• L3
  • Email :
  • Search :

21 Oktober 2006

Ngejot: Parsel Lebaran a la Bali

Ketika heboh parsel di Jakarta, Bandung dan kota-kota besar lainnya, di Bali aman-aman saja. Tak ada imbas sedikit pun. Malah dilaksanakan terang-terangan. Pasalnya, parsel khas a la Bali ini sudah terjadi puluhan tahun lalu, jauh mendahului budaya parsel di kota-kota besar. Apalagi pengiriman parsel jenis ini tidak berkaitan dengan budaya KKN yang membelit aparat dan rakyat tetapi sebagai penerus budaya toleransi di Bali.

Bedanya lagi, parsel ini diberikan bukan kepada pejabat atau atasan di kantor, melainkan diberikan kepada semua orang tanpa memandang taraf sosial-ekonominya. Orang kaya pun, misalnya seorang pengusaha, pasti dikirimi parsel tanpa ada udang di balik batu. Yang biasa terjadi adalah parsel dikirimkan kepada orang di luar agama mereka. Kalau orang Hindhu, maka parselnya dibagikan kepada orang Islam, Kristen, dll. Kalau muslim, maka penerimanya adalah orang Hindhu, Kristen, dll. Orang Bali menamai "parsel" khasnya ini dengan sebutan ngejot.

Ngejot memang sudah lumrah. Bentuknya tidak seperti parsel modern yang dibuat dari wadah rotan, kayu, dan dihias artistik. Selain berbeda motivasi pemberiannya, harganya pun bagai bumi dan langit. Ketika nilai parsel modern berjuta-juta rupiah, harga parsel tradisional Bali bisa dijangkau oleh semua lapisan ekonomi. Yang penting ikut berbagi dan filosofinya adalah berbagi kebahagiaan. Harga paling mahal sekarang tak lebih dari dua puluh ribu rupiah. Penerimanya adalah tetangga dalam lingkup satu RT/RW, banjar atau yang sudah akrab dikenal. Kenapa bisa semurah itu? Sebab, yang diparselkan adalah makanan berupa nasi, sayur dan lauk-pauknya. Kalau uangnya ada bisa juga ditambahi dengan kue kering.

Aktivitas ngejot itu dilakoni oleh umat Hindhu dan Islam. Seperti halnya Walisongo dalam meluaskan dakwahnya di Jawa, mereka berupaya memodifikasi kebiasaan penduduk asli. Maka, umat Islam di Bali pun memodifikasi kebiasaan orang Hindhu ketika menyambut hari raya Galungan dan Kuningan. Sebelum Galungan, hari raya yang selalu jatuh pada hari Rabu per 210 hari kalender Bali itu didahului oleh untaian prosesi. Yang pertama adalah pengejukan atau penangkapan babi. Berikutnya adalah penampahan (pemotongan babi). Potong babi ini dilaksanakan bersama-sama, baik antara tetangga maupun antara saudara sedarah seketurunan. Baru setelah itu dilaksanakan pengejotan. Karena tahu umat Islam tidak boleh makan babi maka yang dijot bianya kue dan buah-buahan. Kalaupun ada nasi, tapi lauk-pauknya dari daging ayam.

Setelah ngejot, kaum muslim siap-siap menyambut lebaran. Ada yang membuat kue-kue dengan mengerahkan anak-anak, cucu, kakek, nenek, dll. Mereka terus bekerja bahkan sampai ada yang rela tidak puasa demi memasak yang begitu banyak. Tepat pada hari lebaran, suasananya tidak seramai di Jawa dan Madura. Yang lebih ramai adalah di objek wisata karena banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik yang berlibur ke Bali. Bahkan dua hari sebelum lebaran banyak yang sudah tinggal di hotel dan melaksanakan salat Ied di sekitar hotel. Malah ada hotel yang jelas-jelas berpromosi bahwa akan diadakan shalat Ied di dekat hotel.

Namun demikian, di "kantong-kantong" Islam, katakanlah di Desa Pegayaman di Bali Utara, ada kekecualian. Desa yang letaknya di bukit Kecamatan Sukasada ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan diyakini seratus persen pemukimnya ber-KTP dengan keterangan Islam di baris agamanya. Dengan penduduk sekitar 5.000-an orang, Pegayaman adalah mikrokomunitas khas muslim. Mereka berasal dari keturunan prajurit Kerajaan Blambangan, Jawa Timur. Seperti muslim di daerah lain, mereka pun melaksanakan serial budaya seperti penampahan (potong ayam, kambing), dll.

Fenomena serupa terjadi juga di Desa Soka, di Selatan Gunung Batukaru, di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Desa di daerah dingin ini juga nyaris seratus persen penduduknya beragama Islam. Seperti Pegayaman, warga di sentra sayur-mayur ini (selain Desa Senganan: sebuah desa di kaki Gunung Batukaru dan masuk wilayah Kecamatan Penebel Tabanan) pun berinteraksi dengan orang-orang Hindhu. Bahkan prosesi budaya dalam menyambut lebaran sangat mirip dengan menyambut hari raya Galungan dan Kuningan. Hal demikian pun terjadi di kota Tabanan, sebuah kota kabupaten yang letaknya hanya 9 km dari pantai Selatan Yeh Gangga.

Demikianlah ngejot, budaya yang dilakoni oleh kaum muslim dan umat Hindhu dalam menyambut hari rayanya masing-masing dan mampu mempererat ikatan kekeluargaan sebagai sesama orang Indonesia atau sesama manusia.

Selamat Idulfitri, taqabbalallahu minna wa minkum. *
ReadMore »

14 Oktober 2006

Tarif PDAM Layak Naik

Tarif PDAM Layak Naik
Oleh Gede H. Cahyana

Seorang anak sedang bingung. Ia dihadapkan pada buah simalakama. Jika dimakan, bapaknya mati; jika tak dimakan, ibunya yang mati. Setelah lama berpikir akhirnya ia berkeputusan: tidak dimakan! Pertimbangannya adalah jangka panjang atau masa depan. Ia sedang sekolah dan perlu biaya. Bapaknyalah yang selama ini mencari nafkah.

Walau demikian, di kalbunya ia tetap mencintai ibunya. Ia lahir dari rahim ibunya, disusukan oleh ibunya, disapih juga oleh ibunya. Bukan karena tak sayang pada ibunya, melainkan kondisilah yang menyebabkan ia harus memilih agar masa depannya dapat berlangsung. Dengan ikhlas ia mendoakan ibunya agar diampuni dosa-dosanya. Keikhlasan inilah yang diharapkannya bisa membahagiakan ibunya di akhirat kelak.

Buah Simalakama
Apa hikmah kisah di atas bagi PDAM dan pelanggannya? Naik-tidaknya tarif PDAM mirip buah simalakama. Naik atau tidak, tetap akan berdampak pada PDAM dan pelanggannya. Karena skala prioritasnya berada di kwadran mendesak dan penting, maka keputusan harus segera dibuat dengan segala risikonya. Tinggal dipertimbangkan efeknya pada masa depan, pada kelanggengan pasokan air, pada kualitas kesehatan masyarakat, dan pada upaya pencapaian Millenium Development Goals (MDG), persis seperti evaluasi yang dilakukan oleh anak dalam kisah tersebut.

Bagi pelanggan, kalau tarifnya naik berarti membayar lebih mahal per volume air yang sama. Ini menjadi masalah ketika pendapatannya tetap atau bahkan turun. Apalagi harga-harga terus naik dan PHK terjadi di mana-mana. Sebaliknya, kalau tidak naik maka rekeningnya akan tetap seperti sekarang tetapi tak ada peluang perbaikan pelayanan PDAM. Pipa-pipanya yang bocor tetap bocor, debit olahannya yang kecil tetap kecil dan tak mungkin ditingkatkan, juga tidak bisa mencari sumber air baru atau membangun instalasi baru sebagai penambah suplai air dan perluasan daerah layanannya.

Bagi PDAM, kalau tarifnya tidak naik maka kualitas layanannya tetap seperti sekarang, bahkan bisa lebih buruk karena harga zat kimia, pipa dan aksesorisnya sudah naik dan tak punya cukup dana untuk merehabilitasi sistemnya. Ongkos operasi-rawatnya pun kian mahal, tak setara dengan pendapatannya. PDAM pun tak mampu meluaskan daerah servisnya bahkan cakupan layanannya bisa menurun karena debit airnya susut disertai peningkatan kebocoran pipa-pipa tua. Kian besarlah kehilangan airnya seiring dengan penurunan kualitasnya, seperti makin keruh, bercacing, berbakteri, berlanyau (slime), dan berisi bermacam-macam pencemar dari limbah domestik dan pabrik.

