• L3
  • Email :
  • Search :

2 Mei 2006

Pembodohan Massal, Hardiknas

Guruku....
Kuingat, dalam ajaran Hindhu ada tiga macam guru, yaitu guru Rupaka, guru Wisesa, dan guru Pengajian. Yang terakhir adalah guru di sekolah; semua sekolah baik TK, SD, SMP, SMA, SMK, Madrasah, maupun perguruan tinggi. Mereka berjasa bagiku, sekecil apa pun jasanya.

Guruku...
Kuucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional.

Kuingat sampai sekarang. Aku sangat terkesan pada guru-guruku ketika di Bali dulu. Mulai dari guru SD, SMP, sampai SMA, sebagian besar sangat mengabdi pada profesinya. Serius mengajarnya walau terkesan keras. Lebih tepat disebut disiplin. Mungkin semua guruku sudah pensiun sekarang dan sebagian juga sudah meninggal. Trims banyak guruku.

Tapi kini, pada 2 Mei 2006 ini, aku ingin sekadar mengeluarkan sepatah dua patah kata. Kutulis ini sebagai media berbagi dengan rekan-rekanku sesama bangsa Indonesia yang hari ini merayakan Hardiknas.
-----------------------------------------------------------

Ada kisah begini. Ini terjadi di sini, di tanah ini, di negara bernama Indonesia.

Begini. Banyak guru, juga kepala sekolah dan orang tua, tak ketinggalan anggota DPR yang menolak batas lulus Ujian Nasional. Mereka merasa terlalu tinggi dan takut banyak yang tidak lulus. Bahkan kalau bisa, harapan mereka, semua muridnya lulus dengan mudah dan nilainya tinggi-tinggi tapi tak peduli pada kualitasnya. Ini adalah proses pembodohan massal yang sangat melawan karakter baca-tulis. Baca dan tulis!

Bayangkan saja, nilai 4,26 masih bisa lulus dengan syarat nilai rata-ratanya tetap minimal 6. Berarti nilai 5,5 atau 5 atau 4,5 masih bisa lulus. Malah 4,26 pun bisa lulus. Dulu, saya masih ingat, nilai 5 saja sudah tidak naik. Apakah ini bisa dikatakan degradasi mutu pendidikan kita? Ketika negara lain makin maju sainsteknya, kita justru merosot ke jurang tak berdasar, ke alas abbysal.

Sering saya sedih, betapa rendah minat baca murid sekarang. Waktu saya sekolah di Bali dulu, setiap pekan ada saja pelajaran bercerita di depan kelas setelah membaca buku cerita pekan sebelumnya. Semua murid wajib ke depan kelas dan bercerita. Ini ada nilainya. Kami lantas berlomba-lomba membaca dan kebetulan ada sejumlah buku-buku cerita di perpustakaan. Kebiasaan ini ternyata tak ada sekarang. Tak ada pelajaran bercerita di depan kelas.

Yang paling menyedihkan, gurunya pun tak suka membaca. Mereka hanya berbekal ilmu lawas dan malas pula mengajarnya. Kenapa bisa begini? Padahal membaca adalah laksana obeng pembuka tempurung katak. Kalau dilanjutkan lagi, yaitu dengan menulis, maka ia akan punya pembuka langit semesta.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar