• L3
  • Email :
  • Search :

22 Desember 2012

Mencari "Dukun" di Pedalaman Wanoja, Brebes

Mencari "Dukun" di Pedalaman Wanoja, Brebes
Oleh Gede H. Cahyana

Waktu itu saya “diplonco” oleh konsultan tempat saya bekerja. Dunia teoretis di kampus harus segera dicoba di dunia terapan. Saya ditugasi survei sekaligus merancang transmisi dan distribusi air bersih untuk proyek PPSAB. Single fighter, begitulah istilahnya. Tak tanggung-tanggung, lokasi survei tersebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah. Setelah urusan melelahkan di Semarang, lalu ke pemda kabupaten, kecamatan dan desa. Di desa, di lokasi survei, justru lokasi inilah yang terberat. Semuanya butuh waktu tiga minggu. Semua desa yang dikunjungi adalah daerah baru bagi saya. Malah ada daerah yang “tak bertuan” seperti cerita film-film western, wild-wild west. Tak bertuan dalam arti sulit berhubungan dengan dunia luar karena buruknya prasarana dan sarana transportasi dan komunikasi.  

Suatu hari, setelah berkunjung ke desa-desa lainnya sampailah saya di Bumiayu, sebuah kota yang sekarang diusulkan menjadi ibukota Kab. Brebes atau bahkan kabupaten mandiri (otonomi). Setelah mencari-cari penginapan, dapatlah sebuah losmen yang lumayan. Setelah bayar lunas untuk dua malam dan menaruh barang-barang bawaan, saya mulai bekerja. Hanya barang yang saya perlukan untuk survei saja yang saya bawa. Dari terminal Bumiayu saya naik angkutan ke desa tujuan. Cukup jauh, tapi terhibur oleh pinus-pinus dan tampak para penyadap getah pinus di sepanjang jalan. Jalan berlika-liku, sempit dan saya terjepit di angkutan desa yang sesak. Orang-orang ini begitu bersahaja, tampak dari caranya berpakaian dan tutur katanya. Ramah semua.

Waktu di angkot dan sebelumnya sudah saya tanyakan ke petugas losmen, saya bertanya lagi tentang Desa Wanoja. Wanoja, katanya, berarti perempuan. Meskipun secara administratif masuk Kabupaten Brebes, tetapi secara kultural berbahasa Sunda. Gunung Sawal menjadi sempadan antara kedua etnis tersebut. Penduduk setempat yang akan ke Ciamis atau Kuningan tinggal menyusuri jalan setapak di kaki gunung itu sehingga tak perlu ke Bumiayu yang butuh waktu lama. Demikianlah resume yang saya peroleh dari “ceramah” singkat orang-orang desa.

Namun sayangnya, mobil angkutan desa (angdes) itu ternyata tidak sampai ke desa tujuan saya tapi berhenti di prapatan. Dari sini saya harus naik ojek. Waktu itu ojek masih sedikit dan saya harus menunggu lama. Ketika satu ojek mendekat, saya hampiri dan tukang ojeknya langsung menyapa. Saya katakan bahwa saya mau ke Wanoja. Dengan cepat dia menyambar,” Mau ke dukun?”

Saya kaget dan sempat bingung. Apa saya tampak seperti orang yang senang ke dukun? Dia terus saja ngomong,” Bagus dukunnya. Banyak yang ke sana dan dekat.”

Saya masih diam tapi mulai merinding. Seumur-umur saya belum pernah ke dukun. Sampai tamat SMA di Bali pun saya belum pernah melihat leak (makhluk jejadian dari manusia). Tapi sekarang malah diduga mau ke dukun. “Dunia antah berantah apa lagi yang saya masuki?” bisik hati saya.

“Bisa saya antar!” ajaknya.

Hati saya masih galau. Pergi nggak, ya? Akhirnya saya tanyakan ongkosnya sambil menyuruhnya agar saya diantar ke kepala desa. Ternyata dekat yang dimaksudnya begitu jauh bagi saya. Jalannya naik turun, belum diaspal, dan berbatu-batu besar.

Sampai di rumah kepala desa, saya disuguhi kue-kue khas setempat. Kepala desanya berusia sekitar 50-an tahun. Tapi yang membuat saya kaget, saya diladeni minum dan penganan oleh seorang perempuan yang umurnya di bawah saya. Kira-kira usia 19 tahun atau kurang dari 20 tahun. Kulitnya kuning langsat, berhidung bangir, ditambah lagi berbaju mirip kebaya dan berkain. Cantik juga anaknya, pikir saya.

Tapi saya luar biasa kaget, perempuan muda yang saya kira anak kepala desa itu ternyata bukan anaknya. Juga bukan keponakannya. Bukan adiknya. “Gadis” muda itu ternyata istrinya. Kata pemandu saya waktu survei ke mata air, itu istri ketiganya. Amboi…., cetus hati saya waktu itu. *

1 komentar:

  1. ini daerah sekitar ane gan, akasih dah kesana
    monggo mampir di geholgaul.blogspot.com gan

    BalasHapus