• L3
  • Email :
  • Search :

30 Juni 2006

Fotokopi Buku

Seorang rekan bercerita. Ketika memfotokopi sesuatu, dia kaget melihat seseorang memfotokopi bukunya. Bukan apa-apa. Dia kaget bukan karena tak rela bukunya difotokopi, melainkan karena isi bukunya itu sudah diubahnya. Ada sejumlah pendapat baru yang dianutnya kini yang berarti sejumlah pendapatnya di buku lamanya itu sudah dibuangnya. Buku lamanya itu terbit pada awal 1990-an. Ia khawatir pembaca buku lamanya itu akan salah paham atas pandangannya yang lalu padahal dia sudah memiliki pandangan baru yang menurutnya lebih tepat dan benar.

Jadi, kawan ini terkejut melihat bukunya difotokopi bukan lantaran alasan ekonomi melainkan alasan potensi kesesatan yang bakal diperoleh pembacanya. Dia, secara pribadi, rela-rela saja bukunya difotokopi atau dibajak. Tentu tak demikian dengan penerbitnya karena berbasiskan bisnis. Sebagai penulis, dia tak peduli pada bajak-membajak, kopi-mengkopi. Tolok pikirnya adalah sebaran ilmu. Makin banyak bukunya dibajak berarti makin banyak pula orang yang mengetahui ilmu yang ditulis di dalam buku tersebut. Apalagi dia sangat-sangat yakin bahwa Allah swt pasti akan membayarnya dengan harga yang tak bisa diduganya dan pasti jauh lebih baik daripada sekadar royalti. Yakin dia bahwa Allah takkan mengecewakannya.

Bagaimana dengan mahasiswa? Sudah jamak diketahui, dari dulu sampai sekarang, buku fotokopian banyak beredar di kalangan mahasiswa, terutama buku ajar (textbook) terbitan luar negeri. Minimal ada dua alasannya: (1) harganya mahal; (2) bukunya sulit diperoleh di dalam negeri dan harus pesan yang memakan waktu lama sedangkan materinya harus segera dipelajari demi skripsi, tesis, atau disertasi. Cara memperolehnya pun ada dua macam, yaitu (1) memfotokopi sendiri di tukang fotokopi; (2) membelinya di toko yang memang jelas-jelas menjual textbook ...


Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

27 Juni 2006

Hakim

Profesi hakim disorot lagi. Setelah beragam mafia peradilan dan calo kasus, kini muncul Pedoman Perilaku Hakim yang menuai kontroversi. Semua poin dalam pedoman itu bersifat idealis. Hanya saja, penjelasannyalah yang menyulut masalah, dan ini berkaitan dengan kemandirian dan harga diri. Minimal ada satu hal yang diperdebatkan, yaitu pemberian hadiah atau upeti. Berkaitan dengan ini, seorang rektor sebuah PTS di Bandung bercerita begini. Suatu hari ia didatangi seseorang yang akan membuatkannya jas. Sebelum mengukur, rektor ini bertanya, apakah kalau dia tidak menjadi rektor orang itu akan datang juga untuk membuatkannya jas? Ternyata orang itu datang ke rektor karena ada sesuatu yang diharapkannya, berkaitan dengan kelancaran bisnisnya.

Kasus demikian pun kerapkali terjadi di lingkungan petugas hukum yang seharusnya menjadi penegak hukum. Bahkan ada yang sengaja memanfaatkan jabatannya demi raihan harta berupa uang dan barang. Sudah pula jadi rahasia umum, aparat hukum ...


Selanjutnya di sini
.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

26 Juni 2006

K.H. Rusyad Nurdin

Sosoknya tinggi besar, kira-kira sama dengan Pak SBY, presiden kita sekarang. Peci hitam dan setelan baju-celana hitam atau gelap selalu dikenakannya. Tasnya pun hitam, mungkin berbahan kulit tapi tak pasti berapa harganya. Berkulit gelap umumnya orang Indonesia, alisnya memutih, begitu pun kumisnya. Jenggotnya lebih sering dicukurnya. Kakinya rematik sehingga jalannya tertatih-tatih. Setiap memberikan kuliah agama dan etika, beliau selalu menuruni undak-undak di belakang, dekat gedung Oktagon ITB. Dari jauh pun bisa dilihat sosoknya yang khas itu.

Siapa yang tak kenal K.H. Rusyad Nurdin? Saya yakin banyak juga yang tak tahu sosok kyai pejuang dan pejuang kyai ini, khususnya di kalangan nonmuslim. Namun, saya yakin tak seorang mahasiswa muslim ITB pun yang tak tahu siapa beliau, terutama yang mulai kuliah di ITB sebelum tahun 2002.

Beliau adalah pejuang dalam segala segi, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, dan agama. Sebagai politisi, beliau ikut dalam Konstituante yang dibubarkan oleh Bung Karno. Dalam bidang dakwah, beliau aktif membina umat lewat berbagai cara seperti mendirikan pesantren, menjadi penasihat, dan mengajar. Ada satu hal yang selalu beliau dengung-dengungkan dalam dakwahnya dan ini menjadi keprihatinannya yang mendalam. Beliau prihatin atas perilaku dan perbuatan tercela yang meruyak sejak masa beliau muda, tua, bahkan sampai hari-hari akhir hidup beliau.

Ada catatan buruk perilaku manusia yang dikompilasi oleh almarhum, yaitu:

(1). Mengagungkan harta di atas segalanya yang berarti menghambakan...

Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

23 Juni 2006

Aceh, Kiamat Mikro?

Tulisan ini pernah dimuat di buletin Jumat Masjid Al Ittihad Universitas Kebangsaan Bandung, pada Januari 2005. Sebagai refleksi atas gempa Yogya dan erupsi Merapi dan untuk menuai spiritnya, tulisan ini dirilis kembali.

Sampai hari ini sudah 170 ribuan orang tewas di sebelas negara yang kena tsunami. Sekitar 98 ribu di antaranya di Aceh. Jumlah ini adalah korban terbesar kedua setelah gempa di Cina tahun 1976 dengan korban 250 ribu orang. Karena datanya sementara, jangan-jangan nanti berubah menjadi yang pertama terbesar jumlah korbannya.

Gempa berkekuatan 8,9 skala richter itu mampu mengubah kota yang pernah jaya dengan kerajaan Samudra Pasai menjadi puing-puing. Ketika matahari baru sepenggalahan naik, Serambi Mekkah dilibas gelombang yang tingginya duakali pohon kelapa, lebih tinggi daripada atap rumah berlantai dua. Jangankan manusia, yang namanya kayu, batu, truk, bahkan beton rumah dan jembatan pun tersapu ludes oleh tsunami, tsu (pelabuhan) dan nami (gelombang).

Hanya dalam tempo 15 menit pascagempa, punahlah daerah juang Teuku Umar dan Cut Nyak Dien itu. Dampaknya pun terasa hingga pantai timur Afrika seperti Somalia, Tanzania dan Kenya. Kiamatkah ini? Betul, ini memang kiamat. Namun, ini cuma kiamat kecil. Mikro. Kematian, apa pun caranya, hanyalah kiamat kecil. Separah apa pun kehancuran dunia akibat energi alam semisal gempa itu, tetaplah kiamat kecil.

Selanjutnya di sini.
Gede H. Cahyana
ReadMore »

Pak Dudu Cikapundung

Pukul delapan pagi saya sudah sampai di jembatan Siliwangi. Sepintas saya menengok ke bawah. Air Sungai Cikapundung bergolak hebat dan tampak coklat. Keruh sekali. Beberapa onggok ranting, kayu dan dedaunan tersangkut di pinggir bangunan sadap milik PDAM Kota Bandung. Mendung menggayut. Sisa-sisa awan hujan semalam tampak kelam. Di utara kota, Gunung Tangkubanparahu seperti lenyap. Dingin mendesir-desir kulit. Sambil mengibas-ngibaskan tangan, saya menuju saung di tepi utara jalan Siliwangi. Di sana Pak Dudu sudah menanti.

"Sudah datang, Den?" sapanya ramah, bangkit dari kursi kayunya.

"Baru saja, Pak." Saya dipersilakan duduk di kursi satunya lagi. Sekejap kemudian, Bu Maman, istri Pak Dudu, datang membawa gorengan. Saya ditawari minum tapi dengan halus saya tolak. Bukan apa-apa, saya hanya ingin cepat-cepat ke sungai dan cepat selesai.

Selanjutnya di sini.


Gede H. Cahyana.
ReadMore »

22 Juni 2006

Belia, Nge-Blog Yuk! (edisi revisi)

Kamu anak SMA, SMP? Kalau ya berarti kamu belia. Kamu ingin menulis? Ingin ketagihan menulis atau mengarang? Salah satu caranya adalah punya blog. Blog bakal ‘mewajibkan” kamu terus menulis sehingga lama-lama kamu terbiasa menulis atau mengarang. Nanti, ketika harus membuat skripsi atau tugas-tugas sekolah dan kuliah, kamu akan lancar-lancar saja.

Blogger.com
Blog mirip dengan buku harian kamu. Buku harianmu berupa kertas, blog berupa ‘kertas’ kaca di monitor komputer. Sama-sama lembaran yang bisa ditulisi apa saja. Bedanya, di blog kamu bisa memajang fotomu tanpa lem dan bisa diedit sesukamu. Bedanya lagi, blog adalah diary kamu yang rela kamu bagikan ke semua orang di Bumi ini. Siapa saja bisa membaca catatan harianmu dan bisa pula mengomentarinya jika kamu izinkan ada perangkat ‘comment’. Jika tak suka ada komentar, bisa kamu setting ‘no comment’, gunakan saja opsi Hide, sembunyikan.

Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

19 Juni 2006

Cari Mata Air Dikira Cari Dukun

Waktu itu saya "diplonco" oleh konsultan tempat saya bekerja. Dunia teoretis di kampus harus segera dicoba di dunia terapan. Saya ditugasi survei sekaligus merancang transmisi dan distribusi air bersih untuk proyek PPSAB. Single fighter, begitulah istilahnya. Tak tanggung-tanggung, lokasi survei tersebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah. Setelah urusan melelahkan di Semarang, lalu ke pemda kabupaten, kecamatan dan desa. Di desa, di lokasi survei, justru yang terberat. Semua desa yang dikunjungi adalah daerah baru bagi saya. Malah ada daerah yang "tak bertuan" seperti cerita dalam film-film western, wild-wild west. Tak bertuan artinya sulit berhubungan dengan dunia luar karena buruknya prasarana dan sarana transportasi dan komunikasi.

Suatu hari, setelah berkunjung ke desa-desa lainnya sampailah saya di Bumiayu.

Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

Menulis "Dari Kawah Sinila"

Tragedi gas beracun. Puluhan sampai ratusan orang tewas bergelimpangan di sekitar Dieng. Di jalan-jalan, di ladang, di rumah ada saja geletakan mayat. Gas pembunuh mengepul dari kawah Sinila dan sekitarnya lalu menuruni lereng bukit, merayap ke jalan setapak dan pemukiman penduduk. Hanya dalam hitungan menit saja, pada pagi-pagi buta ketika hendak ke kebun dan ke pasar, mereka dihembus gas beracun dan langsung tercekat. Jatuh, tewas seketika. Ada yang tak sempat terjaga karena kena desiran gas beracun ketika masih tidur.

Selain berita, muncullah puisi dan cerpen perihal Sinila dan Dieng di koran-koran.


Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

14 Juni 2006

Insinerasi Bukan Solusi

Metropolis terkotor. Inilah predikat baru Kota Bandung menyusul penganugerahan Adipura 2006. Julukan yang menohok itu langsung menghapus jejak Bandung sebagai der bloem der indes bergsteiden. Sirna semuanya lantaran sampah. Salah siapa? Tentu saja salah DPRD, pemkot, aparat dan masyarakat! Semuanya punya porsi salah masing-masing. Namun demikian, yang paling salah adalah aparatur pengelola daerah karena perangkat institusinya sebagai eksekutif tak mampu menuntaskan masalah sampah sejak kasus Leuwigajah. Selain terlihat lamban dan gamang, semua solusinya bersifat instan-reaktif.

Predikat resmi tersebut pun kontan menutup julukan klasiknya, Parijs van Java, dan menjadi raport merah pemerintah di bidang lingkungan. Penyematnya bukan lagi LSM seperti awal tahun 2006 lalu melainkan (wakil) presiden. Bersama Kota Bekasi, Kota Bandung telah memerahkan telinga aparatur Provinsi Jawa Barat sehingga badan, balai, dan lembaga ikut-ikutan kebakaran jenggot. Sebab, baru kali inilah dalam sejarahnya, Bandung resmi disebut kota sampah. Ada satu lagi yang wajib diwaspadai, yaitu potensinya sebagai metropolis terparah polusi udaranya yang disebabkan oleh sampah.

Insinerasi, Layakkah?
Setelah sampah, jangan pula air dan udara yang jadi masalah. Apa pasal? Insinerasi! Inilah bahaya laten kedua setelah sampah. Tak tampak sekarang tapi bisa muncul segera setelah insinerasi beroperasi. Kerjanya memang cepat memusnahkan sampah. Dalam tempo singkat sampah yang combustible (bisa terbakar) akan lenyap, berubah menjadi masa lain dan energi, mengikuti hukum kekekalan masa dan energi. Akibat panasnya yang mencapai 900 - 1.000 derajat Celcius, sisanya berupa abu dan sampah noncombustible. Berat abunya antara 25% - 40% dari berat awal sampah atau 10% - 15% dari volume awalnya. Kisaran reduksi volumenya 85% - 90% sehingga mudah diangkut ke disposal point, seperti TPA. Hanya saja, abu ini berpotensi mencemari air karena mengandung gegaram inorganik terlarut.

Reduksi volume memang menggoda, terlebih lagi ada iming-iming energi listrik. Tak salah memang, insinerasi menghasilkan uap (steam) pemutar turbin (steam turbin) dan generator (pembangkit) listrik. Tapi jangan lupa, insinerasi tidak siginifikan sebagai sumber energi jika sampahnya mayoritas sampah basah (sabah), tinggi kadar airnya, rendah kalorinya. Andaikanlah semua sampah Bandung (7.000 m3) diinsinerasi, berapa persenkah potensi listriknya terhadap konsumsi listrik orang Bandung sekarang? Signifikankah? Jika ditambah dengan sampah dari luar Bandung, betulkah mudah dilaksanakan dan lebih menguntungkan? Koran "PR" pernah menulis begini: Dengan dilakukannya pengolahan sampah menjadi energi listrik, selain akan menghilangkan sampah, masyarakat juga akan dapat memanfaatkan energi yang dihasilkannya. Selain sampah dari Kota Bandung, bukan tidak mungkin kita juga akan memerlukan sampah dari kabupaten lain untuk diolah, kata Wali Kota Bandung, Dada Rosada, usai menghadiri penandatanganan nota kesepahaman itu di Hotel Hyatt, Rabu (21/9) malam.

Mari berandai-andai, semua sampah dari luar Bandung diolah di insinerator itu. Bukankah cara ini memunculkan masalah baru? Lalu-lintas yang sudah macet akan makin semrawut oleh truk sampah. Warga Bandung makin stres oleh bau sampah yang diangkut truk dan oleh seliweran truk-truknya setiap hari selama 24 jam selama bertahun-tahun, sepanjang operasi insinerator. Pada saat yang sama, pemerintah harus menambah jumlah armada truknya supaya semua sampah di TPS bisa diangkut tepat waktu agar insineratornya kontinu beroperasi. Kalau telat, pasokan listriknya akan fluktuatif dan bisa menimbulkan masalah dengan PLN atau dengan pembeli energinya yang lain seperti industri. Tambahan truk itu pun menyedot uang rakyat. Belum lagi biaya operasi-rawatnya, termasuk gaji sopirnya yang berjumlah ratusan orang (termasuk sopir cadangan) sehingga menjadi masalah tersendiri dalam pengaturan jadwal dan ritnya. Ujung-ujungnya, warga Bandung lagi yang menanggung retribusi dan risikonya.

Ancam Lingkungan
Dari aspek lingkungan, insinerator sungguh merugikan, menjadi petaka baru. Berapa tonkah abu dan gas pencemar CO2, S2O, dll yang diemisikan ke langit Bandung per hari? Berapa per bulan, berapa dalam setahun? Sekarang saja polusi udaranya sudah parah. Misalkanlah efisiensi penyisihan partikulatnya sangat hebat, mencapai 99%; berarti ada 1% yang lolos menjadi pencemar. Jangan-jangan emisinya malah tak terkendali lantas menghasilkan abu-kabut. Parahnya lagi, Kota Bandung dikitari pegunungan sehingga anginnya tak bisa bebas mengalir, malah memerangkap abunya. Sakit saluran pernapasan akan menjadi langganan orang Bandung, terutama yang tinggal di dekat insinerator. Yang jauh pun bisa kena karena abunya ditiup angin, menyebar berputar-putar ke segala arah tapi tetap berada di cekungan Bandung. Pohon, gedung, rumah, kendaraan, kebun pun diselumiti abu, mirip debu akibat letusan Merapi. Debu Merapi hanya terjadi sewaktu-waktu, tapi abu insinerasi berlangsung seumur-umur selama masa operasinya dan menjadi benih bencana terbesar bagi lingkungan. Apabila ini betul terjadi lalu insineratornya ditutup setelah ratusan milyar uang dibenamkan di sana, maka yang rugi lagi-lagi orang Bandung sebagai pembayar pajak dan retribusi yang terus naik.

Disebut di atas, insinerator dapat menimbulkan masalah air. Selain polusi air oleh abunya yang dibuang ke TPA, insinerator pun memerlukan air untuk pendingin gas, scrubber dan pembilas atau pemadam kerak/arangnya, termasuk pencucian di sekitar instalasi. Sekarang saja PDAM Kota Bandung sudah kesulitan air, baru 53% yang dilayaninya. Apatah lagi nanti ketika harus berbagi dengan insinerator. Terjadi rebutan sumber air? Bagaimana sektor pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, komersial dan pariwisata? Apabila ini terjadi, tiga cita-cita walikota untuk menyelesaikan masalah air, lingkungan dan sampah di Bandung takkan tercapai, tapi justru makin parah. Lingkungan air dan udara terus memburuk, sakit kulit dan saluran pernapasan merata diidap warga. Boleh jadi kadar timbal dan logam lainnya makin banyak dalam darah orang Bandung.

Tak hanya itu. Dalam sortasi umpan pun timbul masalah, terutama pada tahap pemilahan sampah noncombustible agar tak masuk ke insinerator yang dapat mengurangi kinerjanya. Berangkal, batu, bata, dan logam, meskipun ada magnetic separator atau ferrous metal recovery tetap saja timbul masalah. Apalagi ongkos investasinya sangat mahal dan biaya operasi-rawatnya melebihi operasi-rawat di negara maju yang sampahnya berkalori tinggi. Di negara itu pun insineratornya banyak yang gagal, baik karena masalah biaya maupun kendala teknis.

Jika demikian, apa solusinya? Selain sanitary landfill (sanfil), yang layak adalah pengomposan (composting) di tingkat personal, komunal, dan regional. Ada kata-kata mutiara: sesal kemudian tak berguna. ***

Gede H. Cahyana
ReadMore »

9 Juni 2006

SAMPAH: Salah Kaprah

SAMPAH: SALAH KAPRAH

Ada koran berbahasa Inggris terbitan Jakarta yang kerapkali menulis kata trash untuk merujuk pada sampah Bandung. Televisi juga demikian, menggunakan istilah yang sama. Meskipun istilah tersebut begitu populer di media massa, sebetulnya istilah itu kurang tepat. Kecuali itu, ada juga penyiar radio dan pendengarnya yang menyebut rubbish, misalnya begini: karena di mana-mana tampak gunungan sampah, Bandung kini dijuluki kota sampah atau rubbish city. Istilah ini pun kurang tepat. Arti leksikal kedua kata tersebut memang sampah, tapi penerapannya tidak demikian.

Hal serupa muncul pula pada acara Diskusi Terbuka memperingati Hari Lingkungan Sedunia 5 Juni 2006 di Universitas Kebangsaan yang dihadiri mahasiswa, ormas, warga, ketua RT dan RW. Ada yang bertanya tentang jenis sampah kering dan sampah berbahaya di rumah. Apa itu sampah kering? Apa itu sampah basah? Bagaimana caranya membuat kompos dan tepatkah dibuat di Bandung yang suhunya dingin? Ada banyak lagi pertanyaan lainnya. Dalam tulisan ini takkan dibahas semua pertanyaan itu. Di sini hanya diuraikan perihal sampah basah dan sampah kering dikaitkan dengan istilahnya dalam bahasa Inggris.

Refuse, Solid Waste?
Mengapa kata trash tidak tepat? Trash adalah istilah untuk sampah kantor berupa kertas, karton, kardus, koran, majalah, dll. Makanya tong sampah di kantor-kantor disebut trash can, sebuah tong khusus untuk sampah kertas. Namun tidak berarti rumah tangga tak menghasilkan sampah kertas, koran, karton, dll. Jenis ini juga banyak di rumah tangga, bahkan bercampur dengan sampah basah dan sampah berbahaya-beracun (B3). Di sinilah bahayanya, yaitu ketika kertas bekas bertinta dijadikan bungkus goreng pisang, comro, dll. Tinta termasuk B3 yang jika masuk ke perut dapat merugikan kesehatan.

Kalau demikian, apa istilah yang tepat untuk sampah? Refuse adalah jawabnya. Kata ini bersinonim dengan solid waste dan dibagi dua menjadi garbage dan rubbish. Hanya saja, menurut Frank Flintoff, penulis buku Management of Solid Wastes in Developing Countries yang diterbitkan oleh WHO, istilah solid waste sudah menjadi istilah resmi internasional. Selain solid waste, jenis limbah lainnya adalah limbah gas (gas waste), dan limbah cair (liquid waste). Jadi, kalau tak hendak menyebut solid waste lantaran terasa panjang, gunakanlah refuse, bukan trash. Jika tidak, istilah trash dapat disalahtafsirkan oleh orang asing yang dalam benaknya sudah terpatri istilah tertentu untuk sampah tertentu. Misalnya, mendengar kata trash maka yang terbersit di pikirannya adalah sampah kertas. Mendengar garbage, maka yang dipikirkannya adalah sampah mudah busuk seperti sisa sayur, buah, daging-ikan, dan biasa disebut sampah basah karena kadar airnya tinggi dibandingkan dengan rubbish.
Rubbish adalah semua sampah di luar kelompok sisa sayur, buah dan daging-ikan tersebut. Jenis ini masih bisa dibagi dua lagi menjadi combustible (mudah terbakar) dan noncombustible (sulit/tak terbakar). Trash adalah porsi combustible-nya rubbish sekaligus menjadi bagian terpenting dalam mengolah sampah secara insinerator. Selain sampahnya habis menjadi abu, panasnya (kalornya) juga tinggi sehingga bisa digunakan untuk memanaskan air atau memutar turbin pembangkit listrik. Itu sebabnya, sampah Bandung tak cocok diolah dengan insinerator karena 80%-nya berupa sampah basah. Jika tetap dipaksakan juga, energi pembakarnya lebih banyak digunakan untuk menguapkan kandungan airnya sehingga boros BBM. Yang paling cocok adalah pengomposan apalagi banyak ada sentra kebun sayur dan bunga di sekitar Bandung atau sebagai pelapis lahan tandus.

Bagian kedua dari rubbish adalah noncombustible. Ada juga yang menamainya rubble, semacam berangkal, puing, dan reruntuhan bangunan. Semua puing rumah akibat gempa di Yogya disebut rubbish atau rubble. Sampah ini tak bisa diapa-apakan lagi kecuali sebagai pengisi lahan cekung, pelapis jalan tanah atau sebagai pengisi campuran "bata" sekunder. Ada juga yang membagi noncombustible itu menjadi demolition, yakni sampah hancuran bangunan berupa puing akibat gempa tersebut dan construction waste, sampah sisa pembangunan seperti pecahan bata, beton, sisa plesteran, pecahan keramik, sisa pipa, sisa besi, dll.

Padanan Kata
Bagaimana istilahnya dalam bahasa Indonesia? Patut diakui, bahasa kita miskin akan istilah jenis-jenis sampah. (Tapi tak berarti bahasa Inggris tak punya kekurangan. Dalam bahasa Inggris pun ada kata rice untuk padi, gabah, beras, dan nasi, bukan?) Sejak dulu kata sampah mengacu pada semua jenis sampah, baik rumah tangga, pasar, toko, kantor, pabrik, klinik maupun rumah sakit. Sampah adalah benda padat yang dianggap tak berguna bagi seseorang tapi bisa berguna bagi orang lain. Koran bekas mungkin dianggap sampah oleh seseorang tapi menjadi sumber penghasilan bagi pemulung atau bahan baku bagi pabrik kertas daur ulang. Selanjutnya sampah dibagi menjadi tiga, yaitu sampah domestik, pabrik, dan B3. Yang tergolong B3 juga bisa berasal dari domestik selain dari pabrik, rumah sakit, klinik, dan reaktor nuklir.

Kelompok berikutnya adalah sampah basah, disingkat sabah, yaitu sampah yang tinggi kadar airnya walaupun tak selalu tampak basah. Daun kering pun akan membusuk setelah sekian hari dan tetap dimasukkan ke dalam kelompok sabah. Sampah kering, disingkat saker, adalah semua sampah yang miskin air atau tak mengandung air seperti kertas, karton, plastik, kain, dll. Saker ini pun dibagi dua lagi menjadi sampah mudah terbakar dan sulit terbakar, serupa dengan pembagian dalam istilah Inggris di atas. Mudah-mudahan pakar bahasa mau mencarikan padanan kata yang tepat untuk sampah kering yang mudah terbakar dan yang tak mudah terbakar tersebut. Serapan dari bahasa daerah pun boleh-boleh saja yang penting berterima.

Mengacu pada dua jenis sampah tersebut, sediakanlah minimal dua tong sampah di tempat-tempat umum. Satu tong ditulisi trash can, satu lagi garbage can. Atau, satu tong ditulisi organik dan yang lainnya nonorganik. Bisa juga ditempeli kata sabah untuk sampah basah, dan saker untuk sampah kering. Idealnya tentu saja tiga tong: satu tong lagi untuk sampah B3 seperti baterei bekas, botol karbol, botol obat, pembasmi nyamuk, disinfektan, deterjen, dll. Setelah kedua atau ketiga tong itu tersedia maka yang paling menentukan keberhasilan manajemen sampah adalah karakter warganya, yaitu kecerdasan emosinya (emotional quotient, EQ), apakah disiplin memasukkan sampah ke tongnya masing-masing. Justru inilah yang terberat, bukan pemahaman akan ilmu tentang jenis-jenis sampah, bukan IQ-nya, bukan kepintarannya, bukan deretan pangkat dan gelarnya. ***

Gede H. Cahyana
ReadMore »

7 Juni 2006

Bandung Tunggu Peniup Suling Hamerun?

Hamerun, sebuah kota di Jerman, adalah kota yang tenang. Hidup bertetangga: saling sapa, saling bantu. Suatu hari, entah dari mana datangnya, muncullah serbuan tikus di sudut-sudut kota. Perempuan ketakutan, anak-anak menjerit, dan lelaki terganggu oleh suara berisiknya. Makanan diobrak-abrik, gudang gandum diserbu dan ludes. Penduduk putus asa begitu pun walikotanya. Tak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu. Sementara itu siang malam tikus berkeliaran dan makin banyak jumlahnya, beranak-pinak.

Dalam kekalutan itu hadirlah seorang berbaju aneh, warna-warni, meniup suling. Penduduk terkesima dan hanya menatapnya saja.
"Saya Ratbun," ujarnya memperkenalkan diri.
"Ada apa dan akan pergi ke mana Tuan?"
"Saya lihat di sini banyak tikus yang membuat Saudara-saudara menderita. Jika Saudara mau, saya dapat membasmi tikus-tikus itu. Tentu saja ada imbalannya."
"Tuan mau imbalan apa?"
"Uang emas seratus keping."

Semua kaget mendengar permintaan Ratbun. Mereka tak punya uang emas sebanyak itu. Mereka beralih memandang Pak Walikota. Walikota menggeleng tanda menolak. Warga langsung marah. Mereka ingin walikota membayar keinginan Ratbun, si Peniup Suling Ajaib. Karena didesak terus akhirnya walikota mengalah dan berjanji membayarnya.

Setelah sepakat, mulailah Ratbun meniup sulingnya. Bunyinya aneh. Belum pernah ada nada seperti itu. Sulit mengatakannya, sulit pula menirunya. Tak ada duanya yang mampu memainkan suling seperti itu. Yang paling aneh, semua tikus, yang besar yang kecil, mengikuti langkahnya. Dia menuju sungai terbesar di kota itu. Tiupan sulingnya makin lama makin keras, terdengar ke segenap sudut kota. Semua tikus tanpa tersisa mengikuti arah suara suling itu.

Sampai di tepi sungai, setelah berdiri sejenak, Si Peniup Suling lalu mengayunkan kaki kanannya, masuk ke sungai. Dia terus ke tengah hingga tubuhnya tenggelam sampai ke leher. Di sana dia berhenti sambil memainkan sulingnya diikuti oleh kecipak air akibat ceburan tikus. Ratusan ribu tikus masuk ke sungai itu lalu.... mati, tak tersisa satu pun. Tapi anehnya, tak ada bangkai tikus yang mengambang. Tenggelam pun tidak. Air sungai tak terkotori, tetap seperti sebelumnya. Bangkai tikus lenyap seperti ditelan dasar sungai. Lagi-lagi ajaib.

Amanlah lagi kota itu. Penduduk senang, walikota gembira.

Kisah ini sengaja ditutup sampai di sini, tak dilanjutkan lagi.

--**--

Membaca kejadian di kota Hamerun itu, perlukah walikota Bandung minta bantuan Ratbun, atau orang semacam Ratbun? Andaikata ada orang seperti Ratbun, dia tentu mampu mengerahkan sampah Bandung ke suatu tempat yang tak menimbulkan masalah bagi warganya. Lenyap tanpa bekas. Semahal apapun bayarannya tentu bisa ditanggung bersama.

Mungkinkah ada Ratbun di Bandung? Perlukah kita memanggil Ratbun agar kita bebas sampah? Di mana dia tinggal?

Ternyata Ratbun tinggal di Bandung. Tak jauh-jauh. Dia tinggal di dalam diri warganya. Ia adalah karakter warga Bandung. Ia bersemayam dalam kecerdasan emosional, EQ, Emotional Quotient orang Bandung. Ia tubuh maya kita. Ratbun adalah perilaku kita. Kita siapa? Kita adalah pribadi di setiap rumah tangga, RT-RW, lurah, camat, dan walikota plus kepala dinas dan jajarannya.

Jadi, ketika Ratbun "meniup sulingnya" di Bandung, lambat-laun sampah Bandung akan selesai dengan sendirinya, tanpa disadari. Selesai diam-diam lantaran Ratbun menjelma dalam EQ warganya.

Tuan Ratbun adalah EQ orang Bandung, siapapun dia, mulai dari Tarjo, Kinem, Tole, Asep, Neneng, Natadiningrat, Joyoprawiro, Mangkukotapraja, dan seterusnya.*

Gede H. Cahyana.
ReadMore »

2 Juni 2006

Bandung: The Garbage God

Bandung, The Garbage God

Sampah Bandung tak mungkin diangkut dalam tempo 21 hari sejak ultimatum dirilis oleh Menneg Lingkungan Hidup pada 23 Mei lalu. Perlu 1.860 armada truk dan harus bekerja siang malam. Selama enam hari, sejak 26 sampai 31 Mei, sampah yang terangkut baru 5.570 m3 atau 557 truk. Padahal jumlah total sampah 307.500 m3. Demikian tulis PR (2/6). Apalagi pada saat yang sama ada penambahan sampah 7.000 m3 per hari sehingga terjadi akumulasi 7.000 (6 hari)- 5.570 = 36.430 m3 per enam hari. Akumulasi se-Bandung ini jauh di atas volume yang diangkut selama enam hari tersebut.

Adakah solusinya? Tanggap jangka pendek dapat dilakukan dengan mengerahkan PNS, TNI-Polri, Satpol PP, dll untuk mengomposkan, membakar atau mengubur sampah di kantor masing-masing dan sekitarnya. Tanggap jangka panjang ditempuh dengan dua konsep. Yang pertama adalah konsep 7R, konsep kelola sampah mulai dari sumber, TPS, dan TPA. Yang kedua adalah konsep olah sampah secara estetis yang ecofriendly seperti yang diterapkan di Odessa, Texas Barat.

Konsep 7R
Masalah sampah sebetulnya bisa diselesaikan dengan ‘tangan bersih’. Ini berkaitan dengan ilmu dan perilaku masyarakat. Patut diakui, tak semua orang paham bahwa sampah sebaiknya sesedikit mungkin dibuang ke tong sampah. Yang organik sebaiknya ditanam, yang anorganik jika tak bisa dimanfaatkan lagi silakan dibakar dan yang masih bernilai guna bisa dijual atau diberikan kepada pemulung.

Konsep tersebut terangkum dalam konsep 7R, yaitu reduce, reuse, recycle, recovery, replace, relocation, responsible. Reduce, mereduksi volume sampah, yaitu memakai barang yang efisien sehingga tak banyak yang terbuang. Sayur misalnya, bisa disiapkan dalam ujud siap olah yang sedikit menimbulkan sampah. Reuse, gunakan lagi sampah, misalnya karton digunakan untuk bahan baku mainan anak-anak TK-SD. Atau, bisa juga digunakan untuk hiasan. Intinya adalah kreativitas, sekecil apapun itu, yang penting tidak masuk ke tong sampah.

