• L3
  • Email :
  • Search :

23 Mei 2006

Bedeng Tarjo

Satu bilah bambu lagi selesai sudah dinding bedengnya. Satu paku lagi terpasang sudah semuanya, walaupun tak sebaik bangunan awalnya. Sambil duduk di alas koran, ia menatap Marno, anak lelakinya yang main kelereng. Tak sampai tiga menit didengarnya derap sepatu laras mendekat. Dengan wajah tegang, dipasangnya pendengarannya. Langkah itu menuju bedengnya. Dipalingkannya kepalanya, berbalik seratus delapan puluh derajat, tampaklah tiga orang berseragam, sama seperti tiga hari lalu.

"Tarjo... kamu belum kapok, ya! Sudah kubilang, kamu jangan ke sini lagi!" hardik pria berkumis Pak Raden, melengkung jauh ke bawah seperti kumis Wyatt Earp, tokoh protagonis film Tombstone.
"Belum kapok ya..!" pria berkulit kuning menimpalinya sambil menendang kresek berisi paku bekas. Kresek robek, paku berceceran. "Brengsek kamu!"

Tarjo menunduk, punggung telapak tangannya terkulai ke tanah, sementara Marno merapatkan badannya ke lengan kirinya. Wajah bocah yang belum sekolah meskipun usianya tujuh tahun itu memucat. Tiga hari lalu dia dan bapaknya diangkut ke kantor besar, tapi dia tak tahu kantor apa namanya. Di sana sudah ada orang-orang seperti mereka, orang-orang yang dianggap mengotori kota.

"Cepat pergi. Anjing!" gelegar suara pria yang lengan kanan dan kirinya penuh tatto.
"Cepaaattt... !" bentak yang berkumis.
"Bruk... prang.." yang berkulit kuning menendang tas dekat piring seng.

Dengan tubuh gemetar, menetes air matanya. "Saya harus ke mana, saya tak punya saudara, Pak."
"Bukan urusanku!" geram yang bertatto sambil menghentak bilah bambu. "Yang penting kamu harus pergi dari tempat ini. Sekarang juga!" Braakkk, suara bambu pecah.

Marno gemetar di tengah tangisnya. Tangannya memeluk bapaknya dan Tarjo mempererat pelukannya. Pria berkumis mendekati bedeng yang baru saja selesai diperbaiki. Dengan kakinya yang kekar, sepatu larasnya yang besar, dan dengan pentung hitamnya, dia menendang dan menonjok atapnya, lalu... brukk... Lubang besar menganga di dinding samping bedeng itu.

"Ampuun.. Pak, ampuunn.."
"Ampun apaan.., cepat pergiii...!"
"Pergi sekarang. Ini perintah bos. Pemilik kota ini. Kamu sampah brengsek. Berdiri!" lalu dia memanggil pria berkulit kuning dan yang bertatto. Sekali lagi terdengar bruk brang... seng berjatuhan. Sambil berjalan, yang berkulit kuning mendekati Tarjo dan menginjak telapak tangannya. Tarjo mengerang dan tangis anaknya kian keras. "Takuuuttt Paak...!"

Setelah berbisik-bisik sebentar, yang bertatto menjauh ke arah jalan. Dia naik ke truk mini lalu memundurkan truknya ke arah bedeng. Kira-kira lima meter dari bedeng, truk itu berhenti. Pria itu turun dan langsung menuju Tarjo.
"Cepat... bangsat! Berdiri!"
"Ampun Pak, ampun. Jangaaan..." Sementara itu Marno berteriak-teriak di tengah tangisnya. Brang ..bruk.. suara bedeng runtuh. Yang berkulit kuning menarik Marno yang terus saja memeluk bapaknya. Teriakannya lepas dibawa angin, tak dihiraukan.
"Naik. Cepat."
"Cepaaattt!"

Baru saja tangan Tarjo memegang alas di bibir bak truk itu, tubuhnya didorong dan dia terguling-guling. Marno mendapat perlakuan yang sama. Mereka berpelukan dalam tangis. Siku Marno lecet berdarah, kepalanya benjol terbentur dinding truk dan kaosnya robek melintang ke arah leher.

Tak berapa lama, datanglah sepasukan petugas lainnya dan langsung mengangkut bedeng itu ke truk sampah. Pembersihan besar-besaran dilakukan atas titah pejabat kota demi menghormati orang-orang besar yang akan berkonferensi di kota itu. Mereka adalah pejabat negara, pejabat yang fotonya pernah dicoblos Tarjo waktu pemilu lalu. Agar bisa memilih dia dibuatkan KTP oleh seorang anggota tim sukses dan diberi uang Rp 10.000 agar mencoblos foto sang tokoh.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar