• L3
  • Email :
  • Search :

11 April 2015

Elpiji Mahal, Panenlah Metana di TPA Sampah

Elpiji Mahal, Panenlah Metana di TPA Sampah
Oleh Gede H. Cahyana

Harga Elpiji naik? Untuk masyarakat yang tinggal di sekitar TPA sampah, sebetulnya bisa hidup nyaman dalam hal energi listrik dan bahan bakar untuk dapur. Tentu saja ini harus difasilitasi oleh pemerintah karena investasinya miliaran rupiah. Kalau tercapai, maka ribuan warga dan kompleks perkantoran TPA bisa terang benderang dari energi sampah yang dikenal dengan sebutan biogas. Komposisi utama biogas adalah metana. 

Metana adalah gas yang terbentuk pada proses pembusukan secara anaerobik seperti terjadi di TPA sampah. Gas metana ini harus dikelola agar bisa dialirkan ke luar landfill sehingga dapat mencegah bahaya kebakaran (ledakan) dan/atau dipanen sebagai sumber energi. Yang bertugas di sini adalah kepala seksi monitoring lingkungan dan operatornya. Memang faktanya, mayoritas TPA hanya diurus oleh kepala TPA dan satu orang petugas saja dan sering tidak fokus mengelola TPA, hanya sekadar selingan. Open dumping adalah hasilnya. 

TPA selalu menghasilkan metana (CH4), karbon dioksida (CO2), dan gas lain yang relatif sedikit volumenya seperti hidrogen sulfida (H2S), ammonia (NH3). Metana bersifat tidak berbau dan mudah terbakar apabila konsentrasinya antara 5% s.d 15% by volume. Karena mudah terbakar, metana dapat digunakan sebagai sumber energi dengan syarat konsentrasinya lebih besar dari 45% v/v. Untuk gas-flaring, konsentrasi lebih besar dari 25% v/v dan dialirkan lewat cerobong. Oleh sebab itu, metana harus dikendalikan dengan memasang pipa ventilasi di titik-titik tertentu. 

Timbulan metana di TPA antara 0,12 - 0,45 m3/kg sampah tetapi yang dapat ditangkap hanya 25%. Timbulan metana dipengaruhi oleh karakteristik sampah dan kondisi landfill. Ada yang memberikan angka 0.0025 m3/kg sampah/tahun. Lantas, bagaimana cara memasang pipa gas untuk mengoleksi atau mengumpulkan metana di TPA? Berikut ini adalah contoh sketsa cara memasang pipa gas vertikal. Yang pertama, titik-titik pemasangan pipa vertikal ini harus merujuk ke gambar DED TPA. Kalau tidak ada gambar DED, pasanglah pipa gas dengan jarak 50 m – 70 m. Kedua, pasanglah pipa gas vertikal di titik pertemuan antara pipa lateral dan pipa induk, titik percabangan pipa lindi, dan di titik ujung pipa lindi. Gunakan pipa dengan diameter 100 – 150 mm pipa HDPE.


Sejumlah langkah yang bisa diterapkan untuk memanen metana sbb.
1. Pada awal penimbunan sampah, pasanglah sumuran terlebih dahulu. Pemasangan sumuran didahului dengan pemasangan casing. Sumuran terdiri atas pipa HDPE berlubang dengan kerikil di sekelilingnya.
2. Siapkan gergaji atau pemotong pipa, fitting dan lem pipa.
3. Sambungkan pipa berlubang ke pipa gas yang sudah dipasang sebelumnya.
4. Pipa gas dipasang secara progresif ke atas mengikuti ketinggian sampah.
5. Luruskan pipa berlubang di dalam casing.
6. Setelah ketinggian pertama dicapai, casing diangkat setinggi lapisan kedua kemudian pipa PVC dan kerikil berdiameter 5 – 10 cm di sekelilingnya ditinggikan sampai mencapai lapisan kedua.  Demikian seterusnya sampai ketinggian akhir.
7. Casing kerikil bisa juga dengan drum bekas perforated (diameter 80 cm) yang dipasang permanen sesuai dengan ketinggian timbunan. Sambungan drum berupa karet ban atau pelat logam agar kuat, tidak bergeser posisinya..
8. Ketinggian pipa pada lapisan terakhir adalah 1 m di atas tanah penutup. Penutupan pipa gas akhir dilakukan dengan cup rubber ring dari PVC dan ujung pipa ini siap dihubungkan ke jaringan pengumpul menuju instalasi pemompaan. 