Selanjutnya adalah Recycle, daur ulang sampah menjadi barang yang bermanfaat. Sampah organik dijadikan kompos, yang anorganik seperti kertas diolah menjadi bubur kertas lalu dijadikan kertas baru lagi dengan mutu yang lebih rendah, tapi tetap bermanfaat dengan harga murah. Replace, gantilah bahan baku atau barang yang berpotensi terbuang sekali pakai dengan yang bisa digunakan berkali-kali. Misalnya, wadah belanjaan berupa tas sebagai ganti plastik kresek. Recovery, ambil yang masih berguna. Benda-benda berupa potongan besi, kabel, paku, baterei atau accu, bisa dikumpulkan lalu dijual ke tukang rongsok dan akan diolah atau dijual lagi ke pabriknya.

Relocation, tempat sampah yang tepat desain dan letaknya sehingga mudah diambil petugas. Sortasi sampah oleh pemilik dan pemulung pun bisa dilakukan dengan mudah. Menurut Perda K3 Kota Bandung, tempat sampah harus diletakkan di pekarangan rumah, bukan di luar pagar. Hanya saja, tetap harus mudah diambil petugas. Penampungan di tingkat RW dan kelurahan pun yaitu di TPS juga harus nyaman, estetis, bukan di sembarang lahan kosong.

Responsible, bertanggung jawab, baik rumah tangga, petugas kebersihan, dan pegawai-pejabat pemerintah daerah. Yang paling tinggi tentu saja PD Kebersihan atau Dinas Kebersihan dan walikota atau bupatinya. Lalu disusul oleh semua dinas, badan, dan lembaga pemerintah lainnya. Rasa tanggung jawab inilah yang belum tampak, baik di tingkat rumah tangga maupun pemerintah daerah dan terkesan bekerja serampangan. Bekerja keras tapi tak cerdas sehingga terus berlarut-larut lantaran solusinya bersifat instan reaktif, bukan kreatif.

Agar mampu melaksanakan atau minimal memasyarakatkan konsep 7R tersebut, pemerintah hendaklah mendidik pegawainya dan juga masyarakat umum tentang sampah. Seorang sarjana, magister, atau doktor sekalipun mungkin saja belum paham tentang cara menangani sampah. Yang juga penting atau malah sangat penting adalah mengubah slogan bahwa sampah musuh orang sehat.Gantilah dengan slogan: sampah adalah berkah, seperti kisah di bawah ini.

Odessa, Texas Barat
Adalah Geoffrey Stanford yang punya ide brilian saat itu. Sebagai periset dan dosen di Universitas Texas, Amerika Serikat dia terbiasa berpikir analitis. Melihat tambang minyak di sekujur Odessa yang bisa habis suatu saat kelak, dia menduga daerahnya akan menjadi kota hantu, the ghost town, karena tak berpotensi lain selain minyak. Odessa memang dibangun karena deposit minyaknya yang melimpah. Daerahnya kaya minyak tapi tandus, tak ada industri dan tak bisa dijadikan peternakan besar (ranching) apalagi pertanian, lalu dikotori lagi oleh limbah minyak. The town has no other industry, and the surrounding land is too poor to support large-scale cattle ranching, much less farming. Demikian tulis majalah Time edisi 2 Juli 1973.

Mengalirlah idenya. Odessa, kota kecil berpenduduk 79.000 orang pada waktu itu, menghasilkan banyak sampah dan diyakininya bisa menyuburkan lahan gersang Odessa. Dibantu rekannya, seorang raja minyak Texas, dia berhasil mengerahkan sampah kota untuk dijadikan penutup tanah tandus seluas 320 hektar di luar kota. Selain sampah, dikerahkan juga mobil tangki untuk membawa air limbah yang kemudian disebarkan di lahan itu. Akibatnya terjadilah pengomposan dengan formula bagus. Rasio karbon terhadap nitrogennya (C/N ratio) yang baik berkisar antara 25 sampai 35. Menjadi hijaulah gurun itu oleh tanaman. Inilah yang lantas menggerakkan majalah Time untuk menulis artikel di kolom environment-nya dengan judul "The Garbege God".

Tidakkah Bandung ingin meniru pengalaman Odessa? Apalagi tanggal 5 Juni 2006 ini diperingati sebagai Hari Lingkungan Sedunia (World Environment Day) dengan tema Desert and Desertification. Gurun dan Penggurunan. Lahan kering dan tandus di Bumi ini mencapai 40%, termasuk di Indonesia. Bagaimana di Bandung dan Jawa Barat Umumnya? Prinsip sambil menyelam minum air layak diterapkan. Sambil menyelesaikan masalah sampah, juga menyuburkan lahan. Pemerintah daerah bisa mencari tanah tandus, bekerja sama dengan Dep/Dinas Pertanian, Perkebunan, Kehutanan, dll untuk memperoleh data lokasi lahan tandus itu. Lalu kirimlah sampah ke sana dengan maksud bukan asal buang alias open dumping melainkan meniru pola Odessa. Ini jauh lebih baik daripada pusing-bingung mencari TPA berpola open dumping karena warga pasti menolaknya. Sebab, tak ada harapan yang didapat warga selain bau, lalat, nyamuk, tikus, dan penyakit.

Terlebih lagi ada satu hal yang menggembirakan, yaitu sampah Bandung kaya zat organik, rerata mencapai 80%. Agar nilai unsur haranya makin tinggi bisa ditambahi kotoran hewan, misalnya limbah ternak domba, sapi, kambing, dll, atau ditaburi tinja dari sedotan tangki septik milik PDAK (Perusahaan Daerah Air Kotor) Bandung. "Ramuan" tersebut dapat memperkaya unsur penyubur, baik yang tergolong unsur primer, sekunder maupun mikroelemen (tracemineral). Sekian waktu kemudian, tanah menjadi gembur sehingga sirkulasi udaranya terjaga baik, memudahkan akar masuk ke tanah, membantu konservasi air, mencegah erosi, longsor, dan banjir. Tak ada kata telat jika mau mencoba, bukan?***

Gede H. Cahyana
ReadMore »

30 Mei 2006

Merapi atau Gempa, Kun Fayakun

Di Parangtritis dia menjadi nelayan, sama seperti orang tua dan kakeknya. Usianya memasuki 40 tahun. Pipinya cekung, tonjolan tulang pipinya jelas terlihat. Berkulit legam terbakar matahari, tiap hari dia melaut dan hasilnya dijual ke tengkulak. Demi kaderisasi, seperti umumnya nelayan, dia pun ingin tahu nasib anak lelaki satu-satunya. Pergilah ia ke seorang peramal. Hasilnya menggelisahkan. Pasalnya, peramal mengatakan bahwa anaknya akan meninggal sebelum remaja karena buaya. Ia tahu, di muara sungai dekat desanya memang banyak ada buaya. Ia malah sudah pernah menangkap dua buaya bersama tetangganya.

Itu sebabnya ia gelisah. Resah memikirkan nasib anaknya, tak rela anaknya tewas karena buaya. Membayangkan kulitnya yang kasar bergerigi, giginya yang besar, kuat dan tumbuh tak rata, mengerikan baginya. Setelah lama berpikir akhirnya ia putuskan untuk pindah. Gunung adalah tujuannya. Ia ingin tinggal di lereng Merapi, menjadi peladang di sana sambil merawat anaknya. Di gunung dekat hutan itu ia pastikan tak ada buaya. Ia yakin akan hal ini.

Hari berganti pekan, pekan menjadi bulan, bulan pun berganti tahun. Sampailah ulang tahun ke-10 anaknya. Menurut ramalan, anaknya meninggal tepat pada hari ulang tahun ke-10. Dijaganya anaknya pada hari H itu. Ketat diawasinya. Hingga siang tak tampak tanda-tanda ada buaya. Tak mungkin ada buaya di sini, pikirnya sambil menatap anaknya yang bermain dengan teman-temannya, seperti hari-hari biasanya. Mereka bermain sambil belajar di dekat pengolahan kayu. Ada yang menggambar Merapi, ada yang menggambar pohon, ada yang menggambar binatang. Melihat itu ia pun yakin anaknya aman. Ia lantas pergi ke ladang, menengok sapinya yang merumput.

Matahari sudah memerah, hari memasuki petang. Sejumlah anak masih tetap bermain di dekat tumpukan kayu yang penuh gambar. Para pekerja pengolahan kayu siap-siap pulang dan membereskan tumpukan kayunya. Mereka menumpukkan kayu-kayu itu seperti biasanya. Anak-anak tetap bermain di sisi sebaliknya. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Satu patok kayu patah karena tak kuat menahan beban yang makin berat. Arah rubuhnya ke arah anak-anak itu. Beberapa anak terjepit kakinya dan yang lain patah tangannya. Tangis meramaikan suasana.

Ada seorang yang tertimpa tumpukan kayu. Tujuh lembar papan besar bersilangan menindihnya. Satu per satu papan itu diangkat para pekerja. Yang tertimpa ternyata anak mantan nelayan itu. Lehernya patah. Darah ke luar dari telinga kirinya, berceceran di tanah. Seorang pekerja langsung mencari bapaknya. Mendengar pemberitahuan itu, ia tersentak dan lari ke tempat kejadian. Ia peluk anaknya, bersimbah air mata. Di sela-sela isak tangisnya dia teringat kata-kata peramal itu bahwa anaknya meninggal karena buaya. Ia tetap tak percaya. Mana buayanya? Di sini tak ada buaya, tegas hatinya.

Ia lalu melihat ke kiri. Dilihatnya balok kayu yang menindih anaknya. Ia balikkan balok itu. Jantungnya terkesiap. Di balok yang menindih anaknya itu, yaitu balok terbawah yang langsung bersentuhan dengan tubuh anaknya, ada gambar buaya!*

---***---

Mati adalah takdir, sudah tercatat kapan terjadinya dan tak seorang pun tahu kapan ia datang. Jika sudah waktunya, ia pasti hadir. Yang berbeda adalah caranya. Ada karena sakit, karena kecelakaan, karena perang atau karena bencana alam seperti letusan Merapi atau gempa.

Merapi, sampai saat ini, belum menjadi alat kematian bagi masyarakat di sekitarnya. Tapi yang pasti, masyarakat di sekitar Merapi pasti akan mati suatu saat kelak, sama seperti kita. Bisa karena sakit, bisa karena lain-lain sebab. Begitu pun korban gempa Yogya yang hari ini, Selasa 30 Mei, mencapai 6.200-an orang tewas. Mereka dijemput maut lewat alat bernama gempa. Tak seorang pun tahu akan ada gempa. Jangankan orang awam, pakar gempa pun tak tahu. Begitu pun kematian, tak ada yang tahu, tapi ia datang tepat waktu.

Mati tak bisa dihindari. Tak bisa diobati. Ia bukan penyakit. Sembunyi di lemari baja atau bunker sekalipun, tetap saja ia menjemput. Ia pun tak pernah pilih kasih. Siapa pun akan dijemputnya jika sudah waktunya. Tak bisa dimajukan, tak bisa diundurkan, tak bisa ditunda, apalagi dihilangkan. Jika demikian, perlukah kita takut akan kematian?

Takut mati memang masuk akal. Cinta keluarga, sayang orang tua, istri-suami dan anak-anak, dan cinta dunia menjadi sebabnya. Tapi takut mati takkan menjauhkan mati dari kita. Takut mati atau berani mati, tetap saja mati menjadi rahasia yang tak terungkap dan takkan pernah terpecahkan rahasianya. Rahasia mati mungkin akan terpecahkan jika ada orang mati lalu hidup kembali dan ingat apa yang terjadi selama dia mati. Jika kisahnya dibukukan, maka 100% menjadi buku best seller di seantero dunia.