Sebaliknya, kalau naik tarifnya ada kemungkinan PDAM dapat mereparasi kualitas layanannya. Dapat mengganti pipa-pipanya yang bocor, membuat unit pengolah baru, merehabilitasi unit pengolah lama, mampu membeli zat kimia (reagen), mampu mengganti peralatan mekanikal dan bahkan mampu meluaskan area servisnya. Juga mampu meningkatkan kualitas pegawainya (SDM). Dan yang pasti, tak perlu minta bantuan perusahaan air swasta (asing) untuk menangani PDAM. Dari hulu sampai hilir, dari direksi sampai klinsi (cleaning service) diemban oleh orang Indonesia sehingga privatisasi bisa dicegah sekaligus menyelamatkan pelanggan dari ancaman tarif yang terlampau tinggi.

Setelah naik tarifnya, selanjutnya ialah pengawasan seksama atau melekat oleh DPRD dan Badan Pengawas (BP). BP PDAM pun harus betul-betul tinggi kompetensinya agar tak sekadar ada tetapi tiada. Adanya sama dengan tiadanya. Pengawasan pun bisa dilakukan oleh pelanggan dengan cara membentuk paguyuban atau asosiasi atau oleh LSM yang concern pada kesehatan masyarakat, sanitasi dan air bersih.

Layak Naik
Di mana-mana, sejak dulu sampai sekarang, resistensi atas kenaikan tarif selalu ada. Tak hanya soal air, tapi juga soal listrik, gas, angkot, bis, kereta api, dll. Bagaimana dengan PDAM? Opsi mana yang mesti diambil? Untuk saat ini sebaiknya buah simalakama itu jangan dimakan! Artinya, pelanggan diminta mau mengerti dulu dan rela menjadi “ibu” seperti kisah di atas. Pelanggan berkorban demi pelanggan, demi perbaikan mutu pada masa depan.

Dipahami bersama, tarif adalah komponen terawan dalam interaksi PDAM-pelanggan. Karena kondisinya mendesak, maka keputusan naik tarif harus segera diberlakukan justru demi peningkatan kualitas layanan. Apalagi kalau PDAM telah lama tidak menaikkan tarifnya dan bahkan tarifnya di bawah tarif rerata PDAM lain. Bagaimanapun, hakikatnya PDAM adalah milik pelanggan, seperti halnya air itu milik rakyat. Menolong PDAM sama dengan menolong pelanggan, menolong diri sendiri.

Pada saat yang sama DPRD pun harus betul-betul mewakili rakyat dan mampu mengevaluasi kondisi sosial ekonomi mayoritas rakyat, sekaligus memahami kondisi PDAM yang berkaitan dengan ongkos operasi-rawat instalasinya, gaji karyawannya, sumbangannya untuk APBD dan biaya pengembangan PDAM. Jangan sampai DPRD takut dan khawatir dianggap tidak aspiratif karena setuju pada kenaikan tarif. Proyeksi jangka pendek memang terasa merugikan pelanggan tetapi dalam jangka panjang, dengan janji perbaikan oleh PDAM, dengan berbenah di instalasi, transmisi dan distribusinya boleh jadi menguntungkan pelanggan.

Prinsipnya, tarif harus menguntungkan kedua belah pihak. Dalam hal ini DPRD wajib mengakomodasi keduanya. Pelanggan harus dibela, PDAM pun harus dibela. Membela PDAM pun sebetulnya membela kepentingan rakyat. Kalau PDAM tak mampu lagi beroperasi, yang rugi tentu rakyat (pelanggan) juga. Tak ada air berarti tak bisa mencuci, tidak mandi dan tak ada aktivitas bebersih. MDG 2015 pun, yaitu dasawarsa air bersih mondial periode dua, takkan mungkin tercapai, malah sanitasi mayoritas rakyat kian buruk. Yang menderita dan kena wabah pemula (penyakit menular lewat air) lagi-lagi masyarakat.

Pelanggan Peduli
Pelanggan adalah raja. Pada saat yang sama pelanggan pun harus “mempresidenkan” PDAM. Mau memahami beratnya tugas “presiden” (PDAM) yang mesti melayani “rakyatnya” (pelanggan). Semua “rakyatnya”, baik yang dekat instalasi maupun yang jauh dari instalasi, minta dilayani dengan maksimal. Ini sulit kalau tidak didukung oleh topografi kota. Tetapi permintaan itu wajar-wajar saja sebab “rakyat” sudah membayar rekeningnya. Jika pelanggan sudah akomodatif atas tarif, maka wajib bagi PDAM untuk memuaskan pelanggannya. Semua pelanggan, baik yang tinggal di daerah rendah maupun di daerah tinggi, harus dipuaskan. Inilah tantangan besar bagi PDAM dalam mendesain sistem distribusi agar tekanan dan debitnya setimbang.

Dengan segala kerumitan operasi-rawatnya, terutama pengaturan air agar adil di sistem distribusinya, kenaikan tarif sejatinya wujud kepedulian PDAM dalam meningkatkan mutu layanannya. Sebaliknya, bisakah pelanggan peduli? Salah satu bentuk kepedulian adalah menyetujui kenaikan tarif dalam batas-batas kewajaran yang dibandingkan dengan biaya produksinya. Jika tidak, bisa saja PDAM benar-benar bangkrut. Dari mana nanti pelanggan mendapatkan air? Tidakkah wajar PDAM menaikkan tarifnya justru dalam kondisi ekonomi seperti ini? Cara ini lebih baik daripada berutang ke bank atau lembaga donor dunia yang membebani negara. Sekarang saja cicilan pokok dan bunga utangnya sudah lebih besar daripada dana pinjaman yang mengucur dalam setahun.

Lewat instrumen kenaikan tarif itu diharapkan PDAM mampu full cost recovery, mampu balik modal. Injeksi dana segar berupa tarif yang layak bagi kedua belah pihak hendaklah bermuara pada keadilan distribusi air plus membasmi dan mencegah sambungan liar dan bebas KKN. Juga mereduksi kehilangan air teknis dan administratif dan mengeksplorasi sumber air baru atau memodifikasi instalasinya agar mampu menangani pencemar nonkonvensional.

Yang terakhir, aturlah tarifnya agar tak semahal harga amik (air minum kemasan) dan amiku (air minum kemasan ulang atau isi ulang) yang memang murni bisnis tanpa spirit sosial, murni profit oriented. Di sinilah kecerdasan sosial (social intelligence) insan-insan PDAM diuji setelah kenaikan tarifnya, apakah peka pada harapan pelanggan dengan cara serius mereparasi kinerjanya. Janji, sekecil apapun, tetaplah utang yang harus dilunasi.*

ReadMore »

8 Oktober 2006

Roughing FILTER

Dari ratusan instalasi pengolah(an) air minum (IPAM) di Indonesia, tidak banyak yang menerapkan unit Roughing Filter. Kebanyakan PDAM membuat unit prasedimentasi (prased) atau semacam kolam penampung air baku sebelum airnya dialirkan ke unit pengolah (complete treatment). Ini kalau airnya dari sungai. Yang sumber airnya dari danau atau waduk biasanya tidak perlu unit praolah karena keduanya sudah berfungsi sebagai prased alami.

Dari sisi operasi-rawatnya, Roughing Filter atau Filter Kasar, selanjutnya disingkat FK, lebih memakan waktu daripada prased maupun kolam penampung. Tetapi dari sisi kualitas olahannya, FK menghasilkan air yang lebih jernih per debit yang sama. Apalagi kalau dilanjutkan dengan unit filter pasir lambat atau fipal (slow sand filter), akan jauh lebih bagus lagi kualitasnya.

Ciri khas filter adalah medianya. Disusun oleh bebatuan (kerikil, koral), filter memiliki ruang antarbutir (porositas) yang fungsinya sebagai ruang sedimentasi. Ada ribuan ruang sedimentasi di dalam FK dan ini bergantung pada dimensinya. Selain sedimentasi, terjadi juga fenomena filtrasi dan biomekanisme yang mampu menyisihkan bakteri seperti pada fipal. Bedanya, dalam fipal, penyisihan bakteri dimonopoli oleh lapisan kotor (dirty layer) yang disebut schmutzdecke.


Spesifikasi
Berdasarkan arah alirannya, FK bisa dibagi menjadi dua, yaitu aliran horisontal dan aliran vertikal. FK Horisontal atau FKH lebih populer dibandingkan dengan FK Vertikal, FKV. Dalam FKH, kapasitas penampung lumpurnya lebih besar daripada FKV karena medianya lebih besar dan unitnya lebih panjang. Medianya bergradasi, besar di bagian hulu (inlet) dan mengecil ke arah hilir (outlet). Ada juga yang lain, yaitu besar di bagian hulu lalu mengecil di tengah-tengah kemudian membesar lagi ke arah hilir.

Variasi dan gradasi media itu bisa begitu kontras. Misalnya, di ruang pertama, yaitu ruang terdekat dengan inlet, medianya homogen berdiameter 3,5 cm. Di ruang berikutnya mengecil menjadi 3,0 cm, lalu 2,0 cm, dan terakhir bisa menjadi hanya 0,5 cm. Partikel terbesar diharapkan tersisih di hulunya, yang lebih kecil di ruang selanjutnya. Dengan kata lain, kalau dilengkapi fasilitas cuci-balik (backwashing) maka kecepatan ke atas (upflow) air di ruang hulu harus lebih besar daripada di ruang hilir. Memang tak perlu terjadi ekspansi di sini. Gradasi kecepatannya itu untuk melepaskan lumpur yang terperangkap di ruang antarbutirnya.

Pada FKH, pembatas antarruang bisa menggunakan sekat dari kawat, kayu, atau material inert lainnya. Tanpa sekat pun boleh-boleh saja asalkan bisa mengatur letak kerikilnya agar tidak bercampur menjadi sangat heterogen dalam satu ruang. Demi keamanan, bagian atas FKH bisa ditutup dengan pelapis berbahan fiberglas, pelat, atau dari tanah lempung agar air kotor di luar tidak masuk ke dalam filter. Penutup ini menghalangi sinar matahari sehingga mencegah perbiakan algae. Agar kian aman, ambangnya (freeboard) ditinggikan dan lengkapi dengan pipa peluap (overflow). Bahan dinding bisa dari beton bisa juga dari kayu yang tahan air.

Bagaimana dengan FKV? Unit vertikal bisa upflow (aliran ke atas), bisa juga downflow (aliran ke bawah). Pada unit upflow, lapisan terbawahnya berdiameter terbesar dan mengecil ke atas. Tebal medianya bervariasi antara 50 ? 75 cm dengan tinggi totalnya 2 m. Diameter terbawah sekitar 15 ? 20 mm, yang di atasnya 10 mm, dan yang terkecil di bagian atas 5 mm. Kecepatan filtrasinya mencapai 20 m/jam, jauh di atas FKH yang besarnya antara 0,5 ? 4 m/jam atau (0,3 ? 1,0 m/jam, ini dianggap optimal). Desainnya serupa dengan flokulator media berbutir (gravel bed flocculator) dan bahkan bisa dijadikan pengganti unit flokulasi dan sedimentasi dalam instalasi filter pasir cepat (fipat). Hanya saja, perawatannya lebih berat dan memakan waktu. Pembuatannya pun relatif lebih sulit.

Bagaimana cara membersihkannya? Pembersihan media dilakukan dengan menggelontorkan air-cuci (berasal dari air filtrat) atau dengan membongkar medianya lalu dibersihkan kemudian dipasang lagi. Pada FKV lebih sulit dilakukan dan boros air. Tenggang waktu pembersihannya, biasa disebut umur filter atau waktu-hidup (lifetime), bergantung pada volumenya. Umumnya berumur antara 2 - 5 tahun. Tetapi tetap saja sangat bergantung pada tingkat kekeruhan air bakunya.

Inilah sketsa FK.
















Pada gambar di atas diperlihatkan FKH dengan rerata panjang ruang 2 m dan tinggi 1 m. Teoretisnya, panjang filter antara 5 - 10 m dengan rasio panjang : lebar = 6 : 1. Gradasi media mulai dari 2 cm lalu mengecil menjadi 0,3 cm. FKH ini dipasang dekat sungai. Lewat pipa yang diberi skrin jeruji, air sungai dialirkan secara gravitasi kemudian difilter oleh medianya. Pada FKV, medianya diawali oleh diameter 2 cm, terus mengecil sampai 0,5 cm. Tentu saja boleh menggunakan diameter lain karena karakter kekeruhan sungainya berbeda-beda.

Seperti jenis filter lainnya, kecepatan filtrasi memegang peran penting pada kinerja FK. Dalam rentang nilai 0,3 sampai 1,0 m/jam, FKH bisa bekerja optimal dan masih dalam kelayakan dari sisi kualitas dan operasi-rawatnya. Namun yang paling umum diterapkan adalah kecepatan 0,5 m/jam untuk kekeruhan rendah, yaitu antara 15 ? 50 NTU dan 0,3 m/jam untuk yang kekeruhannya tinggi, mencapai 150 NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Dengan kecepatan filtrasi 0,5 m/jam dihasilkan air antara 85 ? 850 m3/hari, dan ini bergantung pada besar-kecilnya filter.

Bagaimana kualitas filtratnya? Meskipun sebagai unit praolah, kemampuannya menghilangkan bakteri patogen ternyata cukup tinggi, antara 60 - 70%. Kemampuannya menghilangkan kekeruhan juga bagus, yaitu 70 - 80%. Hanya saja, nilai ini akan bervariasi dari satu filter ke filter lainnya. Keutamaan lainnya, dapat dioperasikan dan dirawat oleh pekerja dengan tingkat pendidikan rendah. Lulus SMP pun, asalkan dilatih dulu, akan mampu bertugas. Mau mencoba? *
ReadMore »

3 Oktober 2006

Setengah Isi Setengah Kosong

Setengah Isi, Setengah Kosong
Oleh Gede H. Cahyana


Sabtu, 30 September 2006, Universitas Kebangsaan Bandung menggelar kuliah umum. Acara yang berlangsung di aula UK tersebut menghadirkan Parlindungan Marpaung, biasa disapa Pak Parlin, penulis buku Setengah Isi Setengah Kosong (Half Full-Half Empty). Sebelum ini saya sudah lumayan tahu isi ceramahnya di radio K-Lite FM Bandung. Dalam acara Smart Inspiring di radio itu, Pak Parlin selalu mengutarakan kisah-kisah penggugah hati. Inilah yang membuat saya tertarik dan ingin mengundangnya ke UK. Lantas terkemaslah acara yang berlangsung selama dua jam itu.

Dimulai dengan paparan tentang aktivitas kesehariannya, termasuk pengakuan pihak Maximum Impact. Inc., yaitu John C. Maxwell, pria kelahiran Jambi ini lantas memutar film. Lewat Infocus yang disediakan UK dan dari laptop yang dibawanya muncullah film tentang perkembangan teknologi yang begitu cepat berubah. Suatu saat, tutur alumnus Psikologi Universitas Padjadjaran ini, kuliah tidak lagi memerlukan ruang-ruang seperti sekarang. Tak perlu lagi tatap muka. Gaya kuliah Universitas Terbuka (UT), ujarnya lagi, akan kian berkembang. Komputer pun bahkan hanya berupa pena-pena yang bisa dihubungkan satu sama lain. Semuanya serba praktis dan mudah.

Dalam rentetan kuliahnya, ada satu hal yang menarik. Nanti, dan mungkin sekarang sudah terjadi, orang tidak lagi melihat seseorang itu lulusan sekolah apa. Orang tak bakal lagi bertanya tentang asal-usul universitasnya. Yang lebih dipentingkan adalah kualitas emosinya, khususnya sikap (attitude) dan ini bisa mencapai 50% dari total penilaian. Penguasaan ilmu yang berhulu pada IQ: kecerdasan akademis atau intelektual tak lebih dari 10%. Adapun sikap bersumber pada emotional quotient, EQ. Dengan lain kata, semua orang bisa sukses kalau ia mengelola kecerdasan intelektual dan emosinya dengan baik, terlepas dari apapun agama yang dianutnya.