Masalahnya, bagaimana agar metana tersebut bisa dicairkan lalu dimasukkan ke dalam tabung. Ini disebut Elbiji atau LBG (Liquid Bio Gas). *

ReadMore »

9 April 2015

Keluhan Pelanggan PDAM

Keluhan Pelanggan PDAM
Oleh Gede H. Cahyana


Anulir Undang-Undang Sumber Daya Air oleh Mahkamah Konstitusi tidak serta merta mengubah kondisi PDAM, apalagi pelanggan. Perlu waktu dan perlu perbaikan kualitas pengolahan dan distribusinya. Mengolah air sungai lebih mudah daripada air laut. Air sungai yang keruh bisa menjadi jernih dengan penerapan unit operasi dan proses yang konvensional. Unit tambahan bisa dijadikan pelengkap untuk meningkatkan kualitas air olahan sehingga bisa langsung diminum. Adsorbsi contohnya, unit ini mampu mengurangi bau dan rasa air sehingga diperoleh air yang jernih, tak berasa dan tak berbau. Unit disinfeksi, misalnya dengan ozon dapat membasmi bakteri di dalam air. Bisa juga menggunakan kaporit atau gas klor. Tentu zat kimia ini ada kekurangan dan kelebihannya.

PDAM sebetulnya sudah mampu mengolah air sungai yang sangat keruh menjadi air jernih dan bersih. Hanya saja, sistem distribusinya tidak terpelihara dengan baik sehingga bocor di sana-sini, Di titik-titik bocor inilah air kotor di dalam tanah bisa masuk ke dalam pipa, terutama pada saat pipanya kosong. Air kotor bercampur dengan air olahan PDAM. Ini diperparah lagi oleh pelanggan yang menyedot air PDAM dengan pompa. Bayangkan, semua pelanggan saling sedot dan saling “pakuat-kuat” menyedotnya sehingga justru air kotor yang masuk ke dalam pipa. Inilah sebabnya muncul protes pelanggan kepada PDAM.

Pernah ada jajak pendapat (polling) tentang kualitas air dan keluhan pelanggan PDAM. Keluhan terbanyak, airnya kotor dan keruh. Disusul oleh keluhan bau kaporit terlalu kuat, kemudian debitnya kecil, airnya tidak mengalir, rasanya asin (terutama yang di dekat pantai), ada yang bilang airnya beracun. Racun? Ini tentu berbahaya. Tetapi bisa terjadi karena pelanggan belum tahu istilah yang tepat, apakah racun atau “racun” (dalam tanda kutip).


Harapan kita, PDAM terus berkembang, makin banyak pelanggan yang memperoleh air layak diminum dengan tarif yang “tepat bagi PDAM dan pelanggan” didasarkan pada pasal 33 UUD 1945. Pembatalan UU SDA oleh MK, swasta tidak boleh lagi menguasai sumber air, membuka peluang bagi PDAM untuk lebih meluaskan pelanggannya. Tiada lagi PAM swasta, hanya PAM yang dimiliki oleh negara, dalam hal ini adalah pemerintah daerah. Memang, perlu waktu untuk mencapainya. *

ReadMore »

17 Maret 2015

Filter Air, Mudah Tapi Susah

Filter Air, Mudah Tapi Susah
Oleh Gede H. Cahyana



Filter memang mudah dibuat, bahkan oleh tukang yang hanya lulusan SD. Dengan bekal alat-alat bengkel seperti gergaji, palu, paku, las pipa, kawat, besi beton, klem, pipa, fibre, pasir dan ijuk, jadilah alat bernama filter. Ini fisiknya, alat filter. Tetapi sesungguhnya, filter tidak semudah itu, terutama kalau dikaitkan dengan hidrolika aliran airnya dan aspek reaksi kimianya. 

Sebagai contoh, kecepatan aliran air sangat mempengaruhi berapa lama filter bisa digunakan. Melewati batas waktu ini, biasanya disebut life-time, maka kualitas air tidak akan memenuhi persyaratan air layak-minum. Begitu juga reaksi kimia. Pengolahan air sumur yang banyak mengandung zat besi (juga mangan) sebagai contoh, tidak lantas dijatuhkan begitu saja dari ketinggian tertentu, biasanya disebut aerasi, tanpa mempertimbangkan pH airnya. Sebab, reaksi oksidasi (dengan cara diaerasi tersebut) dapat berlangsung pada pH basa, sebaiknya di atas 8,3. Kalau pH air sumur di bawah 8, apalagi di bawah 7 seperti air sumur di perumahan bekas lahan sawah, maka filter tidak berfungsi optimal. Belum lagi kation kalsium, magnesium, karbondioksida agresif dan seterusnya. 