Namun demikian, yang jauh lebih penting daripada itu adalah hidup sesudah mati. Hidup sesudah mati adalah hidup yang takkan mati. Kekal abadi. Hidup jenis ini harus diperjuangkan sekarang. Sebab, hidup sekarang ini tak sekadar main dadu, main untung-untungan. Hidup mirip lomba lari, lomba menuju garis finis dan berupaya menang. Menang melawan godaan dunia yang sarat nikmat, yakni nikmat semu fatamorgana. Tapi nikmat dunia tetap wajib dicari demi ibadah. Harta benda halal wajib dicari demi mengisi masa hidup ini, demi tabungan amal, demi menolong korban gempa misalnya.

Mati, baik karena Merapi maupun karena gempa, adalah soal cara. Mati, baik karena buaya maupun gambarnya, adalah soal cara. Hakikatnya, mati adalah takdir yang sudah tertulis di alam azali. Karena sudah tertulis dan kita tak tahu kapan terjadinya, juga tak bisa dimajukan maupun diundurkan, maka tak usahlah resah. Sebab, resah atau tidak, takkan mengubahnya. Jika sudah takdirnya, maka terjadilah. Sang Kuasa hanya berkata kun fayakun! Terjadi, maka terjadilah!

Kini kita sedang antri masuk kuburan. Jika kita sering menyalip ketika antri di loket PLN, PDAM, kereta api, bis, beli formulir, prapatan lampu merah, dll, kita tak mau tertib, maka pada jenis antri masuk kuburan ini mau tak mau kita harus tertib. Atau, adakah yang ingin menyalip mendahului?

Dan Allahlah yang Mahatahu. *
Gede H. Cahyana
ReadMore »

28 Mei 2006

Prediksi Merapi, Menduga Gempa

Dimuat di Pikiran Rakyat, Bandung.

Gempa Yogyakarta takkan menelan korban jiwa jika bisa diduga jauh-jauh hari sebelumnya seperti halnya erupsi Merapi. Sampai saat ini erupsi Merapi belum memakan korban jiwa meskipun berkali-kali lava pijarnya meluncur dan wedhus gembelnya merayapi lereng. Mudah-mudahan takkan ada korban apa pun apalagi korban jiwa. Tapi sebaliknya, dalam tempo satu menit saja, gempa Yogya per 28 Mei, pk. 18.00 WIB sudah menewaskan 3.400-an orang, 2.000-an luka berat dan 1.500-an luka ringan. Rugi harta benda tak terhitung jumlahnya sebab mayoritas bangunan, terutama di Bantul, tinggal puing-puingnya.

Prediksi Merapi
Dari dua peristiwa tersebut muncullah ‘dogma’ bahwa bencana alam yang tinggi frekuensinya, seperti letusan Merapi, dampaknya relatif kecil, cenderung diabaikan. Malah fenomena letusannya dijadikan objek wisata, dijual kepada turis sekaligus menjadi objek studi. Tak demikian dengan bencana alam yang jarang terjadi, seperti gempa Yogya, dampaknya bisa sangat buruk, korban jiwa dan hartanya banyak. Merapi adalah contoh menarik. Sejak dulu penduduk di sekitar Merapi enggan dievakuasi walaupun statusnya awas. Dalam taraf awas saja mereka tak hendak mengungsi, apatah lagi dalam taraf siaga. Ditambah lagi ada kepercayaan lokal turun-temurun yang menganggap Merapi punya kekuatan supranatural dan mereka sudah hafal kapan Merapi bakal meletus serius dan kapan hanya batuk-batuk kecil. Yang seperti ini memang sulit dijelaskan dengan logika orang-orang ‘terdidik’.

Masyarakat di sekitar Merapi tak mau percaya begitu saja kepada pakar sehingga banyak yang enggan dievakuasi dan lebih memilih menjaga ternak dan rumahnya. Sampai taraf awas pun mereka tak mau diungsikan. Malah ketika Merapi sedang aktif-aktifnya meletus, ada yang justru kembali ke rumahnya dan menengok ternak dan kebunnya. Apakah mereka tak sayang nyawanya? Tentu saja mereka sayang. Tapi masalahnya, mereka meragukan kredibilitas pakar yang dianggap orang pemerintah, sarat dengan kebohongan dan munafik serta bukan suruhan raja atau Sri Sultan. Kepercayaan seperti ini masih ada. Masyarakat lebih percaya pada pemimpin informalnya ketimbang pejabat negara. Apalagi terhadap orang yang dianggap juru kunci Merapi, mereka percaya total kepadanya. Oleh sebab itu, kapasitas seorang pejabat dan seorang pakar gunung api harus betul-betul tinggi agar setiap prediksinya mendekati kenyataan sehingga dipercayai oleh penduduk.

Lain Merapi, lain pula gempa . Ketika orang-orang di lereng Merapi waswas akan lava pijar dan uap panasnya, orang-orang yang tinggal jauh di Selatan Merapi mungkin merasa tak diintai bahaya dan merasa beruntung tinggal jauh dari Merapi. Namun apa nyana, gempa tektonik 5,9 skala Richter datang tiba-tiba bakda fajar selama 57 detik dan menggelar bencana yang jauh lebih parah daripada erupsi Merapi. Areanya luas, mulai dari bibir pantai sampai ke Magelang dan Klaten serta merusak candi Brahma, salah satu candi di situs candi Prambanan. Tak ada pakar yang menduga dengan presisi tinggi kapan suatu gempa akan terjadi. Jangankan memastikan dalam ukuran hari, jam, atau menit-detik, memastikan dalam ukuran bulan saja sulitnya bukan main.

Menduga gempa
Sekuensial erupsi Merapi sungguh menarik. Dimulai dari getaran yang hanya terdeteksi seismograf, terjadi intrusi magma, perluasan kubah, longsoran, erupsi awal dan lateral, lalu erupsi vertikal tapi tak terlalu kuat. Pertanyaannya, bisakah hal serupa terjadi pada gempa? Bisakah pakar gempa memberikan sinyal awal akan terjadi gempa? Di atas telah dijawab, tidak bisa! Ini pun sudah ditegaskan ketika ada konferensi tentang upaya peringatan dini tsunami. Kenapa bukan peringatan dini gempa? Sebab, gempa tak bisa diprediksi. Gempa Aceh dan Yogya adalah buktinya, datang diam-diam, pada pagi-pagi setelah fajar menyingsing. Tapi ini ada ‘untungnya’, sebab jika terjadi dini hari ketika banyak yang tidur nyenyak maka korbannya akan lebih banyak lagi.

Namun demikian, walaupun sulit dideteksi, ada sejumlah indikasi yang dianggap mengawali gempa. Misalnya, emisi gas radon dari sumur-sumur (pada kasus Merapi, seberapa banyakkah radon yang diemisikan dan bagaimana caranya mengetahui dan mengukurnya?), kenaikan abnormal muka tanah, hewan air dan darat berperilaku aneh dan panik. Tingkah hewan ini menyiratkan gempa akan terjadi beberapa saat lagi. Khusus untuk anomali kenaikan muka tanah, mari dilihat kasus di Niigata, Jepang. Proses gempa sudah dimulai sepuluh tahun sebelum hari H. Muka tanah di daerah pantai Nezugasaki di Timur Laut Niigata naik setinggi 12 cm lalu turun lagi menjadi 8 cm sebelum terjadi gempa. Begitu pun di sepanjang pantai Selatan dari Nezugasaki menuju Niigata. Sedangkan di Selatan Niigata, muka tanahnya justru turun antara 4 sampai 12 cm. Akhirnya, pada 1964 terjadilah gempa yang episenternya di Laut Jepang, di dekat Pulau Awashima sekuat 7,5 skala Richter.

Rentang waktu indikator gempa tersebut memang lama, sepuluh tahun. Di sinilah peran pakar gempa dalam menduga fenomena awal sebelum gempa dan berani memprediksikan kapan terjadinya sekaligus bertanggung jawab. Kredibilitas adalah taruhannya. Apabila sekelompok pakar gempa memprediksi akan terjadi gempa di laut kidul menyusul erupsi Merapi (terlepas dari ada tidaknya kaitan antara erupsi dan gempa itu) tentu kredibilitasnya kian tinggi. Masalahnya adalah ketika prediksinya meleset dalam jangka panjang, misalnya satu-dua tahun apalagi sepuluh tahun, maka hancurlah kepakarannya. Di sinilah pakar gempa merasa berada di simpang jalan. Itu sebabnya jarang pakar gempa berani menyatakan dengan lugas di media massa bahwa akan ada gempa di suatu tempat dengan waktu yang pasti. Mereka sebetulnya sudah menduga, tapi entah kapan waktunya, akan terjadi gempa di Selatan Jawa pascatsunami Aceh. Ternyata betul. Satu setengah tahun sejak gempa Aceh itu terjadilah gempa yang episenternya di laut kidul.

Artinya, data duga gempa sangat berguna bagi masyarakat dan pemerintah. Data ini bisa digunakan untuk membuat rencana pembangunan wilayah, tujuan wisata, dan kegiatan bisnis termasuk persiapan lokasi evakuasi. Bagaimanapun, peringatan dini gempa dan erupsi sangat bermanfaat sehingga upaya keras mesti ditempuh agar mampu memprediksi bencana demi mengurangi jumlah korban. Apapun caranya harus ditempuh. Maka, jika peringatan dini sudah melalui kajian saintifik, masyarakat janganlah menyalahkan pakar. Terjadi atau tidak adalah soal kedua. Yang pertama adalah soal adanya peringatan dini lewat kajian saintifik dan diputuskan oleh pemerintah. Anggap saja ini prakiraan gempa yang serupa dengan prakiraan cuaca. Kita biasa mendengar prakiraan cuaca bahwa di suatu tempat akan hujan. Andai pun tidak hujan, tak perlulah marah-marah. Tak rugilah orang-orang yang bersedia payung meskipun tak jadi hujan. Bisakah hal serupa itu diterapkan pada gempa?*

Gede H. Cahyana
ReadMore »

27 Mei 2006

Sudah Merapi, Gempa Pula

Fajar baru saja menyingsing. Pagi-pagi, sekitar pukul 05.55 WIB, selama 57 detik, lempeng di dasar laut kidul, laut di Selatan Prov. Yogyakarta bergerak lalu menimbulkan gempa sekuat 5,9 skala Richter. Di kedalaman 33 km di bawah muka laut, sejauh 37 km dari Yogyakarta, adalah letak episentrumnya. Relatif dangkal, memang. Akibatnya, banyak bangunan rumah dan kantor di Bantul, sebuah daerah yang letaknya di Selatan Kota Yogyakarta, rubuh, rata dengan tanah. Jatuhlah 140-an korban jiwa (saat artikel ini dirilis dan diduga terus bertambah), luka-luka, patah tulang, berdarah-darah, dan trauma.

Tapi sayang, di tengah kepanikan itu, ada saja yang ingin menuai di air keruh. Mereka ingin membuat kekacauan demi keuntungan pribadi dan kelompoknya. Mereka menghembuskan isu tsunami. Bahkan yang tidak masuk akal, tsunami itu katanya sampai Malioboro, sebuah jalan yang menjadi poros Alun-alun Utara keraton- Merapi- Parangtritis. Bisa diduga dampaknya, orang-orang lantas eksodus ke arah Utara, sampai mendekati Kaliurang. Padahal di Kaliurang pun sedang panas, yaitu Merapi terus saja menyemburkan wedhus gembelnya, meluncur sampai 4 km, merayapi kali-kali di dekatnya.