Sukses memang bukan monopoli kaum beragama. Orang atheis pun bisa sukses dan maju bisnisnya, banyak perusahaannya. Hanya saja dimensi sukses tersebut termasuk dimensi sukses poin pertama, yaitu sukses di dunia. Tak seorang pun bisa memungkiri betapa orang-orang komunis tetap saja bisa maju dan kuat negaranya. Untuk kesuksesan materi ini, Sang Mahaesa memang tak pilih kasih. Sebagai Pencipta dunia dan isinya, Ia berikan semua jenis kenikmatan kepada pemburu dunia. Inilah yang saya dengar dari Pak Quraish Shihab, penulis tafsir Al Mishbah. Kenapa demikian? Kata penulis Lentera Hati ini, al-Khalik memiliki sifat Rahman (Pengasih), yaitu sifat yang ditebarkan untuk semua manusia. Adapun ar-Rahiim (Penyayang) hanya diperuntukkan bagi kaum muslim. (Dua kata ini ada dalam basmallah: Bismillaahir Rahmaanir Rahiim).

Demikianlah sukses paripurna, yaitu sukses dunia-akhirat. Mendengar kuliah Pak Parlin itu saya lantas teringat pada konsep saleh ritual dan saleh sosial. Sebagai penutup, jika dianalisis dari sisi keislaman, paparan trainer di PT KAI ini sungguh Islamis. Peran kerja keras dan jujur sangat dikedepankan dan manusia dinilai dari manfaatnya buat orang lain. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya diajarkan oleh semua agama di dunia. Tentu boleh-boleh saja orang per orang meninjaunya dari sudut pandang agamanya, dikaji dari kitab suci dan ajaran nabinya masing-masing. 

Demikian dan trims buat Pak Parlin yang telah membagikan ilmunya.

Parijs van Java, der bloem der indes bergsteiden.
Bandung, bunganya kota pegunungan di Nusantara.
Gede H. Cahyana
ReadMore »

26 September 2006

Olah Fosfat dengan Sequencing Batch Reactor

Selain sungai, badan air yang potensial dijadikan air baku bagi PDAM adalah waduk seperti Jatiluhur, Cirata, dan Saguling. Namun demikian, tak selalu kualitas air waduk itu memenuhi baku mutu air baku apalagi kalau melibatkan berbagai kepentingan: PLN, perikanan, pertanian, dan wisata. Interaksi beragam aktivitas dalam satu badan air itu dapat menimbulkan masalah air. PDAM misalnya, perlu air baku berkualitas standar, tak terlimbahi pakan ikan, limbah wisatawan, dan limbah pertanian. Semua limbah itu mengandung pencemar fosfat sehingga dianggap "musuh" oleh PDAM.

Faktanya, fosfat memang tidak seperti zat organik yang mudah disisihkan dengan teknologi konvensional. Senyawa yang dalam air berupa fosfat organik dan/atau fosfat anorganik (polifosfat dan ortofosfat) ini morfologinya bisa tersuspensi, bisa terlarut atau terikat dengan biomassa algae dan sel bakteri. Karakteristiknya ialah: (1) polifosfat: senyawa ini dapat dihidrolisis menjadi fosfat organik; (2) ortofosfat; (3) organik-P, banyak terkandung di dalam air limbah domestik, industri dan sludge biomassa.

Jenis Teknologi
Ada dua jenis teknologi yang diterapkan untuk menurunkan kadar fosfat, yaitu proses fisikokimia dan biologi (advanced treatment). Keduanya dapat digabungkan berupa proses bio-fisikokimia yang intinya adalah mengubah fosfat menjadi bentuk yang dapat dipresipitasi menggunakan senyawa kimia berupa aluminum (tawas dan sodium aluminat), besi (ferro klorida, ferri klorida, ferro sulfat, ferri sulfat), kapur dan polimer. Alum dan ferri klorida baik digunakan sebagai inti presipitator daripada kapur terutama jika digabungkan dengan polimer. Adapun presipitasi kalsium fosfat banyak terjadi pada siang hari ketika kadar CO2-nya turun, alkalinitas bikarbonatnya berkurang dan pH airnya meningkat karena ada fotosintesis algae.

Selanjutnya.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

24 September 2006

Pengalaman Puasa di Bali

Bali identik dengan Hindhu? Identik dengan pura? Betul. Tak kurang dari 97% orang Bali memeluk agama Hindhu atau Hindhu Dharma. Sisanya penganut selain Hindhu, salah satunya ialah penganut Islam. Jumlah muslimin di pulau endemik Jalak Putih ini nomor dua setelah umat Hindhu. Hanya saja rentang jumlahnya sangat lebar. Timpang sekali. Kaum muslimin sejak dulu sampai sekarang termasuk minoritas. Umat agama lain malah superminoritas.

Lantaran minoritas itulah kaum muslim memperoleh berkah berupa tantangan berat saat puasa. Ketika orang-orang makan-minum, toko dan pasar buka 18 jam, kaum muslim mesti menahan diri agar puasanya tidak batal. Muslimin yang bekerja di pemda atau di perusahaan otobis dan kereta api (bagian penjualan tiket di Denpasar) lebih berat lagi. Mereka tetap harus masuk pagi dan pulang sore seperti hari biasa, mulai awal sampai akhir puasa.


Selanjutnya.
ReadMore »

9 September 2006

Pulau Tenggelam, Mungkinkah?

Betulkah kematian gugusan pulau bisa terjadi karena pemanasan global? Artikel berikut ini sebagai bahan diskusi dan urun rembug atas artikel yang dimuat PR, Sabtu (26/8). Ditulis oleh Dr. M. Darussalam, tulisan berjudul Pemanasan Global dan Kematian Gugusan Pulau perlu ditambah dengan informasi berikut ini, terutama menyangkut probabilitas kekaraman pulau yang memang kontroversial.

Tak dimungkiri, kenaikan kosentrasi gas CO2 di muka Bumi menjadi salah satu sebab kenaikan temperatur muka Bumi. Bersama dengan gas metana yang ke luar deras dari rawa-rawa, sawah yang di panen, dan juga dari tangki septik di setiap rumah (ini justru jarang dibahas dalam seminar lingkungan), gas CO2 dimasukkan ke dalam gas rumah kaca (greenhouse gas). Industri otomotif yang demikian masif, terutama kendaraan roda dua, kian memperbesar kosentrasinya. Tambah runyam lagi karena terjadi pembakaran atau kebakaran hutan, seperti di Riau dan Kalimantan. Semua itu berdampak pada temperatur muka bumi. Dekade terpanas terjadi pada akhir abad ke-20, yaitu tahun 1990-an. Adapun tahun terpanas satu dekade terakhir ini ialah tahun 1998, 2001, dan 2005.

Namun demikian, ada pertanyaan yang belum juga terjawab secara meyakinkan dan menjadi polemik di antara pakar. Andaikata temperatur muka bumi terus naik, ...


selanjutnya.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

27 Agustus 2006

PLTS atau Waste to Energy?

Setelah lama bersilang pendapat dengan sejumlah elemen masyarakat, akhirnya pemerintah Kota Bandung mendapat angin segar setelah ITB dan PLN bersepakat akan membuat PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah). Malah kini ketiganya, yaitu ITB, PLN, dan pemkot Bandung (Pikiran Rakyat, Rabu, 2/8/06) berencana membuat PLTS atau waste to energy (WTE). Mereka bersikeras membangun teknologi pemunah sampah secara insinerator yang dilengkapi generator meskipun ditentang banyak orang.

Secara substansi, PLTS maupun WTE adalah setali tiga uang. Istilah dan sumber dananya “mungkin” berbeda tetapi proses dan dampak polusinya tetap sama. Dari sisi polusi lingkungan dan kesehatan, PLTS dan WTE jauh lebih bahaya daripada sistem disposal sanfil (sanitary landfill) dan buang bebas (open dumping) lantaran pencemarnya dapat menyebar ke dalam tanah, air, dan udara seluas-luasnya.

selanjutnya
Gede H. Cahyana
ReadMore »

Mengulas Kinerja PDAM

Tak diduga dan tidak masuk akal. Begitu ungkapan warga setelah mengetahui betapa besar tunggakan pelanggan kepada PDAM Kota Bandung. Jumlahnya mencapai Rp 40 milyar rupiah. Dalam kasus-kasus tindak pidana seperti sambungan gelap yang melibatkan pegawai PDAM, sudah pula dilakukan pemecatan. Penunggak rekening dan sambungan gelap itu pun sudah diputus sehingga dari 143.000-an pelanggannya, sekarang tersisa 139.000-an unit. Ada 4.000-an pelanggan yang diputus, demikian kata Dirut PDAM. Dalam diskusi Sabtu (12/8) yang dikemas oleh radio Mara Bandung itu terungkap pula bahwa banyak sekali terjadi kehilangan air.

