masuk. Bentuk desain underdrain mempengaruhi ventilasinya. Struktur kolom dan pelat trickling filter juga harus mampu menahan beban media batu, terutama struktur penahan media yang “melayang” di atas pelat dasar trickling filter. Batu memiliki parasitas (perviousness) kurang lebih 0,5 sehingga makin luas dan tinggi media filter akan menambah berat beban yang menimpa struktur pelat dan baloknya. Oleh sebab itu, sejak tahun 1960-an plastik menjadi alternatif karena parasitasnya bisa mencapai 0,95 dan ringan sehingga tinggi media bisa ditambah agar makin banyak peluang “sentuhan” antara zat organik dan mikroba. Selain faktor parasitas, media yang bagus digunakan adalah yang porositasnya (porocity) tinggi agar mikroba mudah melekat di permukaan media.

Berdasarkan kecepatan pembebanan organik (KPO), trickling filter bermedia batu dapat dikelompokkan menjadi low rate, intermediate rate, dan high rate. Adapun media plastik biasanya digunakan untuk trickling filter high rate. Terlampir adalah tabel pengelompokan trickling filter dan klasifikasi kriteria desain yang bisa diterapkan. Dalam praktiknya, sebelum masuk ke trickling filter bermedia batu, sistem dilengkapi dengan unit pengendap untuk mereduksi potensi penyumbatan (clogging). Apabila bermedia plastik, unit pengendap boleh ditiadakan asalkan sudah dilengkapi dengan barscreen untuk memisahkan sampah dari aliran air limbah. Air limbah yang cenderung berfluktuasi dapat mengganggu kinerja trickling filter. Disarankan unit dilengkapi dengan bak ekualisasi untuk menghomogenkan variasi BOD/COD dan meratakan debitnya yang masuk ke trickling filter. Kinerja trickling filter laju rendah tanpa resirkulasi, menurut Edward J. Martin, 1991 adalah BOD: 75 – 90%, P: 10 – 30%, N: 20 – 40%, TSS: 75 – 90%.

Tabel 1. Klasifikasi kriteria desain trickling filter
Kriteria Desain
Low, Standard Rate
Intermediate Rate
High Rate
Type of packing
rock
rock
rock
Hydraulic loading, m3/m2.d
1 - 4
4 - 10
10 - 40
Recirculation ratio
0
0 - 1
1 - 2
Depth, m
1.8 - 2.4
1.8 - 2.4
1.8 - 2.4
 Sumber: Metcalf & Eddy, 2003

Seperti ditulis di atas, unit trickling filter laju rendah mampu menyisihkan nitrogen antara 20 s.d 40%. Ini terjadi karena di bagian bawah media filternya tumbuh bakteri nitrifying autotrof yang mengoksidasi nitrogen ammonia menjadi nitrit dan nitrat. Artinya, terjadi proses nitrifikasi di unit trickling filter. Namun secara faktual, pengubahan ammonia menjadi nitrat belum menurunkan konsentrasi nitrogen di dalam air limbah. Unit harus dilengkapi lagi dengan denitrifikasi, yaitu bioreaktor yang bertugas mengubah nitrat menjadi gas nitrogen yang lepas ke atmosfer. Di bagian atas trickling filter laju rendah, lapisan mikroba atau biofilm biasanya tumbuh “subur” di media pada kedalaman 0,6 - 1,2 m.

Media ideal trickling filter adalah material yang luas permukaan per satuan volumenya relatif besar, murah, daya tahannya tinggi, porositas dan parasitasnya tinggi sehingga penyumbatan dapat diminimalkan dan lancar sirkulasi udaranya. Material yang cocok agar tinggi kinerjanya adalah batu kali bulat atau batu pecah (split) dengan keseragaman pecahan 95%, ukuran 75 sampai 100 mm. Untuk meningkatkan kinerjanya, trickling filter dimodifikasi dengan penambahan resirkulasi, dijadikan multitahap, distributor influen secara elektrik, penambahan ventilasi, penutup filter dan unit pra dan pascaolah.

Terakhir, operator trickling filter harus rajin memantau agar biofilm atau slime tetap basah, tidak boleh kering agar mikrobanya tetap hidup. Kematian mikroba dapat menyebabkan slime-nya luruh atau lepas (sloughing off) sehingga harus dimulai dari awal lagi untuk mengoperasikannya, mulai dari start up: seeding dan aklimatisasi. Ini memakan waktu dan biaya lagi. *

ReadMore »

25 September 2013

Braga Festival 2013, Bandung

Oleh Gede H. Cahyana


Jangan mengaku orang Bandung kalau belum berjalan-jalan di Braga. Braga zaman dulu, 131 tahun yang lalu, yaitu tahun 1882 atau setahun sebelum Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus, ia sudah ada. Namun asal-usul namanya tidak jelas sampai sekarang. Ada yang berkata, nama Braga berasal dari Perkumpulan Tonil Braga yang didirikan oleh Pieter Sijthoff pada 18 Juni 1882.

Ada juga yang meyakini bahwa nama itu sudah ada jauh-jauh tahun sebelum tahun tersebut. Waktu itu, Braga menghubungkan lokasi gudang kopi (Koffie Parkhuis) milik Andries de Wilde dengan Jalan Raya Pos (Groote Postweg), sekarang Jln. Asia-Afrika. Pendapat lain, menurut Haryoto Kunto alm, karena letaknya di tepi Sungai Cikapundung, maka jalan itu disebut “baraga” sedangkan berjalan menyusuri sungai disebut “ngabaraga” dalam bahasa Sunda. Ada juga yang menyatakan bahwa Braga berkaitan dengan ngabar raga atau pamer tubuh alias peragawan-peragawati berlenggang-lenggok di Parijs van Java, memamerkan baju mode Paris a la Bandoeng.

Terlepas dari simpang siur asal-usul namanya itu, yang penting, bagi kita yang mengaku warga Bandung, harus pernah JJS (jalan-jalan sore), JJP (jalan-jalan pagi), JJM (jalan-jalan malam) di sana. Jalan-jalan saja, tidak berbuat yang “aneh-aneh”, terutama pada malam hari, setelah pukul 23.00 Wib. Kini kesempatan itu muncul lagi, dihidupkan oleh pemerintah Kota Bandung sejak 2008 dengan menggelar Braga Festival. Tahun ini digelar pada 28 s.d 30 September 2013, mulai pukul 09.00 s.d 24.00 Wib. Tidak seperti hari-hari biasa, pada saat festival ini berbagai jenis seni dihadirkan, suvenir kerajinan rakyat, seni pertunjukan, dan kuliner rakyat Sunda buhun.  Seratus tahun yang lalu, segala kebutuhan orang Bandung bisa dibeli di Braga, mulai dari kebutuhan dapur sampai dengan busana bergaya Paris.

Hingga sekarang, para “toen” dan “nyonyah” Belanda, juga keturunannya, sering datang ke Braga untuk menapak jejak masa lalunya, menelusuri riwayat oma-opa mereka yang ditulis dalam buku hariannya. Kalau mereka saja begitu antusias pada seutas jalan bernama Braga, bagaimana dengan orang Bandung?

Berikut adalah foto yang menunjukkan perkembangan dan perubahan wajah daerah Braga. 





Hayu urang ngabaraga, beberes runtah di Cikapundung, ulah pundung ku babaturan. *
ReadMore »