Namun demikian, dengan tetap menghormati pebisnis filter air, selayaknya konsumen diberi tahu bahwa filter akan berfungsi dengan baik kalau memenuhi persyaratan seperti ditulis di atas. Agar mudah, silakan tiru unit filter yang digunakan oleh PDAM. Tinggal kecilkan saja skalanya, menjadi skala rumah tangga dengan tetap memperhatikan dan memberikan fasilitas reaksi dan pengolahan secara alamiah. Hukum alam diikuti, maka pengolahan dengan filter akan memberikan kualitas air olahan yang layak diminum, meskipun perlu menyediakan peralatan yang lebih banyak dan pengondisian kimiawinya. *

ReadMore »

21 Februari 2015

Hikmah Longsor TPA Leuwigajah

Hikmah Longsor TPA Leuwigajah
Oleh Gede H. Cahyana




Kenang, Kenanglah Kami
(Satu Dasawarsa Longsor TPA Leuwigajah, 21 Februari 2005)

Hening, sepertiga malam terakhir
Bahana derik jengkrik di kejauhan
Lapak-lapak pemulung tangkup bisu
Ricikan membasah, hujan semalaman
Gemuruh suara
Bukan…!
Bukan Gemuruh
Itu gelegarrr.., itu dentuman!
Itu ledakannn…
Tapi
Ledakan apa?
Hanya sekejap, lenyap

Lampus, tak kurang dari 147 orang
Ruh terlepas dari jasadnya
Sepekan-dua pekan lewat,
Parijs van Java
menjadi
Rubbish van Java
-----------------------------

Bandung, 21 Februari 2015

Sepuluh tahun sudah usia bencana longsor TPA Leuwigajah (21 Februari 2005) yang menimbun tak kurang dari 147 orang. Inilah bencana terbesar TPA di Indonesia, bahkan sampai sekarang belum ada yang menandinginya. Mudah-mudahan tidak pernah terjadi lagi, di mana pun di Indonesia. Kota Bandung sebagai pemasok sampah terbanyak pada waktu itu menjadi lautan sampah. Bandung Lautan Sampah dijadikan yel-yel oleh demonstran seperti LSM, mahasiswa, dan warga Bandung, Untung saja Facebook dan Twitter belum ada saat itu. Kalau ada, tentu akan makin masif dan ramai di jagat nyata dan maya, bahkan bisa menjadi penyulut demo yang efektif. Betapa Bandung yang pernah berjuluk Parijs van Java berubah menjadi Rubbish van Java.

Namun demikian, selalu saja ada hikmah di balik bencana dan kesusahan hidup. Blessing in disguise, orang bilang. Hikmah pertama, setelah diskusi panjang yang berlarut-larut, menerima masukan dari akademisi, LSM, dan warga masyarakat, pemerintah pusat dan DPR menyusun Undang-Undang Pengelolaan Sampah. Deretan workshop digelar, begitu juga seminar dan focused group discussion di berbagai daerah, dengan suasana “panas” dan emosional. Fase ini berakhir manis, yakni DPR mensahkan Undang-Undang No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Hikmah kedua, orientasi TPA Open Dumping bergeser menuju Sanitary Landfill sehingga projek-projek Sanitary Landfill makin banyak. Ini mendatangkan manfaat bagi kalangan yang ahli di bidang teknik pembuangan akhir sampah (refuse disposal), baik konsultan, kontraktor, akademisi, pengelola projek di dinas (kementerian), dan perusahaan pembuat, suplier, dan penjual pipa, geotekstil, geomembran, tanah urug, dan puluhan aksesoris teknologi persampahan lainnya. Nilai projek persampahan ini mencapai triliunan. Tentu saja, ini yang patut disayangkan, pemerintah daerah yang menggebu-gebu membangun Sanitary Landfill tidak disertai oleh kemampuan sumber daya manusianya dalam pengelolaan TPA. Akibatnya, banyak TPA yang didesain Sanitary Landfill akhirnya berubah menjadi Open Dumping lagi.