Yogyakarta, kota budaya masa Hindhu, Budha, dan Islam menapak sejarah panjang sampai zaman kolonialisme Belanda, kini diserang dari Utara dan Selatan. Merapi di Utara terus saja batuk, memuntahkan lava pijar dan uap panas, sementara itu di laut kidul terjadi gerakan lempeng Bumi dan diisukan ada tsunami oleh orang-orang ‘pintar’ yang berperilaku bodoh demi keuntungannya. Menurut pakar gempa Dr. Surono di Bandung, jika terjadi tsunami maka waktunya tak lebih lama dari 20 menit sejak getaran. Artinya, seperti yang berhembus di Bantul itu, isu tsunami menggema lebih dari sejam pascagempa, bisa diyakini sebagai hasutan agar orang-orang menjadi panik dan mereka leluasa merampok harta benda rakyat.

Namun demikian, apapun yang terjadi, erupsi Merapi dan gempa di Samudra Indonesia, memang tak lepas dari ketakmampuan manusia menduga apa yang bakal terjadi. Manusia memang bisa menduga kapan terjadi erupsi Merapi, bahkan sudah diduga dua bulan sebelum status ‘awas’-nya, tetapi untuk urusan gempa, sampai saat ini belum bisa diduga dan tak ada tanda-tandanya. Alat yang tersedia, baik di Amerika maupun di Swiss, adalah alat canggih yang hanya mampu menentukan magnitude dan titik getarnya. Belum ada alat yang mampu memberikan ‘warning’ seperti halnya ‘warning’ siaga Merapi. Yang menggelisahkan, negara kita tak memiliki alat canggih seperti itu padahal kita berpijak di atas apungan lempeng yang terus aktif bergerak.

Sudah Merapi, gempa pula. Itulah yang terjadi. Tapi semoga usai sudah dan tak pernah ada tsunami. Gempa susulan memang diduga akan terjadi karena sesar mencari kestabilan baru dengan skala yang lebih kecil. Namun demikian, lantaran trauma dan stres, sekecil apapun getaran itu pasti membuat panik, kaki gemetar tak kuat berdiri, wajah pias dan tatapan kosong. Hanya bibir dan hati saja yang terus berzikir dan tidak berani tinggal apalagi tidur di dalam rumah. Lebih banyak yang memilih membuat tenda di pekarangan. Ketika artikel ini ditulis, entah bagaimana masyarakat di Bantul, di Wates (Kulonprogo), di Wonosari (Gunung Kidul), di Wonogiri terutama di Pracimantoro, Giritontro, Baturetno, dan di Pacitan asal keluarga Presiden SBY dan daerah selatan lainnya di sekitar Parangtritis.

Yang Kuasa hanyalah Sang Kuasa. Manusia memang berkuasa tapi hanya sekejap. Itu pun lantaran jabatan, pangkat, kekayaan, gelar, dan jumlah pengikut. Ketika itu semua lenyap, lenyap pulalah kekuasaannya bahkan menderita post power syndrome, sindrom pascakuasa.

Hanya Sang Kuasalah yang Mahatahu kaitan antara patahan di lempeng yang menilami Merapi dan patahan yang mengusung lempeng laut kidul. Kepada-Nya-lah kita mengharap, bukan pada Nyi Roro Kidul. *
ReadMore »

24 Mei 2006

Saran Untuk Walikota Bandung

Belasan daerah yang direncanakan menjadi TPA sampah kota Bandung ditolak mentah-mentah oleh warga di sekitar lokasi. Yang terakhir adalah Pasir Bajing di Garut. Kemudian, pada Selasa 23 Mei lalu muncul nama Pasir Buluh seluas 100 ha di Lembang dan akan digunakan selama dua bulan ke depan. Tapi masalahnya, bagaimana dengan air tanah dangkalnya? Tidakkah ini seperti meludah ke atas lalu kena muka sendiri? Air tanahnya dicemari lalu lindinya mengalir ke bawah, ke arah Bandung?

Apa yang dapat disimpulkan dari semua penolakan itu? Yang pasti, tak ada orang yang rela lahan di dekat rumahnya dijadikan bukit sampah, apalagi sampah itu berasal dari daerah lain. Jika demikian, mungkinkah memperoleh lahan untuk TPA sampah Bandung? Bagaimana dengan sampah yang terus menumpuk, mencapai 7.000 m3 per hari dan makin busuk baunya? Presiden SBY pada 20 Mei lalu sudah mewanti-wanti walikota agar segera menuntaskan masalahnya dan walikota berjanji bahwa Selasa, 23 Mei sudah tuntas. Tapi faktanya tidak demikian. Maka, pada 23 Mei lalu Menneg Lingkungan Hidup mengultimatum walikota agar tiga pekan ke depan sejak 23 Mei itu sampah Bandung sudah selesai masalahnya. Mari kita tunggu.

Kerahkan PNS
Pelikkah masalah sampah Bandung? Sebetulnya walikota bisa mengerahkan PNS sekota Bandung untuk membantu mengurangi sampahnya. Cobalah adakan kerja bakti atau gotong royong setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Walaupun mengurangi jam kerja tapi ini kondisi darurat dan lebih baik daripada digunakan jalan-jalan tak karuan. Lewat PNS inilah pemerintah kota mengajak lurah dan aparatnya, juga RW untuk membuat pengomposan. Cara ini jika sudah ditempuh tiga bulan lalu, walikota takkan pusing-pusing mencari TPA dan tak disindir oleh presiden dan menterinya.

Akan berhasilkah gerakan tersebut? Optimislah sebelum bertindak. Gerakan Posyandu saja bisa rutin dilaksanakan. Kenapa gerakan hidup bersih tak mengikuti pola Posyandu? Terlebih lagi walikota punya aparat yang bisa dikerahkan kapan saja dan di/ke mana saja. Sebagai penguasa daerah, walikota berhak mengatur mereka. Cobalah terapkan pola olah sampah di tingkat kelurahan atau RW. Kerahkan saja dana untuk membeli TPA atau transportasi truk sampah itu ke pemberdayaan ini. Masyarakat diajak mereduksi sampahnya. Minimal di rumahnya dibuat lubang untuk menimbun sampahnya atau membakarnya untuk kertas dan plastik yang tak layak dijual atau tak diambil pemulung.

Sampah organiknya ditanam di lubang seukuran, misalnya, 100 cm x 60 cm x 60 cm. Agar cepat membusuk, setiap menaruh sampah segera lapisi dengan lumpur selokan. Dalam tempo sebulan akan berubah menjadi kompos dan bisa digunakan untuk memupuk tanaman, pot atau sekadar merabuki rumput. Buat lagi lubang serupa di sebelahnya dan gunakan bergantian. Cara ini dapat mereduksi sampah sampai 60%. Di RW juga bisa dilakukan hal yang sama secara kolektif. Tinggal walikota menugaskan siapa orangnya yang bertanggung jawab mengelola itu dan diberi honor. Honornya diambil dari retribusi sampah yang terus saja dikutip padahal sampahnya tak diambil oleh PD Kebersihan. Hal seperti ini adalah tindakan zalim yang sekarang lazim terjadi di Bandung.

Oleh sebab itu, walikota tak perlu jauh-jauh berpikir untuk menerapkan teknologi canggih. Tak usahlah berpikir tentang pengolahan sampah terpadu dengan teknologi tinggi. Teknologi bukanlah masalahnya melainkan korupsi, ini kata Menristek yang mantan rektor ITB. Tapi untuk sampah Bandung tak perlulah teknologi tinggi itu. Apalagi ada yang menyarankan insinerasi di tiap RW. Ini latar belakangnya pastilah bisnis. Apalagi insineratornya hanya bertemperatur rendah. Selain pencemaran udara oleh asap dan gas-gas lainnya, juga butuh waktu dalam instalasinya dan mahal biaya operasi-rawatnya. Jadi, janganlah berutang lagi demi teknologi canggih itu dan tak usah muluk-muluk. Jangan lagi ada pihak yang mengail di air keruh demi projek dan bisnisnya, berpura-pura memberikan solusi tapi tujuannya adalah bisnis. Cobalah cara tradisional yang diterapkan nenek moyang kita, yaitu dengan cara ditanam alias dibusukkan. Hal serupa juga secara alamiah terjadi di hutan. Semua daun, ranting dan pohon yang mati langsung dibusukkan oleh mikroba, berubah menjadi pupuk bagi pohon lainnya. Jika sudah menumpuk komposnya, walikota membelinya lalu gunakan untuk penghijauan di seluruh taman kota Bandung. Atau dibeli oleh dinas terkait, misalnya perkebuan, pertanian, dll.

Urungkanlah niat untuk mendirikan dan membeli teknologi yang belum tentu cocok diterapkan di Bandung. Apalagi sampah Bandung lebih banyak organik atau basah yang rendah kandungan energinya. Tak perlu tergiur membeli teknologi canggih dari berbagai negara itu meskipun sudah pergi ke berbagai negara untuk mencari tahu teknologi mereka. Jangan habiskan lagi uang rakyat demi wira-wiri seperti itu. Gunakan saja teknologi alami, yaitu biodegradasi. Tanah sudah disediakan oleh Sang Pencipta sebagai bioreaktor raksasa sampah manusia. Lupakanlah insinerasi, lupakan energi listrik, lupakan proses yang aneh-aneh itu. Muaranya memang boleh-boleh saja bisnis tapi harus layak dan sesuai dengan komposisi kimia sampah Bandung. Komposisi kimia ini menentukan energy content-nya dan ini dipengaruhi oleh kadar air, volatil, abu, combustible component dan heating value-nya. Sekadar contoh, energy/heating content kertas sekitar 16.750 kJ/kg dan sisa makanan 4.650 kJ/kg.

Berita terakhir, Gubernur Jawa Barat akan ikut turun tangan. Mudah-mudahan saja mampu memberikan solusi yang tepat. Tapi untuk kondisi lampu merah ini, cobalah manfaatkan tenaga PNS, TNI-Polri, Satpol PP, ibu-ibu PKK dll di kota Bandung, libatkan semua aparat abdi negara di berbagai dinas untuk membersihkan dan mengomposkan sampah di tempat masing-masing dan juga di kantornya. Mereka potensial mereduksi sampahnya. Wajibkan saja dan anggap ‘negara’ Bandung dalam kondisi bahaya. Bahaya bagi eksistensi kepala daerah, bahaya bagi eksistensi kepala dinas, dan terus ke jajaran di bawahnya. Jabatan adalah taruhannya jika setiap dinas, badan, dan lembaga tak bisa mengurangi sampahnya.

Hal tersebut akan ditiru oleh warga non-PNS, misalnya pedagang pasar dan warga umumnya. Apa yang dilakukan aparat kota akan berdampak pada warganya dan sekaligus mendidik mereka agar mengubah perilakunya dalam membuang sampah dan tahu cara sederhana dalam mengembalikan sampah ke sistem alaminya. Dan akhirnya adalah kembali ke goodwill, politicalwill, responsif dari walikota. Palu keputusan (masih tetap) ada di tangannya. Tunggu apa lagi? *
ReadMore »

23 Mei 2006

Bedeng Tarjo

Satu bilah bambu lagi selesai sudah dinding bedengnya. Satu paku lagi terpasang sudah semuanya, walaupun tak sebaik bangunan awalnya. Sambil duduk di alas koran, ia menatap Marno, anak lelakinya yang main kelereng. Tak sampai tiga menit didengarnya derap sepatu laras mendekat. Dengan wajah tegang, dipasangnya pendengarannya. Langkah itu menuju bedengnya. Dipalingkannya kepalanya, berbalik seratus delapan puluh derajat, tampaklah tiga orang berseragam, sama seperti tiga hari lalu.

"Tarjo... kamu belum kapok, ya! Sudah kubilang, kamu jangan ke sini lagi!" hardik pria berkumis Pak Raden, melengkung jauh ke bawah seperti kumis Wyatt Earp, tokoh protagonis film Tombstone.
"Belum kapok ya..!" pria berkulit kuning menimpalinya sambil menendang kresek berisi paku bekas. Kresek robek, paku berceceran. "Brengsek kamu!"

Tarjo menunduk, punggung telapak tangannya terkulai ke tanah, sementara Marno merapatkan badannya ke lengan kirinya. Wajah bocah yang belum sekolah meskipun usianya tujuh tahun itu memucat. Tiga hari lalu dia dan bapaknya diangkut ke kantor besar, tapi dia tak tahu kantor apa namanya. Di sana sudah ada orang-orang seperti mereka, orang-orang yang dianggap mengotori kota.

"Cepat pergi. Anjing!" gelegar suara pria yang lengan kanan dan kirinya penuh tatto.
"Cepaaattt... !" bentak yang berkumis.
"Bruk... prang.." yang berkulit kuning menendang tas dekat piring seng.

Dengan tubuh gemetar, menetes air matanya. "Saya harus ke mana, saya tak punya saudara, Pak."
"Bukan urusanku!" geram yang bertatto sambil menghentak bilah bambu. "Yang penting kamu harus pergi dari tempat ini. Sekarang juga!" Braakkk, suara bambu pecah.

Marno gemetar di tengah tangisnya. Tangannya memeluk bapaknya dan Tarjo mempererat pelukannya. Pria berkumis mendekati bedeng yang baru saja selesai diperbaiki. Dengan kakinya yang kekar, sepatu larasnya yang besar, dan dengan pentung hitamnya, dia menendang dan menonjok atapnya, lalu... brukk... Lubang besar menganga di dinding samping bedeng itu.

"Ampuun.. Pak, ampuunn.."
"Ampun apaan.., cepat pergiii...!"
"Pergi sekarang. Ini perintah bos. Pemilik kota ini. Kamu sampah brengsek. Berdiri!" lalu dia memanggil pria berkulit kuning dan yang bertatto. Sekali lagi terdengar bruk brang... seng berjatuhan. Sambil berjalan, yang berkulit kuning mendekati Tarjo dan menginjak telapak tangannya. Tarjo mengerang dan tangis anaknya kian keras. "Takuuuttt Paak...!"

Setelah berbisik-bisik sebentar, yang bertatto menjauh ke arah jalan. Dia naik ke truk mini lalu memundurkan truknya ke arah bedeng. Kira-kira lima meter dari bedeng, truk itu berhenti. Pria itu turun dan langsung menuju Tarjo.
"Cepat... bangsat! Berdiri!"
"Ampun Pak, ampun. Jangaaan..." Sementara itu Marno berteriak-teriak di tengah tangisnya. Brang ..bruk.. suara bedeng runtuh. Yang berkulit kuning menarik Marno yang terus saja memeluk bapaknya. Teriakannya lepas dibawa angin, tak dihiraukan.
"Naik. Cepat."
"Cepaaattt!"

Baru saja tangan Tarjo memegang alas di bibir bak truk itu, tubuhnya didorong dan dia terguling-guling. Marno mendapat perlakuan yang sama. Mereka berpelukan dalam tangis. Siku Marno lecet berdarah, kepalanya benjol terbentur dinding truk dan kaosnya robek melintang ke arah leher.

Tak berapa lama, datanglah sepasukan petugas lainnya dan langsung mengangkut bedeng itu ke truk sampah. Pembersihan besar-besaran dilakukan atas titah pejabat kota demi menghormati orang-orang besar yang akan berkonferensi di kota itu. Mereka adalah pejabat negara, pejabat yang fotonya pernah dicoblos Tarjo waktu pemilu lalu. Agar bisa memilih dia dibuatkan KTP oleh seorang anggota tim sukses dan diberi uang Rp 10.000 agar mencoblos foto sang tokoh.*
ReadMore »

TPS Balaikota

Luasnya tak lebih dari 50 m2. Untuk sebuah TPS, tak terlalu luas memang. Letaknya hanya selemparan batu dari balaikota, tepat di belakang agak ke kiri dari kantor walikota, pas di sudut jalan, di bawah beringin yang ditanam pada masa kolonial, seabad lalu. Pagar besi dua meteran berujung tajam berkarat di sana-sini membatasi TPS itu dengan selokan yang tersumbat sampah sehingga airnya tergenang. Ketika hujan, luapannya merendam jalan di sepanjang sisi kiri balaikota. Saat kemarau, angin menerbangkan plastik dan daun kering ke selokan dan ke jalan, lalu terbang lagi dihempas mobil lewat.

Sisa makanan adalah jenis sampah yang terbanyak di TPS itu bercampur dengan kertas dan karton. Di sela-sela busukan hitam kecoklatan kerapkali tersisa plastik dan kaleng-kaleng makanan instan. Remahan kue dan roti tersebar dari atas bukitan sampah sampai ke dasarnya di dekat bibir selokan. Semuanya dirubung lalat sebesar kacang polong berperut hitam, kuning, dan hijau. Di bagian atasnya segerombolan tikus mencicit berebut usus ayam. Yang satu mengejar yang lain, lalu dirampas lagi oleh tikus lainnya. Di dekat karton bermerek fried chicken tertentu segumpal belatung merubungi kepala kambing.

Dilihat dari jauh, dari jarak 30 m, keluarlah uap yang mirip asap. Bisa diduga uap itu mengandung gas metan, karbondioksida, dan amoniak. Juga ada H2S yang baunya sama dengan telur busuk. Itu semua bersatu dengan asam hasil busukan sampah organik seperti sisa makanan. Ada angin sedikit saja sesaklah napas, muallah perut. Untung ada beringin yang meskipun keropos batangnya dimakan usia, tapi mampu berfotosintesis sehingga agak mengurangi bau sampah. Yang pasti, air sampah yang kaya zat organik itu menjadi sumber makanan bagi beringin. Sampah dan beringin bersimbiosis mutualisme, saling menguntungkan.

Di belakang TPS, dua meter dari garis sempadan yang berupa pasangan bata ada tripleks bopeng penyangga atap seng berkarat, diikat dengan sabut ke terpal biru. Ujung atap satunya lagi diikatkan ke untaian akar beringin sebesar lengan orang dewasa menggunakan tambang. Sepintas mirip tenda rombengan, lebih buruk daripada kandang anjing. Dindingnya dari kardus rokok yang diperkuat bambu bekas tiang bendera. Di sebelahnya ada perapian dari bata berangkal; seonggok abu di sebelah kiri dan baranya masih tampak di antara kayu bakar hitam. Pancinya dari aluminum, penyok di dekat kupingnya, hitam berjelaga. Di atas perapian ada satu panci lagi, lebih bersih, digantung di dekat wajan berlapis teflon. Semuanya dipungut di TPS seperti halnya sendok, garpu, gayung, ember, dan kursi kayu. Semuanya berkah TPS.

Kinem, perempuan di bedeng belakang TPS itu, sedang menyiapkan makanan untuk anaknya. Rambut pendek kelabunya di jalin satu mirip ekor kuda, dan berminyak. Di selingi batuk-batuk kering kecil, tangannya gemetar ketika mengambil gayung penuh air. Tampak semangat dan mungkin gembira. Sebab, dua ikat buncis layu, bunga kol, dan segenggam bayam didapatnya dari plastik kresek di depan TPS tadi pagi. Di sebelah piring bergerigi terhidang ikan asin, juga dari kantong kresek yang sama. Inilah hari besar bagi keluarganya yang hanya terdiri atas tiga orang; satunya lagi adalah seorang pemulung keliling yang berperan sebagai ‘suami’ sebab mereka belum ijab-kabul. "Kumpul kebokah?"

Buah ‘perkawinannya’ adalah Tole, anak semata wayangnya, seusia anak SD kelas dua. Karena tak sekolah, sehari-hari mainnya hanya mengais-ngais di TPS. Sekali waktu Tole pernah menemukan arloji yang lantas dijual ibunya seharga Rp 20.000. Pada kali lain ia memperoleh ‘balon’ bekas pakai teman kencan seorang WTS yang sesekali mangkal di dekat beringin. Seperti umumnya anak-anak, Tole senang menyanyi. Berkaos singlet ‘Popeye’ yang robek lengannya, sebait-dua bait lirik lagu Radja yang didengarnya dari pengamen prapatan lepas dari mulutnya, menampakkan empat bekas lokasi gigi serinya yang ompong. Perut buncitnya naik-turun lalu menyembul di balik kaosnya. Lutut kirinya dikitari lalat yang tergoda oleh bau korengnya. Ia kelihatan senang-senang saja, tanpa beban.

Kini layangkanlah pandangan ke depan, ke arah gedung berpilar, berlapis-lapis, melengkung, bergaya Art Deco. Warna putih mendominasi gedung yang dijadikan pusat upacara pejabat itu. Setiap ada pejabat baru, seremonial yang tak ketinggalan adalah prasmanan. Makan-makan. Di aula seluas 400 m2 itu terhidang belasan stand makanan, mulai baso-tahu, es krim, sate, aneka buah, beragam sayur, dan ... banyak lagi yang lain. Lengkap semua, mulai makanan pembuka, utama hingga penutup.

Seperti biasa, seusai acara sisanya masih banyak dan selalu dibagi-bagi dalam bungkusan di antara pegawai. Baru setelah itu, dicampur dengan bekas makanan yang terserak di piring dan gelas, dibuang ke TPS. Inilah saat Kinem dan Tole berpesta menikmati makanan gedongan sekaligus sisa wadah karton dan plastik yang bisa dijualnya ke bandar rongsokan. Ini pulalah yang menyebabkan mereka bertahan di belakang TPS itu dan tak hendak bangkit.

Bangkit? Bangkit ke mana?

Kebangkitan keluarga? Anaknya tak sekolah. Hardiknas 2 Mei lalu tak berbekas, Harkitnas 20 Mei kemarin juga berlalu begitu saja. Sejumlah tokoh bersarasehan, yang lain lari-lari pagi dan ada yang ber-weekend. Dan kini, 21 Mei 2006, adalah Hari Reformasi. Membentuk kembali, membangun kembali serpihan negara....

Akankah Tole menjadi pemuda yang pekerjaannya lebih baik daripada bapaknya atau menjadi pengusaha yang memproduksi barang dari sampah dan mampu membuka lapangan kerja bagi pemulung? *
ReadMore »

Bioproses Pencemar Udara

Bioproses Pencemar Udara

Historisnya, pencemaran udara bukanlah masalah baru karena sudah terjadi ribuan tahun yang lalu. Letusan gunung dan kebakaran hutan adalah dua sumber pencemar alami yang menghasilkan asap, abu, debu, CO2 dan H2S. Dengan mekanisme swabersih, self-cleansing di atmosfer seperti dispersi, flokulasi, sedimentasi, absorpsi, adsorpsi dan hujan maka pencemaran udara tidak menjadi parah.