Kehilangan air (unaccounted for water) tersebut tak hanya terjadi di PDAM Kota Bandung tapi juga di semua PDAM. Kisaran angkanya antara 20% dan 70%, dengan rerata 45%. Angka ini setara dengan 82% air yang terjual, tetapi tidak selalu sama dengan jumlah pendapatan yang diterima PDAM akibat berbagai manipulasi yang terjadi. Ujud kehilangan air itu, yaitu beda antara volume air di meter induk dan volume total di meter pelanggan, bisa karena bocor fisik seperti pipa pecah, rembesan di reservoir, dan kerusakan peralatan di jaringan distribusi, bisa juga karena bocor nonfisik seperti ketakakuratan meter airnya atau karena salah baca dan salah administrasi.

Demi mengendalikan kehilangan air tersebut, termasuk mempertahankan kualitas air olahannya, sejumlah tindakan bisa dilakukan oleh PDAM. Di antaranya adalah mengelola daerah distribusinya dengan cara menyeimbangkan tekanan di sekujur sistemnya, baik yang terdekat dengan instalasi maupun yang terjauh, lewat zoning system. Tanggap darurat dalam perbaikan pipa dan responsif atas laporan masyarakat, juga menjadwalkan secara rutin perawatan dan kendali pipa. Hal-hal tersebut dan sejumlah cara lainnya lagi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yang disebut reformasi rekayasa dan reformasi kekaryaan.

Berkaitan dengan kinerja instalasinya, sampai saat ini teknologi yang diterapkan PDAM untuk mengolah air masih menggunakan cara konvensional, belum menggunakan teknologi membran. Fokusnya pun sebatas kualitas fisika dan bakteriologi, tidak banyak memperhatikan aspek kimianya padahal kualitas air bakunya menurun dan potensial tercemari limbah pertanian dan rumah tangga, selain limbah industri. Andaipun ada yang diolah..

selanjutnya

Gede H. Cahyana
ReadMore »

Waspadai dan Cegah Muntaber

Muntaber mengganas di Karawang, Kec. Telukjambe, Desa Karangligar, Dusun Pangasinan. Sudah 84 orang yang menderita dan telah merenggut nyawa anak-anak. Di daerah lain, yaitu di Sukabumi Kec. Cisolok, muntaber menyerang 28 orang, dari anak-anak hingga orang dewasa. Demikian tulis koran PR (16/8). Selama kemarau ini sangat boleh jadi terjadi juga hal serupa di daerah-daerah lain yang krisis air minum. Setiap hari di berbagai media massa selalu saja ada berita kekeringan yang umumnya terjadi di Pantura Jawa Barat dan Jawa Tengah Utara ke Selatan.

Wabah yang disebabkan oleh mikroba seperti bakteri E. coli itu terjadi lantaran buruknya sanitasi dan masyarakat terbiasa membuang tinjanya di tanah terbuka, di air sungai, kolam, atau selokan. Seperti biasa, kemarau adalah saat-saat sulit air, khususnya air untuk minum dan memasak. Debit air sumur menurun bahkan sampai kering, mata air berkurang sehingga tak mampu lagi memenuhi seluruh penduduk setempat. Pada saat yang sama air sungai pun surut dan bahkan menghitam berbau busuk sehingga tak layak lagi dijadikan air pencuci pring, sendok, dll apalagi digunakan sebagai sumber air minum.

Sebagai penyakit perut (gastro enteritis), muntaber selalu ditransmisikan lewat feses (tinja) dan rute penularannya disebut rute amul (anus-mulut), yakni dari tinja penderita lalu lewat makanan ...

selanjutnya...

Gede H. Cahyana
ReadMore »

10 Agustus 2006

Palestina Menanti Titik Balik

Pekan lalu beredar SMS yang mengajak kaum muslim membaca surat al Fath, yaitu surat ke-49 ayat 27, 28, dan 29. Mengandung arti kemenangan, surat yang berisi kisah mimpi Nabi Muhammad ini dijadikan motto dalam setiap pelatihan di masjid-masjid kampus, termasuk di masjid Salman ITB. Ketiga ayat yang berkisah tentang perjanjian Hudaybiah itu memang merugikan kaum muslimin jika tilikan berpikir kita semata-mata logika.

Bagaimana peristiwa Hudaybiah dan titik baliknya? Awalnya adalah mimpi Nabi Muhammad pada tahun 6 Hijriah, yakni beliau memasuki Masjid Haram dengan mencukur rambut dan memotong hewan kurban dalam keadaan aman. Bagi kita, mimpi hanyalah mimpi dan sering disebut bunga tidur. Tapi tidak demikian dengan mimpi seorang nabi. Kali ini mimpinya mengisyaratkan bahwa kaum muslimin akan memasuki kota Mekkah pada musim haji dengan selamat tanpa risiko berarti. Apalagi kaum muslim dari kelompok muhajirin sudah rindu pada tanah kelahirannya.

Setelah Rasulullah menceritakan ihwal mimpinya itu, berangkatlah sekitar 1.500 orang dilengkapi 70 ekor hewan kurban untuk beribadah haji. Setibanya di daerah Tsanijjatul Mirar, sebuah lembah di Hudaybiah, unta yang dikendarai Muhammad tiba-tiba berhenti. Unta bernama al Qushwa itu tak jua mau berdiri walaupun berbagai cara ditempuh nabi dan sahabatnya. Karena untanya bergeming saja, akhirnya mereka istirahat di daerah tersebut.

Adakah relevansi spirit al Fath ayat 27, 28, dan 29 itu dengan kondisi Palestina dan Libanon saat ini? Sekarang memang Hamas dan Hizbullah, terutama oleh media barat,...



Selanjutnya.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

3 Agustus 2006

Palestina dan Hak Veto

Sejauh ini, Palestina selalu dirugikan oleh pemegang Hak Veto di Dewan Keamanan PBB, terutama oleh Amerika Serikat. Negara yang disetir Yahudi ini bagai ular berkepala dua dan selalu munafik. Demokrasi yang dielu-elukannya adalah demorasi yang crazy sehingga gila pula para pejabatnya. Lagi pula, AS begitu gentar melihat keberanian kaum muslim dalam bom-bom syahidnya sehingga mereka berupaya membunuhi anak-anak dan wanita pelahir anak-anak. Peristiwa Dusun Qana di Libanon Selatan adalah contoh nyata perikeiblisan Israel dan AS. Bom pembasmi yang berasal dari AS itu digunakan oleh Israel secara membabi buta sehingga tewaslah tak kurang dari 60 orang yang mayoritas wanita dan anak-anak.

Hal serupa pernah terjadi pada peristiwa Shabra-Satila. Ribuan wanita dan anak-anak tewas terpanggang panasnya bom. Memang, sejumlah negara mengutuk pemboman itu, tapi sekadar mengutuk saja. Atau, boleh jadi mereka pura-pura mengutuk untuk menabiri ...


Selanjutnya.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

21 Juli 2006

Tsunami… Tsunami Lagi

Waktu terus berjalan. Hidangan laut (sea food) berdatangan dan terus pula habis, piring demi piring. Menjelang pukul 21.30 wib kami mulai berkemas, mulai berdiri lalu ke luar dari lapak itu. Setelah membayar harganya, baik sea food bakar, rebus, maupun goreng, kami langsung ke penginapan, tak jauh dari tempat itu. Sambil melewati gemuruh ombak Pangandaran, kami melangkah pelan sambil ngobrol tetang makanan yang baru saja dinikmati, tentang laut, tentang hewan malam, dan tentang .... tsunami. Kami bayangkan, andaikata air laut itu pasang dan menghantam tempat kami, melabrak penginapan kami, sekaligus menghempas dan menyeret kami, apa yang bisa kami lakukan?