Hikmah ketiga, akronim “tiga er” atau “3R” makin dikenal dan fasih diucapkan bahkan oleh ibu rumah tangga sekalipun karena gerakan ini sangat masif disebarkan oleh pemerintah daerah lewat kelurahan, RW/RT, termasuk majelis taklim dan posyandu. Gerakan pembuatan lubang biopori dengan memasukkan sampah organik ke dalamnya sempat booming. Sekarang juga digelar Gerakan Pungut Sampah (GPS) dan selalu rutin di-posting oleh walikota di Facebook dan Twitter. Ini cara yang efektif untuk menggerakkan atau minimal memperkenalkan rasa peduli pada kebersihan lingkungan di kalangan anak muda dan sekolah yang banyak memiliki akun aktif Facebook dan Twitter. Gerakan 3R terus meluas, bahkan sudah masuk ke desa-desa untuk memberikan ilmu dan paham bahwa sampah yang ditimbulkan oleh manusia harus ditangani sedemikian rupa sehingga tidak mencemari lingkungan dan menyumbat selokan.

Keempat, muncul perdebatan yang “belum berkesudahan” perihal PLTSa. Awalnya, atas masukan dari akademisi, walikota Bandung menyatakan akan merilis program Waste to Energy. Program ini ditentang oleh masyarakat dan LSM yang khawatir pada dampak buruknya pada udara, air, dan tanah di cekungan Bandung. Bahkan pakar lingkungan seperti Prof. Otto Soemarwoto (alm) pun ikut turun tangan dan hadir di berbagai event yang membahas insinerator ini, termasuk pernah “dilecehkan” oleh DPRD Kota Bandung. Program ini akhirnya diubah menjadi PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) berbasis pembakaran (insinerasi). Karena menggunakan teknologi insinerator, maka rencana in pun ditolak warga. Sampai saat ini, belum ada keputusan pasti tentang PLTSa ini, apakah batal ataukah lanjut.

Kelima, muncul kesadaran untuk memberikan pendidikan lingkungan di SD, SMP, MTs, dan SMA, SMK, MA berupa Muatan Lokal (Mulok) Pendidikan Lingkungan (Hidup). Bandung adalah kota pertama di Indonesia yang merilis program ini dalam bentuk peraturan. Artinya, bukan inisiatif sekolah per sekolah atas dasar kesadaran guru dan kepala sekolahnya. Ini pernah menjadi gerakan masif di semua sekolah di Bandung. Program ini sempat juga diikuti oleh daerah-daerah lainnya. Hanya saja, program ini mulai mati suri tiga tahun terakhir ini, seolah-olah pada pendidik dan pemerintah mulai melupakan esensi Mulok PLH dan tragedi 147 orang yang tertimbun sampah. Semoga Mulok PLH bisa dimunculkan lagi.

Tentu saja, selain hikmah tersebut, ada sederet lagi masalah yang menggayut di lengan Pemerintah Kota Bandung. Di antaranya, masalah TPA Sarimukti yang kerapkali diprotes warga setempat dan sekitar jalan akses truk-truk sampah. Begitu pula pemerintah provinsi, berkaitan dengan rencana TPA Legok Nangka. Apa dan bagaimana realisasi dan metode transportasi truk menuju lokasi? Dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi, sesekali banjir di Rancaekek, apalagi pada musim libur dan lebaran, tentu bukan hal mudah bagi puluhan armada sampah berlalu-lalang di zone ini. Apalagi lokasinya menurun, menuju ke arah Nagreg.

Agar peristiwa Sarimukti tidak berulang di Legok Nangka, maka persiapan lapisan dasar TPA harus betul-betul mengikuti kaidah desain dan maksimal, karena ini berkaitan dengan pemanfaatan biogasnya di masa depan. Secara teoretis, dari 1.000 kg COD air sampah (lindi) dapat dihasilkan 12 juta BTU (British Thermal Unit) sebagai metana; 10.000 BTU sekira 1 KWH. Selamat memperingati satu dasawarsa longsor TPA Leuwigajah, dikenang untuk tidak terulang. *

ReadMore »

30 Januari 2015

Open Dump Sarimukti

Open Dump Sarimukti
By Gede H. Cahyana


There is a big problem of solid waste management and disposal in Indonesia. What’s that? Volume! Volume or rate of generation is out of the box. Not business as ussual, for example is the tonnage of solid waste in Bandung city that dumped in Sarimukti.

TPA Sarimukti is the only one of disposal point for solid waste of Bandung and Cimahi. This point is an open dumping, not a sanitary landfill. For this time, management of solid waste always take a NIMBY principle: not in my backyard. It should be switched to another principle like waste for one is added value for another.