Jika ada satu atau lebih kontaminan di udara yang kadar, sifat dan durasinya merugikan flora, fauna dan manusia maka telah terjadi pencemaran udara bukan sekedar pengotoran udara. Sumber utamanya adalah aktivitas manusia seperti transportasi dan industri yang banyak mengemisi pencemar padat, cair dan gas. Penanganan limbah padat dan cair dengan teknik bioproses yang memanfaatkan mikroba sudah lama dilakukan. Sedangkan intensifikasi aplikasinya untuk limbah gas khususnya di Indonesia baru dasawarsa terakhir abad ke-20 yang lalu dimulai.


Ekonomis, itulah keunggulan rekayasa bioproses dibandingkan dengan proses fisikokimia seperti scrubber yang menggunakan pelarut (absorban) untuk menyisihkan limbah gas. Selain biaya investasi dan O-M yang tinggi, pengoperasian proses fisikokimia juga lebih rumit dan timbul masalah baru pada lingkungan akibat lumpur/sludge toksik yang dihasilkannya. Ide dasar bioproses limbah gas sama dengan limbah cair yakni pemanfaatan kemampuan mikroba untuk mendegradasi pencemar organik yang digunakan sebagai sumber karbon dan pertumbuhan sel. Pada kondisi ini, semua pencemar diubah menjadi produk akhir yang tidak berbahaya seperti CO2, H2O dan biomassa baru dan efektif untuk pencemar organik yang konsentrasinya relatif rendah, antara dari 1 - 5 g/m3.

Bioproses
Ide dasar bioproses adalah beternak mikroba pendegradasi polutan. Aplikasi dan jenis reaktornya mengalami perkembangan yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Beberapa di antaranya dibahas secara singkat berikut ini.

a. Biofilter.
Jenis ini adalah pionir bioreaktor yang mekanisme interaksi proses fisika dan biologinya menggunakan media kompos, tanah dan material kasar untuk mencegah penurunan tekanan yang terlalu tinggi. Luas permukaan gas-cairan relatif besar antara 300 - 1.000 m2/m3. Transfer massa polutan terjadi pada media yang diselimuti biofilm. Biofilter telah digunakan di industri untuk menyisihkan polutan seperti alkohol, senyawa aromatik, alifatik dan ester.

b. Trickle-Bed (Trickling Filter).
Tipe kedua adalah trickle-bed yang aplikasinya sangat luas di bidang pengolahan air limbah, terdiri atas kolom media untuk pertumbuhan mikroba. Air bernutrien secara kontinu disemprotkan ke dalam aliran udara. Dengan cara ini, kelembaban, temperatur, dan suplai nutrien dapat dikendalikan lebih baik daripada biofilter. Sangat baik untuk mengolah limbah gas seperti hidrokarbon terklorinasi, aromatik, alkohol, aldehid, keton, ammonia dan sulfur. Kekurangannya, terbentuk lapisan air yang menghalangi transfer pencemar yang sulit larut di dalam air dari udara ke biomassa.

c. Bioscrubber.
Pada jenis ini, air disemprotkan di atas media tetapi mikrobanya tidak ditumbuhkan di sini. Mikroba dibiakkan pada tangki lain tempat terjadinya biodegradasi pencemar. Air mengabsorbsi polutan gas lalu dibawa ke tanki lumpur aktif untuk didegradasi. Karena kontaminan harus larut dalam air maka tipe ini tidak cocok digunakan untuk senyawa yang sulit larut dalam air. Untuk meningkatkan transfer massanya perlu ditambahkan pelarut organik sebagai absorban.

d. Bioreaktor membran.
Inilah bioreaktor terbaru untuk menyisihkan hidrokarbon terklorinasi yang sulit larut di dalam air. Reaktor terdiri atas membran hidrofobik yang memisahkan fase gas dengan fase cair. Biomassa tumbuh pada bagian cair dan pencemar serta oksigen didifusikan melalui membran. Kelebihan tipe membran ini, ia merupakan gabungan antara biofilter dan trickle-bed. Seperti pada biofilter, membran bioreaktor memiliki kemampuan transfer massa yang sangat baik sehingga cocok digunakan untuk menyisihkan hidrokarbon yang sulit larut. Sama dengan trickle-bed, fase cair memungkinkan penyisihan produk akhir yang toksik dan suplai nutrien dan air.

Bioreaktor Membran
Aplikasi membran sudah luas digunakan dalam menangani limbah seperti penyisihan zat padat, retensi biomassa, aerasi bioreaktor dan ekstraksi pencemar dalam air limbah. Sekarang pengembangan bioreaktor membran untuk mengolah limbah gas juga makin banyak. Pada tipe ini pencemar gas ditransfer melalui membran menuju fase cair yang isinya mikroba pendegradasi pencemar. Dua tipe bahan membran untuk kontak gas-cairan ini adalah bahan hidrofobik dan dense material seperti karet silicone. Biomassa tumbuh dalam bentuk biofilm pada membran tapi dapat juga tersuspensi di dalam fase cair. Kekurangan tipe ini adalah biofilmnya tidak stabil dan/atau clogging pori-pori akibat biomassanya yang berlebihan.

Bioreaktor limbah gas memanfaatkan mikroba untuk mendegradasi pencemar gas organik yang didifusikan ke fase cair menjadi produk tidak berbahaya seperti CO2, H2O dan mineral. Sebagai contoh adalah Xanthobacter Py2 yang mampu mendegradasi TCE (Trichloroethene) dengan kehadiran substrat propene. Biomembran adalah alternatif tipe bioreaktor konvensional pengolah limbah gas seperti biofilter media kompos. Kelebihannya, ada fase air diskrit yang menyebabkan humidifikasi biomassa menjadi optimal dan penyisihan produk degradasi sehingga tidak terjadi inaktivasi biomassa.

Fungsi membran: sebagai interface antara fase gas dan fase cair. Interface (antarmuka) gas-cair tersebut dapat dihasilkan misalnya dengan membran hollow fibre yang interface-nya lebih besar daripada kontaktor gas-cair tipe lain. Bagian reaktor membran juga tidak ada yang bergerak (moving parts), mudah di scale-up, dan aliran gas dan cairan dapat divariasikan dengan bebas tanpa timbul masalah genangan (flooding), beban (loading) atau buih (foaming) seperti yang sering terjadi pada diffuser (bubble columns).

Kendala Bioproses
Meskipun bioproses sangat baik digunakan untuk mengolah bermacam pencemar tetapi ada beberapa pencemar yang sulit disisihkan.

a. Pencemar yang sulit larut di dalam air sehingga degradasinya menjadi terbatas karena driving force-nya kecil agar terjadi transfer massa. Dengan demikian, ketebalan lapisan air antara fase gas dengan mikroba menjadi kecil.

b. Kekurangan kedua adalah untuk pencemar yang sulit dibiodegradasi. Beberapa polutan organik terklorinasi tidak dapat didegradasi dalam kondisi aerob sehingga sulit disisihkan. Sedangkan sebagian hidrokarbon terklorinasi dapat didegradasi secara aerob tetapi perlu substrat tambahan untuk pertumbuhan mikroba (cometabolisme).

c. Aspek ketiga adalah toksisitas polutan akibat konsentrasinya terlalu tinggi. Sebagai contoh adalah konsentrasi tinggi senyawa-antara (intermediate) hasil biodegradasi seperti akumulasi senyawa antara asam-asaman di dalam biofilter yang kelebihan etanol. Tidak hanya yang berkonsentrasi tinggi, senyawa-antara yang rendah konsentrasinya pun dapat menjadi toksik bagi mikroba. Senyawa intermedit biodegradasi trichlorethene (TCE) yang karsinogenik dapat menghasilkan dampak buruk pada mikroba pendegradasi TCE. Senyawa TCE ini terdistribusi luas pada air tanah dan tanah sehingga menjadi bahaya potensial bagi manusia.

Derasnya penurunan kualitas udara terutama di sekitar kawasan industri dapat menimbulkan gangguan bau, estetika dan bahaya pada kesehatan. Peningkatan perhatian masyarakat terhadap isu lingkungan, dapat mendesak pemerintah secara tidak langsung untuk lebih serius menangani masalah pencemaran khususnya polusi udara. Pihak industri pun dapat memanfaatkan teknologi ini yang relatif ekonomis dibandingkan proses fisikokimia jika ingin masuk ke pasar global karena audit lingkungannya memenuhi syarat. Dengan demikian, teknologi pemanfaatan mikroba menjadi alternatif yang baik di masa datang.*
ReadMore »

18 Mei 2006

Palestina: Tamu Menjadi Tuan

Lima orang datang dari jauh. Tak jelas asalnya dari mana. Mereka diaspora, menggelandang. Mereka tak bertanah dan berlabel buron. Mereka tiba di sebuah rumah. Di rumah itu, yaitu rumah tenang yang yang tak terlalu luas, mereka minta izin untuk istirahat dan menginap. Sebagai tuan rumah yang baik dan ingin melaksanakan ajaran agamanya, tuan rumah lapang hati menerimanya. Sandang dan pangan diberikan. Dijamin semuanya. Mereka dianggap saudara jauh meskipun buron statusnya.

Perlakuan baik itu berlangsung sekian waktu sampai akhirnya mereka berbuat sesuatu: air susu dibalas air tuba. Mereka sudah merasa nyaman tapi ingin jauh lebih nyaman lagi. Diputuskanlah sebuah kebijakan. Ada satu putusan politik mereka, yaitu devide et impera. Politik pecah belah lalu kuasai. Mereka lakukan itu. Tuan rumah ditakut-takuti, dinista, dan bahkan dibunuh. Ada yang terpaksa mengungsi ke rumah tetangga. Tetangga itu awalnya keras juga melawan penjarahan rumah itu, tapi lama-lama mereka tak kuasa lagi. Ternyata lima orang itu dibantu dari jauh oleh beberapa rumah gedongan.

Lima orang tamu itu terus saja membuat onar di rumah orang yang ditamuinya. Maksudnya jelas: ingin memiliki rumah itu. Dan mereka berhasil. Berhasil! Mayoritas tanah dan kamar-kamarnya dirampas dan dijadikan tempat tinggal sehari-hari sampai beranak-cucu di sana. Sedangkan tuan rumah dan keluarganya hanya disisakan di lahan sempit, di dekat kamar mandi-WC. Sudah itu sering pula ditakut-takuti akan dibunuh. Malah terjadi insiden pembantaian massal di sebuah kamar di sana. Mereka memperlakukan tuan rumah seenak perutnya. Apa kata yang tepat bagi lima orang dan keturunannya? Perampas! Ini sebutan layak buat tamu BIADAB itu.

Palestina, sebagai tuan rumah, memang menderita. Telah lama mereka menderita lantaran tindakan keji tamunya itu, yaitu Yahudi Israel atas dukungan saudaranya, AS dan kawan-kawan.

Mari dukung dan gemakan ujaran Dr. Yusuf Qardhawi: one man, one dollar. Satu orang, sepuluh ribu rupiah.

----------- * ------------
Hal sejenis terjadi di Palestina; ada warga Palestina yang benci Hamas tapi berterima kasih kepada Israel lantaran Jalur Gaza dikembalikan kepada Palestina tanpa berpikir ada udang di balik batu. Padahal Gaza bukan hal utama (2% dari jajahan Israel), melainkan Tepi Barat, Yerussalem. Apalagi itu baru tanahnya, belum wilayah udara dan pelabuhannya. Sepekan kemudian dengan santai zionis membombardir Gaza lewat F16 seperti dulu mereka membom kamp Shabra-Satila yang menewaskan ribuan pengungsi wanita, balita dan anak-anak....
-------------------------- *----------------------------
ReadMore »