Esoknya, pagi-pagi sekali, setelah salat Subuh, kami sudah di atas sepeda, keliling-keliling ke sana-ke mari. Ada yang mampir di warung, membeli minuman ringan dan roti, padahal sarapan di hotel sudah pula dilahap. Maklum, kami banyak makan agar banyak energi dan kuat mengayuh sepeda sewaan. Sambil lihat-lihat alam hijau, kami berfoto, jepret sana jepret sini. Sebagian turun ke riak-riak laut, celana pun basah, dan jepret-jepret juga. Setelah matahari sepenggalahan naik lewat sedepa, kami susuri kebun-kebun hutan pantai. Lengkingan monyet menyambut kedatangan kami. Bulu kuduk merinding, tapi bukan lantaran takut melainkan kagum akan kemahaperkasaan Sang Pencipta lewat ornamen ciptaan-Nya di darat dan laut.

Keindahan dan kenyamanan itu, hanya oleh satu sapuan gelombang, kini lenyap sudah, menyisakan reruntuhan dan meminta korban jiwa. Sebelumnya aku tak percaya ketika adik ipar meng-SMS-ku bahwa di Pangandaran terjadi tsunami. Tulisnya, ada tsunami di Pangandaran. Waktu itu aku sedang menjemput istri dan anak-anak yang pulang dari liburan di rumah neneknya. Aku berada di stasiun Bandung pada pukul 16.25 wib, menunggu kereta api Lodaya. Pada pukul 13:42:05, ketika aku masih di Universitas Kebangsaan, istriku meng-SMS bahwa kereta sudah sampai Sidareja. Jarak Sidareja ke Banjar tak begitu jauh. Sekitar pukul 14.35 wib kereta itu berada di Banjar, kurang lebih 48 km di utara Pangandaran. Tak sampai sejam kemudian, terjadilah gempa yang menghentak air laut, menaikkan gelombangnya setinggi, kata saksi mata, 10 m. Tapi di Bandung aku tak merasakan ada gempa saat itu. Di tengah keterkejutan itu aku tetap yakin bahwa andaikata tsunaminya sebesar di Aceh, sulitlah mencapai Kota Banjar, apalagi tinggi topografinya.

Tadi kulihat di TV kondisi Pangandaran barat yang parah. Daerah tujuan wisata yang terkenal dengan ikan asin jambal rotinya itu luluh lantak. Secara total korban tewas di Jabar, Jateng, dan Yogya mencapai 500 orang per Rabu, 19 Juli. Di daerah tujuan wisata lainnya, yaitu di Pelabuhan Ratu dan Anyer, terjadi lagi gempa tadi sore pukul 17.57 wib yang episenternya di Selat Sunda berkekuatan 6,2 skala Richter. Akibat isu tsunami, banyak warga yang panik dan mengungsi. Kesimpangsiuran ini pasti dimanfaatkan oleh orang-orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan, menjarah harta benda warga. Hal serupa pernah terjadi di Bantul, Yogyakarta; motor, sepeda, sapi, kambing, dll diangkut dengan truk tatkala berhembus isu tsunami.


Gempa memang sulit diprediksi. Tapi tsunami, sebagai ikutan gempa, sebetulnya bisa diduga. Malah pakar gempa pascatsunami Aceh telah memprediksi akan ada gempa besar di selatan Jawa yang potensial menimbulkan tsunami. Hanya saja, sejumlah pelaku bisnis wisata....


Selanjutnya.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

14 Juli 2006

Bibliophobia, Bibliolabbeling

Di Australia, menurut berita radio ABC Senin, 11 Juli 2006 lalu, ada dua buku yang dilarang beredar, bahkan di-sweeping lantaran diduga berbau jihad. Bagi pemerintah negeri kanguru itu, jihad identik dengan teroris. Padahal jihad punya banyak arti, termasuk dalam arti bersungguh-sungguh dalam suatu pekerjaan. Serius bekerja, serius berbagi kebaikan-kebenaran pun adalah suatu bentuk jihad. Salah persepsi, salah tanggap atau paranoid dalam memandang Islam berdampak pada peminggiran Islam. Pemarjinalan pun terjadi dalam bidang akademik dengan cara memperalat orang Indonesia yang studi di sana, baik S1, S2, maupun S3. Tak sedikit didikan mereka justru akhirnya mencabik-cabik Islam, bak menggunting dalam lipatan, menohok kawan seiring, ular berkepala dua.

Kasus pelarangan buku memang sering terjadi dan kebanyakan subjektif, termasuk di Indonesia. Bagaimana kasus pelarangan buku dan sweeping di negara kita? Di negara nyiur melambai ini kerapkali sweeping dan pembakaran buku itu langsung menjurus ke toko dan pedagangnya. Dari sudut pandang pedagang, kalau buku-buku yang diduga bermisi jihad itu DIBELI kemudian dibakar oleh pembelinya karena menderita bibliophobia - takut pada isi dan misi buku-, atau bibliocast - sangat puas setelah memberangus buku -, tentu tidak masalah karena labanya sudah di tangan. Namun demikian, ada juga yang tidak setuju atas cara tindak seperti itu karena cintanya begitu besar pada buku, tak sekadar jadi jembatan jual-beli, tak sekadar uang. Mereka baru akan memasalahkannya kalau terjadi perampasan hak milik tanpa transaksi jual-beli yang adil.


Selanjutnya.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

12 Juli 2006

Indikator Kinerja PDAM

Menurut berita koran Kompas, 5 Juli 2006 ini, PDAM Kota Bandung akan menaikkan tarif airnya lagi. Bagaimana tanggapan DPRD? Adakah yang menentang atau oke-oke saja? PDAM ini pernah juga membuat siasat lain, yakni dengan cara mengubah golongan pelanggannya sehingga rekeningnya naik walaupun volume air yang digunakannya tetap. Dampaknya, banyak juga yang melayangkan surat protes ke media massa cetak dan elektronik khususnya radio. Malah sejumlah diskusi digelar oleh LSM yang peduli konsumen dan anti privatisasi air. Dalam setiap diskusi itu melesat pendapat bahwa pelanggan tak keberatan tarifnya naik asalkan kualitas layanannya juga naik. Jangan tarifnya saja yang naik tapi makin buruk layanannya. Jangankan makin buruk, tetap saja kinerjanya tidak boleh. Harus naik kinerjanya.

Merujuk pada anggapan dan usulan tersebut perlu dicarikan parameter apa saja yang bisa dijadikan tolokukur kinerja PDAM. Parameter ini bisa dikupas dalam lingkup sempit saja tapi bisa juga luas berkembang jika hendak dirinci satu per satu. Berikut ini dituliskan apa dan bagaimana caranya menilai kinerja PDAM secara garis besar. Pisau bedah yang digunakan adalah piramid PDAM yang terdiri atas: P = Pegawai, D = Desain, A = Area servis, dan M = Manajemen.

Piramid PDAM
The man behind the gun. The right people on the right place. Ungkapan tersebut kerapkali terdengar ketika membicarakan perusahaan atau tata kerja di kantor. Inilah pentingnya nilai P atau Pegawai pada perbaikan kinerja PDAM. Ia terkait ....


Selanjutnya.


Gede H. Cahyana.
ReadMore »

Distillasi Sekejap Multitahap

Dijamin 100%, sampai saat ini belum ada satu PDAM pun yang memiliki unit Distillasi Sekejap Multitahap (DSM). Dari 318 PDAM yang menjadi anggota Perpamsi, mayoritas air bakunya berasal dari mata air, sumur bor, lalu disusul air sungai. Tak ada yang menyedot air payau apalagi air laut sebagai air bakunya lantaran mahal biaya investasi dan operasi-rawatnya. Entahlah pada masa datang ketika air tawar makin sedikit dan pelanggannya terus bertambah, barangkali PDAM, terutama yang di dekat pesisir, terpaksa beralih ke teknologi desalinasi.

Dari sekian banyak teknologi desalinasi seperti elektrodialisis, mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, nanofiltrasi, reverse osmosis dan lain-lain, teknologi DSM termasuk yang berpotensi diterapkan untuk menghasilkan air minum berbahan baku air laut dengan kapasitas besar. DSM berpeluang diterapkan oleh PDAM yang wilayahnya di tepi pantai, air tanahnya payau akibat intrusi dan sulit memperoleh air baku dari kabupaten tetangganya. Ini pun jika PDAM tak hendak menerapkan teknologi membran dengan segala kelebihan dan kekurangannya, semacam reverse osmosis.