Sarimukti has two problems, i.e: quantity of solid waste and condition of disposal point. About 5,000 m3 per day, the generation of solid waste need a very large area for disposal such as sanitary landfill or at least controlled landfill. Not open dumping as usually. Social problem appeared because of the open dumping release its rotten odor and bad smell.

So, the leachate treatment is also failure to get the best quality of effluent, esspecially in rainy season, and because of its collapse in hydraudinamic coresspond to plant design. To make it become optimal treatment, leachate must be treated by plant that follow the design criteria in regulations or textbooks. For the solution of this problem of waste, the provincial government and three local governments around great Bandung basin need to work together to help each other, both in the provision of land for the sanitary landfill, and in terms of social and public health cases around the disposal area.


Rights and obligations of each local government should be accomplished so that there are no conflicts in the communities and result a win-win solution. *

ReadMore »

22 Januari 2015

Bukan Rumah Kaca Abraham Samad

Bukan Rumah Kaca Abraham Samad
Oleh Gede H. Cahyana


Tulisan berjudul Rumah Kaca Abraham Samad di Kompasiana dibetulkan oleh elite PDIP, Hasto Kristiyanto, seorang Plt Sekjen PDIP di Metrotvnews.com. Ini sungguh mengejutkan banyak kalangan, baik di komunitas KIH maupun di KMP. Namun demikian, meniru acara Empat Mata dan Bukan Empat Mata, maka tulisan kali ini dijuduli Bukan Rumah Kaca Abraham Samad yang cenderung ekologi sentris, bukan ekopolitik. Ini tentang Efek Rumah Kaca yang dikaitkan dengan potensi banjir sejagat. Apa penyebabnya dan bagaimana banjir itu bisa terjadi? Ini berawal dari gas-gas rumah kaca dan satu di antaranya adalah karbondioksida.

Karbon dioksida adalah gas yang secara alamiah ada di alam dan tidak berbahaya. Gas ini digunakan  untuk fotosintesis tanaman berklorofil. Kejadiannya menjadi lain apabila konsentrasi gas ini sangat tinggi di atmosfer yang membentuk selimut CO2 sehingga pantulan cahaya matahari dari bumi berbalik lagi menuju bumi. Kejadian ini berulang sehingga temperatur atmosfer meningkat. Diperkirakan pada pertengahan abad ke-21 nanti temperatur bumi meningkat rata-rata  3o C atau 1o C di katulistiwa dan 7o C di kutub. Akibatnya, gunung es di kedua kutub bumi mencair sehingga banyak pulau-pulau kecil lenyap dari permukaan laut dan kota-kota pantai (water front city) bisa  tenggelam. Pantai Utara Jakarta diperkirakan tenggelam 7 meter di bawah muka air. Selain itu, daratan menjadi kering sehingga hasil perkebunan,  pertanian, perikanan, peternakan  berkurang.

Betulkah pulau-pulau bisa tenggelam karena efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global? Akankah Dunia Air itu bisa betul-betul terjadi? Ada kajian ilmiah yang disebut Teori Lebur atau Melting Theory. Intinya adalah kontradiksi yang dapat terjadi jika global warming makin parah. Ada dua hal penting yang bisa terjadi, yaitu perubahan tinggi muka air laut karena daratan bergerak relatif terhadap lautan (isostatik) dan perubahan yang terjadi karena volume air laut bertambah akibat pencairan es dan salju (eustatik).

Jika demikian, mencairkah es di kedua kutub Bumi itu? Para pakar terbelah pendapatnya pada soal ini. Sekelompok ahli yakin bahwa es di kedua kutub itu akan mencair jika pemanasan global tak berkurang. Es yang terus berubah menjadi air lalu masuk ke laut sehingga muka air laut meninggi yang lantas “memakan” pantai, mengurangi garis pantai dan menenggelamkan nusa-nusa. Namun ada pendapat lain. Kelompok ini justru yakin bahwa ada beda karakter atas kedua kutub Bumi. Katanya, kutub Selatan (Antartika) adalah dataran yang ditutupi es. Sebaliknya kutub Utara (Artik) adalah air laut yang membeku membentuk pulau es dan gunung-gunung es. Dengan kata lain, kutub Utara, kecuali Greenland, adalah es yang terapung.

Andaikata temperatur global betul-betul naik ekstrem, apa yang akan terjadi pada es di kedua kutub itu? Jika pulau apung di Artik mencair, maka takkan banyak berpengaruh pada tinggi muka air laut. Ini mirip dengan gelas yang berisi air dan ada sepotong es yang menyembul di permukaannya. Meskipun es itu habis mencair, sesuai dengan hukum Archimedes, maka airnya takkan tumpah. Jadi, peleburan es di Artik hanya akan mengubah wujudnya dari padat mencari cair sehingga tak berpengaruh pada kenaikan muka air laut global.

Hal berseberangan bisa terjadi di Antartika. Gunung es di kutub dapat mempengaruhi muka air laut karena volumenya cukup besar untuk menambah volume air laut global. Hanya saja, karakter lingkungan di Antartika sangat-sangat dingin. Temperaturnya jauh di bawah titik nol sehingga esnya tak mudah mencair. Pemanasan global tak mampu mencairkan esnya. Andaikata pemanasan global dapat mencairkan es di sana maka diduga semua manusia sudah mati. Semuanya tewas akibat heat stroke, fenomena yang sering menimpa jamaah haji dan negara di Eropa ketika musim panas, sebelum berdampak pada kenaikan muka air laut.

Lebih jauh lagi, hal muskil pun dapat saja terjadi dan kontradiktif. Pemanasan global justru menyebabkan air laut di kutub Selatan menguap dan terus menguap. Hembusan angin lantas membawanya ke daratan kutub dan akhirnya jatuh membeku di sana. Jika kejadian ini berlangsung menerus maka air laut pindah ke darat lalu menjadi es. Maka, yang terjadi justru penurunan muka air laut, bukan kenaikan! Artinya, pantai kita meluas dan muncul nusa-nusa baru.

Tampaklah bahwa pemanasan global, karamnya pulau dan banjir sejagat tak mudah dijelaskan karena belum pernah terjadi, belum ada pengalaman. Yang ada hanyalah film-nya Kevin Kostner yang juga banyak menuai kontroversi dan dianggap tak ilmiah. Tapi itulah yang terjadi, dunia teoretis berbakuhantam dengan kreativitas sineas.

Namun demikian, apapun teorinya dan bagaimanapun cara orang menjelaskannya, yang pasti pemanasan global akibat efek rumah kaca akan mempengaruhi aktivitas kita. Polusi CO2 yang kian parah, andaipun kecil dampaknya pada kenaikan muka air laut, tetapi besar pengaruhnya pada paru-paru kita, pada kenyamanan kerja kita, pada produktivitas kita.*
----------------------------------------------------------

Apabila tertarik membaca tulisan Rumah Kaca Abraham Samad versi politik di Kompasiana, silakan klik di sini, sebelum di delete, suatu saat kelak.

ReadMore »

21 Januari 2015

IPA Nusantara a la Dr Ing. Ir. Mohajit, M.S

IPA Nusantara a la Dr Ing. Ir. Mohajit, M.S
Oleh Gede H. Cahyana


Teknologi pengolahan air baku (air sungai, waduk, danau) yang ada selama ini kebanyakan berupa teknologi konvensional, yaitu hanya berupa unit operasi dan proses klasik, dimulai sejak awal perkembangannya di Eropa dan Amerika Serikat. Lahan yang dibutuhkan untuk membangun menjadi sangat luas. Fokus utama biasanya di unit prasedimentasi dan sedimentasi.

Selanjutnya hadir modifikasi dengan plate settler, baik yang dipasang datar (horizontal) maupun miring (inclined). Tahap berikutnya berkembang tubesettler berbentuk sarang lebah pada dekade 1980-an. Kini, dengan inovasi yang dibuat oleh tim yang diketuai oleh Dr Ing. Ir. Mohajit, M.S, dosen Teknik Lingkungan ITB, perubahan unit operasi dan proses ini menghasilkan uprating di luar kapasitas biasanya. Kapasitas bisa dijadikan tiga kali kapasitas aslinya. Artinya, dengan luas lahan yang sama, inovasi teknologi ini menghasilkan kapasitas olahan 300% dari kapasitas desain konvensional.

IPA atau IPAM ini pun, menurut tim pembuatnya, tidak dipatenkan agar dapat diperbanyak di mana-mana, termasuk di luar negeri. Siapapun bisa membangun unit yang sama tanpa harus memberikan honor (uang) kepada tim pembuatnya. Ini adalah lompatan quantum di bidang teknologi pengolahan air minum. Good luck for the team, and for Pak Mohajit, It’s a great idea.*

ReadMore »

19 Januari 2015

Nol



Nol

“Nomor hp-mu berapa?”

“Kosong delapan satu lima ….”