Prinsip Kerja
DSM nyaris sama prinsip kerjanya dengan Distillasi Surya (DS) atau Solar Distillation, yaitu sama-sama membutuhkan kalor untuk evaporasi. Keduanya sama-sama proses penguapan seperti yang biasa terjadi pada pendidihan air untuk minum di rumah tangga Bedanya, kapasitas DS sangat kecil dibandingkan dengan DSM sehingga jika ditujukan untuk..

Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana.
ReadMore »

5 Juli 2006

Waste to Energy: Wasted Energy!


Waste to energy. Inilah slogan yang sering dikutip media massa cetak, baik yang terbit di Bandung maupun Jakarta. Televisi lokal Bandung pun ikut-ikutan mengampanyekannya. Kian terkenal lagi setelah walikota Bandung terang-terangan mengatakan bahwa waste to energy adalah final, tak bisa ditawar-tawar lagi. Mutlak harus dibangun, katanya. Betulkah demikian?

Kaji Banding
Dalam filsafat ilmu telah jamak diterapkan uji-kaji banding demi hasil optimal tanpa harus membuang-buang waktu, tenaga, daya dan uang apalagi sesal. Jika ada dua atau lebih opsi, maka biasa diterapkan analisis alternatif untuk mencapai hasil terbaik yang layak dengan beragam metode statistik. Yang layaklah yang akan diambil lalu digunakan sebagai acuan perancangan dan berujung pada rencana anggaran biaya yang boleh jadi murah tapi bisa juga mahal nilainya. Sebab, tak selamanya kelayakan teknologi berkorelasi linier dengan kelayakan investasinya.

Bagaimana dengan sampah Bandung? Betulkah telah ada kaji banding atas sejumlah opsi teknologi persampahan? Tentu bukan jalan-jalan ke luar negeri: ke Cina, ke Australia yang dimaksud di sini. Itu bukanlah kaji banding melainkan tandang muhibah, untuk tidak menyebut tamasya, ke negara maju yang karakter sampahnya berbeda dengan Bandung. Keduanya di atas Indonesia dalam hal kelompok negara "maju dan berkembang". Apalagi dalam ranah filsafat ilmu, kaji banding selalu menyertakan aspek kelayakan sainstek dengan mengetengahkan sejumlah aspek seperti lingkungan (environment), ekologi (ecology), ekonomi, demografi, klimatologi, topografi, geologi, politik dan budaya setempat (sosiologi).

Sudahkah hal tersebut dilaksanakan? Bagaimanapun, teknologi masif yang sifatnya massal akan melibatkan semua penduduk kota (sebab semua orang menimbulkan sampah) sehingga besar pula dampak buruknya. Karena itulah kaji banding menjadi kemestian sebagai rambu dalam mengambil keputusan agar tidak keliru. Salah satu dari deretan kajian itu adalah jenis sampah, apakah termasuk yang sulit ataukah mudah terbakar. Inilah salah satu faktor penentu keberhasilan waste to energy yang notabene adalah insinerator. Mungkinkah 100% sampah Bandung tergolong mudah terbakar? Tak mungkin! Sejumlah riset di beberapa kota besar di Indonesia yang berlokasi di pantai menghasilkan angka 70% - 80% berwujud sampah basah, sulit terbakar. Di pinggir pantai saja demikian, apatah lagi di kota pegunungan seperti Bandung. Akan tambah parah lagi kondisinya selama musim hujan, insinerator akan berubah menjadi panci perebus air.

Jika demikian, layakkah (baca: efisienkah) sampah basah dibakar? Ilustrasinya sederhana. Mana yang lebih mudah, membakar daun yang baru saja dipetik dari ranting ataukah membakar daun rontok yang kering? Bandingkan lagi dengan kertas kering dan plastik, mana yang paling sulit terbakar? Kita tahu jawabnya. Daun segar hijau sangat sulit dibakar. Habis sebungkus korek api pun belum tentu terbakar. Andaipun terbakar, pada tahap awal, airnyalah yang menguap. Baru setelah itu, setelah daunnya kering, api melalapnya pelan-pelan. Hal yang sama berlaku untuk sampah basah, baik dari rumah maupun pasar. Pada saat yang sama, semua sampah keringnya seperti kertas, karton, kardus, botol plastik dll sudah diambil pemulung. Seolah-olah insinerator rebutan sampah dengan pemulung. Kecuali pemerintah tega melarang dan menangkap pemulung yang mereduksi sampah di sumbernya. Mungkinkah? Bijakkah kebijakan ini andaikata terjadi?

Dengan kata lain, jenis dan komposisi sampah memegang kunci cocok tidaknya diinsinerasi. Ia adalah elemen penting dalam memilih teknologi pengelolaan dan pengolahannya sekaligus menentukan manajemennya mulai dari sumber, pengumpulan, transportasi, dan di TPA (tempat pengolahan akhir). Semuanya harus memenuhi syarat kesehatan, konservasi lingkungan, teknologi, dan ekonomi. Segmen kesehatan dan konservasi belum mendapat porsi perhatian di Bandung. Aspek teknologi pun belum apa-apa, semuanya menerapkan sistem buang bebas atau open dumping. Syarat ekonomi apalagi, tak semua orang dipungut retribusinya yang berarti terjadi ketidakadilan di masyarakat. Yang membayar rekening listriknya di bank terhindar dari retribusi. Padahal sangat boleh jadi mereka menghasilkan jenis dan jumlah sampah yang lebih besar.

Dengan demikian, waste to energy hanyalah slogan yang tidak responsif atas aspirasi mayoritas orang Bandung dan berbau janji-janji, terbuai oleh istilah Inggris yang terasa gagah. Slogan itu seolah-olah “membodohi” orang Bandung, baik kalangan tak terdidik maupun terdidik karena belum paham cara penanganan sampah. Seorang keluaran sekolah S3 pun belum tentu paham persampahan. Apalagi perilaku membuang sampah tidak linier dengan tingkat pendidikan. Banyak kalangan terdidik, baik pensiunan maupun yang masih aktif bekerja, membuang sampah sembarangan sekehendak hatinya, tak hanya di rumahnya tapi juga di tempat-tempat umum. Itu sebabnya, pendidikan (intelectual intelligent) dan pembangunan etika (emotional intelligent) menjadi porsi penting dalam penanganan sampah.

Pola didik itulah yang mesti digencarkan oleh pemerintah lewat publikasi berupa buku, poster dan pelatihan di tingkat akar rumput RT-RW. Hasilnya memang tak akan tampak dalam setahun dua tahun. Boleh jadi setelah satu generasi barulah tampak hasilnya jika programnya berkesinambungan dan meluas. Alih-alih waste to energy, pemberdayaan masyarakat dalam hal persampahan lebih kena lewat program 7R (reduce, reuse, recycle, replace, recovery, relocation, dan responsible) yang dikelola terpadu. Termasuk menyajikan materi lingkungan di sejumlah kurikulum SD, SMP, SMA dan PT sesuai porsinya masing-masing. Bantuan dari penggerak sektor informal pun bisa ditempuh lewat pondok pesantren, madrasah, kelompok pengajian dan ketua adat setempat.

Wasted Energy
Waste to energy bagi sampah Bandung secara lugas bisa dikatakan sebagai “perjudian” yang taruhannya milyaran. Besar sekali unsur coba-cobanya, diintai oleh untung-buntung alias gambling. Sebelum terlambat, hendaklah niat itu diurungkan saja agar waste to energy tidak berubah menjadi wasted energy, yaitu energi habis sia-sia. Semua energi dalam bentuk tenaga kerja, olah pikir, dana masyarakat, dan insvestasi yang ditanam menjadi nirguna. Kalau pun ada gunanya, itu hanyalah berguna bagi investornya. Selebihnya adalah derita masyarakat. Selain tak cocok untuk sampah Bandung, insinerasi juga menyisakan abu yang potensial mencemari air tanah. Di dalamnya kaya akan garam-garam anorganik sehingga dampak polusinya lebih parah ketimbang lindi sanitary landfill (sanfil).

Potensi energinya juga dipertanyakan, belum lagi keterangkutannya. Betulkah dari 7.000 m3 per hari sampah Bandung akan mampu diangkut ke insinerator? Taruhlah daya angkut per truk kira-kira 10 m3; berarti dibutuhkan 700 truk. Andaikata setiap truk bisa tiga rit sehari maka dibutuhkan tak kurang dari 233 truk termasuk supirnya. Ditambah sepuluh persen truk dan sopir cadangan, total kebutuhannya minimal 250-an truk. Sekian juga jumlah sopirnya yang harus bekerja setiap hari. Ini sangat berat dan membutuhkan manajemen yang andal. Sopir angkot saja tidak setiap hari bertugas tapi berselang-seling. Jika demikian, akan dibutuhkan 500 orang atau lebih sopir truk. Potensi lapangan kerja bagi sopir memang ada namun dampak buruknya jauh lebih mahal daripada itu, yaitu kemacetan.

Macet adalah keseharian kota Bandung. Apalagi kalau sampah di luar Bandung dikirim ke Bandung, kemacetan pasti menjadi-jadi. Orang-orang makin stres karena bau busuk sampah terhirup siang malam selama 24 jam. Tak ada waktu istirahat bagi truk kalau tidak mau telat mengirimkan umpan sampah ke insinerator. Telat sedikit saja dapat membuyarkan operasi insinerasi sehingga daya listriknya fluktuatif. Belum lagi problem lingkungan, terutama pencemar berupa partikulat dan gas CO2, SOx. Parahnya lagi, Bandung raya berada di cekungan yang mirip wajan sehingga angin yang lewat di atasnya bisa menghalangi pencemar untuk lepas ke atmosfer. Polutannya malah berputar-putar ke sana-sini meskipun efisiensi penyisihan abunya sangat tinggi, misalnya 99%. Sisa satu persen saja akan menjadi tinggi setelah sekian lama terakumulasi di udara Bandung.

Belum lagi problem kebutuhan airnya untuk membersihkan kerak dan cuci-cuci. Sangat boleh jadi ada rebutan sumber air dengan PDAM, pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan dan keperluan binis perdagangan. Sortasi sampah pun menimbulkan masalah tersendiri, yaitu pemilahan sampah tak terbakar agar tak masuk ke insinerator. Berangkal, batu, bata, pasir, dan logam-logam, meskipun ada magnetic separator atau ferrous metal recovery tetap saja penimbul masalah. Selain milyaran investasinya, ongkos operasi-rawatnya pun melebihi negara maju yang sampahnya berkalori tinggi, misalnya rerata 12.000 kJ per kg. Berapa kalori sampah Bandung? Di negara itu pun kegagalan operasi insinerator banyak terjadi lantaran terbentur masalah biaya dan teknis. Biaya hendaklah tidak membebani masyarakat tapi tidak berarti dibebaskan dari biaya. Warga tetap harus berkontribusi demi kenyamanan hidupnya, bebas sampah dan penyakit.

Akhir kata, sebelum terlambat, urungkanlah upaya membangun "pabrik" waste to energy yang business oriented lalu gantilah dengan "pabrik" yang community oriented, yaitu pengomposan (composting) secara personal, komunal, dan regional. Atau, pilihlah sanitary landfill (sanfil) terkendali dan taat asas. Semoga waste to energy tidak menjadi wasted energy, energi yang habis sia-sia dan mubazir. *


Gede H. Cahyana
ReadMore »

30 Juni 2006

Fotokopi Buku

Seorang rekan bercerita. Ketika memfotokopi sesuatu, dia kaget melihat seseorang memfotokopi bukunya. Bukan apa-apa. Dia kaget bukan karena tak rela bukunya difotokopi, melainkan karena isi bukunya itu sudah diubahnya. Ada sejumlah pendapat baru yang dianutnya kini yang berarti sejumlah pendapatnya di buku lamanya itu sudah dibuangnya. Buku lamanya itu terbit pada awal 1990-an. Ia khawatir pembaca buku lamanya itu akan salah paham atas pandangannya yang lalu padahal dia sudah memiliki pandangan baru yang menurutnya lebih tepat dan benar.

Jadi, kawan ini terkejut melihat bukunya difotokopi bukan lantaran alasan ekonomi melainkan alasan potensi kesesatan yang bakal diperoleh pembacanya. Dia, secara pribadi, rela-rela saja bukunya difotokopi atau dibajak. Tentu tak demikian dengan penerbitnya karena berbasiskan bisnis. Sebagai penulis, dia tak peduli pada bajak-membajak, kopi-mengkopi. Tolok pikirnya adalah sebaran ilmu. Makin banyak bukunya dibajak berarti makin banyak pula orang yang mengetahui ilmu yang ditulis di dalam buku tersebut. Apalagi dia sangat-sangat yakin bahwa Allah swt pasti akan membayarnya dengan harga yang tak bisa diduganya dan pasti jauh lebih baik daripada sekadar royalti. Yakin dia bahwa Allah takkan mengecewakannya.

Bagaimana dengan mahasiswa? Sudah jamak diketahui, dari dulu sampai sekarang, buku fotokopian banyak beredar di kalangan mahasiswa, terutama buku ajar (textbook) terbitan luar negeri. Minimal ada dua alasannya: (1) harganya mahal; (2) bukunya sulit diperoleh di dalam negeri dan harus pesan yang memakan waktu lama sedangkan materinya harus segera dipelajari demi skripsi, tesis, atau disertasi. Cara memperolehnya pun ada dua macam, yaitu (1) memfotokopi sendiri di tukang fotokopi; (2) membelinya di toko yang memang jelas-jelas menjual textbook ...


Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

27 Juni 2006

Hakim

Profesi hakim disorot lagi. Setelah beragam mafia peradilan dan calo kasus, kini muncul Pedoman Perilaku Hakim yang menuai kontroversi. Semua poin dalam pedoman itu bersifat idealis. Hanya saja, penjelasannyalah yang menyulut masalah, dan ini berkaitan dengan kemandirian dan harga diri. Minimal ada satu hal yang diperdebatkan, yaitu pemberian hadiah atau upeti. Berkaitan dengan ini, seorang rektor sebuah PTS di Bandung bercerita begini. Suatu hari ia didatangi seseorang yang akan membuatkannya jas. Sebelum mengukur, rektor ini bertanya, apakah kalau dia tidak menjadi rektor orang itu akan datang juga untuk membuatkannya jas? Ternyata orang itu datang ke rektor karena ada sesuatu yang diharapkannya, berkaitan dengan kelancaran bisnisnya.

Kasus demikian pun kerapkali terjadi di lingkungan petugas hukum yang seharusnya menjadi penegak hukum. Bahkan ada yang sengaja memanfaatkan jabatannya demi raihan harta berupa uang dan barang. Sudah pula jadi rahasia umum, aparat hukum ...


Selanjutnya di sini
.

Gede H. Cahyana
ReadMore »

26 Juni 2006

K.H. Rusyad Nurdin

Sosoknya tinggi besar, kira-kira sama dengan Pak SBY, presiden kita sekarang. Peci hitam dan setelan baju-celana hitam atau gelap selalu dikenakannya. Tasnya pun hitam, mungkin berbahan kulit tapi tak pasti berapa harganya. Berkulit gelap umumnya orang Indonesia, alisnya memutih, begitu pun kumisnya. Jenggotnya lebih sering dicukurnya. Kakinya rematik sehingga jalannya tertatih-tatih. Setiap memberikan kuliah agama dan etika, beliau selalu menuruni undak-undak di belakang, dekat gedung Oktagon ITB. Dari jauh pun bisa dilihat sosoknya yang khas itu.

Siapa yang tak kenal K.H. Rusyad Nurdin? Saya yakin banyak juga yang tak tahu sosok kyai pejuang dan pejuang kyai ini, khususnya di kalangan nonmuslim. Namun, saya yakin tak seorang mahasiswa muslim ITB pun yang tak tahu siapa beliau, terutama yang mulai kuliah di ITB sebelum tahun 2002.

Beliau adalah pejuang dalam segala segi, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, dan agama. Sebagai politisi, beliau ikut dalam Konstituante yang dibubarkan oleh Bung Karno. Dalam bidang dakwah, beliau aktif membina umat lewat berbagai cara seperti mendirikan pesantren, menjadi penasihat, dan mengajar. Ada satu hal yang selalu beliau dengung-dengungkan dalam dakwahnya dan ini menjadi keprihatinannya yang mendalam. Beliau prihatin atas perilaku dan perbuatan tercela yang meruyak sejak masa beliau muda, tua, bahkan sampai hari-hari akhir hidup beliau.

Ada catatan buruk perilaku manusia yang dikompilasi oleh almarhum, yaitu:

(1). Mengagungkan harta di atas segalanya yang berarti menghambakan...

Selanjutnya di sini.

Gede H. Cahyana
ReadMore »