Jawaban di atas sering terdengar dalam keseharian. Mengapa dikatakan kosong? Kenapa tidak disebut nol? Kosong dan nol berbeda maknanya dalam matematika, logika, fisika, realita. Tertawa kita? Tak pa-pa, itulah fakta.

Yang pasti, angka nol tak ada dalam angka Romawi. Hanya angka Arab yang memiliki angka nol dengan simbol titik. Dalam perkembangannya, angka nol lantas disimbolkan dengan ”0” dan dieja dengan nol atau nul atau null (English) dan dimasukkan ke dalam kelompok bilangan genap!

Makna nol ialah zero atau ”ada yang tiada dan tiada yang ada”. Analoginya kolong dipan. Ruang di bawah dipan yang dinamai kolong ini kalau dilihat-lihat dan dicari-cari tetap saja tidak ada. Tapi kita yakin ia ada. Ia ada dalam tiada. (Duh pabaliut kieu geningan).

Kosong artinya tidak ada atau empty. Dalam matematika, kosong ini menjadi himpunan bagian dari sebuah set himpunan (Semesta, S). Ia tidak memiliki anggota atau unsur. Jadi, kalau ada set himpunan yang anggotanya ”nol” maka himpunan bagiannya ada dua, yaitu himpunan bagian kosong dan nol.

Dalam bisnis, angka nol memegang posisi utama. Salah jumlah atau salah menempatkan angka nol bisa merunyamkan semua orang. Di bidang elektronika dan sistem biner pun peran nol sangat penting. Ia angka istimewa. Ia perkasa. Berapa pun besarnya sebuah angka, kalau dikalikan dengan nol, hasilnya nol. Misalnya:

1 x 0 = 0
22 x 0 = 0
333 x 0 = 0
4444 x 0 = 0
55555 x 0 = 0
666666 x 0 = 0
7777777 x 0 = 0
88888888 x 0 = 0
999999999 x 0 = 0
1234567890 x 0 = 0


Lawan kali adalah bagi. Kalau suatu angka dibagi nol, maka hasilnya....? Misalnya:
1111111111 : 0 =
222222222 : 0 =
33333333 : 0 =
4444444 : 0 =
555555 : 0 =
66666 : 0 =
7777 : 0 =
888 : 0 =
99 : 0 =
0 : 0 =


Allah Swt berfirman dalam QS Al-Fajr (89): 3. ”Demi yang genap dan yang ganjil.” Apa maknanya Allah menyebut atau bersumpah atas yang genap dan yang ganjil?

1234567890- ghc -0987654321- J

“Film apa sih, kok heboh buangeeet?” Pernah nonton filmnya? Itu lho, yang tentang kiamat menurut ramalan manusia. Betul, film "2012". 

“Dua nol satu dua!” Ini betul.
”Dua nol duabelas!” Ini juga ok.
”Duaribu duabelas!” Ini paling aman, gak bakalan deh ada yang bingung ngung ngung.

Mari biasakan diri membilang nol, bukan kosong, ketika merujuk pada angka yang simbolnya “0”. Cobalaahh.


ReadMore »

14 Januari 2015

Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan RI

Program Studi Teknik Lingkungan
S1 (Sarjana Teknik)

Universitas Kebangsaan

Sejak 1991 Yayasan Pendidikan Kebangsaan membuka Program Studi Teknik Lingkungan dan kini berakreditasi B. Tahun ini Prodi Teknik Lingkungan menerima calon mahasiswa lulusan SMA, MA, SMK, pesantren, Paket C. 

3,5 tahun menjadi sarjana
Khusus alumni SMK Analisis Kimia, Kimia Industri, dan Tekstil, ada apresiasi berupa  bebas 16 SKS (satu semester). Alumni akan memiliki dua kompetensi, yaitu di bidang analisis kimia, industri, tekstil dan di bidang rekayasa lingkungan. Untuk keperluan konversi nilai, calon mahasiswa menyerahkan fotokopi raport kelas 3 dan fotokopi ijazah SMK yang telah dilegalisasi.

Mata Kuliah yang disetarakan sbb:
1. Kimia Dasar I  : 3 SKS
2. Kimia Dasar II  : 3 SKS
3. Kimia Lingkungan  : 3 SKS
4. Laboratorium Lingkungan I  : 2 SKS
5. Laboratorium Lingkungan II  : 2 SKS
6. Mikrobiologi Lingkungan  : 3 SKS

Jumlah = 16 SKS (1 smt). Kuliah bisa dipercepat dengan Semester Padat (SP).
A. VISI
Terwujudnya program studi yang unggul dalam bidang teknik penyehatan dan lingkungan khususnya air minum, air limbah, dan persampahan di tingkat nasional pada tahun 2022.

B. MISI
1. Menyelenggarakan sistem pendidikan yang profesional, kreatif, dan inovatif, serta berkualitas dalam bidang Teknik  Penyehatan dan Lingkungan.
2. Melaksanakan penelitian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Teknik Lingkungan.
3. Melaksanakan pengabdian sebagai bentuk kepedulian dan solidaritas sosial dalam rangka penerapan ilmu teknik penyehatan dan lingkungan kepada masyarakat.
4. Menjalin kerjasama (networking) dengan berbagai instansi yang relevan dalam lingkup regional, nasional dan luar negeri.

C. TUJUAN
1. Menghasilkan lulusan yang unggul, kompetitif pada bidang Teknik penyehatan dan lingkungan.
2. Menghasilkan riset di bidang teknik penyehatan dan lingkungan yang tepat guna bagi masyarakat.
3. Memberikan sumbangsih kegiatan pengabdian masyarakat dalam bentuk pemikiran dan pemecahan masalah terhadap kebutuhan masyarakat.
4. Menghasilkan kerjasama (networking) dengan berbagai instansi  di  tingkat regional, nasional, maupun internasional.

D.  SASARAN
Sasaran yang akan dicapai ialah menghasilkan lulusan atau sarjana Teknik Lingkungan yang berkecimpung di bidang air minum, air limbah, udara, persampahan, kesehatan lingkungan, baik individu maupun kelompok, yang bermanfaat bagi masyarakat

E. PROFIL LULUSAN
Lulusan Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Kebangsaan memiliki kemampuan bekerja dan wirausaha (entrepreneur)  di bidang sistem penyediaan air minum kota, desa, dan isi ulang, sistem penyaluran air limbah, perancangan IPAM dan IPAL untuk hotel, rumah sakit, pabrik, AMDAL, UKL UPL, perubahan iklim, perancangan TPA sampah. 

Bidang kerjanya bisa di pemerintah, BUMN, BUMD, dan swasta (konsultan lingkungan), yaitu Bappenas, Bappeda, Departemen/ Dinas Pekerjaan Umum, Kesehatan, Dinas/Badan Lingkungan Hidup, PDAM, PAM Swasta, PDAL, pertambangan, industri migas, industri semen, pupuk, dll, rumah sakit, pengelola lingkungan di kawasan industri, guru PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup), dosen, wirausaha air minum. 

F. KOMPETENSI LULUSAN
 Kompetensi Utama
1.       Lulusan mampu merencanakan, merancang, dan menerapkan teknologi bidang teknik penyehatan dan lingkungan.
2.      Lulusan mampu membuat rencana induk sistem penyediaan air minum (RISPAM).
3.      Lulusan mampu membuat rencana rinci (DED: Detailed Engineering Design) air minum mulai dari unit sumber air, unit transmisi, unit produksi, unit distribusi, dan unit pelayanan.
4.      Lulusan mampu membuat rencana induk pengelolaan air limbah, penyaluran air limbah (sewerage system), dan merancang IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah).
5.      Lulusan mampu membuat rencana induk persampahan, sistem pengelolaan (manajemen) persampahan dan merancang sanitary landfill yang dilengkapi IPALin (Instalasi Pengolahan Air Lindi (leachate).
6.      Lulusan mampu mengelola lingkungan dalam pekerjaan RKL, RPL, dan Amdal suatu kegiatan.
7.      Lulusan Diploma 1 mampu melaksanakan pekerjaan “water and sanitation” di perdesaan dalam kerangka penerapan Undang-Undang Desa dan menjadi asisten perencana di konsultan.

Kompetensi Pendukung
1.   Lulusan mampu mengerjakan pekerjaan laboratorium lingkungan seperti analisis air minum, air limbah, sampah.
2.   Lulusan mampu menggunakan teodolit dan mampu membuat peta dan poligon dalam pekerjaan air minum, air limbah.
3.   Lulusan mampu memanfaatkan beberapa perangkat lunak seperti wordprocessor, spreadsheet, presentation, sketch-up, autocad.
4.   Lulusan mampu membuat instalasi air minum isi ulang dan bisnisnya.
5.   Lulusan memiliki pengetahuan tentang dampak perkembangan teknologi terhadap lingkungan



KETUA YAYASAN
Letjen. TNI (Purn.) Prabowo Subianto
ReadMore »